Work Text:
Bagi Bokuto Koutarou, musim panas berarti banyak hal.
Ada bermacam-macam hal menyenangkan yang bisa dilakukan. Pertama, yang sudah menjadi agenda tahunan, ada kamp pelatihan musim panas yang diadakan dengan banyak sekolah di Tokyo. Kedua, buah-buahan segar yang selalu ada setiap hari. Bokuto suka sekali semangka, dan saat paling cocok untuk mengkonsumsinya adalah ketika matahari tepat di atas kepala. Ketiga, pantai! Musim panas tidak akan lengkap tanpa adanya agenda satu hari penuh di pantai, meski itu berarti terkena sunburn karena ia selalu lupa menggunakan sunscreen.
Tapi, oh… lupakan soal PR musim panas. Bokuto tidak suka itu. Tapi setidaknya, sekarang pekerjaannya hanya tinggal setengah. Terima kasih pada Akaashi yang terus-terusan mendesaknya untuk segera mulai mengerjakan.
Satu hal lagi yang menyenangkan adalah diadakannya festival musim panas! Kemarin malam, kakak kedua Bokuto menunjukkan fotonya saat pergi ke festival musim panas dengan anggota klub renangnya saat SMA. Mereka berfoto di bawah kembang api dengan latar belakang kios-kios makanan, senyum lebar terpatri di setiap wajah mereka. Itu membuat Bokuto sadar ia belum pernah ke festival musim panas dengan seluruh anggota klub volinya sebelumnya.
“Bokuto-san, kau benar-benar diam sejak tadi. Ada yang kau pikirkan?” tanya Akaashi yang membuat Bokuto keluar dari lamunan.
Saat mendongak, ia melihat seluruh tim voli Fukurodani di ruang ganti itu menatapnya. Mereka semua sudah selesai berganti pakaian.
Bokuto harus mengajak mereka!
Bokuto tersenyum lebar dan berdiri, mengabaikan fakta ia masih menggunakan knee pads dan kaos kaki hanya di kaki kiri. “Hey, hey, hey, kita harus ke festival musim panas setidaknya satu kali!” ujarnya dengan penuh semangat.
Konoha menaikkan sebelah alis. “Kita semua?”
Bokuto mengangguk antusias. “Iya! Ajak para manajer juga! Kita datang bersama-sama!”
“Oohhh!! itu ide yang bagus, ace!” Komi yang pertama menanggapi. “Kita bisa lihat siapa yang paling berbakat di kingyo-sukui!”
“Benar, kan?!!” Bokuto menyahut gembira. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. “Aku pasti membawa pulang paling banyak hadiah!” ujarnya dengan percaya diri.
“Oh, kau mau bertaruh?” tantang Komi.
“Siapa takut!” Bokuto menyanggupi.
“Oke, kalau ada salah satu dari kami yang berhasil membawa hadiah lebih banyak darimu, berarti kau kalah!”
Bokuto membelalakkan mata. “Hei, itu tidak adil!” protesnya.
“Bokuto versus semua orang,” Sarukui tertawa. “Aku ikut!”
“Kedengaran menarik,” kata Konoha dengan seringai yang menjengkelkan. “Aku juga ikut.”
“Tentu saja, Brother!” sahut Komi.
Mereka bertiga melakukan tos.
“Sudah kubilang itu tidak adil!” Bokuto bersikeras. “Kalian beraninya keroyokan!”
“Ayolah ace, jangan bilang kau takut?” Sarukui memanas-manasi.
“Tentu saja tidak—”
Keributan mereka diinterupsi oleh Washio yang mengangguk dan mengatakan, “Sepertinya menyenangkan. Aku tidak keberatan.”
“Bagus!” Konoha menepuk punggungnya.
Lalu, mereka semua menoleh pada Akaashi.
“Kalau semuanya sudah setuju, apa boleh buat,” Akaashi menghela napas.
Bokuto bersorak, “Hey, hey, hey! Sudah diputuskan! Kita akan pergi akhir minggu ini!”
“Tentu, tentu, ayo cepat beritahu para manajer.” Komi membuka pintu dan memimpin mereka keluar dari ruang ganti.
“Bokuto, cepat pakai kaos kakimu, jangan terlambat!” kata Konoha sebelum menghilang di balik pintu.
Kini, hanya tinggal Akaashi dan Bokuto di ruang ganti. Bokuto pun kembali duduk dan mengambil knee pads-nya yang tersisa, lalu memakaikannya ke betis kanan yang masih telanjang. “Kau pernah ke festival musim panas sebelumnya, Akaashi?” tanya Bokuto.
“Hanya untuk melihat-lihat atau membeli makanan,” jawab Akaashi. “Aku tidak pernah membeli barang atau mencoba permainan apa pun.”
“Eh, kenapa?”
Akaashi mengedikkan bahu. “Aku hanya berpikir tidak ada barang yang aku inginkan… atau butuhkan.”
“Ohh….” Setelah selesai memasang kedua sepatu, Bokuto kembali berdiri dan nyengir pada Akaashi. “Jangan khawatir, saat kita ke festival nanti, aku akan mendapatkan banyak hadiah untukmu!” Ia berkata dengan yakin.
Akaashi mendesah. “Dibandingkan itu, sebaiknya kau lebih mengkhawatirkan taruhan yang baru saja melibatkanmu.”
“Hei, aku akan menang, Akaashi!” kata Bokuto dengan mulut cemberut, kesal karena Akaashi tidak berpikir ia bisa mengalahkan teman-teman mereka. “Aku top 5 ace nasional, ingat? Akurasiku sangat bagus!” Bokuto memperagakan pose menembak bola voli.
“Akurasi bagus hanya akan berguna untuk shateki, Bokuto-san.”
“Akaashi!!!! Setidaknya jangan menjatuhkan semangatku!!!”
.
.
.
Akaashi menatap lemarinya dengan pandangan kosong. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia pakai. Apakah ia harus memakai yukata, atau pakaian santai saja seperti biasa?
Biasanya saat ke festival musim panas, Akaashi hanya akan pergi menggunakan kaos dan celana sehari-hari, hanya saja biasanya ia selalu pergi sendiri. Sekarang, ketika ia harus pergi dengan banyak orang, apa yang harus ia pakai? Bagaimana kalau yang lain memakai yukata? Akaashi tidak ingin menghancurkan dresscode dan jadi satu-satunya yang berpakaian santai.
Setelah dipikir, kenapa mereka tidak menentukan dresscode dari awal?
Bokuto sempat mengatakan pada Akaashi kalau ia ingin berfoto di pintu masuk festival dengan semua orang. Kalau begitu, untuk mendukung suasana festival, artinya mereka harus menggunakan yukata, kan? Oke, sudah diputuskan. Ia akan memakai yukata.
Akaashi pun mengambil yukata hijau dengan corak bintang segi enam dari lemari pakaiannya. Sembari menatap kain itu, ia menyadari ia belum pernah menggunakan pakaian tradisional di hadapan Bokuto —atau seluruh anggota tim— sebelumnya. Apa yang akan dikatakan Bokuto nanti?
Akaashi menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan pikiran itu. Ia harus ingat kehidupannya ini adalah kenyataan, bukan manga bulanan shoujo seperti yang sering dibicarakan teman perempuan sekelasnya. Akaashi harus tetap tenang, meskipun perasaan crush-nya pada Bokuto kini sudah di tahap super-desperate dan terus meronta-ronta minta diperhatikan dengan benar, dan semakin parah setiap harinya. Ditambah dengan kepribadian Bokuto yang sehangat musim panas itu sendiri sama sekali tidak membantu. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada orang seperti itu? Yang paling menjengkelkan adalah karena Bokuto sendiri tidak sadar dengan sikapnya.
Akaashi menghela napas, mengambil segelas air dingin dan meminumnya. Lagipula, mereka akan datang dengan rombongan. Satu tim penuh. Ini tidak seperti Bokuto mengajaknya kencan berdua saja secara eksklusif atau apa. Ini adalah acara tim, bukan acara pribadi. Akaashi seharusnya tidak perlu terlalu memikirkan soal pakaian! Tapi di sinilah dia, tetap mencemaskan tanggapan Bokuto soal yukata.
Setelah berhenti-menit yang melibatkan obi dan isi pikiran yang tidak mau diam kemudian (terima kasih pada ibunya yang sudah membantu mengikatkan obi), akhirnya Akaashi berhasil sampai di pintu masuk festival. Geta yang ia pakai menimbulkan suara nyaring, membuat Konoha dan Sarukui yang sedang berbincang menoleh padanya.
“Hei, Akaashi!” sapa Konoha.
Akaashi berdiri diam melihat mereka tidak memakai yukata. Perasaannya jadi tidak enak. Apa dia satu-satunya yang pakai yukata? Akaashi yakin sebelum berangkat tadi ia sudah memastikan yukata-nya cukup nyaman untuk dipakai bergerak. Tapi sekarang, rasanya pakaian itu begitu ketat hingga membuatnya sulit bernapas.
“Wow, kau cocok menggunakan itu, Akaashi!” Sarukui berkomentar.
Oke, ucapan itu sedikit membantu. Meskipun ia salah kostum, setidaknya ia terlihat luar biasa. “Terima kasih, Sarukui-san,” kata Akaashi. “Di mana yang lain?”
“Yukie dan Kaori sudah masuk, tidak sabar mau mencoba semua makanan katanya,” jawab Konoha sambil terkekeh. “Lalu, terakhir kulihat, Bokuto dan Komi sedang main di tempat ikan mas.”
Oh, Bokuto sudah datang!
“Kalian tidak ke dalam?” Akaashi bertanya.
“Kami masih menunggu Washio,” jawab Konoha. “Kau masuklah lebih dulu.”
Oh, jadi ini berarti mereka tidak berkeliling secara rombongan? Oke, Akaashi bisa bertahan dengan itu.
Akaashi pun berpamitan pada mereka. Hal pertama yang ia pikirkan adalah untuk mencari Bokuto. Di atas kepalanya, lampion kertas berwarna-warni bergoyang diterpa angin. Aroma-aroma makanan seperti takoyaki dan okonomiyaki memenuhi indra penciumannya. Suara musik terdengar bersahut-sahutan dari beberapa kios.
“Akaashi!”
Akaashi menoleh, melihat Yukie dan Kaori yang telah membawa belanjaan di kedua tangan. Oh, mereka berdua juga memakai yukata warna cerah dengan tatanan rambut memakai hiasan bunga di kepala.
“Apa semua sudah datang?” tanya Kaori.
“Konoha-san dan Sarukui-san masih menunggu Washio-san di pintu masuk,” jawab Akaashi.
“Ohh.” Kaori mengangguk mengerti.
Yukie menggigit cumi bakarnya. “Mmm ini enak sekali! Kalian harus coba ini.”
Kaori mendesah melihat kebiasaan temannya. “Kau saja yang makan.”
“Omong-omong, apa kalian melihat Bokuto-san?” tanya Akaashi.
“Oh ya, kami melihatnya di kios shateki.”
Akaashi mengucapkan terima kasih, lalu mereka berpisah lagi karena Yukie masih ingin membeli arum manis.
Di antara banyaknya kerumunan orang di kios shateki, Akaashi bisa mendengar suara Bokuto lebih dulu sebelum melihatnya. Samar-samar, terdengar, “Hey, hey,” penuh semangat, lalu suara tembakan. Kemudian, orang-orang di sekitar bersorak.
Akhirnya, Akaashi bisa melewati kerumunan orang yang menonton. Seperti yang diduga, Bokuto ada di pusat kerumunan itu, memakai jinbei berwarna coklat dengan lengan yang digulung ke atas. Di tangannya, sebuah senapan angin diarahkan siap untuk membidik target. Dengan konsentrasi penuh, peluru akhirnya dilepaskan, lalu camilan seukuran telapak tangan jatuh dari rak. Penonton kembali bersorak, sang pemilik kios membunyikan lonceng.
“Kakak itu keren sekali! Dia berhasil mengenai target empat kali berturut-turut!” kata anak SD di samping Akaashi.
Pemilik kios memberikan hadiah pada Bokuto. Bokuto nyengir padanya sambil berterima kasih. Ia menoleh, dan saat itulah ia melihat Akaashi. Wajahnya setingkat lebih cerah. “Akaashi, hey, hey! Selanjutnya untukmu!”
Bokuto membidik kembali. Kali ini, sasarannya adalah sebuah boneka burung hantu yang ditempatkan di bagian paling atas rak. Tampaknya tidak sulit untuk mengenalnya, hanya saja—
Peluru dilepas, berhasil mengenai sang boneka, namun sama sekali tidak membuat boneka itu bergeming.
Yeah, hanya saja bonekanya terlalu besar dan berat untuk peluru gabus yang dipakai.
“Yaaahh,” kata para penonton dengan kompak.
Bokuto menembak lagi. Sekali lagi peluru itu hanya terpental pada si boneka tanpa berhasil menjatuhkannya.
“Kau hanya punya satu kesempatan lagi, Nak.” Pemilik kios mengingatkan.
Bokuto menggerutu. Ia memperbaiki gulungan lengan jinbei-nya yang mulai kembali turun, menempatkannya kembali di atas bahu. Membidik sekali lagi, namun usahanya tetap sia-sia.
Bokuto menggeram.
Si pemilik kios tertawa. “Sayang sekali, Nak,” ujarnya.
Mengetahui kesempatan Bokuto sudah selesai, anak-anak SD di sebelah Akaashi langsung memberikan uang pada pemilik kios untuk mendapat giliran.
Bokuto membawa empat hadiah yang baru saja dimenangkannya dengan cemberut, yang malah membuat Akaashi terkekeh. “Usaha yang bagus, Bokuto-san.” Ia memperbaiki lengan jinbei Bokuto, melepaskan gulungannya.
“Tapi aku belum mendapat burung hantu itu, Akaashii!!”
“Kau bisa coba lagi nanti. Di mana Komi-san? Konoha-san bilang dia bersamamu?”
“Aku meninggalkannya di tempat ikan mas,” jawab Bokuto. “Kau tahu, dia malah bersaing dengan anak dari sekolah lain untuk mendapat ikan mas terbanyak.”
“Kau sendiri menyerah?”
Bokuto terkesiap dengan tangan di dada. “Tentu tidak, Akaashi! Aku sudah berhasil memenangkan 2 ikan mas! Aku ingin cari hadiah lain!”
Masuk akal. “Di mana ikanmu?”
“Aku titipkan pada Komi,” jawab Bokuto. “Oh iya, ini semua milikmu,” Bokuto memberikan keempat hadiah yang dibawanya. Ada topeng hyottoko, kipas, camilan manis, serta mainan burung gagak yang entah bagaimana mengingatkannya pada Hinata.
“Eh?”
Bokuto nyengir. “Aku sudah bilang, kan? Aku akan membawa pulang banyak hadiah untukmu!”
Lihat, kan? Bokuto sangat tidak sadar dengan sikapnya, yang membuat Akaashi jengkel sekaligus semakin jatuh cinta! Bagaimana bisa Bokuto bersikap seperti itu dan beranggapan Akaashi akan biasa saja?
“Kau tidak perlu melakukannya, Bokuto-san,” ujar Akaashi.
Bokuto menggeleng. “Aku sudah punya hal-hal seperti ini di rumah, jadi ini milikmu.” Ia bersikeras. “Oh, iya, apa kau lapar? Aku ingin sekali makan lidah sapi bakar. Ayo!” Bokuto pun pergi lebih dulu tanpa menunggu persetujuan Akaashi.
Akaashi menghela napas dan menyusulnya. Bokuto sudah berdiri di kios gyutan bakar dan memesan dua tusuk untuk mereka berdua.
Bokuto menoleh padanya. Dengan senyuman yang sama sekali tidak seperti Bokuto biasanya (cengiran lebar penuh semangat yang membuatnya terlihat konyol), ia berkata, “Yukata itu cocok sekali untukmu!”
Akaashi mengalihkan pandangan, menyembunyikan wajahnya dari Bokuto. “Terima kasih.”
Terus terang Akaashi lega. Jujur saja, ia tidak bisa membayangkan orang seaktif Bokuto memakai yukata, apalagi kalau tujuannya adalah untuk menenangkan semua permainan di sini. Sementara jinbei sangat cocok dengan Bokuto. Meskipun… ia yakin harusnya celana jinbei tidak sependek yang dipakai Bokuto sekarang sih. Celana itu benar-benar terlalu pendek untuk Bokuto, membuat lutut sampai pahanya terlihat. Kenapa dia tidak pakai knee pads seperti saat main voli saja?
“Akaashi!” Bokuto memberikan satu tusuk lidah sapi pada Akaashi.
Bokuto kira tangan Akaashi ada berapa?! Akaashi pun menaruh mainan gagak di bawah dan memutuskan menyeretnya saja agar lebih mudah, sebelum kemudian menerima makanan itu dari Bokuto.
Agenda berikutnya dipenuhi dengan permainan-permainan dan hadiah-hadiah lain serta Bokuto yang menghabiskan uang untuk Akaashi. Setiap kali membeli makanan, Bokuto otomatis membeli dua. Setiap kali memenangkan permainan, hadiahnya selalu diberikan pada Akaashi. Bokuto juga membeli dua haori berwarna biru untuk mereka berdua seperti barang pasangan.
Setelah mendapatkan hadiah hampir dari semua kios yang kebanyakan adalah camilan, rupanya Bokuto masih belum puas. Ia masih menginginkan boneka burung hantu di kios shateki sebelumnya.
Akaashi sudah berusaha menghentikannya. “Hadiah ini sudah sangat banyak, Bokuto-san. Kenapa tidak membiarkan orang lain saja yang mendapatkannya? Dan lagi aku tidak membutuhkan boneka.”
Bokuto menggeleng. “Tidak, kau harus memiliki great horned owl itu, bagaimanapun caranya!”
Untuk kesekian kalinya malam itu, Akaashi menghela napas.
“Aku akan mendapatkannya, lihat saja nanti.”
Mereka mendatangi kembali kios shateki. Orang-orang sudah mulai berkumpul di kuil untuk melihat taiko dan kembang api, sehingga kios itu lebih sepi dari sebelumnya. Bokuto langsung memberikan 1000 yen pada pemilik kios. 14 kali tembakan, si burung hantu masih keras kepala. Menurut Akaashi ini terlihat seperti jalan buntu, sebab semua tembakan Bokuto tepat sasaran, namun tidak ada yang berhasil menggulingkannya. Bokuto mengeluarkan 1000 yen lagi.
“Bokuto-san, sudah cukup.” Akaashi tidak habis pikir. Kira-kira berapa uang jajan Bokuto untuk festival musim panas ini?
Semakin lama melihat Bokuto menembak dan gagal, semakin pula Akaashi ikut terbawa suasana. Ia ikut menggertakkan gigi setiap melihat peluru gabus itu terpental dari tubuh burung hantu, membuat usaha Bokuto sekali lagi sia-sia.
Pada akhirnya, pada percobaannya yang ke-20, sang burung hantu kehilangan pertahanan dan Bokuto berhasil menggulingkan hadiah yang sejak tadi telah digadang-gadang itu.
Bokuto bersorak, pemilik kios membunyikan lonceng dengan heboh. Akaashi secara spontan juga bersorak seolah Bokuto baru saja menembakkan smash yang mengakhiri pertandingan.
Bokuto melakukan tos dua tangan dengan pemilik kios. Ia juga memberikan tangannya untuk tos dengan Akaashi, sebelum menyadari kembali kalau tangan Akaashi sangat penuh dengan hadiah.
Bokuto nyengir lebar. “Sudah kubilang aku akan mendapatkannya, kan?”
Akaashi hanya tersenyum. Semau Bokuto saja lah.
Bokuto pun memberikan boneka horned owl berwarna abu-abu itu pada Akaashi.
“Terima kasih.”
“Kau mau menamainya apa?” tanya Bokuto.
“Burung hantu.”
Bokuto cemberut. “Aku tahu kau lebih kreatif dari ini, Akaashi! Namai dia dengan benar!”
Akaashi tertawa. Ia menatap boneka di tangannya, kemudian menatap Bokuto, lalu pada suasana festival di sekitar mereka. “Kalau begitu… Fukunatsu.”
Mata Bokuto melebar. “Nama yang bagus!” Bokuto menepuk-nepuk kepala Fukunatsu. “Kau dengar itu? Sekarang namamu adalah Fukunatsu. Kau harus jaga Akaashi, oke?”
“Tidakkah seharusnya akulah yang menjaganya Bokuto-san?”
“Tentu, tapi aku sudah tahu kau pasti akan menjaganya dengan baik. Sementara Fukunatsu, dia harus diberitahu lebih dulu.”
Ah, begitu.
“Rupanya kalian berdua ada di sini,” kata sebuah suara yang familiar.
Bokuto dan Akaashi menoleh, melihat Kaori dan Konoha menghampiri mereka.
“Apa yang kalian lakukan? Semuanya sudah berkumpul di depan kuil. Ayo cepat. Kalian tidak mau ketinggalan pertunjukan kembang api, kan?” kata Kaori.
Bokuto dan Akaashi saling berpandangan.
“Ayo!” Ajak Kaori lagi, sudah beranjak lebih dulu dengan Konoha.
Bokuto dan Akaashi segera menyusul mereka, suara geta mereka bersahutan. Saat mereka berjalan beriringan, Konoha melirik semua mainan di tangan Akaashi dan tertawa. “Semua itu hadiah Bokuto?”
Akaashi memutar bola mata. “Tolong, jangan ingatkan aku.”
Konoha masih tertawa. “Berapa yang kau habiskan untuk semua ini?” tanyanya pada Bokuto dengan sebelah alis terangkat.
“Setimpal.” Hanya itu jawaban Bokuto.
Diam-diam Akaashi memeluk Fukunatsu lebih erat. Yang dikatakan Bokuto benar. Dia akan menjaga burung hantu keras kepala ini dengan baik.
Mereka berhasil sampai di depan kuil tepat waktu. Ketika kembang api pertama diluncurkan, mereka berfoto berdelapan sebagaimana yang diinginkan Bokuto. Akaashi dan Bokuto ada di tengah, dengan Fukunatsu di antara mereka. Di sebelahnya, Komi memamerkan banyak plastik berisi ikan mas. Yukie mengangkat makanan-makanan yang ia beli. Sarukui memakai topeng hyottoko yang dimenangkan Bokuto sebelumnya. Washio memegang mainan gagak yang mengingatkan Akaashi pada Hinata. Dan beberapa orang lainnya turut membantu membawakan camilan-camilan hadiah permainan.
Pada akhirnya, Bokuto berhasil memenangkan taruhannya. Dia benar-benar menjadi orang yang paling banyak mendapat hadiah di festival musim panas tahun itu.
“Kurasa pada akhirnya aku tidak akan perlu mencoba permainan apa pun di festival musim panas seumur hidupku,” celetuk Akaashi ketika mereka dalam perjalanan pulang.
“Hey, jangan begitu. Tahun ini aku memberikan hadiah untukmu. Tahun depan kita bersaing siapa yang paling banyak mendapat hadiah!”
“Terima kasih, tapi aku tidak tertarik.”
“Akaaashiii?!?!!”
Akaashi tersenyum pada diri sendiri. Kira-kira seperti apa festival musim panas tahun depan, ya?
