Work Text:
Semenjak menginjak usia 20an, ada beberapa hal yang baru Ranu sadari kehadirannya. Salah satunya adalah rasa takut dan cemas akan masa depan. Ah, sebenarnya perasaan itu sudah hadir semenjak dia ada di usia remaja, tapi entah mengapa di usia 20an ini semuanya terasa semakin rumit.
Sewaktu kecil Ranu pernah berpikir bahwa hidupnya tidak akan selama ini. Waktu umur tujuh, ia pikir hidupnya akan berakhir sebelum ia menginjak umur 17. Tapi ternyata pikirannya salah, nyatanya sekarang ia sudah menginjak umur 22 dan tampaknya hidupnya tidak akan berakhir dalam waktu dekat, kecuali ia nekat untuk mengakhirinya sendiri, tapi itu pilihan yang mustahil. Ranu takut mati. Ia ingin hidupnya berakhir tapi tidak mau mati. Mungkin melebur menjadi debu adalah pilihan yang paling menyenangkan tapi sekali lagi, tak ada manusia yang melebur menjadi debu tanpa melewati kremasi. Yang artinya ia tetap harus mati jika ingin menjadi debu.
Menjadi dewasa itu sulit, Ranu tidak suka jadi orang dewasa. Terlalu banyak keputusan-keputusan besar yang harus ia buat untuk menentukan jalan hidupnya, padahal frontal lobe nya saja belum terbentuk sempurna. Bagaimana kalau ternyata keputusan yang ia buat adalah sesuatu yang buruk dan akan membawa hidupnya menuju kesesatan? Tentu Ranu tak bisa menyalahkan frontal lobe nya yang belum terbentuk sempurna kan? Tidak adil. Ranu tidak suka menjadi lelaki dewasa di usia awal 20an. Semuanya terasa begitu canggung dan sangat mencemaskan.
Bunyi jarum jam yang terus berdetik memenuhi kamar kosnya yang kecil. Ranu terduduk di hadapan meja lipat, menatap kosong layar laptopnya. Di hadapannya ada Biru yang juga sedang sibuk berkutat di depan layar laptop.
Ia melirik Biru yang tampak serius mengetik di depan laptop sambil sesekali tangannya memasukkan kerupuk basreng ke mulutnya. Kemudian matanya kembali menatap layar laptop yang menampilkan halaman Word dengan huruf yang menari-nari seolah mengejeknya.
Harusnya sekarang ia sedang melakukan skripsi date atau nugas date atau entah bagaimana cara menjelaskan kegiatan ini. Yang jelas Biru adalah orang pertama yang mengusulkannya tadi sore. Katanya ia perlu “companion” untuk menemaninya mengerjakan logbook magang bulanan dan menurutnya Ranu juga perlu ditemani mengerjakan skripsi. Entahlah, Ranu rasa, belakangan Biru seperti punya obsesi terhadap skripsi dan kelulusan melebihi dirinya. Rasanya seperti Biru lah yang sedang menyandang status mahasiswa semester 9 dibanding dirinya.
Ranu menghela napas pelan. Sudah 30 menit otaknya tidak bisa berpikir, berhenti mendadak seperti motor yang kehabisan bensin. Pikirannya belakangan ini makin campur aduk. Sisa waktunya untuk lulus di semester 9 tinggal beberapa bulan lagi, sementara jalannya masih panjang. Ada begitu banyak ketakutan yang tak bisa dijelaskan berkecamuk di dalam kepalanya.
Ranu menyandarkan diri pada tembok sebelum akhirnya ia merebahkan badannya di atas kasur. Kasurnya hanya kasur busa tipis yang melekat lama di lantai hingga dinginnya pun ikut meresap ke dalam tulang. Ia tertidur miring menghadap Biru, menyaksikannya yang perlahan-lahan mengalihkan pandangan dari layar laptop ke wajahnya.
“Kenapa?” tanya Biru saat melihat Ranu yang tergeletak sambil menatapnya dengan tatapan kosong.
“Engga apa-apa, pengen rebahan sebentar aja.” Tatapan Ranu masih kosong, hampir seperti bengong. Raganya ada bersama Biru tapi tatapannya menyorot jauh, seolah-olah sedang meramal sesuatu. Biru tidak menjawab lagi, ia kembali fokus ke layar laptopnya, sengaja memberikan Ranu waktu untuk beristirahat.
15 menit berlalu dan tatapan Ranu masih mengawang, ia terlihat seperti patung. Tidak bergerak sama sekali, hanya matanya yang mengedip sesekali dan dadanya yang naik turun secara teratur. Biru masih sibuk dengan laporannya, tidak begitu memerhatikan keadaan laki-laki di hadapannya hingga akhirnya Ranu buka suara, “Kalo aku gagal dan engga jadi orang gimana?”
Alis Biru mengernyit dalam mendengar pertanyaan Ranu. Ia melirik sekilas ke arah lelaki itu, sekarang baru terlihat bahwa Ranu nampak seperti mayat hidup. Tatapannya kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang tak bisa Biru lihat.
“Emangnya sekarang kamu bukan orang?” Biru balik bertanya.
Ranu masih mematung, “Kayaknya aku ini umbi. Kependem di tanah dan engga akan jadi apa-apa.”
Biru terkekeh pelan mendengar jawaban konyol Ranu yang tertidur di hadapannya. Ia berhenti mengetik kemudian memusatkan perhatiannya pada Ranu, “Kenapa kamu mikir gitu?”
“Engga tau. Aku ngerasa ketinggalan jauh sama orang lain,” Ranu mengubah posisi tidurnya. Kini ia rebah sepenuhnya sambil menatap langit-langit kamar kosan yang dihiasi oleh noda-noda cokelat membentuk peta kepulauan.
“rasanya stuck di tempat. Engga bergerak ke mana-mana kayak umbi.”
Biru menyandarkan tubuhnya pada lemari plastik milik Ranu. Ia diam, tak menjawab lagi. Memberikan ruang untuk Ranu mengeluarkan isi kepalanya.
“Semua temenku punya plan yang hebat. Mereka tau apa yang mau mereka lakuin sama hidup mereka. Sementara aku? Aku engga tau mau ngapain dan jadi apa. Aku cuma kepengen semua ini cepet-cepet selesai.” Pada setiap kata yang meluncur keluar dari bibirnya, batu besar yang bersemayam di dadanya mulai bergerak menghimpit ruang napasnya. Setiap tarikannya terasa begitu mencekik, membuat Ranu harus memiringkan lagi badannya agar ia bisa mengambil napas dengan leluasa. Ia meringkuk di atas kasur, mengerdil memeluk kedua lututnya dan terlihat begitu rapuh.
“Aku takut bakal hidup kayak begini terus. Engga punya sesuatu untuk dikejar dan tempat untuk dituju.”
Dari tempatnya, Biru melihat air mata mulai lolos satu persatu membasahi pipi Ranu yang mulus. Jantungnya ikut berdetak nyeri melihat Ranu seperti ini. Ia memahami ketakutan Ranu mengenai kondisinya saat ini dari obrolan-obrolan tentang masa depan dan bagaimana ia ingin berhenti bertumbuh, dan tak lagi menginjakkan kaki di umur 20 lainnya. Obrolan-obrolan pukul tiga dini hari yang diawali dengan lelucon santai kemudian berubah menjadi sesuatu yang begitu dalam dan menyesakkan. Obrolan yang Biru harap tidak akan pernah menjadi kenyataan sampai kapanpun.
Biru bergerak pindah dari posisinya menuju tempat kosong di samping Ranu. Ia merebahkan dirinya menghadap laki-laki yang sedang menangis dalam diam dengan wajah memerah. Dielusnya puncak kepala Ranu dengan lembut dan hati-hati. Jari-jarinya menelusup masuk menyisir helaian rambut milik Ranu yang begitu lembut dan halus. Dihapusnya juga air mata yang bercucuran di pipinya.
“Don’t be too hard on yourself, Ranu,” Bisik Biru pelan.
Ia menangkupkan kedua tangannya pada wajah Ranu dan membuatnya menatap kedua matanya, “you’re only 22, Ranu. It’s okay to not have everything figured out yet..”
“Kamu masih punya banyak waktu untuk nemuin sesuatu yang pengen kamu lakuin dan bikin plan yang hebat juga. It’s okay if what you’re doing right now is just to survive. Jadi umbi bukan berarti kamu engga membuat progress, ibaratnya sekarang ini kamu lagi dalam proses bertumbuh untuk jadi umbi paling manis dan paling enak untuk dikukus,”
“dan engga ada yang salah dengan taking slower steps than everyone else. You’re still moving forward and everything will be alright, Ranu.” Biru mengakhiri ucapannya dengan mengelus lembut pipi Ranu dengan ibu jarinya.
Ranu menatap wajah Biru dalam-dalam, tangannya terangkat untuk balik menggenggam tangan Biru yang bersandar di pipinya sambil memerhatikan ekspresi wajahnya yang tenang seolah turut menghantarkannya ke relung pikiran Ranu.
Ranu terdiam sebentar, berusaha mencerna. Kalimat ‘It’s okay if what you’re doing right now is just to survive’ terngiang-ngiang di telinganya. Dari sekian kalimat yang Biru ucapkan, mungkin itu adalah kalimat yang paling ingin ia dengar, bahwa Ranu tidak perlu khawatir kalau yang sedang dilakukannya saat ini adalah hanya untuk bertahan hidup.
Ranu meremas lembut tangan Biru. Kalimat yang barusan Biru sampaikan mungkin tidak bisa mengangkat rasa cemasnya sepenuhnya, tapi setidaknya mampu membuatnya sedikit tenang. Ranu tak mengerti bagaimana Biru bisa terpikirkan kata-kata yang begitu sederhana tapi mampu menenangkan isi kepalanya yang bergejolak. Rasanya seperti ada sesuatu dari caranya berbicara, begitu tenang dan perlahan-lahan seolah kata-katanya ikut memeluknya menenangkan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya layaknya sihir yang bisa melenyapkan pikiran-pikiran kacaunya dalam sekejap.
“Maaf ya, aku lagi berlebihan.” Ucap Ranu sendu. Ia merasa sedikit malu menunjukkan sisi lemahnya yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun.
Biru membalas ucapan maaf Ranu dengan tawa yang lembut, “Jangan minta maaf. Yang kamu rasain sekarang wajar kok. Kadang aku juga suka ngerasa kayak gitu.”
Mendengar jawaban Biru, bibir Ranu kembali menekuk dan air mata mulai berdesakkan berlomba-lomba untuk keluar. “Huhu... makasih ya. Kamu juga harus cerita ke aku kalo lagi ngerasa kayak gini.”
Biru tak membalas, ia hanya tersenyum kemudian menarik Ranu ke dalam dekapannya. Membiarkan Ranu kembali menangis menumpah ruahkan seluruh perasaannya dalam hangat pelukannya.
