Actions

Work Header

The Scent of Salt and Skin

Summary:

Musim panas selalu tentang Yeonjun. Di antara tawa dan ciuman pertama, Soobin menyadari bahwa—semestanya hanya berpusat di satu nama.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


“Ayooo!!!” Aku mengintip dengan satu mata, mengira bahwa lelaki di depanku akan menyerah, namun sama sekali tidak. Pertengahan Juli, musim panas bukan yang paling aku suka tapi juga bukan yang paling aku benci. Usia kami tujuh belas, rasanya biasa saja. Aku kira akan menyenangkan seperti yang aku lihat di film atau lewat lagu-lagu yang sering aku dengar dan — oh! Apakah aku menyebut kami? Maksudnya aku dan Yeonjun. Kami bertetangga, satu sekolah sejak menengah pertama dan menengah kedua.

Aku tidak tahu mengapa kami belum berteman sejak kecil padahal kami tumbuh di lingkungan yang sama dan bertetangga. Yeonjun mengajakku ke pantai, aku enggan melakukannya karena pertama ini jam sebelas siang dan kedua… aku tidak yakin akan bisa menahannya jika dia terus melakukan itu, bertelanjang dada kemanapun dia menuju tanpa mengkhawatirkan apapun sama sekali. Aku menghela nafas panjang, di hadapanku sekarang Yeonjun berdiri sambil menggenggam telapak tanganku, berusaha menyeret namun tidak bergerak sama sekali.

Harusnya aku berpesan kepada Mama agar jangan membuka pintu untuk Yeonjun, namun itu tidak akan berhasil karena terkadang aku heran siapa anak kandung di rumah ini karena Mama dan Papa memperlakukan Yeonjun persis seperti mereka memperlakukan aku, walaupun memang aku juga akan mendapatkan hal yang sama ketika mampir ke rumahnya.

“Bisakah kamu pakai baju terlebih dahulu?” Wajahnya menjadi kebingungan, matanya yang sedari tadi memperhatikan aku kini memindai dirinya sendiri, berusaha menemukan apa yang salah dan menggeleng ringan ketika tidak menemukan apapun. “Ini musim panas, aku bahkan berencana melepas seluruh bajuku jika sudah sampai di sana. Ayooo, sekarang kita berangkat.”

Itu merupakan perintah yang mutlak, dan aku tidak memiliki alasan apapun untuk menolaknya karena memang aku tidak berniat menolaknya sama sekali sedari awal. Maka aku berdiri dari kasur, tidak peduli tentang pakaian ganti dan mengikuti Yeonjun dengan setengah berlari karena lengan kecil itu begitu kuat mengajak pergi. “Mama!! Aku akan pulang saat makan malam!!” Aku tidak tahu apakah itu akan terdengar, ini jam Mama bersiap untuk tidur siang dan bahkan mungkin Mama sudah tidur siang sekarang karena baginya itu cara terbaik untuk menikmati musim panas.

Kami menaiki sepeda, Yeonjun mengayuh kuat-kuat seketika tangannya terlepas dari tanganku dan memacu sekencang yang dia bisa. Aku kewalahan, dia seolah burung yang baru lepas setelah seumur hidup menghabiskan waktu hanya berada dalam sangkar, atau seekor anjing yang selalu memiliki belenggu di leher dan termenung banyak waktu dalam kandangnya sendirian lalu dibiarkan keluar.

Yeonjun selalu berapi-api, bersemangat dan tidak takut melakukan hal yang dia inginkan, Yeonjun itu… panas, bersinar sangat terang dan seringkali membuat orang yang berada di sekitar juga ikut merasakan hal itu. Kesadaranku kembali setelah melihat bayangan Yeonjun perlahan tenggelam di kejauhan, aku berteriak memanggil namanya berharap agar dapat mengayuh sepeda dengan lebih pelan karena jujur saja, sebagian diriku masih bertahan di kamar, berbaring di kasur sambil bersiap tidur siang. Namun Yeonjun tetaplah Yeonjun dan semakin aku berteriak menyebut namanya — bayangannya semakin menghilang dari pandangan.

Sejujurnya aku penasaran bagaimana Mama dan Papa dapat menemukan tempat ini, maksudku daerah di mana kami tinggal. Rumah kami dekat dengan pantai, itu bisa ditempuh sekitar sepuluh menit menggunakan sepeda dan pemandangan yang mengantar sepanjang perjalanan ke sana sungguh luar biasa. Jalannya kecil, berkelok-kelok dengan semak rimbun penuh bunga bermacam warna dan jika kami masuk sampai ke dalam lagi, maka akan ada padang buka lavender sejauh mata memandang.

Lautan berwarna ungu selalu membahagiakan hati setiap menatap ke sana, aku dan Yeonjun sering menghabiskan waktu ketika ajakan-ajakan siang hari lainnya datang dari dia. Kami bersepeda melewati beberapa rumah tetangga yang aku kenal, namun banyak dari rumah itu kosong karena pemiliknya akan pergi setiap liburan musim panas dan kembali kemari di penghujung bulan Agustus. Aku mengingat salah satu rumah di sana, keluarga mereka pernah mengobati Yeonjun dan aku yang terluka karena jatuh dari sepeda. Itu cerita lama, mungkin usia kami sekitar empat belas dan menuju pantai berboncengan dengan sepeda.

Yeonjun bersikeras membonceng aku dengan tubuh kecilnya yang kecoklatan karena terlalu banyak terkena matahari, aku sudah mengatakan bahwa akan sulit terutama ketika melewati jalan yang berkelok, namun Yeonjun adalah Yeonjun.

Maka aku menurut, duduk tenang di belakang sambil menggerogoti buah apel yang aku ambil diam-diam dari pohon kesayangan Papa. “Aku juga mau apel.” Yeonjun merengek dan aku tentu tidak akan membiarkan Yeonjun mengulangnya dua kali, jadi aku arahkan apel itu ke mulut Yeonjun dengan susah payah dan hal itu rupanya mengantarkan kami pada insiden yang cukup besar.

Keseimbangan hilang dan kami berdua terjatuh tepat di depan rumah itu, luka kami juga cukup mengerikan walaupun aku tidak ingat bagaimana rasanya, tiba-tiba saja kulit lututku menghilang dan darah mengucur dari mana-mana, tidak jauh berbeda dengan Yeonjun. Sekarang aku melihat Yeonjun melepas satu tangannya dan memakan apel sambil memegang kendali dengan satu tangan, aku akan tertawa ketika peristiwa itu terulang, tetapi akan mengkhawatirkannya dan menangis keras kemudian.

 


“Tidakkah kamu ingin berenang?” Jawabannya tidak dan Yeonjun sudah dengan baik mengetahui namun masih tetap akan mengulangi pertanyaan itu setiap kami berada di pantai. Aku menggeleng, Yeonjun masih melontarkan pertanyaan yang sama untuk menguji keyakinanku dan jawabannya juga sama, aku menggeleng pelan. Anak lelaki itu mengangguk dan segera berjalan menuju bagian sedikit tengah dari bibir pantai lalu dengan pasti menyatu dengan mereka.

Matahari berada di atas kepala, aku duduk di bawah pohon sambil melihatnya berada di sekeliling hal yang dia suka. Keseluruhan air dan ombak itu memeluk Yeonjun, membelai kulit dan mencium setiap celah yang bahkan Yeonjun sendiri tidak akan pernah melihatnya. Yeonjun menari dengan mereka, bersenang-senang dan air itu seolah membawa kenikmatan untuk tubuh Yeonjun yang sedang menyatu dengannya.

Aku hanya diam, banyak sekali memperhatikan dan berandai-andai tentang beberapa hal dalam pikiranku, salah satunya Yeonjun dan kapan aku bisa menyentuh Yeonjun seperti air dan ombak itu menyentuhnya, membelai lalu mendekap erat, lalu ketika aku bisa… tidak akan aku biarkan Yeonjun keluar dari sana.

Pantai ini sepi, tidak lumrah sebagai tujuan wisata karena tempatnya yang memang tersembunyi. Hanya orang-orang sekitar sini yang aku tahu pernah kemari dan aku senang bahwa tempat ini masih belum dijamah oleh banyak orang. Aku suka pantai ini, walaupun tidak suka berenang karena alasan pertama — aku tidak bisa. Banyak waktu aku hanya akan membasahi kaki sembari menunggu Yeonjun dan di hari lain, aku akan berjalan ke tengah sampai sebatas pinggul dan itu sudah melampaui batas yang aku punya.

Beberapa kali Yeonjun akan tertawa, mungkin karena hampir semua teman sebaya kami bisa berenang dan hanya aku yang tidak, tapi aku tahu itu bukan ejekan dan alunan tawa Yeonjun bukan sedang mengejek, melainkan seolah ‘ayo kita tertawakan saja hal ini bersama’ jadi aku tertawa bersamanya. Airnya jernih dan sangat bersih, sinar matahari yang jatuh memunculkan gemerlap yang tidak bisa aku tahan untuk kagumi, jadi aku memperhatikan itu sambil sesekali tertegun ketika menangkap Yeonjun di sana.

Yeonjun seorang perenang yang handal, kulitnya akan berkilau karena sisa-sisa air yang menyelimuti tubuh ketika berada dalam laut, lalu ketika pulang — dia akan mengeluh karena kulitnya menjadi semakin kecoklatan. Dalam kepalaku ada hal lain, setiap Yeonjun membuka mulutnya untuk mengeluh aku malah bertanya-tanya bagaimana jika kulit kecoklatan itu mendarat di lidah, aku membayangkan seperti karamel panas yang akan meninggalkan luka bakar menyengat, namun dengan sangat lezat.

Oh!! Orang itu datang, sosok yang tadi aku bicarakan sekarang dengan lugas menuju ke arahku sambil basah kuyup dan setengah telanjang. Tidak biasanya secepat ini, atau mungkin dia akan duduk di dekatku sambil makan camilan yang dia bawa dari rumah, atau terkadang camilan yang dia curi dari rumahku. “Sudah selesai?” Yeonjun mengerucutkan bibir dan menggeleng, berkata dengan pelan bahwa dia lapar. Pandangannya terarah ke tas kecil yang memang dia bawa dan taruh di sebelahku, menghampiri dan mengeluarkan beberapa pisang juga buah persik, ada permen dan coklat yang aku tahu dia beli dari toko dekat rumahnya.

“Kamu akan membuat celanaku basah.” Itu karena Yeonjun menidurkan kepalanya di pahaku, namun sekali lagi Yeonjun tetaplah Yeonjun dan aku tidak melarangnya, melainkan membelai rambut Yeonjun sambil memperhatikannya memasukkan pisang ke dalam mulut. Tidak sering Yeonjun melakukan ini dan ketika hal ini terjadi, maka aku sesekali akan mencegahnya pergi supaya itu tinggal lebih lama dan menempel di tubuhku juga.

Aromanya sangat familiar, aroma Yeonjun setelah berenang di laut adalah hal yang paling aku suka terutama ketika musim panas. Matahari yang menyengat dan angin hangat akan menerbangkan aroma Yeonjun seolah tepat kepadaku. Air asin dan aroma asli Yeonjun yang sangat aku kenal berbaur menjadi satu dan dalam sekali sesap akan membuat kepala pusing.

Aku tidak pandai menjelaskan dan sungguh aku hanya ingin membuat aroma ini hanya menjadi milikku tanpa seorang pun tahu. Itu seperti… aroma laut yang panas, basah dan asin berpadu dengan harum bunga yang hangat, cenderung feminin juga — asam, seperti buah lemon yang diperas lalu meleleh bersama es batu. Yeonjun selalu beraroma seperti itu terutama setelah berenang dan aku harus memiliki banyak kesabaran supaya bisa meredam bagaimana aroma itu membangkitkan sebagian besar gairah yang selalu berusaha aku pendam.

“Hei, kamu tahu… semalam Beomgyu bercerita kepadaku kalau dia sudah mendapat ciuman pertama.” Aku termenung sejenak, berusaha mencerna kata-kata yang Yeonjun tuturkan barusan sembari mengingat tentang Beomgyu dan pacar kecilnya. Oh, apa mereka bahkan pacaran aku juga lupa-lupa ingat karena tidak terlalu sering berinteraksi dengan Beomgyu.

“Wow, dengan Taehyun si Adik kelas itu?” Aku menunduk, menangkap mata Yeonjun yang memerangkap mataku. Pipinya menggembung dan masih terus mengunyah lalu mengangguk beberapa kali. “Kamu tahu… dia terdengar sangat bahagia semalam. Kami bicara melalui telepon dan rasa senang Beomgyu masih sangat bisa aku ingat, kalau dia senang aku juga senang.”

Yeonjun terkekeh pelan, tubuhnya bergetar dan bulir air juga ikut jatuh seiring gerakan yang dia buat. Aku mengusap rambutnya, tidak berani menyentuh hal lain padahal sedari tadi sibuk memperhatikan sisa air yang merayap di dada dan puting susunya. Kepalaku sibuk, berusaha menyeimbangkan antara harus mendengar dan merespon Yeonjun, namun juga harus bisa menahan agar tanganku tidak sampai kemana-mana, beberapa persen yang lain juga aku kosongkan untuk menyimpan pertanyaan tentang — bagaimana rasa jika aku menjulurkan lidah di sana?

“Aku… aku juga ingin tahu bagaimana rasanya berciuman, Soobin. Beomgyu sangat senang bercerita tentang itu, aku juga ingin tahu apakah ketika mendapatkan ciuman pertama… aku juga sebahagia Beomgyu.” Ucapan Yeonjun seperti membelenggu tanganku yang awalnya bergerak bebas di rambutnya, jari-jari mendadak kaku dan yang bisa aku lakukan hanya menjauhkan tangan darinya.

Yeonjun lurus menatap, tidak memperbolehkan mataku pergi dan seolah memberi mantra agar aku tidak punya kuasa atas diriku sendiri. “Soobin… kamu tahu Kakak kelas yang beberapa waktu lalu memberiku coklat sepulang sekolah? Semua orang tahu dia suka aku, menurut kamu… apakah memungkinkan meminta sedikit ciuman darinya?”

Aku tidak bisa kesal dengan Yeonjun tapi jujur saja perkataan barusan membuat darahku sedikit mendidih, bisa-bisanya Yeonjun menyebut nama orang lain di antara kami dan terang-terangan meminta pendapatku tentang hal itu. Maksudku… entahlah, bagaimana jika itu membawa Yeonjun pada hal buruk yang tidak pernah aku bayangkan dan… ada sebuah rasa di dadaku yang tidak nyaman, seolah sebuah firasat bahwa itu bukanlah hal baik jika diteruskan.

“Jangan… mungkin itu tidak akan berakhir baik.” Lidahku sangat kelu, ucapanku hampir terbata-bata dan banyak sekali hal yang sesungguhnya ingin aku ungkapkan. Mendengar hal itu Yeonjun langsung terduduk, pahaku hangat dan basah bekas dari rambutnya barusan dan lagi-lagi Yeonjun memerangkap mataku lalu memberi pandangan menelisik yang tajam. “Kamu cemburu?” Aku tertegun, belum pernah mendengar hal itu sebelumnya dan bertanya-tanya tentang kebenarannya pada diriku sendiri.

 


Papa dan Mama makan malam tanpa aku, aku masuk kamar terlebih dahulu dan berkata terlalu lelah setelah menemani Yeonjun barusan. Maksudku… aku tidak sepenuhnya berbohong karena memang lelah, namun lebih daripada itu ada sebuah perasaan yang harus aku kenali tentang diriku sendiri. Aku membuka jendela, mengacak-ngacak rambut dan melihat ke arah cermin yang tergantung di samping pintu, jelek sekali. Menjatuhkan tubuh ke kasur dan menyalakan pengeras suara, lalu memejamkan mata.

Sebetulnya hari ini tidak berbeda dari hari-hari kami kemarin, atau mungkin berbeda karena perkataan Yeonjun tentang ciuman yang sangat mengganggu. Pengeras suara itu terlalu kencang, aku setuju dengan namanya karena ternyata dia memang bisa memutar lagu dengan sangat keras. Aku mengenali lagu ini, lagu yang tidak sengaja aku temukan ketika menunggu Yeonjun setelah berkata “aku ke kamarmu beberapa menit lagi.”

I’m a high school lover

And you’re my favorite flavor

Wajah Yeonjun menghantui pikiran, bersamaan dengan itu lagu ini juga mengacaukan hati. Aku tahu apa yang aku rasakan, aku tahu dengan pasti apa yang aku inginkan namun aku tidak pernah benar-benar ingin menyebut atau terang-terangan mendeklarasikan ini dan itu tentang sesuatu yang telah lama menggelayut di hati. Aku… aku selalu mengagumi Yeonjun, aku selalu menyukai bagaimana dia terlihat, bagaimana dia berbicara dan bagaimana dia menjalani keseluruhan hidup dan hari-harinya di sisiku, aku suka Yeonjun karena dia Yeonjun.

Ada sebuah perasaan seolah cukup, perasaan penuh dan hangat juga rasa bahwa semua akan baik-baik saja jika aku menemukan eksistensi Yeonjun di sana. Aku ingin menyentuh Yeonjun, aku ingin memastikan Yeonjun senang dan aku ingin menjalani banyak hal dengan Yeonjun, mengecap semua emosi dan ‘rasa’ dari kehidupan karena lagi-lagi, aku akan merasa baik jika ada Yeonjun di antaranya.

Love is all, all my soul

You’re my playground love

Aku tidak tahu apakah ini cinta, cinta itu selalu terasa membebani dan mungkin… aku akan menyebut Yeonjun sebagai, ‘yang diinginkan oleh hati’ alih-alih aku mencintai Yeonjun. Hatiku menginginkan Yeonjun, akal sehat juga diriku sendiri menghendaki Yeonjun tanpa sebab yang bisa diidentifikasi. Aku rasa karena kami sudah lama sekali bersama, aku rasa juga karena aku yang sangat sering menemani dia berenang ke pantai, atau mungkin sesederhana karena memang dari awal aku sudah sangat menginginkan Yeonjun.

Yeonjun seolah makanan untuk jiwa, seperti sebuah tempat membahagiakan seluas jagat raya dan aku suka berlama-lama untuk bermain di sana. Yeonjun… aku bertanya-tanya apakah dia juga merasakan hal yang sama.

 


Aku sangat terkejut ketika membuka mata, masih pukul sembilan pagi dan ketika aku belum benar-benar mengumpulkan nyawa untuk bangun — ada seseorang yang mengambil tempat di sebelah kasur, mengunyah selembar roti beraroma selai kacang dan membolak-balikkan komik sambil sesekali terkekeh senang. Yeonjun ada di situ, berada di kamarku seolah ini adalah miliknya dan tentu Yeonjun bisa miliki jika memang dia menginginkan.

Aku menghadap pada Yeonjun, memeluk selimut yang acak-acakan dan memejamkan mata sambil berucap selamat pagi, dengan suara yang jelek. Masih mengantuk, ada banyak waktu jika Yeonjun ingin ditemani untuk pergi ke pantai, Yeonjun biasanya mulai ketika siang hari dan aku tentu akan menggunakan waktu sebaik mungkin untuk tidur. Tidak ada sahutan, aku berpikir Yeonjun mungkin terlalu asik membaca sampai tidak terlalu memperhatikan, namun saat aku hampir terlelap lagi… ada tangan yang merayap ke rambut, dahi dan leher, perlahan membelai kulit dan seketika tubuhku menjadi panas.

Namun sangat berat untuk membuka mata, Yeonjun juga tidak mengeluarkan kata-kata dan belaian itu membuatku jatuh terlelap, masuk ke dalam mimpi menyenangkan yang tidak aku inginkan untuk keluar.

Beberapa menit kemudian aku betul-betul terbangun, namun alih-alih menemukan Yeonjun — aku terbangun karena suara Mama yang menyuruhku sarapan. Kata Mama, Yeonjun memang mampir tadi dan pergi ke pantai sendirian karena aku tertidur lagi. Aku menghela nafas, memakan sarapanku dan bergegas menyusul Yeonjun menggunakan sepeda, persis seperti beberapa waktu lalu. Aku bahkan tidak mandi, wajahku berantakan dan rambutku juga.

Mengayuh sepeda membelah jalan setapak yang terang karena sinar matahari menyorot langsung ke arah kepala, harusnya aku membawa kacamata. Ketika sampai di pantai, aku tidak melihat Yeonjun, namun sepeda Yeonjun ada di sana dengan beberapa potong pakaian yang ditinggalkan di tepinya. Aku turun dari sepeda, menuntun benda itu di tempat biasa kami menaruhnya dan aku hampir menjatuhkan benda itu ketika melihat pemandangan yang seumur hidup tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Yeonjun ada di sana, keluar perlahan dari dalam air seperti biasa, setengah telanjang dan aku kira dia memakai bawahan namun sebaliknya, Yeonjun telanjang bulat. Tubuh kecil itu polos, bagian perut hingga dadanya kecoklatan namun sangat kontras dengan bagian pusar hingga lutut yang terlihat sangat pucat dan lembut. Aku… aku melihat kemaluan Yeonjun, bagaimana bagian tubuh yang menakjubkan itu diapit oleh paha jenjang yang sekal, sisa air menetes dari sela-selanya dan… pantat sintal yang membuat nafasku menggebu.

Aku.Harus.Pergi.Dari.Sini.

Jadi aku tidak pergi ke sana, aku membalikkan badan sekaligus sepeda, berhati-hati agar Yeonjun tidak bisa menemukan hawa keberadaanku sama sekali lalu mengayuh pedal secepat yang aku bisa agar segera lolos dari Yeonjun. Aku panik, nafasku terasa berat dan seluruh tubuhku panas. Ada rasa geli di perut yang turun perlahan ke selangkangan, seolah darah berkumpul pada kemaluanku yang perlahan mengeras, rasa familiar yang aku bisa ingat karena sering muncul ketika mimpi basah.

Dalam mimpiku selalu ada Yeonjun, hampir sama dengan sesuatu yang baru saja aku lihat, namun aku tidak kebingungan karena itu hanya ada dalam mimpi. Ah, Sial… Aku belum belajar bagaimana cara mengatasinya di kehidupan nyata.

Aku bergegas pulang, melepas seluruh pakaian dan berdiam diri di bawah pancuran air, berharap dapat menghilangkan ketelanjangan Yeonjun dalam kepalaku yang sudah dipenuhi oleh eksistensinya. Namun semakin aku berdiam diri, kemaluanku menegak dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menyentuhnya, mendesahkan nama Yeonjun di sana.

 


Itu tuntas ketika jam menunjukkan pukul satu siang, aku menyelesaikan semuanya dan membersihkan diri, mengusap rambutku dengan tidak sabar berharap pikiranku sebelumnya juga ikut terbuang. Aku membaringkan diri di kasur, memejamkan mata karena kepalaku pusing, mungkin ini sebuah hukuman karena terang-terangan membayangkan Yeonjun ketika masturbasi. Aku membuka mata, berbaring ke arah jendela karena mendengar lonceng angin yang aku gantung bergerak seirama udara yang masuk melalui lubang terbuka lebar itu, mengantarkan aroma Yeonjun yang tertinggal di kasur bagian samping, tempatnya tadi pagi berada.

Aku meraba bagian itu, telapak tanganku merayap seolah tubuh Yeonjun di sana dan jemari yang lain membelai tempat di mana kewarasanku hampir hilang sepenuhnya. Yeonjun seperti benar-benar berada di sana dan… semakin memikirkan itu, gelenyar aneh juga rasa geli menggerogoti perut bagian bawah, mereka datang lagi dan sebelum itu semakin memberiku kegilaan, aku berhenti.

Tepat beberapa saat kemudian, aku mendengar ketukan dari jendela. Itu aneh karena siapa yang akan mengetuk sebuah jendela yang terletak di lantai dua, kecuali seseorang itu sangatlah tinggi hingga cenderung menyeramkan atau itu hanya Yeonjun yang melempar jendelaku dengan kerikil, hal yang biasanya dia lakukan ketika ingin memanggil tanpa masuk ke dalam rumah. Aku setengah berlari, memastikan dan tersenyum ketika menangkap Yeonjun di sana.

Yeonjun melambaikan tangan, menggunakan gesture untuk mengajakku keluar, kali ini sudah mengenakan celana namun masih tanpa atasan, tidak mengapa, itu sudah sangat cukup untuk menjaga aku tetap waras di sekitarnya. Kali ini aku menolak, entah mengapa seperti sedikit lelah, lagi pula matahari akan menyengat kulit dan tabir surya yang aku punya hampir habis. Sebagai gantinya, aku mengajak dia ke kamar, aku melambaikan tangan agar dia masuk ke dalam dan Yeonjun mengiyakan dengan senang.

Aku sudah baik-baik saja, itu seolah kontras dengan keadaanku beberapa waktu lalu yang kacau dan diliputi kegilaan, tidak lain dan tidak bukan karena Yeonjun yang aku lihat sedang telanjang bulat di pantai. Aku kira aku akan gugup, namun bersikap seolah tidak terjadi apapun rupanya sangat mudah untuk dilakukan, dalam hal ini menekan reaksi dari hal mengejutkan yang aku lihat tadi pagi.

Aku mendengar langkah kaki Yeonjun yang bergema di seluruh rumah, satu persatu menyusuri tangga dan akhirnya menggenggam gagang pintu untuk masuk ke kamarku. Aku bersandar di dekat jendela terbuka, berharap semoga angin menerbangkan lonceng itu lagi dan membiarkan aroma Yeonjun menggelitik hidung. Yeonjun terduduk di kasur, belum bicara apapun namun tangannya terulur untuk menyalakan pengeras suara yang masih memutar lagu seperti semalam.

Yet my hands are shaking

I feel my body remains

“Lagu kesukaanku.” Yeonjun melemparkan tubuhnya ke kasur, tempatnya tadi pagi sekaligus tempatku biasanya memikirkan dia. Sedikit demi sedikit, sebuah dorongan muncul dan tugasku adalah menahannya untuk tidak pernah benar-benar naik ke permukaan. Aku mengikuti tangan Yeonjun, telapak tangan itu mendarat di kulit perutnya sendiri dan mengusap pelan sebelum pindah ke bahu dan berdiam di sana, setengah berandai-andai bagaimana jika aku yang melakukannya.

“Kamu sakit, ya?” Aku gugup, dengan bibir bergetar dan kepala berputar berusaha mencari alasan karena memang aku tidak sakit sama sekali. “Tidak, aku… seperti biasa.” Aku yakin jawaban itu tidak memuaskannya, karena netra Yeonjun menyipit dan perlahan menghampiri sambil menyentuhkan punggung tangannya di dahiku. Bibirnya mengerucut, tangannya masih di sana dan seolah mengungkung tubuhku dengan seluruh keberadaannya.

“Benar, semuanya normal.” Yeonjun tersenyum senang. Tangan Yeonjun sudah berpindah, tapi kali ini melingkarkan bagian tubuh itu di leherku dan menghapus jarak, menekan tubuh kami berdua.

Aku bertanya-tanya apa yang sebetulnya ingin dia lakukan, tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam. Ceruk leher Yeonjun sangat mendistraksi, tatapan, bibir dan — puting susu yang melambai agar dapat aku sentuh segera. Yeonjun menguap, lalu mengerucutkan bibir dan menjatuhkan kepalanya di bahuku. Tubuhku menegang, belum sempat merencanakan sesuatu dan mempertimbangkan bagaimana baiknya aku mengatasi hal ini.

Mungkin aku harus menyuruh Yeonjun pulang karena dia mengantuk, atau mungkin menyuruhnya pindah ke kasur dan tidur siang bersama, tapi… tapi aku suka. Aku suka bagaimana Yeonjun memerangkap tubuhku seolah miliknya, membiarkan aku dikuasai oleh aroma tubuh yang hangat, asam dan berbau seperti bunga. Jadi aku memeluk Yeonjun, merengkuh pinggang Yeonjun dengan kedua lenganku, sangat erat sembari menenggelamkan hidungku pada ceruk lehernya yang manis.

Themes no matter, I’m on fire

On the playground, love

Oh, Yeonjun. Aku terjebak, aku terperangkap dalam kegilaan menawan yang dia berikan dan tidak ada alasan untuk melawan. Maka pelukan itu semakin erat, aku hampir melenguh namun berhasil menahan. Tubuh kami menempel kuat, aku menunggu Yeonjun bergerak namun tidak ada tanda-tanda lelaki itu akan melakukannya sama sekali, jadi aku mengambilnya. Aku belai pipi Yeonjun yang berada di bahuku dan membawanya untuk melihatku sebentar, satu lenganku masih melingkari pinggang dan satunya lagi menahan pipi Yeonjun agar menatap lurus pada mataku yang menghendakinya.

Dadaku berdebar, mata Yeonjun berbinar dan lebih cerah daripada matahari musim panas yang menyinari kami siang ini. Aku senang Yeonjun ada dalam dekapanku dan sungguh — aku menginginkannya menjadi milikku. Wajah Yeonjun semakin dekat, aroma asin dan manis bercampur menjadi satu hingga membuat terlena dan seketika aku bahkan tidak sadar kalau bibir Yeonjun sudah mendarat di bibirku.

Aku tersenyum, aku tidak terkejut dan setengah berpikir mungkin aku belum benar-benar bangun dari tidur dan masih terjebak dalam tidurku semalam, tapi bibir lembut Yeonjun membuatku sadar, bahwa aku di sini, mendekap Yeonjun dan saling memberi ciuman pertama yang terasa memabukkan seperti dibuai dalam realitas paling membahagiakan seumur hidup.

Yeonjun tersenyum, dari sana aku menyadari bahwa dia menginginkan dan sama menghendaki sebesar aku menghendakinya. Maka aku mencium Yeonjun lagi dan lagi, mengecup bibir merah segar yang selalu mengingatkan aku pada topping ceri pada es krim ketika Mama menyiapkan makanan penutup.

Aku tidak pernah berciuman sebelumnya, aku hanya mengikuti apa yang hatiku ingin lakukan karena aku sungguh mempercayai dia. Aku menghisap bibir Yeonjun bergantian, kiri dan bawah lalu mengecupnya lagi. Melakukannya dengan lembut dan membuat jeda ketika Yeonjun sudah hampir kehabisan nafas, kami berdua terengah-engah. Benang saliva terulur dan aku melanjutkannya lagi, menggelitik bibir Yeonjun dengan lidahku dan memasukkan ke mulut Yeonjun agar bisa bertemu dengan lidahnya.

Kami berantakan, pelukan Yeonjun mengerat dan bahkan sudah mendarat ke bagian dalam kaos yang aku kenakan. Saliva Yeonjun membanjiri sekitar bibirnya, aku yakin bahwa aku juga terlihat tidak jauh berbeda. Bibirnya basah, mengkilap dan sedikit bengkak, aku menjilati sekitar bibir Yeonjun, memastikan tidak ada sisa saliva Yeonjun di sana karena aku sungguh menginginkan semuanya.

Wajah Yeonjun panas, pipinya memerah dengan pandangan sedikit sayu. Lelaki menggairahkan itu perlahan menuntun tanganku yang masih tersimpan rapi di pipinya agar menyentuh bagian lain dari tubuhnya yaitu — puting susu. Maka aku menuruti, Yeonjun menggigit bibir ketika jariku mulai bergerak di sana, bagian bawah tubuh kami juga menempel erat bahkan saling menggesek.

Puting susu itu kecoklatan, paling menggiurkan dibanding yang lain, menggemaskan ketika sepenuhnya menegang dan aku tidak bisa berhenti untuk memilinnya sembari meninggalkan banyak kecupan di sepanjang leher dan menyesap aroma tubuh Yeonjun yang harum. Yeonjun mulai mendesah, bergerak sedikit kacau lalu mencium bibirku dan meminta putingnya dikulum karena, “l-lagi, aku mau yang lebih enak.”

Kami bermain, aku dan Yeonjun dilingkupi hawa panas menyenangkan yang sebelumnya belum pernah kami rasakan. Aku adalah milik Yeonjun, aku mengabulkan semua yang Yeonjun pinta karena Yeonjun adalah wujud dari seluruh kesenangan musim panas itu sendiri. Yeonjun adalah matahari, dia terlalu terang dan selalu sangat bersinar sampai-sampai itu bisa melelehkan mata jika terlalu lama menatap. Namun aku adalah mata itu, jika harus berkali-kali meleleh dan buta, aku rela mengulangnya dalam seumur hidup musim panas yang aku jalani, asalkan bersama dia.

 


“Soobin… bangun.” Aku membuka mata, aku kira itu Mama yang memanggil karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi alih-alih Mama — aku dibangunkan oleh lelaki yang akhir-akhir ini tidak berhenti datang ke rumah untuk menginap, karena beralasan tidak mau berjauhan dan takut merindukanku jika sebentar saja tidak bertemu.

“Selamat pagi, Yeonjun.” Aku mengecup pipinya pelan, Yeonjun terkekeh dan menindih tubuh lalu menyembunyikan wajahnya di leherku. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari ini, kami banyak sekali berpelukan hingga lupa waktu dan saling mencium lama sekali. “Kamu akan mengajak aku kemana, hari ini?” Yeonjun masih suka tidak memakai baju, tubuh atasnya akan selalu terbuka dan itu memudahkan aku jika Yeonjun ingin sentuhan lebih di beberapa bagian.

“Entah, tapi… aku ingin pergi ke tepi sungai, di sana ada pohon yang sudah waktunya berbuah di musim ini.” Yeonjun menjatuhkan ciuman di bibirku, menggumamkan kata ‘sayang, sayang, Soobin sayangku’ sebelum menyuruh bersiap untuk memulai petualangan yang sudah menanti kami hari ini.

Kami menaiki sepeda, Yeonjun berada di boncengan dan memeluk pinggangku erat. Berceloteh tentang hal-hal yang dia temui sepanjang perjalanan, lalu menggelitik perutku ketika merasa bosan namun memberinya kecupan kemudian. Sungai itu tidak jauh, sebuah sungai kecil dan dangkal yang aku tidak tahu bagaimana Yeonjun menemukannya karena itu terletak di dekat hamparan bunga lavender.

Arusnya tenang namun tidak memungkinkan untuk berenang karena terlalu dangkal. Aku menaruh sepeda di dekat sebuah batang pohon, Yeonjun sendiri sudah membiarkan kakinya basah karena terlalu senang ketika bertemu air dan melambai padaku untuk menghampiri. Kali ini aku tidak keberatan, tentu aku tidak akan tenggelam di air yang dangkal itu dan menemui Yeonjun yang masih penuh semangat menghentakkan kaki di antara gelombang-gelombang kecil yang tercipta karena eksistensinya. Saat aku menjadi semakin dekat, Yeonjun menggunakkan tangan untuk mengguyur air ke arahku, itu ajakan perang yang diselimuti tawa menggema dan aku terus membalas Yeonjun karena dia tidak juga berhenti.

Aku menggenggam tangannya, berkata bahwa aku kelelahan dan memberikan kemenangan itu untuk dia. Yeonjun tertawa, berlari menerjang hingga aku jatuh dan pakaianku menjadi sepenuhnya basah, tidak mengapa — karena aku tahu Yeonjun sengaja melakukannya, aku bahagia melihat Yeonjun bahagia.

Tubuh kami berdua basah karena jatuh di air yang dangkal, Yeonjun duduk di perutku dan mengungkung dengan keberadaannya yang menakjubkan. Lelaki itu sungguh cantik, selalu membahagiakan dan membuat penuh hatiku setiap melihatnya. Kami bertatapan sedikit lama, wajahku tersipu dan aku memalingkan muka karena tidak sanggup.

Namun Yeonjun menangkup pipiku dengan kedua tangan, mendekatkan bibirnya dan menggigit kecil bibirku, lalu mengajakku masuk ke dalam cinta. Kami berciuman, rasa panas itu teredam oleh air yang dingin dan aku tidak ingin cepat-cepat keluar dari sana, bahkan mungkin — aku sanggup berada di sana selamanya.

Anytime, anyway

You’re my playground love

-end.

Notes:

x: @untamedfoxie

tello: Tellonym

revo: Revospring