Work Text:
Agustus 21, 2022.
“To quote Lowenthal, ‘The past is a foreign country whose features are shaped by today's predilections, its strangeness domesticated by our own preservation of its vestiges.’ ”
“That is to say, how we see the past, we mix it up with our present. We see it through our eyes and norms, not allowing the past to breathe in its own terms— as the past is sometimes difficult for us to untangle with what we only know now.”
“Nevertheless, it is important to understand that the past does have its own particular say…”
Mavis mulai samar-samar mendengar penjelasan dosen yang tengah berdiri di panggung auditorium. Meski begitu, si mahasiswi masih enggan untuk membuka mata dan sepenuhnya menyadarkan diri.
Sebenarnya, Mavis sama sekali tidak ada niat menuntut ilmu di ruang tersebut. Satu-satunya alasan mengapa dia ada disana adalah untuk menghindari suhu dingin di apartemen pribadinya. Mavis bisa saja menggunakan heater untuk menghangatkan badan seharian, namun energi yang digunakan oleh mesin penghangat itu sangatlah tinggi, berujung dengan tagihan listrik bernominal tidak masuk akal. Jadi sebisa mungkin Mavis hanya menggunakannya di malam hari.
Papah tak akan memarahi, bahkan beliau akan santai bertanya berapa uang yang harus ditransfer saat akhir bulan datang. Berbanding terbalik dengan sang mamah, dimana wanita paruh baya tersebut akan mengirim pesan kurang lebih sepuluh paragraf lewat WhatsApp, meminta Mavis untuk belajar hidup lebih hemat. Dilanjut dengan sebuah video call hanya untuk mengulang poin yang sama.
Itulah alasan sesungguhnya mengapa Mavis berada di auditorium sekarang.
Perlahan Mavis membuka kedua matanya, hal yang pertama ia lihat adalah jam di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum kuliah selesai. Dengan begitu, Mavis hendak tidur kembali. Memposisikan kepala yang sedari tadi beristirahat pada kedua lengannya di atas meja, untuk menghadap ke kanan. Sebelum akhirnya—
Mavis menjerit, “AHH!”
Ketika Mavis menoleh ke kanan, muka seorang perempuan asing dalam posisi serupa menghajar pandangannya, tak jauh dari 10 centimeter dengan milik Mavis. Ia tidak merasa bahwa ada seseorang yang duduk disamping sebelumnya.
Dikarenakan isi ruangan yang sunyi dipenuhi hanya oleh suara penyampaian dosen, jeritan singkat Mavis membawa perhatian beberapa mahasiswa sekitar— tak terkecuali dosennya sendiri.
“You alright, over there?” Si bapak bertanya, menjeda sesi kuliah untuk sementara.
“Yes, all good!” Mavis menjawab lantang agar terdengar sebab posisinya yang terletak di baris paling belakang, tak lupa dengan sebuah acungan jempol.
Guru besar itu mengangguk paham.
Kuliah pun berlanjut, tetapi Mavis masih menjadi subjek utama pandangan perempuan yang duduk disebelahnya. Itu membuat Mavis tidak lagi ada keinginan untuk melanjutkan sesi tidurnya, merasa terlalu sadar diri akan perhatian yang diberikan.
Maka dari itu, fokus Mavis adalah kedepan. Apa yang dibicarakan dosen tidak ada yang mencantol, ia bahkan tak ada niatan untuk membuka buku catatan sama sekali. Tetapi, suara menggema bapak pengajar dapat meredakan isi pikiran Mavis tentang apa yang kemungkinan perempuan itu mau darinya, setidaknya sampai kelas selesai.
Terkadang, Mavis mencuri-curi pandang terhadap si perempuan. Posisinya tidak berubah, terlihat masih nyaman mengistirahatkan kepalanya diatas meja, sama seperti ketika Mavis asik tertidur tadi.
Perempuan itu sangatlah cantik, Mavis tidak bisa mengelak itu. Sepasang bola mata yang besar itu terlihat lelah, bahkan sedikit berkaca-kaca, ia baru sadar. Mavis pikir dia menderita nasib sama dengannya, alias korban begadang mengerjakan tugas sampai dini hari sebelum harus tetap bergegas pergi ke kampus.
*
Akhirnya kuliah selesai, dan Mavis menjadi orang pertama yang keluar dari ruang auditorium. Walau waktu masih menunjukkan pukul jam 4 sore, langit di luar sudahlah gelap dengan secercah corak jingga. Wajar, sekarang adalah musim dingin di Adelaide, matahari terbenam lebih cepat dari biasa.
Tak tahan akan suhu rendah, Mavis tergesa menuju ke arah parkir mobil. Tiga lapisan pakaian lengan panjang tidak ada artinya, dingin tetap menusuk permukaan kulit Mavis. Semakin dekat ke area tempat parkir, semakin sepi jalanan, dan semakin jelas bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Suara langkah kaki itu telah lama berada dalam jangkauan pendengaran Mavis.
Mavis berhenti dan membalikkan badan ke belakang. Ia semakin menggigil, tapi apa boleh buat.
Itu adalah perempuan yang duduk disampingnya tadi.
“Do you need something?” Mavis bertanya dengan nada ketus. Dikuntit oleh orang asing bukanlah hal yang paling menyenangkan di dunia ini.
“Ya, izinin aku nginep di tempat kamu.”
“Hah?” Ternyata si perempuan juga orang Indonesia, pikir Mavis. Namun ucapan sang lawan bicara tetap lebih mengagetkan, apa maksudnya dia ingin menginap di tempat tinggalnya? Apa cuma karena mereka satu kewarganegaraan? Siapa dia?
“Siapa kamu?”
Tanpa diduga, perempuan itu justru tertawa renyah. Tubuhnya yang tergolong ramping tampak sama sekali tak terpengaruhi oleh dinginnya cuaca, lain cerita dengan rambut hitam panjangnya yang lebat. Mereka mulai kemana-mana, tertiup oleh angin.
Dia lalu menutupi mulutnya untuk meredakan tawa, kemudian mengulurkan tangan kanannya diantara mereka.
Mavis semakin dibuat bingung tidak kepalang.
“Kenalin, aku Jo. Istri kamu dari masa depan.”
Untuk kedua kalinya sore itu, Mavis mengeluarkan jeritan kurang kalah nyaring.
*
Panik menguasai seluruh tubuh Mavis, dan dari kepanikan tersebut Mavis memutar arah yang tadinya berjalan menuju parkiran mobil menjadi ke daerah asrama kampus.
Sahabat dekatnya, Jinan dan Agis, tinggal disana, dan untuk mewanti-wanti apabila Jo ternyata adalah orang jahat, Mavis berpikir bahwa membawa dia kesana merupakan ide brilian. Sebab setidaknya Mavis tidak akan berakhir tewas sendirian jika sesuatu tidak mengenakkan benar terjadi.
Dan disana sekarang Mavis dan perempuan bernama Jo itu berada. Ruang asrama milik Jinan dan Agis.
Kebetulan Agis sedang ada tugas kerja kelompok di kampus saat itu, namun untungnya Jinan ada disana dan siap menerima kedatangan Mavis yang tanpa permisi.
Mavis mempersilahkan Jo untuk duduk di sofa ruang tengah selayaknya pemilik tempat, dan buru-buru menarik Jinan ke balkon asrama sebelum temannya bisa bertanya apapun.
Mavis menutup pintu kaca geser balkon dengan rapat.
“Itu siapa, njir?”
“Dia—” Mavis menoleh ke dalam ruangan, dari posisi dimana dia berdiri ia bisa melihat Jo yang celingak-celinguk mencari sesuatu. Mavis terdiam, dan tanpa aba-aba masuk kembali ke dalam; meninggalkan Jinan yang makin terheran oleh perilaku sahabat masa kecilnya sedari tadi.
“Cari apa?”
“Remot TV.”
Mavis melangkah menuju laci panjang di bawah televisi untuk mengambil remot yang dimaksud, kelak memberikan benda tersebut kepada Jo. Sebelum sempat kembali ke balkon, Mavis berjalan pergi ke dapur untuk menyiapkan segelas air minum yang ditaruhnya pada meja ruang tengah depan Jo.
“Minum, ya. Aku keluar dulu, sebentar.” Ucap Mavis yang hanya diangguki oleh si perempuan yang tengah duduk manis di sofa.
“Makasih.”
Persetan mereka baru bertemu kurang dari satu jam yang lalu, Mavis tidak akan pernah bosan melihat senyum milik Jo. Berapa beruntungnya Mavis di masa depan jika apa yang dikatakan Jo tentang mereka adalah benar.
Balik di balkon, Jinan langsung saja lagi menembak Mavis dengan sebuah pertanyaan.
“Kiw, itu siapa, kiw?” Ucap lawan bicara Mavis yang tengah duduk pada salah-satu kursi plastik disana, Mavis mengikuti aksinya. “I thought you were with Vicky?” Lanjut Jinan, tak niat memberi celah.
“It’s not like that!” Mavis menghembuskan napas secara kasar, kesal sudah disangka pacaran dengan seseorang yang dianggap teman baik. “ Also sejak kapan aku pernah pacaran sama Vic?”
“Lah, kok lo jadi nanya gue sih, Mpis? Si Vicky noh selalu update instastory bejibun yang isinya cuma muka lo tiap jalan bareng berdua.” Jinan mengganti topik, “Terus itu siapa?”
Dua insan di balkon secara bersamaan mengalihkan pandangan mereka kepada Jo yang anteng menonton serial Netflix di dalam, dan yang diperhatikan hanya menatap balik Mavis.
Tersirat pilu dalam tatapan Jo. Tadinya Mavis kira perempuan itu sekedar kelelahan akan tugas, namun ia tak lagi yakin tentang itu, tidak bisa mengartikannya lebih dalam juga.
Mavis menyeret Jinan untuk berdiri menjauh dari pintu kaca agar Jo bisa berhenti mengamati mereka, dan bersandar pada pagar balkon. Ia langsung menyesali aksinya karena sekarang tangannya merah kedinginan. “Tolol, lo.” Komentar Jinan.
Tanpa menghiraukan cemooh dari Jinan, Mavis langsung saja masuk ke dalam inti tujuannya datang berkunjung.
“Dia… ngakunya sih istri aku.”
Satu detik,
Dua detik.
Jinan tertawa hebat selama beberapa menit. Ya, menit. Seakan tak peduli bahwa ada kemungkinan besar tetangga-tetangganya akan melaporkan dia kepada penjaga asrama sebab telah menyebabkan suara kerusuhan tidak jelas. Jinan memukul-mukul pahanya sendiri, lalu mengusap mata dramatis.
Jinan mengeluarkan air mata! Sungguh dosa apa yang Mavis perbuat di masa lalu untuk mendapati teman macam Jinan, pikirnya.
“Puas kamu?”
“Puas. Alias ngaco lo.”
“lah emang iya, tiba-tiba aja dia duduk disebelah aku pas lecture— Terus pas selesai, ngomong ‘Hai, kenalin, aku Jo, istri kamu dari masa depan.’ Gitu.” Jelas Mavis, tak lupa dengan menirukan suara Jo semirip mungkin dengan yang asli. Seakan-akan dapat membuat Jinan lebih percaya terhadap ceritanya.
Temannya itu tetap sama sekali tidak terlihat teryakini.
“Lo minum apaan sih sebelum kesini?”
“Aku serius!”
Jinan sudah lama mengenali Mavis, ia tahu kapan temannya itu serius kapan bercanda. Dan setelah memperhatikan dengan lebih baik ekspresi Mavis, seharusnya dia sadar apa yang sedang dibicarakan memanglah bukan sebuah lelucon bagi Mavis.
“Ok, lets say apa yang lo omongin bener, lo mau ngapain? Dan kenapa lo malah bawa dia kesini sih?”
“Takut kena doxxing aku kalo bawa dia balik ke apartemen.”
“Ya terus apart gue apa kabar?”
“Yaudah sih.”
Jinan memutar bola matanya malas.
“Terus ya, gimana kalo ternyata she’s after my family’s wealth karena— terus terang aja, my fam itu cukup terpandang and you know that. ” Mavis menunjuk ke arah Jinan, Jinan menggaruk kepala.
“Mungkin aja kita gak nikah out of love in the future, dan dia cuma nunggu aku mangkat buat ambil harta aku. Tapi karena aku gak mati-mati dan dia ga sabaran, dia hap! Pergi masa lalu buat curi uang keluarga ku abis itu balik deh, ke masa depan ten times richer than before.”
Hanya ada satu kata yang dapat dikeluarkan oleh seorang Jinan,
“Sinting.”
Mavis hendak mengelak kalau saja Jinan tidak mencomot bibirnya dengan tangan kiri. Cepat-cepat Mavis mendorong jauh tangan tidak sopan tersebut, tak ingin membayangkan apa saja yang sudah Jinan pegang menggunakannya. “Jijik!”
“Denger ya, Mavis Dara Pradiptya. Kalo dia nikah karena harta, mendingan dia ngejar si Agis yang kalo diporotin pangeran Jawa hartanya masih tetep berlimpah.” Jinan melanjutkan, “Lo mikir gak sampe situ?”
Mavis tidak berpikir sampai situ.
“Bener juga, ya… Jo kenal gak yah sama Agis?”
“Mana tau. Lo keburu narik gue keluar sebelum kita bisa bicara enam mata sama si Jo—Jo itu. Mending kita ke dalem deh nanya-nanya lah anjir gue kedinginan.”
Dengan begitu, sesi obrolan antara Mavis dan Jinan berakhir. Dilanjut dengan interogasi mendadak terhadap Jo, yang sepertinya acuh tak acuh dengan kelakuan absurd sepasang sahabat dihadapannya. Seperti terbiasa.
“Nama panjang aku?”
“Mavis Dara Pradiptya”
“Kedengeran pasti dari luar barusan.” Bisik Jinan kepada Mavis. Jo bisa mendengar.
“Nama mamah papah?”
“Mamah… Renjani Pradiptya, terus papah, Mattheus Mandala Pradiptya”
“Kalo kakak, kalo kakak?”
“Bang Markus iya aku tau juga.”
Jinan berdecak kagum, “wow.. Emejing. Gue aja kadang lupa nama abang lo siapa, Mpis.”
Mavis mendelik tajam kepada Jinan sebelum lanjut dengan sesi tanya jawab.
Mavis terdiam sejenak, “Adek?”
Dan Jo tersenyum, “Kamu gak punya adik, Mei.”
Mei. Mei merupakan panggilan untuk Mavis yang hanya digunakan oleh anggota keluarga kecilnya, Mavis terlihat semakin gelisah.
“Anjing aku di rumah?”
“Si Snupi. Dia nantinya tinggal bareng sama kita.” Jawab Jo tak ada ragu.
“Agis! Agis kamu tau gak?” Lama kelamaan Mavis menjadi tak mau kalah ingin mencari secuil saja kesalahan dalam jawaban-jawaban Jo. Seakan tidak mau percaya tentang apa yang sedang dia alami detik ini.
Jo sementara terlihat terhibur dengan kelakuan istrinya di masa lalu. Tatapan duka yang tadi ada perlahan tergantikan dengan sesuatu yang lebih ringan.
“Tau lah, dia jadi rekan kerja aku. Sama kak Jinan aku juga deket.” Yang dimaksud hanya dapat menunjuk dirinya sendiri dengan kedua mata membulat.
Jo menyeringai.
“Mereka berdua nikah juga nantinya.”
“DEMI APA?!” Teriak Jinan melengking, kuping Mavis sakit karena berada di jarak dekat dengannya.
Dia juga tak kalah kaget sebenarnya, karena setaunya hubungan dua perempuan itu tidak jelas dan mungkin tidak akan pernah. Tetapi sepertinya Mavis salah.
Sedikit tentang latar belakang Mavis, ia dan Jinan sudah berteman lama semenjak sekolah dasar. Orang tua mereka yang memang memiliki pertemanan yang baik sejak dulu seolah menurun kepada anak-anak mereka.
Sedangkan Mavis pertama kali dekat dengan Agis saat menduduki bangku SMA. Ia yang pisah kelas dengan Jinan untuk pertama kalinya saat itu, mencoba bergaul dengan teman satu mejanya yang tak lain tak bukan adalah Akasya Gisellia, kerap dipanggil ‘Agis’.
Mavis lalu mengenalkan Agis ke Jinan, dan ternyata keduanya juga cocok ketika mengobrol. Syukurlah, pikir Mavis. Lama-kelamaan mereka bertiga menjadi tidak terpisahkan, bahkan sampai berencana untuk pergi kuliah di universitas luar negeri yang sama setelah lulus.
Dan disanalah mereka sekarang— terkecuali Agis yang masih sibuk di luar, mengejar ilmu di negeri kangguru.
“Jin, sehat?” Tanya Mavis, dia sempat menahan tawanya melihat reaksi Jinan yang bagai dipertemukan oleh jerapah terbang, tetapi sekarang satu menit sudah lewat dan temannya itu masih diam mematung.
Mavis mengambil itu sebagai tanda untuk membawa dirinya dan Jo pergi dari sana. Biarlah Agis yang pusing menghadapi Jinan nanti, kata Mavis dalam hati.
Sekarang, ia sudah 65% yakin bahwa Jo bukanlah orang yang macam-macam, dan lebih percaya diri untuk membawa ‘istri’ nya pulang ke apartemen menggunakan mobil pribadi Mavis yang tertinggal di parkiran kampus.
*
Seperti tak ada habisnya, sekarang Mavis tengah berargumen dengan Jo di kamar Mavis perkara apakah sebaiknya Mavis tidur sofa atau tidak.
“I am your wife, Kak!”
Pipi Mavis memerah. Jo, entah karena terbiasa, memanggilnya dengan sebutan ‘Kak’ ketika marah.
“Ya– ya, di masa depan. Sekarang kita jatohnya belum nikah!”
“You can’t get me pregnant and kita juga gak bakal ngapa-ngapain. Pegang tangan aja kamu ciut pas kita awal pacaran.”
Harga diri Mavis terlempar ke luar jendela.
”…Tetep aja!”
Mavis bisa melihat Jo mengusap wajah secara gemas dihadapannya, lalu bergumam lebih kepada diri sendiri seakan Mavis tidak dapat mendengar. “As stubborn as always, Mavis Dara.”
“I know, you know.” Jo mulai dengan pernyataan penuh teka-teki. Seperti kedatangannya di hidup Mavis.
“Know what?”
“Last semester, I know you went out on a date with that master's student who— might I add, is twice your age, just got recently divorced from her husband, and has three children back home. So that you could enjoy yourself a free, nice, fine-dining dinner!”
Mavis terbuat nganga olehnya, tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal itu, tak terkecuali Jinan dan Agis. Karena kalau saja mereka tahu—
“Dan, if you don’t get your ass on this bed right about now, besok aku bocorin rahasia kamu ke Kak Jinan sama Kak Agis. And you knowww how annoying they get when they have something to tease you about. ”
Mavis kalah telak. Sekarang dia hanya bisa terbaring pasrah di atas ranjang, kaku menatap langit kamar sedangkan Jo santai disebelahnya.
“In my defense, Clarissa gak jelek-jelek amat!” Mavis memulai, mencoba untuk mengembalikan harga dirinya yang sebenarnya sudah tak seberapa itu bagi Jo. Tapi Mavis tak tahu itu.
Jo memutar bola matanya malas, “Whatever. Lagian why do you act like you are bokek. Papah mu loh tajir melintir punya biro arsitek sendiri.”
“Uang bulanan dari papah tetep gak cukup yah buat makan fine-dining, and you know how controlling my mom gets about my money management. ”
Jo terkekeh akan jawaban personal dari Mavis, ia benar tahu seberapa cerewet Mamah Jani perihal gaya hidup Mavis. Pertikaian kecil lewat telepon antara sang ibu dan anak bukanlah pemandangan langka bagi Jo ketika masa-masa mereka pacaran.
“I know, tapi mamah baik loh kalo sama aku.” Goda Jo.
“Good for you.”
Tak ada yang membuka suara untuk beberapa saat, Mavis membalikkan badannya untuk menghadap Jo, merasa sudah lebih nyaman, dan mengeluarkan pernyataan berikutnya tanpa berpikir panjang. “Married people do tell each other everything, huh.”
Jo mengangguk pelan, “That’s the way to maintain a healthy relationship.”
“...To a certain extent, at least.” Lanjut Jo.
“ Also denger ya, Kak Mei. I didn’t marry you for your money.”
“Kamu denger?”
“Kamu sama kak Jinan kalo udah ngobrol berdua volumenya suka ngalahin pedagang pasar malem.”
Mavis hanya bisa membalas dengan ‘Hehe.’ atas perkataan Jo barusan, sebelum lanjut ke pertanyaan berikutnya. Mavis punya banyak, tetapi ia tahu sebentar lagi rasa kantuk bakal menghampirinya. Ia menguap,
“Will it affect the future, you telling me and even Jinan all these things?”
Jo berpikir sejenak.
“No, I don’t think so. This is not my first rodeo, you see. I’ve travelled back to the time dimana kamu masih SMP dan bau matahari mampus, we had a little chat.”
“And meeting the you now, it doesn’t seem like you remember seeing me back then. Atau emang kamunya aja yang pelupa, gatau juga sih.”
Mavis mendengarkan sungguh-sungguh apa yang dibicarakan Jo, ia hanya tidak mempunyai lagi energi untuk menanggapi. Dia benar-benar sudah lelah setelah kemarin malam begadang mengerjakan tugas studio nya yang tak kunjung selesai bahkan sampai detik ini. Itu juga menjadi alasan mengapa Mavis tertidur ketika kuliah tadi.
“Terus, plan kamu besok ngapain?”
“Ngikut kamu.”
“Aku kuliah seharian, bosen tau. Mending pake mobilku jalan-jalan. Biar aku naik bus, terus…” Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Mavis tertidur.
Jo tersenyum, lalu mengusap lembut pipi Mavis. Kesedihan kembali terpancar di muka sang perempuan yang kembali ke masa lalu.
“Aku kesini cuma buat kamu, Mei.”
Mavis terlihat damai saat tertidur. Itulah pemandangan Jo sehari-hari sebelum ikut beristirahat, sebelum dunia dengan kejam merebut Mavis darinya.
Setetes air mata jatuh di muka Jo.
*
Agustus 22, 2022.
Suara dering alarm menyambut pagi seorang Mavis. Bagian kanan kasur yang seharusnya ditempati oleh Jo kosong. Dingin seakan telah ditinggali sejak lama. Mavis baru saja akan panik apabila dia tidak mendengar adanya suara kesibukkan dari dapur luar.
Mavis tercenung sebentar, mengembalikan degupan jantung ke ritme normal. Semuanya bukan mimpi.
Ia lalu bergegas menuju ke kamar mandi untuk bersiap menjalani hari.
Tiba di meja makan, sudah ada dua piring roti panggang dengan telur mata sapi diatasnya. Tak lupa dua gelas kopi untuk menemani hidangan.
Mavis menyereput kopinya terlebih dahulu. Komposisinya pas, diseduh dengan krimer susu dan dua sendok teh gula. Mavis memberikan dua acungan jempol kepada Jo dalam hatinya, takut dikira aneh jika benar-benar dilakukan.
“Makasih ya.”
“Kayak sama siapa aja.” Jo mengambil gigitan pertama pada roti ditangannya.
“Kamu emang suka bikinin kita sarapan nantinya, Jo?”
“Nggak sih, itu tugas kamu, Mei. Toh, kamu kerja di perusahaan papahmu yang masuknya sesuka hati.”
Mavis membuat bentuk ‘O’ dengan mulutnya. Dia sendiri tidak terkejut akan informasi tersebut. Papahnya tidak memohon-mohon kepada dirinya untuk mengambil jurusan arsitektur tanpa alasan. Berbeda dengan sang kakak yang memberontak, Mavis menurut.
“Terus biasanya tugas kamu apa di rumah?”
“Arrive home safely from work, abis itu ciuman sama kamu sampe dipisahin warga.” Jo menggoda Mavis sambil mengedipkan mata. Kurang ajar, pikir si anak kuliahan. Muka Mavis lagi-lagi dibuat semerah tomat oleh Jo kesekian kalinya.
Setelah sarapan, Mavis memutuskan untuk mereka segera pergi ke kampus tanpa mencuci alat makan terlebih dahulu. ‘Di depan kampus suka macet, aku gak mau telat.’ , Mavis beralasan sembari menaruh piring dan gelas kotor ke dalam wastafel.
Mavis dan Jo jalan berdampingan menuju gedung fakultas Mavis. Sesampainya di depan pintu ruang kelas Mavis, si gadis yang tengah menjalankan tahun keduanya di universitas itu kembali bertanya kepada Jo layaknya seorang balita yang penuh keraguan.
“Kamu beneran gapapa nungguin, Jo?”
“Iyaaa, Kak Mei. Udah ih, sana masuk.”
Mavis tetap terlihat ragu dan enggan meninggalkan Jo begitu saja. Ia pun mengambil gawainya dari saku celana, memberikan benda itu kepada Jo yang dibuat bingung.
“Password nya 010101.”
“Di deket perpus ada cafe jualan croissant enak, gatau sih kamu suka atau enggak– Intinya kalo laper nunggu pengen ganjel perut, mau beli sesuatu tinggal pakai Apple Pay aku.”
“Kalo ada apa-apa email aja aku, nanti aku cek lewat laptop.”
Tutur Mavis panjang lebar, sedangkan Jo tidak tahu harus berkata apa dan akhirnya hanya terkekeh singkat.
Mavis mengecek jam tangannya, sekarang pukul sembilan kurang seperempat.
“Aku kelas dulu ya.”
*
Kelas selesai ketika arah jarum jam persis menuju angka 12. Tepat di luar ruang kelasnya, Mavis bisa melihat Jo duduk di salah-satu meja yang biasa digunakan mahasiswa lain untuk menunggu kelas dimulai ataupun sekedar mengerjakan tugas.
“Hai.”
“Hey.”
“Ngapain aja kamu?”
Jo yang ditanya mengangkat sebuah kotak plastik berisikan buah cherry, setengah dari isinya cuman tersisa biji.
“Aku laper, kamu belum makan berat kan? Plis bilang belum biar aku ada temen makan sebelum kelas lagi jam 2.”
Jo terkekeh lagi dibuatnya, Mavis merasa telah menjadi orang terlucu sedunia semenjak perempuan itu datang.
“Belum, aku nungguin kamu.”
Mavis memutuskan untuk makan di restoran Italia ramah kantong yang berada lima menit dari kampus menggunakan mobil.
“Kak Jinan gak berhenti text kamu nanyain dimana buat ngobrol, ditelpon aku gak angkat karna ya hp bukan milik aku juga.”
“Bagus, biarin aja. Biar dia yang samperin aku ke kampus. Entah kapan dia terakhir ngampus, aku gak pernah liat.”
Walau satu fakultas dan satu jurusan pula, Mavis jarang sekali melihat sahabatnya itu ikut kelas. Di kampusnya memang absen tidak pernah dihitung, dan Jinan merupakan tipe mahasiswa yang lebih nyaman belajar di waktunya sendiri. Tetapi, orang tua mereka sudah bayar biaya kuliah mahal-mahal, jika fasilitas kampus tidak dipakai semaksimal mungkin sama saja bohong. Jujur Mavis juga masih membolos, tapi tidak sesering Jinan.
Itu juga menjadi alasan mengapa Mavis kerap kali mengunjungi tempat asrama Jinan hanya untuk melihat batang hidungnya.
Kebalikannya, Agis masih rajin pergi ke kampus, dan juga satu gedung fakultas dengan Mavis. Jadi tak jarang keduanya bertegur sapa sembari menunggu kelas bersama jika jadwal kelas mereka berdekatan.
Kini Mavis dan Jo tengah terduduk di restoran Italia yang dimaksud. Interior restoran terkesan nyaman layaknya isi sebuah rumah milik keluarga sederhana dari negara di Benua Eropa tersebut, tak lupa dengan lampu-lampu kuning yang menghiasi langit ruangan.
“Kita pertama kali ketemu dimana, Jo?” Mavis memulai percakapan setelah mereka masing-masing memesan makanan.
“Ya, disini. Di Adelaide. Aku ikut program pertukaran pelajar ke kampus kamu. Kita duduk sebelahan pas penyambutan mahasiswa-siswi baru di stadium. Disuruh sama si emcee buat kenalan sama orang sebelah, itung-itung tambah relasi katanya.”
Mavis kebingungan, “Tapi aku—”
“Iya, kamu sekarang udah mau in your third year disini, dan masa orientasi kamu udah lewat dari kapan tau.”
“Tapi kamu ngomong ke aku waktu itu kalau bosen di apart, sedangkan dua temen kecintaan kamu— Kak Agis, Kak Jinan belum balik dari Indo.” Jo melanjutkan ceritanya, “Jadilah kamu nongkrong stadium, entahlah karena apa lagi selain kurang kerjaan.”
“Emang takdirnya aku ketemu kamu.”
“Gombal mu jelek.”
Mavis dibuat tertawa olehnya, satu hal lain yang Mavis sadar tentang Jo adalah cara bicaranya yang terkadang terkesan blak-blakan. Mavis menyukai itu.
“Saat ini Agustus, kita ketemu empat bulan dari sekarang. December something deh, kayaknya.”
Obrolan kian berlanjut sampai makanan mereka tiba. Entah tak jauh-jauh seputar pertanyaan dari Mavis tentang masa depan, ataupun pembicaraan random mengenai kebenaran akan adanya keberadaan alien di dunia ini.
Tidak lama kemudian, detakan sepatu heels di lantai terdengar mengarah menuju ke arah meja mereka. Mavis mendongak ke atas untuk mencari tahu siapa yang menghampiri mereka.
“Mavey?!”
Ternyata orang itu adalah Victoria. Kenalan Mavis di kampus yang Jinan sempat kira adalah pacarnya.
“Oh. Hai, Vic.” Balas Mavis tersenyum sopan.
Victoria merupakan perempuan yang baik dan suka menolong Mavis seputar tentang perkuliahan. Itulah mengapa dia masih mau berteman dengannya sampai saat ini, namun ini menjadi kali pertama Mavis melihat temannya itu penuh dengan emosi.
“Hai? Hai? Hai?? Who’s this woman with you?!”
Disitulah Mavis mulai merasa tak nyaman. Victoria baru saja mengundang perhatian tak layak dari pekerja dan juga pelanggan lain dengan segala bentakannya. Mavis menatap kilat kepada Jo, yang membalas dengan senyuman manis kemudian menggenggam tangan kiri Mavis di atas meja.
“Ini Jo, dia–”
“Girlfriend. I’m her girlfriend.” Jo menyeringai usil, seakan senang bermain-main dengan Victoria. Teman kuliah Mavis itu melotot sejadi-jadinya. Begitu pula Mavis diantara keduanya.
“Excuse me? Mavey, is this true?!”
“Ya– uhm, well– eh—”
Tanpa ba-bi-bu Victoria menyemburkan air di gelas milik Mavis kepada sang empu, sebelum melangkah keluar dari restoran penuh oleh amarah.
Mavis diam kebasahan, termenung sejenak mencoba untuk mencerna akan apa yang baru saja ia alami. Andai saja gadis malang itu tahu bahwa penderitaannya masih belum selesai, karena tak lama kemudian semburan air yang kedua kalinya— sekarang dari gelas milik Jo, datang kepada Mavis.
Itu adalah perbuatan dari Jinan, yang sedari tadi diam-diam menonton perdebatan antara ketiga cewek dari ujung restoran. Kapan lagi bisa menyaksikan drama siang hari secara live dan gratis? Jinan pikir.
“Anjing?!” Umpat Mavis, sekarang dia semakin terlihat seperti anak anjing yang basah kuyup kehujanan di luar.
Belum ada pekerja restoran yang berani menghampiri meja mereka sampai detik ini dan ikut campur tangan. Bahkan Jo pun tak bisa berkata-kata, dia yang sudah melampaui masa kuliahnya sejak lama, sangat kagum dengan drama yang anak-anak muda di hadapannya bisa ciptakan.
“ I knew you’d be here. Kenapa lo ga jawab-jawab chat gue?!” Marah Jinan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Mavis.
“sibuk kelas, emangnya situ?”
“Cih, dateng kelas buat numpang tidur aja bangga.”
Katakanlah sudah terlalu banyak energi yang terkuras untuk Mavis menghadapi hari ini, belum lagi ia masih ada kuliah dalam sekitar satu jam, namun Mavis menjadi orang diantara mereka yang terlebih dulu minta maaf.
Mavis beralasan bahwa handphone-nya ada dalam mode Do Not Disturb, sama sekali tidak menyinggung kalau sedari tadi benda itu berada di tangan Jo.
Jinan pun ikut merasa tak enak meski sebelumnya telah menganggap situasi Mavis lucu, dan berjanji meminjamkan Mavis jaket juga baju ganti sebelum Mavis balik ke kampus karena posisi asramanya yang jauh lebih dekat dibanding apartemen pribadi Mavis. Teman masa kecil Mavis itu kemudian menawarkan Jo untuk menunggu ‘istri’-nya selesai kuliah di tempatnya saja, yang secara mengejutkan di-iyakan oleh sang perempuan.
Sebelum pamit dari ruang asrama, Mavis mencoba mengajak Jinan ikut kuliah yang tentunya gagal. Jinan beralasan kalau ia takut besok kelelahan saat perjalanan kunjungan lapangan esok pagi, padahal realitanya Mavis juga akan ikut.
Mavis bermaksud menutup pintu jika saja Jo tidak menahan dan menyodorkan sesuatu padanya, “Dompetmu, ketinggalan di jaket yang tadi. Hati-hati.”
*
Agustus 23, 2022.
“This is your bojo, Vis?”
“Jin, kamu stop deh ajarin Agis yang enggak-enggak.”
“Hey, I just taught her some bahasa Jawa, dodol. Sekali-kali anak papi ai satu ini harus ditatar ilmu kabupaten. Ya gak, beb?”
“Whatever you say, Nan.” Perempuan yang bernama Agis itu menjawab.
Jinan, dia terlihat lebih baik hari ini pasca Jo yang mengutarakan informasi bombastis tentang dirinya dan Agis tempo hari. Mavis bersyukur akan hal itu, ia tahu Jinan resah adalah Jinan yang rese kepadanya. Contoh gampangnya tragedi kemarin, dimana dia tak berhenti mencoba menghubungi Mavis sampai-sampai nekat menghampiri tempat makan langganannya dengan sebuah harapan bisa menemui Mavis.
Untungnya, emosi Jinan sudah mereda. Entah apa yang sahabatnya dan Jo diskusikan kemarin siang selagi menunggu Mavis pulang kuliah.
“By the way, lo disini sampe kapan, Jo?” Tanya Jinan.
“Gatau sih, tergantung Dia nya aja.”
Tidak ada yang tahu siapa yang dimaksud dengan ‘Dia’ oleh Jo, sedangkan Mavis dan Jinan terlalu takut untuk bertanya. Agis yang belum tahu perihal kondisi Jo dan ingin tahu siapa ‘Dia’, tak jadi bersuara ketika Jinan meremas tangan kanannya yang tidak sibuk dengan setir dari kursi samping pengemudi. Memberi kode kalau lebih baik tidak bertanya.
Jinan dan Mavis sepakat untuk tidak memberi tahu tentang keadaan Jo kepada Agis mengingat karakter teman mereka yang overthinker.
Mavis menoleh ke kanan di kursi belakang mobil. Jo sibuk memandang ke luar jendela, mencoba menyembunyikan ekspresinya saat itu.
Seperti diduga, angin di pantai sangatlah kencang. Matahari yang bersinar terang pagi itu masih tak dapat mengalahkan suhu musim dingin Australia.
Mavis dan Jo berjalan berdampingan di tepi pantai Tennyson, terletak kurang lebih 11 kilometer dari pertengahan Kota Adelaide. Jinan dan Agis terpencar dari mereka tidak tahu dimana.
Agenda hari itu sebenarnya tidaklah berat, Mavis dan Jinan hanya perlu mengambil beberapa foto lokasi untuk tugas mereka mendesain sebuah holiday house dimana keluarga bisa berkumpul. Mereka juga dianjurkan dosen untuk bercengkrama singkat dengan warga-warga lokal agar lebih mendalami keadaan sekitar daerah.
“Tau gak, kita honeymoon-nya di Bali.”
“Oh, ya?”
“Iya, semingguan motoran terus kita kemana-mana, setiap sore ke pantai. Aku yang suka fotografi selalu nenteng tas kamera— walaupun ribet kadang, kamu gak pernah ngeluh.”
“Yah, coba disini aku punya motor.”
“Gak usah ngada-ngada. Kamu rawan sakit kalo cuaca udah dingin, Kak.”
“Ok, DEK.” Jawab Mavis penuh penekanan pada kata terakhir, dia melanjutkan: “Kenapa sih, kamu selalu manggil aku ‘Kak’ kalo juteknya mulai keluar?” Mavis bertanya, benar penasaran.
“Karena kamu nyebelin.”
“Dih?”
Jo menjulurkan lidahnya kepada Mavis, sebelum lanjut berlari kecil kearah Jinan dan Agis yang akhirnya terlihat tak jauh dari mereka.
Mavis menggeleng kepala. Seperti anak kecil saja, pikirnya. Jo seharusnya menjadi yang lebih tua diantara mereka saat ini, tetapi kelakuannya kadang lebih kekanak-anakan.
Mavis disibukkan dengan pengambilan data selama dua jam kedepan. Mengambil foto, wawancara singkat orang-orang, menyelidiki bangunan-bangunan di sekitar, juga bertukar hasil riset dengan Jinan.
Terkadang, ia mencuri-curi pandang pada Jo yang juga sibuk sendiri. Agis meminjamkan Jo kamera digitalnya yang kebetulan tertinggal di mobil, karena memang Agis tidak ikut kesana untuk tugas, hanya sebagai pengemudi tak dibayar. Diantara ketiga sekawan, Agis menjadi satu-satunya dari mereka yang beda jurusan.
Jo kesana-kemari dilapisi jaket North Face milik Mavis yang terlalu besar. Sesekali menghampiri Mavis untuk memperlihatkan hasil jepretan, untungnya Mavis pernah mengambil kelas fotografi dulu jadi dia tidak merasa terlalu bodoh ketika Jo menjelaskan gambar yang diambilnya dengan istilah-istilah dari bidang tersebut.
Kini, Mavis dan Jinan tengah beristirahat di salah-satu meja yang tersedia pada kawasan pantai. Tak jauh dari mereka, Agis sedang disiksa oleh Jo sebagai model foto dadakan baginya. Mavis diam memperhatikan perempuan yang telah menemaninya dua hari belakangan.
“Sumpah tapi emang ya coklatnya Dairy Milk tuh gak ada yang ngalahin, Mpis.” Jinan berkomentar sambil mengunyah coklat yang Mavis bawa dari apartemen.
Di kejauhan, Jo tertawa lebar ketika melihat Agis lompat kedinginan terkena air laut.
“Kayak. Manis banget sih jujur, tapi enak.”
Jo menyelipkan rambut panjangnya ke belakang kuping agar dapat melihat hasil jepretannya di kamera lebih jelas.
“Mpis?”
Jo tersenyum menampilkan gigi kelincinya kepada Mavis setelah sadar diperhatikan olehnya. Perempuan itu melambai semangat, Senyum Mavis melebar.
“...Kak Mei.”
Senyum Mavis langsung musnah detik itu juga, menatap horor kepada Jinan yang baru saja memanggilnya menggunakan panggilan eksklusif dari Jo untuk dirinya.
Jinan yang tahu ia telah menjadi sasaran empuk bagi Mavis, buru-buru berdiri dari duduknya untuk melarikan diri. Mavis ikut lari mengejar Jinan tidak jauh dari belakang.
“PALA MU AKU JITAK, SETAN!”
Memori siang itu tak luput dari pikiran Mavis ketika malam menyambut dan waktu istirahat tiba. Senyum Jo yang menampilkan deretan gigi, dan merdunya suara tawa Jo yang seakan membisukan angin kencang pantai.
Mavis memposisikan badannya agar dapat menghadap Jo yang sudah lebih dulu tertidur pulas.
“I hope I’ll be as good to you as you are to me now when we finally meet, Jo.”
*
Agustus 23, 2022.
Tak terasa sudah hari keempat Jo bersamanya. Sekarang adalah hari Sabtu, dan sebagai pelepas penat dari tugas-tugas kuliah yang kunjung tak ada habisnya, Mavis membawa Jo ke pertunjukan orkestra di daerah kota.
Mereka pergi menuju aula konser menggunakan bus ketika senja datang. Jo mengaku sebelumnya bahwa dia rindu dengan suasana menaiki transportasi umum di Adelaide.
Keduanya duduk di barisan paling belakang bus, sebab jarak antara apartemen Mavis dan tempat konser yang lumayan jauh.
Saat itu bus tidak terlalu ramai dengan penumpang.
”We’re watching Rachmaninoff Piano Concerto number 2, ” Mulai Mavis.
”Honestly, that third movement changed my life. I stumbled upon a recording of the whole concerto on YouTube once. It feels desperate, as it is romantic. I confess I am not much of a classical music geek, and I don't want you to see me as someone pretentious. Truthfully, I can only name a few classical pieces off the top of my head.”
“That’s why I was very excited to ajak kamu ikut this morning, because this will also be my first time seeing a concert.” Tutup Mavis terhadap ceritanya.
”Is that so?”
“Yes!”
“Well, then, love. I’m glad I am able to come.” Jo tersenyum, lalu tampak sedikit ragu untuk mengutarakan kalimat berikutnya. “I also happen to love Rachmaninoff because of a certain someone, Mei.”
Mavis tidak bertanya siapa, sudah tahu akan jawabannya.
“Can I ask you something?”
“Shoot.”
“What is ‘Jo’ short for?”
“Josephine. Josephine Ning.”
“Waw, kamu ada darah China nya ternyata.”
“Kurang Chindo apalagi muka ku ini, kak?” Gurau Jo sambil menunjuk-nunjuk mukanya sendiri.
Keduanya tertawa.
Seturunnya di halte bus, mereka perlu menyeberangi jalan untuk tiba pada aula konser.
Mavis dan Jo berjalan beberapa meter menuju arah lampu merah dimana orang-orang menyeberang melalui zebra cross.
Entah mengapa, Jo tiba-tiba saja terlihat gusar disebelahnya ketika berhenti di lampu merah. Selama mereka bersama memang mereka tak pernah ada kesempatan untuk menyeberang jalan karena selalu bepergian dalam mobil pribadi.
Mavis mengambil konklusi kalau Jo takut dan mempunyai ketakutan terhadap seberang jalan.
“Kamu gak papa?”
Jo mengangguk singkat.
Mereka pun akhirnya melangkah maju ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Zebra cross yang Mavis dan Jo arungi memang bisa terbilang lumayan panjang dan ramai saat itu, maka Mavis berinisiatif menggenggam pergelangan tangan Jo untuk berjaga-jaga.
Semuanya terjadi dengan lancar dan mereka tiba di sisi lain jalanan secara aman. Namun Jo mendadak memberhentikan langkahnya, Mavis langsung tersadar atas aksinya karena dia masih setia memegang lengan Jo.
“Jo?”
Mavis menoleh ke arah Jo, ia terlihat pucat dan cairan merah pun keluar dari hidungnya.
“Jo?!” Mavis ikut bergetar memegangi kedua bahu perempuan dihadapannya.
Waktu seakan berhenti untuk Mavis saat itu juga. Ia tak tahu apa yang terjadi, yang pasti dia tidak ingin kehilangan hangatnya kehadiran seorang Jo yang belum lama ia kenali.
Mavis sadar bahwa dia akan bertemu Jo lagi di waktu yang tepat Desember nanti, tetapi jika Jo yang di depannya saat ini tidak lagi bisa sadarkan diri, bagaimana nasib Mavis yang ada di masa depan? Apakah versi dirinya yang lebih berumur akan ditinggal sendirian? Kasian sekali.
Mavis sungguh tidak memahami cara time travel bekerja.
“Josephine!” Mavis memanggil sekali lagi.
Badan Jo hendak terhuyung ke bawah apabila Mavis tidak mendekapnya,
Semua berubah menjadi hitam untuk Jo.
*
Desember 17, 2022.
Satu kata untuk menggambarkan Mavis saat pertama kali Jo bertemu dengannya adalah: ‘slengean.’
Mavis yang pada pertemuan pertama mereka hanya menggunakan sendal jepit, celana kargo pendek dan baju abal-abal. Berbanding terbalik dengan Jo yang sudah dari kemarin malam mencoba berbagai macam pasang baju untuk dipakainya di hari perdana ia menjadi mahasiswi di salah-satu kampus bergengsi di Adelaide.
Jujur saja, Jo hampir ingin menolak saat Mavis hendak menyalaminya untuk berkenalan, jika tidak karena tampangnya yang bak model majalah Bobo.
Namun, menilai orang dari luar seringkali dibantah oleh realita ketika sudah mengenal orang itu lebih lama.
Mavis yang setia kawan kepada teman-temannya, tak terkecuali Jo yang notabenenya saat itu hanyalah seorang kenalan baru. Mavis selalu menemaninya yang ambis untuk belajar bersama di perpustakaan kampus, walau kerap kali si perempuan itu tertidur pulas di meja sedangkan Jo lanjut menulis laporan.
Mavis yang ternyata suka berpakaian cantik, cuman saja saat mereka pertama kali bertemu di stadium itu dia sebenarnya benar-benar tidak ada niat mengunjungi kampus sebelum menit-menit terakhir.
Jo ingat, kala kencan perdana mereka di restoran Italia favorit Mavis dekat kampus, dia dan Mavis memakai kardigan biru yang persis sama tanpa direncanakan. Alhasil, ledakan tawa tercipta oleh keduanya. Sebagai bentuk memori, foto dari malam itu terpajang di kamar mereka setelah menikah.
Menurut Jo, sifat Mavis yang penyayang dan berhati lembut adalah bagai pedang bermata dua.
Karena itulah yang membuat Jo jatuh cinta kepada Mavis, tetapi itu juga menjadi alasan Jo kehilangan separuh jiwanya.
Ketika Jo dikabarkan bahwa Mavis tewas meninggalkannya lantaran mencoba menyelamatkan seorang anak kecil yang menyeberang lampu merah sendirian tanpa diawasi wakil, rasa marah yang memalukan tumbuh di dalam lubuk hatinya.
Kemana orang tua anak itu?
Kenapa Mavis tidak bisa egois sedikit?
Kenapa harus Mavis?
Kenapa harus Mavis yang meninggalkan dia terlebih dahulu?
*
April 9, 2016.
Bagaikan situasi ajaib, Jo terbangun di sebuah warkop tak tahu dimana. Terakhir Jo ingat, dia sedang mengurung diri di kasur miliknya dan Mavis. Kasur berantakan, tisu berserakan.
Jo kembali teringat akan Mavis yang meninggalkan.
Jo mengusap-usap mata, mengecek kondisi sekitar. Tempat itu dipenuhi oleh anak-anak sekolahan, dan ternyata Jo tidak sendirian di meja yang sementara ia labuhi. Diseberangnya, terduduk manis seorang gadis SMP dengan tatapan penuh tanya.
Mavis ada dihadapannya. Jo selalu bakal mengenali pandangan teduh itu.
“Siapa kamu?” Tanya Mavis muda.
Bendungan air mata terbentuk di mata Jo. Jujur, ia lelah menangisi orang yang sama belakangan ini.
Suatu ketika, Mavis pernah bercerita kepadanya. Bahwa pada masa dia masih berada dibangku sekolah menengah, Mavis pernah berkelahi hebat dengan seorang murid lelaki karena memergoki siswa tersebut menendang kucing jalanan ketika jam pulang sekolah tiba.
Tak terima, Mavis menarik kerah cowok tersebut dari belakang dan menonjok mukanya. Tetapi dikarenakan perbedaan fisik yang signifikan, tentunya Mavis tak lama tumbang setelah dibanjiri serangan tangan dari sang lawan. Alhasil, dia harus izin dari sekolah selama seminggu karena hidungnya yang patah. Jo meringis mendengar cerita sang istri, yang malahan hanya tertawa mengingat betapa loyo dia dulu— bahkan hingga sekarang.
Jo bilang, andai saja ia sudah bertemu Mavis sejak itu, pasti dia akan tak segan mematahkan hidung si cowok sebagai balasan. Jo memiliki fisik yang kuat, berbanding terbalik dengan hatinya yang mudah patah.
Kini anak remaja itu ada dihadapannya, plester tertempel pada hidung mancungnya, dan Jo tidak bisa menyimpulkan apapun lagi kecuali semesta sedang memainkan keadaan mental Jo yang sedikit lagi gila.
“Mpis, ayo buruan! Bunda gue udah nunggu di depan buat jemput kita les!” Sahut remaja yang satunya, berdiri diambang pintu masuk.
Gadis yang dipanggil ‘Mpis’ itu bangkit dari duduknya sambil buru-buru merogoh sesuatu dari kantong rok birunya.
Mavis menyisihkan dua lembar uang warna hijau untuk Jo di meja.
“Getok aja, kak, kepala orang yang udah bikin kakak nangis.”
*
November 4, 2030.
Pukul 2:45.
Jo merasa sesak bernafas. Ia tidak lagi berada disamping Mavis untuk menyaksikan pertunjukan orkestra, teringat bahwa dia hilang kesadaran sesaat menyeberangi jalan.
Ia tidak lagi berada di Adelaide bersama Mavis.
Dengan tergesa Jo melihat kondisi sekitar, sejauh ini dia sudah kembali ke masa Mavis masih menjadi anak sekolahan, kemudian kuliah, dan sekarang—
Dia berada di dalam restoran Padang dekat kantor istrinya. Menempati salah-satu meja disana dekat pintu masuk.
Seakan magnet, Jo mendapati Mavis yang tengah berdiri pada trotoar jalan di luar. Jo bisa melihat figur si wanita melewat pintu kaca transparan restoran. Mavis sedang menunggu lampu merah untuk bisa melintasi jalan.
Seketika Jo sadar terhadap situasinya sekarang.
Ini adalah detik-detik sebelum Mavis terkena kecelakaan.
Jo berlari ke luar.
Belum sempat Jo dapat menghampiri Mavis, tiba-tiba saja dia mimisan dan pingsan saat baru sampai tepat diluar depan pintu restoran, masih jauh untuk mencapai Mavis. Fenomena yang serupa seperti saat-saat terakhir dia di warung kopi dan Adelaide.
Jo kembali terbangun dalam posisi yang sama, yaitu terduduk di kursi restoran padang.
Dia mencoba lagi untuk pergi ke luar, namun nihil.
Jo bangun untuk ketiga kalinya di dalam restoran. Tadinya ia berniat mencoba cara lain dengan rencana menelpon Mavis, sebelum sadar bahwa gawainya sedang tidak ada digenggamannya.
Jo pun kembali berlari ke luar. Sama saja.
Kali keempat, Jo meneriaki nama Mavis dari pintu rumah makan yang terbuka, peduli setan dianggap seperti orang sinting.
Namun itu malah membuatnya semakin sakit akal.
Tidak seperti percobaan-percobaan sebelumnya, Jo tidak langsung dibuat pingsan. Melainkan ia diperlihatkan oleh semesta secara langsung bagaimana ia kehilangan istrinya.
Teriakkan Jo yang tak terdengar dari depan pintu restoran dikarenakan jarak dan ramainya sekitar, membuat Mavis terus sibuk dengan dirinya sendiri dibawah lampu merah. Jo takut jika mencoba melangkah maju dia hanya akan kembali ke posisi semula di dalam tempat makan.
Apa yang terjadi selanjutnya berjalan seperti mimpi buruk yang terlalu nyata untuk Jo.
Mavis berlari mengejar seorang anak kecil— tak lebih dari enam tahun, yang dengan sembarang mencoba untuk menyeberangi jalan sendiri ketika lampu masih merah. Orang tuanya tak terlihat dimana-mana.
Warna merah pekat seketika mendominasi jalanan, anak kecil itu lolos tanpa cedera dan dibawa kembali ke trotoar oleh orang ketiga. Beda cerita dengan wanita yang telah menyelamatkannya.
Jo mengeluarkan suara pekikan yang hampir tidak manusiawi dari mulutnya. Terjatuh kepada dua lutut, kepala Jo terasa berat seakan menolak apa yang baru disaksikan.
Dia baru saja melihat langsung bagaimana cinta matinya kehilangan hembusan nafas terakhir.
Ketika Jo mencoba memaksa kedua kakinya untuk berdiri agar dapat berlari ke arah Mavis, penglihatan Jo kembali gelap.
*
November 4, 2030.
Pukul 8:09.
Senandung lembut menyeluruhi indera pendengaran wanita yang kini terbaring tidur.
Jo terbangun di kasur yang sudah hampir lima tahun menemaninya dan Mavis.
Mavis.
Mavis dan tubuhnya yang dibaluti oleh darah, terakhir dia lihat.
Jo cepat-cepat bangun dari kasur dan akan lari tanpa arah apabila bahunya tidak ditahan oleh seseorang.
“Whoa, hey, you okay?” Mavis. Itu Mavis di depan Jo, suhu telapak tangannya hangat menembus baju tipis milik Jo.
Wanita tersebut terlihat siap berangkat pergi menggunakan pakaian kerja yang persis sama ketika maut membawanya pergi. Namun dia masih hidup, Jo bisa merasakan hembusan nafas Mavis. Betapa senangnya.
Itu adalah pagi yang sama sebelum kecelakaan terjadi, Jo sadari.
Jo memeluk tubuh Mavis yang nyata dari atas kasur, membuat Mavis berdiri kewalahan sedikit sebab menjadi yang lebih tidak berotot diantara keduanya. Meski begitu, ia tetap membalas pelukan sang istri.
Tak lama, tiada angin, tiada hujan, Jo mengetuk keras kepala Mavis.
“Aw!”
“Gak usah kerja hari ini, Mei. Aku mau sama kamu.”
Mavis merenggangkan pelukan mereka agar bisa melihat wajah Jo, kedua tangan masih setia bertengger pada bahu istrinya. Wanita yang tadinya hendak berangkat kerja menatap kasihnya.
“Okay, I’ll tell papah aku gak ke kantor hari ini, because my wife wants me and she would be lonely.”
“Ya.”
Semenjak waktu itu, terkadang mimpi buruk masih datang menghampiri Jo. Memori akan tubuh Mavis yang tidak berdaya tidak pernah sepenuh lenyap dari otaknya.
Ada hari-hari dimana Jo menghindari Mavis sepanjang hari sebab tak sanggup menghadap mukanya, dikarenakan ingatan akan kecelakaan Mavis yang sangat nyata. Wajah istrinya yang penuh darah membuat Jo trauma. Jo pikir, itu adalah konsekuensi karena sudah diberi kesempatan kedua dipertemukan kembali dengan Mavis.
Awalnya mereka sempat bertengkar akan perubahan sifat Jo yang tiba-tiba, tetapi Jo sungguh terlihat rapuh ketika Mavis mencoba untuk membuatnya bercerita dan Mavis tidak tega. Mavis menyarankan terapi, Jo tidak mengelak.
Jo selalu meminta maaf ketika ia suka tiba-tiba menghilang seharian tanpa bisa dikabari ataupun lebih memilih menetap di rumah keluarganya untuk beberapa waktu. Mavis selalu memaafkan walau Jo tetap enggan memberi alasan.
Jo berjanji akan memberitahunya ketika sudah siap.
“I still don’t think I’m ready to tell you.” Kata Jo, suatu malam tatkala memori buruknya lagi-lagi datang menghampiri. Mavis yang merasa kegusaran sang istri ikut terbangun dan langsung memberi peluk.
“That’s okay. We have plenty of time.”
“No, we don’t.” Ketus Jo.
Mavis berhenti mengusap punggung Jo didekapannya.
“Huh?”
“We don’t always have that. Time. For all I know, I could lose you anytime, kak.” Jo meremas baju tidur milik Mavis.
Mavis dibuatnya termenung.
“Well, then. If that happens, I will beg Him to return me to you. Tell Him to warp the universe for all I care, so you could meet me once more. Make you happy.”
Jo tidak mengelak perkataan tak masuk akal dari Mavis,
“And if in return I get hurt in the process?”
“I’ll be there to mend your wound. Meski kamu sakit berkali-kali, berkali-kali itu juga aku akan mengobati luka kamu. If you are selfish enough to make yourself hurt just to see me again, then there’s nothing I can do but be by your side. Because I am also selfish, to always want your love, and to love you.”
*
***** **, ****
“Mei, kamu kenapa ngebet banget sih nikah sama aku?”
“... Kamu nyesel, Jo? Yang bener aja, kita ini baru hari pertama bulan madu.”
“Nggakk gitu, Kak Mei. Maksudnya kita ini baru lulus S1 dan wow ternyata hidup kita tuh kek, masih panjang banget, and we’ll be by each other’s side for all that time— actually, that’s not at all bad, what am I talking about.”
“Literally what we both signed up for at the altar, Jo.”
“Ya.”
“Kebanyakan baca opini unpopular opinion about sapphic relationships di Twitter kamu.”
“Perks of marrying a chronically online girlie.”
“Sini hapenya mamah sita.”
“Stop sebelum aku lempar kamu ke laut.”
