Work Text:
Keheningan malam dipecah oleh suara ponsel Yushi yang berdering, layarnya menyala menampilkan nama “Riku <3” yang memanggil. Sang empunya tak menghiraukan apapun di sekitarnya, kepalanya ditutup bantal, isakan tangisnya diredam paksa. Indekos sepetak berukuran 3x4 itu menjadi saksi gelap gulitanya dunia Yushi malam ini.
Gagal lagi.
Seharian penuh Yushi tidak menunjukkan batang hidungnya keluar. Seharian penuh Yushi hanya berdiam diri di dalam kamar kos nya. Seharian penuh Yushi hanya menangis. Seharian penuh Yushi mengacuhkan puluhan pesan dan panggilan Riku.
Yushi malu, malu banget. Gagal lagi.
“Yus–yushi ini Riku, buka ya pintu kamarnya?”
Ketukan gaduh dari Riku membuat Yushi beranjak dari pojok kamarnya, mengusap mukanya yang penuh air mata dan menghela nafas berat.
“Yus, maaf ya baru bisa nyamperin. Riku baru pulang kerja.”
Riku sudah berhenti mengetuk pintu kamar Yushi, paham bahwa mungkin Yushi masih butuh waktu sendiri ia pun tak memaksa untuk memasuki kamar Yushi. Sedangkan Yushi, ia terduduk menyandarkan diri di pintu yang membatasi dirinya dan Riku, masih enggan untuk membalas perkataan Riku. Yushi masih belum bisa berbicara dengan air mata yang masih perlahan turun kembali.
“Yushi, sayang. Riku di depan sini ya, gak kemana-mana.”
Yushi menarik nafas panjang, kemudian lagi-lagi menyeka air matanya. Mengumpulkan keberanian untuk membukakan pintu untuk Riku. Membiarkan Riku masuk untuk mengetahui segalanya.
“Yus–”
Penampilan Yushi yang acak-acakan membuat Riku mengurungkan pertanyaannya. Mata sembab, hidung yang memerah dan rambut kusut Yushi sudah cukup menjelaskan kondisi Yushi sekarang yang untungnya Riku pahami.
Setelah mempersilahkan Riku masuk tanpa sepatah kata pun, Yushi duduk di pinggir kasurnya diikuti Riku yang membawa tentengan plastik di tangannya. Wajah sayu Yushi ditatap Riku dengan cinta, kedua matanya berusaha masuk ke dalam celah mata berair Yushi, menerka-nerka sebab genangan yang ada di pelupuk matanya.
“Yushi mau soto ayam, nggak? Riku suapin ya?”
Yushi mengangguk menuruti Riku. Ah benar, dia belum mengisi perutnya sedari pagi tadi.
Riku membuka plastik soto ayam perlahan-lahan kemudian menuangkannya di mangkuk. Kemudian tangannya yang cekatan langsung menyiapkan meja lipat untuk digelar di atas karpet, ditaruhnya semangkuk soto ayam hangat yang dibeli tak jauh dari sekolah mereka dahulu.
“Sini duduk.” Riku menepuk tempat kosong di sebelahnya. Lantas Yushi pun duduk di sana, di samping kanan Riku.
Riku menyuapi Yushi dengan telaten, suapan pertama sampai ketiga diiringi celotehan Riku tentang perjalanan pulangnya dari kantor, membeli soto di dekat sekolah mereka yang dahulu sampai–suapan keempat Yushi mulai menitikkan air matanya kembali. Riku tidak menanyakan apapun kepada Yushi, ia tetap menyambung celotehannya sambil tangannya sesekali menghapus air mata Yushi.
“Yushi, Riku sayang banget sama Yushi tau? Yushi paham kan?”
Tangis Yushi pecah.
Sendok yang isinya suapan terakhir dimasukkan kembali ke dalam mangkuk di atas meja lipat. Riku memajukan badannya agar bisa merengkuh Yushi ke dalam dekapannya. Punggung Yushi diusap dengan perlahan, berharap rasa sayang yang baru saja Riku ucap akan benar-benar sampai ke Yushi-nya. Miliknya. Kesayangannya.
Isakan pilu Yushi masih terdengar sampai lima belas menit kemudian. Kepala Yushi yang dibenamkan di pundak Riku pun tak absen untuk sentuh dengan sayang. Keduanya masih terdiam tanpa kata, namun sentuhan Riku tentu saja menenangkan Yushi. Meredam tangisannya di pundak Riku jauh terasa lebih nyaman daripada mengubur matanya di bantal tadi.
“Riku nggak minta Yushi cerita sekarang, tapi Yushi malem ini Riku temenin ya? Yushi mau kan tidurnya di peluk Riku?”
Riku mulai menyeka air mata Yushi yang perlahan berhenti keluar. Kemudian dikecupnya kedua bola mata Yushi dengan lembut, berharap tidak ada lagi air mata sedih yang keluar dari sana.
“Why did you fall in love with a loser, Riku?”
“Maksudnya apa sih, Yus?”
“Im a failure, Riku.” Yushi menarik napasnya sebelum melanjutkan “Semua yang aku lakuin gagal terus. Dari awal tahun semua orang udah sibuk sama penelitiannya masing-masing, aku? Masih bingung, kebanyakan mikir sampe akhirnya semuanya jadi telat. Pas udah mulai penelitian pun, gagal terus–banyak yang harus diulang. Bukan sekali dua kali juga aku dimarahin dosen pembimbingku, pasti dia kecewa. Jangankan orang lain, aku sebenernya juga kecewa sama diriku sendiri…..”
Air mata Yushi kembali menetes deras, wajahnya ditutup oleh satu lengannya. Malu. Yushi malu dilihat Riku dalam keadaan hancur seperti ini. Riku mungkin jadi orang yang lebih ekspresif dalam hubungan mereka, he always loves Yushi out loud. Riku yang mau semua orang tau Yushi punya Riku, Riku yang gak segan buat skinship di depan orang lain, Riku yang selalu bilang sayang Yushi di semua kesempatan.
Yushi gak selalu menunjukkan rasa sayangnya yang besar-besaran secara lantang seperti Riku. Yushi yang cenderung banyak diamnya, Yushi yang berbicara seperlunya, Yushi yang hanya tertawa kecil di setiap candaan Riku ternyata bisa serapuh ini.
Riku kembali mengecup mata Yushi yang mulai berair. Dipegangnya tangan Yushi seakan memberi keyakinan pada ucapannya.
“I love you, Yushi. I love you. You’re not a failure. Semua kan ada timing nya masing-masing? Aku selalu bangga sama kamu yang bisa bangkit dan gak menyerah buat coba lagi. Seberapa kali kamu gagal pun kamu tetep coba lagi, Yus? Kamu keren tau nggak?”
“Tapi…..” Yushi masih sesenggukan.
“Yushi sayang… Riku emang gak bisa bantu penelitian Yushi jadi tiba-tiba selesai, tapi Yushi harus tau kalo Riku bakal nemenin Yushi terus sampe semuanya bener-bener selesai dan bikin Yushi gak sedih lagi. Gak bakal ada yang ninggalin Yushi.”
Riku memeluk Yushi dengan erat, diusapnya kepala Yushi perlahan-lahan untuk menenangkan. Napas Yushi masih menderu dengan cepat, namun isakannya berangsur hilang. Sedangkan mulutnya masih diam tanpa kata. Begitu saja sampai belasan menit berlalu, peluk Riku bisa meredakan tangis Yushi.
Beberapa saat kemudian, Riku melepaskan pelukannya meninggalkan Yushi yang masih terduduk lemas untuk mengambilkan segelas air putih.
“Yushi minum dulu, nanti sakit tenggorokannya.”
Akhirnya segelas air putih mengalir di tenggorokannya yang terasa seperti tercekik saat meluapkan isi hatinya sambil menangis tadi. Riku selalu tau apa yang harus ia lakukan–Ah Yushi jadi sedih lagi mikirin betapa baiknya Riku. Air matanya yang semua sudah mengering menetes jadi menetes lagi.
“Riku baik banget sama Yushi…..” Yushi buka akhirnya buka suara sambil sedikit menengadah menatap Riku yang tengah berjongkok di depannya.
Riku mengecup bibir Yushi singkat. Kemudian ditampilkannya senyuman secerah mentari pagi.
“Mau bobo sambil dipeluk nggak?”
“Mau…” Yushi mencicit kecil.
Kemudian tubuh Yushi diangkat tiba-tiba oleh Riku, digendongnya Yushi seperti bayi. Kekehan kecil keluar dari mulut Yushi, senyumnya merekah dan matanya berbinar cantik. Ah Yushi yang ini akhirnya keluar–Yushi yang cantik dan ceria. Setelah itu Yushi direbahkan di atas kasur, diikuti Riku yang ambil posisi tepat di samping kirinya. Yushi langsung mencari posisi pelukan yang pas agar keduanya sama-sama nyaman. Kepalanya direbahkan di dada Riku. Kepalanya diusap pelan oleh Riku yang membuat Yushi perlahan merasa kantuknya datang.
“Gak apa-apa loh Yus kalo mau nangis kayak tadi sama Riku, pasti Riku temenin. Jangan pernah ngerasa sendiri ya.”
Hanya dengkuran halus Yushi yang menjawab perkataan Riku. Yushi sudah terlelap dengan pulas di dekapannya. Kemudian diusapnya punggung Yushi agar hanya kehangatan yang ia rasakan.
Dan tanpa sadar ada bulir air mata yang jatuh dari pelupuk mata Riku.
“Aku selalu sayang kamu, Yushi…”
