Work Text:
ᯓᡣ𐭩
Wooyoung udah senyum-senyum sendiri dari tadi, dan itu cukup bikin Sieun curiga. Mereka lagi jalan keluar kelas sore, tas digendong asal-asalan, dan matahari udah condong ke barat.
“Kenapa liat aku gitu?” suara Sieun datar.
“Gitu gimana?” Wooyoung malah cengengesan, langkahnya santai banget kayak nggak ada beban hidup.
“Kayak ada rencana bodoh lagi.”
“Nggak bodoh. Penting.”
Sieun melirik sekilas, lalu balik lagi fokus ke jalan. Dia nggak banyak ngomong, tapi ekspresi kecilnya—alis yang sedikit naik, cara dia narik napas pelan—udah cukup bikin Wooyoung ketawa kecil.
Wooyoung sudah beberapa hari kepikiran hal yang sama: kalau-kalau suatu hari Yeon Sieun harus berantem. Bukan karena Sieun cari masalah—nggak mungkin, itu bukan pacarnya. Tapi dunia emang suka iseng, dan Wooyoung paling nggak suka bayangin pacar kecilnya kenapa-kenapa.
“Kamu.. nggak mau coba boxing? Sedikit aja.”
“Jangan lebay. Aku baik-baik aja,” itu jawaban Sieun tiap kali topik itu muncul. Datar, singkat, khas dia.
Sieun menoleh, ekspresinya netral. “Kenapa tiba-tiba?”
“Biar bisa jaga diri.” Wooyoung nyengir, tapi matanya serius. “Tapi aku butuh kamu belajar,” Wooyoung ngejar, separuh becanda separuh serius. “Ya kali pacarku cakep banget tapi nggak bisa mukul kalau ada yang rese.”
Sieun nggak jawab. Dari samping wajahnya kelihatan cool kayak biasanya, tapi tangannya geser dikit, nabrak punggung tangan Wooyoung. Nggak digenggam, nggak ditarik, cuma sentuhan singkat.
Dan buat Wooyoung, itu lebih manis daripada permen kapas yang mereka habiskan bersama di minggu lalu.
“Anggep aja quality time,” bisik Wooyoung sambil nahan senyum.
Sieun mendengus. “Quality time di gym? Serius banget.”
“Tunggu aja. Kamu pasti suka.”
Sieun diam. langkah kakinya melambat, Wooyoung hampir bisa ngerasa ada jawaban yang sebenarnya nggak terucap. Lalu, tiba-tiba, tangan Sieun bergerak pelan. Sikutnya nabrak lengan Wooyoung, kayak sengaja—sentuhan sekilas yang gampang banget kelewat kalau orang lain yang lihat.
Wooyoung langsung senyum bodoh. Itu versi Sieun dari ‘oke, aku ngerti’.
“Aku serius,” katanya lagi. “Besok ikut aku ke gym.”
Sieun nggak menoleh, tapi suaranya lirih. “Kalo aku nggak suka, jangan paksa.”
Iyaa sayangg. “Deal.”
Dan buat Wooyoung, satu kata itu udah lebih manis daripada jawaban panjang apa pun.
ᯓᡣ𐭩
Gym kecil itu hampir kosong waktu mereka masuk. Lampu neon putih agak redup, bau karet sarung tinju masih nyisa. Wooyoung jalan duluan, membuka pintu, otomatis nahan biar Sieun bisa lewat.
Sieun menatap sekitar sekilas. Tidak antusias, tidak menolak. Hanya berdiri tegak dengan tangan masuk kantong hoodie, seolah menunggu Wooyoung yang terlalu semangat.
“Tenang, tempatnya aman kok. Bukan yang ala-ala gangster gitu,” Wooyoung mencoba mencairkan suasana.
“Hm.”
Sieun hanya terdiam dan melihat sekelilingnya, Wooyoung jalan ke arah Sieun, nutup jarak. “Hei,” suaranya lebih pelan sekarang. “Aku tahu kamu nggak suka disuruh-suruh. Tapi, please? Kali ini aja. Aku pengen kamu nyobain. Biar aku tenang.”
Sieun terdiam beberapa detik. menatap Wooyoung dengan mata besarnya. Lalu, dengan gerakan kecil dan cepat, dia ngangguk sekali.
Wooyoung hampir teriak kegirangan.
Wooyoung mengambil sarung tinju warna hitam dari rak. Ia merunduk, mengulurkan ke arah Sieun.
“Pake ini dulu. Aku udah pilih yang ukurannya pas.”
Sieun menatap sarung itu beberapa detik sebelum akhirnya mengulurkan tangannya. Gerakannya lambat, seperti ingin memastikan Wooyoung yang lebih dulu pasang.
Dan tentu saja, Wooyoung langsung sigap. Ia membantu memasang dengan hati-hati, jari-jarinya sengaja menyentuh kulit Sieun lebih lama dari perlu.
“Pasang sarung tinju buat pacar tuh rasanya kayak… wedding vow, tau nggak?” candanya.
Sieun melirik singkat, alis sedikit terangkat. “Kamu drama.”
“Tapi kamu senyum dikit barusan,” Wooyoung cepat menimpali, berbinar.
“…nggak.”
Wooyoung ngakak.
ᯓᡣ𐭩
Setelah selesai, ia berdiri tegak, lalu mengangkat tangannya sebagai target.
“Oke, coba pukul tanganku. Pelan aja. Jangan pake emosi, fokusin tenaga di pergelangan.”
Sieun menghela napas, lalu mengangkat tangan. Gerakannya kaku, terlalu lurus. Pukulan pertama jatuh lemah di telapak Wooyoung.
“Not bad,” Wooyoung memuji, meskipun jelas itu lemah. “Cuma perlu lebih… uh, hidup.”
“Aku mukul, bukan nari.”
Wooyoung ngakak, hampir kehilangan keseimbangan. “Oke, coba lagi. Anggep aja.. aku Youngbin—”
Tatapan Sieun menajam sedikit. Pukulan berikutnya mendarat lebih keras.
“WOAH—! Itu baru!” Wooyoung mundur setengah langkah, matanya berbinar penuh kagum. “Pacarku keren banget.”
Sieun merah total. “…berlebihan.”
Tapi waktu Wooyoung sibuk ketawa lagi, tangan Sieun bergerak singkat—menepuk lengan Wooyoung dua kali. Ringan, cepat, nyaris kayak refleks.
Sieun menarik tangannya, wajahnya tetap datar. Tapi telinga merahnya kelihatan jelas. Ia bergumam singkat, hampir tak terdengar.
“Jangan lebay.”
Wooyoung langsung freeze, lalu senyum meledak. “Aduh, aku mati hari ini juga nggak apa-apa.”
Sieun hanya menghela napas.
ᯓᡣ𐭩
Stop dulu," Wooyoung menurunkan tangannya, lalu maju mendekat. "Bahumu kaku banget. Harus lebih rileks."
Sieun berdiri tegap, ekspresinya datar. "Aku emang begini."
"Justru itu. Kalau stiff, pukulannya gampang ditebak."
Tanpa basa-basi, Wooyoung berdiri di belakangnya. Tangannya naik pelan, menyentuh bahu Sieun, menekan lembut. "Turunin dikit. Gini..."
Sieun tidak bergerak, tapi matanya melirik ke samping, memperhatikan bayangan mereka di cermin. Posisi Wooyoung terlalu dekat, dagunya hampir menyentuh pundak Sieun.
"Kang Wooyoung," ucapnya pelan, "ini latihan, bukan drama romantis."
Wooyoung ketawa kecil, suaranya terdengar hangat di telinga Sieun. "Siapa suruh kamu keliatan gemesin kalau fokus?"
Sieun tidak menjawab. Tangannya kembali diangkat, lalu mencoba memukul target lagi. Kali ini lebih mantap. Suara thud terdengar jelas.
"YES! Nice one baby!" Wooyoung tepuk tangan keras, hampir kayak cheerleader.
Sieun menurunkan tinjunya, menatapnya sebentar. "...berisik."
Tapi Wooyoung malah makin cengengesan. "Aku boleh sombong kan? Pacarku bukan cuma ganteng dan pinter, sekarang juga bisa boxing."
"...aku baru mukul tiga kali."
"Tiga kali aja udah bikin aku jatuh cinta lagi."
ᯓᡣ𐭩
Setelah hampir setengah jam, mereka duduk di bangku pinggir ring. Wooyoung masih heboh muji, sementara Sieun menarik sarung tinju dengan malas.
“Pacarku jago banget. Baru pertama kali tapi langsung dapet feel-nya.”
Sieun melirik sekilas, keringat tipis di pelipisnya memantul kena lampu neon. “…itu cuma mukul. Jangan dilebih-lebihin.” dengan mengelap sedikit pelipisnya.
“Dilebih-lebihin? Kamu nggak liat muka aku barusan hampir copot gara-gara pukulanmu? Kalau kamu serius, aku bisa KO.”
Wooyoung sibuk ketawa, tapi berhenti begitu merasakan handuk dingin menempel ke lehernya. Dia menoleh cepat—dan ternyata Sieun, tanpa banyak omong, sedang mengelap keringatnya. Wajahnya tetap datar, fokus ke gerakan tangan.
“…”
Wooyoung hampir meledak. “Aku nggak mau handuk ini dicuci lagi. Aku simpen biar ada wangi kamu—”
Sieun menatap datar. “…tolol.” Tapi tangannya baru berhenti setelah keringatnya benar-benar hilang.
ᯓᡣ𐭩
Wooyoung menahan pintu dari luar dan memastikan sieun untuk mengikutinya, keluar dari gym, udara malam langsung menyergap. Jalanan sepi, cuma lampu toko yang masih menyala.
“Ayo, cram school kan ke arah sana?” tanya Wooyoung.
Sieun mengangkat alis. “Aku bisa jalan sendiri.”
“Bisa. Tapi nggak akan. Aku nganterin.”
“Wooyoung—”
“Pokoknya aku ikut.” Suaranya ringan tapi tegas. “Jangan protes. Anggep aja aku bodyguard gratis.”
Sieun tidak membalas. Hanya berjalan pelan, langkahnya stabil. Wooyoung buru-buru menyamakan irama. Tapi beberapa langkah kemudian, ujung jarinya bergerak—menyentuh tangan Wooyoung. Pelan-pelan berubah jadi genggaman penuh.
Wooyoung membeku. “…Sieun?”
“Biar nggak nyasar.”
Wooyoung hampir teriak saking senengnya.
Mereka berhenti di depan gerbang cram school. Sieun melepas genggaman, lalu menoleh singkat. “…makasih.”
Sebelum Wooyoung sempat jawab, Sieun meraih tangannya lagi dan menunduk, memberi kecupan singkat di punggung tangan.
Wooyoung membeku. sementara Sieun masuk gerbang dengan wajah setenang biasa.
ᯓᡣ𐭩
Beberapa jam kemudian, cram school berakhir. Sieun keluar bersama siswa lain, dan matanya langsung menangkap sosok bersandar di pagar. Kang Wooyoung, masih dengan hoodie kebesaran dan senyum bodoh yang sama.
“…kamu belum pulang?”
“Aku berubah pikiran.” Wooyoung meluruskan tubuhnya. “Aku mau nganter kamu ke rumah. Supaya bisa… ya, siapa tau kamu mau gandeng aku lagi.”
Sieun terdiam sebentar, lalu mengulurkan tangannya. Datar, sederhana, tapi cukup jelas.
Wooyoung langsung meraih, menggenggam erat, seolah itu hadiah terbesar malam itu.
Dan kalau nanti dia dapat ciuman lagi… well, itu bonus.
♡ ̆̈
