Work Text:
Akhir-akhir ini, Phainon sedang resah.
“Mydei, apa kau mencintaiku?” tanya Phainon tiba-tiba.
Mydei mengangkat sebelah alisnya heran. “Tentu saja. Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”
“Tidak apa-apa. Hanya saja, rasanya aku ingin sesekali menginap di apartemenmu—“
“Tidak perlu.” sela Mydei. “Disini lebih baik.”
Phainon hanya memasang senyum manis tanpa dosa yang menjadi ciri khasnya. Sambil membelai rambut Mydei yang menyandarkan kepalanya di bahu Phainon, akhirnya Phainon berhasil mendapat satu kesimpulan.
Ada sesuatu yang disembunyikan Mydei.
Dan Phainon harus tahu apa itu.
.
Starlight In You
Honkai Star Rail credit to Mihoyo
.
Saya tidak mengambil keuntungan materiil dalam membuat fic ini. Selamat menikmati~
.
Sayangnya Phainon belum punya waktu untuk menyelidiki rahasianya Mydei.
Sebenarnya dulu Phainon sudah sering sekali main ke apartemennya Mydei. Dari yang masih berteman dan Mydei masih menjadi seorang rock star, hingga sampai mereka menjalin hubungan dan kala itu Mydei sudah berhenti dari dunia musik—memilih untuk mengembangkan hobi memasaknya dan tercapailah impiannya sedari kecil, yaitu membangun kafe. Bahkan sampai detik ini, kafe milik Mydei masih menjadi kafe terlaris di Okhema.
Tapi entah mengapa sejak Phainon debut, Mydei sudah tidak memperbolehkan Phainon untuk main kesana.
Phainon juga tidak mengerti mengapa. Setiap Phainon ingin mengunjungi Mydei, kekasihnya itu akan membuat berbagai macam alasan dan ujung-ujungnya Mydei yang pergi ke apartemennya Phainon. Sebenarnya ada apa dengan apartemennya Mydei?
Phainon menghela napas. Sebagai seorang idol, tentu saja Phainon memiliki jadwal yang super sibuk. Sekedar menghabiskan waktu bersama kekasihnya saja ia tidak punya, paling dia hanya mencuri-curi waktu untuk sekedar menelfon atau kencan sebentar secara diam-diam.
Tiba-tiba Phainon menyadari sesuatu. Mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Apakah karena itu Mydei jadi menyembunyikan sesuatu dari Phainon di apartemennya? Phainon berusaha mengingat-ingat. Selama ini Mydei tidak berubah sama sekali. Meski pria bersurai beige kemerahan itu terlihat cuek dan galak, tapi sebenarnya ia memiliki sisi manisnya tersendiri. Jadi, mungkinkah—
“Phainon, kenapa kau melamun begitu?” tegur Aglaea tatkala melihat Phainon sedang duduk termenung di lorong belakang panggung.
Phainon mengangkat kepalanya. “Ah, Aglaea. Maaf. Tiba-tiba saja aku terpikirkan sesuatu.” katanya sambil terkekeh malu.
“Apakah tentang Mydei?”
Phainon mengangguk pelan. “Kenapa kau tahu?”
“Siapapun tahu sembilan puluh persen isi otakmu itu Mydei dan sepuluh persennya lagi adalah air.”
“Hehe. Jadi begini. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan kekasihku ...” Helaan napas lesu keluar dari bibir Phainon. “Aku jadi ragu apakah dia benar-benar mencintaiku atau tidak. Atau jangan-jangan dia sudah tidak mencintaiku lagi?”
“Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?” Aglaea memutuskan untuk duduk di sebelah Phainon sembari memberikan sebotol air mineral pada lelaki itu, siap mendengarkan cerita Phainon yang tidak pernah jauh-jauh dari Mydei.
“Dia tidak pernah memperbolehkanku pergi ke apartemennya, selalu dia yang datang ke apartemenku. Aku tahu dia bukan tipe orang yang akan menunjukkan perasaannya secara terang-terangan, tapi kalau sampai ada suatu rahasia begini ...” Phainon mengusap tengkuknya. “Aku juga jadi sulit untuk berpikir positif ...” ujarnya sedih.
Aglaea hanya mengangguk-angguk saja. Toh bagiku Mydei ataupun Phainon sama saja. Mereka sama-sama budak cinta tolol, tapi caranya saja yang berbeda, batinnya. “Karena itu kau jadi resah begini?”
“Benar ...” Phainon mengusap wajahnya frustasi. “Apa yang harus kulakukan? Aku bisa mati penasaran.”
Yah, Phainon dengan sifat ingin tahunya yang tinggi. Tapi ini juga bisa jadi masalah besar, pikir Aglaea. “Mau aku beri saran?”
“ ... tentu.”
“Coba bicarakan hal ini dengan Mydei secepatnya. Daripada nanti hubungan kalian bisa jadi runyam. Tidak baik jika keresahanmu itu terus dipendam. Suatu hari nanti bisa meledak tanpa bisa kau perkirakan.” saran Aglaea.
Phainon terbelalak. “Bisa separah itu?!”
Aglaea mengangguk mengiyakan. Ekspresinya serius. “Kalian baru pertama kalinya pacaran, tentu kalian tidak tahu akan hal itu.”
Phainon terdiam, mencoba merenungkan kata-kata Aglaea.
“Memang bagimu ini hanya suatu hal kecil, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti,” lanjut Aglaea. “Lalu ada satu hal yang harus kuberitahukan padamu. Kau bisa menjamin kebenarannya karena aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Mydei benar-benar mencintaimu. Jika tidak, mana mungkin dia akan sangat mendukung impianmu untuk menjadi seorang idol. Dia bahkan sampai mengenalkanku padamu dan memilihku untuk menjadi manajermu, mentang-mentang dulu aku adalah manajernya. Percaya atau tidak, dia adalah orang nomor satu yang paling bersemangat tentangmu.”
“Ah ...” Phainon kehilangan kata-kata. Ia merasa tergugah akan pencerahan dari Aglaea.
“Bagaimana? Perasaanmu sudah membaik, ‘kan, fans nomor satunya Mydei?”
Wajah Phainon langsung memerah. Panik, ia mencoba mengelak. “I-Itu ... itu—“
“Ya ampun, aku masih ingat waktu kau masih menjadi fansnya Mydei. Kau selalu memesan tiket VIP dan berada di baris depan tiap konsernya. Sungguh hari-hari yang menyenangkan dulu.” desah Aglaea untuk menggoda Phainon. “Bagaimana? Kau masih menyimpan baju dan jaketmu yang selalu kau jadikan media untuk tanda tangannya Mydei?”
“Tolong, jangan ungkit itu ...” erang Phainon malu. Dia bahkan sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Aglaea tertawa kecil. “Kau tahu alamatnya Mydei, ‘kan?”
“ ... ya.”
“Langsung datang saja kesana dan tanyai dia. Siapa tahu kebenarannya akan terungkap.” Aglaea berdiri seraya menepuk bahu Phainon. “Oh, ngomong-ngomong ini,” Tiba-tiba Aglaea memberikan tas kecil berwarna coklat yang terlihat elegan. “Seperti biasa, dari penggemar rahasiamu.”
“Lagi?” Phainon menerima tas kecil itu dengan rasa tidak percaya. “Penggemar satu ini rasanya terlalu tahu hal-hal yang tidak pernah kubicarakan di depan publik.”
Aglaea mengangkat bahunya santai. “Itulah yang dinamakan penggemar rahasia.” Kemudian wanita itu melenggang pergi, meninggalkan Phainon yang kebingungan.
Sungguh, Phainon masih bertanya-tanya siapa penggemar rahasia yang seakan tahu segalanya tentang dia. Percayalah, si penggemar ini bahkan sudah ada sejak hari kedua debutnya. Isi hadiahnya bermacam-macam, terkadang bunga, boneka, coklat, makanan ringan, cake, dan lain-lainnya.
Contohnya sekarang. Ketika Phainon membuka tas kecil itu, di dalamnya terdapat sekotak coklat yang dihias pita berwarna merah. Dari tampilannya saja sudah menggiurkan. Phainon berpikir, pasti penggemar rahasianya ini orang yang memiliki banyak uang. Kalau tidak, mana mungkin hadiah-hadiah ini bisa sampai ke tangannya lewat perantara Aglaea langsung—yang mana pasti sulit ditembus kecuali lewat orang dalam. Aglaea juga tidak tahu wujud penggemar rahasianya.
Ya sudahlah. Nanti Phainon akan memberikan coklat ini pada Mydei—tunggu. Mydei!
Kembali ke permasalahan awal. Phainon harus menyelesaikan ini sekarang juga! Tidak peduli meskipun dia masih lelah sehabis konser!
Phainon segera mengirimkan pesan pada Aglaea bahwa ia harus pergi sekarang juga ke apartemennya Mydei. Tanpa menunggu balasan dan bermodalkan keyakinan, dia langsung pergi begitu saja dengan naik taksi.
***
Butuh waktu setengah jam bagi Phainon untuk sampai di apartemennya Mydei.
Phainon langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar. Semoga Mydei belum tidur—
“Ya, sebentar!”
Phainon jadi tegang sendiri mendengar sahutan dari dalam.
Pintu pun akhirnya terbuka, memperlihatkan sosok Mydei. Begitu melihat siapa yang datang, wajah lelah Mydei pun sirna digantikan ekspresi terkejut. Buru-buru ia keluar dan langsung menutup pintunya. “Phainon, kenapa kau ada disini? Bukankah kau habis konser?”
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Aku tidak bisa menunggu jawabannya terlalu lama.” kata Phainon langsung. Setelah menarik dan menghembuskan napasnya supaya ia merasa tenang, akhirnya ia pun melontarkan pertanyaan yang sudah lama ia pendam. “Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?”
Mydei mengerjap, tercengang akan pertanyaan tersebut. “Pertanyaan konyol macam apa itu? Tidak ada yang kusembunyikan.”
“Kalau begitu, aku mau masuk—“
“Tidak.”
Ah ...
Phainon menunduk. “Begitu rupanya. Ternyata ada yang kau sembunyikan.” ujarnya pelan. Berbagai kemungkinan buruk mulai berputar di kepalanya. Perasaan cemas memenuhi rongga dadanya. Entah mengapa rasanya sakit mendengar penolakan tegas dari Mydei.
Mydei menyandarkan punggungnya pada pintu, seakan ingin menghalangi Phainon jikalau pria itu nekat ingin menerobos masuk. “Phainon, ini bukan sesuatu yang harus kau ce—“
“Lantas mengapa kau tidak membiarkanku masuk?” sela Phainon, masih dengan kepala tertunduk. “Mengapa aku tidak boleh masuk ke dalam?” tanyanya lagi. Nada suaranya bergetar. Jelas dia ingin menangis.
“Phainon—“
“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” Setetes air mata mengalir dari mata biru Phainon. “Apa karena aku terlalu sibuk dan jarang menghabiskan waktu bersamamu, makanya kau tidak mencintaiku lagi?” Sial. Ini memalukan. Menangis di depan Mydei dalam suasana seperti ini pasti terlihat menyedihkan.
Melihat Phainon menangis, Mydei langsung panik. Wajahnya memucat. “Hei hei, pasti kau salah paham! Ini bukan hal buruk seperti yang kau pikirkan!” Namun Phainon tidak menanggapi. Bahunya gemetar karena tangisnya. “Astaga, apakah begitu penting apartemenku sehingga kau sampai seperti ini? Apa kau benar-benar ingin masuk?” bujuk Mydei.
Phainon mengangguk pelan sambil menghapus air matanya.
Mydei mendesah pasrah. “Kalau kau menertawakanku, aku akan membunuhmu.” sungutnya seraya membuka pintunya.
Phainon pun mengangkat kepalanya untuk melihat isi apartemen Mydei. Namun hal pertama yang menarik perhatiannya adalah
... poster-posternya sendiri di dinding.
“Eh?” Phainon terpaku, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia sampai harus mengucek matanya. Tunggu sebentar. Jangan-jangan ...
Phainon langsung melesat memasuki apartemen Mydei dan pergi ke bagian ruang kamar—mengingat ini bukan pertama kalinya Phainon berkunjung ke apartemen Mydei. Begitu Phainon membuka kamar Mydei, benar saja dugaannya. Dinding kamarnya dipenuhi poster Phainon.
Phainon mengalihkan pandangannya ke rak buku. Ia mendekati rak tersebut yang ternyata memiliki laci di bawahnya. Begitu ia membuka laci itu ... ada album-album lagu milik Phainon. Lengkap tanpa ada yang terlewat. Tidak hanya sampai situ. Ternyata rak ini bukanlah rak buku, melainkan sesuatu seperti album foto. Phainon mengambil sebuah album yang ternyata isinya adalah ... photocard Phainon serta tiket-tiket konsernya. Belum lagi ketika Phainon mengarahkan tatapannya ke kasur Mydei ... banyak plushie Phainon disana. Lalu laptop yang yang masih menyala di meja belajar, menayangkan livestream konsernya barusan, lengkap dengan lightstick dan merchandise lainnya ...
“ ... “
Mydei membuang wajahnya sambil menyilangkan tangannya. “Puas?”
“Kau ...” Phainon menoleh ke arah Mydei. Matanya membelalak. “Apa-apaan ini?! Kau bilang kau malas datang ke konserku!”
“Ya mana mungkin aku memberitahumu, bodoh! Lagipula aku sudah mengirimkan hadiahnya padamu!”
“Tidak pernah ada hadiah darimu!”
“Setelah semua ini terbongkar, kau masih tidak menyadarinya?!”
Phainon langsung loading. “ ... jangan bilang ... pengagum rahasiaku ...” Ia menggantungkan kalimatnya, menantikan reaksi Mydei. Tetapi apa yang ia lihat jauh dari ekspektasinya. Mydei yang biasanya mampu menyembunyikan suasana hatinya, kini ... wajahnya sangat merah bak tomat rebus.
Tidak tahan lagi, Mydei langsung membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi. “Ck, sudahlah! Kita tukar apartemen saja!”
“Tunggu tunggu tunggu! Apartemenku juga sama saja! Isinya sama persis dengan kamarmu sekarang! Bahkan baju dan jaket bekas tanda tanganmu aku jadikan figura dan harta pusaka keluarga kita nanti!” Phainon buru-buru memeluk pinggang Mydei dari belakang, menahannya pergi. Ketika Mydei menoleh ke belakang dengan wajah cemberut, Phainon tersenyum malu. “Pertama-tama, aku minta maaf padamu karena aku sempat salah paham. Kupikir ... kau tidak mencintaiku lagi karena kita jarang bersama.” ucapnya lembut sambil menaruh dagunya di bahu Mydei.
Mydei memutar kedua bola matanya. “Hanya karena aku menyembunyikan sesuatu di apartemenku, lantas kau menyimpulkannya seperti itu?”
Phainon tidak menjawab dan hanya tertawa malu. “Maaf ...”
Mydei terdiam sesaat. Perlahan tatapannya melembut. “Dengar, seharusnya aku yang minta maaf karena membuatmu salah paham. Ternyata selama ini rahasiaku ini mengganggumu. Maaf ...”
“Tidak apa-apa ...” Phainon membenamkan wajahnya pada ceruk leher Mydei, menghirup aroma maskulin kekasihnya itu dalam-dalam. “Juga, terima kasih untuk segalanya. Hadiah-hadiah yang kau berikan ... dan semua ini ... aku tidak tahu harus berkata apa. Pantas saja selalu sampai ke tanganku lewat Aglaea ... rupanya kau yang mengirimnya ...”
Mydei memejamkan matanya. Perasaan nyaman berada dalam dekapan Phainon menyelimutinya. Dulu Phainon lah yang selalu menjadi penggemar nomor satunya. Kini saatnya dirinya yang menjadi penggemar nomor satu Phainon. “ ... jika nanti ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja padaku. Tidak bagus kalau hanya dipendam.”
“Tentu ...”
Lalu entah siapa yang memulai, mereka pun saling menempelkan bibir. Berawal dari sebuah ciuman yang manis, berangsur-angsur berubah menjadi lebih menggairahkan. Kedua lidah saling bertautan dan desah panas keluar dari bibir masing-masing. Napas keduanya memburu. Perlahan Phainon membimbing Mydei menuju kasur.
Ketika Mydei menjatuhkan dirinya di atas ranjang, barulah Phainon naik ke atasnya. “Mydei ...” Phainon mengambil satu tangan Mydei dan mengecup punggung tangannya dengan lembut, seolah ia begitu memuja sang kekasih. “Daripada melihatku lewat layar atau merchandise, bukankah lebih menarik lihat yang asli?”
Mydei menyeringai, entah mengapa merasa tertentang meskipun rona merah di pipinya menjalar hingga ke telinganya. “HKS ... seharusnya itu yang kukatakan dulu padamu sewaktu kau masih menjadi penggemarku.”
Phainon tertawa kecil. Kali ini dia yang mendekatkan wajahnya lebih dulu dan mencium bibir Mydei untuk kedua kalinya.
Malam itu, keresahan telah hilang dalam hati Phainon. Dalam suara derit ranjang dan erangan yang saling bercampur padu, dua orang yang saling mencintai menyatukan tubuh dan perasaan keduanya, mengikat jiwa agar saling terhubung. Kini tak akan ada lagi salah paham, karena mereka sama-sama sudah saling memahami tentang bagaimana hati mereka berlabuh.[]
