Actions

Work Header

Antara Suna, Atsumu, dan Osamu yang Ribet Sendiri

Summary:

Atsusuna, dengan Obvious Suna vs Oblivious Atsumu.

Cerita tentang one side love Suna kepada Atsumu yang nggak peka-peka.

Notes:

Haloo guys! Jadi cerita ini adalah ide dari kak @snarintarou di twitter! Kalian bisa check promt nya di link ini yaa https://x.com/snarintarou/status/1958334738114220525

Udah aku post di twt juga, dan mungkin agak sedikit beda karena menyesuaikan jumlah huruf setiap post twt wkwkwk. https://x.com/hilaryan2/status/1960246360852111361 (lagi males bikin link guys sorry wkwkwk)

mohon maaf bila ada typo dan selamat membaca!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Bagi Osamu, sebenarnya ada banyak hal yang membuatnya jengkel karena harus terlahir sebagai kembaran Atsumu. Tapi mungkin, hal yang paling menjengkelkan adalah, karena ia menyadari betapa tidak-sadarnya saudara kembarnya yang menyebalkan itu terhadap sekitar.

Ini sudah terjadi sejak kecil. Saat SMP contohnya, Atsumu tidak disukai oleh anak-anak satu tim mereka karena dia merasa terlalu hebat, dan Osamu-lah yang pertama mengetahui hal itu. Gara-gara itu Osamu yang harus turun tangan. (Iya, mengajak Atsumu bertengkar adalah ‘turun tangan’, oke? Begitulah cara bicara mereka.)

Kini, ketika SMA, bukannya sembuh, Atsumu malah lebih parah.

Mungkin yang dikatakan orang-orang benar. Berhubung mereka harus berbagi rahim, mungkin sensor kepekaan yang diberikan Tuhan pada mereka, tanpa sengaja semuanya didapatkan oleh Osamu, sehingga Osamu punya kepekaan setara dua orang, sementara Atsumu tidak sama sekali.

Tapi sumpah, tidak butuh kepekaan setara dua orang hanya untuk menyadari adanya kisah cinta menyedihkan yang terjadi di hadapannya tiap hari.

Siang itu latihan berjalan seperti biasa. Aran melakukan serangan terakhir, menandakan selesainya pertandingan latihan dengan skor 20-24. Suara peluit terdengar nyaring di gymnasium, menandakan waktunya istirahat. Seperti biasa, Osamu langsung keluar lapangan untuk mengelap keringat dan mengambil minum. 

Di sebelahnya, Suna mengangkat dua botol minuman. Satu miliknya sendiri, dan satu lagi milik Atsumu. Tanpa bicara apa pun, Suna memberikan botol Atsumu itu pada pemiliknya, sebelum membuka tutup botolnya sendiri. Atsumu menerimanya sambil mengucapkan, “sankyu,” tanpa menanyakan apa pun.

Nah, inilah kisah cinta menyedihkan yang dibicarakan Osamu tadi.

Osamu menghela napas. Orang yang paling menggambarkan act of service di tim bola voli putra Inarizaki adalah kapten mereka, Kita Shinsuke. Namun, ia melakukannya pada semua orang dalam tim. Sementara Suna, sebagai orang yang pendiam sampai antisosial, act of service sangat berlawanan dengan karakternya. Namun, dia tetap memberikan bantuan-bantuan kecil seperti itu, namun hanya pada Atsumu. Jadi apa lagi itu kalau bukan desperately crushing?

Osamu yakin akan hal ini, sebab Suna sama sekali tidak subtle dengan act of service-nya pada Atsumu. Contoh saja, beberapa hari lalu ketika mereka pulang sekolah, Atsumu rupanya meninggalkan kotak bento di ruang olahraga. Atsumu berteriak dengan dramais, mulai histeris karena takut akan dimarahi mama. “Bagaimana kalau bentonya hilang? Bagaimana kalau sudah diambil orang lain?”

“Cepat ambil sana,” kata Osamu sambil menendang punggung Atsumu.

“Tunggu aku di stasiun!” pinta Atsumu, sudah berlari kembali ke arah sekolah mereka tanpa menunggu jawaban Osamu.

“Tidak mau,” cibir Osamu, kembali berjalan.

Tapi siapa sangka, tidak lama kemudian Atsumu datang lagi dengan Suna. Tanpa ditanya, Atsumu nyegir lebar. “Hehehe, Suna membawakannya padaku,” ujarnya sambil mengangkat bento boxnya.

“Oh…” respon Osamu, tidak terkesan. Harusnya Osamu sudah memperkirakan ini.

“Kau memang bisa diandalkan!” Atsumu merangkul pundak Suna.

Suna hanya mengedikkan bahu.

Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan, sementara pendar jingga matahari sudah mulai menghilang.

“Hei, Suna, ternyata kau cukup memperhatikan Atsumu sampai hapal kotak bentonya,” kata Osamu tiba-tiba, membuat keduanya menoleh padanya.

Sekali lagi, Suna hanya mengedikkan bahu. “Aku memperhatikan banyak hal.” Ia mengambil ponselnya dari saku celana dengan senyum di bibir. “Momen berharga tidak datang dua kali.”

“Ugh! Tentu saja kau melakukannya!” gerutu Atsumu. “Kalau menurut orang lain, ‘momen berharga’ artinya peristiwa yang bisa dikenang. Bukan perbuatan memalukan orang lain untuk bahan foto-fotomu!”

“Dua-duanya tidak datang dua kali, jadi sama saja,” sanggah Suna.

Atsumu hanya mendengus, sebelum kemudian cengirannya kembali. “Terserah kau saja, Sunarin.” Setelah mengatakan itu, Atsumu menaruh tangannya di saku Suna dengan begitu casual seolah hal itu sangat lazim terjadi antara pertemanan normal. 

Osamu menggelengkan kepala memperhatikan semua itu, bertanya-tanya kenapa dia harus ada di tengah situasi ini.

Contoh lain, pada saat tim Inarizaki berkumpul untuk menonton Wednesday di rumah Aran di akhir minggu. Saat itu film telah memasuki bagian tengah, tapi kemudian Atsumu mengeluh ia butuh soda tambahan. “Aran-kun, bisa kau ambilkan minuman lagi untukku?” tanya Atsumu.

“Tidakkah kau bisa melihat kita semua sedang berusaha menikmati film?” tanya Osamu sebelum Aran menjawab.

“Hei, aku mau saja mengambilnya sendiri, tapi aku tidak tahu di mana Aran-kun simpan sodanya!” kilah Atsumu.

“Aku ambilkan.” Hanya itu yang dibilang Suna sebelum beranjak.

Atsumu langsung tersenyum cerah. “Oh, sankyu!”

“Hei, bisa kau ambilkan juga untukku?” tanya Ginjima.

Dengan raut mengejek, Suna menunjukkan ekspresi seolah mengatakan, “ambil sendiri.”

Atsumu tertawa.

Yeah, di titik ini, Osamu yakin bahkan seluruh tim voli Inarizaki tahu kalau middle blocker mereka, Suna Rintarou, memang menyukai saudara kembarnya. Satu-satunya yang tidak tahu soal hal itu adalah… yang bersangkutan, Miya Atsumu seorang.

Yearning yang dilakukan Suna tidak hanya sampai di situ. Ia memang terkenal sebagai orang yang suka memotret segala hal yang menurutnya menarik. Tapi Osamu yakin sembilan puluh persen isi galeri Suna adalah Atsumu. Sepuluh persennya lagi gabungan antara usaha sia-sia menemukan kelemahan Kitashin, Ginjima yang tidur di kelas dengan air liur yang menetes dari mulutnya, Aran dengan wajah memerah karena seseorang memasukkan wasabi ke sushinya, serta Akagi yang tanpa sengaja membasahi seluruh lantai karena menggulingkan ember saat piket.

Pernah suatu ketika Osamu menangkap basah Suna sedang memandangi sala satu foto aib Atsumu yang ada di ponselnya.

“Biasanya orang akan tertawa saat melihat foto seperti itu,” kata Osamu dengan malas.

Suna langsung menoleh. “Kau punya masalah denganku?” tanya Suna.

“Kau memandangi foto saudaraku seperti seorang creep, kau kira aku punya masalah denganmu?” Osamu balik bertanya.

Suna membelalakkan mata, sebelum kemudian mendengus dan memalingkan wajah.

Entah sudah berapa kali Osamu menghela napas karena situasi Atsumu dan Suna ini. “Kenapa kau tidak mengatakannya saja padanya sih?” tanya Osamu. Denseness yang dimiliki Atsumu sangat tidak tertolong. Setidaknya harus ada satu orang yang bisa menyelamatkan tim Inarizaki dari pemandangan memprihatinkan berupa Suna dan Atsumu yang harus mereka tonton setiap hari.

“Tidak mau,” jawab Suna pendek.

Osamu facepalm. Memang sulit kalau Suna sudah punya prinsip ‘Atsumu sadar alhamdulillah, kalau tidak ya sudah’.

Atsumu sendiri sama-sama tidak bisa diharapkan. Sebab, bahkan setelah semua perbuatan Suna yang sangat mencolok dan pilih kasih itu, bisa-bisanya dia pernah bertanya pada Osamu, “Suna suka seseorang ya? Na, Samu, kau tahu siapa dia?”

Di detik itu juga, Osamu langsung berpikir, Ok, i’m out. I'm not participating with this anymore.

Osamu sudah muak. Ia sudah tidak mau lagi berurusan dengan kisah cinta menyedihkan yang bahkan belum dimulai itu. Persetan apa yang terjadi setelah ini, ia sudah tidak peduli. Kalau Suna punya prinsip Atsumu tahu alhamdulillah, kalau tidak ya sudah , maka Osamu juga akan berprinsip: mereka bersatu alhamdulillah, kalau tidak ya sudah.

Pada akhirnya? Seperti yang sudah bisa kalian tebak, Suna tidak pernah bicara dan Atsumu tidak pernah tahu perasaan Suna.

Yeah, sebuah akhir yang luar biasa.

Kenapa Osamu menceritakan ini sejak awal?

Notes:

Kudos, comment, boorkmark, share, etc, highly appreciated!!!
Jangan lupa juga tinggalkan masukan, kritik, dan saran, karena aku seneng banget lihat komentar kalian!!!

Bagi yang mau menghubungi Hilrayan bisa lewat carrd

Bagi yang mau menuliskan pesan anonim, bisa lewat secreto

Okey, sekian dari Hil, dan sampai jumpa di fanfic berikutnya!!