Work Text:
"Kalo uang bukan hal yang penting di dunia ini, kamu mau jadi apa, Biru?" Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Ranu di kamar kosan dengan luas 3x4 meter itu.
Biru mengusap air mata yang menyisakan jejak di pipinya yang putih. Pukul sembilan malam tadi Biru tiba di depan kamar kosan milik Ranu dengan bahu yang lemas, kemeja yang sudah kusut tak karuan, mata yang memerah dan kelelahan. Begitu dipersilakan masuk, Ranu langsung menyuruh Biru duduk di kasurnya dan memberikannya segelas air putih. Saat itu Ranu tidak menanyakan apapun, ia hanya duduk di lantai di hadapan Biru dan diam menunggunya bercerita.
Dengan dada yang penuh sesak dan tangis yang sudah dipelupuk mata, sebuah cerita mengalir dari bibir Biru. Tentang insiden hari ini di tempatnya magang; tentang pekerjaan dari sang mentor yang tak mampu ia selesaikan tepat waktu. Menurut pembelaan Biru, insiden hari ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Pekerjaan yang diberikan oleh mentornya melampaui kemampuan Biru, juga teman-teman sekelompoknya. Biru tak terima disalahkan ketika ia sudah berusaha menyelesaikan tugasnya tanpa mendapat arahan dan bimbingan dari mentornya sama sekali. Biru benci ketika ia dijadikan kambing hitam atas ketidakprofesionalan mentornya. Ia juga lelah terus menerus mengerjakan pekerjaan melebihi kapasitas dirinya tanpa dibayar sepeserpun.
Biru lelah luar biasa dan ketakutan setengah mati. Ia takut jika kejadian serupa akan terjadi lagi padanya di masa depan, di saat kakinya mulai menjejaki dunia karir. Biru tidak mau terjebak dalam rutinitas memuakkan yang mengeksploitasi dirinya secara berlebihan selama sisa waktu hidupnya.
Kembali lagi ke pertanyaan Ranu barusan, jika uang bukan hal yang penting di dunia ini, Biru jelas akan minggat ke tempat yang mengecam eksploitasi tenaga manusia yang hanya diupahi dengan "pengalaman". Dia akan tinggal di sana selama sisa hidupnya kemudian mendirikan toko roti atau menjadi pemain sepak bola sekalian.
Setelah isak tangisnya mereda, Biru menjawab pertanyaan Ranu, "Mau minggat dari sini."
Ranu tersenyum geli mendengar jawaban Biru, "Emang kamu mau minggat ke mana?"
"Ke mana aja, ke tempat di mana aku engga perlu magang di tempat jahat cuma buat menuhin syarat lulus."
Ranu hanya tersenyum tipis, ia bingung harus bagaimana untuk membalas jawaban Biru. Masalahnya, dulu dia juga pernah ada di posisi Biru, bedanya dulu Biru belum singgah di hidupnya. Mau bilang sabar, tapi rasanya kata-kata itu terlalu bullshit. Tanpa perlu diberitahu pun, Biru pasti selama ini sudah bersabar. Akhirnya, yang bisa Ranu lakukan adalah berpindah duduk di sebelah Biru dan merengkuhnya ke dalam pelukkan. Hanya itu cara yang terpikirkan oleh otaknya untuk menenangkan Biru.
"Aku capek banget," Ucap Biru, air mata mulai meleleh lagi membasahi pipinya. Tangan Ranu bergerak mengelus punggung Biru yang berbalut kemeja hitam. Dielusnya punggung rapuh itu pelan-pelan, seakan takut gerakannya akan semakin menyakiti Biru.
"Kamu udah makan?" Tanya Ranu kemudian. Biru melepaskan dirinya dari rengkuhan Ranu dan menggeleng pelan, "Belum sempet, tadi aku disuruh lembur buat nyelesaiin kerjaan hari ini juga."
Mata Ranu membelalak mendengar jawaban Biru. Setitik api kemarahan terpantik di hatinya, namun ia berusaha meredamnya. Tidak ingin memperburuk keadaan Biru dengan omelan dan sumpah serapahnya.
"Aku masakkin mie mau? Atau mau aku beliin sesuatu?"
"Makan di luar aja, aku mau cari angin." Jawab Biru.
Mendengar jawaban Biru, Ranu langsung bergegas mengambil dompet dan jaket. Ia juga mengulurkan jaket milik Biru yang tergeletak di depan pintu, terjatuh saat si empunya melangkah masuk tadi.
Ranu dan Biru kemudian melangkah keluar menembus angin malam yang berhembus dingin, berjalan beriringan menuju tukang nasi goreng yang terletak di ujung gang. Temaram lampu jalanan menerangi langkah mereka, samar-samar cahayanya menyapu wajah Biru. Memperlihatkan wajahnya yang sedikit sembab akibat bekas menangis tadi. Ranu yang berjalan beberapa langkah di belakang Biru langsung cepat-cepat menyusul, mensejajarkan langkahnya dengan langkah Biru kemudian digandengnya tangan Biru yang kosong.
Biru terkesiap, merasakan hangatnya tangan Ranu membungkus tangannya yang dingin. Ia menghentikan langkah sejenak dan menatap tangan mereka berdua yang saling bertautan sebelum akhirnya melanjutkan langkah.
Rasanya nyaman, seperti Ranu berusaha menyampaikan bahwa dunia ini akan baik-baik saja dan semuanya akan terlewati dengan baik. Hangatnya tangan Ranu juga ikut mengisi kehangatan di hati Biru, seperti mengikis batu besar yang semula menghimpit dadanya hingga sesak dan kesulitan bernapas.
Sesampainya di depan gerobak nasi goreng, Ranu langsung menyebutkan pesanannya. Satu nasi goreng ayam dengan tingkat kepedasan sedang untuk Ranu, dan satu nasi goreng bakso sosis tanpa pedas untuk Biru.
Biru menatap Ranu yang sedang menyampaikan pesanan mereka dari meja makan yang disediakan. Ia memerhatikan Ranu yang dengan luwesnya menyebutkan pesanan untuknya seperti ia sudah hafal di luar kepala. Satu hal yang Biru sadari dari Ranu, Ranu pandai menyimpan memori tentang dirinya tanpa perlu ia repot-repot menjelaskan. Ranu pemerhati yang hebat. Ia tahu Biru tidak menyukai makanan pedas hanya dari kegiatan makan bareng yang biasa mereka lakukan saat sedang pergi berdua. Jika "the art of noticing" adalah manusia, maka manusia itu adalah Ranu.
Setelah memesan, Ranu bergabung dengan Biru, duduk di kursi plastik saling berhadapan yang dipisahkan oleh sebuah meja. Beratapkan tenda tipis dan lampu yang remang-remang, Ranu menatap wajah Biru lagi. Berusaha mendeteksi sisa-sisa kesedihan dan rasa lelah di wajah Biru. Dari yang ia tangkap, rasa lelah masih tergambar jelas di wajah Biru. Tapi gurat kesedihan sudah mulai memudar, digantikan oleh semburat kemerahan yang muncul samar-samar di pipinya.
Ranu tertawa pelan yang disusul kekehan oleh Biru, kemudian mereka saling mengalihkan pandangan. Malu dengan tatapan satu sama lain.
Dari persepektif Biru, mata Ranu terlalu cantik dan terasa mengintimidasi jika ditatap lekat-lekat dalam waktu yang lama olehnya. Makanya kadang Biru suka merasa malu dan tidak bisa menatap wajah Ranu lama-lama (kecuali jika mereka sedang dalam kondisi serius). Sementara menurut Ranu, wajah Biru itu terlalu imut dan lucu. Matanya selalu menatap Ranu dengan penuh pemujaan dan kekaguman. Seakan-akan Ranu akan hilang ditiup angin jika tidak ditatap barang sedetik saja. Cara Biru menatapnya sedikit banyak membuat Ranu salah tingkah dan tidak mampu menatap wajahnya lama-lama.
Harum nasi goreng menguar, menyebar ke udara dan mengisi indra penciuman mereka. Perut Biru bergemuruh, meronta-ronta minta diisi. Suaranya terdengar hingga ke telinga Ranu. Biru hanya tersenyum kikuk, merasa malu suara perutnya yang keroncongan terdengar sangat kencang hingga sampai ke telinga Ranu. Melihat gelagat Biru, Ranu hanya tertawa pelan.
Sambil menunggu pesanan datang, dan untuk mengalihkan perutnya yang keroncongan, Biru kembali memikirkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ranu di kamar kos tadi.
Kalo uang bukan hal yang penting di dunia ini, kamu mau jadi apa?
"Ranu," Panggil Biru lembut.
"kalo uang bukan hal yang penting di dunia ini, aku mau jadi penduduk yang tinggal deket laut."
Ranu menautkan kedua alisnya bingung mendengar ucapan Biru yang tiba-tiba. "Maksudnya?" Tanya Ranu meminta penjelasan.
"Pertanyaan kamu tadi di kosan, aku mau punya rumah dan tinggal deket laut" Jawab Biru.
"Kenapa?" Tanya Ranu lagi.
"Suara ombaknya bikin tenang. Kalo lagi banyak pikiran, tinggal buka pintu halaman belakang terus duduk di teras sambil liatin sunset." Kata Biru menjelaskan.
"Kamu boleh ikut pindah kalo mau." Tambahnya.
Ranu tersenyum lebar, menahan tawa keluar dari bibirnya, "Tinggal bareng kamu gitu maksudnya?"
Biru mengangguk serius menjawab pertanyaan Ranu, "Kalo kamu mau aja, semisal kamu engga mau juga gapapa."
Senyum Ranu semakin terangkat lebar, bahkan hampir berubah menjadi cengiran. Gagasan mengenai tinggal bersama Biru di rumah dekat pantai jelas merupakan sebuah hal yang menarik. Ranu bisa membayangkan bagaimana mereka akan pergi ke toko furnitur rumah dan menentukan dekorasi bersama. Ranu akan mempercayakan pilihan perabotan kepada Biru, ia tahu Biru memiliki selera estetika yang sangat bagus. Sementara dirinya akan memilah tanaman yang cocok untuk ditanam di halaman depan, dan wewangian agar rumah mereka terasa nyaman dan segar.
"Aku mau lah serumah sama kamu." Ucap Ranu mantap. Biru tersenyum lega mendengar jawaban Ranu. Dalam benaknya sudah terbayang bagaimana ia akan menghabiskan malam-malam panjangnya bersama Ranu, membicarakan banyak hal yang mereka senangi. Tidak lagi sendirian menghadapi makhluk-makhluk aneh yang kerap menggerayangi kepalanya hingga terjaga sampai dini hari.
"Emang kamu mau tinggal di mana? Di Bali?" Tanya Ranu penasaran.
Biru menggeleng, "Bali udah terlalu rame. Aku mau tinggal di tempat yang engga begitu rame."
"Kayak?" Tanya Ranu lagi.
Biru mengangkat kedua bahunya menandakan ia masih tak tahu, "Mungkin Italia."
Ranu mengangguk-angguk paham. Satu memori baru tentang Biru memasuki kotak ingatannya, bahwa Biru suka dengan suara deburan ombak yang menenangkan dan ia ingin tinggal di rumah yang dekat laut.
"Aku pengen ngerasain ngobrol sama kamu sambil duduk-duduk di pantai." Ucap Biru lagi.
Ranu tertawa geli, "Emangnya apa bedanya ngobrol sama aku di tenda nasi goreng sama di pantai?"
Biru ikut terkekeh mendengar pertanyaan konyol Ranu, "Engga tahu, mungkin bakal lebih enak kalo ngobrolnya sambil ngeliatin langit yang biru cerah dan air laut yang berkilauan."
Ranu hendak membuka mulutnya untuk menimpali jawaban Biru, tapi niatnya terpotong saat bapak tukang nasi goreng menyajikan dua piring pesanan di hadapan mereka. Wajah Biru langsung berbinar cerah seakan-akan semua kesedihan sirna begitu saja dari garis wajahnya. Melihat Biru yang menatap sepiring nasi goreng di hadapannya dengan tatapan maha lapar, Ranu mengurungkan niatnya untuk memperpanjang percakapan mereka, membiarkan Biru larut dalam suapan demi suapan nasi goreng yang nikmat.
