Actions

Work Header

Side by Side

Summary:

Mereka bilang, pacaran virtual ditambah LDR itu tak mungkin. Tetapi Naravit dan Phuwin berhasil mematahkannya; bertemu kembali di dunia nyata, dan terbangun saling menatap penuh kasih sayang—tanpa takut semua ini hanya kefanaan belaka.

Notes:

Tulisan ini lahir dari keisengan cari prompt dan nemu yang gemes. Eh ternyata, bisa dikembangin lebih jauh dari sekedar satu adegan. Semoga kalian suka ya! xoxo.

Work Text:



 

Sang surya telah menampakkan diri di permukaan bumi manusia. Salah satu dari seorang insan yang bergumul mesra menyipitkan kedua mata. Sinar mentari itu menusuk melalui kelopak, berdansa dengan riangnya di atas permukaan itu, yang hendak membangunkan dari malam sebelumnya yang terasa seperti mimpi.

Helaan nafas dilakukan, ketika sempat meraba-raba matras di sampingnya, tak sesosok pun ditemukan dalam indra peraba. Lantas perlahan ia tak lagi memejam, dan senyuman di wajah lelaki manis itu mengembang seperti roti yang baru masak dikeluarkan dari pemanggang. Sebab ia melihat sosok yang dicinta masih tertidur menghadapnya dengan belah ranum sedikit membuka.

Phuwin Tangsakyuen terkekeh kecil, tapi senyuman itu segera menghilang ketika melihat pergerakan sang kekasih; takut mengganggu mimpi indahnya.

Dirasa lelakinya tak kembali bergerak, lelaki manis itu perlahan mendekat. Semakin dekat, hampir kedua wajah mereka saling menabrak penuh romansa. Namun jarak itu sudah cukup baginya untuk melihat keseluruhan wajah yang disayang.

Yang penuh akan afeksi, dipandangnya selagi tertidur dengan pulas sambil membayangkan perjuangan mereka sampai di titik ini. Titik di mana dunia tak lagi menjelma abu-abu ketidakpastian. Melainkan suatu hal yang konkrit sebab saat ini, detik ini pula, setelah sekian lama purnama melayang-layang di angkasa, Phuwin bisa memandang sang kekasih penuh puja tanpa bantuan layar digital.

Mula-mulanya, mereka bertemu di ranah sosial media. Begitu cliché, bukan? Tapi memang begitu kenyataannya. Ketika sebagian besar orang di dunia ini lebih percaya dengan yang di depan mata, namun Phuwin justru mempercayakan hatinya kepada sosok di balik sebuah akun anonim.

Seperti dugaannya, beberapa orang di sekitar Phuwin memaki tak terima. Menganggapnya aneh sebab mana mungkin bisa jatuh cinta dengan seseorang yang bahkan belum tentu nyata, belum tentu orang benar-benar, dan belum tentu selalu ada. Phuwin bersikeras membuktikan bahwa orang yang diajaknya bicara itu memang suatu kenyataan. Sebab andaikan saja, satu kemungkinan terbaik dari dirinya bisa jadi terkabulkan, adalah mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sudah lama ia dambakan.

Namanya Naravit. Nama yang unik bisa dibilang. Waktu itu bahkan memperkenalkan diri dengan sebutan Nara.

Dikira Phuwin, lelaki itu berdarah daging Jepang seperti nama sebuah kota di negeri sakura itu. Tetapi, asumsinya hampir menuju kebenaran ketika pada awal perkenalan mengucap salam dengan bahasa Jepang, lelaki anonim itu segera menjawab dengan kata-kata yang malah tak dimengerti Phuwin. Lelaki manis itu heran, jangan-jangan memang benar apa yang dikiranya.

Tetapi lantas setelah bercakap-cakap sejenak, ia tahu kalau ternyata mereka satu negara. Hanya saja sang anonim ini sedang melakukan bussiness training di negeri sakura, sehingga lancar sekali bertutur bahasa Jepang sebab ia sedang membiasakan diri menggunakannya.

Begitu lucu awal perkenalan mereka. Cuma sesekali mengobrol di waktu luang, sebab mereka sama-sama merasa muak dengan dunia realita.

Orang-orang pasti tahu akan fakta, bahwa manusia selalu membutuhkan pelarian dalam hidup. Pelarian di mana tujuan tempatnya berlari itu bisa menampungnya untuk bercerita, berlindung dari kepahitan, dan juga berefleksi menanyakan diri sendiri; apakah sudah benar menjadi manusia yang baik atau justru menutup diri untuk melihat dunia luar yang begitu penuh teka-teki.

Dan Phuwin sangat beruntung menemukannya dalam diri Naravit, sebab ia mulai mempercayai sebuah perkataan, bahwa orang asing cenderung lebih mau mendengarkan daripada mereka-mereka yang merasa dirinya dekat dengan kita, padahal aslinya hanya ingin tahu saja; tanpa ingin berperilaku peduli.

Sejak saat itu, Phuwin tak peduli lagi apa kata orang. Menceritakan semua keluh kesahnya pada sosok anonim itu sampai-sampai terkadang begitu menggebu-gebu dengan nafsu dan hasrat amarah yang terpendam begitu lamanya. Tapi Phuwin begitu bersyukur, sangat amat bersyukur, ketika Naravit yang dikiranya akan panas bertelinga, namun justru memberikan pesan suara mengatakan, bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Dan lelaki manis itu meleleh bukan main, seperti es krim yang disinari mesra oleh sang surya di siang hari. Suara Naravit begitu menenangkan batin, menyejukkan pribadi intimnya seperti air terjun yang mengguyur sekujur tubuh demi menyucikan jiwa. Hatinya terasa lapang, terasa seperti kembali ke rumah.

Lantas mulailah pertanyaan-pertanyaan itu datang, apakah mungkin lelaki anonim itu merupakan tempat untuknya pulang?

Segala kemungkinan telah dipikirkan, terutama tentang perasaannya yang makin lama makin membumbung seakan asap dari kedua kayu hutan saling bergesekkan membentuk secercah api menyala-nyala. Kobaran api unggun itu lama-lama meluap, membentuk suatu bara api yang menjulang di dalam lubuk hatinya.

Phuwin menggebu-gebu dalam mencinta, meskipun ia tahu kalau dirinya belum yakin apakah Naravit juga merasakan hal yang sama.

Sekiranya situasi ini bertahan sampai beberapa bulan lamanya, hingga ia akhirnya memberanikan diri bertanya dengan menanggalkan seluruh pikiran atas kemungkinan buruk yang terjadi kemudian. Mengangkat telfon lamat-lamat dengan rasa gugup menghadapi jawaban diri lelaki anonim itu; berbicara atas nama cinta di antara mereka, dan memastikan apakah benar entitas itu nyata adanya.

Pertanyaan itu terjawab gamblang. Penuh keseriusan, penuh kemantapan, dan ini membuat Phuwin tertegun bukan main ketika mendengar bahwa Naravit memang serius dalam berhubungan. Hubungan kasih sayang, hubungan yang didambakan semua orang.

Sebuah janji tercetus di hari itu pula, bahwa setelah lelaki itu kembali dari negeri bunga sakura, orang pertama yang akan dijumpainya adalah Phuwin, bukan siapapun lainnya. Ide ini diterima, meskipun dengan syarat bahwa Phuwin sendiri tak masalah dijadikan pilihan kedua. Sebab yang pertama, tentulah keluarga yang harus ditemui terlebih dahulu. Lagipula, Phuwin tahu kalau mereka sudah lebih dulu ada sebelum dirinya hadir di kehidupan Naravit.

Disetujuilah kesepakatan itu, lalu hening menyertai mereka. Phuwin sadar, semua ini memang masih harapan belaka. Janji yang diucap Naravit bisa saja hanya omong kosong dan mungkin ia akan ditinggalkan begitu saja, tanpa kepastian status di antara mereka.

Tetapi entah mengapa, setiap kali lelaki manis itu mendengar suara Naravit menyebut namanya, ia selalu berkeinginan untuk kembali bersamanya. Kembali ke dalam sebuah kehangatan di bawah atap yang sama.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, mereka ini belum pernah saling bertatap muka. Dan ini sebenarnya termasuk ke dalam persetujuan konyol di antara mereka. Tak akan saling berjumpa wajah sampai waktu keduanya bertemu secara langsung, tanpa dibatasi layar digital. Lucu, tapi aneh. Dan juga tentu saja menyiksa keduanya diam-diam. Tapi ya... namanya jatuh cinta, dan diam-diam mereka sudah dibudaki entitas itu.

Jadilah ketika sahabat Phuwin diceritakan tentang ini, perempuan bernama Prim itu hanya memandangnya penuh tanda tanya. Lantas benar-benar memastikan, apakah ini yang diinginkannya bersama Naravit? Apakah mereka berdua sedang saling menantang satu sama lain atau bagaimana?

Nyatanya, tidak. Hanya aja, mungkin perkataan Prim menjadi suatu kebenaran terutama di pertanyaan terakhir. Tetapi telah direvisi sedikit, kalau mungkin saja, mungkin perjanjian ini hanyalah bagian dari tantangan yang dibuat oleh Tuhan semata. Sang Maha Esa mungkin saja hanya ingin melihat, apakah mereka mampu bertahan dan bertanggungjawab atas apa yang sudah diputuskan, sudah dilisankan, dan sudah dijanjikan.

Sebab janji tak semudah itu untuk diingkari, dan ini membuat Phuwin gelisah hingga gundah gulana. Ingin bercerita kepada Naravit, tetapi ia juga ragu, mungkinkah lelaki anonim itu pernah merasakan seperti dirinya? Hal-hal yang meragukan diri individu ketika suatu puncak peristiwa akan datang di kehidupan mereka. Seperti cobaan hidup menerpa sebelum kehidupan menjadi lebih baik lagi, dan mendapatkan berkah luar biasa dari-Nya.

Selain itu, Phuwin juga mulai memikirkan apa jadinya jika Naravit bertemu keluarganya; atau mungkin lebih tepatnya memperkenalkan lelaki anonim itu perdana di hadapan kedua orang tua yang sama sekali tak tahu, dan mungkin saja tak menyangka kalau anak semata wayang mereka akan benar-benar serius dengan orang yang ditemuinya di ranah sosial media.

Membayangkannya saja sudah ngeri sendiri, sebab menilik ke masa lalu Phuwin yang jarang sekali dipercayai atas hal-hal menyangkut masa depannya sendiri. Selalu dipilihkan orang tua, dan Phuwin, yang ingin berbakti kepada mereka, hanya bisa mengalah dan mengorbankan kebebasan memilihnya untuk sang ayah dan ibu yang beranjak menua termakan zaman.

Phuwin takut, pilihannya kali ini tak mampu memuaskan diri mereka. Memuaskan ekspektasi keduanya atas harapan anak satu-satunya yang selalu berkelakuan paripurna.

Kekhawatiran itu sempat musnah, ketika hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sejenak, Phuwin melupakannya sebab Naravit akan muncul di hadapannya beberapa saat lagi.

Lelaki manis itu gugup setengah mati, bahkan sampai meminta ditemani Prim yang sebenarnya tak ingin ikut, tapi mau saja berkorban sebab perempuan itu yakin, sahabatnya masih membutuhkan dukungan moral untuk batinnya yang berdegup kencang.

Menggeleng-geleng pula kepalanya, ketika bertanya bagaimana caranya lelaki manis itu tahu kalau Naravit sudah di depan mata? Sebab nyatanya, mereka memang belum pernah bertemu, lantas bagaimana bisa menemukan lelaki anonim itu di tengah kebanjiran manusia yang membludak dari segala arah mata angin sekalipun.

Prim juga akhirnya hanya bisa menghela nafas gusar, sebab Phuwin menjawab dengan singkat, kalau ia akan tahu dan pasti akan tahu.

Kalau sudah begitu rupanya, sang puan sudah menyerah. Menunggu diam-diam di belakang Phuwin sambil memainkan ponselnya. Tapi dari sudut pandang matanya, tak lama setelah itu, ia bisa melihat dari ujung kacamata hitamnya, kalau sang sahabat diam tak berkutik. Dengan mulut setengah membuka, dan mata membulat lebar.

Prim ingin mendekat, menyapa dan tentu menanyakan, apakah diri lelaki itu baik-baik saja. Namun begitu mendengar suara yang berat, suara yang selalu diceritakan Phuwin tiap kali ia merasa ingin berbagi kisah dengan Prim, perempuan itu langsung paham setelah mengikuti arah pandang sahabatnya.

Di sanalah ia, Naravit Lertratkosum. Hadir di hadapan Phuwin Tangsakyuen selagi membawa sebuah koper bagasi besar dengan senyum ramah di wajah.

Dan Phuwin rasanya ingin terbang ke angkasa luas. Senyuman itu begitu menghangatkan jiwanya, seperti berada di dalam sauna yang melegakan atau mungkin musim semi yang menghibur hatinya dengan penuh keceriaan.

Phuwin, aku kembali.

Hanya perlu satu kalimat, dan kedua tubuh insan saling bertubrukan. Lelehan air mata bagai lava dari gunung berapi telah memuncak, mengalir deras hingga ke pipi dan terjun bebas membasahi pundak-pundak yang saling berpelukan erat. Seakan enggan berpisah, merengkuh satu sama lain hingga sesak di dada tersalurkan.

Tak peduli orang-orang melihat, dan mungkin saja, di antara mereka-mereka yang memandang ada beberapa senyuman yang berpikir; mungkin dua insan itu telah lama menunggu momen ini datang.

Dan benar dugaan mereka, Phuwin dan Naravit sudah mengharapkan kedatangan ini. Sebab begitu dilepas pelukan itu, keduanya saling menatap. Naravit menghapus jejak air mata yang masih saja mengintip di balik kelopak yang tercinta; tanpa disadari pula kalau dirinya juga sama menangisnya. Sama-sama bahagianya, sama-sama menangisi atas sosok di hadapannya ini yang begitu nyata, begitu indah, dan begitu ingin dipuja-puja.

Prim yang melihat keduanya tak bisa menahan untuk tak menyunggingkan senyum. Seperti menguap karena kantuk, kebahagiaan juga menular dengan begitu dahsyatnya.

Hati perempuan itu menghangat, memang benar kata Phuwin soal Naravit yang bagai musim semi tiba. Lelaki itu penuh kehangatan, bahkan dari cara keduanya bertatapan sekaligus, hingga akhirnya sang pria anonim meminta izin untuk mendaratkan kecup di kening yang tercinta, Prim tahu kalau Phuwin memilih seseorang yang benar. Hilang rasa ragunya, hilang pula rasa kekhawatirannya.

Dan perempuan itu berharap kalau kedua orang tua Phuwin juga akan merasa demikian. Tapi ia sudah berjanji untuk tak membawa topik itu ke permukaan. Sebab sepasang burung dara di depannya ini begitu mesra berdempetan tanpa ingin dipisahkan oleh maut sekaligus. Begitu bahagia luar biasa. Dan rasanya tak etis pula untuk menghancurkan momen itu dengan satu fakta yang sedang dikhawatirkan lamat-lamat.

Lucunya, Phuwin yang saat ini baru saja bangun tidur, justru memikirkan satu hal yang begitu dilarang-larang itu. Kekhawatirannya muncul kembali, tentang betapa gugupnya ia hari ini berencana membawa Naravit bertemu keluarganya. Ketakutan itu terselip begitu saja, padahal bisa dibilang pagi hari tiba adalah waktu ketika fungsi otak masih jernih-jernihnya.

Tapi entah setan dari mana, yang berhasil membisikkan rayuan untuk berpikir negatif. Merasuki ke dalam hati begitu cepat sampai Phuwin harus merebah. Nafasnya mulai memberat, kedua mata kembali terpejam. Namun kali ini bukan untuk kembali terlelap, melainkan mencoba menenangkan diri dengan salah satu tangan di atas jantungnya yang berdegup dengan kencang.

Phuwin mengucapkan doa bagaikan mantra-mantra suci. Mencoba menenangkan diri sebab segala hal di dunia ini memang sudah sepantasnya memiliki dua kemungkinan. Antara baik atau buruk. Dan Phuwin seharusnya sudah tahu akan hal itu, sudah siap dengan segala rencana matang apabila pertemuan nanti berakhir begitu buruk.

Lelaki manis itu sudah berjuang sampai sejauh ini, dan semua pilihannya mengandung konsekuensi. Pertemuannya dengan Naravit kemarin adalah bukti kalau cinta tak melihat fisik, tak melihat jarak, pun tak melihat ruang dan waktu. Mereka sudah yakin, sudah sangat yakin dengan perasaannya masing-masing. Sebab keduanya percaya bahwa jika kedua insan telah dipertemukan secara tak sengaja, artinya hanya ada dua. Untuk saling bersama-sama, atau hanya dijadikan tenpat singgah agar saling belajar kehidupan.

Dan ketika keheningan di dalam kamar itu pecah, disebabkan dengkuran halus menguak dari belah ranum yang tercinta di sampingnya, Phuwin kembali tersadar kalau ia tak harus menampung semua perasaan ini sendirian.

Lelaki manis itu bisa saja membagikannya dengan Naravit, sebab ia percaya dengannya. Hubungan ini dijalani berdua-dua, tak hanya seorang saja. Ibarat sebuah jungkat-jungkit yang dimainkan satu anak, maka tak mungkin benda itu bergerak sebagaimana mestinya. Butuh setidaknya seorang lagi agar bisa bergerak naik dan turun dan saling menyeimbangkan.

Phuwin menghembuskan nafas lega. Perlahan pikiran jahat itu mereda dengan sendirinya, seiring kedua mata membuka dan atensi diberikan sepenuhnya kepada Naravit seorang. Masih tertidur pulas, dan sepertinya terlihat nyaman sebab dengkurannya juga terus bersuara. Wajahnya begitu polos, begitu tenang, seakan berbanding terbalik dengan segala kisah-kisah hidupnya yang penuh perjuangan, penuh luka batin, dan penuh kesengsaraan.

Helai rambut kecokelatan menampakkan diri di atas keningnya yang tak berbalut apapun. Phuwin ingin sekali menyibaknya, tapi takut kalau dilakukan akan membangunkan diri lelaki itu. Tetapi sebenarnya, Naravit sudah berpesan kalau ingin dibangunkan pagi-pagi pula. Dan sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

Jadi lelaki manis itu kembali terdiam, tak jadi menyentuh kening yang terkasihi. Phuwin berpikir tentang bagaimana caranya membangunkan sang kekasih tapi dengan aksi begitu halus dan hampir tak terasa sedikit pun efek sampingnya. Sebuah cara yang sama-sama membuat tenang, membuat bahagia, dan juga membuat Naravit merasa terkejut dalam artian baik.

Lantas, pikirannya kembali pada kejadian di bandara kemarin. Atau lebih spesifik lagi pada momen ketika pria anonim itu mengecup keningnya lembut di tengah perasaan yang membuncah ingin dilampiaskan. Phuwin tersenyum dalam hati, dan tentu pada wajahnya terukir secara otomatis. Mungkin saja, jika lelaki itu melakukan hal yang sama sekarang ini akan membangunkan Naravit dengan rasa penuh kehangatan.

Tetapi Phuwin menganggap, hal itu tak begitu mengejutkan. Dan sebuah ide muncul bak lampu menyala terang; bagaimana kalau belah ranum itu justru berpindah tempat? Berpindah pendaratan ke sesama merah muda yang sekarang masih membuka, sebab dengkuran terus bergaung memenuhi keheningan.

Phuwin ragu sebenarnya kalau boleh jujur. Bukan, bukan karena mereka belum pernah berciuman. Keduanya sudah melakukannya perdana kemarin hari, sebelum tertidur bersama ketika hasrat mulai memuncak, tapi dilunturkan segera supaya keduanya bisa beristirahat dengan tenang. Lelaki manis itu hanya takut menganggu ketenangan yang dirasakan Naravit saat ini.

Namun di saat yang sama, ingin pula mencoba membuktikan kalau cara ini bisa jadi berhasil. Sebab diharapkan mampu mengubah pagi mereka menjadi lebih romantis dan penuh akan afeksi.

Lelaki manis itu mendekatkan diri, perlahan demi perlahan. Sampai akhirnya jarak mereka hanya sekedar sejengkal saja. Tak ada lagi batas di antara wajah keduanya. Bisa dirasakan juga hembusan nafas milik Naravit yang menerpa hidung Phuwin samar. Semakin jelas pula penampakan sosok yang diberi kasih sayang begitu besarnya.

Phuwin sudah sangat bersedia, sudah sangat tak sabar membangunkan yang terkasih dengan cara yang begitu indahnya. Lantas dengan keyakinan memenuhi dada, sebelah tangan terangkat sendiri, menyibak pelan rambut kecokelatan di atas kening Naravit, dan kedua belah ranum mereka bersatu padu. Membentuk sentuhan alami yang mampu menciptakan bara api kehangatan.

Phuwin hanya ingin mengecupnya singkat, tapi entah mengapa sesuatu mencegahnya pergi. Kedua mata membulat lebar, dan tak lama kemudian senyuman muncul di bibirnya yang kemudian dipagut lembut oleh Naravit begitu tak disangka-sangka.

Sang pria anonim sudah bangun rupanya. Langsung memberikan respon dengan mengubah kecupan samar Phuwin menjadi tarian merah muda beserta tangan-tangan yang melingkar di masing-masing badan. Ucapan selamat pagi, bisa dibilang. Tetapi tak diucap dengan kata, melainkan pertemuan fisik yang menggugah semangat pagi keduanya untuk menyambut hari panjang bersama.

Dan Naravit pula yang menyudahi kegiatan mesra mereka, telah disadarkan penuh oleh cumbuan Phuwin yang terkesan memabukkan. Sampai-sampai yang dicumbu tak lagi merebah di sampingnya, melainkan di atas tubuhnyalah, Phuwin terjaga. Mendekatkan diri ke dalam rengkuhan paling menenangkan, seiring yang terkasihi membelai halus punggung tegap si lelaki manis dari balik kaus tidurnya.

“Selamat pagi,” bisik Phuwin menyapa. “Sudah jam tujuh. Saatnya bangun tidur.”

“Terima kasih sudah dibangunkan, Sayangku.”

Panggilan itu membuat si lelaki manis tersenyum. “Kamu suka dibangunin kayak tadi?”

“Oh, aku suka. Jelas-jelas suka,” jelas Naravit sambil membalas senyumannya. “Rasanya... seperti mimpi. Tapi ini bukan mimpi 'kan?”

Phuwin menggeleng pelan. “Ini realita, Cinta. Kita di sini nyata dan tanpa perantara layar.”

“Aku masih susah percaya. Akhirnya, aku bisa merasakan bangun di pagi hari dan yang pertama kali kulihat itu kamu di sebelahku,” jelas Naravit. “Momen ini jelas gak akan pernah aku lupakan. Terus terang aja.”

“Hmm... sama.” Phuwin mengangguk sekilas, lantas sedikit mendongak supaya bisa saling bertatapan dengan yang dicintai. “Masih nggak menyangka juga, aku bisa sedekat ini sama kamu. Padahal kukira kayaknya gak mungkin banget kita bertemu.”

“Phuwin,” panggil Naravit lembut. “Aku sudah berjanji, dan janjiku selalu ditepati. Aku gak mungkin ingkar. Apalagi menyangkut segalanya tentang kamu.”

Keraguan merasuki Phuwin, sebab teringat lagi pikiran yang sempat menganggunya ketika bangun dari tidur. “Janji, 'kan?”

“Janji, Sayang. Apa yang membuatmu ragu? Kamu kepikiran sesuatu?”

“Hmm... begitulah,” balas Phuwin. “Tapi gapapa, bukan apa-apa. Aku cuma... gugup untuk hari ini.”

“Ah ya, hari ini...” Seperti teringat sesuatu, Naravit menghela nafas kemudian. “Kamu tau, Sayang, aku bisa tunggu kamu sampai benar-benar siap. Aku juga gak mau membebankan semua ini sepenuhnya sama kamu karena yang menjalankan hubungan ini adalah kita.”

Bahkan belum genap perkataan itu selesai diucapkan, lelaki manis itu sudah lebih dulu menggeleng cepat karena menolak yang disarankan Naravit. “Aku nggak punya waktu lagi. Sudah terlalu lama aku sembunyikan semua ini dari orang tuaku, Nara. Aku nggak suka menyimpan rahasia. Hari ini harus diselesaikan.”

“Sekali lagi aku tanya,” sahut Naravit setelah keheningan sekilas, “kamu yakin dengan keputusanmu, Sayang?”

“Selama kamu ada bersamaku. Aku bakal selalu yakin dengan keputusanku,” balas lelaki manis yang kali ini penuh penekanan; dalam artian baik. “Kamu satu-satunya orang yang bisa bikin aku kuat menghadapi dunia dan seisinya, Nara. Kalau memang nanti nggak berakhir baik, aku masih punya kamu. Tempatku untuk pulang.”

Ada gemetar yang hampir tak terdengar dari suara yang dilontarkan Phuwin, namun Naravit berhasil menyadarinya. Pria anonim itu tahu, lelaki di pelukannya ini penuh keraguan sebab keadaan telah mengubahnya menjadi sosok yang juga penuh perhitungan. Dunia seakan memaksanya bertindak di luar perencanaan, dan untuk perkara yang satu ini, Naravit paham betul bagaimana Phuwin merasakannya.

Dengan penuh kasih sayang dibelai pula rambut-rambut yang terkasihi sambil dibenarkan dari ketidakjelasan arah mencuat. Dirapihkan betul-betul, seakan ia pun ingin berkata, kalau si lelaki manis tak sendirian. Segalanya akan rapi pada waktunya, dan rencana juga tak selalu berakhir keburukan meski presentase peluang yang ada tergolong di angka besar.

“Kita akan selalu bersama-sama, Sayang. Saling berdampingan, dan saling menguatkan. Aku juga mau kamu percaya sama satu hal,” jeda Naravit yang ditunggu-tunggu pula oleh Phuwin. “Bersamaku, kamu aman. Dan aku bersumpah untuk itu.”

Phuwin Tangsakyuen mengakhiri percakapan mereka dengan mengucap do'a, bahwa ingin sekali dunia ini berpihak padanya. Sebab hanya kepada Pond Naravit ia mampu menyandarkan diri dan berlindung dari kepahitan dunia. Hanya harapan yang tersisa, dan pria anonim itu telah mengajarkannya sesuatu. Bahwa mungkin hari ini, tak akan berakhir begitu buruk. Dan semoga saja memang berakhir demikian rupa.

Semoga saja Tuhan mengabulkan keinginan kedua insan untuk saling bersama-sama, berdampingan hingga akhir hayat, lantas disatukan kembali ketika dunia telah hancur lebur dan di hari kebangkitan tiba, mereka masih saling mengenal dengan penuh kasih sayang yang terngiang dalam memoriam.

 


 

terpintal dengan cinta oleh daeyumbruh