Actions

Work Header

Sexy Kiss

Summary:

Hari ini Mydei rambutnya diikat, padahal biasanya digerai begitu saja. Hal itu membuat Phainon jadi tergoda ingin menodai leher putih yang menggodanya itu.

Day 4: Office AU for #PekanPhaiDei25

Notes:

Aku kembali dengan membawa cerita ringan PhaiDei! :D Semoga suka ya~

Warning: OOC, cringe, klise, gaje, ada kissing necknya.

Pairing: Phainon x Mydei. PhaiDei. Phainon top x Mydei bottom.

Work Text:

Jika ada yang bertanya siapa pasangan paling fenomenal di perusahaan Chry.co saat ini, semua orang pasti akan menjawab hal yang sama secara serempak.

“Heee memangnya kau tidak tahu?” Cipher menggelengkan kepalanya prihatin pada Castorice. “Tentu saja, siapa lagi kalau bukan mereka.” Ia menunjuk ke arah pintu dengan ibu jarinya, dimana terdapat dua orang yang baru saja datang bersama sambil membalas sapaan karyawan lain.

Castorice menoleh ke arah yang ditunjuk Cipher. “Phainon dan Mydei?”

“Yup.” Cipher menyeringai nakal. “Lihat, mereka sangat serasi, bukan?”

Castorice memperhatikan pasangan tersebut.

Ada Phainon—seorang pria bersurai biru keperakan—yang sedang mengobrol sambil tertawa dengan karyawan lainnya. Kepribadiannya yang hangat dan terbuka membuatnya mudah untuk berbaur dengan siapapun. Ia juga tidak pernah membuat masalah. Jarang sekali melihatnya marah, malah cenderung lebih mudah mengalah karena tidak suka membuat keributan.

Lalu di sebelahnya ada Mydei, kekasihnya. Pria berambut beige kemerahan sebahu itu memiliki garis wajah yang tegas, membuatnya terlihat galak. Tetapi jika kau memberanikan diri untuk mendekatinya, kau akan tahu bahwa Mydei adalah seorang lelaki yang baik hati dan royal. Dia juga mudah untuk diajak bicara dan bekerja sama dalam tim. Biasanya rambutnya selalu digerai, tapi kali ini ia mengikatnya.

Mereka adalah pasangan yang sempurna, baik dari segi visual maupun kepribadian.

Phainon menoleh ke arah Castorice, membuat gadis itu terkejut karena sesi pengamatannya ketahuan. “Selamat pagi, Castorice!” sapa Phainon ceria. Sementara Mydei hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya.

Ah, indahnya pemandangan ini ... tidak salah mereka disebut sebagai pasangan paling panas sekantor. Castorice membalas sapaan mereka dengan senyuman dan lambaian tangan kecil. Setelah itu, ia kembali menghadap komputer, siap untuk membuat fanfiction baru tentang pasangan itu.

.

Sexy Kiss

Honkai Star Rail credit to Mihoyo

.

Saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam membuat fic ini. Terima kasih~

.

Pagi ini ada sesuatu yang berbeda dari Mydeimos.

Phainon memperhatikan sosok kekasihnya—yang sedang membicarakan sesuatu terkait pekerjaan dengan Hyacine—dari belakang sembari menyesap kopinya yang baru ia seduh. Setelah beberapa saat, barulah Phainon menyadari sesuatu.

Rambut Mydei kali ini diikat.

Mungkin karena gerah dan sekarang masih musim panas, jadi Mydei memilih mengikat tinggi rambutnya. Gara-gara hal itu, Phainon jadi salah fokus pada tengkuk putih Mydei yang belum ternoda—mengingat sudah satu minggu ini Mydei belum memberinya jatah. Tanpa sadar Phainon menjilat bibirnya, merasakan godaan untuk memberikan karya indah pada tengkuk dan leher yang terbuka itu. Tidak hanya itu. Pandangan Phainon bergerak turun ke bawah. Meskipun Mydei memakai kemeja yang tertutup, tetapi hal itu itu justru mencetak jelas tubuhnya yang tegap berotot. Belum pinggangnya yang ramping.

Dan tiba-tiba Mydei menoleh ke belakang, memelototi Phainon.

Phainon tersentak, otomatis mengangkat kedua tangannya—membuat gesture menyerah. Keringat dingin menetes di pelipisnya tatkala melihat Mydei langsung mendekatinya dengan langkah lebar. “A-Ada apa?” cicitnya. Punya istri galak—maksudnya, kekasih galak, sungguh memicu adrenalin yang menyenangkan. Contohnya seperti ini. Padahal Phainon tidak melakukan apapun, tetapi Mydei sudah naik darah saja.

“Sekarang masih di kantor. Berhenti berpikir mesum.” tegur Mydei saat ia sudah berada di hadapan Phainon.

Phainon langsung melirik ke arah lain, sengaja menghindari tatapan tajam Mydei. “Ka-Kapan aku berpikir begitu?”

“Tatapan mesummu itu menusuk punggungku. Berhenti mengelak.” Mydei langsung menjambak dua anak rambut Phainon yang mencuat ke atas layaknya antena.

“Maaf!”

Meskipun sudah diomeli seperti itu, Phainon tetap tidak kapok juga. Sepanjang hari ini, dia terus memikirkan leher Mydei yang tak mau hilang dari pikirannya. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Mengapa semua yang ada pada Mydei terlihat seksi di matanya? Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba untuk mengontrol pikirannya yang sudah mulai berkeliaran kemana-mana. Hha, kalau begini terus bakal ada yang berdiri—

“Oi.”

Phainon tersentak saat ada yang menepuk kepalanya dengan tumpukan dokumen. Ia mengangkat kepalanya, tahu bahwa yang melakukannya adalah Mydei. Selain sudah menjadi kebiasaan, ia juga hafal aroma parfum kekasihnya itu. “Apa, sayang?”

Mydei langsung merinding geli mendengar panggilan dari Phainon. “Nanti jadi menginap di rumahku? Mumpung besok weekend.” tanyanya sambil memberikan kertas-kertas dokumen mengenai data keuangan perusahaan pada Phainon.

“Jadi!” balas Phainon cepat saat ia menerima dokumen-dokumen tersebut. “Sudah lama aku tidak menginap di rumahmu.”

Mydei mengangkat satu alisnya. “Sudah lama, apanya? Baru seminggu yang lalu kau menginap di rumahku.” Ia menghela napas. “Tapi ... aku harus lembur sampai jam sepuluh malam. Apa tidak masalah?”

Phainon melihat jam dinding. Ah, ternyata sekarang sudah jam 4 sore. “Oke. Tidak masalah.” Ia kembali memalingkan wajahnya ke arah Mydei. “Aku akan membantumu. Dengan begitu, pekerjaanmu akan cepat selesai.”

Mydei tersenyum kecil. “Baiklah. Katakan saja nanti malam mau makan apa, aku akan membuatkannya untukmu.” Setelah itu, dia meletakkan sekaleng soda jeruk nipis dingin di atas meja Phainon dan berlalu begitu saja.

Melihat betapa manisnya sang kekasih, Phainon tak bisa menahan senyumnya. Hha ... jadi tidak sabar ingin segera menginap di rumah Mydei yang sudah menjadi rumah keduanya itu. “Castorice,” Phainon berbisik pada Castorice yang duduk di sebelahnya. “Mulai besok, maukah pindah tempat duduk? Aku tidak bisa berjauhan dengan—“

“Tidak boleh.” sahut Mydei langsung dari kejauhan.

Phainon langsung murung layaknya seekor puppy yang ditelantarkan pemiliknya. Mydei memang sengaja ingin duduk berjauhan dengan jarak 2 bilik agar Phainon tidak mengganggunya terus-menerus.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.

Beruntung pekerjaan Mydei jadi lebih cepat berkat bantuan dari Phainon. Meski tingkahnya terkadang suka membuat tali kesabarannya putus, tetapi tak bisa dipungkiri, Phainon sangat bisa diandalkan dalam pekerjaan. Tidak heran ia selalu dipuji oleh Aglaea, atasan mereka.

Guys, aku pulang duluan!” seru Cipher yang sudah selesai lebih dulu seraya melambaikan tangannya di pintu ruangan.

“Ya! Hati-hati di jalan!” Sahut yang lainnya.

Sekarang yang tersisa di ruangan tinggal Phainon, Mydei, Castorice, dan Hyacine. Dua perempuan itu tampaknya juga sebentar lagi selesai berkat campur tangan tidak langsung dari Phainon yang turut membantu mereka.

“Mau makan apa?” tanya Mydei seraya merenggangkan tubuhnya.

Mirip kucing, batin Phainon yang sibuk memperhatikan gerak-gerik Mydei. “Bagaimana kalau pasta?” Ia merendahkan tubuhnya sedikit, tepat di belakang leher Mydei.

“Boleh. Itu saja?”

Phainon tersenyum. Mata biru kehijauannya menggelap. “Ada lagi. Aku mau hadiah spesial.”

“Hm? Apa itu?”

Belum sempat Mydei menoleh, Phainon langsung menggigit tengkuk Mydei bagaikan serigala kelaparan yang sedang menangkap mangsanya.

“Ngh!” Mydei tersentak. Otomatis tubuhnya menegak sebagai respon. Wajahnya memerah. Menyadari suara aneh yang keluar dari mulutnya, dia langsung menutup mulutnya dengan tangannya. “Phainon—mmh ...” protesnya tertelan di tenggorokan begitu merasakan ada sesuatu yang basah di tengkuknya.

Phainon menjilati bekas gigitannya dengan penuh sayang, merasa bangga dengan karyanya yang berhasil ia torehkan. Mumpung Mydei tidak bereaksi apa-apa lagi karena ia tahu leher adalah bagian tubuh Mydei yang sensitif (oh, jangan tanya. Phainon sudah hafal di luar kepala dimana saja bagian tubuh Mydei yang sensitif), Phainon semakin berani dengan memberikan beberapa gigitan kecil di leher Mydei bagaikan serangga nakal. Puas akan hasilnya, Phainon menjauhkan kepalanya dan langsung tersenyum tanpa dosa. “Ayo kita pulang!”

Tubuh Mydei gemetar, menahan diri agar tidak meledak.

Paham sebentar lagi akan ada yang marah-marah, Phainon langsung balik ke mejanya dan buru-buru membereskan barangnya, lalu melesat keluar ruangan begitu saja.

“Hei!” Akhirnya Mydei meledak juga. Ia segera merapikan barangnya dan berlari keluar untuk menghabisi Phainon.

Sialnya, mereka berdua lupa bahwa sedari tadi Hyacine dan Castorice masih berada di dalam, bahkan mendengar dan melihat apa saja yang terjadi. Memang dunia seakan milik mereka berdua. Kami cuma menumpang, batin mereka berdua merana dengan pipi merona merah.[]

 

THE END