Actions

Work Header

Everything is Same

Summary:

Phainon yang seorang aktor tiba-tiba mengajak sahabatnya, Mydei, untuk pura-pura pacaran. Tapi apa benar murni untuk mengelabui fansnya atau ... ada sesuatu yang lain?

Day 1: Fake Dating AU for #PekanPhaiDei25

Notes:

Ff ini untuk meramaikan #PekanPhaiDei #PhaiDei
Aku mau buat yang ringan-ringan saja karena aku sudah lelah dengan segala angst ini hiks :') /halah
Maaf banget baru submit sekarang soalnya ... telat T-T Baru tau ada PhaiDei week aaaaaaaaa
Pokoknya selamat menikmati bacaan yang abal2 ini :'D

Warning: OOC, cringe, klise, typo bertebaran
Pairing: Phainon x Mydei. PhaiDei. Phainon top x Mydei bottom

Work Text:

“Mydeimos, berpacaranlah denganku!”

“Apa kau gila?”

.

Everything is Same

Honkai Star Rail credit to Mihoyo

.

Saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam membuat fic ini. Terima kasih~

.

“Ayolah, ini bukan pacaran sungguhan!” bujuk Phainon, sementara sahabatnya, Mydei, hanya menyesap jus pomegranatenya dengan santai.

Mydei mengangkat sebelah alisnya. “Lalu?”

“Aku ingin kita pura-pura pacaran!” Phainon segera membuka ponselnya, lalu menunjukkan akun insta-nya yang memiliki pengikut jutaan. “Aku ingin semua followers gilaku tahu kalau aku sudah punya pasangan, jadi mereka tidak akan menerrorku lagi di private message!”

Mydei terkekeh. “Menjadi seorang aktor memang sulit, ‘kan? Hadapilah.”

Saat ini keduanya berada di sebuah kafe yang terletak di tengah kota Okhema. Beruntung kafe ini sepi pengunjung dan hanya ada mereka berdua, karena ... Mydei-lah pemiliknya. Sebelum Phainon kesini, pemuda bersurai biru keperakan itu sempat menghubunginya untuk setidaknya kafe nya tidak dibuka dulu untuk umum sebelum pembicaraan keduanya selesai. Katanya, dia ingin berbicara di tempat yang aman dan tenang.

Mydei menatap sahabatnya yang sedang merengut sambil memainkan ponselnya itu. Terkadang ia tak habis pikir bagaimana bisa pria yang menurutnya lucu dan tidak punya malu ini bisa menjadi aktor besar dalam sekejap begitu mereka lulus dari universitas.

Phainon sendiri adalah seorang aktor yang sedang naik daun setelah film layar lebarnya yang berjudul “For the Sun is Set to Die” sukses membuat para penontonnya berlinang air mata (salah satunya Mydei, tetapi dia tidak mau mengakuinya). Berkat hal itu, namanya melonjak naik dan jumlah fansnya meningkat pesat, salah satunya adalah followersnya yang awalnya hanya ribuan menjadi jutaan. Namun terkadang menjadi seseorang yang terlalu terkenal tidak begitu menyenangkan, salah satunya adalah beberapa fans yang mulai mengganggu ruang privasinya dan mendekatinya dengan harapan lebih.

Maka itulah alasannya mengapa ia mengajak Mydei untuk pura-pura pacaran.

“Terlepas dari itu,” Mydei menyilangkan tangannya, kembali ke topik awal. “Kenapa kau mengajakku bicara disini? Biasanya kau akan langsung datang ke apartemenku.”

Phainon mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, lalu terkekeh canggung sambil menggaruk pipinya. “Hehe. Sudah lama aku tidak merasakan kue buatanmu.”

Mydei mendengus. “Idiot. Kau baru memakannya seminggu yang lalu.” gerutunya. Setelah itu, ia membuka mulutnya lagi, “Kenapa aku? Kau bisa mengajak salah satu teman kita yang lain.”

Phainon terdiam sesaat. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun sebelum sebuah senyum tipis hadir di wajah tampannya itu. “Karena hanya kau yang cocok menjadi kekasihku.”

Mydei mengerutkan keningnya. “Alasan macam apa itu?”

“Serius, kau tidak bisa mengajak sembarang orang untuk melakukan hal semacam ini. Kau butuh partner yang sangat mengerti dirimu dan memiliki chemistry yang luar biasa.” jelas Phainon yang hanya dibalas oleh tatapan curiga dari Mydei. “Jadi? Kau mau?”

Pada akhirnya, Mydei hanya menghela napas. “Terserah. Asalkan tidak menimbulkan masalah untuk ke depannya.”

Mendengar Mydei menerima tawarannya untuk pura-pura pacaran, seketika sepasang mata biru kehijauannya berbinar. Bibirnya membentuk senyum cerah yang penuh kelegaan. “Syukurlah! Kau tidak perlu khawatir! Aku pastikan semuanya akan berjalan lancar!”

Mydei memandang Phainon yang kini mulai mengoceh mengenai apa saja yang ia temui atau yang ia lakukan sehari-hari selama mereka tidak bertemu. Perlahan bibirnya membentuk senyum tipis. Suara yang penuh dengan semangat ini ... Mydei akui, ia cukup merindukannya. Dasar bodoh, batinnya.

***

Akhirnya rencana untuk pura-pura pacaran itu pun dimulai.

Rupanya Phainon memiliki banyak ide untuk membuat postingan di insta-nya seolah-olah dia memiliki pasangan. Terkadang ia memposting foto dua orang yang bergandengan tangan, foto yang hanya mengambil sebagian tubuh Mydei, atau hanya memperlihatkan rambutnya saat mereka jalan bersama.

Awalnya Mydei kira akan ada sesuatu yang berubah dalam pertemanan mereka. Namun nyatanya ... rasanya sama saja. Mereka sering jalan berdua atau menginap bersama. Interaksi mereka juga tidak ada bedanya. Mydei jadi bingung sendiri.

“Apa kau yakin hal ini tidak akan menciptakan masalah untukmu?” tanya Mydei sambil membawakan kue coklat buatannya ke ruang tengah, dimana Phainon sedang asik menonton film sambil memakan puding mangga (yang tentu saja juga buatannya Mydei). Hari ini Phainon memang ingin menginap di apartemennya Mydei.

“Masalah apa?” sahut Phainon santai tanpa menoleh saat Mydei meletakkan piring berisi potongan kue coklat ke atas meja. “Kalaupun nanti aku memang akan mendapat masalah, aku tidak peduli.” lanjutnya.

“Yah, biasanya ada fans fanatik yang tidak menyukai idola mereka yang sudah memiliki pasangan.” balas Mydei sembari duduk di sebelah Phainon. “Apa kau tidak masalah jika fansmu meninggalkanmu?”

“Tidak apa-apa. Itu artinya mereka bukan fans yang baik. Kau tidak perlu khawatir, sejauh ini respon mereka positif semua.” Phainon langsung berbaring dengan berbantalkan paha Mydei. “Setidaknya mereka jadi tahu batasan dan tidak akan menerrorku lagi. Itu melelahkan.”

Mydei terdiam. Matanya memandangi sisi wajah Phainon yang masih asik menikmati tontonannya. Sesekali pemuda ceria itu tertawa saat terdapat adegan lucu pada filmnya. “Ngomong-ngomong, sampai kapan kita begini terus?” tanyanya tiba-tiba.

“Huh?” Phainon mengalihkan pandangannya ke Mydei.

“Pura-pura pacarannya. Sampai kapan?” ulang Mydei. “Sudah satu bulan kita melakukannya.”

“Ah ...” Seketika Phainon langsung terdiam. “ ... aku tidak memikirkannya.” jawabnya pelan.

“Dasar bodoh.”

“Lagipula tidak ada yang berbeda di antara kita, ‘kan?” Seulas senyum tipis mengembang di bibir Phainon. “Rasanya sama saja.”

“Benar juga,” Mydei menopang dagunya pada pinggiran sofa. Sepasang mata kuningnya menatap layar televisi. “Tidak ada bedanya.” lanjutnya. Tangannya yang lain berada di kepala Phainon. Jemarinya mengelus lembut surai biru keperakan pemuda itu.

Phainon tertawa kecil, menikmati belaian pada kepalanya.

Mau pura-pura pacaran atau tidak, semuanya sama saja.

Walaupun secara diam-diam, ada yang sedang berharap lebih dari sekedar pertemanan.

***

[Mydei, akhirnya kau pacaran juga dengan Phainon?! –Cipher]

[Foto yang ada di instanya Phainon itu kau, ‘kan?! –Hyacine]

[Akhirnya kapalku sejak kuliah berlabuh juga –Castorice]

Mydei hanya terkekeh melihat rentetan pesan dari teman-temannya. Sudah menjadi makanannya sehari-hari sejak kuliah membaca hal semacam ini. Ia pun membalas pesan-pesan itu satu per satu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Namun ada satu pesan lainnya yang membuat senyumnya memudar. Ia terdiam, memikirkan sesuatu. Ujung ponselnya menempel pada bibirnya. Jika benar ... bukankah semua kepura-puraan ini sudah tidak tidak ada gunanya lagi? Kenapa ia tidak pernah terpikirkan hal ini sebelumnya?

Memutuskan sesuatu, Mydei pun pergi ke ruang tengah hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Terlihat Phainon yang masih tertidur di sofa. “Phainon, bangun. Waktunya mandi.” kata Mydei. Tangannya menepuk pelan bahu pria itu.

“Mmh ...” Perlahan Phainon membuka matanya. Aroma sabun yang segar merasuk ke indra penciumannya, membuatnya langsung merasa segar kembali. Ia sangat hapal sabun siapa ini. “Mydei, kenapa kau mandi duluan? Katanya mau mandi bersama ...” rengeknya sambil memeluk pinggang Mydei yang masih lembap.

“Salah sendiri tadi susah dibangunin.” cetus Mydei yang berusaha melepas pelukan Phainon, namun Phainon justru semakin mengeratkan pelukannya. Hha... Mydei lupa terkadang Phainon bisa semenyebalkan ini. Pada akhirnya ia mengalah. “Hei.” Ia menepuk kepala Phainon, membuat pria itu mengangkat kepalanya. “Kurasa semua kepura-puraan ini sudah tidak ada gunanya lagi.”

Mata Phainon melebar, terkejut. “A-Apa maksudnya?"

“Jika kau mau jujur, aku akan mandi bersamamu.”

Phainon langsung mengangguk cepat. Jantungnya berdebar kencang. Seberapa penting ini sampai Mydei rela mandi dua kali?

“Aku tidak akan mengulanginya dua kali, jadi dengarkan aku baik-baik.” Mydei menarik dan menghembuskan napasnya. Baiklah, ini saatnya untuk mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya. “Masih ingin pura-pura pacaran atau berubah menjadi pacaran sungguhan?” tanyanya dengan tempo cepat, sama cepatnya dengan detak jantungnya yang sekarang berdetak gila. Tetapi Mydei begitu pandai menyembunyikan isi hatinya. Bahkan saat mengatakannya, ekspresinya tidak berubah sama sekali.

Benar saja. Phainon langsung bengong mendengar pertanyaan itu, seakan ia sedang salah dengar. Ingin memastikan, tapi Mydei sudah menegaskan kalau dia tidak akan mengulangi pertanyaannya lagi. Tanpa perlu pikir panjang, Phainon segera mengangguk cepat untuk kedua kalinya dan penuh semangat. “Mau yang sungguhan!”

Mydei tak menyembunyikan senyum puasnya. Ia mengelus rambut Phainon yang membuat pria itu menduselkan kepalanya di perut Mydei. Rasanya seperti sedang memanjakan seekor anjing samoyed. “Jangan bilang semua ini hanya akal bulusmu agar bisa pacaran sungguhan denganku?”

Phainon tersentak, menyadari bahwa justru pertanyaan inilah yang diharapkan kejujurannya. Ia menatap Mydei dengan tatapan tak percaya. “Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?! Jahat!”

Ah, sungguh. Haruskah Mydei menarik kembali perkataannya? “Kau benar-benar—“

“Jadi sekarang, kita sudah menjadi sepasang kekasih, ‘kan?” Tiba-tiba Phainon berdiri ... sambil mengangkat tubuh Mydei dengan mudahnya, membuat Mydei langsung membungkam mulutnya. Refleks Mydei berpegangan dengan melingkar kakinya pada pinggang Phainon dan kedua tangannya di leher laki-laki itu. “Ayo kita mandi bersama!”

Wajah Mydei kini memerah sempurna. Ia memelototi Phainon sembari berteriak untuk menutupi rasa malunya. “KAU—“

“Apa kau tidak penasaran apa saja yang biasanya dilakukan sepasang kekasih saat mandi bersama?” potong Phainon dengan senyum manisnya.

Ukh ... Phainon sungguh curang. Mydei lemah dengan senyumannya itu. Ia merasa meleleh hanya dengan melihat senyum manis yang mengembang di bibir Phainon. Pasrah dibawa ke kamar mandi, Mydei hanya bisa membenamkan wajahnya di bahu lebar Phainon.

Sial, ternyata ini jauh lebih menyenangkan daripada yang dia duga.

***

Keheningan menyelimuti kamar yang berisikan dua orang yang sedang berbaring.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Phainon sudah tidur lebih dulu. Kedua tangannya yang kokoh memeluk pinggang Mydei. Tapi Mydei belum bisa tidur. Maka itu, Mydei membuka kembali pesan tersebut. Sebuah pesan yang berani membuatnya melangkah maju.

[Syukurlah akhirnya perasaan kalian saling berbalas. –Aglaea]

Saling berbalas?

Mydei merenungkannya sebentar sebelum membalas pesan dari dosennya itu. Jadi ... ternyata selama ini dia dan Phainon saling menyukai? Tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadarinya? Bagaimana bisa Aglaea mengetahuinya? Mereka bertiga pernah terlibat dalam suatu proyek saat masih kuliah dulu dan Aglaelah yang menjadi dosen pemandunya. Tapi tidak mungkin hanya karena itu—tunggu, apa jangan-jangan semuanya sudah tahu? Sepertinya berteman dengan Phainon membuat IQ-ku ikut merosot turun, batinnya.

“Mydei ...” Phainon mengerang dalam tidurnya seraya menariknya mendekat.

Mydei tersenyum tipis dan mematikan ponselnya. Lalu ia pun membalikkan badannya untuk membalas pelukan dari kekasihnya itu dan memejamkan matanya.

Malam ini terasa begitu damai seperti biasanya. Mydei harap hari-hari yang damai akan terus menyertai mereka berdua.[]

 

THE END