Work Text:
“Apa? Putra Mahkota akan lewat sini?”
Mendengar pertanyaan Phainon, Hyacine mengangguk antusias. “Benar! Mengejutkan, bukan? Akhirnya Putra Mahkota mau menampilkan dirinya di depan umum untuk pertama kalinya. Spesial karena sekarang adalah hari berdirinya kerajaan Castrum Kremnos!”
Wah, mata Phainon langsung berbinar setelah mendengarkan penjelasan dari Hyacine. Rasa penasarannya akan Sang Putra Mahkota yang selama bertahun-tahun menyembunyikan dirinya, akhirnya sebentar lagi akan terpuaskan!
Karena parade keluarga kerajaan sebentar lagi akan tiba—sebuah tradisi dimana para anggota kerajaan berkeliling untuk menyapa rakyatnya, tidak heran saat ini jalanan dipenuhi orang-orang yang penasaran dengan calon pemimpin mereka yang selama ini tidak pernah menampilkan dirinya di depan umum.
“Mereka datang!”
“Keluarga kerajaan tiba!”
Mendengar hal tersebut, Phainon dan Hyacine segera menyerobot kerumunan agar bisa melihat anggota keluarga kerajaan dengan jelas. Beruntung sekali, ketika mereka berhasil mencapai baris depan, anggota keluarga kerajaan telah tiba.
Kereta kuda pertama dinaiki oleh sang raja dan ratu. Keduanya tersenyum sembari melambaikan tangannya yang disambut sorak sorai penuh rasa antusias yang memenuhi sepanjang jalan tersebut. Phainon tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya begitu kereta kudanya yang memiliki ukiran emas berbentuk lambang kerajaan yang megah melewatinya.
“Phainon,” Hyacine berbisik seraya menunjuk kereta kuda kedua yang berjalan persis di belakang kereta kuda sang raja dan ratu. “Itu Putra Mahkota kita.”
Phainon mengalihkan pandangannya menuju ke arah yang ditunjuk Hyacine.
Kereta kuda kedua pun terlihat. Di dalamnya, terdapat seorang pemuda bersurai beige kemerahan sebahu dan sebuah kepang kecil di sisi kepalanya. Anting safir menggantung di telinganya. Tubuhnya tegap dan gagah. Alis dan garis wajahnya menunjukkan sosok yang tegas.
Phainon terpana. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya sedetik pun, bagaikan terhipnotis akan pesona Sang Putra Mahkota yang baru pertama kali ia lihat. Tak hanya dirinya, semua orang yang melihat sosoknya tidak ada yang tidak terpesona.
Lalu ketika sosok itu menoleh dan dua pasang mata bertemu, Phainon meneguk ludahnya. Pipinya terasa panas saat ia menerima senyum tipis yang terbit pada wajah tampan tersebut. Sorot matanya lembut.
Kala itu, Phainon menyadari satu hal.
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
.
Can You See My Feel?
Honkai Star Rail credit to Mihoyo
.
Saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam membuat fic ini. Terima kasih~
.
Kalau dipikir-pikir, kejadian itu terjadi sekitar 1 tahun yang lalu.
Sebenarnya Phainon bukanlah seorang rakyat biasa, melainkan putra satu-satunya Count Khaslana yang lebih suka berteman dengan orang biasa dibanding sesama bangsawan. Oleh karena itu, tidak heran Phainon sering dikira rakyat biasa dan jarang memiliki teman dari kalangan bangsawan. Lagipula orang tuanya juga tidak melarangnya, justru ia diajarkan untuk berteman tanpa pilih-pilih.
Phainon melangkah menyusuri jalanan yang cukup ramai dilalui orang-orang. Karena sekarang sedang ada pasar malam, banyak yang menjual macam-macam hal yang yang tak akan bisa ditemui di hari-hari biasa. Phainon tak pernah bosan mendatangi pasar malam yang selalu ramai ini.
Tapi mengapa tiba-tiba Phainon mengingat hal itu?
Phainon menolehkan kepalanya ke jalanan. Sudah 1 tahun berlalu sejak pertama kalinya ia melihat Sang Putra Mahkota sekaligus menjadi hari ia ... jatuh cinta. Mungkin sebab hal itu juga ia jadi rajin menghadiri berbagai pesta di istana demi bisa memandangi sosok Putra Mahkota yang bernama Mydeimos itu dari kejauhan. Beruntung usahanya selalu berhasil. Mydei selalu muncul dan berbaur secara alami dengan para bangsawan. Bohong jika ia tidak memiliki keinginan untuk mendekati pujaan hatinya itu.
“Kapan aku bisa berbicara dengannya ...” gumam Phainon muram saat ia memesan sate daging di pinggir jalan.
“Bagaimana kalau sekarang?”
“Sekarang, ya?” Phainon mengangguk setuju. “Benar juga—eh?” Seketika Phainon mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang menanggapinya barusan. Telinganya merasa tergelitik karena merasa familiar dengan suara tersebut. Namun alangkah terkejutnya ia begitu menyadari siapa yang ada di sampingnya. “Putra—mphh!”
“Berisik,” sela Mydei sembari membekap mulut Phainon. “Jangan panggil aku dengan panggilan itu.” Akhirnya setelah merasa Phainon sudah tenang, dia pun membuka bekapannya. “Panggil saja namaku langsung. Aku tidak mau semua orang tahu aku ada disini.”
Phainon mengangguk kaku. “Ba-Baik, Yang Mu—maksudku, Mydei.” Ia segera mengubah panggilannya begitu Mydei memelototinya. Ah, dia tidak terbiasa memanggil nama langsung seseorang yang memiliki status lebih tinggi darinya. Ia memperhatikan penampilan Mydei yang terlihat lebih sederhana layaknya seorang rakyat biasa. Mungkin supaya bisa berbaur, duganya.
Lalu yang lebih penting daripada semua itu adalah ... Phainon sama sekali tidak menduga bisa berdiri sedekat ini dengan Mydei. Apakah dia sedang bermimpi? Baru saja Phainon sedang memikirkannya dan dia tiba-tiba muncul. Apakah ini artinya mereka berjodoh?
“Apakah kau sedang merisaukan sesuatu?” tanya Mydei tiba-tiba, membuat Phainon tersentak.
“Ah, tidak juga.” Phainon terkekeh malu sambil mengusap bagian belakang kepalanya canggung. “Aku hanya sedang bingung bagaimana caranya berbicara dengan seseorang.”
“Kenapa bingung?” Mydei menerima sate pesanannya, begitu juga dengan Phainon. “Kau sering berbaur dengan orang-orang. Mudah bagimu untuk berbicara dengan orang lain.”
Phainon menghela napas. “Ini kasus yang berbeda ...” balasnya lesu ketika mereka berdua berjalan bersama. “Orang ini susah untuk didekati.”
Itu benar. Salah satu alasan mengapa Phainon tidak bisa mendekati Mydei adalah karena di matanya, Mydei adalah sosok yang sempurna. Tubuhnya yang tegap dan senyumnya yang penuh percaya diri menciptakan suatu dinding tak terlihat untuk Phainon, membuatnya bingung bagaimana cara untuk mendekati Mydei secara natural. Ah, semoga saja Mydei tidak menyadari kalau yang sedang Phainon bicarakan adalah dirinya sendiri.
“Ternyata kau bisa memiliki kegundahan seperti itu,” kata Mydei yang membuyarkan lamunan Phainon. “Padahal biasanya kau selalu tertawa di sana-sini seperti orang bodoh. Kenapa giliran untuk orang itu kau merasa bingung?”
“Sudah kubilang, ini berbeda!” protes Phainon. Tunggu. Phainon menyadari sesuatu.
Mydei mengunyah satenya dengan santai. “Lakukan saja seperti yang biasa kau lakukan dengan orang lain. Lihat, kau bisa bicara denganku sekarang. Kenapa ragu-ragu?”
“Sebentar!” Phainon langsung beringsut menjauh dengan wajah memerah dan keringat dingin yang membasahi wajahnya. “Kau! Kau! Pantas saja ada yang aneh!” Ia menunjuk Mydei seakan sedang menuduh. “Bagaimana kau bisa tahu—maksudku, ukh ... kau kenapa—“
“Kenapa seakan aku mengenalmu, begitu?” Mydei tersenyum mengejek. “Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau kau selalu memelototiku dari kejauhan? Tatapanmu membuatku tidak nyaman, tahu.”
Jadi ... Phainon ketahuan? Tidak ada yang lebih memalukan dari hal ini! Phainon langsung berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya seperti gadis perawan yang tengah digoda pria mesum. Rasanya ia ingin sekali membenamkan diri ke tanah. Sial.
“Selain itu, rupanya kau sangat terkenal disini.”
Phainon mengangkat kepalanya. “Apa maksudmu?”
“Setiap kali aku jalan-jalan kesini, aku selalu melihatmu bermain ini dan itu atau berlatih pedang dengan orang-orang disini.”
Phainon mengerutkan keningnya. “Bagaimana kau tahu? Aku tidak pernah melihatmu ada di sekitar sini.”
“Memang, karena aku selalu pergi diam-diam sebelum aku muncul ke publik.” sahut Mydei.
Phainon terperangah. Meskipun Mydei mengatakannya seolah hal itu bukan apa-apa, tetapi hal itu menciptakan suatu getaran halus di hatinya. Apakah ini artinya Mydei sudah mengetahui Phainon jauh sebelum ia menampilkan dirinya di depan umum 1 tahun yang lalu? Mungkinkah karena hal itu juga—saat mata mereka bertemu pandang—Mydei tersenyum padanya?
“Jadi,” Mydei mengulurkan tangannya ke arah Phainon. Kali ini senyum geli muncul di wajahnya. “Bagaimana kesanmu padaku sekarang? Tidak sulit untuk berbicara denganku, ‘kan?”
Ukh ... curang. Phainon menerima uluran tangan Mydei dengan bibir melengkung cemberut, menyembunyikan jantungnya yang berdegup kencang. Perutnya terasa geli, bagaikan ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Pipinya terasa panas. “ ... mulai sekarang, aku akan lebih sering berbicara denganmu.” putusnya.
Mydei terkekeh. “Mau tahu cara agar bisa lebih sering berbicara denganku?”
Seketika Phainon langsung mengangguk semangat. “Ba-Bagaimana?!”
“Mudah saja. Jadilah ksatria pribadiku,” Mydei berjalan lebih dulu. “Dengan begitu kau akan selalu bersamaku dan aku tidak akan pergi sendirian lagi untuk kemana-mana, seperti sekarang.”
Phainon terpana. Sepasang mata biru kehijauannya memandang sosok punggung lebar yang berjalan di depannya itu. Timbul suatu keinginan untuk melindungi punggung tersebut dari siapapun yang ingin melukainya. Phainon segera menyusul Mydei. “Baiklah! Aku ingin menjadi ksatria pribadimu!”
***
Sebenarnya ada satu hal yang tidak pernah Mydei ceritakan pada Phainon ...
... bahwa sebenarnya selama ini Mydei juga bingung bagaimana cara untuk mendekati Phainon secara natural.
Pertama kali Mydei melihat Phainon adalah saat ia berumur 15 tahun, dimana waktu itu ia sedang diam-diam kabur dari istana. Jiwa petualangnya sedang bangkit, maka itu ia sangat tidak tahan dikurung terus dalam istana. Beruntung ia juga membawa beberapa koin emas sebagai bekal kalau terjadi sesuatu yang harus menggunakan uang. Tak lupa ia juga memakai jubah hitam supaya tak ada yang bisa mengenalinya.
Butuh waktu sekitar 20 menit ketika akhirnya Mydei sampai di jalanan yang dipenuhi orang-orang dari kalangan biasa. Ia melihat sekeliling, merasa takjub karena ini adalah pengalaman pertamanya turun ke jalanan. Ketika ia terus berjalan untuk melihat-lihat, indra penglihatannya menangkap suatu pemandangan yang menarik.
Disana, di sebuah lapangan hijau yang terlihat menyejukkan, terdapat seorang laki-laki muda yang mungkin berusia 3 tahun lebih tua dari Mydei sedang bermain dengan anak-anak kecil. Surai biru keperakannya terlihat halus. Senyum lebarnya begitu hangat, bagaikan sinar matahari yang cerah. Kemudian mata itu ... mata biru kehijauannya yang memancarkan ketulusan yang mendalam.
Mydei tak bisa mengalihkan pandangannya pada sosok yang baru pertama ia lihat itu, seakan terhipnotis oleh pemandangan yang menenangkan itu.
Dan Mydei menyadari sesuatu.
Ada suatu yang berdesir di hatinya.
Sejak itu, Mydei hanya bisa memperhatikan orang itu yang akhirnya bisa ia ketahui namanya—Phainon—dari kejauhan. Ia ingin mendekat dan mengajaknya berbicara secara alami. Tapi ia tidak tahu caranya. Mydei bukanlah sosok yang pemalu dan cenderung pemberani. Namun untuk kasus ini adalah pengecualian.
Begitulah waktu berlalu ketika Mydei memutuskan untuk mendekati Phainon lebih dulu, satu tahun setelah kemunculannya di depan publik. Daripada menunggu Phainon yang hanya bisa mencuri-curi pandang padanya (hal itu membuat Mydei terkadang tertawa geli diam-diam), lebih baik dia yang maju duluan. Siapa yang menyangka hubungan mereka sekarang telah berkembang menuju ke arah yang lebih serius?
“Maaf! Beribu maaf untukmu!” seru Phainon sambil bersujud di hadapan Mydei, membuat beberapa pelayan di kediaman Phainon berbisik-bisik saat melihatnya. Akhirnya ada tontonan drama lagi! Begitu pikir mereka.
Mydei mendengus sinis seraya menyilangkan tangan dan kakinya. “Sudah tidak bisa menjadi ksatria pribadiku, sekarang pun kau melupakan janji kencan kita kemarin. Aku sampai harus mendatangimu. Hebat sekali.” sindirnya.
“Maaf ... aku sungguh-sungguh minta maaf ...” rengek Phainon mengangkat kepalanya, memperlihatkan ekspresi memelasnya dan mata yang berkaca-kaca—yang tentu saja membuat Mydei luluh saat itu juga. “Rupanya selama ini aku terlalu banyak bermain-main sehingga tugasku sebagai calon kepala keluarga Khaslana menumpuk. Aku harus menyelesaikannya sebelum aku mendapat gelar count dari ayahku.”
Sejujurnya Mydei sudah tahu situasinya, jadi ia memutuskan untuk datang. Bukan karena Phainon yang tidak sengaja melupakan janji kencan mereka (toh dia bisa memakluminya), tapi karena ia khawatir. Sebagai satu-satunya pewaris, sebentar lagi Phainon akan diangkat menjadi penerus ayahnya, count Khaslana. Tidak mengherankan jika Phainon mulai sibuk dan tidak bisa bermain-main lagi.
“Lalu bagaimana? Apakah masih banyak tugasmu?” tanya Mydei cemas.
Phainon menggelengkan kepalanya pelan. “Sedikit lagi, tapi tetap saja ...”
Mydei terdiam sejenak, mencoba memikirkan sesuatu untuk menghibur kekasihnya itu. Melihat lingkaran hitam di bawah mata Phainon, rasa khawatirnya semakin menjadi. “Apa kau tidak tidur?”
“Haha. Aku hanya tidur dua hari. Aku tidak bisa tidur. Rasanya tidak tenang jika aku tidur.” Phainon tersenyum kecut.
Mydei menghela napas. Ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar pelayan di sekitar mereka meninggalkan ruang tamu. “Kemarilah.” perintahnya pada Phainon.
Merasa bingung, Phainon pun berdiri dan mendekati Mydei. Namun belum sempat ia duduk, tiba-tiba saja Mydei sudah menariknya lebih dulu dan memaksanya duduk. “Apa—“ Ia langsung menelan pertanyaannya ketika Mydei langsung duduk di pangkuannya dengan posisi menyamping. Matanya membelalak terkejut beserta wajahnya yang memerah seperti tomat.
Mydei melingkarkan lengannya di leher Phainon dan berbisik panas tepat di telinga, “Aku bisa langsung membuatmu tidur.”
Oh. Phainon langsung menyeringai. Kedua tangannya memeluk pinggang Mydei, memeluknya erat-erat. Sorot matanya yang teduh kini berkerlip nakal. “Manis sekali. Kau ingin melakukannya disini? Sekarang juga?”
“Kenapa tidak? Seminggu yang lalu kita juga melakukannya di taman istana. Dasar bajingan gila yang tidak kenal waktu.”
Phainon terkekeh. Ah, ia tidak bisa menahan dirinya lagi dan langsung menyerang kekasihnya itu, tidak peduli lagi dengan sekitar mereka.[]
THE END
