Actions

Work Header

Waktu Yang Hilang

Summary:

Hanya sebuah pertemuan kecil setelah sekian lama terpisah selama 33 juta kali siklus kehidupan. Ia menemukan Mydei-nya. Satu-satunya Mydei miliknya. Mydei yang telah menjadi pemilik hatinya sejak siklus pertamanya. Ah, tapi itu bukanlah masalah. Mydei tetaplah Mydei.

Day 2: Reincarnation AU for #PekanPhaiDei25

Notes:

Sebuah drabble ringan untuk meramaikan #PekanPhaiDei hehe. Udah lama gak nulis jadi ceritanya agak amburadul. Semoga kalian semua menikmati cerita ini~

Warning: OOC, alur non canon dan hanya berdasarkan headcanonku, cringe, klise, gaje.
Phairing: Phainon x Mydei. PhaiDei. Phainon top x Mydei bottom.

Work Text:

“Jika ada kesempatan di kehidupan selanjutnya, kunjungilah perpustakaanku.”

Phainon menatap kosong pada perpustakaan Castum Kremnos yang sedang terbakar habis. Suara jeritan dan teriakan di sekitarnya seakan berasal dari tempat yang jauh. Mata biru kehijauannya yang biasanya memancarkan sinar kehidupan kini telah redup, bersamaan dengan matinya rasa di hatinya.

Kesempatan di kehidupan selanjutnya? Kesempatan apa?

33 juta kali Phainon mengalami siklus kehidupan berulang, tak pernah ada kesempatan tersebut. Semuanya selalu berakhir sama: kematian teman-temannya dan orang yang ia cintai dengan tangannya sendiri. Ia memandangi kedua tangannya sendiri, seakan terdapat lumuran darah emas yang menyelimuti tangan terkutuknya. Phainon sudah tidak bisa mengingat sedang di putaran ke berapa ia sekarang. Rasanya ia sedang dihancurkan dari dalam, perlahan-lahan menggerogotinya hingga kelak ia menghilang dari dunia ini.

Takdir kejam yang menggenggamnya ini tak pernah melepasnya, selalu membawanya pada penderitaan tiada akhir. Phainon tidak tahu kapan ia bisa menemui akhir dari perjalanannya. Ia sudah tidak bisa lagi menemukan cara untuk merubah garis waktu yang terus berjalan dan berulang terus-menerus.

“Mydeimos ...” Phainon berbisik, meskipun ia tahu pemilik nama yang ia bisikkan tidak akan pernah menanggapinya lagi. Ingatan saat tangannya membelai lembut pipi hangat itu terbayang di benaknya. Bagaimana kedua mata kuning yang biasanya memancarkan kehangatan itu terpejam, menikmati sentuhannya. Perasaan manis yang merekah di hatinya yang selalu membuat pipinya terasa panas. Debaran jantungnya bagaikan seseorang dimabuk cinta ...

... kemana semua itu pergi?

“ ... tak ada kesempatan di kehidupan selanjutnya ... ” Phainon tersenyum tenang. Kedua tangannya terentang. “ ... maka itu, kupersembahkan hasil dari janji yang tak bisa kupenuhi ini.”

Miris.

Phainon kira, ia sudah tak lagi memiliki perasaan yang tersisa. Ia membalikkan badannya, berjalan menjauh dari perpustakaan yang telah ia hancurkan itu.

Pada akhirnya, satu-satunya alasan mengapa ia menghancurkan perpustakaan ini adalah ia tidak sanggup lagi berada di tempat dimana sang pemilik hatinya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Rupanya masih ada penggalan rasa yang ia pertahankan secara mati-matian, satu-satunya cara agar ia tidak kehilangan kewarasannya.

“Jika kehidupan selanjutnya benar-benar ada ... aku hanya ingin bertemu denganmu lagi ... satu-satunya Mydei milikku ...”

.

Waktu Yang Hilang

Honkai Star Rail credit to Mihoyo

.

Saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam membuat fic ini. Terima kasih~

.

“Perpustakaannya besar sekali ...”

“Aku tidak sabar ingin segera masuk!”

Phainon tersenyum memandangi sebuah perpustakaan besar di hadapannya. Di sebelahnya, kedua temannya—Hyacine dan Castorice—sudah tampak sangat bersemangat untuk segera memasuki perpustakaan tersebut.

Saat ini mereka bertiga sedang berada di depan Perpustakaan Kremnos, sebuah perpustakaan bersejarah yang sudah lama berdiri sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Meskipun terletak di pusat kota, namun anehnya Phainon baru mendengar perpustakaan yang katanya legendaris ini. Menurut Professor Anaxa yang merekomendasikan perpustakaan ini, perpustakaan Kremnos merupakan sisa-sisa peninggalan dinasti Castrum Kremnos yang sudah sejak lama runtuh. Oleh sebab itu, tak heran tempat ini selalu laris didatangi para ahli sejarah ataupun orang-orang yang menyukai dan mempelajari sejarah.

“Ini pertama kalinya aku datang kesini.” kata Hyacine begitu ketiganya memasuki perpustakaan setelah melakukan serangkaian registrasi keanggotaan.

Castorice mengangguk. “Benar. Jika Professor Anaxa tidak memberitahu perpustakaan ini, mungkin saja sekarang kita masih kebingungan mencari tempat riset tentang sejarah Castrum Kremnos.”

“Kebiasaan sekali beliau. Selalu memberikan tugas yang sulit.” tambah Phainon seraya menggelengkan kepalanya.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar agar bisa menemukan buku-buku yang tepat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah mereka yang dilakukan secara berkelompok.

Phainon mengitari pandangannya ke sekeliling, kagum akan isi dari perpustakaan besar ini. Aroma buku yang kuat memenuhi indra penciumannya. Suasana yang tenang dan hangat memberi kenyamanan tersendiri untuknya. Ditambah tidak begitu banyak orang yang berkunjung, cocok untuk orang penyendiri yang ingin fokus belajar.

Tapi ...

Phainon menyentuh dadanya. Perasaan familiar macam apa ini? Rasanya ada sesuatu yang mengganjal, entah apa itu. Sesuatu yang melankolis memenuhi rongga dadanya, membuatnya merasa sesak.

Memutuskan untuk mengabaikan perasaan aneh itu, Phainon menggelengkan kepalanya. Ia memilih fokus mencari buku yang ia inginkan. Setelah beberapa saat, beruntung ia berhasil menemukan buku yang berisikan sejarah lengkap dinasti Castrum Kremnos. Halamannya lumayan tebal, tapi itu bukan masalah untuk Phainon.

Ketika Phainon pergi ke sudut ruangan menuju meja baca yang terletak di sebelah jendela, matanya menangkap sosok pria berkacamata yang tengah membaca disana sambil bertopang dagu. Rambut beige kemerahannya diikat santai. Sebuah kepang kecil menjuntai di sisi kepalanya.

Seketika Phainon berhenti melangkah. Tubuhnya serasa membeku. Napasnya tertahan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun, seolah ada sesuatu yang mengikatnya. Orang itu ...

Ketika pria itu akhirnya mengangkat kepalanya, ia tampak terkejut begitu matanya melihat Phainon. Ia segera menegakkan tubuhnya dan menegur, “He-Hei, kau tidak apa-apa?”

“Jika ada kesempatan di kehidupan selanjutnya, kunjungilah perpustakaanku.”

“ ... huh?” Phainon mengerjap. Suara yang sama, namun bertabrakan bagaikan menggema di telinganya. Figur yang serupa yang samar-samar membayang, tetapi ada yang berbeda. “Aku ... ah—“ Phainon berhenti berbicara tatkala ia menyadari suaranya yang bergetar dan serak. Kemudian ia mengusap pipinya. Air mata? Bagaimana bisa ia menangis tanpa ia sadari? “Aku ... aku tidak apa-apa ...” Phainon buru-buru menghapus air matanya, namun anehnya air matanya justru mengalir semakin deras, seakan ingin meluapkan seluruh perasaannya yang sudah lama terpendam.

Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada suatu dorongan aneh yang Phainon rasakan. Mengapa ia ingin sekali melemparkan tubuhnya dan memeluk erat orang yang tidak ia kenal di depannya ini? Mengapa rasanya begitu sesak dan nyeri di dalam sini?

Namun di balik semua ketidakmengertian itu, ada satu nama yang terus menggema di hati Phainon, memintanya untuk menyebut nama tersebut. Sebuah nama yang terus terukir di hatinya tanpa terkikis oleh waktu. Sebuah nama yang selalu ia rindukan jauh di alam bawah sadarnya. Nama yang tak pernah lekang meskipun harus melewati berbagai siklus kehidupannya.

Phainon mengangkat kepalanya. Matanya yang basah menatap penuh kerinduan pada seseorang yang baru pertama ia temui itu. “ ... Mydei ...”

Sepasang mata kuning orang itu melebar, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tetapi sedetik kemudian seulas senyum lembut terbit di wajah orang itu. Kedua tangannya terbuka lebar, bagaikan sedang menyambut kehadiran seseorang yang sudah lama ia tunggu kehadirannya. “Phainon ...”

Tak bisa menahan dirinya lagi, lantas Phainon segera melemparkan dirinya ke dalam pelukan Mydei. Tangisnya pecah saat itu juga.

Akhirnya ... ia berhasil menemukan cintanya lagi ... Mydeimos, satu-satunya pria yang bersemayam di hatinya.

***

“Kau membuat semua orang bingung.”

Phainon berusaha meredakan tangisnya sambil menerima tisu yang diulurkan Mydei padanya. Matanya yang bengkak terasa pegal karena banyak menangis.

Sebab situasi yang semakin tidak kondusif, Mydei pun langsung membawa Phainon keluar dari perpustakaan dan kini mereka berdua pun berakhir di sebuah restoran terdekat. Mydei bahkan sampai berbohong pada Hyacine dan Castorice kalau mereka saling mengenal sebelumnya agar kedua perempuan itu tidak panik lagi.

“Maaf ... rasanya tadi aku begitu kacau ...” ucap Phainon lesu. Baru sekarang lah ia merasa malu. Kepalanya tertunduk, tidak sanggup memandang Mydei yang duduk di sebelahnya.

Mydei menyilangkan tangannya. Sosok Phainon di sampingnya ini terlihat seperti seekor puppy yang terlantar. “Jadi, kau sudah ingat semuanya?”

Phainon mengangguk pelan. “Ya. Barusan aku ingat semuanya.”

Itu benar. Begitu Mydei menyebut nama Phainon, seketika seluruh ingatannya menyerbunya bagaikan gelombang tsunami yang meledak keluar. Hal itu membuatnya kewalahan. Tidak heran ia sampai menangis hebat begitu.  Namun meskipun begitu ... menangis di depan banyak orang ...

“Hha ...” Phainon menghela napas dan menjatuhkan kepalanya ke meja. “Memalukan ...” bisiknya. “Bagaimana denganmu? Kapan kau mengingatnya?”

Mata Mydei bergulir ke atas, mencoba mengingat-ingat. “Dari kecil aku memang sudah ingat.”

Phainon terdiam sesaat. Kemudian ia membuka mulutnya, “Apa hal terakhir yang kau ingat?”

“Si Pencuri Api itu menusukku saat aku mencoba mengulur waktu. Kau masih ingat kelemahanku, bukan?” Mydei terkekeh layaknya apa yang terjadi padanya dulu bukanlah apa-apa. “Lalu bagaimana akhirnya? Kau berhasil menerima benih apinya?”

Phainon menggerakkan kepalanya menghadap Mydei, memandangi pria bermata kuning itu. Ia termenung. Bukankah itu artinya Mydei hanya mengingat siklus terakhir mereka? Sebuah senyum tipis merekah di bibir Phainon, merasakan kelegaan yang luar biasa. Itu artinya Mydei tidak perlu merasakan betapa menyakitkannya siklus berulang mereka. “Kau mau tahu ceritanya?” Phainon mengangkat kepalanya.

“Tentu saja,” Mydei menyesap jus pomegranatenya. “Ini adalah reuni pertemuan kita setelah sekian lama. Tentu saja kita harus bertukar cerita, ‘kan?”

Phainon terkekeh. Akhirnya ia pun menceritakan semuanya mengenai apa saja yang terjadi selama hidupnya tanpa ada satu pun yang ditutupi. Sejak dulu, ia adalah seseorang yang ekspresif, jadi siapapun yang mendengarnya bercerita seolah mereka akan masuk ke dalam ceritanya.

Begitu pula dengan Mydei yang selalu menjadi pendengar yang baik.

Awalnya segalanya baik-baik saja. Dengan santai, Mydei mendengarkan dengan seksama sebelum perlahan raut wajahnya berubah. Berbeda dengan Phainon yang bercerita dengan ekspresi ceria dan penuh semangat, Mydei menatap Phainon dengan mata membelalak. Raut wajahnya memucat. Ia tak pernah sekalipun menampilkan raut wajah seperti ini.

Mengulang siklus selama 33 juta kali dengan menanggung Flame Core yang jumlahnya sudah tak terhitung banyaknya, nama asli Phainon dan identitas Flame Reaver, bagaimana Phainon harus terus menyaksikan Phainon lainnya bersama dengan Mydei-nya sementara ia hanya sendirian, berbagai kebenaran mengerikan di balik tempat mereka tinggal dulu, tubuhnya yang perlahan hancur terbakar ...

“Aku benar-benar tidak ingin membunuhmu, tapi kau tidak pernah mau memberikan Flame Core milikmu, jadi aku tidak punya pilihan lain. Kau selalu memiliki sikap yang sama selama tiga puluh tiga juta kali. Aku takjub. Kau tidak pernah berubah.” Phainon menggaruk pipinya sambil tertawa malu. “Dan aku juga ingin mengakui sesuatu kalau aku sempat membakar—“ Phainon langsung berhenti berbicara tatkala tiba-tiba tubuhnya ditarik ke dalam pelukan Mydei. Ia mengerjap bingung. “Mydei?”

“Kau ...” Mydei membenamkan wajahnya di bahu Phainon. “ ... kenapa kau menanggung semuanya sendirian?”

Phainon terperangah. Berbagai Mydei yang ia temui dulu tak pernah ada yang menunjukkan reaksi seperti ini. Tanpa sadar ia tersenyum. Setelah sekian lama ia menanti ... harapannya terwujud. Ini adalah Mydei-nya. Mydei yang berada di siklus pertamanya. Ah, tidak. Mydei manapun tetap sama saja. Mydei adalah Mydei. Mydei yang akan selalu menjadi Mydeinya.

“Hei, aku tidak apa-apa. Wajar jika kau bereaksi seperti itu dulu ...” Suara Phainon memelan begitu matanya menangkap tubuh dan nada suara Mydei yang bergetar. Ia merasakan bahunya yang basah. Phainon tersenyum lembut dan membelai rambut Mydei. “Kau tidak perlu merasa bersalah. Lagipula semuanya sudah berlalu. Keadaannya berbeda sekarang. Yang penting kau sudah ada disini bersamaku dan dalam kondisi baik-baik saja. Itu sudah cukup untukku."

Namun Mydei belum juga mau melepaskan pelukannya.

Phainon terkekeh. “Mydei, ayolah. Kau belum mendengar akhir ceritanya.”

Mydei langsung menggelengkan kepalanya, tidak mau mendengar lebih lanjut.

Lucunya ... Phainon menyandarkan kepalanya dan mengecup puncak kepala Mydei. Baiklah, tidak masalah. Baru kali ini ia melihat Mydei seperti ini.

Phainon mengalihkan pandangannya ke luar jendela, pada langit cerah yang damai. Ketenangan yang langka seperti ini tidak akan pernah ia sia-siakan. Pada garis waktu yang kini hanya terjadi sekali, akan ia manfaatkan untuk mengembalikan hari-harinya yang hilang bersama Mydei.[]

 

THE END