Work Text:
Kira’na bersumpah ia akan membakar habis TAPOPS tanpa sisa di kesempatan pertama yang bisa didapatnya. Bagaimana mungkin Kaizo, suami dari Maharani Planet Gur’latan, Jenderal Tertinggi Laskar Guruhan, masih dimintai tolong untuk melakukan misi murahan mereka? Jika memang mereka begitu kekurangan orang, tutup saja organisasi tak berguna itu sekalian! Kenapa harus mengusik suami Kira’na segala?
Kira’na memeluk erat boneka Kaizo—yang lima menit lalu baru saja dipukulinya habis-habisan— hadiah dari sang suami padanya sebelum berangkat seminggu yang lalu. Seminggu yang lalu! Bukankah itu sudah kelewatan? Apa Kaizo lupa tanggung jawabnya di Gur’latan? Apa TAPOPS memang lebih penting untuknya, lebih penting dari Kira’na, istrinya sendiri? Apa Kaizo lupa Kira’na sekarang sedang mengandung anak mereka?
“Kaizo brengsek!”
Kira’na kembali menggebuki buntalan wajah Kaizo dalam pelukannya, sebelum kemudian tangisnya pecah.
“Kaizo sialan! Cepat pulang, dong!”
Ponsel di samping bantalnya berdering dan Kira’na memanyunkan bibir melihat nama sang suami muncul di layar. Ia berniat untuk mengabaikan panggilan itu, tapi rasa rindu yang begitu meluap untuk mendengar suara Kaizo membuatnya mau tak mau menggeser layar.
“Udah tidur?”
“Kamu pikir kalau udah tidur aku bisa angkat telepon?” ketus Kira’na.
“Yah, mungkin aja kepencet,” sahut Kaizo kalem. “Kamu tidurnya ‘kan kadang kayak orang kesurupan.”
“Enak aja! Aku nggak—” Suara Kira’na tercekat. Suara Kaizo membuat kerinduannya semakin membuncah hingga dadanya terasa sesak, dan air matanya kembali turun.
“Kira?” Kaizo memanggil, kali ini suaranya terdengar khawatir. “Kamu nangis? Ada apa?”
“Pakai nanya lagi!” Kira’na menangis lebih keras. “Kenapa kamu nggak pulang? Udah nggak peduli lagi sama aku? Kamu lupa aku lagi hamil anak kamu? Mau aku cari suami lain aja yang lebih bisa tanggung jawab buat jadi ayah anak aku?”
“Kira,” Kaizo menghela napas. “Aku bakal pulang secepatnya, aku janji. Misinya ternyata butuh lebih waktu lebih lama dari yang aku—”
“Aku mau kamu pulang sekarang,” isak Kira’na. Ia benci harus merengek-rengek seperti ini, tapi Kira’na tak bisa menahan diri. Ia membutuhkan suaminya lebih dari apapun sekarang. “Aku mau kamu pulang, Kai.”
“Aku pasti pulang, Kira. Dua—nggak, tiga hari lagi aku pulang, oke?”
“Nggak bisa langsung besok aja?” pinta Kira’na memelas.
“Nggak bisa. Maaf.”
Kira’na menghela napas dan membenamkan wajahnya di boneka dalam dekapannya. Ada aroma Kaizo yang menempel di sana, membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
“Aku benci banget sama kamu, tau nggak? Kenapa juga aku mau nikah sama kamu?”
“Karena cuma aku yang sanggup ngeladenin kamu seumur hidup,” kata Kaizo tenang. “Nggak ada orang lain yang bisa.”
“Ada, kok. Liat aja, aku bakal nemuin laki-laki yang jauh lebih baik dari kamu nanti,” gerutu Kira’na. “Besok aku bakal bikin sayembara buat cari suami baru!"
“Sayang.” Kaizo selalu tahu cara meluluhkan hati Kira’na. Hanya dengan satu panggilan lembut, dan kejengkelan Kira’na menguap begitu saja tanpa tersisa. “Aku pulang dua hari lagi, ya? Jangan cari suami lain.”
“Aku beneran bakal kawin lagi kalau kamu nggak pulang dalam dua hari,” ancam Kira’na.
“Iya, aku pasti pulang,” kata Kaizo. “Sekarang tidur. Kamu harus banyak istirahat.”
“Aku nggak bisa tidur,” gumam Kira’na. “Mau dipeluk kamu.”
“Peluk boneka aku aja dulu,” kata Kaizo. “Sekalian aku nyanyiin lagu tidur, ya?”
“... Oke.”
Kira’na tak bisa menolak. Tidak setiap saat Kaizo mau bernyanyi dengan sukarela, bahkan saat Kira’na merengek sekalipun.
Kira’na mengeratkan pelukan pada boneka Kaizo di dadanya dan memejamkan mata saat suara lembut sang suami mulai melantunkan lagu tidur untuknya. Kira’na tahu lagu ini. Kaizo sering menyanyikannya dulu saat Fang masih kecil untuk membantunya tidur dan mengusir mimpi buruk. Lagu tidur yang biasa dinyanyikan ibu mereka, kenangan dari masa lalu yang nyaris tergerus masa.
Nyanyian itu membuainya ke alam mimpi, meski Kira’na bersumpah ia tidak merasa mengantuk sedikit pun sebelumnya. Samar-samar, Kira’na bisa membayangkan padang rumput yang diselimuti salju dan semilir angin sepoi-sepoi yang diceritakan dalam bait lagu yang dinyanyikan Kaizo. Ia membayangkan seperti apa Planet Gogobugi sebelum masa kehancurannya. Mungkinkah suatu hari nanti Kira’na dan Kaizo akan bisa membawa anak-anak mereka berkunjung ke sana dan melihat lagi keindahannya?
“Kamu udah ngantuk?”
Kira’na bisa mendengar suara Kaizo, seperti dari tampat yang sangat jauh, tapi tak sanggup lagi membuka matanya karena terlalu mengantuk.
“... Mimpi indah, sayang. Aku janji bakal pulang secepatnya.”
Kira’na hanya bergumam samar, tanpa benar-benar tahu apa yang ingin diucapkannya. Rasa kantuk semakin menggiring kesadarannya menjauh, dan sebelum ia sempat memikirkan apapun lagi, Kira’na tertidur.
