Work Text:
Gerutu kesal kembali keluar dari mulutnya setelah ia berjalan menjauh dari meja registrasi perpustakaan. Tangannya meraih ponsel yang ada di saku celana, gesit membuka ruang obrolannya dengan seorang teman.
Lagi-lagi Yushi kalah cepat dengan entah siapa. Buku yang ia incar untuk dijadikan referensi lomba esai ilmiahnya sudah — atau masih tiada, pasalnya Yushi sudah mencoba meminjamnya seminggu lalu. Dan batas pengembalian buku di perpustakaan ini adalah seminggu setelah peminjaman.
Sial amat sih gue.
Hendak beranjak dari perpustakaan itu, ponselnya pun kembali dimasukkan ke dalam saku celana — sebelum ponsel tersebut tiba-tiba bergetar. Di layarnya tertulis nama, Kak Sion . Mengerutkan dahinya, Yushi mengangkat panggilan tersebut.
“Kenapa, Kak?” tanya Yushi begitu ponselnya menempel ke telinga.
“Masih perlu bukunya?”
Alisnya terangkat sebelah, “Masih.” Yushi memicingkan matanya walaupun Sion tidak bisa melihat, “Elu ya, yang pinjem?”
Sion tertawa di seberang sana. “Ngaco, Yuu.”
“Ya terus kenapa? Kalo cuma mau ngeledek ntar aja ih, males.” ujar Yushi. Jutek sekali.
“Nggak gitu,” kata Sion, “Kemarin gue liat Riku ada bawa buku itu. Nggak tau sih itu punyanya perpus atau punya dia sendiri.”
Yushi terdiam sebentar, mencoba mengingat-ingat nama tersebut. Lucu. Konyol. Sok-sokan ‘mencoba’, padahal di relung terdalam sana, namanya masih terpahat jelas.
“Riku?”
“Iyaa, Riku,” Sion melanjutkan, “Maeda Riku.”
Sting .
Kini Yushi benar-benar terdiam.
“Kalau lo masih butuh banget, pinjem aja ke dia. Kenal, kan?” ujar Sion sekali lagi.
Niat Sion baik. Baik sekali, dan Yushi berterimakasih. Namun, mengapa dan bagaimana bisa nama itu kembali disebut ketika Yushi kira ia akhirnya bisa lepas darinya.
Genggaman pada ponselnya sedikit menguat. Yushi sebenarnya tidak mau. Sangat enggan untuk menerima saran dari Sion.
“Yuu?” Sion kembali bersuara karena jawaban Yushi absen dari telinganya.
“Eh, iya. Makasih yaa, Kak.” kata Yushi sebagai respons. Ia ingin segera menutup panggilan tersebut. Ia ingin segera menghentikan percakapan yang menyebutkan nama itu.
“Yoi, Yuu. Chat aja si Riku. Gue udah bilang ke dia barusan.”
Mampus.
Mendengarnya, entah mengapa jantung Yushi terasa akan melompat keluar dari dadanya. Matanya membulat dan tidak memiliki poin fokus. Penglihatannya menembak ke seluruh sisi perpustakaan.
“Lu.. lu bilang kayak gimana, Kak?” Yushi bertanya, sedikit berdoa agar Sion tidak menyebutkan namanya saat bilang ke dia .
“‘Ada yang mau pinjem buku lu’, gitu ,” jawab Sion, “ Kenapa emangnya? ”
Yushi menghela napas lega yang entah kapan mulai tercekat di tenggorokannya. “Oh, gapapa, Kak. Tanya doang. Makasih, yaa.”
“ Iya, Yuu. ”
Percakapan mereka berdua berhenti setelah Sion selesai bercerita mengenai kemarin hari — ketika ia secara tidak sengaja menemukan kedai roti bakar di dekat sekolah mereka. Yushi hanya mengiyakan ketika Sion mengajaknya untuk pergi ke sana di lain hari, karena ‘ Kata Riku enak kok, kemarin. Lu suka dah ’. Sampai selesai pun Yushi masih bertanya-tanya mengapa dan bagaimana bisa nama itu kembali terlintas ke telinganya.
Bukannya Yushi enggan menjalin komunikasi lagi dengan lelaki itu. Ya, Yushi tahu beberapa jam yang lalu bukan itu yang Yushi ucapkan.
Yushi hanya takut.
Tidak, Riku tidak menyeramkan. Oh. Sama sekali tidak. Mana bisa lelaki itu memiliki persona menyeramkan jikalau senyumnya saja sudah semanis cokelat.
Yushi takut usahanya sia-sia — usahanya menghentikan degup kencang jantungnya tiap kali melihat sosoknya, usahanya menghentikan gemetar tangan setiap namanya dipanggil olehnya, dan usahanya menghentikan gelitik seru yang selalu saja tiba-tiba muncul setiap ia bersamanya.
Yushi takut ia harus kembali ke progress 0.
Namun kali ini, sepertinya memang dunia dan Sion ingin Yushi untuk kembali menorehkan tinta pada lembar nama itu — lembar nama yang agaknya lumayan sakral itu. Pasalnya, Yushi sudah bertanya ke semua, tebalkan, semua kenalan yang ia tahu, dan tiada satupun dari mereka memiliki buku itu.
Yushi tahu, sih, hanya perkara buku. Dan meminjam buku bukanlah sesuatu yang rumit: perkenalkan diri, izin pinjam buku, ditolak atau diizinkan, kalau ditolak ya sudah; kalau diizinkan ya tinggal berterimakasih, pinjam, tentukan kapan bukunya akan dikembalikan, lalu kembalikan ketika sudah jatuh tempo. Mudah, kan?
Yah, memang kedengarannya mudah. Tetapi kalau Yushi pinjamnya kepada si Maeda Riku, bisa-bisa bukan tempo yang jatuh, melainkan cinta.
“Mengerut banget dah itu muka,” ujar Taesan, teman seangkatan Yushi yang bersekolah di sekolah tetangga. Bisa dibilang rival sekolahnya. Bagaimana mereka bisa kenal? Futsal. Ini saja mereka bertemu di taman, sebelah lapangan futsal, setelah keduanya selesai berlatih.
Bukannya senang karena terbaca, Yushi malah semakin bete. “Congor lu bacot,” katanya ketus.
“Dih,” Taesan tersinggung (sedikit), “Kenapa sih elah, jelek banget roman lu.”
Yushi menghela napas kasar.
Memang, sedari tadi Taesan amati, temannya ini sudah membawa hawa-hawa buruk sejak duduk di ayunan taman. Ia tidak tahu si Tokuno ini sedang mengalami kejadian apa. Terlebih, tadi Yushi terlihat baik-baik saja ketika latihan.
“Apa gue mengundurkan diri aja ya, San?” ucap Yushi, kini dengan nada yang condong khawatir.
Taesan lagi-lagi dibuat bingung. “Hah? Dari apaan?” Taesan menimbang-nimbang pertanyaan Yushi dan menemukan satu logika: “Lu mau drop out ?”
Dug .
“ADUH!” Yushi menendang kaki kanan Taesan karena kesal. “Sakit bego!” seru Taesan, mengelus bagian yang baru Yushi tendang.
“Ya elu! Ngomong mah dipikir dulu.”
“Ya terus apa, Yuu? Tanya pakai konteks atuh elah.” Taesan masih setia mengelus kakinya. Tendangan Yushi ternyata bukan tendangan candaan.
“Gue ditunjuk sama Bu Rumi buat ikut lomba esai ilmiah. Katanya nanti dibimbing gitu sama beliau,” Yushi bercerita. “Gue udah ada konsep esainya, materinya juga udah tahu mau gue susun kayak gimana. Yang jadi masalahnya itu, buku referensi gue kurang.”
Taesan, yang tangannya masih melayang di atas kakinya, mengangguk-angguk seolah paham. “Terus? Ga bisa pakai buku lain, kah?”
“Bisa..” ucap Yushi, “Tapi itu bukunya yang jadi titik berat esai gue.. Bu Rumi juga bilangnya better pakai buku itu, karena ya emang bukunya tuh ada di perpustakaan sekolah.”
Keningnya mengernyit, Taesan unjuk bicara, “Lah. Kalau emang ada mah ya pakai aja, Yuu?”
Yushi pun menjelaskan bagaimana dia selalu saja kecolongan ketika akan meminjam buku itu, dan bagaimana bukunya selalu saja tidak ada. Sudah, ia juga sudah memeriksa perpustakaan kota, tapi karena memang nyatanya kota mereka bukanlah kota besar, sediaan bukunya juga belum selengkap itu.
Yushi menghela napasnya. “Gue tuh.. tau sebenernya, siapa yang punya bukunya..”
Lawan bicara Yushi, ya, masih Taesan, mendongak untuk mendengarkan. “Oke? Then borrow it from them ? Lumayan anjir ini kalau esainya lolos bisa jadi modal SNBP.”
Yushi terdiam sejenak.
“… Yang punya Kak Riku.”
Taesan ikut terdiam.
“Jir.” Taesan berseru pelan. “Udah lama gue gak denger tuh nama. Gue kira kagak bakal kesebut lagi.” dan ujarannya dilanjutkan dengan tawa kecil.
“Gak usah ngeledek.” tukas Yushi. Ia sudah tahu Taesan akan mengejeknya dengan kata-katanya sendiri 1,5 tahun silam.
“Bukannya lu pernah bilang: ‘ Gak bakal lagi gue nyebut nama Riku Riku itu anj –‘“
“Diem gak.” ancam Yushi, menusuk Taesan dengan tatapan tajamnya.
Taesan tergelak. Aduh, lucu sekali caranya dunia memutarbalikkan niat temannya yang satu ini.
“Iye iye.” Taesan melanjutkan, “Tapi kata gue gapapa deh, Yuu.”
“… Lu tau takut, kan?”
Taesan mengangguk. “Tau,” katanya, “Tapi sertifikat lombanya lumayan, Yuu.”
Yushi hanya bisa diam. Iya, ia sangat amat setuju dengan perkataan Taesan. Lombanya sangat menguntungkan bagi Yushi, apalagi mengingat bahwa kampus impian Yushi (dihitung-hitung) berstandar tinggi dan banyak peminat. Jika menang, sertifikat ini pasti akan membantunya dalam pendaftaran perguruan tinggi nanti.
Tapi..
“R.. Kak Riku -nya.. gimana?”
Taesan mengangkat bahunya. “ You’re the judge of that .”
“Dih, why ME ?!”
“Ya kan elu yang ada urusan sama dia, Yuu. Gue mana bisa kasih solusi.” ujar Taesan. “ If i were you, i’d just act nonchalant . Lakuin apa yang perlu dilakuin and that’s it .”
Yushi memutar malas bola matanya. “Itu mah gue juga udah tau elah.”
“Ya terus? Udahlah, lakuin.”
“ I can’t trust him, nor myself .” Yushi mengaku. “Kak Riku udah gagalin gue waktu itu, makanya gue putus kontak. Gue gak tau semasa itu yang salah siapa, dan gue gak bisa percaya neither of us to not stumble. Again .”
Taesan mengangguk. Membeli waktu untuk memikirkan jawaban, ia menghirup napas panjang, dan mengembuskannya lama. Ia bangkit dari duduknya dan meregangkan tubuhnya yang semula terasa kaku setelah 2 jam.
Yang lebih muda beberapa bulan mencuri pandang pada Yushi yang masih duduk di ayunan, kini menunduk. Taesan bersenandung pelan, mengundang dongakan pandang dari Yushi.
“Cuma pinjam buku, Yuu.” ujar Taesan ketika pandang mereka bertemu. “Semakin cepet lu pinjam buku dan kerjain esai lu, semakin cepet lu bisa lepas lagi dari nama itu.”
Sudah kurang lebih satu jam, atau setidaknya itulah durasi yang Yushi hitung semenjak ia menatap nama kontak itu pada layar ponselnya.
Kak Riku
Huh. Asing banget pake imbuhan ‘Kak’ segala.
Ruang obrolannya sudah terbuka. Yushi juga telah menuliskan pesan pembuka, yang ia ketik dan hapus sekitar seribu kali, pada ruang daring itu. Namun nyatanya, Yushi belum berani.
Iya, katakan saja Yushi memang belum move on dari hubungannya dengan Riku yang digantung oleh keadaan pada tahun 2021, karena memang benarnya begitu. Tetapi untuk predikat belum move on, Yushi bisa bilang kalau dirinya cukup baik dalam berpura-pura.
Sedari tadi, maju-mundur niatnya untuk mengirimkan pesan itu. Otaknya terus menerus menyerukan skenario-skenario jelek yang membuatnya ragu, dan yakin bahwa keputusan terbaik adalah untuk menyerah pada lomba esai ini.
Benar kata Taesan: Cuma pinjam buku.
Cuma pinjam buku.
Iya, cuma pinjam buku, esainya selesai, dikumpulkan, dan kemungkinan terburuk hanyalah esainya yang gagal lolos menjadi finalis. Atau kemungkinan terbaiknya, esainya lolos sebagai finalis, dan mudah-mudahan saja sungguhan menjadi pemenang akhir. Iya. Cuma itu.
Baiklah.
Me
Sore, Kak Riku. Ini Yushi, mau pinjam buku yang dibilang Kak Sion, apa boleh ya, Kak? Makasih banyak sebelumnya.
Sent
Baru ketika tanda ceklisnya berubah menjadi double-ceklis abu-abu, Yushi teringat.
2021 lalu, ia juga cuma menanyakan perihal MPLS kepada Riku. Cuma itu.
Langkah kakinya bisa dinilai lesu, bagi yang sudah mengenalnya lumayan lama. Tapi kalau hanya sepintas, ia terlihat baik saja. Posturnya sama. Jarak tiap hentakannya sama. Air mukanya juga tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa — nyaris datar.
“Oi, Yuu!” Yushi nyaris terjatuh ke depan karena rangkulan tiba-tiba pada bahunya. Untung saja core Yushi kuat. Perks of being an athlete .
“Lu tau nyantai gak sih, Kak?” tanya Yushi retoris. Sion hanya bisa tertawa sebagai tanggapan.
Tawanya reda, Sion menyambung obrolan. “Lo tumben banget jalan-jalan di sekolah,” ujar Sion, “Mau ke kantin?”
Yushi mengangguk singkat, dan Sion mengerutkan keningnya. “Lo abis begadang?” tanyanya.
Masih melangkah seiringan, Yushi menggeleng, “Enggak. I slept okay aja semalem,” katanya. “Kenapa?”
“Enggak,” Sion membenarkan posisi tangannya pada bahu Yushi. “Lo kelihatan lesu tadi. Gue kira karena begadang.”
Jikalau kenal baik dengan Yushi, begadang pun bukanlah hal yang bisa membuat Yushi menekuk pesonanya. Tidur di jam 4 dan bangun di jam 5 saja Yushi jabani, apalagi jika tidur di jam 12.
Yang bisa membuat Yushi selesu ini hanya ada dua kemungkinan, dan yang tahu apa saja itu, juga hanya ada dua orang — Taesan, dan.. Riku. Iya, Riku pasti akan langsung kenal bahkan sekecil detail Yushi yang sempat terburu-buru keluar dari rumah karena mau mengejar jam bus berangkat, bahkan jika Yushi tidak bercerita.
“Yaudah deh, Yuu. Gue cabut dulu ke Ruang OSIS, yaa.” Tangan Sion menepuk pundak yang lebih muda, menandakan ia pamit.
Yushi tersenyum tipis. “Iyaa, Kak.” ujarnya.
Ia pun menghela napas lega. Untung saja Sion tidak mengikutinya sampai ke kantin. Kalaupun iya, sebenarnya Yushi akan sangat berterimakasih atas dampingannya. Namun, Yushi tidak ingin Sion tahu sebagaimana canggungnya dia ketika akan menghadapi..
Kak Riku
Aku udah di kantin, ya. Bilang aja kalo udah di sini, nanti aku samper.
Dan.. di sinilah Yushi. Di pinggir area kantin. Dirinya enggan sekali untuk menginjakkan kaki ke dalam sana. Terlalu ramai, pun hiruk pikuknya sama sekali asing dan tidak nyaman bagi Yushi.
Tapi.. Kak Riku di dalem gak sih?
Yushi menimbang-nimbang. Haruskah ia masuk dan menerobos keramaian untuk menghampiri Riku dengan risiko terkena pusing hebat setelah tersambar ramainya kantin, atau haruskah ia bilang kepada Riku bahwa ia sudah ada di samping kantin ?
Pasalnya (dan naasnya), Riku tahu.
“Yushi?” sebuah suara. Sangat asing, tapi sangat familiar. Saking familiarnya, Yushi hampir saja menangis.
Yang dipanggil menoleh ke arah sumber suara.
Benar duga-duganya. Riku.
“Eh, iya, Kak .” jawab Yushi. Ah, dari apa yang Yushi dengar dari dirinya sendiri, jawabannya terdengar buru-buru.
Riku menatap Yushi, yang mati-matian menghindari kontak matanya, lamat-lamat. Senyuman kecil terpatri dalam air muka Riku ketika menyadarinya. Untung saja Yushi sudah sibuk dan kewalahan mengatur reaksi fisiknya kali ini untuk menyadari senyuman itu. Bisa-bisa napasnya kembali tercekat jikalau iya.
“Ini,” Riku mengulurkan tangannya yang membawa buku incaran Yushi. “Pinjem aja sampai esai kamu selesai. Itu punyaku, kok, bukan punya perpus.”
Yushi menerima buku itu dengan kedua tangannya sambil mengangguk. Kepalanya sedikit ia dongakkan untuk menatap Riku dan berniat mengatakan terima kasih yang pantas.
Salah besar.
Matanya tepat — langsung menuju pada milik Riku. Ia bisa merasakan bola matanya bergetar ketika Riku mengangkat alisnya, terkejut dengan kontak mata yang tiba-tiba.
“Makasih, Kak. Nanti.. aku kembaliin.” adalah jawaban terbaik yang bisa Yushi berikan.
Riku mengangguk, menyerahkan bukunya penuh pada kepemilikan sementara Yushi.
Yang lebih muda pun mengira ini adalah detik-detik akhir dari interaksi pertama mereka setelah 1,5 tahun. Ia sudah siap untuk berpamitan — untuk segera kembali ke kelas dan menyudahi interaksi yang menyesakkan ini.
Tapi ternyata, perkiraannya..
“Tadi kamu mau masuk ke kantin, kah?”
Kurang tepat.
Riku memulai obrolan baru.
“Tadinya, sih, iya. Tapi kamu tiba-tiba udah di sini. Jadi, ya.. Yaudah, Kak.” jawab Yushi. Panjang. Lebih panjang dari yang Yushi kira Yushi bisa.
“Iya,” Riku menanggapi, “Aku inget kamu gak suka kantin karena rame.” ujarnya enteng. “Makanya aku keluar.”
Sudah gila. Sudah terlampau gila.
Saat ini buku yang Yushi pinjam itu seperti sudah tidak ada harga dirinya. Sebab sedari tadi, buku itu hanya tergeletak di meja belajar, sedangkan Yushi sibuk menenggelamkan wajah pada bantalnya.
Wajahnya masih terasa panas. Degup jantungnya masih enggan untuk tenang. Kakinya terasa lemas. Perutnya geli. Rasanya seperti hilang akal, kalau Yushi tahu benar apa itu hilang akal. Karena sungguh, saat ini ia benar-benar tidak bisa berpikir — berpikir selain Riku.
Padahal pamitan pertama mereka setelah 1,5 tahun sudah terhitung 4 jam yang lalu, tetapi rasanya masih seperti 5 menit lalu.
Yushi benar-benar sudah gila rasanya.
“ Aku inget kamu gak suka kantin karena rame .”
Senyum Yushi kembali mekar ketika mengingat kata-kata itu. Ah, senyumnya terlalu lebar sampai-sampai ia harus mengingatkan dirinya sendiri untuk sadar.
Riku masih ingat.
Riku juga masih ingat kalau Yushi tidak bisa sarapan, dan sarapannya selalu saja dirapel dengan makan siang. “ Tadi mau aku beliin sandwich di dalem, tapi aku udah gak tau kamu suka yang asin atau manis .” begitu katanya tadi.
“… udah gak tau kamu suka yang asin atau manis .” Ingin sekali Yushi menjawab bahwa dirinya masih suka sandwich asin. Ingin sekali ia menceritakan kebiasaan-kebiasaan barunya. Ingin sekali kembali bersambung kisah dengan yang lebih tua.
Ting .
Ponsel Yushi yang lupa ia diamkan tiba-tiba saja berbunyi. Si empunya menarik napas panjang dan mengembuskannya, berusaha menenangkan diri sebelum memeriksa notifikasi tersebut merupakan ulah siapa.
Kak Riku
Yushi
Sia-sia sudah usahanya untuk menenangkan diri.
Me
Iya, Kak?
Kak Riku
Kamu lagi senggang?
Sekarang
Yushi memicingkan matanya, sekaligus mengernyitkan dahinya. Tidak salah baca, kan?
Baik. Mari kita analisis pertanyaan tersebut. Mengapa Riku tiba-tiba saja menanyakan pertanyaan itu, dan apa intensi aslinya ketika ia bertanya.
Bisa saja Riku ingin menanyakan sesuatu perihal lomba esai Yushi, mungkin ia berminat untuk daftar. Yah, bisa jadi. Atau mungkin Riku ingin titip salam kepada salah satu temannya. Entahlah siapa, mungkin Taesan. Atau Riku sedang bosan dan teman-temannya sudah terlalu membosankan untuk diajak bicara, sehingga target akhirnya adalah Yushi.
Entahlah. Yushi tidak bisa menebak.
Me
Ada apa ya, Kak?
Jawaban final Yushi. Takut salah langkah.
Kak Riku
Wkwk jawaban kamu tergantung itu, ya?
Sorry, kelupaan kalau kamu gak suka basa-basi
Yushi tertawa getir di dalam hati. Kelupaan, katanya. Sepertinya susah sekali ya bagi Riku untuk berpura-pura, bahkan sedikit saja, bahwa mereka berdua belum punya histori sendiri.
Kak Riku
Aku mau ajak kamu keluar
Kalau hari ini, kamu bisa?
Pesan tersebut berulang kali Yushi baca. Berulang kali pula Yushi merapalkan doa agar Riku segera sadar dengan apa yang baru saja dia kirimkan.
Kak Riku
Kalau gak nyaman, gapapa. Bilang aja ya
Kita ketemu lagi pas kamu kembaliin buku aja
Yushi mengerjapkan matanya. Bimbang.
Ia tahu bahwa seharusnya memang seperti itu — sesuai niat awalnya, mereka hanya akan bertemu dua kali. Di awal, ketika Yushi meminjam buku, dan di akhir, ketika Yushi mengembalikan buku itu. Seharusnya memang begitu, seharusnya Yushi saat ini sudah mulai lagi menyusun esainya agar interaksi ini bisa segera selesai.
Tapi..
Me
Hari ini bisa, Kak
Yushi mengaku kalah untuk saat ini.
“Bunda, Yushi keluar sebentar, yaa.” Yushi berpamitan kepada Ibunda yang sedang berkutat dengan alat masak di dapur.
Ibunda mengecek sekilas penampilan Yushi yang sudah berdiri di ambang pintu. Pakaian sudah rapi, sisa memakai sepatu saja dan Yushi akan siap untuk berangkat.
“Ke mana, Yuu?” Ibunda bertanya, kembali memperhatikan masakannya.
“Mau makan malem sama temen lama, Bun. Cuma sebentar kok.” ujar Yushi, kini memeriksa ponselnya yang bergetar.
Kak Riku
Aku udah di depan ya, Yushi
Ibunda mengangguk walau tidak terlihat oleh Yushi. “Iya, hati-hati, Sayang.” katanya. “Dijemput? Atau berangkat sendiri?”
“Dijemput, Bun,” ucap Yushi sembari mengenakan sepatu putih andalannya. “Itu, dia udah di depan.”
Ibunda mengangguk paham dan mengizinkan anak semata wayangnya untuk pergi, dengan syarat tidak pulang terlalu malam. Maklum saja, jika keluar jam segini (baca: 18.45), Yushi rawan sekali lupa waktu dan berakhir membuat Ibunda menunggu.
Yushi, yang sudah selesai memakai sepatu, pun membuka pintu utama rumahnya. Yang benar saja, Riku sudah bersandar di sisi mobil hitam miliknya. Matanya merekat pada ponsel yang digenggamnya, sehingga tidak sadar jika yang ia kirimi pesan sudah di depan pintu.
Kak Riku
Aku perlu pamit ke Bunda kah?
Yushi tersenyum samar ketika membaca pesan itu. Matanya melirik pada Riku yang masih saja belum sadar.
Me
Aku udah di depan
Sesuai dengan ekspektasi Yushi, kepala Riku langsung mendongak cepat, dan pandangannya langsung menemukan Yushi.
“Hai.” sapa Riku. Kikuk.
Em, entah perasaan Yushi saja atau bagaimana, tapi Riku terdengar Canggung. Iya, C kapital karena super duper canggung. Berbeda dengan Riku yang ia temui di samping kantin sekolah tadi.
“Hai.” balas Yushi, “Nunggu.. lama banget kah, Kak?”
Riku menggeleng, “Enggak kok. Santai aja aku.”
Wow. Percakapan dua insan ini.. terdengar.. seperti.. eh, apa ya? Seperti dua orang baru kenal, yang akan berangkat kencan berdua untuk pertama kalinya. Setidaknya, itu yang ada dalam benak Yushi.
Seingatnya — dan Yushi ingat betul — mereka berdua belum pernah seperti ini. Bukan canggungnya, melainkan kencannya. Mereka berdua belum pernah makan malam berdua seperti ini, bahkan 2021 silam, belum pernah di antara keduanya berinisiatif untuk mengajak makan malam berdua.
Bohong jika Yushi bilang ia tidak gugup. Sangat amat. Yushi benar-benar gugup, dan takut. Jantungnya berdegup cepat dan tangannya gemetar lembut. Terlebih, ia berada di sini karena ketikan impulsifnya. Jelas saja kalau Yushi memakai akal sehatnya, ia tidak akan berada di sini dan sudah berkutat hebat dengan esai ilmiahnya.
“Kamu masih suka LANY?” tanya Riku ketika berusaha menyambungkan bluetooth ponselnya dengan sistem mobil.
“Masih. Lumayan.”
Pun dengan begitu, Riku memutar salah satu lagu LANY yang ada dalam playlistnya.
13 .
Mulai dari detik pertama lagu ini dimulai, Yushi sudah kenal. Ternyata Riku lagi-lagi masih ingat.
Di awal hubungan mereka kandas (tidak tahu bisa dibilang kandas atau bukan), lagu inilah yang ia mainkan terus-terusan. Pagi, siang, malam. 13 melekat sekali dengan bulan Juli 2022, dan sepertinya Riku sadar. Riku sadar, seberapa seringnya Yushi memutar lagu ini lewat Friends Activitynya yang diaktifkan pada aplikasi musik itu.
“Sengaja, ya?” cetus Yushi, melanjutkan percakapan mereka.
Riku, yang sedang fokus mengemudi, menoleh sebentar untuk melihat raut Yushi.
“Iya,” jawabnya. “Sengaja. Biar kamu ngomong.”
Yushi terkekeh pelan mendengar jawaban yang lebih tua. “Padahal aku cuma pinjem buku. Kenapa jadi diajak makan?”
“Selagi kita kontakan, Yushi.” ujarnya, terdengar berhati-hati ketika menjawab. “Selagi kamu ada urusan sama aku. Biar ada alasan.”
“Jadi gimik doang nih?”
“Tapi kamu iyain, kan?” balas Riku.
Yushi menarik napas panjang, pula mengembuskannya perlahan, seakan menikmati harum mobil yang sudah lama tidak ia naiki ini. Ia memberanikan diri untuk menoleh — untuk melihat ke arah Riku.
“Ini mau ke mana?” Yushi mengalihkan topik pembicaraan, mencoba basa-basi.
“Jujur,” jawab Riku. “Aku belum kepikiran mau makan di mana. I just wanted to buy time .”
“ To talk to me ?”
Riku mengangguk mantap. “Mhm. To talk to you .”
Ternyata upaya basa-basi Yushi tidak mempan kali ini. Tidak mempan karena lawan bicaranya adalah Riku.
Yushi menggigit dinding bibirnya, ragu-ragu untuk mengatakan hal lain. Ia sudah berusaha keras, sedari masuk ke dalam mobil ini hingga saat ini duduk di samping Riku, untuk berlagak tidak peduli. Berlagak sok kuat, dan seolah ia sudah menduga Riku akan mencoba memperbaiki rajutan hubungan mereka.
Namun nyatanya, semua ini lepas dari kendali Yushi — dengan seizinnya sendiri. Ia hanya mengharapkan buku itu, bukan Riku.
Dan kini Yushi melamun. Menatap jalanan yang ada di depan mereka, yang bergerak seiring mobil ini melaju. Matanya tidak fokus dan tidak berkedip barang sedetikpun. He zoned out — dissociating himself from the situation he’s let himself into .
“Kedip, Yushi. Mata kamu kering nanti.” ujaran Riku berhasil membuat Yushi hilang dari lamunannya. Yang ditegur pun refleks menoleh pada yang lebih tua.
“Bilang aja, Yushi. Pikiran kamu kedengeran berisiknya dari tadi.”
Yushi bisa merasakan telinganya memerah ketika Riku mengatakan kalimat itu tepat sepersekian detik ketika mata mereka bertemu. Bingung. Yushi bingung harus menjawab apa kalau Riku sudah membacanya jelas — like an open book .
“Kayaknya,” Yushi membuka suara. “Kayaknya aku takut.”
Hening.
Yushi seperti ingin ditelan tanah sekarang, dan semakin lama diam ini memakannya, semakin ia menyesal telah berbicara. Jantungnya seakan sedang mendobrak dadanya, menuntut untuk keluar. Berisik sekali otaknya, pun hatinya. Napasnya nyaris saja tercekat dan ia hampir lupa caranya bernapas.
Seharusnya ia diam saja.
Seharusnya sekarang ia tidak berada di kursi ini.
Seharusnya, presensi Riku untuk hari ini dan beberapa minggu kedepan sudah berakhir tadi siang.
“Aku juga takut.” kata Riku, menenggelamkan sunyi yang sedikit lagi menghabisi Yushi. Ia masih fokus pada jalanan, tapi Yushi bisa melihatnya sedang berpikir.
Yang lebih muda mengerjapkan matanya cepat. “Takut.. apa?”
“Takut kamu beneran hilang.”
Jantung Yushi tidak semakin tenang.
“Aku enggak kemana-mana,” ujarnya. “Aku cuma.. istirahat.”
Istirahat. Bahkan Yushi sendiri tidak yakin kata itu merupakan kata yang tepat. Pasalnya, hubungan mereka 1,5 tahun silam masih terasa bergantung — tidak bisa dikatakan selesai, tapi jika hanya disebut istirahat, menurut Yushi 1,5 tahun itu terlalu lama.
“Maaf, ya.” lirih Riku. Yushi bisa melihat tangannya menggenggam kemudi dengan sedikit lebih kencang. Ingin sekali Yushi menakup jemari itu, mengurungnya dalam telapak tangannya, mengelusnya pelan sambil berkata ‘tidak apa-apa’.
But for now, all Yushi had to do was stay composed . Tetap tenang dan jaga jarak.
“Menurut kamu, yang salah siapa, Rik–“
Sial.
Yushi menangkap dirinya sendiri kelepasan memanggil Riku tanpa imbuhan ‘Kak’. Old habits die hard.
“Kak, maksudnya.” ujar Yushi mengoreksi, “Maaf.”
“Kita makan di Nawasena, ya? Dikit lagi nyampe.” merupakan siratan jawaban, yang maksudnya ‘kita lanjutin pas udah sampai aja.’
Yushi tahu maksudnya. Maka, ia hanya menjawab, “Iya, Kak.” dan diam. Diam — mempersiapkan dan menerka-nerka percakapan yang mungkin akan dilalui olehnya dan Riku nanti.
Mobil hitam ini telah selesai terparkir di lokasi yang dituju. Sang pengemudi melepaskan sabuk pengamannya, begitu pula dengan yang duduk di kursi penumpang di sampingnya.
“Enggak ada yang ketinggalan?” tanya Riku sebelum akhirnya keluar dari mobil setelah Yushi mengatakan kata aman.
Sesampainya di tempat duduk mereka, salah seorang pelayan menyerahkan dua papan menu kepada sepasang teman itu. Masing-masing dari mereka memesan 1 makanan (pasta dan sup iga) dan 1 minuman (dark chocolate dan lychee tea).
“Okay. Anything else ?” tanya si pelayan kepada Riku.
“Itu dulu, ya.” Riku menjawab dengan ramah. Senyumnya masih sama, pikir Yushi. Masih semanis cokelat kesukaan Yushi.
Sang pelayan mengambil papan menu yang sudah tidak dibaca dan pamit pergi meninggalkan meja mereka.
Kini hanya mereka berdua, duduk berhadapan dengan meja kayu sebagai batas, di pojok restoran fusion itu. Sengaja sekali Riku memilih tempat yang jauh dari keramaian segerombol keluarga (yang sebenarnya tidak seramai itu).
Yushi, yang sedari tadi menatap khidmat sang Maeda, tiba-tiba dibuat panik ketika yang lebih tua balik menatapnya. Pandangannya ia alihkan so that no more damage is done — padahal pipinya sudah memerah dan Riku hanya bisa sekuat diri menahan untuk tidak menggigitnya.
“ So.. where were we ?” Riku bertanya, membuka percakapan yang sempat terhenti di mobil tadi.
“Itu, masalah–“
“Akunya diliat dulu, boleh, Yushi?”
Deg .
Yushi bisa merasakan desiran dingin ketika mendengar ucapan Riku. Hatinya yang semula sudah cukup tenang, kini kembali berantakan ritme detaknya.
Ini. Ini yang Yushi takutkan sejak kemarin.
Sekuat apapun Yushi berusaha — bersikap sok keren, sok kuat, dan sok-sokan sudah lupa — kalau Riku sudah bersuara.. habislah dia.
Senyuman Riku mengembang ketika akhirnya mereka berdua bersitatap. “Gimana?” tanyanya, meminta Yushi untuk melanjutkan perkataannya.
“ About.. what happened back then ,” ujar Yushi. “Menurut kamu, siapa yang salah?”
Riku terdiam sebentar, memikirkan jawabannya sementara Yushi seperti ingin mati karena tatapan mata Riku enggan berlabuh pergi. Seingatnya, yang lebih tua tidaklah lebih jago darinya dalam perihal tatap-menatap. Setidaknya dulu. Mengapa sekarang ia merasa seperti sedang bergulat — dan sedikit lagi akan terguling kalah?
“Susah ya, pertanyaannya.” Riku membuka suara. Ia gagal menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan Yushi.
“Pas waktu itu, aku.. aku lagi bingung,” Riku melanjutkan. “Aku tau aku sayang sama kamu, bahkan waktu itu — waktu kamu tiba-tiba gak ada kabar. Padahal aku masih sering lihat kamu di perpustakaan.”
Alis Yushi terpaut singkat, lalu sadar kalau ia harus mengatur ekspresinya.
Riku memiringkan kepalanya (jantung Yushi nyaris jatuh). “Kenapa?”
Ah iya, Yushi lupa.
Yushi lupa bahwa Riku sudah mengenalnya.
“Bukan aku yang tiba-tiba gak ada kabar, Kak.” ucap Yushi jujur. “.. Kamu.”
“Aku?”
Yang lebih muda mengangguk. “Kamu tiba-tiba.. kayak.. hilang. Aku bingung banget, dan udah.. capek ngehubungin duluan,” Yushi menarik napas, “Makanya aku juga ikut diem.”
“Terus, aku juga jadi kepikiran kalau seminggu sebelumnya, aku ngerasa kamu mulai bosen. Mulai.. gak tau ya, kayak.. handphone kamu lebih seru,” Yushi mengulum bibirnya, “Daripada aku.”
Mendengarnya, Riku seperti ingin tertawa. Lucu sekali ternyata kisah mereka. Benar-benar terdengar seperti cerita romansa remaja yang kerjaannya hanya salah paham.
“Jadi perkara miskomunikasi ya, ini?” ujar Riku, menyimpulkan dari apa yang dikatakan Yushi.
Yushi mengerucutkan bibirnya samar. “Kamu bukan bosen? Masih sayang?”
Hah. Apa yang barusan dikatakan Yushi?
Riku tersenyum, kini terang-terangan.
“Satu setengah tahun lalu, aku masih aktif OSIS. Tenaga kerjanya sedikit, tapi acara yang harus diurus ada banyak. Aku jadi koordinator divisi acara ulang tahun sekolah. Inget, kan?” Riku melanjutkan, “Guru banyak maunya, sedangkan panitia kesusahan karena konsepnya terlalu banyak diganti.”
“Handphoneku nggak lebih seru dari kamu, Yushi.” kata Riku, meluruskan. “Aku kira waktu itu kamu lagi butuh waktu sendirian, makanya aku gak berani hubungin kamu lagi setelah kamu berhenti. Takutnya aku ganggu kamu. Maaf, ya.”
Riku merentangkan lengan dan menengadahkan kedua tangannya di atas meja. Yushi melihatnya, lalu memandang Riku yang menaikkan alis.
Dan seperti sudah biasa, Yushi menaruh tangannya di atas milik Riku. Untuk digenggam dan dirasakan hangatnya. Untuk dielus dengan ibu jari yang lebih tua, mengirimkan nyaman.
Hati Yushi benar-benar akan jatuh. Sejatuh-jatuhnya, sekali lagi.
“Maaf, ya.” Riku mengulangi permintaan maafnya. “Harusnya aku tanya ke kamu dulu sebelum bener-bener ngejauh. Maaf banget, Sayang.”
Sayang.
Sayang .
Ya Tuhan.
Akhirnya, Yushi mengaku temboknya runtuh.
Yushi bersumpah ia tidak akan jatuh sekali lagi, tapi ia juga tidak menyangka kalau panggilan itu adalah yang ia tunggu selama ini. Tenggorokannya terasa kering dan napasnya tercekat — bibirnya bergetar dan matanya berair. Napasnya yang teratur berubah menjadi isakan kecil, dan kalau ia lupa sedang berada di tempat umum, mungkin dirinya sudah pecah dalam tangisan yang lebih kencang.
“Lah.. nangis..” Riku masih tersenyum, tapi yang ini lebih lembut. Ia senang, bersyukur.
Bohong jika Riku bilang ia tidak rindu. Sangat amat, dirinya rindu untuk menggenggam tangan kecil itu. Dirinya rindu mendengarkan cerita dan celoteh lucu Yushi, ingin memeluknya erat hingga dunia bosan melihat mereka berdua bermesraan.
Tangan kanan melepaskan genggamannya, beranjak untuk menghapus jejak air mata di pipi yang lebih muda. “Cup cup cup..” ucapnya, masih juga tersenyum.
“Terus– hiks – satu- setengah tahun- aku– hiks . Ngapain— hiks - galauin— kamu- hiks .” kata Yushi sesegukan, tapi memaksa untuk protes.
Riku tertawa, terkekeh. “Kangen ya?”
Anggukan yang diberi Yushi pun terbata-bata, lengkap dengan manyun bibir yang masih bergetar berusaha meredam isakannya.
“Aku juga, Yushi.”
Isakannya tiba-tiba saja berhenti. Yushi mengerutkan dahinya, “ Sayang .” Ia melanjutkan, “Bukan Yushi.”
