Work Text:
Mydei berdiri memegang tombak erat, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya kemana-mana. Nafas teratur, paras tenang, tapi jantung yang berdetak bergemuruh berisik. Ia tak siap.
Ia tak siap mengoyak kekasih menjadi asa.
Ia sejak awal sudah tau. Walau begitu cinta terus memeluknya dengan kasih. Ia terbuai hingga lupa kenyataan. Bahwa kekasih cintanya, phainon. Sudah bukan phainon lagi sekarang. Mata secerah langit itu sudah tak ada. Langit itu sudah gelap, bagaikan lubang tanpa akhir yang menenggelamkan seluruh orang, bahkan termasuk ia sendiri.
"Mydeimos" anaxa, di sebelah menegurnya "jangan ragu, dia sudah bukan phainon lagi. Kau orang inti disini, jangan sampai lengah" ia terdiam lama, anggukan ia beri sebagai balasan sebelum anaxa melesat membunuh para monster kecil, semua orang membukakan jalan untuk dirinya. Mydei menggeleng pelan sebelum ikut pergi, memberi peristirahatan terakhir pada kekasih.
Di atas, phainon berdiri, claymore bermotif mentari melayang di udara, seakan siap menghabisi nyawa seseorang. Ia terlihat berbeda sekali, seperti seorang dewa. Mydei berjalan perlahan tidak ada yang bergerak dari keduanya, tatap pandang di berikan satu sama lain, sampai akhirnya salah satu pedang yang mengitari punggung phainon melesat tepat tak jauh dari mydei menapak. Memperingati.
"Jangan melangkah jauh dari sini atau kau yang akan mati." Dingin, suara otoritas dan berat itu sudah bukan lagi phainon yang ia kenal. Tapi, apakah konyol jika dirasa ia masih berharap ada sosok manis kasih yang ia cintai dahulu? Mydei menebas pedang itu hingga terlempar, mengeluarkan tombak dari kristal dengan mantap. Mengarahkan nya kepada phainon. Sekilas, ia melihat ujung bibir phainon sedikit naik seakan dia mengharapkan ini terjadi setelah kian lama kegelapan menelan diri.
Tanpa aba, waktu, ataupun suara, mydei segera melompat, menerjang ke depan. Phainon pun tak kalah cepat melayangkan ribuan pedang dari langit sebagai hujaman. Semua pedang itu mydei tebas tanpa ragu, tanpa luka.
Pertarungan itu berlangsung lama, kini keduanya berada di tengah arena seakan sedang berdansa dengan cinta kedua senjata mengayun tanpa ampun, letih mulai menguasai sangking lamanya dansa mereka berjalan. Terakhir, sekian jarum pendek memutar pedang phainon terlempar dari genggaman dan tombak mydei melesat tepat pada arahnya. Lagi-lagi mydei terbuai ia terlalu terbawa suasana hingga lupa, ia disini untuk membersihkan cintanya. Ia tak melihat, selagi tombak itu semakin dekat, phainon tersenyum penuh bangga.
Tombak pembersih itu menusuk tepat pada dada, tembus hingga punggung, mengoyak hingga menghajar tembok. Seakan hukum tak berlaku ia berlari menuju ke arah phainon, dengan gerakan lambat, phainon berusaha menyentuh gagang tombak, lalu mencabut paksa dari dadanya. Gila. Mata mulai buram, tangan di udara itu mencari sesuatu "mydei..." Tepat sebelum tanah menghantam mydei lebih dulu memeluk, meringkuk dirinya dan phainon pada pangkuan.
Indra pendengaran phainon terasa bising, ia tak bisa mendengar dengan jelas. Tiba-tiba ada air yang menetes pada pipinya. Oh.. apakah hujan menangisi dirinya sekarang? Tidak.. itu bukan hujan, tetapi cintanya. Tampak mydei yang sudah tak tahan menahan sedih, jemari gemetaran selama ia menopang tubuh itu mendekat, seakan jika ia peluk phainon dengan erat maka phainon akan kembali lagi. Semua mimpi buruk ini akan terbangun, mereka akan melihat dunia nyata.
Tidak, tidak ada yang terjadi.
Jemari mydei terasa panas, atau dirinya yang mulai dingin mendekati ajal ? Mungkin keduanya benar. Mydei membawa telapak putih pucat itu pada bibirnya, di kecup, di elus, lalu di kecup lagi dan terakhir ia bawa pada pipi. Mengusap pilu, namun lebih pilunya lagi ia tak bisa mendengar racauan yang di keluarkan kekasih.
"Mydei... Aku ugh.. gak bisa dengar.."
Mydei berdigik, mata membulat tak percaya, tapi bukan panik ia malah membuka mulut, mengeratkan pegangan pada pergelangan phainon.
" Ja-ngan-ting-galin-aku "
Oh, phainon bisa membacanya.
Phainon menatap mydei sedih, nafas semakin kecil seiring waktu berjalan, ia mengusap pipi tampan itu pelan, tak bertenaga "aku gak bisa janji.. sayang.. uh" ia terbatuk, mengeluarkan darah hitam. Genggaman mydei semakin mengerat, tapi ia tak merasa sakit sama sekali. Mati rasa.
Entah apa yang mydei racau disana ia tak bisa mendengar, pandangan pun semakin memudar. Phainon tak mau, ia tak mau melupakan paras kasihnya. Dirasa mata phainon mulai tak fokus, panik mulai menelan mydei hidup-hidup, ia tangkup pipi itu perlahan mengucap beberapa kalimat. Tapi phainon sendiri mulai tak mendengar, seperti orang linglung.
"Sayang... Kumohon mentari ku.." mydei memohon darah gelap itu mulai bergenang pada lantai, kalut semakin memeluk.
"Mydeimos." Suara kecil, yang susah di ucap namun mantap itu terdengar. Mydei menangkup phainon semakin mendekat, mengisyaratkan ia mendengar nya.
"Di dunia lain..."
"Kira-kira takdir kita beda gak ya...?"
Tangisan sejadinya ia keluarkan, dengan pelan ia membuka mulut
" Aku- cari-kamu-sampai- ketemu "
Oh, romantisnya.. phainon ingin menangis bahagia...
"Nanti...
Kita harus bikin keluarga harmonis ya..."
air mata hitam mengalir berbarengan dengan nafasnya. Mydei kalut bukan main, menepuk pipi manis itu pelan, melafal nama dengan memohon, namun tidak ada. Respon dingin bersamaan dengan hujan deras mulai turun, seakan mereka ikut berduka bersama kedua kekasih terhalang takdir itu.
Raungan sedih, tangisan yang berbalut air hujan itu tak tertahankan, anggota lain yang tak jauh dari sana pun bisa mendengar raungan kesedihan itu. Cipher dan anaxa menundukkan kepalanya, tak kuat menatap ke arah reruntuhan dimana mydei terisak, lain dengan hyacine yang sudah memeluk castorice, keduanya ikut menangis. Kini dunia sudah bersih dari kegelapan, semua orang bersorak heboh, berbahagia. Bayaran dari semua hal itu adalah teman baik mereka. Phainon.
Phainon sudah beristirahat dengan tenang, bukankah seharusnya mereka senang dengan ini? Lihatlah seluruh warga bersorak dan menangis bahagia, bahkan mereka berpesta di bawah sana. Kenapa semua temannya disini tak ada yang bahagia akan hal baik ini? Semuanya berwajah lesu, seakan fajar mereka telah hilang.
Mydei masih memeluk tubuh dingin phainon di tengah-tengah reruntuhan dengan parau, ia masih berharap phainon akan bangun, dunia yang mereka impikan sudah ada, kenapa ia menjalani semua ini sendirian? Kenapa bayaran dari dunia yang semua orang impikan yaitu kekasihnya sendiri? Itu tidak adil, ini tidak adil ini tidak-
"Mydei"
Suara anggota lain membuyarkan lamunannya, ia mendongakkan kepala mendapati semuanya berdiri di tengah hujan, tak ada yang komplain maupun berinisiatif berlindung dari hujan. Mereka menerima hujan itu bersuka rela, seakan hujan itu adalah phainon yang menangis. Castorice menatap wajah phainon sekilas sebelum menarik wajah lagi, hatinya tak kuat, begitupun semua orang. Hanya anaxa seorang berani memanggil.
"Ayo, kita kasih dia peristirahatan terakhirnya, jangan biarkan dia kedinginan disini"
Mydei berdiri menatap kedepan, laut masih terlihat cantik untuk di pandang. Ia berjalan mencari bebatuan untuk duduk. Kelopak matanya menangkap kepiting yang berjalan menggali pasir, berwarna merah cantik, seperti yang phainon temukan.
Ia ingat, ketika mereka berdua berlibur dan berkencan, phainon saat itu terlihat asik sendiri berlari ke arah perairan, atau sekadar menggambar pada pasir namun tak lama terhapus oleh ombak, terakhir ia menangkap sebuah kepiting berwarna merah cantik, ia bawa menuju mydei dengan riang.
"Dei! Lihat deh warnanya mirip kamu! Cantik banget" ia berujar girang sebelum pada akhirnya jemarinya di capit oleh kepiting hingga kepiting itu terlempar ke laut, setelahnya ia merengek pada mydei mengaduh kesakitan. Mydei menggelengkan kepala lalu memangku phainon pada pangkuannya, kelihatan sekali jemari itu bengkak, sepertinya kepiting itu sebal dengan phainon.
"Makanya, jangan asal ambil.." ucapnya selagi membalut plester "ihhh aku kan mau nunjukin ke kamu! Kok kamu sewot banget sihh" bibir mulai mencerucut tak suka, mydei malah gemas lalu mengecup singkat bibir phainon, setelahnya ia membawa telapak tangan yang terbalut plester itu untuk dicium "maaf.. biar cepat sembuh, jangan luka lagi ya" phainon tertawa girang bukan main.
"Ah bisa aja kamu, udah kayak mau ngelamar aku!" Mydei tertawa pelan "nanti, aku mau cari cincin yang cantik buat ngelingkarin jari kamu" phainon terkikik gemas "gombal banget" ia mengalungkan kedua lengan pada pundak mydei, yang di kalungkan pun menahan pinggang phainon agar tak jatuh dari pangkuan.
"Aku gak gombal, aku serius, nanti kamu wajib terima ya. Malu kalau ditolak" phainon tertawa lepas setelahnya, mereka menyatukan kedua kening sebelum phainon berucap "di dunia lain, maupun kapanpun itu. Aku gak pernah nolak kamu mydeimos" terus ia menjauhkan jarak keduanya "eh tapi kamu jangan mati duluan ya! Aku gak mau jadi duda huff" ia mendengus, mydei mencium pipi phainon gemas.
"Ayo mati bareng-bareng, janji ya"
Phainon tidak menepati janjinya.
Ia lagi-lagi menatap ombak dingin itu dari kejauhan, beranjak mengambil kepiting yang sedang menggali pasir tadi. Lucunya ia tak menggigit, hanya diam seakan ia tau bahwa mydei sendiri tak berniat menyakiti. Kepiting itu dan dirinya menatap lama, lama sekali sampai-sampai ia tak sadar bahwa ombak semakin naik menghampiri kakinya. Ia akhirnya tersadar hari semakin larut, ia seharusnya pulang sekarang. Dengan pelan ia menaruh kembali kepiting itu ke pasir.
Namun ia tak langsung lari, lama kepiting itu berdiam diri di kaki mydei, mengetuk-ngetuk.
Seakan memberi tepukan pelan pada pundaknya.
Akhirnya barulah kepiting itu menggali lubang dan menghilang dari permukaan, mydei tertawa renyah telapak kasar meremat muka tak kuasa, dua cincin berpasangan yang seharusnya dimiliki sang partner itu ia kenakan berjejer pada jari manis, walau cincin berwarna biru itu agak sedikit sempit, karena bukan miliknya.
Memang benar dunia sekarang sudah aman, wabah hitam sudah di basmi. Namun kenapa hampa rasanya? Kenapa ia tidak senang dengan hal ini?
"Mydei"
Kepala mydei beralih cepat, sangking cepatnya hampir saja lehernya terkilir. Suara manis dan dimanjakan itu, ia kenal sekali, ia tak mungkin salah. Itu suara phainon.
Apa ia gila sekarang? Sosok phainon sedang berdiri di tengah-tengah pinggir laut sambil merentangkan tangan? Tidak, ia harus tersadar dari lamunannya. Pikiran sudah kemana-mana tidak mungkin phain-
"Ayo sini! Kenapa murung terus?"
Refleks. Entah karena gila ditinggal cintanya ia berjalan mendekat, ombak semakin naik beriring nya bulan berputar memposisikan diri di langit, menerangi gelapnya malam, menyinari laut dengan cantiknya, sedikit lagi. Ia akan menggapai tubuh phainon. Namun terlalu berlebihan juga tak bagus, sebab linglung, ia terjatuh pada air, asin nya laut memercik muka, barulah ia tersadar. Tak ada yang menapak di ombak.
Namun apakah ia akan di sebut gila jika ia bisa mendengar suara langkah mendekat ke arahnya?
"Mydei"
Ada sesuatu yang menarik rahang mydei agar mendongak, ia melihatnya sekarang, mata itu berwarna merah darah.
"Karena kamu, aku mati."
Ia diam.
"Kenapa kamu biarin aku mati? Katanya janji kita akan mati bersama? Kenapa kamu bunuh aku?"
...
"Kau tidak cinta padaku-"
"Tutup mulutmu."
Mydei mengeram marah, mata singa itu menatap nyalang.
"Kau boleh sebut aku pembunuh, hina, manusia sial.
Tapi jangan pernah menyebut, jika cintaku pada phainon tidak nyata. Apa kau kira aku tak berani mengoyak wujudmu, jika kau mengambil tampang cintaku?"
Ia menarik pergelangan tangan phainon erat, entah kenapa sekarang ia bisa menyentuh wujudnya walau ia yakin tadi phainon ini hanya bayangan sial. Phainon tersenyum geli, mereka berdua menempel tak tau malu di tengah lautan. Atau mungkin mereka hanya melihat mydei meracau seperti orang gila sendirian.
"Romantisnya.. aku jadi cemburu"
Phainon menarik dirinya dan mydei hingga terjatuh tergenang air, sesekali ombak menghanyutkan rambut seputih salju phainon di pasir. Ia tersenyum, mata merah itu terlihat menyeramkan. Namun entah kenapa mydei tak mengalihkan pandangan semenjak tadi.
"Ayo, ikut bersamaku"
Mydei tau, phainon ini palsu, ia bukan kekasihnya. Hanya raga yang sama, namun jiwa tak sama. Tetapi, ada suatu hal yang menariknya.
"Jika aku mengiyakan, apakah aku bisa bertemu dengan dunia ku?"
Phainon melebarkan kedua matanya terbuka, ia menatap lama sebelum mata berwarna merah darah itu menipis seperti sabit.
"Iya, lagipula sejak awal. Aku bukan bayangan. Aku hanya meminjam"
Terakhir, yang mydei dengar adalah sebuah teriakan yang memanggil namanya kala ombak menelan sedalam samudra.
Hyacine mengigit kuku untuk kesekian kalinya, gugup melanda selama ia menghirup udara. "Berhentilah melakukan kebiasaan buruk mu hyacine" cipher mengingatkan, namun ia mengelak "gak bisa! Temenku hampir bunuh diri dan kamu mau aku tenang dengan hal itu? Cifera... Aku..." Ucapannya tertelan oleh udara, ia melirik kamar mydei yang sedang berbaring pada kasur rumah sakit.
"Seharusnya aku sadar.. dia semenjak phainon..."
"Sudah jangan bicara lagi, aku tau. Kita semua tau"
Ucapan cipher menyelak hyacine sebelum kalimat terutar,
Mydei menenggelamkan dirinya di laut.
Jika saja mereka terlambat tadi, mungkin mydei hanya tinggal nama untuk di ukir. Seharusnya sore itu mereka sadar dengan anehnya mydei bilang ingin sendiri di pantai.
Seharian itu mereka terus berkunjung, sekadar melihat sebentar bagaimana kondisi mydei sendiri, walau dirinya tak kunjung bangun. Hingga malam tiba, suasana sejuk dan sunyi meriasi dinginnya rumah sakit.
Para perawat pun sedang mengecek kondisi pasien lain, di lorong sepi itu seseorang berjalan santai seperti seorang penjaga pasien kamar seseorang. Surai putih terbalut kuning terhempas angin malam, dia terlalu pelan dan santai untuk dibilang sebagai orang menyelonong masuk tanpa izin. Langkahnya terhenti tepat pada ruangan seseorang, tampak cipher dan castorice sedang bersender tertidur berdua pada kursi pengunjung diluar. Dilirik nya sebentar sebelum pintu kamar dibuka.
Ia masuk dalam satu gerakan halus, nyaris tak terdengar, namun terasa. Pintu tertutup selagi ia berjalan menuju ranjang mydei berada, display detak jantung yang terpapar terlihat lemah. Surai putih blonde itu menundukkan badan, mencium Surai mydei lembut, penuh kasih sayang. Ada gunting pada genggamannya.
Gunting itu mengarah pada selang ia bernafas.
"Ayo pulang"
