Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of vignette never en
Stats:
Published:
2025-09-28
Words:
356
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
263

mimpi buruk (dan kenyataan hangat)

Summary:

Heeseung terjebak di lift. Betul. Mimpi buruk.

ENHYPEN © Belift Lab

Notes:

this is jakeseung, everybody.

Work Text:

Aku belum pernah pergi ke psikolog tapi dari gelagatku sendiri, aku tahu aku mengalami klaustrofobia—bukan fobia terhadap santa klaus, aku suka diberi hadiah. Aku tidak berani pergi ke tempat yang sempit dan tertutup seorang diri. Aku benci berlama-lama di toilet. Aku benci berlama-lama di lift. Aku benci fakta bahwa keseharianku memaksa diriku untuk terbiasa dengan itu semua.

Bukan berarti dengan sering menghadapi pantangan-pantangan itu, aku jadi langsung kebal. Aku hanya... berhasil menemukan trik untuk bertahan sementara saja. Bila aku menutup mataku dan membayangkan diriku berada di tempat yang luas dan terang, semuanya akan baik-baik saja.

Setidaknya sampai aku dihadapkan pada mimpi buruk malam ini. Tidak banyak orang yang bekerja lembur dan naik lift. Tidak banyak pula yang akan menyangka bahwa akan ada dua orang tersisa di kantor yang memutuskan turun lantai dengan lift di sela-sela perbaikan jaringan.

Lift yang kami tumpangi berhenti dan aku terjebak dalam panik yang luar biasa. Aku tidak kenal siapa yang sedang bersamaku. Yang aku tahu hanyalah kami terjebak untuk menit demi menit, jam demi jam. Bila hanya beberapa detik naik turun lantai, aku masih bisa menahannya. Bila untuk waktu yang sama sekali tidak bisa kuprediksi, aku bisa gila di tempat.

Entah sudah berapa lama aku berkeringat dingin. Sekujur badanku gemetar hebat. Sejauh memandang aku hanya melihat dinding baja. Semua tampak sama dan perlahan-lahan menghimpit kepalaku. Lututku berangsur lemas. Tubuhku kemudian merosot ke lantai. Aku memeluk diriku sendiri, berusaha menenangkan pikiran yang terus-menerus bergejolak. Sekuat tenaga aku mengusir kata mati di dalam kepalaku, memberi harapan pada diri sendiri bahwa aku akan keluar tak lama lagi. Bahwa aku masih akan hidup untuk keesokan hari.

"Liftnya akan segera terbuka. Tunggulah sebentar lagi. Sebentar lagi." Sebuah suara lembut menyapa telingaku, kemudian dilanjut elusan hangat pada lenganku.

Perlahan tapi pasti napasku mulai kembali teratur. Namun sosok asing itu masih tetap berjaga di hadapanku. Ia berjongkok menyamai tinggiku dan terus mengelus lenganku.

Bunyi lift bergaung di dalam ruang, begitupun dengan suara lampu yang menyala satu persatu. Kuberanikan diri untuk membuka mata dan menemukan sebuah senyum serta tatapan yang hangat.

Pintu lift kemudian terbuka lebar dan sosoknya kembali bicara dengan suara lembutnya, "Lihat kan? Sekarang sudah terbuka.”

Series this work belongs to: