Actions

Work Header

harus berapa lama; aku menunggumu, nicholas?

Summary:

"Ada lagi yang kau butuhkan, Sayang?" tanya Nicholas dengan lembut yang aku jawab dengan, "Aku butuh kamu. Cepat pulang, ya!"

 

Nicholas mengeluarkan tawa renyahnya. "Tentu saja," Kedua sepatu telah ia kenakan. Kini, sudah tiba waktunya bagi Nicholas untuk melangkah pergi. "Tunggu aku pulang, ya? Aku menyayangimu."

Tentang janji yang harus dituntaskan. Aku akan menunggumu, Nicholas. Namun, harus berapa lama?

Notes:

Untuk Nicholas Wang dengan segala daya pikatnya, selamat ulang tahun yang ke-23 :] Kelak akan ada masa di mana kau menjadi bintang yang paling terang di se-antero planet ini; dan aku akan senantiasa mengiringi langkahmu dengan puja dan doa.

Tulisan ini untuk mengabadikan rasa cinta yang selamanya terikat pada Nicholas.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


 

Pukul 11 malam, 60 menit menuju hari ulang tahunmu. 

 

Seharusnya aku tidak perlu gusar dalam menantikan hari ini. Kau sudah bukan lagi masalahku, aku juga bukan lagi bagian dari hidupmu. Tidak ada kewajibanku untuk menunggu hari bahagiamu. Aku tidak berhak pula menjadi sosok paling pertama untuk melantunkan nyanyian indah ‘tuk menyambut hari lahirmu. 

 

Benar begitu, ‘kan, Nicholas? 

 

Harusnya begitu. Sebenar-benarnya tindakan adalah mematikan ponsel di malam ini. Lalu tidur dengan nyenyak di balik selimut hingga Surya kembali menjemput. Dengan begitu, hari esok akan terasa lebih ringan untuk terlewati.

 

Harusnya begitu. Namun, hati ini merasa ada yang terlewat ketika tidak ada terhidang kue ulang tahun beserta satu set lilin yang menunjukkan angka ‘23’ tertancap di atasnya. 

 

Selama tiga tahun terakhir, kue cokelat dengan 5 buah stroberi sebagai hiasan selalu tersedia di atas meja makan yang engkau rakit. Meja ini … kita beli di hari pertama kehidupan kita di bawah naungan atap yang sama. 

 

“Aku selalu tinggal di asrama, tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya berkumpul dengan keluarga terdekat di meja makan. Semua aku lakukan sendiri,” Nicholas terdengar sedih di dalam nada bicaranya — namun masih berusaha untuk tersenyum.
"Terima kasih sudah mau mencintai aku. Aku tidak sabar menghabiskan seluruh waktu makanku di dalam kehidupan ini bersama kamu.”

 

***

 

Pukul 11.20 malam, 40 menit menuju hari ulang tahunmu.

 

Dada ini terasa seperti diremas bila mengingat betapa indahnya senyuman Nicholas di malam hari itu. Selama tiga tahun kehidupan kami bersama, Nicholas benar-benar menepati ucapannya. Seluruh agenda makan selalu kami lakukan di meja yang kami bangun bersama.

 

Tangan kami selalu bertautan, kaki kami selalu berdekatan untuk mencari kehangatan dari masing-masing. Bahkan ketika kami sedang berada dalam perang dingin yang terselip di antara teriakan dan makian yang beberapa kali terucap, Nicholas tetap duduk dan datang ke meja makan. Meski tanpa suara, tatapannya selalu mengundang aku untuk hadir di sisinya. 

 

Menikmati sajian makan malam di tengah pertengkaran merupakan cara termudah kami untuk saling memaafkan di akhir hari.

 

Meski mulut kami terkunci dan hanya terdengar iringan denting piring bernada sumbang, pada akhirnya, kami selalu tahu kapan untuk menyudahi amarah yang sempat menguasai hati. Nicholas biasanya akan memainkan kelingking di atas punggung tanganku, berusaha untuk menarik perhatian, lalu akan bertanya dengan suara pelan.

 

“Kamu benci aku?” Ia selalu terlihat menyedihkan setiap kalimat itu terlontar. Seringnya Nicholas akan mengingatkanku dengan seekor anjing kecil yang kedinginan di bawah rinah hujan. “Aku tidak akan pernah membenci kamu, Nicholas."

Di dalam badai yang ia ciptakan sekalipun, kata benci tidak akan pernah pantas disandingkan oleh namanya. Bila ada kata yang wajib dicocokkan dengan nama Nicholas, maka kata itu adalah rindu. 

“Nicholas, mustahil bagiku untuk benci kamu. Di tengah pertengkaran kita saja, aku justru merindukanmu,” Bila Nicholas memecah sunyi di tiap pertengkaran, maka tugasku di dalam hubungan ini adalah mengikis jarak di antara kami. Aku bergerak maju untuk memeluk tubuhnya — meraih seluruh kehangatan dari rengkuhannya. “

Aku akan selalu merindukanmu, Nicholas.”

 

***

 

Pukul 11.38 malam, 22 menit menuju hari ulang tahunmu. 

 

Aku akan selalu merindukanmu, Nicholas.

 

Tidak ada yang dapat mendengar sumpahku ini selain serangga di sudut-sudut lemari atau dinding yang memisahkan ruang penuh derita ini dari dunia luar. Mungkin sumpahku akan terlupakan bersama dengan seluruh kenangan yang kita miliki. 

 

Satu per satu puisi cinta kita akan gugur. Tiap jengkal tubuhku juga akan kehilanganmu, di mana hanya butuh 28 hari untuk menghilangkan jejakmu dari permukaan kulit. Lama kelamaan, seluruh kisah kita hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur untuk insan penuh cinta lainnya. 

 

Seharusnya, malam itu aku memelukmu lebih lama. Di saat kau merengek minta ditemani, seharusnya aku mendengarkanmu lebih dalam. Menanggapi semua celotehan yang hanya bisa kau ucapkan kepadaku dan membiarkan jemari rampingmu memainkan ujung-ujung rambutku.

 

Seharusnya, pagi hari itu aku tidak membiarkanmu pergi sendirian. Aku yang selalu merenggut perhatianmu seharusnya berusaha lebih keras untuk menahanmu. Satu atau dua menit saja. Atau jika memang tidak bisa menahan kau melangkah pergi, seharusnya aku pergi bersamamu. Bergandengan tangan, bersisihan, menuju tempat yang kita tuju. Entah kemana tujuan yang dimaksud di dalam takdir ini.

 

“Sebentar saja, oke? Tidak akan terlalu lama. Sebelum kau menyelesaikan pai buahnya, aku sudah kembali lagi,” Nicholas menarikku ke dalam pelukannya. Terlalu dekat. Terlalu memabukkan. Aku bisa mencium aroma segar khas akar pepohonan yang menguar dari tubuh Nicholas. Wajahnya mendekat, lantas meninggalkan sebuah kecupan di puncak kepalaku.

 

“Duduk manis saja, lalu aku akan datang menjemputmu lagi. Ya?” Aku selama ini tidak pernah mempermasalahkan kegiatan lain Nicholas di luar hubungan kami. Sehingga, meskipun aku sangat ingin menemaninya pagi ini, aku terpaksa melepasnya pergi sendirian. “Bawakan aku minuman stroberi yang waktu itu!"

 

"Ah, ah … donat mochi juga terdengar enak. Bisa bawakan beberapa?”

 

Piknik sore hari ini akan menjadi sangat sempurna, pikirku. 

 

Kuserahkan mantel abu-abu ke arah Nicholas yang dengan segera ia pakai secara perlahan. Nicholas terlihat tampan dan aku sangat senang karena ia memilihku untuk menjadi teman hidupnya. “Ada lagi yang kau butuhkan, Sayang?” tanya Nicholas dengan lembut yang aku jawab dengan, “Aku butuh kamu. Cepat pulang, ya!”

 

Nicholas mengeluarkan tawa renyahnya. “Tentu saja,” Kedua sepatu telah ia kenakan. Kini, sudah tiba waktunya bagi Nicholas untuk melangkah pergi. “Tunggu aku pulang, ya? Aku menyayangimu." ujarnya sebelum berbalik dan benar-benar menghilang di balik pintu.

 

***

 

Pukul 11.57 malam, 3 menit menuju hari ulang tahunmu.

 

Semenjak hari itu, kau tidak pernah kembali lagi, Nicholas.

 

Punggung lebarmu merupakan hal terakhir yang kulihat. Ya Tuhan, Ya Tuhan — bahkan aku tidak sempat melihat senyumanmu untuk yang terakhir kali. Untuk seseorang yang berkali-kali melantunkan kalimat sayang di pagi hari itu, kau sungguh sangat kejam dengan tidak membiarkanku membawa kenangan atas senyum manis itu sebagai memori terakhir dari perjumpaan kita. Bila kau hendak pergi, seharusnya kau menggenggam tanganku dengan erat ... lantas mengajakku untuk pergi bersamamu. 

 

Bukankah kau mencintaiku, Nicholas? Kenapa kau tak terpikirkan untuk mengajakku menunaikan keinginan terbesarmu sendirian?

Kenapa kau tidak pernah menceritakan lelahmu yang sesungguhnya kepadaku?

Kenapa... kenapa kau pergi sendirian, Nicholas? 

 

"Apakah benar ini kediaman Nicholas Wang?" Bukan sosok dengan pakaian seragam lengkap yang aku nantikan hadir di balik pintu. Aku hanya menunggu Nicholas. Bahkan, aku sudah siap untuk pergi piknik dengannya. Bawahan tartan sudah terpasang, Nicholas pasti akan gembira karena melihatku mengenakan pemberiannya. "Iya, betul. Tapi Nicholas sedang pergi—apakah perlu aku sambungkan lewat telepon?" tanyaku dengan agak was-was. Sesungguhnya, aku agak ketakutan sekarang. Belum pernah ada petugas berwajib yang mendatangi rumahku selama ini.

 

"Tidak perlu ... kami justru datang untuk membawa kabar tentang Tuan Wang." Aku lantas bergerak mundur, kekhawatiran mulai menyergap sudut-sudut hatiku.

 

Nicholas, kamu dimana? Kenapa justru mereka yang membawa kabar tentangmu? 

 

Aku merogoh saku—lantas menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan ponsel genggam milik Nicholas. Di saat-saat terdesak, Nicholas lah yang akan selalu aku hubungi. Ia akan selalu menjawab setiap aku hubungi ... selalu seperti itu!

 

DRRT. DRRT. DRRT.

 

Terdengar beberapa getaran yang tidak aku ketahui berasal darimana. Namun, getaran tersebut membuat seorang polisi bergerak untuk merogoh kantung berwarna cokelat yang ia bawa. Tak lama kemudian, ia menarik keluar sebuah ponsel dari dalam sana—milik Nicholas?!

 

"Kau yang menelepon, ya...?" Polisi yang sama menatapku lamat-lamat sebelum kembali bersuara, "Saudara, sebaiknya anda mendengarkan penjelasan kami terlebih dahulu." Ia mengembalikan ponsel milik Nicholas ke dalam kantung cokelat lalu menyerahkannya kepadaku.

 

"Ada baiknya anda mengecek apakah benar barang-barang ini milik Tuan Wang." Senyumnya mengiba—sungguh aku benar-benar membenci senyuman seperti itu. Aku menjadi semakin gelisah. "Kenapa perlu aku mengeceknya? Untuk apa? Di mana Nicholas? Kenapa barang pribadinya dibawa oleh polisi tak dikenal?"

 

Hening. Keheningan itu pun bertahan selama beberapa sekon sebelum seorang personil yang terlihat paling belia kembali membuka suara.

 

"Tuan Wang ... Tuan Wang sudah tiada."

"Jasadnya kini sudah berada di rumah sakit."

"Ia meletakkan semua barang pribadinya, beserta wasiat, sebelum terjun."

"Kami sudah berusaha ... tapi memang inilah takdir-Nya."

 

*** 

 

Pukul 11.59 malam, 30 detik menuju hari ulang tahunmu.

 

Kutatap nanar surat yang kau tuliskan untukku. Surat itu hanya tertuju kepadaku. Bukan kepada orang lain—bukan untuk Mama, Papa, atau kakak perempuanmu. Di dalam surat itu, kau memohon maaf dan mendoakan hal-hal baik kepadaku. Surat tersebut begitu indah meskipun sangat menyakitkan bila harus kuingat. Sebab dengan surat inilah kau berpulang, meninggalkanku sendirian di tengah ombak kehidupan yang terus membawaku menjauhimu. Menjauhi kehidupan bersama kita. Menjauhi cerita cinta kita.

 

Nicholas ... apa maksud sebenarnya dari akhir kalimat perpisahanmu? 

Kenapa kau memintaku untuk menunggumu? Harus berapa lama aku menunggumu?

 

.

.

.

.

 

Apakah aku harus menunggumu selamanya? Atau hanya sementara?

 

.

.

.

.

 

 

Nicholas, apakah kau akan hadir di hari ulang tahunmu ini?

 

Aku membeli kue cokelat ini hanya untukmu. Stroberi yang ada di atasnya masih lengkap, aku berusaha menahan diri agar tidak mencomot satu buah yang terlihat paling merah nan ranum. Kau pasti senang, 'kan? Maka dari itu, kumohon ... datanglah.

 

Lima belas detik menuju hari ulang tahunmu.

 

Buru-buru aku nyalakan lilin '23' dengan menggunakan korek yang aku temukan di tumpukan barang-barang peninggalanmu. Kedua tangan aku katupkan dan mendekati angka 12 malam, bibirku mulai merapal, "Aku berharap, aku tidak perlu menunggumu terlalu lama, Nicholas." Tepat setelah kalimat tersebut, jam dinding mulai berdentang. Pada dentang ketiga, aku membuka matabersiap untuk meniup lilin.

 

Pada saat yang bersamaan, angin yang cukup besar meniup ke arah lilin hingga memadamkan api di atasnya.

 

Hanya perlu satu hembusan untuk mematikannya ... permohonan ini akan terkabul, bukan?

 

"Nicholas, kau kah itu?" Mungkin aku terdengar seperti orang gila karena sudah menanyakan hal-hal tak perlu kepada angin malam yang tentu tidak akan menjawab. Namun rasa penasaran itu tak tertahankan dan di saat aku sadari bahwa tidak akan pernah ada jawaban atas pertanyaan tersebut, air mata mulai mengalir deras.

 

Aku benar-benar merindukan Nicholas.

 

Jika memang benar ia memintaku untuk menunggu, maka aku akan melakukannya meskipun itu berarti selamanya ... atau jika permohonan ini terkabul—meski bukan aku maupun Nicholas yang mematikannya—mungkin aku tidak perlu menunggu terlalu lama.

 

 

 

*** 

 

 

𝐒𝐞𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝟒𝟔 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐰𝐚𝐬 𝐀𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐆𝐞𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐢𝐰𝐚𝐧

BERITA HARIAN TAIWAN - Setidaknya 46 orang tewas dan sedikitnya 41 orang mengalami luka parah akibat api yang melalap sebuah gedung di Taiwan bagian selatan pada Rabu (09/07) dini hari waktu setempat.  

 

Kepala Pemadam Kebakaran mengungkapkan sebanyak 11 jenazah langsung dilarikan ke kamar mayat. Kemudian 14 orang dari 55 korban yang dibawa ke rumah sakit disebut tewas.

 

 

 

*** 

 

 

 

"Kita berjumpa lagi, Nicholas?"

"Maaf sudah membuatmu menunggu."

Notes:

Yes, I beg to differ-hence, I wrote this depressing piece for Nicholas' birthday instead of full-of-giggles romance.
And no, I am not a masochist. I just thought it would be funny to make someone sheds some tears in Nichol's birthday.

Special thanks to Noah for their beautifully-written song 'Menunggumu' :]
Also for Nadin and Saka, my dear friends, my beta readers.

I will keep waiting for Nicholas my whole life, me thinks #whipped.