Actions

Work Header

Tuba and Sonorus

Summary:

Jisung yang sedang kerepotan membawa tuba ke Aula Besar bertemu dengan Minho yang akan latihan Quidditch.

Cerita pendek tentang awal pertemuan mereka.
Hogwarts AU.

Notes:

Timeline setelah pertempuran Hogwarts, modern day.

Minho : slytherin tahun keenam
Jisung : ravenclaw tahun keempat

Work Text:


 

Sepasang kaki kecil berjalan terhuyung di koridor menuju Aula Besar. Pemilik kaki itu nyaris tertelan tas raksasa berwarna coklat di dekapannya. Kedua tangannya mencengkeram sisi tas sambil berusaha menjaga keseimbangan, langkahnya terseok-seok menyusuri ubin batu.

“Permisi… tolong beri jalan ya. Aku nggak bisa lihat depan,” terdengar suara dari balik tas, terdengar cemas meski tetap berusaha sopan. Wajahnya tak nampak sama sekali.

Dari ujung lain koridor, Minho tengah berjalan bersama tim Quidditch Slytherin untuk latihan di lapangan. Dia menepi untuk memberi jalan, tapi ada satu anggota tim yang iseng menyentil tas besar itu dengan ujung sapu terbangnya.

Anak yang membawa tas oleng seketika. Beberapa anggota tim tertawa cekikikan.

Tanpa ragu, Minho segera melangkah cepat dan membantu menahan tas itu agar tidak jatuh.

“Hey, jangan gitu! Mau kulaporkan ke Pelatih?” hardik Kapten Tim dengan tajam. Suara tawa langsung berhenti dan berganti gumaman maaf. “Minho, tolong bantu anak itu ya.”

“Sip,” Jawab Minho singkat sambil menyerahkan sapu terbangnya ke salah satu temannya. Dia lalu beralih ke anak di balik tas itu, “Kamu nggak apa-apa kan? Maaf ya, mereka emang keterlaluan.” Minho masih menahan tas itu.

Dari balik tas, muncul kepala seorang anak berambut hitam. Matanya bulat seperti hamster, wajahnya terihat lebih muda dari Minho. Dia menatap Minho dengan mulut menganga, lalu buru-buru mengangguk kecil.

“Sini biar aku bantu bawain, kayaknya berat banget. Kamu mau ke mana?” Minho menarik tas itu dari pelukan si anak.

“Ah… aku mau ke Aula Besar. Tapi nanti kamu telat latihan.”

“Nggak masalah. Paling cuma disuruh push up,” Minho terkekeh pelan. Dia mengangkat tas itu ke bahunya, lalu berjalan menyusuri koridor menuju Aula Besar.

Minho berjalan dengan anak itu mengekor di belakangnya. Diliriknya sekilas seragam anak itu, dia memakai dasi biru Ravenclaw.

“Ini benda apa sih?” tanya Minho, sedikit heran sambil meraba-raba tas berbentuk lonjong dengan ujung melebar itu.

“Itu tuba.”

“Tuba?” alis Minho terangkat.

“Iya, tuba. Anggep aja kayak trompet raksasa.”

“Oh, alat musik? Kamu anggota orkestra?” Minho menoleh penasaran. “Kenapa mereka nyuruh anak sekecil kamu mbawa beginian?”

“Hehe… kemarin aku pinjam ini buat eksperimen kecil-kecilan,” Jisung menggaruk belakang kepalanya. “Aku disuruh ngembaliin sekarang, mau dipakai latihan buat pesta Halloween nanti.”

Minho tiba-tiba menghentikan langkahnya, “Tunggu bentar.” Dia menaruh tas itu di lantai lalu mengambil tongkat dari balik jubah hijaunya.

Locomotor tuba!

Tas itu melayang mengikuti ayunan tongkat Minho. Dia menoleh ke anak di belakangnya sambil mengedikkan bahu, “Kenapa kamu nggak bawa pakai mantra aja?”

Jisung menggaruk kepalanya lagi, nyengir malu, “Aku tadi agak buru-buru, jadi tongkatku ketinggalan di kamar.”

Tak lama mereka sampai di Aula Besar, lalu menuju pojok depan tempat alat musik lain tertata. Minho menurunkan tuba ke tempatnya.

“Makasih Kak Lee Minho. Jadi ngerepotin deh…” ucap Jisung sambil membungkuk sopan.

Minho mengernyit pelan, “Kok bisa tahu namaku?”

“Jelas dong!” Jisung mengangkat dagunya bangga. “Kakak kan Seeker terkenal di sekolah. Aku ini anggota tidak tetap band pengiring pertandingan Quidditch, jadi hafal semua pemain. Apalagi pemain yang hebat dan ganteng sepertimu.”

Jisung tersenyum lebar, mengulurkan tangannya. “Aku Han Jisung. Tahun ke empat, Ravenclaw.”

Minho membalas jabat tangan Jisung. Senyum tipis terbit di bibirnya. Han Jisung, dua tahun di bawahnya, anggota band pengiring Quidditch. Minho berusaha mengingatnya. Dia memastikan akan mencari anak ini di rombongan band saat pertandingan nanti.

“Minggu depan ada pertandingan lawan Gryffindor kan?” tanya Jisung cepat. “Aku ikut main band pengiringnya loh. Nanti aku semangatin kamu pokoknya!”

Minho tertawa kecil, “Oke, awas aja kalau aku sampai nggak denger suaramu.”

Jisung mengacungkan jempol, “Siap, Kak!”

“Kalau gitu aku ke lapangan dulu ya. Bye!” pamit Minho sambil melangkah pergi.

“Byeeee~” Jisung melambaikan tangannya dengan antusias. Terlalu antusias sampai kepalanya dijitak anggota orkestra senior di sebelahnya.

“Cepet siap-siap buat latihan,” omel seniornya. Jisung cuma mengelus-elus kepalanya sambil meringis.

Minho hanya tertawa ringan waktu melihat dari kejauhan.

 


 

Minggu berikutnya, saat pertandingan Quidditch berlangsung, Minho baru saja melesat menembus angin ketika suara memekakkan telinga terdengar dari tribun. Sumbernya berasal dari rombongan band pengiring.

“KAK MINHOOOO!!”
“WOOOHOOOO!! MINHO YANG PALING GANTENG SEDUNIA!! SEMANGAT NANGKEP SNITCH-NYAAAA!!”

Suara Jisung menggema di lapangan, menggunakan mantra Sonorus. Semua kepala menoleh, menatap Jisung dengan heran dan agak geli.

Minho pun tak kalah kagetnya. Dia sampai berhenti di udara. Bukannya mencari Snitch, matanya malah sibuk mencari sumber suara itu. Dilihatnya Profesor Flitwick berjalan cepat ke arah band pengiring dan mengarahkan tongkatnya ke leher Jisung.

Quietus!” rapal Profesor Flitwick, menghentikan kekacauan yang bersumber dari Jisung.

Teman satu timnya menatap Minho seakan bertanya-tanya, ‘Siapa bocah ingusan berisik itu?

Minho pura-pura tidak tahu, tapi dia tidak bisa menahan senyumnya.

Tak sampai sepuluh menit kemudian dia berhasil menangkap Snitch.

Series this work belongs to: