Work Text:
ᯓᡣ𐭩
Beberapa hari setelah mereka latihan boxing bareng, suasana di antara Wooyoung dan Sieun terasa berbeda. Bukan berarti mereka berubah jadi pasangan yang langsung lengket ke mana-mana, tapi ada hal kecil yang terus mengingatkan mereka kalau status mereka sekarang udah bukan cuma “teman” lagi.
Setiap kali papasan di koridor sekolah, tatapan singkat mereka sering berakhir dengan senyum kikuk. Kadang Wooyoung sengaja melambatkan langkah hanya biar bisa jalan bareng beberapa detik lebih lama, sedangkan Sieun, meski berusaha tetap tenang, selalu merasa kupingnya panas tiap kali Wooyoung nyeletuk sesuatu.
“Eh, jangan lupa sarapan,” kata Wooyoung satu pagi, waktu mereka baru keluar dari gerbang sekolah.
Sieun menoleh cepat, menatapnya dengan ekspresi kaget. “Hah?”
“Biar nggak ngos-ngosan kayak pas boxing kemarin.” Wooyoung menyeringai.
Sieun mendengus, pura-pura nggak peduli. “Kamu juga tuh, jangan sok kuat. Tangannya gemeter pas nahan pukulan.”
Wooyoung ngakak, padahal dalam hati dia seneng banget bisa bikin Sieun ngomong panjang lebar.
Hari-hari di sekolah berjalan biasa saja, tapi entah kenapa jadi terasa berbeda. Wooyoung yang biasanya heboh sama teman-temannya, sekarang sering nyari kesempatan buat duduk dekat Sieun di kelas. Nggak selalu berhasil — kadang bangkunya udah keburu diisi orang lain — tapi niat kecil itu bikin hatinya berdebar tiap kali berhasil.
Di sisi lain, Sieun juga nggak bisa bohong kalau kehadiran Wooyoung bikin harinya agak lebih cerah. Meski dia nggak pernah ngaku langsung, ada momen-momen kecil yang nggak bisa dia abaikan. Kayak waktu Wooyoung tiba-tiba ngasih botol minum saat pelajaran olahraga.
itu sederhana, tapi cukup buat bikin Sieun sadar kalau pacaran ternyata nggak selalu butuh hal besar. Kadang, justru momen kecil yang bikin deg-degan.
Suatu sore, setelah bel pulang, Wooyoung duduk di bangku taman sekolah sambil main HP. Dia sebenarnya lagi cari alasan buat ngajak Sieun ketemu. Beberapa kali dia ngetik chat, tapi dihapus lagi. Akhirnya, dia kirim pesan singkat.
Me> “Udah ngerjain PR ekonomi?”
Balasan datang hampir seketika.
Sieunnie💙> “Belum. Kenapa?”
Wooyoung tersenyum miring.
Me> “Kerjain bareng yuk. Aku bawa snack.”
Ada jeda lumayan lama sebelum Sieun bales lagi.
Sieunnie💙> “...di perpus?”
Me> “Yap. Jangan kabur, ya.”
Sore itu, mereka duduk bersebelahan di meja pojok perpustakaan sekolah. Tumpukan buku ada di depan Sieun, sedangkan Wooyoung cuma bawa satu buku tipis dan sekotak biskuit.
Sieun menatapnya dengan tatapan “serius kamu gini doang?” tapi Wooyoung malah nyengir.
“Kamu belajar, aku ngemil. Kerja sama yang bagus, kan?” katanya sambil buka bungkus biskuit.
“Kerja sama apaan. PR kamu siapa yang nulis kalau gitu?”
“Kamu.”
“Wooyoung.” Suara Sieun tegas.
Mereka pun mulai mengerjakan PR. Suasananya canggung di awal — sama-sama sadar kalau ini kali pertama mereka beneran duduk berduaan setelah resmi jadian. Wooyoung sesekali curi-curi pandang ke wajah Sieun, memperhatikan caranya menggigit ujung pensil saat mikir.
Beberapa menit kemudian, Wooyoung nggak tahan lagi. Dia nyenggol lengan Sieun pelan.
“Eh, kalau aku mukul kamu beneran waktu boxing, kira-kira kamu langsung tumbang, ya?”
Sieun menoleh cepat, menatapnya dengan tatapan “kamu beneran nyebelin”. “Mau coba?”
Wooyoung ngakak, sampai hampir lupa mereka lagi di perpustakaan. Beberapa siswa menoleh, dan Sieun buru-buru nunduk, wajahnya makin merah.
“Maaf, maaf,” kata Wooyoung, menahan tawa. “Tapi sumpah, ekspresi kamu lucu banget tadi.”
Sieun mendengus, tapi dalam hati dia senyum.
Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari udah turun, perpustakaan mulai sepi. Mereka masih asyik mengerjakan PR, meski sebenarnya Wooyoung lebih banyak ngobrol daripada nulis.
Akhirnya, setelah halaman terakhir selesai, Sieun menutup bukunya dan menghela napas lega. “Selesai.”
Wooyoung menatapnya lama, lalu berkata dengan nada pelan, “Aku suka gini. Duduk bareng kamu, ngerjain sesuatu bareng. Rasanya nggak kerasa waktu jalan.”
Sieun sempat terdiam, menatap buku di depannya. Hatinya berdebar aneh. Pelan-pelan, dia menjawab, “Aku juga.”
Suasana jadi hening, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti hening yang penuh arti, kayak ada sesuatu yang mereka sama-sama tahu tapi belum diucapkan.
Beberapa hari setelahnya, kebiasaan itu berulang. Kadang mereka ketemu di kantin, kadang sengaja janjian belajar bareng lagi. Ada kalanya mereka ngobrol panjang, ada juga saat-saat ketika mereka hanya duduk berdampingan dalam diam. Tapi anehnya, itu pun terasa cukup.
Bagi Wooyoung, semua ini baru, tapi menyenangkan. Biasanya dia harus selalu tampil heboh, tapi di depan Sieun, dia bisa jadi versi dirinya yang lebih sederhana. Sedangkan bagi Sieun, yang selama ini terbiasa menutup diri, Wooyoung seperti pintu kecil menuju sesuatu yang hangat — ruang aman yang nggak dia sadari selama ini dia butuhkan.
Mereka masih pacar baru, masih kikuk, masih belajar bagaimana caranya berjalan beriringan. Tapi justru di situlah letak manisnya. Dan tanpa mereka sadari, cerita mereka baru saja benar-benar dimulai.
ᯓᡣ𐭩
Malam itu, gym kecil sudah agak sepi. Hanya ada suara hantaman sarung tinju ke samsak, bercampur dengan dengung kipas tua di sudut ruangan. Kamera ponsel Wooyoung terpasang di tripod sederhana, live streaming berjalan lancar.
“Annyeong, guys!” sapa Wooyoung dengan nafas sedikit teratur setelah pemanasan. Hoodie kebesaran setengah tersingkap, rambutnya basah keringat. “Hari ini latihan ringan boxing aja. Tapi jangan bosen, ya.”
Komentar langsung mengalir.
Wooyooya_stan: [Semangat Woonie!]
uwuuppercut: [Udah kayak idol, sumpah]
boxingluv_97: [Tunjukin skill, bro!]
Wooyoung nyengir, sambil melap wajahnya pakai handuk. “Skill? Hmm… kalian tau nggak, satu-satunya alasan aku rajin latihan kayak gini?” Dia berhenti sebentar, tatapannya ke kamera jadi lebih lembut. “Supaya aku bisa jagain pacarku.”
Chat langsung meledak.
uwuuppercut: [CIYEEE FLEX PACAR]
minty_noona: [Pacar siapa nih?]
KOnoMercy: [Hoax detected]
Wooyoung ngakak, terus mulai pukul samsak dengan ritme teratur. “Hoax katanya. Nih aku kasih tau, namanya Yeon Sieun. Atau aku biasanya panggil… Sieunnie. Kadang… Eun.” Suaranya menurun sedikit, kayak refleks penuh sayang.
Komentar makin panik.
uwuuppercut: [AWWW KETEMU NAMA]
boxingluv_97: [Sieunnie imut banget namanya]
KOnoMercy: [Bawa pacarnya sekalian lah!!]
Wooyoung berhenti sebentar, sandarin lengannya ke samsak, napas terengah. “Kalian nggak ngerti, dia tuh… paling cantik. Paling manis. Jenius lagi. Aku latihan sampai capek gini aja, kalo kepikiran wajahnya… langsung semangat lagi.”
Di sisi lain kota, kamar Sieun sunyi. Meja belajarnya penuh buku terbuka, pensil masih terselip di jari.
Laptop di sudut meja memutar live stream Wooyoung.
Sieun menunduk, pura-pura sibuk menulis catatan. Tapi telinganya merah banget. Sesekali matanya melirik layar—pacarnya lagi boxing sambil ketawa-ketawa, terus muji dirinya kayak dunia cuma milik berdua.
“...young-ah bodoh,” gumam Sieun pelan, tapi tangannya diam-diam ngeklik emoji hati di layar.
Besoknya, weekend. Matahari belum terlalu tinggi, Wooyoung masih merenggangkan badan di depan rumahnya ketika ponselnya bunyi.
Satu pesan masuk. Dari Sieunnie 💙.
Sieunnie💙> “wooyoung.”
“Jalan sama aku hari ini.”
Wooyoung langsung freeze. Detik berikutnya, dia literally loncat kegirangan.
“A—AKU DAPET DATE INVITE?!?” teriaknya ke udara kosong.
Tanpa nunggu lama, dia bales cepat:
Me> “YES SIR. Aku siap, Eun.”
Dan untuk pertama kalinya, Yeon Sieun yang biasanya cuek banget… jadi orang yang ngajak duluan.
ᯓᡣ𐭩
Weekend itu, matahari udah naik separuh ketika Wooyoung nongol di depan pintu apartemen Sieun. Hoodie hitam kebesaran, celana jeans simple, sneakers putih yang kelihatan baru dicuci. Dia bahkan sempat bawa tas kecil isinya… entah apa, tapi jelas penuh perhitungan.
Pintu terbuka. Yeon Sieun muncul dengan kemeja putih longgar, celana jeans, rambut sedikit berantakan kayak baru bangun tidur. Ekspresinya datar, tapi mata besarnya sedikit menyipit waktu lihat Wooyoung udah siap heboh.
“Woonie,” sapanya pelan.
Wooyoung langsung freeze. Baru pertama kali dipanggil kayak gitu di depan pintu rumah, dan dia hampir jatuh saking gemesnya. “Ugh—Eun, jangan gitu dong. Baru juga ketemu udah pake nickname manis gini.”
Sieun cuma menghela napas, lalu keluar dan mengunci pintu. “Mau kemana?”
“Dimana aja! Aku siap jadi tour guide hidupmu.” Wooyoung nyengir. “Tapi… karena kamu yang ngajak, kamu yang tentuin.”
Sieun berpikir sejenak, lalu menjawab singkat. “Jalan dulu.”
Mereka berdua berakhir di jalan besar dekat pusat kota. Trotoarnya ramai tapi nggak sumpek. Ada kios-kios kecil jual jajanan, bau roti panggang manis bercampur dengan wangi ayam goreng tepung.
Wooyoung otomatis ngegenggam tas Sieun. “Kasih ke aku.”
“…aku bisa bawa sendiri.”
“Tapi aku cowoknya. Gimana sih.” Wooyoung mepet, senyum lebar. “kan biar aku keliatan makin pacar material.”
Sieun tidak membalas, hanya menyerahkan tas tanpa banyak komentar. Tapi ujung telinganya merah.
Mereka berhenti di kios odeng (fish cake tusuk). Panci kuah panas mengepul, wangi gurih langsung bikin perut keroncongan.
“Eun, kamu suka yang pedes atau biasa?” tanya Wooyoung sambil jongkok ngeliat panci.
Sieun menatapnya sebentar. “…biasa.”
“Oke. Aku pesen dua-duanya biar kamu bisa nyoba dikit.” Wooyoung sok tau, bayar, lalu nyodorin tusukan ke pacarnya. “Hati-hati panas.”
Sieun menerima tanpa komentar, meniup pelan. Wooyoung memperhatikan cara dia makan—tenang, pelan, seakan dunia berhenti sebentar.
“Gila… kamu bahkan bikin fish cake keliatan elegan.”
Sieun melirik datar. “…berisik.” Tapi dia tetap makan habis.
Wooyoung ketawa. “Besok aku streaming sambil cerita pacarku makan odeng kayak pangeran, padahal cuman tusuk ikan.”
ᯓᡣ𐭩
Setelah itu, mereka jalan lagi memasuki arkade. Wooyoung berhenti di stand mainan claw machine.
“Eun, mau boneka nggak? Aku jago nih.”
“Boneka?” Sieun menaikkan alis.
“Iya! Pacarku harus punya boneka lucu. Biar bisa inget aku tiap malam.”
“…drama.” Tapi Sieun ikut berdiri di samping, tangan masuk saku.
Wooyoung masukkan koin, pegang joystick dengan serius. “Tonton aku ya.”
Satu kali, gagal. Dua kali, meleset lagi. Chat di kepalanya udah kayak live stream: [GAGAL] [WOONIE NOOB].
Sieun menatap, ekspresinya tetap flat. “…katanya jago.”
“Aku warming up!” Wooyoung panik. Lalu percobaan ketiga—claw berhasil nangkep boneka kecil berbentuk kelinci.
WOYOUNG literally lompat. “YES! Liat, Eun! Aku jago kan!”
Dia sodorkan boneka itu. “Nih. Buat kamu. Sieunny-bunny.”
Sieun menerima pelan, menatap boneka itu lama. “Kelinci.”
“Eh? Kamu lebih suka kucing?”
“…bukan. Kelinci… imut.” Suaranya lirih, nyaris nggak kedengaran.
Wooyoung freeze. Dia baru aja denger pujian terselubung dari Sieun, dan langsung meledak senyum.
“Aku lebih imut dari kelinci, kan?”
“…ga.” Tapi boneka itu tetap dia genggam erat.
Pas Wooyoung selesai pamer dengan boneka kelinci kecil yang berhasil dia ambil, Sieun masih berdiri di samping mesin. Matanya sempat berhenti di salah satu pojokan display—ada plushie rilakkuma yang pakai hoodie putih oversize.
Wooyoung nangkep tatapan itu langsung. “Eun? Kamu mau yang itu?”
Sieun menoleh pelan. “…mirip kamu.”
Wooyoung langsung blank sepersekian detik, lalu meledak senyum konyol. “APA? Jadi kamu ngeliat aku kayak rilakkuma hoodie putih?!”
“…kalo nggak bisa ambil, nggak apa.” Jawaban datarnya cepat, tapi telinga merahnya udah keburu keliatan.
Wooyoung langsung masukin koin lagi dengan dramatis. “Nggak bisa apaan! Demi pacarku tercinta yang akhirnya minta sesuatu, aku bakal ambil sampe berhasil!”
Percobaan pertama, claw meleset. Kedua, bonekanya sempat keangkat tapi jatuh lagi. Wooyoung udah hampir frustasi, tapi tiap lihat ekspresi Sieun yang seolah pura-pura cuek, semangatnya balik dua kali lipat.
Percobaan keempat—cling! boneka rilakkuma hoodie putih itu akhirnya sukses kejatuh ke lubang.
“YESSSS!!!” Wooyoung langsung ngambil bonekanya dan menyerahkan dengan gaya kayak pahlawan abis nyelamatin dunia. “Nih, buat kamu, Eun. Sekarang kamu punya aku versi teddy bear.”
Sieun menerima boneka itu pelan, menatap lama. “…lebih imut.”
Wooyoung langsung freeze lagi. “Tunggu, maksudmu bonekanya lebih imut dari aku? Atau aku lebih imut dari bonekanya?!”
Sieun cuma jalan duluan, boneka rilakkuma dipeluk di satu tangan. “…nggak penting.”
Wooyoung ngejar sambil teriak kecil, “PENTING BANGET, EUN!!!”
ᯓᡣ𐭩
Begitu keluar dari kios claw machine, Wooyoung langsung nunjuk ke mesin punching ball di pojokan arcade. Lampu kelap-kelip, musik kenceng, orang-orang kadang berhenti buat liat siapa yang skornya paling tinggi.
“Eun, kita coba itu!” Wooyoung semangat banget.
Sieun melirik sekilas. “…mesin tinju?”
“Ya! Biar kamu bisa liat aku jago beneran, bukan cuma sok jago di stream,” katanya sambil nyodorin koin.
Sieun akhirnya berdiri di samping, tangan tetap di saku.
Wooyoung masukin koin, mesin berbunyi beep, bola punching turun. Dengan pose ala-ala pro boxer, dia mundur sedikit, lalu… BAM! Tinju keras mendarat, angka langsung naik cepat. 892.
Wooyoung langsung pamer, “Liat! Hampir 900! Aku bilang juga apa, Eun—”
“Lemah.”
“APA??” Wooyoung hampir jatuh. “892 itu tinggi, tau!”
Sieun akhirnya jalan maju, masukin koin sendiri. Tangannya kelihatan santai, postur nggak berlebihan. Dia cuma tarik napas sekali, lalu—BAM! Tinju mendarat lurus. Angka langsung melesat ke 910.
Wooyoung bengong. “EUN—APAAN INI—”
Sieun menatap skor sebentar, lalu balik lagi ke samping, ekspresinya flat. “…lumayan.”
Chat imajiner di kepala Wooyoung udah kayak: [PACARNYA JAUH LEBIH KUAT] [WOONIE NOOB 2.0] [KASIH MIC BUAT SIEUN STREAM AJA]
Wooyoung teriak, “NGGAK ADIL! Kamu latihan tinju diam-diam ya?!”
Sieun hanya mengedikkan bahu. “…aku observasi kamu tiap latihan.”
Kalimat itu sederhana, tapi bikin Wooyoung diem mendadak, wajahnya panas. “E-eh… jadi kamu perhatiin aku??”
Sieun tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Setelah Sieun kalem-kalem sukses nyelipin pukulan 910 poin di mesin tinju, Wooyoung masih syok setengah hidup.
Dia berdiri terpaku, sementara Sieun cuma merapikan hoodie boneka rilakkuma putih yang baru dia dapet dari claw machine tadi. Boneka itu sekarang digendong sebelah tangan, persis kayak anak kecil habis menang hadiah besar.
“Sieunnie…” Wooyoung akhirnya buka suara, nadanya penuh drama. “Kamu baru aja ngalahin aku di punching machine. Sambil nenteng versi plush aku lagi.”
Sieun melirik sekilas, wajah tetap datar. “…versi plush kamu lebih kuat?”
“APA ITU ARTINYA?!” Wooyoung hampir jatuh. “Aku kalah sama teddy bear yang mirip aku?! Ini penghinaan personal!”
Sieun menunduk sebentar, jari-jarinya ngetuk ringan kepala rilakkuma itu. “…nggak. Sama aja. Keduanya imut tapi... bodoh.”
Wooyoung langsung KO mental, nyandar ke mesin tinju sambil pura-pura sekarat. “Habis sudah… harga diri dan kejantananku diambil sama pacarku sendiri…”
Beberapa orang di arcade sempet nengok karena Wooyoung lebay banget, tapi Sieun cuma berdiri santai sambil memeluk rilakkuma itu lebih erat.
“Kalau nggak puas,” katanya tenang, “latihan lagi.”
Wooyoung langsung bangkit, matanya berbinar. “TUNGGU—jadi kamu bakal nemenin aku latihan lagi biar aku bisa ngalahin skor kamu?!”
Sieun mengedikkan bahu. “…aku udah sering liat.”
Kalimat sederhana itu sukses bikin Wooyoung terdiam sebentar. Senyumnya pelan-pelan melebar, kali ini bukan karena drama, tapi karena beneran tersentuh. “Eun… kamu tuh bikin aku tambah jatuh cinta tiap detik.”
Sieun langsung jalan duluan ke arah pintu keluar arcade, boneka rilakkuma putih masih dipeluk. “…berisik.”
Tapi Wooyoung bisa liat jelas—ujung telinga pacarnya udah merah banget.
ᯓᡣ𐭩
Mereka keluar dari arcade sambil bawa kantong plastik isi rilakkuma putih dan juga kelinci plushie. Wooyoung masih heboh pamer skor tinjunya, sementara Sieun cuek jalan di sampingnya.
“Next time aku bakal pecahin skor mesin itu, Eun. Sumpah,” Wooyoung masih ngotot.
Sieun menoleh singkat, wajah datarnya nggak nutupin fakta kalau dia jelas terhibur. “Skor mesin tinju, bukan nilai ujian. Tenang aja.”
“Yah, kalo ujian kamu udah ga ada tandingannya. Genius-boy.”
Sieun langsung melirik, agak kaget. “…nggak usah lebay.” Tapi telinganya memerah halus.
Mereka berhenti di depan toko buku besar di pojokan jalan. Lampu kuning hangat dari dalam bikin suasana beda banget dari arcade yang berisik.
“Kamu mau masuk?” tanya Wooyoung.
Sieun menatap papan nama toko beberapa detik, lalu angguk pelan. “Bentar aja.”
Di dalam, bau kertas baru dan rak-rak tinggi bikin suasana tenang. Hampir kosong, cuma ada beberapa orang baca di pojok. Sieun langsung melangkah ke bagian buku pelajaran, tangannya geser pelan sepanjang punggung buku, matanya fokus.
Wooyoung ngikutin dari belakang, tapi jelas bosan. Dia ngambil satu buku tebal random dan langsung drama.
“Eun… buku ini bisa dijadiin senjata. Berat banget, sumpah. Nggak usah boxing, pake ini aja.”
Sieun melirik singkat tanpa berhenti jalan. “…taruh.”
“Eh tapi, kalo aku bacain kamu buku ini tiap malam… kamu makin jatuh cinta nggak ya?”
Sieun berhenti, menatapnya lama. “Woonie.”
“Hm?”
“Taruh.”
Wooyoung ngakak, buru-buru naruh buku ke rak. “Oke, oke, jangan marah.”
Sieun akhirnya nemu buku tipis, semacam kumpulan soal latihan. Dia ambil, balik badan, dan hampir kaget karena Wooyoung berdiri terlalu dekat.
“Lucu banget, kamu kayak detektif nemu clue,” kata Wooyoung sambil senyum lebar.
“…ini cuma buku latihan.”
“Tapi kamu kelihatan seneng. Jadi aku juga seneng.”
Sieun diam, tapi ujung bibirnya bergerak sedikit—nyaris senyum, yang langsung bikin Wooyoung freeze.
“Aku bayar dulu,” ujar Sieun, beranjak ke kasir. Wooyoung otomatis ngikutin.
Keluar dari toko, Wooyoung masih kepikiran. “Kamu sadar nggak? Setiap kali kamu nemu buku, ekspresimu tuh manis banget. Kayak… lebih manis dari—"
Sieun menoleh, menatapnya sebentar. “…modus.”
“Tapi kamu nggak menyangkal.”
Sieun tidak jawab, tapi tangan kirinya geser pelan, menyentuh genggaman Wooyoung lagi.
Wooyoung langsung senyum bodoh sepanjang jalan.
ᯓᡣ𐭩
Restoran Korea itu cukup ramai malam itu, tapi suasana hangat lampu kuning bikin meja mereka seakan jadi dunia kecil berdua. Wooyoung langsung semangat begitu pelayan datang bawa menu. Dia menunjuk beberapa pilihan dengan senyum percaya diri.
“Kamu harus cobain dakgalbi di sini. Pedesnya pas, bumbunya legit. Sama jjigaenya juga top. Trust me, ini rekomendasi chef Woonie.”
Sieun menatap daftar menu sebentar, lalu balikin ke meja tanpa banyak komentar. “…kalau kamu bilang enak, aku coba.”
Wooyoung terkekeh. “Yakin, kan? Jangan nyalahin aku kalau nanti ketagihan.”
Sieun hanya mengangguk pelan. Dalam hati, dia memang agak penasaran—dan mungkin sedikit tergerak karena ini rekomendasi pacarnya. Bukan soal pedes atau nggak pedes, tapi karena itu favorit Wooyoung, jadi otomatis ingin nyoba.
Beberapa menit kemudian, wajan panas berisi dakgalbi pedas diletakkan di tengah meja. Aroma gochujang, bawang putih, dan cabai langsung menyerbu. Wooyoung sudah tampak bahagia cuma dari baunya.
“Ini dia… surga dunia,” katanya sambil aduk-aduk ayam dengan sumpit panjang. “Eun, siap-siap.”
Sieun mengangguk kecil. Dia memang terlihat tenang, tapi jari-jarinya menggenggam gelas air erat-erat sejak aroma cabai pertama kali menyeruak.
Wooyoung nggak ngeh sama sekali, terlalu sibuk excited. Dia ambil satu potong ayam, tiup sebentar, lalu nyodorin ke bibir Sieun. “Ayo, first bite harus spesial.”
Sieun agak ragu sepersekian detik, tapi akhirnya membuka mulut. Potongan ayam pedas masuk, panas, bumbu tajam. Rasanya enak, iya, tapi detik berikutnya wajahnya berubah—merah, matanya sedikit berair, dan tangannya buru-buru ngambil gelas air.
“Woonie…” suaranya terputus engap. “…pedes banget.”
Wooyoung freeze, lalu meledak ketawa. “SERIOUSLY?? Kamu… nggak kuat pedes?!”
Sieun buru-buru minum sampai setengah gelas habis, pipinya makin merah. “…kamu bilang standar.”
Wooyoung geleng-geleng, tangannya nutup mulut karena ketawa nggak berhenti. “Ya ampun, aku kira kamu kuat makan pedes. Aku bahkan pesan yang level medium biar nggak terlalu parah.”
Sieun menunduk, masih sibuk ngejar napas. “Aku… mau coba aja. Karena kamu suka.”
Kalimat itu bikin Wooyoung mendadak diem sepersekian detik. Tatapan matanya berubah sedikit—dari sekadar ketawa jadi lebih hangat.
“…kamu manis banget, sumpah.” Dia buru-buru nyodorin side dish telur gulung. “Nih, makan ini dulu. Jangan sentuh yang merah lagi, oke?”
Sieun, meski engap, tetap nurut. Mulutnya penuh telur gulung lembut, dan perlahan ekspresinya tenang.
Wooyoung diam-diam bikin catatan di kepalanya. Note: jangan pernah lagi rekom makanan pedes buat Eun. Dia bakal sengsara.
Tapi catatan berikutnya yang muncul malah bikin telinganya panas sendiri. Note dua: tapi wajahnya waktu kepedesan tadi… gila. Bibirnya merah, matanya berair, suara serak dikit…
Wooyoung buru-buru ngibasin kepala. “Aduh, jangan mikir aneh-aneh, dasar Woonie.” Tapi tetap saja bayangan itu muncul— gimana ekspresi Sieun barusan kelihatan… terlalu menggemaskan sekaligus bikin jantungnya ngebut dengan cara yang susah dijelasin.
Dia akhirnya pura-pura sibuk motong daging.
Sepanjang makan, Wooyoung jadi jauh lebih perhatian. Dia yang ngambilin side dish, ngasih potongan daging yang nggak ada saus merahnya, bahkan nyodorin air setiap kali Sieun keliatan ragu.
“Ini coba yang nggak pedes,” katanya sambil nyuapin lagi. “Aku jamin aman, Eun. Kali ini beneran.”
Sieun menatapnya sebentar, lalu makan tanpa protes. “…lebih enak.”
Wooyoung langsung nyengir lebar. “Tuh kan! Dari awal kamu tinggal percaya aja sama chef Woonie.”
“…padahal tadi kamu juga yang bilang ‘standar’.”
“A-itu… beda kasus,” Wooyoung pura-pura defensif, meski sebenarnya nggak bisa berhenti senyum.
Pelayan sempat datang lagi, nawarin side dish tambahan. Wooyoung hampir pesan kimchi lagi, tapi langsung keinget ekspresi kepedesan tadi, jadi buru-buru batal.
“Odeng sama japchae aja, please,” katanya.
Sieun menoleh. “…kamu biasanya pesan kimchi, kan?”
Wooyoung sengaja ngedip satu mata. “Nggak ada kimchi kalau ada kamu. Aku nggak mau pacarku tersiksa.”
Sieun diam beberapa detik, lalu pelan-pelan minum airnya. Pipinya masih agak merah, tapi kali ini jelas bukan karena cabai.
Setelah selesai makan, Wooyoung bersandar puas di kursi. Dia ngelirik Sieun yang lagi rapihin bukunya di pangkuan (ya, dia bawa buku latihan yang baru dibeli dari toko tadi).
“Sieun,” katanya tiba-tiba.
“Hm?”
“Next time, aku bakal cari resto yang nggak ada menu pedes sama sekali. Biar kamu bisa makan nyaman.”
Sieun melirik sekilas. “…kamu nggak keberatan?”
“Keberatan? Please.” Wooyoung mendengus sambil senyum kecil. “Selama aku bisa makan bareng kamu, apapun menunya enak. Nggak harus pedes.”
Sieun terdiam, tangannya berhenti membuka halaman. Ujung bibirnya bergerak tipis, nyaris senyum.
Wooyoung menangkap itu, dan lagi-lagi hatinya terasa meledak. Note ketiga: senyumnya lebih bikin nagih daripada semua makanan pedes di dunia.
Dan mungkin—hanya mungkin—dia bakal terus mikirin ekspresi kepedesan itu diam-diam.
ᯓᡣ𐭩
Malam itu udara dingin menusuk, tapi entah kenapa dada Wooyoung terasa hangat. Mereka berjalan beriringan di trotoar, lampu jalan berderet memantulkan bayangan panjang di aspal basah sisa hujan sore tadi.
Sieun jalan di sampingnya, sambil bergandengan dengan tangan wooyoung, tangan lain masih megang kantong plastik berisi rilakkuma putih dan juga kelinci dari arcade. Wajahnya masih merah samar, campuran pedes tadi dan mungkin sedikit malu.
Wooyoung ngelirik, terus mendengus kecil. “Sieun… kamu sadar nggak wajahmu bikin orang salah paham?”
Sieun menoleh, alis terangkat tipis. “…apa maksudmu?”
“Ya liat aja. Pipimu merah, matamu agak basah… kalau ada orang lewat sekarang, mereka pasti mikirnya aku habis…” Wooyoung berhenti sebentar, senyum nakal. “…you know.”
Sieun langsung menghentikan langkah, menatapnya datar tapi jelas telinganya makin merah. “…otakmu kotor.”
Wooyoung ngakak, tangannya ngangkat defensif. “Heh, aku cuma bilang fakta. Aku sendiri jadi salah paham kok ngelihatmu kayak gini.”
Sieun menghela napas, lalu jalan lagi. “…...”
Wooyoung buru-buru nyusul, ekspresinya masih geli. Dia sempat melirik lagi, menahan tawa karena ekspresi malu Sieun bener-bener priceless. Note keempat: wajah merahnya harus aku simpan selamanya. Kalau bisa difoto, udah aku jadiin wallpaper sekarang juga.
Mereka terus jalan sampai melewati taman kecil yang berada diseberang gedung apartement sieun. Wooyoung tiba-tiba berhenti. “Sebentar, duduk bentar yuk.”
Sieun menoleh, ragu, tapi akhirnya ikut duduk di bangku kayu di bawah lampu jalan.
Malam tenang, cuma suara jangkrik dan mobil jauh. Wooyoung menyandarkan badan, sementara Sieun duduk tegak, tangannya masih peluk boneka rilakkuma.
“Eun,” suara Wooyoung lebih lembut kali ini. “Makasih ya, udah mau ikut kencan hari ini.”
Sieun menoleh sedikit. “…itu wajar. Kita pacaran.”
“Ya, tapi tetep aja. Aku seneng banget. Arcade, toko buku, dinner… semua kerasa lebih enak karena ada kamu.”
Sieun diam beberapa detik, lalu pelan-pelan mengangguk. “…aku juga.”
Wooyoung langsung senyum lebar. “Kamu juga apa?”
Sieun melirik sekilas, lalu buru-buru menunduk. “…aku juga seneng.”
Hening sebentar, sampai akhirnya Wooyoung nggak tahan. Dia ngusap tengkuk, lalu condong dikit ke arah Sieun.
“Kamu tahu nggak, wajahmu sekarang bahaya banget.”
“…kenapa lagi?”
“Kalau bukan aku yang duduk di sini, mungkin orang lain udah salah paham parah. Jadi mulai sekarang, wajah merah itu cuma boleh aku yang lihat.”
Sieun menatapnya lama, datar… lalu tanpa suara menoleh lagi ke depan. Tapi tangannya geser pelan, menyentuh lengan Wooyoung sebentar, kayak kode halus.
Wooyoung merasa jantungnya meledak. Note kelima: dia nggak perlu ngomong, tapi satu sentuhan udah bikin aku gila.
Akhirnya mereka berdiri lagi. Wooyoung nganterin sampai depan pintu apartement sieun.
“Udah sampai, Eun.”
Sieun mengangguk pelan. “…makasih udah anterin.”
“Of course. Pacar yang baik harus gitu, kan?”
Wooyoung nyelipin tangannya ke belakang kepala. “Hari ini… the best date ever.”
Sieun menatapnya sebentar, lalu menjawab singkat. “…hm.”
Wooyoung pura-pura manyun. “Cuma ‘hm’? Aku udah kasih kamu boneka, odeng, tteokbokki—”
Tiba-tiba, Sieun melangkah maju. Cepat, singkat. Bibirnya menyentuh pipi Wooyoung sepersekian detik, lalu mundur lagi.
“…makasih.”
Wooyoung literally freeze, seluruh tubuhnya membeku. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya dia teriak kecil, “A—AKU DAPET KISS!!!”
Sieun langsung masuk ke apartementnya. terdengar samar suaranya, datar tapi jelas “…jangan berisik.” wajah dan telinganya merah total.
Wooyoung berdiri di luar dengan senyum bodoh, siap update seluruh dunia kalau pacarnya baru aja bikin jantungnya KO.
Dan malam itu, sambil jalan pulang, dia cuma bisa mikir satu hal. Note terakhir hari ini—aku nggak akan pernah bosen lihat wajah itu. Selamanya.
ᯓᡣ𐭩
Gym malam itu agak sepi, tapi live chat di stream Wooyoung justru rame kayak biasanya. Kamera dipasang menghadap ring kecil, lampu neon putih bikin suasana terang.
Wooyoung lagi stretching, hoodie abu-abu kebesaran, rambut agak basah karena keringat.
“Yo guys,” sapanya, sambil lambaikan tangan. “Hari ini targetku beda. Bukan cuma latihan biasa…”
Komentar langsung ngalir.
boxingluv_97: [TARGET APA NIH?]
jab_n_joke: [WOONIE MAU SPARRING LAGI?]
minty_noona: [Ciyeee abis ngedate ya kemarin]
Wooyoung ngakak. “Ya elah, kalian kepo banget. Tapi iya, aku abis ngedate sama pacarku. Dan ternyata… aku ketemu musuh baru.”
Chat langsung capslock mode.
doublejab_lover: [MUSUH BARU??]
tinyfists_: [ASTAGA ANTAGONIS BARU MASUK]
uwuuppercut: [APAAN NIH]
Wooyoung jalan ke punching bag, terus pura-pura pasang wajah serius kayak lagi konferensi pers. “Namanya… Rilakkuma Hoodie Putih.”
Stream langsung meledak.
dindin_bell: [😭😭😭]
upperdreamz: [JANGAN KETAWA DULU PLIS]
tinyfists_: [BRO NGAPAIN LAWAN BONEKA]
“Gue nggak bercanda!” Wooyoung tinju punching bag sekali, BAM! “Eun—eh, pacarku maksudnya—lebih milih rilakkuma daripada aku! Bahkan di mesin tinju, dia ngalahin skor gue. Jadi sekarang… demi harga diri gue, gue harus latihan sampe bisa ngalahin plushie itu!”
Komentar makin liar.
MumuRing: [😭😭 PLS NOT THE PLUSH]
jabbin_jelly: [RELATIONSHIP GOALS ALA BOXER STREAMER]
bingsoo_luv: [PACARNYA LEBIH JAGO TINJU GAES]
Wooyoung ngakak sambil mukul bag lagi. “Beneran deh, kalian pikir aku lebay? Kalian nggak liat muka dia pas peluk boneka itu… kayak aku udah nggak exist. Aku saingannya teddy bear sekarang.”
Dia berhenti sebentar, nyandar ke punching bag, napas ngos-ngosan. Tapi senyumnya lembut banget.
“…tapi ya, kalau dia bahagia, aku juga bahagia. Jadi nggak masalah lah.”
Chat langsung spam hati.
angelupperz: [AWWWW]
wooy_heartu: [WOONIE LEMAH SAMA PACARNYA]
minty_noona: [DIA FLEXIN PACAR LAGI NIH]
Wooyoung tiba-tiba tunjuk kamera, ekspresi dramatis. “Tapi inget kata-kata gue—next date, gue bakal buktiin kalau gue nomor satu. Rilakkuma putih bakal gue kalahin!”
Chat makin teriak.
uwuuppercut: [PLUSHIE VS BOXER, SIAP-SIAP]
minty_noona: [WOONIE BAKAL SPARRING BONEKA]
MumuRing: [WE WANT LIVE PROOF]
Wooyoung ngakak sampe jongkok. “Gila, kalian nggak ada kasihan sama sekali sama aku, ya?! Tapi gapapa… demi Sieunnieku, gue siap latihan tiap hari.”
Dia berdiri lagi, pukul punching bag lebih kenceng, kali ini wajahnya beneran fokus. Tapi di sela-sela itu, ketawa kecilnya masih bocor, jelas banget kalau hatinya lagi seneng-senengnya.
Kamar Sieun hening, cuma suara kipas angin berputar pelan. Meja belajarnya penuh buku dan lembar tugas, laptop terbuka di sebelah. Di layar, tab YouTube menampilkan Wooyoung yang lagi ngoceh di gym.
Sieun duduk tegak, Tapi tiap kali suara Wooyoung kedengeran jelas, tangannya berhenti sebentar.
“…gue harus latihan sampe bisa ngalahin plushie itu!” suara Wooyoung nyaring, sampai bikin Sieun spontan mendesah pelan.
Dia menoleh ke tempat tidur. Rilakkuma hoodie putih yang mereka dapat dari arcade kemarin tergeletak manis. Tanpa pikir panjang, Sieun nyeret bonekanya ke pangkuan, terus meluk erat.
“Bukan salah dia juga,” gumamnya datar, meski telinganya merah. “Aku yang minta…”
Laptop masih memutar stream. Wooyoung lagi berdiri di depan punching bag, sok dramatis nunjuk kamera.
“Tapi inget kata-kata gue—next date, gue bakal buktiin kalau gue nomor satu. Rilakkuma putih bakal gue kalahin!”
Sieun refleks nutup wajah pakai tangan, hampir jatuhin pensil. “Woonie tolol…” bisiknya, lirih banget, tapi senyumnya nggak ketahan.
Dia coba balik lagi nulis, tapi ujung pensil ngetok-ngetok kertas tanpa arah. Matanya malah lebih sering ngelirik layar. Wooyoung ketawa keras, chat live-nya rame, dan entah kenapa—hati Sieun ikut hangat.
Akhirnya, dengan pasrah, dia dorong buku ke samping. Boneka rilakkuma ditarik lebih dekat, dipeluk erat-erat. Sambil rebahan setengah di kursi, pandangannya nggak lepas dari layar.
“…kamu drama banget, Woonie,” gumamnya lagi, kali ini lebih lembut.
Dan meski mukanya kelihatan biasa aja, pipinya udah memanas sendiri.
̆̈
♡♡
