Work Text:
Han Jisung adalah anak yang cerdas, bisa dibilang dia salah satu yang paling jenius di angkatannya. Meski baru duduk di tahun keempat, Jisung sudah hampir menguasai salah satu kemampuan sihir paling rumit : menjadi seorang Animagus.
Bakatnya pertama kali menarik perhatian Profesor McGonagall pada kelas Transfigurasi di tahun ketiganya. Saat diminta mengubah sepotong tali menjadi makhluk hidup, Jisung merapal mantra dan mengayunkan tongkat sihir dengan ringan, menciptakan ular kobra yang berdiri tegak dan mendesis ganas. Teman-temannya seketika lari berhamburan sambil menjerit ketakutan.
Untungnya, profesor sigap dan mengembalikannya ke bentuk semula sebelum terjadi kekacauan lebih besar.
“Mister Han, nanti tolong tinggal sebentar setelah kelas selesai ya,” pinta Profesor McGonagall setelah kelas kembali tenang.
Awalnya Jisung mengira dia akan kena hukuman berat karena menyebabkan keributan. Tapi alih-alih dihukum, dia malah diminta melakukan Transfigurasi lain, yang semuanya bisa dia selesaikan dengan mudah.
Profesor McGonagall mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba menawarkan sesuatu yang tidak biasa.
“Mister Han, aku lihat kau punya kemampuan luar biasa di Transfigurasi. Aku punya tawaran menarik untukmu.”
Jisung mengerjap, terdiam beberapa saat sebelum balik bertanya. “Tawaran apa, Profesor?”
“Apa kau tertarik menjadi Animagus?”
Sebuah kesempatan langka untuk mempelajari kemampuan Animagus di bawah bimbingan sang ahlinya langsung.
Tanpa pikir panjang, Jisung mengangguk penuh semangat. Jiwa petualangnya langsung menyala, bagaimanapun kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. McGonagall bahkan membantu mengurus segala perizinan rumit di Kementrian Sihir agar proses belajarnya bisa segera dimulai.
Latihannya panjang dan berat, sangat menguras mental dan fisik, tapi Jisung tidak menyerah. Di awal musim gugur tahun keempat, Profesor menilai Jisung sudah siap. Maka dimulailah ritual sebulan penuh sebagai tahap akhir.
Saat hari yang dinanti tiba, waktunya Jisung mencoba transformasi untuk yang pertama kalinya. Dia sudah berharap akan menjadi serigala. Keren, tangguh, menyeramkan. Dia sudah cekikikan membayangkan betapa seru mengerjai teman sekamarnya dan berubah jadi serigala saat bulan purnama. Pasti mereka akan mengira dia werewolf.
Kalaupun bukan serigala, setidaknya jadi anjing husky besar yang garang lah.
“Amato Animo Animato Animagus,” Jisung mengucap mantra itu dengan hati-hati sebelum meneguk ramuan Animagus yang sudah dia siapkan dengan perjuangan setengah mati.
Tapi kenyataan biasanya memang sering menyakitkan.
Begitu transformasi selesai, yang muncul di hadapan Profesor McGonagall adalah seekor kucing.
Kucing tuxedo berbulu hitam putih, dengan moncong putih berbentuk hati terbalik, empat kakinya seperti memakai kaus kaki, dengan telapak berwarna pink. Sangat menggemaskan.
Jisung sempat protes pada Profesor McGonagall. Tapi Profesor hanya tertawa dan berkata bahwa wujud animagus tidak ditentukan oleh keinginan, melainkan mencerminkan kepribadian, naluri, atau ikatan emosional dengan hewan tertentu.
“Lagipula…” kata Profesor sambil tersenyum. “Aku rasa kucing sangat cocok untukmu. Lincah, ingin tahu, suka tidur, dan tentu saja… menggemaskan.”
Tapi bagi Jisung, kalimat itu lebih terdengar seperti ledekan.
Beberapa murid tahun ke empat dari asrama yang berbeda terlihat tengah berkumpul dan bergosip di Aula Besar setelah makan malam.
“Jadi yang kalah mau kita suruh apa nih?” Felix si Gryffindor berambut pirang membuka obrolan sambil menatap teman-temannya. “Jeongin?”
“Kalau aku sih nggak muluk-muluk. Aku mau minta ambilkan syal Slytherin milik Lee Minho tanpa dia sadar, terserah caranya gimana,” Jeongin, si anak Hufflepuff yang polos-polos licik, tersenyum lebar ke arah Jisung. “Jisung, kamu kan akrab sama Seeker satu itu, pasti gampang lah…”
Jisung yang kalah taruhan pertandingan Quidditch, hanya bisa menatap Jeongin dengan wajah pasrah dan menghela napas.
Ya, mereka memang taruhan, tapi bukan dengan uang, melainkan tantangan dare bodoh.
Jisung sempat ingin membantah. Akrab sama Minho? Dari mana coba?
Mereka hanya sekali berinteraksi waktu Minho membantunya membawa tuba beberapa bulan lalu. Selain itu mereka hanya beberapa kali mengobrol setelah pertandingan sampai larut malam. Atau sekali-sekali berjalan di pinggir danau saat cuaca cerah. Atau jajan bareng saat di Hogsmeade.
Jelas-jelas tidak seakrab itu kan? Ya kan?
Saat pertandingan Slytherin vs Ravenclaw kemarin, Jisung sebenarnya memihak Slytherin karena ada Minho di sana, meskipun itu berarti dia harus mengkhianati asramanya sendiri. Sayangnya, di tengah pertandingan, Minho mengalami cedera bahu yang cukup parah akibat lemparan Bludger, berakhir dengan dia dibawa ke Hospital Wing.
Hasilnya? Kemenangan untuk Ravenclaw. Sungguh ironis.
“Kalau aku sih cuma mau kamu masukin cabe bubuk ke dalam makanannya Bang Chan sampai dia kepedesan,” Seungmin berujar sambil cekikikan ke arah Hyunjin. “Aku dulu pernah lihat dia nggak sengaja makan keripik pedas, sumpah lucu banget!”
Hyunjin langsung mendelik.
“Wah, gila! Masa aku disuruh ngerjain prefek asramaku sendiri?” Hyunjin mengangkat kedua tangannya, menggeleng cepat. “Nggak, nggak! Aku masih mau hidup! Apalagi Bang Chan orangnya serem kaya gitu! Mending aku salto di depan kelas deh!”
Felix terkekeh, “Nggak usah takut, Chris itu luarnya aja kelihatan serem, tapi dia baik kok.”
“Chris?” Semua sontak menoleh ke arah Felix.
“Ah, maksudku Chan,” Felix tersenyum canggung. “Namanya kan Christopher, aku udah biasa manggil dia Chris hehe…”
Hyunjin menatap Felix curiga. “Aku nggak tahu kalian seakrab itu?”
“Biasa aja kok, kebetulan aja kita tinggal satu kota. Jadi pas libur musim panas sering nggak sengaja ketemu di toko es krim. Terus ngobrol.”
Felix cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan. “Nah sekarang giliranku. Changbin, dare buat kamu, jadi vegetarian selama sebulan.”
Changbin yang sedang lahap mengunyah pie ayam langsung berhenti. Satu potong pie masih tersangkut di mulutnya yang menganga. “Lix… serius? Se—sebulan?”
Ia lalu menunjuk bisepnya dengan dramatis, “Ayolah Lix, masa kamu tega lihat ototku nanti menyusut? Kamu tahu kan kalau bikin otot itu susah banget?”
“Huu… siapa suruh jadi pengkhianat asramamu sendiri,” sindir Seungmin.
Changbin langsung pasang kuda-kuda, “Eh, enak aja?! Salahin Jisung tuh! Aku cuma ngikut dia aja, soalnya dia bilang Minho paling jago!”
“Orang bucin diikutin…” gumam Seungmin malas.
Jisung ikutan tidak terima, “Siapa yang bucin?!”
Jeongin mengusap wajah, “Ya elah, malah berantem…”
Changbin mencoba menyogok Felix dengan senyumnya yang paling manis, “Jangan sebulan deh. Tiga hari aja ya? Ya?”
Felix menggeleng dan mengangkat dua jarinya. “Dua minggu deh, karena aku baik hati.”
Changbin masih mencoba menawar, mengangkat satu telunjuknya dan memasang wajah sok imut. “Seminggu aja ya? Please?”
Felix pura-pura berpikir sebentar, tapi akhirnya menyerah juga saat melihat ekspresi memelas Changbin.
“Oke deal, seminggu.”
“Tapi vegetarian masih boleh makan telur kan ya?” Changbin masih berusaha mencari celah.
Hari Sabtu pagi. Waktu yang ideal untuk melakukan misi bodoh dan berbahaya ini. Biasanya, para pemain Quidditch sedang sibuk berlatih. Artinya, Minho pasti tidak ada di kamarnya, dan Jisung bisa mencuri syalnya dengan aman.
Begitu yang ada di pikiran Jisung.
Dia sudah punya rencana matang. Ia menunggu Changbin dan teman sekamarnya yang lain pergi, sebelum mulai beraksi.
Masalahnya cuma satu. Murid beda asrama tidak bisa masuk ke asrama lain seenaknya.
Tapi untungnya Jisung punya senjata rahasia. Dia akan menggunakan kemampuan Animagusnya untuk menyelinap ke asrama Slytherin.
Di atas ranjangnya, Jisung mengamati peta buatan tangannya untuk terakhir kali. Coretan-coretan rute menuju asrama Slytherin yang tidak akan bisa dibaca orang waras. Ia menarik napas, lalu berkonsentrasi penuh.
Beberapa detik kemudian, sweater dan celananya tergeletak di kasur. Dari tumpukan pakaian itu, muncul seekor kucing tuxedo berbulu hitam putih.
Sayangnya, Jisung masih belum bisa menyatukan pakaiannya ke dalam wujud animagusnya saat berubah. Masih proses belajar. Jadi tiap kali dia berubah menjadi kucing, pakaiannya pasti akan tertinggal.
Dan begitu dia berubah kembali jadi manusia, yah… bisa dibayangkan sendiri.
Dengan lincah, si kucing berlari keluar kamar, menuruni menara Ravenclaw, lalu duduk manis di depan pintu ruang rekreasi. Begitu seorang anak perempuan membuka pintu dari luar, Jisung langsung melesat dan menerobos keluar. Anak itu melompat kaget.
“HEY!! ADA KUCING KABUR!! PUNYA SIAPA ITU?!” teriak anak itu. Tapi Jisung tak peduli. Misi adalah misi.
Hogwarts terasa seperti kastil raksasa jika dilihat dari ukurannya sekarang. Kaki-kaki menjulang tinggi seperti pepohonan di anime Attack on Titan yang pernah dia tonton saat libur musim panas. Jisung terus berlari mengikuti peta yang dia hapalkan semalaman. Belok kiri, turun tangga, belok kanan, menuju bawah tanah.
Mata Jisung berbinar saat melihatnya. Itu dia! Pintu asrama Slytherin, tersembunyi di antara dinding batu.
Beberapa murid Slytherin sedang mengobrol di dekat pintu. Jisung menunggu momen yang tepat. Begitu salah satu dari mereka mengucapkan sandi dan pintu terbuka, Jisung langsung melesat masuk.
Tapi tiba-tiba…
KRAK!
“MEOOOWWWWW!!”
Seseorang menginjak kaki depannya. Jisung refleks mencakar dan menggigit.
“Aduh! Kucing siapa ini?! Kenapa lari-lari begini?! Jadi keinjek kan!” seorang anak perempuan mengangkat tengkuk si kucing, mengamatinya dengan panik.
Jisung menggeram, kaki kiri depannya gemetar kesakitan.
“Aduh, jangan-jangan patah… gimana nih...” Anak perempuan itu menyapu pandangannya ke anak-anak di sekitar pintu, “Ada yang tahu kucing ini?” tanyanya.
Semua menggeleng. Anak itu lalu menggendongnya masuk ke asrama.
Ruang rekreasi Slytherin terasa dingin. Cahaya redup di ruangan itu berasal dari jendela bawah air yang menghadap Danau Hitam. Jisung mengedarkan pandangan ke seisi ruangan sambil menahan nyeri. Dia menangis dalam hati, “Berhasil masuk sih, tapi nggak gini juga caranya...”
Dia melihat Seungmin sedang bermain kartu di depan perapian dengan teman-temannya. Untungnya, Seungmin tidak pernah tahu kalau Jisung bisa jadi kucing.
Anak perempuan itu terus bertanya ke semua orang, termasuk Seungmin. Tapi tetap saja, tidak ada yang mengenali kucing belang hitam putih itu.
Lalu terdengar langkah dari arah tangga. Muncul seorang anak laki-laki dengan bahu dan lengan kiri terbalut perban.
Minho.
“Kenapa kucing itu?” tanyanya sambil mendekat.
“Dia tadi lari di depan pintu, terus kakinya keinjek. Takutnya patah,” jelas si anak panik.
Minho meraih kaki depan si kucing, menekannya pelan. Jisung langsung mencakar dan menggigit, meraung kesakitan.
“Hooo, maaf maaf… Pasti sakit ya?” Minho mengelus kepalanya lembut. “Kayaknya beneran patah. Biar kubawa ke Hospital Wing, sekalian aku mau ngecek cedera bahuku.”
Anak itu mengangguk lega dan menyerahkan si kucing pada Minho. Minho menggendongnya dengan satu tangan, diselipkan di antara kain penopang lengannya yang cedera, lalu berjalan santai ke rumah sakit sekolah.
Jisung hanya bisa terdiam menatap Minho yang bersiul-siul kecil. “Jenius, Han Jisung!” pikirnya. “Minho kan cedera! Dia jadi nggak ikut latihan rutin dong? Gimana mau nyuri syalnya?”
Seakan kesialannya belum cukup, terngiang ucapan Profesor McGonagall di kepalanya : “Kalau animagus cedera, ada kemungkinan dia tidak bisa berubah kembali sampai kondisinya membaik.”
Betul-betul sebuah misi yang menjadi tragedi.
Di Hospital Wing, kaki Jisung diperiksa oleh Madam Pomfrey. Ternyata memang patah. Dengan cekatan, sang perawat memasang tongkat penahan kecil dan membalut kakinya dengan perban mungil. Dia lalu meneteskan ramuan obat ke dalam mulut kucing malang itu.
“Meooorrk!! Hoekkk!!”
Jisung muntah berkali-kali, lidahnya menjulur.
“Tahan bentar ya, ramuannya memang pahit,” Madam Pomfrey mengelus kepala Jisung. “Tapi manjur.”
Madam Pomfrey lalu menoleh ke Minho, “Patahnya nggak terlalu parah, mungkin cuma butuh semalam sampai tulangnya menyatu lagi. Ramuan tadi mirip dengan yang kuberikan untukmu.”
Dia tersenyum geli, menatap perban di lengan Minho dan kucing itu bergantian. “Bisa-bisanya kamu dan kucingmu cedera di tempat yang sama. Bahumu sendiri gimana? Udah bisa digerakkan?”
Minho mencoba memutar bahunya. Wajahnya langsung meringis. “Masih agak nyeri.”
“Baiklah. Akan kukasih dosis tambahan. Paling lama tiga hari kamu udah pulih.”
Setelah itu Minho berpamitan. Di sepanjang koridor, ia menanyai murid-murid tentang si kucing belang. Tapi tidak ada yang merasa kehilangan.
Akhirnya Minho menyerah dan membawa kucing itu ke kamarnya. Di pojok dekat ranjang, seekor kucing oranye gemuk tengah mendengkur di atas kasur kecilnya.
“Hey, Soonie. Aku bawa temen buat kamu,” Minho meletakkan kucing hitam putih itu di samping Soonie. “Temani dia sampai aku nemu pemiliknya ya.”
Soonie hanya menatap kucing itu sebentar, menguap, lalu tidur lagi.
Sebelumnya, Jisung baru sekali bertemu dengan Soonie, saat menemui Minho seusai pertandingan. Kebetulan teman sekamar Minho membawa Soonie untuk menonton.
Dengan sisa-sisa tenaga, Jisung mencoba berkomunikasi.
‘Hey Soonie, ini aku Jisung.’
Soonie membuka matanya dan menatap Jisung datar. ‘Jisung siapa?’
Hidungnya mengendus-endus, mencoba mengenali Jisung dari aromanya. Dia lalu mengernyit, ‘Kamu bau obat.’
‘Kita pernah ketemu di lapangan Quidditch. Aku anak Ravenclaw yang waktu itu.’
‘Oh… anak yang cerewet itu ya? Kamu animagus?’
‘Ya, tapi masih belajar. Aku lagi menjalankan misi, tapi malah cedera. Kakiku patah.’
‘Misi?’
‘Aku kalah taruhan dan harus ambil syal Minho. Kamu tau nggak dia nyimpen di mana?’
Soonie menguap panjang dan menatap ke arah meja belajar Minho.
Jisung mengikuti arah pandangan itu. ‘Di sana? Di meja belajar?’
Tidak ada jawaban. Soonie sudah kembali tidur dan mendengkur pelan.
Jisung hanya bisa mengeluh dalam hati. “Bagus. Sekarang aku jadi kucing pincang, terjebak di asrama lain, harus nyolong syal, dan ngobrol sama kucing yang kerjaannya tidur mulu.”
Tak lama, Minho datang membawa dua mangkuk makanan kucing dan semangkuk air. Campuran makanan basah rasa ikan dan kibbles kering yang biasa dimakan Soonie.
Begitu diletakkan di lantai, Soonie mengeong pelan dan menghampiri mangkuknya. Jisung dengan terpincang-pincang mengikuti dari belakang.
Soonie langsung makan dengan lahap, sementara Jisung hanya mengendus-endus makanannya. Hidungnya mengerut, telinganya sedikit turun. Bau amis itu… membuat perutnya mual. Dia mundur selangkah dan…
“Hoeekkkk!!”
Jisung muntah lagi. Seumur hidup dia belum pernah muntah sesering ini.
Minho yang sedang duduk di tepi ranjang langsung berdiri. “Kamu nggak doyan? Bentar, coba aku cariin makanan lain.”
Dia lalu membuka laci dan mengambil beberapa potong ikan kering dari toples. Snack kesukaan Soonie. Tapi Jisung tetap tidak tertarik. Dia cuma melirik, lalu membuang muka dengan jijik. Minho mulai kebingungan.
Setelah berpikir sebentar, dia meraih kotak cemilan miliknya dan mengambil sepotong biskuit. Dengan ragu, dia meletakkannya di depan Jisung. Jisung mendekat, mengendus, lalu mulai makan.
Minho terdiam.
Dia menggaruk kepala sambil terkekeh, “Serius? Kucing gak doyan ikan tapi doyan biskuit? Picky eater ya?”
Saat makan siang dan makan malam, Minho dengan entengnya menyelipkan sepotong paha ayam ke dalam kantong jaket. Yah, siapa juga yang mau mempermasalahkan kenapa seseorang menyelundupkan paha ayam di tempat penuh makanan begini.
Begitu kembali ke kamar, ayam itu dia taruh ke mangkuk, dan si kucing belang memakannya dengan lahap.
Minho menyandarkan dagu ke tangan, mengamati kucing kecil itu makan dengan antusias, seolah sedang mengawasi aktivitas hewan di kelas Pemeliharaan Satwa Gaib.
Pipi kucing itu menggembung, seperti sengaja menyimpan ayam di sana.
“Kamu ini kucing apa tupai sih?” Minho tertawa. “Mirip seseorang deh. Ada anak Ravenclaw yang suka nyimpen makanan di pipi kaya gitu. Namanya Jisung, anaknya cerewet tapi lucu.”
“Hurkkk!”
Jisung langsung tersedak paha ayam di mulutnya. Mata bulatnya menatap Minho horor.
Apa dia sadar?
Minho ngakak makin keras. “Hey hey, pelan-pelan aja makannya. Soonie lagi main keluar kok, nggak bakal dia rebut.”
Jisung menatap Minho lekat-lekat, berusaha mencari tanda-tanda kecurigaan di wajahnya. Tapi yang dia temukan hanya senyum manis dan tangan besar yang tiba-tiba mengelus kepalanya.
“Karena aku belum tau namamu, sementara kamu kupanggil Jiji ya. Soalnya kamu ngingetin aku sama Jisung.”
Jisung membeku di tempat, matanya makin membulat.
Minho melanjutkan dengan santai, “Tuh kan, bahkan mata bulatmu itu juga mirip Jisung.”
Jisung melanjutkan makan malamnya dengan rasa was-was. Dalam hati dia berdoa semoga Minho cuma merasa mirip, bukan curiga.
Lewat tengah malam, Jisung terbangun karena kaki depannya yang patah terasa aneh. Ada bunyi klutuk-klutuk pelan, seperti tulang-tulangnya sedang disatukan kembali. Ramuan dari Madam Pomfrey rupanya sedang bekerja. Dia tetap diam di tempat, menunggu sampai bunyi itu berhenti dan kakinya normal kembali.
Suasana kamar sangat sepi. Hanya terdengar suara ngorok dari kasur paling pojok. Soonie tertidur melingkar di sampingnya, masih dalam posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Jisung sampai heran, kalau ada lomba tidur, Soonie pasti juara satu.
Minho juga sudah terlelap, hanya terlihat gundukan selimut di ranjangnya.
Begitu bunyi di kakinya berhenti, Jisung mencoba berdiri. Dan ajaibnya, kakinya sudah tidak sakit lagi. Digigit-gigitnya perban yang melilit kaki depannya sampai terlepas.
Tapi sekarang ada masalah lain. Kekuatan sihirnya terasa sangat tidak stabil. Bulu-bulunya mulai memudar. Wujud animagusnya sebentar lagi akan pecah. Dengan panik, Jisung bergegas melompat ke atas meja belajar Minho. Untungnya Soonie tidak berbohong. Syal Slytherin Minho terlipat rapi di atas tumpukan buku.
Dengan buru-buru, Jisung menggigit syal itu dan berlari keluar kamar.
“Please, jangan sekarang...” gumamnya panik saat melihat bulu-bulu di kaki depannya makin menipis, kulit manusia mulai terlihat.
Tak jauh di depannya ada ceruk kecil di dinding. Sebuah ruang penyimpanan alat kebersihan dengan pintu terbuka sedikit. Jisung masuk dan pop! Tubuhnya kembali ke wujud manusia. Telanjang. Satu-satunya kain hanyalah syal yang digigitnya.
Dengan muram dia melilitkan syal Minho ke lehernya. Tongkatnya masih tertinggal di kamar, dia tidak bisa mengucap mantra accio tanpa tongkat. Dia mengacak-acak isi ruangan itu, mencari kain atau apapun untuk menutupi tubuhnya.
Nihil. Hanya ada ember, sapu, dan pel.
Dia jatuh terduduk di sudut dengan napas memburu. Rasa panik mulai melanda.
Untuk memulihkan kekuatan sihirnya agar bisa berubah lagi, dia butuh waktu setengah hari. Setengah hari! Tidak mungkin dia sembunyi di situ selama itu. Belum lagi kalau sampai ada yang memergokinya.
Jisung rasanya mau menangis.
Di tengah rasa putus asa, sayup-sayup dia mendengar senandung dari lorong. Makin lama makin dekat. Suara laki-laki, sedikit cempreng tapi merdu, menyanyikan lagu band Muggle terkenal. Jisung sangat familiar dengan suara itu.
Seungmin!
Dia merangkak ke arah pintu, membukanya sedikit.
“Min… Seungmin…” Jisung memanggil lirih dari celah pintu.
Senandung itu berhenti. Suara langkah kaki juga ikut berhenti. Seungmin tampak celingukan di lorong kosong, mengira ada hantu yang memanggilnya.
“Min… di belakangmu… di ruang kebersihan,” ulang Jisung pelan.
Seungmin menoleh. Matanya melihat pintu yang terbuka sedikit, dan ada wajah yang mengintip dari situ. Dia mendekat perlahan, agak ragu karena belum bisa melihat jelas wajah di balik pintu. Masih mengira itu hantu.
“Aku butuh bantuan. Pinjem bajumu please,” Jisung membuka pintunya sedikit lebih lebar agar Seungmin bisa mengenali wajahnya.
Seungmin membelalak kaget, “Jisung?! Kamu ngapain di asrama Slytherin?” Seungmin menoleh ke kanan kiri memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
“Aku habis dari kamar Minho.”
Seungmin mengamati Jisung dari celah pintu itu. Menatapnya dari atas ke bawah, dan dia baru sadar Jisung telanjang, cuma memakai syal di lehernya.
Seungmin melotot, menutup mulutnya dengan tangan.
“HAH?! Jadi kalian udah sejauh itu?! Sejak kapan kalian pacaran?!” Seungmin setengah memekik.
Jisung memiringkan kepalanya. Butuh beberapa detik sebelum otaknya menangkap tuduhan tak berdasar itu. Begitu sadar, wajahnya langsung memerah sampai telinga.
Rasanya Jisung ingin menggeplak kepala Seungmin.
“HEH! Jangan mikir mesum ya! Enggak kayak gitu!” bisiknya panik. “Aku lagi menjalankan misi dari Jeongin, yang disuruh ngambil syal Minho itu!”
“Tapi kenapa telanjang? Sangat… mencurigakan.” Seungmin memicingkan matanya.
“Min… AKU GIGIT KAMU YA.” Jisung menggaruk kepalanya frustrasi, tapi Seungmin masih menatapnya dengan tatapan penuh gosip. “Aduh masalah itu… panjang ceritanya. Pinjemi baju dulu dong! Aku udah kedinginan nih.”
Dengan kepala penuh tanda tanya, Seungmin berjalan ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia kembali sambil membawa celana cargo dan sweater. Jisung buru-buru memakainya di balik pintu.
“Tapi serius, kamu bisa masuk ke asrama Slytherin gimana caranya? Jangan-jangan…” Seungmin menyipitkan mata penuh tuduhan, “Kamu ngerayu Minho ya?”
Jisung menghela nafas panjang.
“Astaga… demi Merlin, enggak!” Jisung hampir berteriak, lalu buru-buru menurunkan suaranya. “Gini Seungmin sayang, aku lagi belajar Animagus. McGonagall yang ngajarin. Aku masuk ke sini waktu berubah jadi kucing,” Jisung menjelaskan dengan gigi gemeletuk.
Seungmin melongo. “HAH? Jadi bener rumor itu? Ada murid tahun keempat yang belajar Animagus. Ternyata kamu?!”
Jisung cuma mengangkat bahu, lalu dengan cueknya balik bertanya. “Kamu sendiri ngapain tengah malem keluyuran di lorong? Mau maling ya?”
“Eh… aku ketiduran di depan perapian waktu main sama yang lain,” Seungmin nyengir malu. “Tapi anak-anak dakjal itu nggak ada yang bangunin. Tadi aku dibangunin prefek sambil diceramahin.”
“Haha! Sukurin!” Jisung langsung ketawa ngakak. Agak terlalu keras untuk orang yang harusnya bersembunyi.
“Sini, balikin bajuku.” Seungmin menarik ujung sweater yang dipinjamkan ke Jisung.
“Eh, ampun ampun! Hamba mohon ampun Yang Mulia!” Jisung menangkupkan tangan di atas kepala sambil pura-pura tunduk.
“Ya udah pergi sana, dasar penyusup. Maling teriak maling.”
“Baik Yang Mulia. Tapi mohon antarkan hamba menuju gerbang keselamatan.”
“Hadeh… bikin repot aja,” Seungmin menghela napas. “Bentar, aku intip dulu masih ada orang nggak.”
Seungmin lalu diam-diam mengintai ruang rekreasi yang sudah senyap. Dia mengisyaratkan pada Jisung dengan jarinya untuk mengikutinya pelan-pelan ke pintu keluar.
“Ayo cepet, jalan jongkok. Jangan sampe ada yang lihat bokongmu yang nggak seberapa itu.”
“Siap, Kapten.”
Senin pagi, Minho sibuk membongkar barang-barangnya. Syal hijaunya hilang.
Dia mengecek meja, kasur, lemari, kolong tempat tidur, bahkan sampai mengangkat pantat Soonie. Barangkali kucing gemuk itu iseng membuat sarang dengan syalnya.
Tidak ada.
Padahal dia yakin seratus persen, terakhir kali dia menaruhnya di atas meja.
Cuaca di luar dingin dan berangin, baru membayangkannya saja sudah membuat Minho menggigil. Tapi daripada terlambat masuk kelas, akhirnya dia menyerah.
“Nih, sesuai permintaanmu. Syal Minho.” Jisung mengulurkan kain hijau itu ke tangan Jeongin dengan wajah lesu.
“Wow! Gimana caranya? Kamu minta baik-baik apa nyolong?”
Jisung menatap Jeongin tajam. “Aku nyusup ke kamarnya sesuai permintaanmu. INGET KAN?” katanya, penuh tekanan.
“Hahaha… keren juga. Nah sekarang balikin ke dia. Setelah itu misimu selesai!” Jeongin mengarahkan dagunya ke belakang Jisung. “Pas banget, tuh orangnya dateng.”
Jisung menoleh, dan langsung membeku.
Minho berjalan santai ke arah mereka, jubahnya berkibar diterpa angin, rambutnya sedikit berantakan. Tiba-tiba semua bergerak dalam slow motion seperti di film romantis.
Jisung mendesah frustrasi.
“Seriusan? Aku susah payah nyolong syal, cuma buat dibalikin ke orangnya? Ada gila-gilanya nih anak…”
Jeongin nyengir puas, “Yang kalah harus nurutin yang menang dong.”
Jisung mengusap wajahnya. Otaknya terus berputar menyusun strategi agar dia tidak dituduh sebagai penguntit atau pencuri dengan fetish aneh.
Akhirnya Jisung mengubur dalam-dalam harga dirinya dan memasang senyum ceria palsunya.
“Kak Minho!” serunya sambil berlari kecil. “Makasih ya udah minjemin syalmu kemarin. Nih, aku kembaliin.”
Minho berhenti. Ia menerima syal itu dengan alis berkerut.
Dia menatap syal, lalu menatap Jisung. Dia tahu betul kalau dia tidak pernah meminjamkan syal ini padanya. Dia masih melihat syal ini di meja, Sabtu lalu, sebelum dia ke Hospital Wing.
Wajahnya tidak tampak marah, tapi tatapannya berbeda. Seperti seseorang yang sedang fokus menyusun puzzle. Dan Jisung adalah potongan puzzle terakhir.
Sementara itu, Jisung masih terus mengoceh panik. Mencoba terdengar meyakinkan. “Kemarin anginnya kenceng banget, terus kamu langsung minjemin syal, terus aku pakai, terus aku—hehe…”
Minho masih diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kucing misterius. Mata bulat. Cara makan yang aneh. Tidak pernah lihat Jisung bawa hewan peliharaan. Rumor Animagus Ravenclaw tahun keempat. Semua cocok.
Apa kucing itu… Jisung?
Saat Jisung mau kabur untuk menyelamatkan sisa harga dirinya, tangan Minho menahan lengannya.
Minho mendekat, berbisik di telinganya dengan suara rendah dan menggoda, “Lain kali kamu nggak perlu nyusup diam-diam. Minta aja baik-baik, pasti kukasih dengan senang hati… baby.”
Jisung langsung nge-freeze. BABY? Salah denger nggak tuh?
Minho mundur sedikit, menatapnya penuh arti. Senyum nakal tersungging di bibirnya.
“Gimana kondisi… kaki depanmu yang patah itu? Ramuan Madam Pomfrey manjur ya kayaknya?”
Darah jisung langsung naik ke kuping. Oh tidak. Dia tahu. DIA TAHU!
Dengan suara kecil seperti cicitan, Jisung tanpa sadar menjawab, “Iya…”
Dan jawaban itu langsung mengkonfirmasi segala kecurigaan Minho.
Minho melepaskan lengannya dengan senyum kecil. “Temui aku setelah kelas selesai ya. Kamu utang penjelasan padaku, Jiji…”
Minho melenggang begitu saja ke kelas Mantra, meninggalkan Jisung yang masih berdiri terpaku seperti patung batu.
Jeongin yang dari tadi mengamati dari jauh buru-buru mendekat dan menepuk pundaknya.
“Dia marah ya? Astaga, aku nggak nyangka bakal separah ini.”
“Jeongin…” Jisung menatap kosong ke depan. “Gawat. Kayaknya aku bakal masuk obituari minggu ini…”
