Actions

Work Header

Padahal Cuma Perkara Pengakuan

Summary:

Hanya perkara Riku yang tiba-tiba bosan dan kepikiran, memutuskan buat telepon Yushi, dan minta izin perkara perasaannya. Tipikal remaja kelas 3 SMP, lah, imutnya.

Work Text:

“Aku suka sama kamu, Yu.”

 

Wajahnya menjadi kaku. Genggamannya pada gadget pipih itu semakin kencang. Seluruh tubuhnya, yang sedari tadi sedang santai dan terlampau bosan, merasa bingung harus bereaksi bagaimana terhadap kalimat yang diucapkan sahabatnya di seberang sana.

 

Telinganya dipenuhi dengung, layaknya menolak untuk mendengar ucapan yang di seberang. Jantungnya berdegup kencang, gugup, napasnya tertahan seakan menandakan bahwa mati akan lebih baik daripada menerima pengakuan ini, dalam keadaan seperti ini. Yushi bersyukur dirinya tengah terduduk di atas kasur karena ia tidak percaya bahwa dirinya tidak akan tersandung dengan kakinya sendiri bila tengah berjalan.

 

“Maaf, ya,” ujar yang mengaku, “Aku gak tau momentum. Dan sekarang beraninya cuma ngaku lewat handphone gini.”

Tarikan napas diambil dan diembuskan. Terdengar gemetar, dan kalau menurut Yushi, dirinya jauh lebih gugup daripada lawan bicaranya yang saat ini juga terdiam.

 

“Yushi?”

Yang dipanggil terpaksa mengeluarkan suara “Hm?” pelan. Biar yang di seberang tahu dia sedang mendengarkan.

“Besok kita ketemu di kelas,” ucap lelaki dalam ponsel Yushi. “Aku harap kita gak canggung, ya. Enggak jauh-jauh. Tetap temenan, kalau kamu mau. Kalau enggak juga gak masalah buat aku. Tapi jangan asing.” Ia melanjutkan, “Repot nanti. Akunya.”

 

Perut Yushi serasa digelitik. Ia merasa geli—ujung bibirnya naik sedikit, pucuk matanya meruncing, tulang pipinya terangkat.

 

“Yushi masih dengerin?”

Yushi mengangguk, lalu sadar kalau yang di sana tidak bisa melihat gesturnya. “Iya, masih,” jawabnya. “Riku masih mau ngomong lagi?”

 

“Um…” Yushi bisa mendengar Riku bergerak. Sepertinya cuma berpindah posisi karena tidak seberisik itu. Hanya gesekan kain-kain baju dan gemerisik ponsel yang bergoyang.

“Enggak?” tanyanya, ingin Riku segera memberinya jawaban.

 

“Gak tau mau ngomong apa lagi, tapi masih mau ngobrol sama kamu.” kata Riku, yang menurut Yushi adalah sejujur-jujurnya. “Yushi lagi sibuk?”

 

Yushi menggeleng. “Enggak. Lagi di kasur aja, dari tadi bosan, terus kamu telepon.”

“Berarti sekarang udah gak bosan?”

“Sedikit,” ujar Yushi. “Lumayan ngantuk juga.”

“Tidur kalau gitu.”

“Katanya kamu mau ngobrol?”

 

Riku terdiam, dan Yushi tebak ia sedang mengkurasi kalimat yang akan membuat kantuknya hilang.

 

“Aku enggak maksa kok. Kalau Yushi ngantuk, tidur aja. Nanti kita ngobrol serunya di mimpi kamu.”

 

Oh. Salah. Yushi sekarang malah semakin ingin tidur ternyata.

 

“Aku jadi makin ngantuk.” ucap Yushi, yang dibalas dengan kekehan pelan oleh Riku.

“Selamat tidur kalau gitu.”

 

Bohong kalau Yushi bilang dirinya tidak sedikit kecewa ketika Riku membiarkannya pergi begitu saja. Sebagian dari dirinya ingin dibujuk, ingin dipaksa berbicara. Tetapi sebagian dirinya juga merasa hangat, merasa nyaman dengan Riku yang selalu mengiyakan.

 

Namun kali ini, Yushi ingin menolak sebentar.

 

“Kamu,” ujar Yushi sekian detik kemudian. “Enggak mau tau jawabanku?”

 

Yushi seakan bisa melihat kedua alis Riku naik, penasaran. “Kenapa emangnya?” tanyanya.

 

“Biasanya kan gitu. Setelah nembak, tanya jawabannya.” kata Yushi.

 

Riku tertawa. Terdengar mengejek tapi manis sekali. Yushi bingung. “Aku enggak nembak, gak sih?” Riku menjawab, “Aku cuma bilang kalau aku suka sama kamu.”

 

Pipi Yushi mulai memanas. Binar merahnya seperti bisa ia liat walau tidak melalui cermin.

 

Iya juga.

 

Ah. Tapi Yushi tidak ingin mengalah dulu.

 

“Enggak mau tau aku suka kamu juga atau enggak?” ujarnya, berusaha menggunakan suara jahilnya yang mana lagi-lagi mengundang tawa Riku.

 

“Suka ataupun enggak,” Riku melanjutkan, “aku tetap bakalan suka. Aku cuma perlu izinnya Yushi aja, boleh atau enggak akunya suka. Kamu bebas, mau suka aku atau enggak.”

 

Wah, sialan. Yushi tidak kira kalau sahabatnya yang satu ini sudah tidak kepalang gilanya. Mana bisa dia mengobrak-abrik akal sehat Yushi begini? Mana boleh dirinya, yang sudah mengenalnya lebih dari lima tahun dan kenal semua titik krusial Yushi, tiba-tiba menyerangnya tepat di sana?

 

“Boleh, kan?” Riku lanjut bertanya karena tidak terdengar ada tanggapan dari Yushi.

 

Bagaimana bisa menanggapi kalau dirinya sendiri sedang kewalahan mengurusi degup jantungnya yang mendadak berantakan lagi?

 

“Yushi—?”

 

“Iya iya iya iya boleh. Ssst diem deh, janganbicaralagiberisikbanget.”

 

Kemudian Riku kembali tertawa geli.

 

“Ya udah. Tidur aja sekarang, kalau masih ngantuk. Besok ketemu lagi.” ucap Riku, berusaha menutup panggilan.

 

Namun ironisnya, kini Yushi sudah tidak lagi mengantuk. Dan malah saat ini bertekad untuk tidak menutup panggilan ini.

 

“Udah enggak ngantuk.” ujar Yushi yakin. “Mau ngobrol.”

 

“Boleh. Aku juga mau.”

 

“Ngobrol apa, tapi?”

 

“Yang kamu mauin aja. Kamu tau, kan, aku enggak jago ambil topik.” Riku terdengar membenarkan duduknya lagi. Yushi jadi penasaran.

 

“Kamu lagi di rumah?” diiyakan oleh Riku, dan Yushi lanjut bertanya, “Di kamar?”

 

“Iya. Duduk di kursi, di depan meja belajar.”

 

“Oh, habis belajar?”

 

“Iya,” ada jeda sebentar, “belajarnya belum selesai. Tapi karena kepikiran Yushi akhirnya telepon.”

 

“Dan ngaku kalau kamu suka aku?”

 

“Dan ngaku kalau aku suka kamu.”

 

Lagi-lagi Yushi dibuat senyum. “Impulsif dong?”

 

Yushi bisa membayangkan Riku menggelengkan kepalanya sebelum menjawab, “Sukanya udah lama. Niatnya juga udah lama. Beraninya aja yang tiba-tiba.”

 

“Kenapa bisa berani?”

 

“Enggak tahu juga.” ungkap Riku. “Karena gak sabar, mungkin? Karena takut juga.”

 

Kedua alis Yushi mengerut dan ia mengeluarkan “Hm?” tanda bingung, mengundang Riku untuk menjelaskan maksudnya.

 

“Enggak sabar mau terang-terangan suka sama kamu, seenggak wajarnya temen, dan takut kalau nanti keduluan sama orang lain.”

 

Terang-terangan suka sama kamu. Seenggak wajarnya temen.

 

“Serius?”

 

“Serius.”

 

Yushi terdiam.

 

Sejujurnya, Yushi teramat senang. Terlampau, malah, disukai oleh Riku dengan amat.. berisik. Dengan lantang. Tetapi tidak dipungkiri ada rasa takut. Sedikit.

 

Yushi bukan orang yang ternilai cerah, malah mungkin cenderung sebaliknya. Tidak seperti Riku yang berisik dan ceria di luar sana, Yushi justru merasa tenang jika tidak terlalu kelihatan. Yushi suka yang.. diam-diam.

 

“Di kelas, gitu?” tanya Yushi kemudian, mencoba mencari detail dan maksud Riku. “Se.. seterang apa?”

 

Diam sejenak menguasai panggilan itu. Ada sedikit sesal yang muncul di benak Yushi—mungkin seharusnya ia diam saja, membiarkan Riku beraksi semaunya. Karena sungguh, Yushi bukannya tidak suka, tetapi jika ada opsi lain, kemungkinan besar Yushi akan memilih untuk meredup.

 

“Seterang yang kamu mau.” jawaban Riku seakan membaca pikiran Yushi.

 

Yushi menggigit pipi bagian dalamnya, takut. “Kenapa jadi aku?”

 

“Karena, selama kamu enggak silau, aku gak masalah. Selama.. selama kamu nyaman, selama kamu paham aku suka sama kamu, aku gak masalah.”

 

Yushi merasa.. hangat. Entah apa yang dimasukkan Riku dalam kata-katanya, tapi kesemuanya berhasil membuat Yushi nyaman. Mungkin bumbu sayang, suara khas ramainya, dan hasil dari mengenal Yushi sedari lumayan lama. Dirinya sendiri sampai tidak tahu bagian mana yang ia paling suka—mungkin semuanya.

 

“Manis banget, itu.”

 

Kekehan halus masuk ke telinga Yushi, mengirimkan rasa geli sekali lagi pada seluruh tubuhnya. “Apanya?” tanya Riku.

 

“Itu. Kata-katanya. Pinter banget,” jawab Yushi. “Ada skripnya, ya?”

 

“Efek ngobrol sama kamu aja sebenernya. Jadi begini deh.”

 

Yushi terkekeh geli. Kata-kata Riku selalu saja terdengar konyol. “Tolol, kamu.”

 

“Emang. Gara-gara kamu juga, kan, Yu?”

 

“Hmm,” panjang digumamkan Yushi sebagai upaya menyembunyikan senyumnya yang malu-malu merekah. Kalau saja Riku tahu Yushi juga sudah merasa tolol karena ucap-ucapannya sedari tadi, pasti Riku sudah tertawa lebih keras.

 

“Ini kalau jatuhnya aku enggak suka sama kamu, kamu malu gak, Rik?”

 

“Malu, sih.” jawab Riku. “Makanya aku beraninya lama. Takut.”

 

“Padahal ini aja udah malu-maluin.” ejek Yushi, yang mana Riku malah tertawa.

 

“Yakin, sih, aku.”

 

“Yakin apa?”

 

“Kalau kamu juga suka sama aku.”

 

“Pede banget.” ujar Yushi, kurang percaya dengan kepercayaan diri Riku. “Gimana bisa seyakin itu?”

 

“Kalau enggak suka, pasti teleponnya udah mati sekarang.”

 

“Bisa aja aku gak enakan.”

 

“Kamu? Setegas kamu? Sependiam kamu? Gak enakan?” ujaran Riku membuat hipotesis Yushi terdengar tidak masuk akal. “Gak mungkin.”

Yushi menganggukkan kepalanya pelan—setuju. Bibirnya membentuk garis, senyumannya tipis. Tangan kirinya yang kosong ia mainkan dan pandangnya terfokus ke sana, menatap buku-buku jemarinya.

 

Orang yang ada di seberang sana mungkin lebih mengenal Yushi daripada Yushi mengenal garis-garis tangannya sendiri. Semua tanggapan dan panggilan mestinya sudah dihapal oleh Riku, sehingga Yushi tidak perlu lagi repot-repot memberitahu.

 

Sejujur-jujurnya,

“Aku juga suka sama kamu, Rik.” ujar Yushi setelah bosan dipukul adrenalin di dadanya. Jantungnya terasa amat sakit—pengakuan itu sudah memberontak sedari tadi.

 

“Ih,” celetuk Yushi ketika tanggapan yang dilontarkan Riku hanyalah tawa gemas. “Jangan ketawa!”

 

Meski begitu, Yushi tetap ikut tersenyum. Hari ini perutnya terus-terusan terasa geli. Pandangannya kini tertuju pada kedua kakinya yang menggantung di ujung kasur. Keduanya diayun-ayun senang, lucu. Kalau lihat, Riku pasti sudah memeluk Yushi gemas.

 

“Aduh. Makasih ya, Yushi,” kata Riku seusai tawanya reda, tersisa bekas senyuman yang masih terdengar

 

“Makasih kenapa?”

 

“Makasih udah jadi Yushi,” jawabannya mengundang perhatian Yushi (dari awal sudah perhatian. Sekarang seakan satu dunia sedang diam, dan yang paling penting di sini adalah Riku seorang). “Aku kira kalau yang jadi Tokuno Yushi bukan kamu, aku gak bakalan suka sebegininya.”

 

Oh. Jadi begini, maksud orang-orang tentang disayangi setelah dikenal.

 

Hati Yushi mencelos tepat setelah Riku menyelesaikan kalimatnya, dan senyumnya tak henti-hentinya tumpah. Hatinya terasa penuh, tidak biasanya bagi Yushi.

Tapi Yushi kira ini bisa dibiasakan, asal dengan Riku.

 

“Besok ketemu, kan?” kedua tangan Yushi menggenggam ponselnya, menekannya dekat dengan telinga seakan berharap mendengar suara Riku lebih jelas dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.

 

Yushi kembali gugup setelah sadar akan hatinya yang terasa ringan—setelah ucapan suka akhirnya berhasil keluar dan diterima baik oleh yang ada di sana.

 

“Enggak sabar, ya?” serang Riku, yang membuat Yushi agak kesal. Lagi-lagi tembakan gol dari Yushi sudah ditangkap Riku.

 

“Iya,” ujarnya. “Kalau besok canggung, gimana, ya?”

 

“Kayak biasanya aja. Gak mau terlalu kelihatan, kan?”

 

Yushi mengangguk, “Tapi setelah sekolah selesai, mau ketemu juga gak?”

 

“Eh,” suara Riku terdengar sedikit terkejut. “Kamu duluan nih, yang ngajak main? Aku gak ngira.”

 

Kini senyuman Yushi lebih terlihat—bangga sudah bisa membuat Riku merasa belum mengenalnya, membuat Riku menemukan sisi lainnya.

 

“Mau berisik soalnya,” jawabnya. “Berdua aja. Di handphone gini belum kerasa.”

 

Entah halusinasi Yushi saja atau bagaimana, tapi Riku sepertinya baru saja menekan tombol mute dan pergi sebentar. Panggilannya terdengar bersih selama tiga detik.

 

Gol, mungkin? Riku salah tingkah, kan, ini?

 

“Riku?”

 

“Iya, hadir.” Riku menjawab dengan terburu-buru agar tidak terlalu kentara kalau dirinya usai memukul keras meja belajarnya. Tentunya sambil tersenyum dan penuh kupu-kupu.

 

“Mau atau enggak?” Yushi bertanya kembali.

 

“Mau, Yushi. Mau.”

Series this work belongs to: