Work Text:
“Siswa yang sudah menyelesaikan ulangan, bisa bantuin pak Yotsumura di lapangan, yang cowo aja tapi” Kata Pak Kindaka guru Matematika SMA 01 XX yang sedang duduk dimeja guru sambil melipat lengannya.
“Ehh? Yang benar saja pak.” Kata Shin yang sedang berdiri di depan meja guru melongo, ia baru saja mengumpulkan kertas ulangan Matematikanya.
Saat ini adalah jam pelajaran terakhir, tesnya tidak terlalu sulit untuk Shin dan ia pikir kalau selesai diawal ia bisa pulang duluan, dimana biasanya memang seperti itu. Tapi tentu saja apa yang ia rencanakan tidak terjadi.
“Benar dong nak masa bapak bohong. Ini baru kamu yah cowok yang kumpulin?” Tanya Pak Kindaka.
Shin melirik ke arah Natsuki Seba, sahabatnya. Tetapi saat mata mereka bertemu, Natsuki malah mengalihkan pandangan ke kertas ulangannya lagi, terlihat sedang mengerjakan. Shin tau kalau itu omong kosong.
‘Itu anak harusnya udah beres anjir’ kata Shin dalam hati. Wajahnya cemberut menatap Natsuki dengan garang. Natsuki masih menggerakkan pena nya entah menulis apa.
“Sialan.” Dengus Shin pelan sekali.
“Iya pak, baru Shin aja.” Kata Lu Shaotang sambil mengangkat tangan. Semangat sekali dia melihat temannya akan menjadi babu.
“Yaudah Shin, kamu langsung kelapangan yah.” Kata Pak Kindaka.
Shin dengan tidak niat keluar dari kelasnya. Ia berjalan sangat pelan, berharap tidak akan sampai di lapangan. Alasannya adalah karena ia mager ngebantuin anak kelas 12 yang sedang menyiapkan acara pensi. Lapangan sekolah penuh dengan siswa yang sedang sibuk mondar-mandir melakukan persiapan untuk hari H. Meski ia memperlambat langkahnya ia tetap sampai juga dipinggir lapangan.
Shin menghela nafas.
Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan berniat mencari anak kelas 10 sepertinya, tetapi tidak ketemu. Shin berjalan pelan mengitari lapangan mencari pak Yotsumura, ia gugup sekali karna lapangan itu PENUH dengan anak kelas 3. Shin bukan orang yang suka bersosialisasi, kakak kelas yang ia kenal literally cuma satu, yaitu mentornya saat Orientasi Siswa.
*BUGH* Kepala Shin menabrak kursi yang sedang dibawa seseorang.
“Maaf kak.” Kata Shin cepat.
“Punya mata dipakai.” Suara kakak kelas didepannya lantang.
Shin menengok wajahnya. Akao Rion, kakak kelas famous yang hobi ngelabrakin semua orang. Tidak ada yang tidak kenal dengan cewek rambut biru ini Si Juara Debat dari SD.
Shin menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Maaf Kak.” Ia tidak tau lagi harus bilang apa.
Rion hanya meliriknya lalu lanjut berjalan, mulutnya yang sedang mengulum permen tersenyum tipis seperti menahan tawa. Wajah Shin memerah, ia pasti kelihatan payah sekali.
Shin mendengus dan menarik nafas mencoba melupakan peristiwa itu. Ia pun berbalik untuk mencari pak Yotsumura lagi.
“Aduh.” Kepala Shin menabrak sesuatu untuk kedua kalinya, kali ini Shin berani bersumpah bukan salahnya karena orang itu yang muncul tiba-tiba!
Shin melihat si pelaku yang menabraknya.
“Woahh.” Shin tercengang.
‘KAK SAKAMOTO.’ Seru Shin dalam hatinya yang mendadak berbunga-bunga, siapa sangka ia akan menabrak orang yang disukainya.
“Maaf.” Kata Sakamoto singkat lalu berjalan melewati Shin.
Shin yang tergagap tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia senang bisa melihat kak Sakamoto sedekat itu, biasanya hanya sekilas dikantin. Ia memegang kedua pipinya yang menghangat.
“Berhenti degdegannya bodoh.” Shin bergumam. Saat sedang menenangkan dirinya,
tiba-tiba kepala Shin terbentur sesuatu yang keras lagi.
“ANJING!” Teriak Shin emosi.
“Eh, ga keliatan ada orang.” Suara dari Nagumo teman dekatnya kak Sakamoto terdengar.
Cowok jangkung didepannya adalah sahabat dari kak Sakamoto, orang yang disukainya. Shin mengetahui namanya karena setiap ketemu kak Sakamoto, Nagumo selalu berada didekatnya. Kalau diingat-ingat kak Rion juga selalu ada bersama kak Sakamoto.
Shin melihat Nagumo yang sedang mengangkat kursi dari ruang serbaguna, kursi yang sama yang sudah membuat benjol kepalanya. Shin berjanji dalam hatinya jika sekali lagi ia menabrak kursi itu, Shin akan membakar sekolah ini.
“Lu anak kelas mana?” Tanya Nagumo.
“Kelas 10 A kak. Sorry tadi ga liat jalan.” Kata Shin berusaha menjaga tata krama dan sopan santun meski kepalanya nyut-nyutan habis ditabrak kursi 3 kali.
“Ngapain lu disini?”
“Disuruh bantuin pak Yotsumura… kakak tau si bapak kemana ga?”
“Gak tau. Sini deh lu ikut gue aja.” Kata Nagumo. Shin mengangkat bahu dan mengikutinya menuju tenda di depan panggung, disitu ramai sekali.
“Woi liat nih ada dekel.” Kata Nagumo mengumumkan keberadaannya kepada kelompoknya yang sedang menyusun kursi. Shin melihat ada empat orang yang menolehkan kepala kearahnya termasuk kak Sakamoto.
“Ya terus kenapa.” Kata Rion lalu menyipitkan matanya.
“Lah yang tadi nabrak gue.” Rion menunjuk Shin dan berseru dengan nada memprovokasi.
Mata Shin melebar.
“Sengaja nabrak elu?” Tanya Sakamoto.
“HAH! ENGGA KAK SALAH PAHAM, TADI GA SENGAJA ” Jelas Shin panik.
Rion tertawa terbahak-bahak. Teman-temannya yang lain melihat dengan ekspresi menghakimi.
“Lu jangan ngebully anjir.” Kata Sakamoto.
“Iya si Rion parah asli.” Kata Nagumo seolah-olah mengomeli tetapi bibirnya tersenyum sumringah. Shin melihat wajah Nagumo dengan kesal. Nagumo memegang bahu Shin.
“Nama lu siapa?” Tanya Nagumo.
“Shin. Gue harus ngapain yah kak?” Tanya Shin to the point, ia merasa tertekan berada di tengah-tengah para seniornya itu.
“Gini Shin, kita punya tugas untuk lu, tau kan Mixue di sebelah sekolah, nah lu beliin yah, kita nitip minuman. Tenang, lu juga boleh beli kok, kita bayarin.”
“Buset Nagumo, lu lagi ngidam mixue apa gimana anjir dari tadi.” Kata Rion.
“Tau ga sabar banget.” Gaku ikutan komen.
“Kasian tuh adek kelas lu suruh-suruh.” Tambah Uzuki.
“Sok baik lu pada, sat. Ya udah punya gue aja yang dibeli.” Nagumo merogoh sakunya.
“Eh jangan gitu dong. Gue nitip.”
“Gue juga.”
“Gue juga.”
“Emang anjing.” Kata Nagumo.
“Shin, kita lagi pada di hukum gegara kemarin ikut tawuran. Jadi, sampe jam 5 sore kita ga boleh keluar sekolah dan harus bantuin buat pensi. Sorry ngerepotin tapi gue juga nitip.” Kata Sakamoto menatap Shin.
Kepala Shin mau pecah. ‘ANJIR SATU GENG SEENAK JIDAT SEMUA, MANA KAK SAKAMOTO JUGA.’ Pikirnya.
“Hum… tapi ga akan ketahuan nih kak?” Kata Shin memikirkan dirinya yang akan melanggar aturan sekolah demi membelikan para seniornya Mixue.
“Tenang, kita ada jalan rahasia. Guru gaakan lewat situ” Kata Nagumo.
Shin tidak bisa menolak, apalagi melihat tatapan dari geng yang sangat menonjol itu, ia baru sadar anak kelas 12 lainnya berjarak agak jauh dari kumpulan para berandal ini.
“Oke.” Shin menyerah.
“Sini gue anter, nah pas balik lu tunggu lagi dilorong itu sampe gue jemput.” Kata Nagumo.
Shin mengangguk lalu kembali berjalan mengikuti kakak kelasnya yang tinggi sekali itu. Shin kaget saat Nagumu meraih tangannya untuk digandeng.
“Sini.” Nagumo menarik tangannya.
Mereka masuk ke semak-semak. Lalu seketika tiba di bangunan sekolah lama yang tidak lagi dipakai, pagarnya sudah rusak dan bolong sehingga yang tembus keluar sekolah.
“Nih uang sama pesenannya.” Nagumo memberikan uang dan kertas kecil.
Shin dari tadi tidak berbicara apapun dan memasang muka jengkel. Nagumo mencolek pipinya.
“Jangan cemberut gitu dong.” Kata Nagumo.
“Idih. Males banget” Kata Shin spontan. Lalu cepat-cepat lari keluar sekolah meninggalkan Nagumo.
Selama berada di Mixue wajah Shin masam, sambil mendumel dalam hati kenapa ia bisa jadi sasaran bully geng aneh itu, bahkan kak Sakamoto juga. UGH hatinya sakit saat memikirkan kak Sakamoto juga melihatnya disuruh-suruh sama Nagumo. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, lagipula ia sudah melakukan apa yang disuruh. Setelah pesanannya selesai ia kembali ke jalan rahasia, saat sampai di lorong sekolah lama, ia tidak melihat Nagumo disitu. Shin menunggu sambil memikirkan bel sekolah yang akan berbunyi sebentar lagi, dia baru ingat teman-teman sekelasnya pasti tidak ada yang mengumpulkan lebih awal selain dirinya. SIALAN.
“Lama sekali si Nagumo itu.” Kata Shin.
Shin mendekati semak-semak yang merupakan gerbang dari jalan rahasia ini, niatnya untuk mengintip. Tiba-tiba saja Nagumo muncul dari semak-semak dan menghantam Shin. Perbedaan badan Shin dan Nagumo yang sangat kentara apalagi dari tinggi badan otomatis membuat Shin terjungkal kebelakang. Tetapi dengan cepat tangan Nagumo menangkap Shin. Lalu merangkulnya untuk memastikan Shin seimbang, atau untuk modus keles.
“Wah. Untung gue tangkep.” Kata Nagumo.
Shin yang masih dalam rangkulan erat Nagumo mendorong wajah Nagumo dan mengacak-ngacaknya. Entah kenapa Shin kesal sekali melihat wajahnya.
“Lepasin, ini titipan lo.”
“Mata gue kecolok woi. Kasar banget sih.” Kata Nagumo menangkap pergelangan tangan Shin.
“Bodo amat.”
“Ck, yang sopan dong sama senior.” Nagumo memakai nada seriusnya, ia sudah melepaskan Shin dari tangannya. Shin menggerutu.
“Ini kak titipannya.” Shin mengulang kalimatnya dan menyodorkan plastik isi minuman Mixue.
“Punya lo yang mana ?”
“Gaada, lagi ga pengen.”
“Dek, muka lo kayak mau nonjok gue. Lo kesel apa gimana?” Kata Nagumo tanpa rasa bersalah.
“Udah deh kak, gue mau pulang, bentar lagi bel.” Kata Shin.
“Jangan ngambek sama gue yah. Kan cuma minta tolong.”
‘Si kocak banyak bacot’ pikir Shin.
Nagumo melihat ke dalam plastik, lalu mengambil punyanya. Ia menusuk minumannya lalu mengarahkan sedotannya ke Shin.
“Nih minum.” Nagumo menyodorkan ujung sedotan kebibir Shin.
“Idihh.” Dahi Shin berkerut.
“Buset, najis lu sama gue.”
“Lagi ga pengen.”
“Susah banget sih, minum aja buat menghargai gue. Cepetan, sebelum gue dicariin guru.” Kata Nagumo.
“Ck, kenapa sih…” bisik Shin pelan, tapi ia mengalah dan membuka mulutnya untuk meminum minuman punya Nagumo. Mata Naguma fokus menatap Shin, jantungnya berdebar kencang.
“Udah.” Kata Shin.
Nagumo mengangguk sambil tersenyum.
“Yaudah lo langsung kekelas aja. Tenang, nanti kita bilang ke pak Yoshimura lo bantuin gue dan yang lain nyusun kursi.” Kata Nagumo.
“Oke.” Balas Shin sambil sekilas memperhatikan senyum Nagumo.
——————
“Natsuki Iblis.” Kata Shin saat bertemu Natsuki yang membawakan tasnya saat mau naik tangga menuju kelasnya.
“Brooo, lu mau tau, cuma lu satu-satunya dari kelas kita yang bantuin kating. Bahkan Heisuke engga hahahhaha.”
“Si bangsat sini lu anjir.” Shin mengejar Natsuki yang sudah lari darinya dan karna emosinya lagi meluap-luap Shin sanggup mengejar dan menangkap kerah Natsuki lalu mengguncang-guncangkan badan Natsuki.
“Lo gatau aja gue kena bully anjirr aaakhh.” Shin berteriak mengingat bagaimana dia diperlakukan semena-mena.
“Seriusan? Sama siapa? Lu diapain?” Natsuki penasaran.
“Sama temen kak Sakamoto yang rambut item, gue lapeerrr” Kata Shin sambil meremas kerah seragam Natsuki.
Natsuki yang memang merasa agak bersalah sama Shin menawarkan untuk mentraktirnya. Shin langsung menyebut tempat makan tujuannya. Natsuki memandang Shin sambil tersenyum tipis. Sahabatnya yang satu itu memang kadang memiliki hari sialnya, dan Shin itu terlalu baik jadinya tidak bisa mengutarakan opininya dengan tegas.
Mereka berdua pun jalan ke parkiran, Shin dengan tergesa-gesa melewati tenda kursi penonton yang mana merupakan titik berkumpulnya geng aneh, ia menarik lengan baju Natsuki untuk menutupi dirinya.
“Kenapa nyet?” Natsuki kebingungan melihat tingkah Shin.
“Diem lo.” Shin mempercepat langkahnya.
“Woi itu tu anaknya!” Suara lantang khas Rion Akao menggelegar selapangan, tangannya menunjuk tepat ke arah Shin.
Shin ingin mengubur dirinya, namun alih-alih ia menegakkan badannya dan berusaha bersikap biasa saja, lalu pelan-pelan berpaling ke arah para kating itu.
“Makasih ya Shin.” Seru mereka bergantian.
Shin hanya tersenyum sampai giginya kering menunggu lima orang seniornya itu mengucapkan terima kasih secara bergantian. Siswa yang lain termasuk Natsuki hanya menonton tidak mengerti.
“Sama-sama kak, cabut duluan yah.” Kata Shin lalu menarik lengan Natsuki menuju parkiran.
“Waw, sejak kapan lu akrab sama senior-senior paling famous disini?” Kata Natsuki terkesan.
“Ke tempat makan dulu, Nat. Ini urat malu gue hampir putus.” Shin yang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian mulai mengeluarkan keringat dingin.
—15.30 — Rumah makan —
“….jadi gitu Nat. Lu bayanginlah gue digituin didepan kak Sakamoto.” Kata Shin lalu meneguk air mineralnya setelah bercerita panjang lebar kepada Natsuki.
“Menurut gue kak Saka sama aja kayak temen-temennya tapi lu jadiin pengecualian.” Kata Natsuki karena sepanjang cerita Shin menghujat semua orang apalagi Nagumo tetapi tidak ada kata makian untuk kak Sakamoto. Shin lalu memegang kedua pipinya dan bibirnya maju.
“Eh?? Tapi kalau kak Sakamoto doang yang nitip beliin gapapa sih.” Kata Shin sok imut.
“Gue lempar sendok nih.” Kata Natsuki ogah melihat muka sok imut Shin.
Muka Shin lalu kembali serius.
“Pokoknya gue gamau berurusan sama mereka lagi, Nat. Cukup sekali ini aja.” Shin membaringkan kepalanya dimeja makan. Natsuki mengacak-ngacak rambut halus Shin sambil tertawa.
“Hari ini lu lagi sial aja Shin. Jangan kepikiran mulu.” Kata Natsuki mengalihkan perhatiannya ke nasi Padang didepannya. Ia lalu berpikir sebentar.
“Kak Nagumo itu… dia pernah nyamperin gue deh.
“Hah?”
“Dia kan anggota OSIS gitu kan, terus bilangnya dia lagi cari orang buat volunteer kegiatan apa gitu dan nawarin gue, entah karna kita selalu keliatan berdua, dia tau tentang elu dan bilang ‘kalau temen lo yang sering bareng, minat ga?’ Gue bilang nanti gue tanyain terus dia nanyain nama lu biar bisa dicatet.”
“Kok lu ga bilang ke gue yah?”
“Gue lupa.”
“Otak lu emang ga bisa diharapkan.” Kata Shin. “Kayaknya lu bakal pikun diusia muda Nat.”
“Kaya Ga penting aja buat gue, gue ga tertarik join apapun kecuali yang berhubungan dengan mesin.”
“Lo dari SMA udah salah jurusan malah masuk IPS.”
Natsuki terlihat cuek dan mengunyah Nasi padangnya dengan nikmat,.
—Keesokan harinya—Saat Istirahat
Kantin sekolah SMA 01XX cukup luas untuk menampung ratusan siswa di jam istirahat dengan kesibukan dan kegaduhan masing-masing. Shin yang sedang memegang makanannya berjalan menuju meja teman-temannya. Saat sampai ia meletakkan mangkok mie soupnya dan duduk dengan tidak sabar.
Di meja Shin duduk ia dan teman dekatnya yaitu Natsuki, Heisuke dan Lu. Mereka melahap makan diselingi dengan obrolan, Heisuke bercerita tentang sesuatu yang lucu sekali membuat Shin tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHHAHA.” Kata Shin menghapus airmata diujung matanya.
“Shin.” Panggil seseorang dari meja samping.
Shin dan teman-teman menoleh dan melihat Nagumo, kak Sakamoto dan kak Rion duduk di samping meja mereka. Shin langsung berhenti.
“Itu si ibunya dari tadi manggilin temenmu.” Kata Nagumo menunjuk ke salah satu food stand.
Heisuke langsung bangkit dari duduknya. Lalu bergegas ke stand, ternyata ia ada memesan makanan lagi dan lupa dengan pesanannya. Sistem dikantin ini adalah mengambil makanan sendiri.
Sepertinya dari tadi meja mereka terlalu ribut dan tidak mendengarkan sekitarnya, bahkan Shin sampai tidak sadar ada kak Sakamoto disampingnya.
“Terima kasih kak.” Kata Heisuke kepada Nagumo.
Nagumo hanya tersenyum lalu melihat Shin.
“Lo tadi ketawa kenceng banget, lucu.” Kata Nagumo mengarahkan komentarnya pada Shin.
Shin merasa canggung. Teman-temannya yang lain tidak terlalu memikirkan komentar itu.
“Iya emang ,dia kalau ketawa sejagat raya harus tau.” Lu menambahkan, ia mengira ini kompetensi untuk menggoda Shin.
Nagumo tertawa kecil.
“Okay.” Ia lalu beralih kepada dua orang temannya yang sibuk makan.
Shin yang sekarang hyper aware tidak terlalu fokus memperhatikan perbincangan teman-temannya.
Tak sengaja ia malah menguping percakapan di meja samping.
“Lo kenapa sama si rambut kuning.”Shin mendengar Rion berkata kepada Nagumo.
“Ga kenapa-napa.” Jawab Nagumo.
“Eh Sak, ini Nagumo lagi aneh apa cuma firasat gue.”
“Aneh kenapa?” Kata Sakamoto.
“Tuh kan gue ga kenapa-napa.”
“Tapi firasat gue selalu bener.”
“Mending urus firasat lu tentang hubungan lo sama Uzuki.”
“Males, mending ikut campur urusan orang. Ngomongin soal pacar, saran gue, lo langsung dar der dor tembak, jaman sekarang orang ga punya waktu untuk ngode dan banyak drama. Diterima syukur di tolak move on.”
“Mending lu kasi saran itu ke Uzuki.”
BRAKK
Shin dan kawan-kawannya menoleh ke samping dan melihat bangku di samping kak Rion yang sudah terlempar.
“Maju sini lo.”
Nagumo menyatukan telapak tangannya.
“Maaf. Hehe.”
“Udah guys, banyak yang liatin.” Kata Sakamoto.
Bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Shin beranjak paling akhir karna membenarkan tali sepatunya, di meja sampingnya kak Sakamoto sudah beranjak duluan dari antara trio itu. Saat Shin mau pergi, Nagumo memanggilnya. Ia lalu memberikan sebotol minuman dan coklat. Shin menatapnya keheranan.
“Tanda makasih kemaren.” Kata Nagumo.
“Ini yang katanya gaada apa-apa.” Kata Rion melewati Nagumo untuk menyusul Sakamoto, ia sengaja menyinggung lengan Nagumo. Sementara yang di singgung hanya membalas dengan senyuman.
Shin melirik Nagumo, ekspresinya datar. Ia lalu melihat pemberian Nagumo ditangannya lalu melihat kak Sakamoto yang berjalan duluan. Tanpa menunggu respon Shin, Nagumo berjalan pergi meninggalkannya.
——-Keesokan Harinya
“Anak-anak jam pelajaran ini kita pakai untuk membantu kelas 12 menyiapkan pensi.” Kata pak Kindaka saat masuk kelas 10 A. Reaksi para siswa mendengar pengumuman itu beragam ada yang bersorak ada juga yang mengeluh, Shin tentu saja masuk kategori terakhir.
“Shin muka lu kenapa?” Tanya Heisuke.
Shin, Natsuki, Lu dan Heisuke sedang berjalan dilorong menuju ke lapangan.
“Gapapa, muka gue emang begini.” Jawab Shin.
“Kalau muka lo emang begitu, gue ogah temenan sama lo.” Kata Lu.
“Jirr lah.” Shin melirik Lu.
“Hei kalian berempat.” Suara pak Yotsumura terdengar dari belakang. Mereka berempat menoleh.
“Kalian tugasnya ngecat panel untuk background panggung yah. Nah, ambil perlengkapan ngecatnya di ruang serbaguna.” Kata pak Yotsumura.
“Baik pak.” Jawab mereka berempat. Mereka pun berjalan menuju ruang serbaguna. Sesampainya didepan ruangan, Shin dan kawan-kawan mendengar suara ribut-ribut dari dalam ruangan, seperti ada orang yang sedang berdebat.
“Siapa tuh?” Tanya Lu menghadap ketiga temannya.
“Gatau euy.” Kata Heisuke sebelum melanjutkan. “Gapapa nih kita masuk sekarang?”
“Gimana yah, si pak Yotsumura kan killer , kalo kita ga lakuin sekarang bisa-bisa ditegur.” Kata Lu.
“Shin coba cek.”
“KENAPA GUE?!”
“Sini gue cek ah.” Kata Natsuki berjalan didepan teman-temannya menuju pintu masuk. Ia melangkah pelan lalu mengintip kedalam ruangan. Hanya sepersekian detik ia mengintip lalu berpaling lagi ke arah teman-temannya.
“Kak Rion sama Kak Gaku…” Kata Natsuki.
*BRAAKK* *PRAAANG*
Suara keras barang terbanting kedengaran dari dalam ruangan. Keempat siswa kelas 10 itu bergidik kaget.
“Eh monyong.” Latah Lu.
“Anjir ngapain dah didalam sampai begitu.” Kata Shin.
Mereka berempat mundur dari posisinya, Shin yang ada di paling belakang tersentak karna menabrak sesuatu. Kali ini bukan kursi tapi orang. Ia menolehkan kepalanya kebelakang. Nagumo dengan senyum khasnya melihat ke arah Shin. Shin syok dan mendorong temannya yang lain kedepan dengan kencang sampai mereka semua terjatuh, Natsuki yang berada di dekat pintu masuk tersungkur dan menarik perhatian Rion dan Gaku.
“Waduh, Shin santai dong.” Kata Nagumo.
“Lo yang ngagetin dia, Nagumo.” Kata Sakamoto yang muncul dari belakang Nagumo.
“Gue ga ngangetin kok. Cuma diem doang dibelakang.” Kata Nagumo.
Sakamoto berjalan melintasi kekacauan anak kelas 10 A itu dan masuk kedalam ruang serbaguna.
“Lo berdua ribut kenapa?” Tanya Sakamoto.
“Ini si tolol campurin oli ke dalem cat buat panel. Dia pikir itu pengencer cat.”
“Eh goblok, makanya lu jangan bawa oli motor lu kesini anjir, mana simpan di kaleng cat lagi, kan gue kagak tau.”
“Kalau gue ga simpan oli motor gue disini, gue ganti oli kemana?”
“MANA GUE PEDULI ANJIR, KE BENGKEL KEK KE RUMAH LO KEK JANGAN DI SEKOLAH GOBLOK.”
“Ck, gimana dong. Mana kata pak Yotsumura hari ini harus dicat. Ini warnanya kan hasil campuran yah.”
Sakamoto menghela nafas.
“Ya mau ga mau kita buat lagi. Gaku, lu masukin ke semua kaleng?” Tanya Sakamoto.
“Engga, cuma yang dua ini doang.” Tunjuk Gaku.
“Oke, gue bakal nanya ke anak dekor catnya campur apa aja. Terus ini duit beli catnya gimana, lo berdua tanggung jawab” Kata Sakamoto, suaranya leadership banget.
Shin dan yang lainnya sekarang sudah terang-terangan menonton situasi di ruang serbaguna. Selama mendengar kak Sakamoto ngomong, rasanya Shin semakin jatuh hati.
Shin senaksir itu sama kak Sakamoto meski ia tahu… kenyataannya.
“Cie senyum-senyum.” Kata suara di sampingnya. Cowok tinggi rambut hitam bernama Nagumo itu melihat kearah Shin.
“Apasih.” Kata Shin tersipu mengalihkan muka.
Kembali ke adegan didepan mereka yaitu Rion dengan ekspresi kesalnya, Gaku tidak kalah jengkel meskipun telihat kalau mereka berdua merasa bersalah.
“Yodah bentar gue minta uang ke bang Uzuki.” Kata Gaku.
“Gak, gue aja yang minta ke Uzuki, secara gue sama dia kan lebih deket.” Kata Rion tidak mau kalah.
“Gue sama dia udah besfren dari jabang bayi.”
“Lo yang nempel mulu.”
Gaku mendekati Rion, sementara Rion tersenyum merasa ditantang.
“Woi udah stop. Lo berdua jangan macem-macem.” Kata Sakamoto memperbaiki kacamatanya. Kepalanya sakit melihat tingkah mereka berdua.
“Si Uzuki padahal lagi masang tenda tetep aja di bawa-bawa.” Kata Nagumo tertawa.
“Udah, mending beresin masalah ini sekarang.” Sakamoto mengalihkan perhatiannya ke arah anak kelas 10 yang tidak bersuara dari tadi.
“Kalian ngapain kesini?” Tanya Sakamoto.
“Kita disuruh pak Yotsumura ngecat panel, kak.” Jawab Shin, si paling yang penting bisa ngobrol sama kak Sakamoto.
“Oh, pakai yang ada dulu aja. Yang dua kalengnya nanti kita anter.” Kata Sakamoto.
“Baik kak.” Kata mereka berempat serentak.
Shin, Heisuke dan Natsuki mulai mengangkat kaleng yang tersisa sementara Lu membawa kuas dan peralatan lainnya. Mereka mengecat di pinggir lapangan dimana panelnya sudah terletak disitu dari tadi. Merekapun mulai mengecat panel yang terbuat dari tripleks tersebut.
“Yang tadi seru banget yah.” Ceplos Heisuke.
“Hahh? Serem tau. Kak Rion kalau marah rambutnya kaya mau berdiri.” Balas Lu.
“Tapi keren, kak Rion keren hehe.” Kata Heisuke.
Lu memukul pelan bahu Heisuke sambil cemberut. Lalu pindah kesebelah Natsuki. Heisuke hanya melihat dengan kebingungan dan tetap melanjutkan mengecat seperti biasa. Shin dan Natsuki memandang satu sama lain lalu mengangkat bahu.
“Permisi.” Tiba-tiba seorang siswi menghampiri mereka.
“Kenapa?” Tanya Natsuki.
“Sorry, kalian ada kuas lebih dua ga? Soalnya divisi dekor butuh untuk ngecat area photobox.” Kata siswi itu.
“Ah kita cuma punya lebih satu.” Kata Lu melihat ke sampingnya.
“Uhm… boleh ga kita minta satu dari yang kalian lagi pake? Maaf yah.” Siswi itu sampai menyatukan telapak tanganya. Emot punten.
Shin yang merasa tidak enakan langsung menawarkan punyanya.
“Nih ambil punya gue aja.” Kata Shin.
“Aa terima kasih banyak.” Siswi itu mengambil kedua kuas dari mereka dan beranjak pergi.
“Nih, kalau lu mau.” Natsuki menawarkan kuasnya.
“Mending jangan deh Nat, soalnya lu yang paling artistik diantara kita berempat, cara lu ngecat dari tadi paling rapi.” Kata Shin duduk di rumput lapangan sambil melipat kakinya.
“Yehh, emang bener sih.”Kata Natsuki melanjutkan pekerjaannya.
“Kita gantian aja nanti Shin.” Tawar Heisuke.
“Sans.” Kata Shin melihat teman-temannya bekerja.
Acara mengecat panel berjalan santai dan asik, pengecatan ini hanya menggunakan satu warna saja dan tujuannya adalah untuk menutupi seluruh bagian panel sampai warna dasarnya tidak kelihatan lagi jadi tidak perlu keterampilan yang tinggi, hanya harus sabar menunggu cat kering lalu dilapisi lagi sampai ketebalan sempurna. Ditengah-tengah itu mereka juga saling mengobrol ringan dan bercanda, sebagian besar tentang kelakuan Heisuke dan burung peliharaanya, Piisuke yang kadang diluar nalar. Seperti ia berkeinginan untuk belajar bahasa burung agar bisa mengerti apa yang Piisuke kicaukan atau saat ia mencoba makanan Piisuke sebagai bagian bonding activity dengan peliharannnya itu.
“Ada yang lagi gabut ga?” Tiba-tiba Nagumo ikut gabung dalam pembicaraan mereka. Ia berada di belakang Shin.
Keempat pasang mata tertuju pada cowok jangkung itu. Sementara Shin langsung menatap Natsuki sambil kode.
“Sakamoto lagi cari orang untuk bantuin dia bersihin kaleng yang kena oli tadi. Lo pada kan udah tau yah kejadiannya. Biar ga bocor ke yang lain.” Kata Nagumo.
Telinga Shin bergerak saat mendengar nama Sakamoto.
“Gue.” Kata Shin menoleh keatas untuk melihat Nagumo dari posisi duduknya. “ Gue free.”
“Oke ayo.” Nagumo menunggu Shin berdiri lalu berjalan menuju halaman belakang sekolah.
Natsuki melihat mereka berjalan menjauh. ‘Shin sebodoh itu yah?’ Katanya dalam hati.
Sesampainya di tempat penampungan air dimana ada kran dan selang untuk menyiram tanaman di kebun sekolah, Shin menoleh ke kiri dan ke kanan mencari kak Sakamoto. Nagumo di sampingnya mengeluarkan kaleng yang sudah dikosongkan untuk dicuci dari bawah wastafel.
“Yah kayaknya si Sakamoto sibuk deh, jadinya sama gue aja yah bersihin kalengnya.” Kata Nagumo santai.
Leher Shin hampir patah saat ia memutar kepalanya ke arah Nagumo. Ia geram sekali dengan orang didepannya.
“DASAR PEMBOHONG.” Tunjuk Shin dengan suara dramatis.
“Iya iya, emang gue bohong.” Kata Nagumo cuek.”Gue capek bersihin sendiri gelo dari kemaren udah kerja rodi, engga, dari 3 hari yang lalu gue kerja rodi di bawah wewenang pak Yotsumura. Jadi bantuin gue, lo temenin gue aja udah cukup.” Kata Nagumo panjang lebar sambil mengenakan sarung tangan dan mengambil pembersih oli lalu menuangkannya di area dalam kaleng cat. Wajahnya sekarang serius sambil menyikat kaleng yang berukuran medium itu. Potongan rambutnya yang panjang sampai menutupi keningnya membuat mata bulatnya tidak kelihatan oleh Shin.
Mendengar Nagumo yang sepertinya sedang badmood, Shin lalu mengambil kaleng yang satunya dan mulai membersihkannya juga. Mereka menyikatnya dalam diam, setelah selesai kaleng itu di lap supaya terlihat bersih. Shin mengelap keringat didahinya menggunakan lengannya.
“Akhirnya.” Kata Shin. Ia menoleh ke arah Nagumo. “ Nih udah selesai.” Shin memberikan kaleng yang satunya.
“Simpenin ke bawah wastafel sana dong. Gue mau cuci muka bentar.” Kata Nagumo sambil membuka sarung tangannya. Saat mau mengambil kaleng Nagumo, Shin bisa mendengar napasnya yang bera dan cepat Kepala Nagumo masih menunduk dan rambutnya menutupi setengah wajahnya. Keringat mengalir turun dari pelipis Nagumo. Tangan Shin cepat menyingkirkan rambut Nagumo, ia kaget saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Nagumo,’panas sekali!’ Pikir Shin. Telapak tangannya lalu menyentuh dahi Nagumo untuk mengecek suhunya.
“Astaga, kakak demam.” Kata Shin panik.
Nagumo menatap Shin. Matanya tidak fokus.
“Hmm.” Guman Nagumo lemah.
Shin menangkupkan kedua tangannya pada samping dagu Nagumo.
“Kepala kakak pusing? Aduh gimana nih. Ayo ke kak Sakamoto.” Kata Shin berusaha menarik tangan Nagumo.
“Beneran demam gue?” Kata Nagumo, masih sangup dengan nada menggodanya.
“Hah?” Shin bingung.
“Coba dirasa lagi? Biar lebih akurat begini.” Nagumo mendekatkan wajah Shin sampai kening mereka menempel satu sama lain. Shin yang sedang khawatir tidak terlalu memperhatikan betapa dekatnya wajah mereka, ia malah fokus untuk memastikan suhu badan Nagumo. Setelah yakin ia menatap Nagumo sambil mengangguk pelan.
“Iya kakak demam.” Kata Shin. Matanya terlihat cemas memandang Nagumo.
Nagumo hanya terdiam, ia mati kutu rasanya melihat orang yang ia taksir sedang mengkhawatirkannya.
“Ayo ke tempat teman-teman kakak atau ke uks?”
Nagumo mengambil kesempatan ini.
“Langsung ke UKS aja Shin. Anterin gue.” Kata Nagumo memelas.
“Oke.” Shin menarik tangan Nagumo menuju UKS. Para siswa masih sibuk dengan tugasnya masing-masing sehingga *sepertinya* tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Saat memasuki UKS ada beberapa siswa yang baru keluar dari situ. Shin bertanya pada mereka.
“Ada susternya?”
“Lagi kosong. Tapi kotak obat ga terkunci kok.” Jawab siswa itu.
Di dalam UKS ada beberapa siswa yang sedang tidak enak badan juga. Beruntungnya ada sisa satu bilik yang kosong. Nagumo langsung masuk kesana lalu berbaring. Shin tanpa diminta, membuka lemari obat dan mencari apa yang bisa dipakai. Ia menemukan byefever dan obat penurun demam. Setelah mengambil kedua barang itu, ia masuk ke bilik Nagumo. Shin berdiri di samping bed mobile dan membuka bungkus byefever, ia menempelkannya dengan pelan pada kening Nagumo.
“Air putih…” Shin berbicara pada dirinya sendiri ia keluar bilik dan menemukan rak botol mineral. Untunglah sekolah ini fasilitasnya lengkap, ujar Shin dalam hati.
“Nih, minum obatnya.” Shin menyodorkan obat dan air mineral.
Nagumo membuka matanya. Wajahnya sudah mulai memerah.
‘Dia benar-benar kecapean.’ Pikir Shin, ia merasa bersalah karna sudah membentak Nagumo tadi.
Nagumo bangkit untuk duduk ditepi bed mobilenya. Ia mengambil obat dari tangan Shin dan meminumnya. Shin terus memperhatikan Nagumo. Saat sudah selesai Nagumo merebahkan dirinya lagi lalu menutup matanya. Shin merasa tugasnya sudah selesai dan berniat untuk pergi.
“Shin.” Panggil Nagumo pelan.
“Huh? Iya.”
“Temenin gue.” Kata Nagumo. “Sebentar kok.”
Shin berpikir sebentar lalu mengambil kursi bulat beroda dari ujung ruangan dan menempatkannya di samping Nagumo yang sebentar lagi terlelap.
“Oke.” Kata Shin.
Sepuluh menit kemudian, Shin mendengar hembusan napas yang teratur dari Nagumo. Shin mengecek melihat wajah Naguma yang menghadap kearah yang berlawanan darinya. Nagumo sudah tertidur nyenyak, tentu saja karna efek obat dan memang dia sedang kelelahan. Shin bangkit dari kursinya lalu melangkah pelan. Meski ia mengiyakan permintaan Nagumo, mustahil ia duduk diam saja selama berjam-jam di UKS. Ia berencana untuk memberi tahu kak Sakamoto tentang temannya itu.
Shin berjalan menyusuri lapangan untuk mencari kak Sakamoto tetapi tidak ketemu. Ia lalu berjalan ke area yang sepi dan cukup jauh dari lapangan, dimana ia melihat kak Sakamoto dan yang lainnya. ‘Apa mereka sedang mencoba mencampurkan warna?’ Shin bertanya-tanya, ia berjalan mendekati para katingnya itu. Mereka tidak sadar akan keberadaan Shin.
“Kak, sorry ganggu, tapi kak Nagumo masuk UKS. Demam..” Kata Shin yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.
Keempat orang itu menoleh kaget dan belum sempat memproses kata-kata Shin.
“Apa?” Kak Rion menyimpan pengaduk cat.
“Gelo si Nagumo. Kenapa ga bilang tolol kalo kurang fit.” Kata Gaku.
Kak Sakamoto memandang Shin.
“Makasih Shin, dari sini biar kita yang urus yah.” Kata kak Sakamoto.
Shin memainkan jarinya.
“Semoga kak Nagumo cepat sembuh.” Kata Shin memandang Sakamoto dengan penuh harap.
—pulang sekolah. 16.00
Shin, Heisuke dan Natsuki berjalan menuju parkiran. Lu dijemput pulang sekolah jadi tidak bersama mereka.
“Damn besok masih harus ngelanjutin.” Kata Natsuki memijat tangannya.
“Iya, tapi gue suka. Kayaknya gue punya bakat di bidang seni soalnya makin lama teknik ngecat gue makin terampil.”
“Bro mengatakan teknik ngecat. Padahal cuma satu warna dan ngecat asal juga gapapa” Kata Natsuki.
“Lu ga liat ya punya gue makin diakhir makin rapi.” Kata Heisuke/
“Enggak.” Kata Natsuki.
“Besok gue harus ikutan ngecat, gabut bejir.” Kata Shin.
“Hahha biar ga disamperin kating itu yah, kak Nagumo.” Kata Natsuki melirik Shin.
“Kakak itu ganteng kali lah, iri aku tengok mukanya.” Kata Heisuke sambil mengelus dagunya.
“Ganteng banget, iya ga Shin?” Natsuki menyikut lengan Shin.
Shin terdiam sebentar, angin sepoi-sepoi menyegarkan meraka bertiga, langit sore yang berwarna oranye terang dengan beberapa awan yang seperti permen gulali, sinar matahari menerangi mereka bertiga.
“Emang ganteng.” Kata Shin, semburat merah muncul di pipinya yang bulat.
Cintaku bertepuk harap yang tak ada
Rintihan nada asmara
Ingin ku kembali ke masa remaja
Serasa Galih dan Ratna
Yang ku mau kau untukku
Meskipun kau tak rindu
Engkau aku suka
“Shin!” Tiba-tiba terdengar suara Nagumo.
Shin menoleh kebelakang, kaget melihat Nagumo berlari mengejarnya. Ia melambat saat semakin dekat sampai berhenti tepat didepan Shin. Ekspresi Shin saat ini sangat komikal mulutnya terbuka sedikit dan alisnya naik. Nagumo yang wajahnya tidak lagi merah padam terlihat ngos-ngosan.
“Pulang bareng yuk.” Ajak Nagumo.
Shin terlihat kebingungan.
Natsuki tertawa kecil lalu mendorong temannya itu.
“Sorry Shin gue lagi ga bisa nebenging lu hari ini.” Kata Natsuki lalu menarik Heisuke menjauhi mereka berdua. Shin melihat Nagumo.
“Kakak udah mendingan?”
“Udah, makasih ya.” Nagumo tersenyum, senyumannya kali ini bukan yang biasanya dia tampilkan tapi senyuman yang hangat. Shin membalas senyumannya.
“Gue anter pulang yuk. Tapi ke Mixue dulu yah.” Nagumo meraih tangan Shin dan menautkannya dengan tangannya.
“Jangan minum yang dingin dulu kak.” Kata Shin mengingatkan.
“Gampang, tadi udah tidur 4 jam. Udah sehat sekarang.” Nagumo mengeratkan tautan tangan mereka.
Shin tidak banyak berkomentar lagi. Ia naik ke motor Nagumo, berusaha untuk tidak menyentuh cowok itu dan tentu saja mereka secepat kilat sampai ke Mixue karna cuma disebelah.
Shin menunggu Nagumo melepaskan helmnya. Lalu mereka masuk berdua. Saat masuk mata Shin langsung menuju ke meja di barisan tengah. Kak Sakamoto dan pacarnya Kak Aoi sedang mengobrol dengan serunya, Shin bisa mendengar tawa yang tulus sekali dari kak Sakamoto.
Shin menarik napas kuat-kuat. Dadanya tetap sakit meski ia sudah tau dari awal. Shin hanya melihat kedepan kosong. Tiba-tiba jari Nagumo berada di dagunya dan mengangkat kepala Shin menghadapnya.
“Jangan patah hati terlalu lama, gue ga suka liat lo sedih.” Kata Nagumo.
Napas Shin tertahan. Ia harus meninggalkan kak Sakamoto.
“Kakak aja yang pesen. Samain aja.” Kata Shin bibirnya membentuk senyuman. “Gue tunggu didepan yah.”
Nagumo terdiam lalu mengangguk.
Saat diluar Shin cepat-cepat menghapus air matanya.
—END
