Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-08-28
Words:
6,480
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
71

Kapal Kertas

Summary:

kala ombak takdir menghantam kapal kertas ini, hanya kamu yang aku punya

Notes:

DENGERIN BULAN YANG BAIK BY SAL PRIADI PLS GUE SUKA BAT

Work Text:

Suara air mengalir terdengar sangat keras di kamar mandi yang sunyi. Junkyu hanya bisa menatap dirinya di cermin hadapannya dengan tatapan kosong, matanya memerah sembab, wajahnya berantakan sama seperti keadaan rambutnya. Ragu-ragu, Junkyu membiarkan kedua telapak tangannya mengenai air yang dingin itu, menadahkan air dan membasuh wajahnya dengan air seperti dingin air aliran pegunungan antartika. Ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air mengalir sampai bagian rambut depannya basah seperti berusaha sekuat tenaga mungkin menghilangkan wajahnya yang berantakan. 

Tidak tahan, Junkyu berteriak kencang dalam ruangan yang tadinya sunyi tersebut. Ia mengusak rambutnya kasar dan meninju dinding di sebelah cermin besar di hadapannya. 

“Brengsek!” 

Makian tersebut terdengar memekakkan telinganya sendiri, Junkyu meninju dinding dengan tangan lainnya membuat bekas kepalan tangan dalam dinding tersebut, membuat punggung tangannya terpatri luka-luka. 

Tanpa sadar, air mata turun pada wajahnya. Buru-buru ia menghapus jejak air mata di wajahnya tersebut. Junkyu tidak mau dirinya terlihat sangat menyedihkan. 

Sebuah amplop surat masih berada di pinggir wastafel, beberapa titik sudah terkena air. Tangan kanannya mengambil surat tersebut dalam diam, membukanya lagi dan membaca dengan seksama untuk ketiga kalinya. Surat dengan kop Rumah Sakit Ibu dan Anak Bandung itu seperti sebuah surat dari neraka bagi Junkyu. Kata-kata Kanker leukimia stadium 3 tidak berubah sedari dua hari yang lalu seperti sihir, diagnosa penyakit itu masih ada di dalam sana, terpatri jelas dengan tulisan tebal. 

Masih ingat dengan jelas di kepalanya bagaimana Kiyo, anak laki-laki kesayangannya, kebanggaannya jatuh sakit selama hampir satu minggu. Demam naik turun, sampai akhirnya sang anak terlihat baik-baik saja dan dibawanya bermain bersama di taman perumahan, tapi hari buruk tidak datang memberi salam, malamnya keadaan Kiyo memburuk dan dibawa ke IGD. Setelah melalui proses cukup panjang, surat yang dibacanya itu keluar. 

Haruto, suaminya, belum tahu bahwa Kiyo menderita penyakit ini dan harus segera dilakukan perawatan lebih lanjut agar sel kanker tidak dapat menyebar terlalu cepat dengan harapan sembuh. Haruto masih sibuk di tambang minyak lepas pantai. Katanya, kali ini terakhirnya ia bekerja sebagai teknisi di sana dan akan dipindah ke kantor mulai bulan depan. Siapa yang menyangka, bahwa takdir itu malah mempertemukan mereka untuk lebih sering bertemu karena nantinya mereka akan merawat Kiyo bersama. 

Junkyu tertawa dalam hatinya, ia tidak akan membiarkan sel kanker tersebut menang. Ia baru mempunyai Kiyo selama 3 tahun lamanya, Kiyo belum masuk sekolah dasar, Junkyu belum melihatnya tumbuh besar. Ditutupnya lagi surat tersebut, ia biarkan sampai esok hari Haruto membacanya. Takdir lelucon, Haruto akan pulang dengan perasaan sedih dibandingkan bahagia karena akan lebih sering bersama. 

Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum membuka pintu kamar mandi dengan amplop surat di tangan kanannya. Dibawa kedua kakinya melangkah ke kasur dan menaruh surat tersebut di atas meja kecil sebelah kasur. 

Kiyo sudah boleh pulang tadi siang, mengurus satu anak berumur 6 tahun yang takut akan rumah sakit itu melelahkan, tetapi ia juga tidak bisa membayangkan rasanya menjadi anak yang harus mempunyai penyakit tersebut. Junkyu hanya dapat berharap, nantinya Kiyo akan sembuh. 


Suara berdering dari ponsel pintar Junkyu membuat Junkyu dan Kiyo yang sedang bermain di dalam kamar menolehkan kepalanya. 

“Papa… call call!” Ujar Kiyo semangat sembari mengangkat mainan mobil-mobilannya. 

Junkyu tersenyum dan mengusak rambut Kiyo. Ia berdiri dari duduknya dan melihat siapa yang menelpon dirinya. 

Jantungnya berdebar kencang kala mengetahui nama ‘My Husband’ tertera dalam ponsel pintarnya. Tanpa ragu ia mengangkat panggilan tersebut. 

“Halo, Junkyu sayang!” 

Suara Haruto terdengar dari sana sangat senang kala panggilannya diangkat oleh Junkyu. 

Junkyu menyunggingkan senyuman dan matanya memandangi Kiyo yang sibuk dengan mainan mobil-mobilannya. 

“Halo juga, Haruto sayangkuu.” 

“Kamu lagi ngapain?” 

“Nemenin Kiyo main. Lagi asik main mobil-mobilan yang kamu beliin itu.” 

“Kangen banget sama anakku. Panggilin dong, bilang ayah kerennya di sini.” 

Anakku, entah kenapa ada yang mengganjal dalam hati Junkyu. Haruto belum mengetahui sama sekali apa yang terjadi pada Kiyo selama hampir dua minggu ke belakang, tidak ada hati untuk memberitahu hal buruk semacam itu pada Haruto yang sedang bekerja berat. 

“Kiyo. Ini Ayah call call.” Junkyu memanggil Kiyo. 

Kiyo terdistraksi dari dunianya ketika mengetahui Ayah-nya yang menelpon sang Papa. “AYAHHHH.” Kiyo melengkingkan suaranya dan berdiri dari duduknya, lalu membawa kedua kaki gembulnya itu berjalan mendekat ke arah sang Papa. 

Junyu mengeraskan suara ponselnya. “Kiyoooooooo.” 

Junkyu hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia seperti merawat dua bayi. 

“Papa, up up!” Kiyo mengangkat kedua tangannya. 

Junkyu menaruh ponselnya di atas kasur Kiyo dan mengangkat Kiyo, lalu mendudukannya di atas pangkuan. 

Haruto menawarkan panggilan video, Junkyu menerimanya. Diarahkan layar ponselnya pada Kiyo yang berada di pangkuannya. 

Dengan suara bayinya, Kiyo menyapa sang Ayah yang di hadapannya juga tangannya seperti meraih sang Ayah yang berada di belakang layar. “Ayah where?” 

“Ayah selesai work.” 

Junkyu hanya bisa tersenyum. Ia yang tadinya fokus pada Kiyo, jadi fokus pada Haruto yang seperti berada di dalam mobil. “Kamu di mana, sayang?” 

Sang lawan bicara malah menyunggingkan seringai kecil. “Tebak aku di mana?” 

“Di mobil?” Tanya Junkyu bingung. 

Kiyo yang mendengar kata mobil, mendongakan wajahnya pada Junkyu dengan mata yang berbinar. “Car?! Mau naik car!” 

Dalam panggilan video tersebut, Haruto terlihat membuka pintu mobil dan menunjukkan sebuah rumah yang sangat persis dan mirip dengan rumahnya. Dalam kepalanya, Junkyu berpikir bahwa Haruto sengaja menunjukkan rumah yang akan dibelinya lagi dengan alasan investasi masa depan dan agar Kiyo tidak pusing memikirkan rumah di masa depan. 

Hal tersebut tidak masuk akal memang, sampai Haruto memperlihatkan bunga matahari yang tidak asing dan terdapat papan nama, Untuk Kiyo. Junkyu menganga tidak percaya dan melemparkan ponselnya ke atas kasur. 

Ia menggendong Kiyo yang kebingungan karena tingkahnya, beruntung kamar Kiyo berada di lantai 1. Jadi ia tidak perlu membawa Kiyo turun menggunakan tangga dengan terburu, kakinya dibawa melangkah terburu menuju pintu keluar seperti dikejar sesuatu, memang dikejar rasa rindu yang menumpuk hampir membuncah. 

Suara pintu terbuka, Haruto sudah berdiri di hadapannya dengan pakaian santai dan senyuman manisnya itu. Tanpa babibu, ia langsung membawa tubuhnya mendekap, melupakan Kiyo yang berada di antara mereka sampai anak umur 3 tahun itu melengkingkan suaranya tak nyaman. 

“Kiyo mau hug hug juga!” Kiyo mengangkat kedua tangannya ke arah Haruto yang hampir berteriak gemas. Kakinya menendang-nendang angin ingin melepaskan diri dari Junkyu. 

Junkyu kemudian menyerahkan Kiyo pada Haruto, tetapi karena tahu rindu Junkyu sudah sebesar dunia, Haruto menggendong Kiyo di tangan kirinya dan tangan kanannya menarik Junkyu dalam dekapannya. Diciumnya rambut Junkyu yang harum citrus. “Aku rindu banget sama kamu, Kyu.” 

Junkyu menganggukkan kepala dalam ceruk leher Haruto. “Aku juga kangen banget sampai mau gila.” 

Kedua tangan Kiyo melingkar di leher Haruto. Tidak hanya sang kekasih hidupnya saja yang dicium penuh cinta oleh dirinya, tetapi sang anak juga. Dicium pipi Kiyo sampai sang empunya menguarkan tawa. 

“Ayah kangen banget sama kamu.”

Rumah yang besar tersebut kembali hangat dengan hadirnya tiga insan yang kembali bersatu. Perginya Haruto dalam jangka waktu yang cukup lama menimbulkan kekosongan dalam rumah tersebut, walau beberapa kali Haruto memang pernah pulang, tetapi untuk kali ini, Haruto akan terus pulang ke rumah. 


“Kanker?” Haruto mengalihkan pandangannya dari secarik kertas surat jadi pada Junkyu yang berdiri di hadapannya tak tenang. 

Kepala Junkyu rasanya mau pecah dan isinya akan berhamburan, mendengar kata itu lagi layaknya tombak yang menusuk berkali-kali dan kakinya dipasung, tak lagi bisa lari dari kenyataan tersebut. Berat hati, Junkyu menganggukkan kepalanya. 

“Kiyo… kena kanker?” Suara Haruto memelan, layaknya menyapa angin. Matanya kembali menatap surat yang berada di kedua tangannya. Ia membacanya lagi dengan seksama. 

“Leukimia.” Junkyu menambahkannya. 

Tanpa kedipan mata, Haruto melemparkan surat tersebut ke arahnya. Dan berdiri dengan tatapan yang tidak dimengerti oleh dirinya. 

“Kenapa nggak bilang sama aku kalau Kiyo sakit?!” Suara Haruto menggelegar memenuhi ruangan kamar tidur mereka. 

Junkyu tersentak, kakinya melangkah mundur ke belakang takut. “Aku nggak mau buat kamu khawatir.” 

“Persetan!” Haruto berteriak di hadapan wajahnya. Matanya seperti menyimpan bara api. Junkyu semakin takut, ia tidak pernah melihat Haruto seperti ini sebelumnya dalam waktu pernikahan mereka sembilan tahun. 

Haruto membawa kedua kakinya tidak tenang mengitari kasur. “Ini anak kita, Kyu. Anak kita!” 

“Aku tahu, To. Tapi kamu jauh posisinya, aku bingung.” Junkyu mengepal tangannya sampai buku-buku kukunya memutih. “Aku waktu urus Kiyo sakit, aku nggak nyangka kalau ternyata Kiyo punya kanker selama ini.” 

Mendengar pernyataan dari Junkyu malah membuat Haruto semakin marah, marah kepada dirinya sendiri. Ia tidak bisa berada di sisi Kiyo maupun Junkyu di saat-saat terpuruk, mereka menghadapinya berdua, apalagi Junkyu yang pasti menghadapinya sendiri, menyimpan semua berita ini sampai dirinya harus kembali menginjakkan kaki di Bandung raya. Bajingan. 

Napas Haruto jadi tidak teratur, semua perasaan menghampiri dirinya, bercampur aduk menjadi satu membuat puting beliung dalam dadanya. Dadanya terasa sesak, pengap, tidak bisa membayangkan bahwa sang anak akan mengalami hal ini di hidupnya yang masih beranjak tiga tahun dan dirinya harus menyaksikan itu berpura-pura kuat untuk Kiyo. 

Benang kesunyian melingkar dalam ruangan 5 x 6 meter, Haruto berada di dekat kasur, sedangkan Junkyu menyandarkan tubuhnya pada lemari baju miliknya. Tidak ada yang berani memutuskan keheningan, mereka semua sedang dikuasai emosi mereka. Menelaah pelan-pelan mana yang harus ditelan terlebih dahulu.

Haruto mengembuskan napasnya. “Terus harus gimana?” Tanyanya tenang, matanya menatap Junkyu. 

Rasa takut Junkyu menghilang sesaat Haruto kembali tidak memarahinya, ia tidak kembali marah pada Haruto yang memang sedang menelaah emosinya, ia ingat pada malam di mana ia tahu bahwa Kiyo menderita kanker leukimia, ia hampir meruntuhkan satu ruangan. 

“Ke Rumah sakit yang capable buat Kiyo, yang ada onkologi anak spesialis kanker darah.” Junkyu mendekatkan dirinya pada Haruto. “Terus, baru kita bisa diskusi sama dokternya mau pengobatan yang kayak gimana yang sekiranya cocok sama kondisinya.” 

Haruto mengerutkan kedua alisnya, mengingat rumah sakit di daerah Bandung Raya yang cocok untuk Kiyo nantinya. 

“Kita ke Jakarta atau ke Singapura sekalian.” Junkyu memberikan penawaran, ia tahu idenya itu gila, tapi ia akan mengusahakan semuanya demi Kiyo, demi anak semata wayangnya.

Diberikan penawaran tersebut, hal kedua yang dipikirkan oleh Haruto adalah pekerjaannya. Ia tahu Kiyo punya asuransi kesehatan, yang dibuatnya sedari masih umur satu tahun, tetapi tetap saja, pasti membutuhkan biaya cukup besar yang semuanya tidak ditanggung oleh asuransi. Ia tidak bisa melepaskan pekerjaannya begitu saja, walau gajinya hampir menyentuh angka empat puluh juta dalam sebulan. 

“Kerjaanku, Kyu.” Ujar Haruto. 

Junkyu menatap Haruto tidak suka, ia tidak suka dengan pembahasan itu. “Aku tahu pekerjaan kamu berat, tapi aku juga butuh kamu, To. Aku nggak akan sanggup ngurusin Kiyo sendirian.” Junkyu berkata pelan. 

Ia mana sanggup urus Kiyo yang akan meraung kesakitan ketika jarum menusuk kulitnya nanti, belum lagi perawatan kanker yang terkenal tidak ramah bagi anak. Membayangkannya saja Junkyu tidak kuat, ia butuh seseorang berada di sisinya, berada di dekatnya ketika semua hal itu terjadi. Kiyo juga butuh sang Ayah.

Haruto mengembuskan napasnya. “Besok kita ke Jakarta, ya.”  

Junkyu yang masih berdiri di dekat Haruto menganggukkan kepalanya. 

Kaki jenjang Haruto mendekat ke arah Junkyu dan langsung mendekap tubuh Junkyu. Ia menitikkan air matanya, tidak tahu takdir mau ke arah mana, rasanya semua susunan masa depan yang dibangun bersama hancur ketika melihat diagnosa tersebut. Tidak apa, kala takdir menghantamnya, setidaknya ia punya Junkyu, ia punya Junkyu melepaskan peliknya dalam peluk hangatnya, ia punya Junkyu yang mau berbagi keluh kesah. Dan di keadaan seperti ini, Haruto hanya bisa bersama Junkyu. 


Sudah tiga bulan lamanya Junkyu hidup di Jakarta, tidak ada destinasi wisata terkenal yang dilihatnya. Perjalanannya hanya dari rumah sewaannya dengan Haruto dan rumah sakit. Destinasinya hanya, ruang kemo dan lorong-lorong bangsal kanker anak. 

Tubuhnya habis dimakan rasa lelah, berat badannya turun sampai enam kilogram. Makanan paling nikmat satu dunia pun tidak lagi menyenangkan lidahnya, seperti berkata, bahwa yang bisa membuatnya senang adalah Kiyo sembuh. 

Berbagai erangan dan tangisan sering kali didengarnya. “Pa… hurt.” selalu bergema di setiap kali sesi kemo dimulai, belum lagi ketika pengambilan sampel sel sumsum tulang belakang dengan jarum besar. 

Semuanya terasa seperti mimpi berkepanjangan, ketika semuanya terjadi. Haruto tetap berada di sisinya, ia selalu pulang pergi menggunakan kereta cepat dibandingkan mengendarai mobil melewati tol. Pernah ada masa, Kiyo menangis tidak berhenti semalaman sampai Junkyu ikut menangis juga bersamanya dan Haruto berusaha menenangkan keduanya. 

Hari ini, hasil BMP milik Kiyo keluar. Rasa cemas menghampiri diri Junkyu dan Haruto yang menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Kiyo sedang bersama Neneknya atau Ibunda tercinta Haruto. Kedua tangan mereka saling bertaut, melemparkan sebuah harapan pada langit yang tinggi agar hasil BMP kali ini bagus dan dapat melanjutkan ke protokol selanjutnya. 

Hasil BMP sudah ada, Junkyu berdiri dan mendekat melihat surat dengan nama panjang Kiyo. Surat yang baru diterimanya diremas dengan erat, memikirkan segala hasil yang ada di kepalanya, bagaimana jika sel kanker yang ada di tubuh Kiyo malah semakin banyak, bagaimana jika Kiyo tak kunjung sembuh dan lainnya. 

Haruto tersenyum kepada Junkyu. “Buka di taman rumah sakit aja yuk. Ada air mancur.” Ajak Haruto kepada Junkyu. 

Entah apa korelasi apa dari surat BMP dengan air mancur yang ada di taman rumah sakit, tetapi Junkyu mengikutinya. Layaknya tidak ada beban, mereka bersenda gurau selama berjalan kaki menuju taman rumah sakit. Walau perasaan dalam hatinya tidak bisa diekspresikan melalui kata-kata, tetapi tetap saja ada yang mengganjal. 

Mereka memilih duduk di bangku panjang dekat air mancur. 

“Aku takut.” Jujur Junkyu, ia takut akan segala hal yang ada nantinya di dalam kertas tersebut. 

Haruto kembali menggenggam tangan Junkyu. “Gapapa, wajar takut.” Ia memberikan senyuman terbaiknya pada Junkyu. 

Mulai dengan perlahan, Junkyu membuka surat tersebut, meninggalkan amplop di atas bangku panjang dan melihat hasil medis yang tertera dalam kertas ukuran A4 tersebut, dibacanya dengan seksama, sedangkan Haruto di hadapannya menunggu dengan perasaan cemas. Matanya kemudian membaca kesimpulan, tidak bisa diprediksi. 

Layaknya layar ponsel pintar, Haruto tahu bahwa hasil kali ini tidak memuaskan. Dilihat dari raut muka Junkyu yang sedikit merengut dan menahan tangis dengan menggigit bibirnya. 

Tanpa ragu, Haruto mengambil alih surat yang dipegang oleh Junkyu dan membacanya. Benar dugaannya, bahwa hasilnya tidak dapat diprediksi lagi dan berarti tidak bisa lanjut ke protokol selanjutnya. 

Junkyu diam, Haruto juga hanya bisa diam. Keduanya berdiam diri menatap surat yang hasilnya buruk. Sudah ke empat kalinya hasilnya tidak baik. Harapan sembuh semakin mengikis, rasanya, semua usaha yang mereka lakukan sia-sia. Rasanya, semua malam tanpa tidur nyenyak dan mimpi indah juga sia-sia. Semua tenaga dan usaha sudah dikerahkan, tetapi hasilnya tetap sama. 

“Kiyo gimana ya, To?” Tanya Junkyu, ia tidak sanggup lagi harus mendengar tangisan sang anak. 

“Kiyo pasti kuat, sayang. Kiyo kan anak hebat.” Haruto berusaha menenangkan Junkyu, ia menggenggam tangan Junkyu dan mencium punggung tangannya. “Kamu lihat nggak, setiap minum obat pagi dia udah nggak nangis, dia pasti kuat.” 

Junkyu menggelengkan kepalanya. “Itu karena dia terbiasa, bukan kuat. Pasti Kiyo cape.” 

Kedua tangan Haruto dibawa untuk menangkup wajah Junkyu yang tatapannya mulai kosong. “Kiyo kuat, sayang. Iya Kiyo cape, tapi dia kuat oke? Kalau Kiyo kuat, kita juga harus kuat.” 

Benar, Junkyu harus kuat. Dirinya harus kuat agar dapat melihat Kiyo sehat. 

“Kamu juga makan yang bener, ya? Kamu kurus banget sekarang, pipinya jadi tirus.” Haruto menelan ludahnya, Junkyu-nya masih tampan, masih memukau dirinya kala tersenyum. 

Junkyu hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Iya nanti aku makan. Aku kangen makan sushi.” 

Mata Haruto berbinar kala Junkyu menyebutkan makanan yang disukainya setelah sekian lama tidak pernah mendengar makanan apa yang ingin dimakan oleh Junkyu. “Oke, kalau Kiyo sudah boleh keluar. Kita mampir sebentar ke Omakase ya, kamu boleh makan semua yang kamu mau!” Ujar Haruto dengan semangat. 

Junkyu menyatukan kedua telapak tangannya, memberikan harapan besar satu lagi pada sang penguasa dunia. Harapannya besar, semua kembali normal. Kehidupan normal, bukan lagi di bangsal, bukan lagi di ruang dengan aroma yang membuatnya pusing dan ia bisa memeluk Kiyo tanpa ada alat medis di tubuhnya. 


Masuk bulan ke enam. Junkyu sudah bertahan sekuat tenaga, mengerahkan segalanya yang ia bisa. Walau hampir 2 minggu ini, Haruto tidak bisa menemaninya. Ia sedang sibuk di Bandung, pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dikarenakan proyek besar mengenai tambang yang tidak dimengerti oleh dirinya. 

Kepalanya pusing ketika Kiyo mencari Haruto. Anak umur 3 tahun itu hanya bisa menangis sembari berteriak memanggil Ayah. 

“Ayah..” 

Esok adalah kemo kesekian kalinya, Junkyu malas menghitung angka kemo tersebut. Menurutnya, menyebalkan sekali kemo ini, tidak berhenti-berhenti. 

Ketika Kiyo mulai terlelap dalam mimpinya, Junkyu mencoba menghubungi Haruto. Harap-harap cemas panggilannya ditolak dengan alasan rapat besar. Karena hal itu yang dihadapkannya beberapa waktu lalu. 

“Halo, Junkyu sayang. Ada apa?” 

Tanpa menyapa, Junkyu langsung menembak. “Kamu belum bisa ke sini? Sudah 3 hari Kiyo nyariin kamu.” 

Terdengar suara helaan napas dari arah panggilan. 

“Belum bisa, Kyu. Aku di sini masih sibuk. Nanti pasti aku ke sana kalau ada waktu, nggak mungkin nggak.” 

“Sebentar aja… Please. Besok Kiyo kemo dan pasti bakal cariin kamu lagi.” Junkyu memohon dengan pelan, ia tahu permintaannya pasti tidak akan terkabul lagi. 

“Jam berapa besok kemonya?” 

“Jam 11 pagi. Tolong ya, sayang.” 

“Oke aku usahain, aku pesen tiket malam ini.” 

Bukan mau memaksakan keadaan, tetapi mendengar anak yang memanggil Ayah berkali-kali juga memekakkan telinganya, perasaan bersalah hinggap di tubuhnya karena tidak bisa membersamai Kiyo dengan kedua orang tuanya. 

“Makasih, To. Semangat kerjanya, ya.” 

“Kamu juga, aku tutup sebentar ya.” 

Belum sempat Junkyu berpamitan, panggilan tersebut sudah terputus. Iri dengan Haruto yang bisa lari dari rumah sakit untuk sejenak. Dirinya bahkan tidak bisa. 

Bukan, bukan masalah ia tidak menyayangi Kiyo, tetapi menjadi seorang perawat orang sakit apalagi penyakit berat dan harus melakukan prosedur medis berulang kali sangat melelahkan, seperti seluruh energinya terserap sampai titik terakhir, seperti jiwanya ditukar. Ia hanya berharap bahwa esok hari, ada Haruto di sisinya. 

Jam 10 pagi, Junkyu cemas melihat telepon genggamnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kabar dari Haruto. Sedangkan Kiyo sudah mau bersiap ke ruang kemo. 

Ketika prosedur kemotrapi dimulai, Haruto benar-benar tidak datang, bahkan mengabarinya saja tidak sempat. Mungkin proyek tambang entahlah apa itu namanya memang lebih penting dari kehidupan sang anak. Rasa marah menyelimuti tubuhnya, tetapi ia harus berpura-pura bahwa tidak ada karena sang anak mulai menangis lagi. 

Kemotrapi hari pertama berjalan, infus sudah terpasang di tangan mungil Kiyo. Anak kecil itu sudah mulai terlelap dalam tidurnya, Junkyu hanya bisa menatapnya dengan perasaan sedih dari sebelah kasur ruang kemo. Rambut Kiyo yang hitam legam itu sudah tidak lagi ada. Senyum Kiyo yang biasa menghangatkannya jarang sekali terlihat, panggilan semangat kini berganti jadi lirih memanggil dirinya. Kiyo-nya berubah dan ia merasa bersalah karena tidak bisa menghilangkan penyakit itu dari tubuh sang anak. 

Hari kedua berjalan dengan normal, reaksi biasa yang diberikan Kiyo adalah muntah. Ia sudah biasa menjadi ‘tempat pembuangan’ isi perut Kiyo, ia tidak masalah. 

Suara pintu ruangan membuat dirinya terdistraksi karena Kiyo seperti senang melihatnya ketika ia sedang mengusap dan membersihkan muntahan dari tubuh Kiyo. 

“Ayah….” Panggil Kiyo. 

Terkejut bukan main, Junkyu menolehkan kepalanya pada Haruto. Tetapi bukan perasaan senang yang ada di dalam dirinya, melainkan amarah memuncak. 

Dibandingkan dirinya meledak karena sudah diterkam rasa lelah, ia lebih memilih membiarkan Haruto mempunyai momen bersama dengan Kiyo setelah hampir tiga minggu tidak bertemu. 

Junkyu sibuk menatap kedua kakinya yang memakai balutan sandal di ruang rumah sakit yang dingin sampai bangku besi di sebelahnya terisi oleh seseorang yang dari ekor matanya adalah Haruto. 

“Maaf.” Haruto mengucapkannya tiba-tiba. 

Tersenyum remeh, Junkyu berdeham dan berkata. “Jadi kamu enak ya, bisa kabur ke Bandung, terus balik ke sini ngomong maaf.” 

Haruto terdiam. 

Junkyu bangun dari duduknya, sedang tidak mau dekat dengan suaminya. Ia menatap Haruto tanpa rasa takut. “Kamu tuh tahu nggak sih rasanya ngurus Kiyo yang orang kesayangannya lagi nggak ada terus menerus?” 

Beruntung lorong ruang tunggu sedang tidak terlalu ramai dengan banyak orang juga ruangan kemo yang sedang tidak banyak pasien kemoterapi. 

Kedua tangan Haruto mengusak rambutnya kasar. “Kan aku kerja, Kyu. Aku juga mau kok di sini, tapi aku kerja.” 

“Tapi kamu janji mau ke sini! Kamu tahu nggak, Kiyo nyariin kamu seharian kemarin, waktu dia lagi disuntik, dia nangis nyari kamu. Nggak tahu, kan, kamu?” Junkyu menunjuk wajah Haruto dengan napas tersengal-sengal. Ia menyunggingkan senyum sedih. “Kamu tahu nggak aku harus bilang Ayah-nya lagi sibuk dan dia sedih. Dia bilang, ayah sayang sama aku nggak, ya?” 

Tidak tahu harus bereaksi apa. Haruto hanya bisa menatap Junkyu yang meluapkan semua kekesalan padanya. Ia tidak tahu bahwa anak kecil berumur tiga tahun akan mempertanyakan hal tersebut, hatinya sakit, membayangkan Kiyo, anaknya, mempertanyakan hal tersebut. 

“Aku sampe bingung, sebenarnya—” Junkyu mulai bergetar, kata-katanya terhenti dan ia harus menelan ludahnya perih. “Sebenarnya, aku sama Kiyo tuh penting nggak sih buat kamu sampe ditinggal hampir tiga minggu dengan kamu susah dihubungin?” 

Haruto berdiri dari duduknya, mencoba mendekatkan diri pada Junkyu yang malah menjauhkan tubuhnya dari Haruto. 

“Penting, sayang. Kamu sama Kiyo penting buat aku.” Haruto mencoba meyakinkan Junkyu. 

“Kalau aku sama Kiyo penting, seharusnya kamu berusaha nggak sih buat ngehubungin aku? Nanya Kiyo gimana, nanya—” Junkyu menjeda perkataannya dan mengadahkan kepalanya ke atas berusaha menahan tangis, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Haruto. “Aku tahu kamu sibuk, tapi aku juga cape jaga Kiyo di sini sendirian.” Junkyu mengakhiri perkataannya dengan masuk ke dalam ruang Kiyo. 

Haruto berdiam diri di hadapan pintu ruangan. Kakinya seperti terpaku di atas lantai rumah sakit. Perasaan bersalah hinggap di dadanya, tidak bohong memang bahwa dirinya mencari ketenangan di Bandung. Pekerjaannya memang menumpuk bak gedung pencakar langit, tetapi dirinya lebih senang berada di sana sejenak, dibandingkan harus di Jakarta dengan destinasi yang sama. 

Seharusnya, dirinya tidak boleh seegois itu. Bahwa di sini, di Jakarta, Junkyu kesulitan menghadapi semuanya sendirian dan ia lebih memilih mengerjakan pekerjaan di Bandung. Walau di Bandung pun ia tidak berleha-leha, tetapi mencari pundi-pundi uang pengobatan kanker Kiyo, membayar uang sewa rumah, kamar rawat inap paling mahal dan lainnya yang tidak bisa disebutkan. 

Junkyu sudah memberikan sebuah banyak kompromi selama ini, merawat Kiyo, bertemu dan konsultasi dengan dokter yang merawat Kiyo, mempelajari banyak hal baru dan lainnya. Komunikasinya buruk, ia tahu itu. 

Ketika sudah terlalu lama berdiri, Haruto lebih memilih masuk ke dalam ruangan, hatinya kembali seperti tercabik-cabik ketika melihat Junkyu yang tertidur lelap di bangku, tangannya menggengam tangan Kiyo. 

Haruto membawa kedua kakinya mendekat ke arah Junkyu, mengusap rambutnya, ia kembali memperhatikan Junkyu yang semakin kurang mengurus dirinya sendiri. Perlahan, Haruto mencoba melepaskan genggaman tangan Junkyu dengan Kiyo agar sang anak tidak menangis dan mengangkat Junkyu dalam gendongan ala koala. 

Haruto jadi teringat bagaimana dulu, sebelum ada Kiyo di kehidupan mereka, Junkyu suka terlelap di ruang tamu karena menunggu dirinya pulang dan pada akhirnya, harus dia yang memindahkan Junkyu. Haruto memindahkan Junkyu dari bangku yang tidak nyaman jadi ke tempat tidur penunggu, beruntung dirinya membayar untuk perawatan yang lebih mahal sehingga dapat fasilitas yang baik pula. 

“Sayang.” Panggil Junkyu, tetapi matanya tertutup. 

Junkyu mengigau tandanya sudah terlalu lelah. 

Dirapikannya tubuh Junkyu di atas tempat tidur agar badannya tidak pegal-pegal. Haruto tersenyum kala nama panggilan tersebut terdengar. Ia membuat rambut Junkyu di hadapan dahi ke belakang dengan tangannya, ditatapnya dalam wajah penuh hangat milik Junkyu. Wajah yang sama pernah menikahinya sembilan tahun lalu. Masih sama seperti mereka mengucapkan janji sehidup semati, berada dalam keadaan sakit maupun sehat, senang maupun susah. Masih sama dengan wajah yang berbinar-binar dan cerah saat tahu Kiyo akan menjadi miliknya, selamanya. 


“Sel kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh Kiyo—” Kalimat pembuka pertama dalam sesi konsultasi hari ini membuat semuanya menjadi hening dalam kepala Junkyu. 

Ia tidak bisa lagi mendengar berbagai perkataan medis dan saran lainnya dari bibir sang dokter. Tubuhnya hanya ingin berlari pada Kiyo dan memeluknya, seakan-akan dunia akan mengambil alasannya untuk hidup hari ini.

Bibirnya kelu, tubuhnya membeku, kupingnya berdengung kencang. Junkyu hanya bisa dibawa keluar dari ruang dokter oleh Haruto yang dipenuhi rasa khawatir. 

Di ruang tunggu, bibir Junkyu masih kelu. Tubuhnya seperti dipenuhi bilur takdir bahwa usahanya sia-sia. Haruto sama dengannya, ia masih berdiam diri sembari menggenggam tangan Junkyu. 

“Kita—” Junkyu mencoba memutuskan keheningan dan menghentikan perkataannya. “Kita liburan aja, yuk?” 

Terkejut bukan main, ini bukan Junkyu yang biasa bersama Haruto. Biasanya, Junkyu akan mengusahakan segalanya, bahkan memohon untuk membawa Kiyo yang semakin parah untuk berobat ke luar negeri. Haruto hanya bisa menolehkan kepalanya sembari mengerutkan kedua alisnya bingung. “Hah?” 

“Liburan ke pantai. Kiyo bilang dia mau ke pantai.” Tambah Junkyu, ia lebih asik menatap sebuah dinding warna putih dibandingkan menatap Haruto. 

“Kamu yakin?” Tanya Haruto lagi. 

Junkyu menganggukkan kepalanya. “Yakin. Kiyo pasti seneng, dia bosan di sini terus. Kalau dia udah boleh keluar, kita main ke pantai, ya. Bertiga.” 

Jadi, Haruto hanya bisa menganggukkan kepalanya saja menuruti perkataan Junkyu. Karena menanyakan apa yang dirasakan Junkyu sekarang pasti sulit, pasti ia tidak mau berbagi dan akan membiarkannya mengetahui ketika tidak sengaja terbangun oleh tangisan dari kamar mandi. 

Butuh waktu cukup lama hampir satu minggu agar Kiyo diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Haruto sudah mendapatkan arahan dari Junkyu untuk bermain di pantai. Anehnya, dokter mereka memperbolehkannya. 

Satu hal yang Junkyu tahu, tetapi tidak diketahui Haruto. Jika sel kanker sudah menyebar sampai paru-paru dan otak, tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh mereka selain membuat memori indah agar dapat terkenang. Di malam-malam sunyi, Junkyu suka sekali menatap Kiyo yang tertidur lelap, menahan tangis di belakang kerongkongannya agar tidak terlihat lemah. 

Bohong kalau dibilang liburan kali ini tidak membuatnya semakin sakit kepala. Kala mereka sampai di pantai Ancol, suasana tidak begitu ramai karena hari ini adalah hari kerja. Junkyu sangat senang, dengan Kiyo di gendongannya.

“Papa.. beach! Pantai!” Kiyo menepuk kedua tangannya senang. 

Dalam gendongannya, Kiyo menendang-nendang angin dan juga Junkyu. “Kiyo mau main! Main!”

Junkyu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah lama ia tidak melihat Kiyo yang senang akan sesuatu. “Boleh, sayang. Nanti ya sama Ayah.” Junkyu yang gemas segera mencium pipi sang anak berkali-kali sampai tertawa. 

Haruto yang melihatnya seperti dipeluk oleh selimut hangat, melihat Junkyu dan Kiyo senang merupakan salah satu kebahagiaan bagi dirinya, bahwa setiap dia pulang nantinya, ada dua jagoan yang menunggunya. 

Mereka bertiga bermain-main dengan hati-hati, Haruto membiarkan kaki Kiyo terkena air laut dari ombak kecil yang menyapa pantai. Buat si kecil terpekik senang dengan segala suasana hari ini. Junkyu pun tidak kalah bahagianya hari ini, melihat Haruto bermain dengan Kiyo adalah hal yang disenanginya, apalagi mulai dari Kiyo bayi umur satu bulan, Haruto lebih banyak menghabiskan hidupnya di pekerjaan tambang lepas pantainya itu, sehingga jarang menghabiskan waktunya dengan Kiyo. 

“Papa ayo main! Papa ayo!” Kiyo dengan kaki gembulnya menghampiri dirinya, walau kepalanya sudah tidak ada lagi rambut masih lucu di mata Junkyu. 

“Iya, sayang. Ayo!” Junkyu menggemgam tangan kecil milik Kiyo, hatinya terenyuh kala melihat banyak bekas luka tusukan jarum di tangan yang bahkan tidak lebih besar dari ukuran kelingkingnya itu. 

Haruto yang melihat dari jauh, Junkyu mendekat dirinya dengan berjalan pelan dan Kiyo berada di sebelahnya kembali merapalkan doa pada Tuhan yang ia percayai lagi akhir-akhir ini. Tuhan, bolehkah ini yang kuperjuangkan? Bolehkah diriMu menyembuhkan Kiyo seperti semula?

Dalam hatinya, Haruto rela menukarkan segalanya yang ia punya di dunia, materi dan segalanya agar dapat melihat Kiyo tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. 

Mereka bermain dan terus bermain sampai Kiyo merasa lelah dengan semuanya, ia tertidur dalam pelukan Junkyu saat matahari mulai dilahap oleh laut barat dan digantikan menjadi gelap gulita. Semburat oranye menghangatkan mereka, tanpa aba-aba, Junkyu mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. 

“Kapal kertas?” Tanya Haruto bingung ketika melihat apa yang dikeluarkan oleh Junkyu. 

Junkyu menganggukkan kepalanya. “Iya, I wrote some of my wishes in this so-called kapal kertas.” Ia menunjukkan sebuah kapal kertas. Ia bahkan belum sempat mengajarkan Kiyo melipat origami. 

Jatuh cinta pada Junkyu selama bertahun-tahun lamanya membuat Haruto mengerti seluk beluk Junkyu. “Sayang…” 

Kepala Junkyu menoleh ke arahnya dengan senyuman kecil. “Aku tahu, To. Harapan Kiyo sembuh itu kecil. Tetapi harapan sekecil apapum, tetap sebuah harapan, kan?” 

Sang lawan bicara terdiam. 

Sembari melihat ke arah laut lepas. Junkyu berkata, “aku cuma mau kapal ini ada di laut, kalau nanti Kiyo—” Sekelebat perkataannya tentang Kiyo meninggalkan dirinya dengan Haruto membuat kepalanya pusing dan lebih memilih untuk menghentikan pembicaraannya. “Pokoknya gitu.” 

Anggukan mengerti dari Haruto, ia mengambil alih kapal kertas dari tangan Junkyu dan berjalan mendekat ke arah air laut yang mulai surut. Napasnya berat kala ia melepaskan kapal kertas tersebut, ia tahu itu hanya kapal kertas, dalam beberapa detik saja sudah hanyut dalam air laut. 

Doa kembali dirapal. Tuhan, semoga duniaku kembali normal dan bisa pulang bersama ke Bandung. 


Segenap rasa cemas menguasai tubuh Junkyu kala Kiyo semakin memburuk kondisinya dan sedang ditangani oleh berbagai dokter spesialis yang ia tidak mengerti, Haruto di sebelahnya menggenggam tangannya sembari menggigit bibir dalamnya sampai berdarah. Rasa anyir dan amis memenuhi mulutnya, tetapi tidak diperdulikannya. 

Suasana riuh ruangan Kiyo membuat Junkyu semakin ingin pingsan detik itu juga. Rasanya, lambung dan segala isi perutnya ingin keluar dari tempatnya. Rasanya ia mau lari ke dalam dan memeluk Kiyo, membawa Kiyo dalam dekapannya. 

Ketika dirinya tenggelam dalam pikirannya, suara pintu terbuka dan suasana riuh kamar Kiyo tidak lagi terdengar. 

“Mohon maaf—” 

Dunia Junkyu hening ketika mendengar kata pertama dalam kalimat yang dokter keluarkan adalah permintaan maaf. 

Takdir begitu bermain-main dengan dirinya, Junkyu langsung masuk ke dalam ruangan tanpa mendengarkan seluruh perkataan dokter. Matanya sudah dipenuhi oleh air mata, buat pandangannya kabur, tetapi ia masih bisa melihat jelas, Kiyo di atas kasur tertidur lelap. 

Semua perawat atau entah pekerja rumah sakit dalam ruangan tersebut memberi ruang pada Junkyu untuk mendekat, sedangkan Haruto masih berdiri di belakang Junkyu membeku, tubuhnya kaku, sarafnya tidak bisa menggerakan tubuhnya, bahkan untuk sekedar mengedipkan mata. 

“Kiyoo…” Panggil Junkyu pelan, ia bersimpuh dengan kedua kakinya. “Kiyo sayangnya Papa…” Satu tangannya mengusap dahi Kiyo yang tidak lagi mengeluarkan keringat. 

Air mata mulai jatuh di wajahnya. Bibirnya bergetar hebat memanggil nama Kiyo berkali-kali. “Ayo bangun, Nak. Nanti kita beli mainan mobil baru.” 

“Haruto… Kiyo…” Junkyu menolehkan kepalanya pada Haruto yang berdiri di belakangnya. 

Tanpa aba-aba, Haruto mendekat dan mengangkat tubuh Kiyo yang sudah tak lagi menggaungkan detak jantung ke dalam gendongannya. Ia mengusap punggungnya berkali-kali. “Kiyo, ayo bangun, sayang.” 

Semuanya terasa seperti mimpi, tidak lagi terasa nyata. Kiyo pasti masih tertidur lelap dan susah dibangunkan bukan pergi selamanya. 

Tangisan keduanya terdengar memenuhi ruangan kecil itu, Junkyu berdiri dengan kaki yang dirasanya tidak bisa lagi menopang tubuhnya, dibawanya mendekat dengan Haruto dan Kiyo dalam dekapan sang Ayah.

Junkyu mengusap punggung Kiyo pelan dan menatap Haruto yang sedang menangis sepertinya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, menolak apa yang terjadi malam ini. Tubuhnya dibawa memeluk Kiyo dan Haruto. Membawa ke dalam dekapan dua orang yang paling disayangi-nya di dunia ini apapun yang terjadi. Kepada dua dunia yang selalu diusahakannya. 

Kehilangan Kiyo bukanlah sesuatu yang ada di dalam kamus masa depan kehidupan mereka. Junkyu pikir mereka membesarkan Kiyo bersama, mengantarkannya ke sekolah di hari pertama hingga hari terakhir, melihatnya jatuh cinta, melihatnya masuk ke universitas pertama dan bisa mengendarai sepeda. Bukan malah, memeluk tubuh yang bahkan sudah tidak bisa lagi mendengar mereka berbicara. 

Kiyo sudah berada di dunia lain, di dunia di mana tidak lagi si kecil merasa kesakitan tiap kali jarum menusuk tubuhnya, tidak ada lagi tangisan meraung karena tidak nyaman karena berada dalam ruangan bau tidak menyenangkan, tidak lagi harus bermain di atas kasur menunggu obat sepenuhnya masuk dalam tubuh. Mungkin Junkyu masih mau egois, ia masih mau melihat itu, ia masih mau bersama Kiyo untuk waktu yang lebih lama. Ia membenci semua ini. 

Haruto membenci takdir dan Tuhan yang ia kembali percayai lagi. Ia menyesali bekerja tiada letih selama ini, tetapi mengorbankan waktunya dengan Kiyo. Ia belum bersama Kiyo untuk waktu yang lama, kenapa Kiyo malah meninggalkannya seolah-olah memberikan karma kepadanya bahwa inilah akibatnya karena bekerja tidak tahu waktu. Tubuh Kiyo dalam dekapannya tak lagi bersuara. Ia hanya bisa menangis dan air matanya jatuh terus membasahi wajah, berharap semua ini adalah mimpi buruk dan ia terbangun dengan Kiyo di atas tubuhnya. 


Pemakaman Kiyo sudah selesai dari satu minggu yang lalu. Rumah Bandung Raya yang tadinya ramai, kini sudah mulai kembali sepi, menyisakan berbagai bunga dan bingkisan yang diberikan dari kerabat dan teman-teman mereka. Junkyu lebih banyak melamun dari biasanya, ia akan melamun dalam kamar Kiyo yang masih banyak mainannya, masih dengan seprai Lightning mcqueen warna merah dan berbagai pakaian dalam lemari yang bahkan belum pernah Kiyo sempat pakai.

Kehilangan anak memang bukan suatu hal yang mudah, seperti bilur di punggungnya ditaburi garam dan diperaskan jeruk nipis. Haruto pun bahkan enggan untuk sekedar makan, ia pingsan ketika pemakaman, tak lagi kuat menangkat peti kecil berwarna putih, padahal di tempat kerjanya ia bisa mengangkat banyak barang berat. 

Mereka kehilangan sosok matahari dalam hidupnya. Junkyu tidur malam di kamar Kiyo tanpa Haruto, membiarkan dirinya terlelap di atas kasur juga tangisan yang selalu menghampirinya. 

Mereka hanya bisa menguatkan satu sama lain. Tetapi mereka mempunyai pelarian yang berbeda. 

Satu minggu setelah pemakaman, Haruto kembali bekerja, meninggalkan Junkyu yang terbangun kesiangan dengan secarik kertas bertuliskan Maaf ya, aku duluan. Love you, sayang. Ada sandwich di dalam microwave

Dua minggu berjalan, tidak ada lagi percakapan dalam rumah itu. Hanya Haruto yang memasakkan roti lapis ataupun panekuk yang kemudian ditinggal sampai malam. Junkyu juga menghabiskan waktunya di kamar Kiyo, menatap album foto dan gambar di ponsel pintarnya. Nanti kalau sudah malam, Haruto akan menemukan Junkyu yang lagi-lagi tertidur di kamar Kiyo dan tidak berani dipindahkan walau kasurnya sangat kecil untuk ukuran tubuh Junkyu. 

Tiga minggu berlalu. Haruto menawarkan diri untuk kembali bekerja di tambang lepas pantai, bukan lagi di kantor dan terkejutnya ia diperbolehkan dan dapat memulainya kurang lebih satu bulan lagi dan ia diberikan waktu untuk berlibur sebelum kembali ke tambang lepas pantai. 

Justru Haruto tidak senang dengan waktu libur yang diberikan karena itu berarti ia harus berada di rumah, di rumah tanpa sosok Kiyo di dalamnya. 

Pagi pertama di waktu liburnya, Haruto kembali bangun dengan bagian tempat tidur sebelahnya kosong tak ada orang. Ia tahu Junkyu pasti berada di bawah, dengan rasa malas, ia mulai melangkah kakinya turun ke dapur, membuat dua roti lapis telur dengan daging dan juga teh hangat. 

Kemar Kiyo masih tertutup rapat, tanda Junkyu belum keluar dari tadi. Roti lapis siap disajikan, Ia membawa kedua kakinya melangkah dan mencoba mengetuk pintu kamar pelan dengan tangannya. Tidak ada jawaban. 

Merasa kesal, Haruto mencoba membukanya tanpa jawaban dari dalam. Dalam pandangannya, terlihat Junkyu yang meringkuk dalam kasur ukuran anak-anak dengan matanya yang sembab. Tak lagi punya hati untuk merasa kesal, Haruto menaruh roti lapis di dekat rak mainan milik Kiyo dan mendekatkan diri pada Junkyu. 

Diusapnya dahi Junkyu dengan tangannya, matanya yang sembab buat hati Haruto kembali terasa tercabik-cabik. Bahwa selama ini, Junkyu akan terbangun dengan mata yang memerah dan dia tidak tahu akan hal itu karena sibuk bekerja. 

“Sayang, bangun yuk.” Panggil Haruto, ia duduk di lantai. Matanya menatap Junkyu yang masih lelap dalam tidurnya. 

Junkyu merasa seperti dibangunkan, ia membuka matanya perlahan. Haruto tersenyum, akhirnya melihat pemandangan ini lagi, pemandangan di mana Junkyu terbangun akan suaranya. “Makan, yuk. Belum makan, kan? Udah jam 11 siang.” 

“Ini hari apa?” Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Junkyu dengan suara seraknya. 

Bingung. “Hari Senin.” 

“Kamu libur?” Tanya Junkyu sekali lagi. 

Haruto menganggukkan kepalanya. “Ayok makan, masih anget roti lapisnya.” Haruto menunjuk roti lapis yang dibuatnya. 

Dengan malas, Junkyu bangun dari tidurnya dan pemandangan kedua setelah Haruto adalah bingkai foto mereka bertiga di hari pertama Kiyo berada di rumah mereka. Perasaan sedih kembali ke tubuhnya. 

Tiga minggu sudah mereka kehilangan Kiyo. Tiga minggu sudah Junkyu menatap lekat peti warna putih yang didoakan oleh setiap orang yang singgah di rumahnya. Tiga minggu sudah peti kecil dengan tubuh tanpa detak jatuk Kiyo dikuburkan sedalam dua meter. Tiga minggu sudah Junkyu memindahkan bunga matahari dari halaman depan rumahnya menjadi di atas tanah makam milik Kiyo. 

Haruto mengambilkan roti lapis buatannya pada Junkyu yang masih duduk di seberangnya. Ia melihat Junkyu yang menatap roti lapis itu, tetapi tidak mulai memakannya, membuat hatinya bergerak dan membawa tubuhnya untuk duduk di sebelahnya. 

“Gimana ya, To, kalau misalnya Kiyo masih ada?” Ujar Junkyu tiba-tiba, pandangannya lekat pada roti lapis, ia tiba-tiba saja memikirkan Kiyo. “Dia pasti suka roti lapis buatan kamu.” Sesak menguar di seluruh badan Junkyu, menjalar sampai ke bagian pembuluh darah terkecil ketika membahas tentang Kiyo di dalam kamar si kecil.

Tahu betul bahwa Junkyu masih dalam suasana berduka dalam. Haruto hanya membawa tangan Junkyu untuk dicium punggung tangannya. “Kalau Kiyo masih ada, pasti dia marah sama kamu karena nggak makan.” 

Air mata mulai jatuh dari pelupuk mata Junkyu. Jatuh ke atas roti lapis dan membuat bercak-bercak menjijikkan. Bibirnya bergetar. “Aku nggak becus ya jaga Kiyo-nya sampai dia sakit kayak gitu? Aku minta maaf ya.” 

Hati mana yang tidak terluka mendengar Junkyu berkata seperti itu, menyalahkan dirinya padahal takdir yang bermain dalam penyakit mematikan itu. Haruto mengangkat piring berisi roti lapis itu dan menaruhnya di belakang mereka, tubuhnya berubah menjadi di bawah bersimpuh menghadap Junkyu yang masih menundukkan kepala.

“Jangan ngomong gitu, sayang. Aku tahu gimana kamu jaga Kiyo. Kalau kamu ngomong gitu, berarti aku juga nggak becus karena selama ini ninggalin kalian berdua.” Ujar Haruto. Rasa bersalah terbesarnya adalah terlalu sibuk bekerja. 

Kedua tangan Junkyu menutup wajahnya sekarang. “Aku minta maaf juga karena dari kemarin nggak ngomong sama kamu.” 

Kepala Haruto menggeleng, ia menjauhkan kedua tangan Junkyu dari wajahnya. “Aku ngerti, sayang. Aku ngerti kalau misalnya kita berdua butuh waktu sendiri-sendiri buat proses ini semua.” 

Seharusnya Junkyu tahu, bahwa Haruto pada akhirnya memang mengetahui seluruh hidupnya dengan sangat detail. Junkyu memang tipikal yang membutuhkan waktu sendiri lebih lama, apalagi ini tentang kehilangan seorang anak yang sudah dibesarkannya. 

Di tengah hiruk pikuk dunia, Junkyu harus merasakan sebuah kehilangan yang membuat dirinya terpaku dalam hidup, seperti semuanya berjalan dan hanya dirinya berhenti, hanya dirinya yang melambat atau bahkan tidak bergerak sama sekali. Tidak tahu mau berbicara dan membagikan keluh kesahnya dengan siapa, pasti mereka juga sudah lelah mendengar dirinya menangisi Kiyo berkali-kali. Jadi yang bisa ia lakukan hanya berbicara pada kamar kecil dengan segala perintilannya. 

“Aku juga yang terlalu sibuk kerja sampai nggak mikirin kamu yang lagi berduka.” Haruto menimbang-nimbang, apakah ia harus membagikan sebuah kabar baru hasil keputusannya tanpa memikirkan Junkyu. Ia baru sadar, ia membuat keputusan itu tanpa melibatkan Junkyu, yang dipikirkannya adalah dirinya bisa kabur dari segala rasa sedih Bandung Raya. 

Haruto menghela napas sebentar. “Sebenarnya, aku kemarin di kantor dapet panggilan buat kerja di offshore lagi dan aku terima.” 

Deg

Pandangan Junkyu yang tadinya menunduk jadi menatap Haruto dengan pandangan sedih. Ia baru saja kehilangan anaknya dan apakah dirinya harus kehilangan Haruto di masa-masa sekarang. 

“Kamu mau ninggalin aku juga?” Ujar Junkyu sedih. Bibirnya bergetar hebat menahan tangis. “Aku– aku bakal ditinggal kamu juga?” 

Melihat Junkyu yang seperti sekarang membuat Haruto menyesali keputusannya. Ia membawa Junkyu ke dalam dekapannya dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Nggak, sayang, nggak. Aku bisa nolak lagi, kok.” 

“Aku minta maaf karena aku nggak pinter rawat Kiyonya–” Junkyu meminta maaf lagi untuk sebuah takdir yang bukan ia coretkan dalam buku takdir. “Aku minta maaf ya jadinya kamu mau pergi–” 

“Aku nggak pergi, Junkyu.” Haruto mengusap kepala Junkyu dengan lembut sembari berbisik. “Aku di sini, tetap sama kamu karena sekarang, cuma kamu yang aku punya.” 

Kini mereka hanya saling memiliki, seperti sebelum ada Kiyo. Mungkin mereka memang masih dalam masa berduka, membuat sebuah luka menganga besar dan lebar tanpa mau tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Mereka tahu bahwa kehilangan adalah keadaan yang perkara paling rumit untuk dihadapi, seperti semua yang dirasakan membutuhkan validitas. Menumbuhkan rasa ikhlas itu adalah hal yang paling rumit, bagaimana caranya untuk merelakan seseorang yang dicintai, seseorang yang membuat ada alasan untuk pulang dan bertahan. Tetapi mereka tidak boleh lupa, bahwa masih ada satu orang lagi yang membuat mereka sama-sama bertahan dari kencangnya badai ombak takdir menerpa kapal mereka. 

Kala ombak takdir kembali menghantam, hanya Junkyu bisa Haruto genggam tangannya dan hanya Haruto yang bisa dipeluk dalam dekap Junkyu.