Work Text:
Rata-rata orang akan berkata bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk istirahat. Tapi tidak untuk Sunoo. Bukan karena keluarganya hancur atau alasan pelik lainnya. Ia hanya malas mendengar kakaknya mengoceh panjang lebar. Perempuan itu sedang kasmaran, jadi semakin lama Sunoo berada di rumah, semakin banyak pula cerita-cerita klise tentang sosok yang ditaksir sang kakak.
Sunoo jengah. Ia bisa mendengarkan curhatan orang-orang. Namun terkadang ia juga butuh tidur. Ketika orang-orang sedang sibuk belajar di perpustakaan, ia memanfaatkan keheningan tempat itu untuk tidur.
Sayangnya akhir-akhir ini, kesempatan tidurnya tidak bisa dipergunakan dengan baik. Laki-laki sok ganteng itu selalu bergabung di meja tempatnya tidur bersama rekan satu geng dan mengganggunya. Entah dengan menggelitik siku atau menarik beberapa helai rambut Sunoo.
Ia baru akan berhenti kalau Sunoo bangun dan menatap dengan sorot tajam. Respons yang laki-laki itu lakukan, tentu saja, tertawa. Tidak keras-keras mengingat mereka berada di perpustakaan.
Hari ini juga sama. Meja Sunoo disambangi geng itu dengan laki-laki sok ganteng itu juga. Tapi yang banyak mengganggunya adalah anggota geng lain. Si sok ganteng hanya duduk di hadapan Sunoo sambil sesekali melirik.
Yang diganggu mulai risih dan melempar tatapan sengit pada anggota geng yang lain. Mereka balas tersenyum jahil.
Namun tidak disangka-sangka, lelaki sok ganteng itu malah menegur. "Udah. Stop. Orangnya mau tidur."
Padahal Sunoo yang diganggu tapi ia yang terdengar lebih terganggu. Anggota geng yang lain langsung terdiam—seolah-olah ketua mereka baru saja bersabda. Sunoo sejujurnya tidak peduli dengan hierarki geng mereka. Ia hanya ingin tidur.
Entah apa yang terjadi di antara mereka, Sunoo akan membenamkan wajah dalam lipat tangan dan terlelap. Peduli setan apakah geng itu akan mengganggunya lagi atau tidak.
Biasanya, kalau tidak ada yang mengganggu, Sunoo akan terbangun oleh cahaya matahari sore. Namun ketika membuka mata, ia tidak merasakan silau. Sesuatu menghalangi alarm sorenya.
Dan itu adalah lelaki sok ganteng yang selalu mengganggunya di perpustakaan. Ia terlelap di sebelahnya. Pasti pindah posisi dari hadapannya.
Dalam diam Sunoo memperhatikan wajahnya. Tahi lalat di bawah mata dan pangkal hidungnya. Poni yang sudah terlalu panjang dan menutup dahi dengan berantakan. Pantas saja ia merasa sok ganteng.
Kalau tidak usil, memang ganteng.
