Chapter Text
"Jangan lupa susu dibeli juga ya."
"Iyaa."
Sepeda gunung yang jarang dipakai ia parkirkan di tempat khusus sebelum tubuh jenjangnya bergerak memasuki swalayan tersepi di kota. Berbekal kantong belanja dan daftar belanjaan dari mama, Woojin mulai menyusuri lorong-lorong swalayan seorang diri.
Mengiyakan tawaran sang mama di siang hari yang mendung ini sebenarnya sedikit membuatnya menyesal. Woojin bisa saja sekarang duduk di kasur dengan gitarnya menunggu hujan, bermain game di akhir minggu bersama teman-teman onlinenya, atau bahkan tidur siang dengan pulas mengingat jadwal tidur yang terlalu berantakan akibat menjadi siswa tahun terakhir di SMA.
"Mau bayar pake debit atau cash?"
"QRIS bisa gak Mba?"
Dan seperti perkiraannya, hujan mulai turun saat pintu swalayan di belakangnya tertutup. Mata bulatnya menatap ke atas, melihat rintik yang kian jatuh brutal dan mendecak pelan.
You: ujan ma
Mama: ya udah, tunggu reda
You: gak mau jemput anaknya?
Mama: gmw
You: ☹️
Kenapa juga ia tidak membawa payung, ya? Tapi bagaimana cara pakai payung saat membawa sepeda?
Kaki jenjangnya bergerak lagi, kini menempatkan diri pada bangku panjang seraya meneguk susu kotaknya menikmati suara hujan dan angin dingin yang menaikkan bulu kuduk. Membiarkan pikirannya kosong karena entahlah, ia lelah. Woojin pikir kehidupan di SMA barunya akan seru karena berada di tahun terakhir, tapi ternyata tidak sesuai ekspektasi.
Woojin selalu sendiri, duduk di bangku terbelakang karena tidak ingin figur tingginya menyusahkan orang lain. Jam istirahat digunakan untuk belajar di perpustakaan atau makan di kelas. Sore hari melanjutkan kesibukan dengan les dan malam hari ia kadang 'mengamen' di taman kota dengan gitar kesayangannya. Jadwal monoton yang terus berputar bak roda dan perlahan, Woojin mulai jenuh.
"Kan, aku bilang juga apa. Basah berdua jadinya."
"Hehe."
Dua insan yang tiba-tiba berada di hadapannya dengan pakaian yang basah menghentikan kegiatan melamun Woojin. Kemasan susu kotak yang sudah kosong itu tiba-tiba jatuh, mata bulat yang semula fokus memandang langit abu-abu kini fokus pada laki-laki yang terkekeh pelan habis diomeli oleh gadis di sebelahnya. Wajah familiar yang menghantui mimpi-mimpi buruknya sejak tahun lalu.
Chung Sanghyeon.
Dua orang itu masih mengobrol tanpa menyadari kehadirannya di belakang mereka. Sanghyeon sesekali tertawa dan merintih pura-pura karena dipukul pelan, sempat hendak melepas jaket leather yang ia pakai untuk menutup tubuh sang gadis walau akhirnya ditolak juga.
Gawat, Woojin ingin kabur sebelum mereka berbalik hadap tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan.
"Ya udah, mau es krim gak?"
"Ini lagi hujan, Sanghyeon."
"Korelasinya?"
'Mirip Woojin.' Begitulah apa yang suara batin Sanghyeon katakan, kembali memakai jaket leather yang baru kering tadi pagi namun kembali basah akibat hujan sialan ini.
Chung Sanghyeon tidak pernah ingat membenci hujan, tidak sebelum satu tahun lalu. Tapi jika diingat lagi, kejadian di depan rumah mereka saat itu sangat dramatis. Saat ia pertama kali merasakan gejolak amarah yang tumpah dan berakhir menonjok Woojin di bawah hujan. Masih terekam di otaknya bagaimana wajah Woojin menjadi lebam akibat tonjokan bertubi-tubi yang ia berikan. Sedikit merasa bersalah, tapi ada perasaan yang lebih mendominasi kala itu.
Dan jika saja anjing keluarga Sanghyeon tidak menggonggong yang membuat ayahnya keluar untuk menghentikan mereka, mungkin keduanya sudah bergulat dan menjadi bahan obrolan warga perumahan selama seminggu.
Hingga saat ini, jika hujan mulai turun, Sanghyeon selalu mengingat perkataan Woojin. Kalimat yang membuatnya uring-uringan tiga bulan, dan lebih lagi Woojin meninggalkannya sendirian setelah kejadian itu. Pindah rumah dan sekolah entah ke mana.
"Hyeon? Sanghyeon?"
Ah iya, Sanghyeon lupa sekarang sedang mencoba dekat dengan orang. Bisa-bisanya.
"Hmm?"
"Jadi beli es krim gak?"
"Kan lagi hujan."
Wajah lucu sang gadis memerah sebal, berbalik hadap terlebih dahulu karena kepalang kesal dan Sanghyeon hanya membalas dengan kekehan tak berdosa. Dirinya ikut membalik hadap sebelum matanya menangkap sosok tinggi yang memandangnya sejak tadi, meluruhkan senyuman tak berdosa di wajahnya kala kedua pandang bertaut.
Figur tinggi itu spontan berdiri, berlari ke arah parkiran khusus sepeda. Tidak peduli dengan derasnya hujan, ia menempatkan kaki di pedal sebelum kerah sweaternya ditarik.
"Gak gitu adabnya kalo ketemu temen lama."
Sialan, anak ini masih bisa bercanda?
Belum sempat Woojin membalas, Sanghyeon sudah lebih dulu bergerak menempatkan kaki di bagian rantai belakang, menepuk pundak Woojin pelan sebelum kembali menyahut.
"Jalan, keburu titipan mama kamu habis basah semua."
