Work Text:
"Stephen suka siapa?" Nada tinggi Bagaskara memotong tajam ricuh pembicaraan dari bangku depan pintu masuk kelas. Anak itu, yang baru kembali menginjakan kaki di kelas setelah sekian lama, sekarang kembali membatu hanya dengan satu kaki yang melewati pintu.
"Adek kelas, anak kelas F4, lihat nih fotonya!" Anita, yang sepertinya memimpin pembicaraan tersebut menunjukan HP-nya yang menampilkan Stephen dan seorang adik kelas yang asing di mata Bagaskara. Yang baru ditunjukan cuma bisa menganga, syok berat. Ayolah, Bagaskara hanya absen (100% tugas) selama 3 hari dan sahabatnya tahu-tahu sudah punya gebetan? Mana quotes "Bros Before Hoes" yang selalu Stephen sorakan di saat seperti ini?
Entah berapa lama Bagaskara mematung yang pasti sampai Anita menarik tangannya untuk masuk dan bergabung pun, Bagaskara masih bergeming, denial.
"Pikir dari sudut pandang lain coba. Kaya, Stephen udah gak anggap kamu sebagai temen," sahut Katia tiba-tiba, seperti paham betul apa pikiran Bagaskara. Mata tajam gadis itu menyipit, menatap Bagaskara bagai elang yang siap melahap mangsanya.
“Kenapa?" tanya Bagaskara, nadanya sendu, mengharapkan klarifikasi atas pengkhianatan Stephen pada Katia yang tidak ada hubungannya.
Katia melengos, mau bertanya 'apanya' tapi ia ogah berurusan lebih dengan remaja di hadapannya. "Tanya lah sama sa-ha-batmu itu, kan kalian selalu sharing everything going on." jawab Katia sarkastik sambil pergi meninggalkan rekan sekelasnya, malas untuk terlibat lebih banyak pada pembicaraan. Seketika ekspresi Bagaskara tampak semakin masam. Si Bajingan Stephen dan mulut hipokritnya!
Untuk melegakan perasaan campur aduk, orang-orang mungkin butuh waktu sendiri. Me Time atau apalah sebutannya. Tapi tidak dengan Bagaskara. Ia butuh Stephen. Yah, sekalipun saat ini Stephen-lah penyebab guncah perasaan remaja itu. Lagipula kemana lagi Bagaskara dapat pergi? Menangis pada Bundanya? Karena itulah, saat ini Bagaskara terduduk lemas di bangku lobi, menanti Stephen dengan tangan mengepal. Siapa tahu waktu Stephen datang ia masih emosi, jadi bisa langsung lempar bogem.
"Loh, Gas, Kok udah masuk?" Satu suara lembut menyapa. Bagaskara menoleh, mendapati Neva yang menatapnya heran. "Kamu masuk harusnya lusa. Aku baru memperpanjang surat izinmu," omel gadis itu rendah, menyodorkan sebuah amplop pada remaja di hadapannga.
"Latihannya jam 2, masih bisa ikut jam awal. Kelamaan bolos gak enak juga," jawab Bagaskara dengan tangan yang mengambil surat izin dari tangan Neva. "Maaf ngerepotin."
Neva tersenyum tipis, "Gapapa, sudah tugasku."
Semenjak lolos seleksi PON tingkat kabupaten dan kota tiga bulan lalu, jadwal Bagaskara mendadak jauh lebih padat. Bahkan beberapa hari absen untuk latihan non-stop selama 13 jam. Dan terima kasih pada wakil kelasnya yang ajaib (Neva), izin Bagaskara mendadak lebih mudah, padahal sebelumnya ia kesulitan untuk mendapat izin.
Bukan masalah sekolahnya gak supportif, cuma tuh… Oke, sekolahnya gak supportif. Memang gak tahu terima kasih! Bagaskara di tahun keduanya merasa sudah beri sumbangsih banyak pada almamater, sebagai atlet renang yang kebetulan di masa sekolah dapat PON, bisa apa Bagaskara? Halo SMANSA!! Baru kemarin diberi piala juara dua seleksi tingkat kabupaten dan kota, beri Bagaskara longgar sedikit, dong!
"Kalau kamu masih di sini nanti Pak Dwi curiga kamu bohong. Ah, bukan, kita bohong" Neva mengingatkan.
"Bentar. Nunggu Stephen dulu… er, udah lama gak ketemu dia."
Gadis di hadapannya mengernyit, wajah manisnya mengerut, berusaha menahan diri untuk tidak menjambak rambut legam Bagaskara. "Kita hidup di abad-21, pake dong HP-mu! Bikin vlog sekalian 'a day in my life without ketemu sama sahabat' desperate banget sih!" omel Neva yang membuat Bagaskara yakin gadis itu bisa jadi rapper sukses.
Balasan Bagaskara sama sekali tidak memuaskan, hanya cengir tertahan dengan wajah lesunya. Neva mengeluh dalam hati, sadar kalau mau tidak mau ia harus duduk menemani Bagaskara memandangi siswa yang masuk satu per satu.
"Kamu tahu kalau Stephen suka adik kelas?" tanya Bagaskara tiba-tiba, berusaha memecah suasana, mungkin. Namun pandangannya pun tak lantas menuju Neva.
Alis Neva menyatu, berusaha membaca apa arti ekspresi remaja di sampingnya. "Tahu, trending topic dari kemarin. Stephen gak kasih tahu kamu kah dia suka sama siapa?" Oke sepertinya Bagaskara salah memilih topik. Kalau begini sih namanya dia peras lemon di atas luka sendiri.
"Enggak, kita gak on speaking term semenjak minggu lalu. Ada salah paham kecil, dan the blame is on me." Yang lebih tua meringis, mengusap wajah kasar, berharap air mata di ujung kembali diserap oleh retina.
"Lah?" Suara lain, jauh lebih familiar. Bagaskara membuka mata, mendapati Stephen yang tampak terkejut. Kunci motor Stephen ada di tangan kanannya, Bagaskara berani pasang 10.000 kalau sebelumnya dimainkan, biasanya begitu. "Kenapa dia udah masuk? Harusnya lusa, kan?" tanya Stephen, tertuju pada Neva.
Neva melirik Bagaskara sekilas, remaja itu akhirnya menatapnya balik. Tatapannya memelas seperti meminta untuk tidak menanggapi sahabat bajingannya itu. "Iya, izinnya sampai lusa, tapi kalau kenapa dia di sini, aku juga gak tahu." Gadis itu melemparkan pandangan ke arah Bagaskara, memancing Stephen untuk mengikuti tatap mata Neva.
Tidak sampai sedetik, Stephen langsung mengalihkan pandangan. Mendadak ia ingat yang Anita pernah bilang, soal Bagaskara karismatik atau apalah, yang bisa membuat orang naksir sekali bertemu netra obsidian itu. Selama ini mana mungkin Stephen sadar soal "karisma" Bagaskara, selama ini kan mereka sahabatnya, yang dilihat ya jelek-jeleknya Bagaskara. Jadi, berdasarkan logika bodoh Stephen barusan, kalau Stephen sudah sadar dengan fakta bahwa Bagaskara itu karismanya tumpah-tumpah berarti sekarang mereka berdua sudah tidak bersahabat. Oke.
"Gak usah deh, pacaran aja kalian, aku mau ke kelas, udah mau bel," sanggah Stephen, salah tingkah.
Bagaskara dan Neva saling tatap, heran dengan tingkah remaja lainnya. "Kita pacaran?" tanya Bagaskara yang membuat Neva refleks berdiri.
"Enggak lah?? Udah, aku juga mau ke kelas, mending kamu balikan dulu sama sahabatmu!"
Bel berbunyi, Bagaskara sendiri lagi. Kepalanya terasa semakin kosong, bingung. Entah bagaimana ceritanya namun tiba-tiba hubungannya dengan Stephen kacau. Biasanya kalau begini Stephen akan lebih dulu menghampirinya, mengajak Bagaskara untuk berbincang, terkadang dengan stik PS di tangan, atau sekedar duduk menikmati segelas Pop Ice mangga untuk berdua. Dan jelas sekali, barusan Stephen menghindari Bagaskara. Kalau sudah begini berarti Bagaskara harus mengambil langkah, langkah gila kalau bisa.
"Kenapa kamu?"
Bagaskara tidak menjawab, justru menyamankan diri di bangku sebelah Stephen. "Diem, jam literasi."
Stephen balas merengut, melirik Damar di bangku belakang, yang semestinya duduk di sebelahnya, dalam hati ia berteriak "pengkhianat!" yang secara tersirat juga tergambar dalam tatapnya. Damar mengangkat bahunya tidak terima, mana berani dia kalau lawan Bagaskara.
"Adek kelasnya cantik."
Oh, Stephen mendadak paham maksud dan tujuan Bagaskara merebut posisi Damar sebagai rekan sebangkunya. "She is."
"Tapi kok aku yang terakhir tahu?" Dalam hati Stephen sudah mengabsen kebun binatang, mencoba fokus ke buku di tangannya, sebisa mungkin hindari kontak dengan Bagaskara.
"Soalnya sampai sekarang chatku cuma kamu baca doang." Bagaskara tampak terkejut, buru-buru membuka HP-nya dan mendapati kalau dia salah lagi.
"Aku gak sadar, maaf."
"Iya. Aku juga salah. Maaf aku gak cerita."
Ragu masih menyulut Bagaskara, pasalnya Stephen masih enggan membalas tatap matanya. Sepertinya maaf pun masih kurang. "Mau.. mie ayam?"
"Mana bisa, kamu pergi jam 10."
"Ya, kapan-kapan. ASAP." Stephen menoleh, akakhirnya.
"Sama es teh, deal?"
"Deal."
Embusan napas lega keluar dari bibir Bagaskara. Untunglah, paling tidak yang ini selesai, mungkin, sedikit.
"Neva!" Tiga minggu. Sudah 3 minggu Katia tidak bertegur kabar dengan gadis itu, baginya tidak ada yang berubah, senyum Neva masih sama indahnya. Bukan berarti Katia gak curi-curi pandang pada tiap gerak Neva, cuma kalau senyum itu ditujukan untuknya jelas saja beda. "Ada cafe baru di depan Chandita, kita mau coba?"
"Kamu ngajak aku kalau mau habisin duit doang, ya!" Katia balas tersenyum tangannya kini melingkari lengan Neva mesra.
"Kan selama ini kalau nyobain begitu sama kamu. Aku traktir deh, pleaseee," pinta Katia, mengeratkan lilitnya.
Neva tertawa, ganti menggenggam jemari Katia. Respon positif yang membuat Katia hampir menjerit kegirangan namun segera tertahan oleh dering HP Neva. Alis Katia seketika menyatu, tingkahnya masih posesif, mendekap erat tangan Neva, meminta agar yang lebih muda tidak kemana-mana.
Satu menit tiga puluh detik, telepon dimatikan. Napas Katia menderu, apalagi menyadari perubahan ekspresi pada Neva, kabar buruk, terutama untuk Katia. "Berkasnya Bagaskara ada yang kurang, aku sama Tyas mau nganterin ke sana." Kan…
"Tyas gak bisa pergi sendiri?"
"Gak bisa, dong. Aku kan penanggung jawabnya Bagaskara. Kita pergi besok?"
"Aku ekskul besok." Dalam hati Katia mengumpulkan semua kata-kata kasar yang ia tahu. Sialan, si Bagaskara dan bokong cerobohnya! Katia lebih dari mengerti kalau Bagaskara itu brilian, lihat saja remaja itu sekarang, tengah berjuang habis-habisan dalam persiapan seleksi tingkat provinsi. Oke, sebagai kawan Katia ikut bangga, tapi tidak kalau anak itu tiba-tiba merugikannya, apalagi kalau sudah menyangkut soal Neva, Katia itu maunya jadi egois.
Genggaman tangan Neva bertambah erat, sebelum akhirnya terlepas. "Kita cari waktu lagi lain kali."
Berengsek!
Saat ini Katia kepalang bingung, Neva yang mengeluarkan usaha sebanyak itu untuk Bagaskara tidak masuk akal. Benar Neva menyandang posisi sebagai wakil kelas XI-G3, namun bukannya itu berarti Neva bertugas merepresentasikan kelas? Kenapa tahu-tahu gadis itu mengurus segala izin Bagaskara?
Mendengar kata TOP 10 SMA Negeri di Surabaya, yang tersirat di otak Stephen adalah fasilitasnya yang paling tidak… baik. Ternyata ia salah besar, lihat sekarang, meja kayu penuh coret dan kikis bergetar hebat hanya dengan gebrakan tangan mungil -bagi Stephen- Katia.
"Ayo pacaran!"
"Hah?!"
Katia mendudukan diri di hadapan Stephen, memandang remaja itu tajam. "Aku cemburu, sama your said sahabatmu itu."
"Interupsi, kamu naksir Askar?" Tatapan Katia seketika berganti, jijik, syok, tidak percaya.
"Hah? Logikamu kena, ya? Enggak lah!"
"Terus?!" Katia mendesah, frustasi, akan banyak hal sebenarnya. Tatap mata gadis itu melemah, mendadak ia menyesali impulsifnya barusan.
"Lupain-"
"Gak! Ayo pacaran!" Stres. Semua orang gila. Terutama Katia yang saat ini menyeringai lebar. "Tapi kamu kesannya jadi pelampiasan, maksudnya, baru 3 minggu lalu gue bilang gue naksir adkel, jadi kesannya…"
"Ya udah, toh nanti yang jatuhnya berengsek kamu."
Stephen terkisap, "Ini kamu niatnya mau jatuhin namaku atau gimana?"
"Sedikit? Bagian dari rencana, buat memancing singa yang belum keluarin taringnya."
"Askar?"
"Obsessed banget sih kon sama Bagaskara, Askaaarrrrr mulu yang disebut!"
"Ya… karena udah terlanjur begini aku mau jujur. Gue suka Abby sebagai pelampiasan beneran, karena Askar lebih sering sama Neva. Sampai sekarang pun… padahal 2 minggu lalu baru makan mie ayam bareng, habis itu poff dia hilang kabar, NOL kabar. "
"Yah, di-ghosting sa-ha-bat sendiri." Telinga Stephen memerah, sementara ekspresinya marah. Katia hampir tertawa. "Jadi sah kan kita pacaran?"
"Belum, beli materai dulu."
Katia mendesah. "Terserah.” Seketika Katia kembali mempertanyakan keputusannya. Bukan apa-apa, sangat benar bahwa Stephen adalah salah satu dari segelintir laki-laki yang dengan senang hati akan Katia pacari. Hanya saja… Stephen itu…
Gimana, ya?
Dia punya prioritas, dan prioritas itu adalah Bagaskara. Dari apa yang Katia tahu, keduanya baru kenal di bangku SMA, lalu dekat 30 detik berikutnya. Kelewat dekat kalau Katia boleh jujur, bukan mau menabukan persahabatan keduanya, namun kalau membandingkan dengannya dan Neva…
Oke lupakan, sama sekali bukan hak Katia untuk menghakimi. Katia kembali melirik ke hadapan, di depannya Stephen masih meracau perkara Bagaskara yang “100% gak anggap dia sebagai kawan”. Cuih, ingin Katia ludah. Ayolah, sudah tiga minggu ia dan Neva tidak duduk di meja yang sama, apakah orang lain tahu masalahnya?
Mungkin.
Mungkin tidak kalau barusan ia tidak ajak Stephen pacaran.
Mungkin juga Katia sudah frustasi dan kebetulan ada Stephen yang rasanya satu nasib. Kebetulan katanya. Padahal situasi itu Katia ciptakan di kepala sendiri, Katia dan Stephen ciptakan di kepala sendiri.
“Kat? Kamu dengerin gak sih?”
“Hah? Apa?”
Stephen merengut. “You're not being a very good girlfriend right now.”
Katia balas meringis. “Kalau kamu gak bahas cowokmu terus mungkin aku bakal actually perhatiin kamu.”
Bagaskara dan bokong sempurnanya! (Tersurat dan tersirat.) Yah, bagaimanapun itu, menurut Katia, Bagaskara pantas-pantas saja dijadikan buah bibir terus. Tapi gak seterus ini juga…
Jujur saja Katia akan dengan senang hati bawa Neva dalam pembicaraan, 10 jam pun gak akan cukup untuk Katia. Namun Stephan serius buatnya refleksi diri, gila juga kalau yang keluar dari bibir SAHABAT sendiri mulu. Yang pacaran siapa sih sebenarnya?
“Oke kita coba,” cetus Stephan, membenahi posisi duduknya. Katia jadi ikut reflek menegakan punggung, menatap remaja di hadapannya serius. “Kamu udah makan?”
Dan dua piring ayam geprek kosong teronggok di depan keduanya.
Katia menggerutu kecewa. Memang gak ada harapan!
Ada banyak hal yang Stephen suka ketika berbagi kata dengan Bagaskara, yang paling mendominasi itu ketika emosi Bagaskara naik turun ketika bercerita. Pernah keduanya membahas anabul yang baru ditemukan Bagaskara, Stephen berani sumpah saat itu adalah waktu Bagaskara paling banyak menunjukan wajah sumringah. Lalu, entah bagaimana pembicaraan berbelok, membahas kucing Bagaskara yang sudah hampir 5 tahun tiada, tahu-tahu saja anak ekspresi gembira anak itu hilang bagai semangat Stephen ketika ingin belajar.
"-lalu entah kenapa, mungkin di sekitaran sisa 8 meter aku berhasil nyalip, terus MENANG?!" Sudah hampir setengah jam telepon keduanya terhubung dan Bagaskara masih belum berhenti mengulang bagaimana latihan anak itu tadi siang. Stephen masih setia mendengarkan, meski sebagian fokusnya disumbangkan pada soal kimia di hadapan. "Hahh, kalau aku pulang kamu harus traktir aku mie ayam pokoknya."
"Kok enak?"
"Toutes nos félicitations."
Stephen tersenyum tertahan, boleh juga idenya. "Boleh juga, sekalian PJ."
Sekali lagi, Stephen tekankan, ia sangat menyukai perubahan emosi Bagaskara, terutama waktu Stephen sendiri yang memancing perubahan tersebut. "Kamu jadian sama adkel kemaren?" tanya Bagaskara dengan penuh ragu.
"Sama Katia." Seketika gendang telinganya Bagaskara seperti meledak, ANEH??!?l
"Gimana sih?" Suara decakan terdengar dari ujung lain telepon yang membuat bulu kuduk Stephen mendadak berdiri, excited sendiri
“Kata Damar sih gaku emang suka Katia dari awal, tapi as you can see, Katia kan.. dominan, jadi aku ragu aja gitu?” Baiklah, dengan ini Stephen sah berutang nyawa pada Damar.
Satu detik, dua detik. Hening, tidak ada balasan, Stephen menggigit bibir bawahnya gugup sementara jantungnya berdegup kencang, penasaran dengan apa reaksi Bagaskara. Jujur saja, dalam hati Stephen mengharapkan drama, kalau berlebihan paling tidak beri Stephen sikap posesif Bagaskara sebagai sahabat. Padahal di sisi lain Bagaskara tengah menahan mati-matian egoisnya, mencoba tidak bertanya banyak, toh, bukan urusannya.
“Masuk akal. By the way aku besok masih harus bolos, ada berkas yang harus diurus, berarti Senin baru bisa masuk.”
Bagaskara bajingan! Mengalihkan pembicaraan. Tidak ada “sejak kapan?” atau “kamu gak pernah cerita soal Katia”. Bajingan, disaat seperti ini lah Stephen butuh validasi, sebagai sahabat lah minimal.
Embusan napas kasar keluar dari bibir Stephen, berusaha keras menyamarkan rasa kecewa yang memukul begitu dalam. “Mau langsung mie ayam? Tapi nungguin aku ekskul.”
“Bolos aja, cuma fotografi.“
“Ngomong ke Damar sana!” Gelak tawa Bagaskara terdengar renyah, hampir seperti… dipaksakan.
“Oke, nungguin baginda raja ekskul, noted.” Stephen balas tertawa, tidak kalah renyah.
“Asu!” balasnya, kemudian memutus telepon. Masih ada tawa yang tersisa dari Stephen setelah telepon mati, semakin lama terasa semakin kosong. Ia tidak siap menghadapi Senin, menghadapi Bagaskara, padahal salahnya sendiri, oke Katia ikut ambil bagian, tapi tetap saja. Setidaknya dengan ini Stephen tahu ia masih dianggap kawan. Mungkin.
Bagi Neva, hari Minggu, terutama Minggu sore adalah waktu terbaiknya dimana ia bebas dari masuk ke sekolah dan jelas saja, organisasi. Karena itulah ketika mama bilang ada yang menunggu di depan yang pertama muncul dalam benak Neva adalah sumpah serapah. Bagian yang menjengkelkan adalah tambahan mama kalau yang cari Neva adalah “cowo ganteng”. Ya terus kenapa? Fakta yang mencari dia “cowo ganteng” sekalipun tidak terus membuat Neva semangat beranjak dari kasur yang berasa menahannya.
Seharusnya waktu mama mengatakan “cowo ganteng” sosok Bagaskara lah yang dibayangkan Neva, namun otak hari Minggunya kembali ke setelan pabrik dengan Loid Forger yang menjabat sebagai “cowo ganteng”.
“Kamu habis nangis?”
Tidak ada assalamualaikum, atau shalom, atau paling tidak halo. Dimana adab remaja ini sebenarnya? Mungkin benar saat ini Neva terlihat acak-acakan, mata sebab, rambut seperti singa, baju tidur, tapi itu bukan berarti kalau-, oke Neva baru menangis, semalaman, mungkin 2 malam? Entahlah ia sudah kehilangan tempo hitungan.
"Ada perlu apa?" balas Neva dengan suara seraknya. Bagaskara meringis, perihal sadar alis gadis itu mengerut, mungkin kesal dengan kehadirannya. Aduh, Bagaskara mendadak merasa bersalah.
"Maaf." Bagaskara mengangkat pandangannya, menatap mata Neva yang masih tampak gusar. "Tapi aku lagi marah dan perlu menenangkan diri. Please temenin aku!"
Neva menatap Bagaskara tak percaya, dalam hati mengabsen alasan mengapa ia tidak bisa meninju wajah proporsional remaja itu. Tidak alasan yang valid sebenarnya, namun tetap saja, Neva itu dua kali lebih kecil dari Bagaskara, mungkin yang akan Bagaskara rasakan hanya geli. “Serius? Di satu-satunya hari tenangku?” Bagaskara ingin tertawa, pasalnya ini pertama kali ia melihat Neva bersikap defensif. Tebakan Bagaskara karena hormon, yah, mana mungkin karena pertanyaannya yang menunjukan sikap peduli sebagai teman.
“Kamu begitu jadi kaya Katia.” Alis Neva semakin mengerut, sementara telinganya memerah. Sadar akan reaksi Neva, Bagaskara pun mengambil langkah, klarifikasi. “Sama aku mau ngomong soal Stephen dan Katia.”
“Sepuluh menit, aku mandi dulu.”
“Aku belum mandi.”
“Oke, 5 menit, skincare. Gak usah masuk, duduk aja di motor!” Bagaskara hendak protes, mau 5 menit sekalipun, duduk di atas HONDA CBR250RR WARNA BRAVERY RED BLACK kebanggaannya itu tetap gak banget. Tapi apa boleh buat, Neva terlanjur masuk dan kembali keluar hampir 10 menit kemudian. Samar-samar telinga Bagaskara menangkap suara ibu Neva yang menggoda anak gadisnya karena “ngedate” sama cowok. Bagaskara jadi bingung, kalau sama-sama belum mandi masih dihitung “ngedate” kah?
“Maaf lama, skincare lima menit gak cukup ternyata.” Neva tersenyum tipis, penampilannya lebih baik dari sebelumnya. Masih dengan piyama keropinya, hanya saja kali ini berbalut cardigan cream yang tidak lagi asing, oh, hadiah ulang tahun, dari Katia. Rambut panjang gadis itu juga dikepang… Elsa, kalau kata Stephen. Oke, mereka hanya berdua pun, 2 manusia aneh itu masih belum meninggalkan pikiran Bagaskara dan Neva.
Perjalanan memakan waktu lebih dari setengah jam. Jangan tanya kondisi punggung Neva, sekarat. Selama 30 menit itu, Bagaskara sama sekali tidak membalas kata-kata yang dilontarkan Neva, demi Tuhan, selain punggung ngilu, emosinya pun ikut menggebu. Namun marah tersebut berganti terkejut begitu melihat kemana Bagaskara membawanya. Shelter anjing.
“Aku kira kamu lebih suka kucing.”
“Iya, tapi Stephen lebih suka anjing. Yuk masuk!”
Ini bukan pertama kalinya Neva pergi ke shelter binatang, justru ia sering mengunjungi tempat seperti ini sejak dulu. Awalnya sendiri, namun begitu mengenal Katia, ia lah yang justru diseret Katia untuk berkunjung. Shelter anjing bukan salah satu favorit keduanya, berhubung Katia sendiri adalah pecinta berat kucing, sementara Neva sih netral saja, ia suka semua binatang, terutama teman-temannya.
“Mas Bagas? Wah, udah lolos provinsi nih, Mas!” sapa seorang pemuda yang ada di dalam. Bagaskara tersenyum, menjabat tangan pemuda itu hangat. “Lah sama ceweknya, Mas? Saya pikir buat kado ceweknya lho.”
“BUKAN! Ini temen doang, temen seperjuangan. Dan anjingnya bukan buat dia.”
“OH! Maaf ya! Kenalin, saya Ryan, karyawan shelter. Belum yang punya, bakal jadi yang punya kalau pemiliknya sudah saya lengserkan.” Ryan mengedipkan sebelah matanya.
Neva balas tertawa canggung. “Saya Neva.”
“Oke, Mas Bagas, Mbak Neva, saya ambilin dulu anaknya dan segala kebutuhan dia. Kalau mau boleh ke belakang dulu, main-main sama yang lain." Ryan mempersilakan, membuka pintu halaman belakang yang tampak seperti surga bagi pecinta anjing. Neva tidak dapat menahan binar matanya, lain kali ia akan mengajak Katia kemari.
"Makasih," ungkap Neva tulus pada Bagaskara yang sudah sibuk mencari perhatian pada anjing-anjing di sekitar keduanya.
"Kenapa?"
"Udah ajakin kesini, meskipun niatnya buat naikin emosi, dalam tanda kurung, bahas Stephen sama Katia, tapi aku seneng." Neva kembali tersenyum hangat, ikut berjongkok di sebelah Bagaskara.
Ekspresi Bagaskara mendadak layu. "Soal mereka, kamu kepikiran gak, gimana kalau kita juga jadian?"
Astaga. Dan Neva pikir moodnya sudah lebih baik. "Tunggu, kenapa kamu kepikiran itu?"
Bagaskara mengalihkan pandangannya, nampak ragu untuk menjawab meski pada akhirnya ia tetap menanggapi, "Kamu baik banget sama aku. Satu-satunya yang mau effort ngurusin segala kebutuhanku tanding. Jadi kupikir–"
"TUNGGU! TUNGGU DULU!" Neva tak ingat kapan terakhir kali ia menaikkan suaranya, dan hari ini sepertinya tepat untuk memecah jangka panjang itu. "Sebelum kamu lanjut, biar aku tanya dulu. Kamu suka sama aku? Astaga! Aku bingung banget kenapaorangorangsalahpahamkalautanggungjawabkungurusinkeperluarmutndingsebagaiactoflove?" Bukan cuma nada tinggi ternyata yang keluar. Keduanya jelas sama-sama terkejut, bahkan Bagel di pangkuan Bagaskara ikut menampilkan ekspresi heran. “Maaf… Tapi kayanya kamu lebih tahu dari aku kalau kamu emang gak suka sama aku.”
Duh! Ini sama sekali bukan yang Bagaskara harapkan, juga bukan yang ia rencanakan. Baik, mari kita coba membedah apa wacana Bagaskara hari ini. Pertama, menyeret Neva ke sini(?) dengan fokus pembicaraan: hubungan Stephen dan Katia. Kedua, mendiskusikan hubungan Stephen dan Katia. Poin kedua dan sudah gagal total. Ya sudah, anggap saja pertanyaan tadi pembuka pembicaraan. Tapi tetap saja! Bagaskara malu setengah mati ditolak mentah-mentah! Ditambah, sekarang ia tidak tahu bagaimana cara menjawab Neva.
“Mas Bagas, Mbak Neva, ini anaknya- Oh, saya ganggu kah?” Ryan muncul dari pintu, menggendong seekor Siberian Husky, tebakan Neva berusia 5 bulan.
“Enggak kok, Mas,” balas Neva, menyadari Bagaskara masih tak dapat berkata-kata.
“Kirain! Tensionnya lho, saya sampai takut!” Ryan tertawa ringan, ikut duduk diantara keduanya. Neva tersenyum, membenarkan. “Nah, ini anjingnya. Pure Siberian Husky usia 4 bulan siap dibawa pulang!” Bagaskara mengambil anjing itu dari tangan Ryan, melemparkan tatapan seksama, seolah meneliti padahal tidak tahu apa-apa. “Ini mau digendong pulang kah, atau nanti saya antar saja sekalian kebutuhan lainnya?”
“Gak berani saya, Mas gendong sampai rumah,” koreksi Bagaskara yang dibalas tawa oleh Ryan.
“Sip deh, saya siapin mobil dulu berarti.”
“Kirimnya 2 minggu lagi, Mas.”
“Lah?”
“Mau saya kadoin 2 minggu lagi soalnya.” Oke, Neva semakin tidak mengerti.
Ryan menatap Bagaskara tidak percaya. “Lah terus kesini sekarang ngapain?”
“Deeptalk sama dia,” jawab Bagaskara santai sambil melempar pandang ke arah Neva. Ekspresi Ryan masih sama syoknya yang membuat Neva merasa bersalah.
“Oke, kalau gitu, saya tinggal lagi.” Ryan bangkit dari duduknya, kembali meninggalkan keduanya. Neva masih mengernyit bingung dan Bagaskara di hadapannya masih terlalu sibuk dengan anjing-anjing di sekitar.
“Mau kukasih buat Stephen,” katanya kemudian, seakan pernyataan gamblang itu menjawab tanda tanya di kepala Neva.
“Bukannya yang dua minggu lagi ulang tahun kamu, ya?” tanya Neva. Bagaskara tak lantas menjawab, justru menaikkan sebelah alisnya, entah bingung apa maksud pertanyaan Neva atau mencekal sang gadis atas pertanyaan validnya. “No, buat siapa ini tadi?”
“Stephen? Kenapa sih?”
Saat ini, yang ada dipikiran Neva adalah tentang seberapa “bucin” Bagaskara pada temannya. Ayolah, pure Siberian Husky? Berapa banyak uang yang ia habiskan hanya untuk ini? Untuk seseorang dengan embel-embel “teman”? Bagi Neva itu bukan hal yang akan dilakukan seorang teman. “Ini kamu habis berapa?”
“Kenapa?” Neva mendelik, gak butuh kata-kata lain selain jawaban. “Tiga koma tujuh.”
“Dan kamu masih mikir kamu suka aku? Wow.”
“Aku gak paham.”
"Gak ada yang bakal habisin hampir 4 juta buat temennya, Askar…" jawab Neva, berusaha tenang. Bagaskara tampak terkejut, bukan karena pernyataan yang diberikan Neva, namun karena panggilan tambahan yang ia beri.
Sejak hari pertama, Bagaskara sudah memperkenalkan diri sebagai "Bagaskara". Panggilan Bagas diperkenankan, namun Bagaskara lebih baik. Selama satu tahun ini teman-temannya lebih terbiasa dengan Bagaskara, kecuali Stephen. Entah kapan anak itu kepikiran untuk memanggil Bagaskara "Askar", tahu-tahu itu menjadi panggilan lumrah. Beberapa anak sampai ikut memanggilnya Askar, dan tentu saja langsung dilarang oleh Bagaskara. Askar hanya untuk Stephen.
"Dan gak ada yang bakal seposesif itu sama nama panggilan dari temen," sambung Neva. Mendadak, kepala Bagaskara terasa berat, segala macam perasaan campur aduk disana, mual. Neva sudah hampir depresi melihat ekspresi denial Bagaskara. Demi Tuhan, harus diapakan lagi anak ini? "Kalau kamu masih belum paham, biar aku confess duluan. Bagaskara, aku gak suka cowo."
Sudah lebih dari 4 tahun Bagaskara mengenal Neva. Dan jujur saja, kalau ditanya tipenya seperti apa, jawaban Bagaskara mungkin Neva, tidak-tidak, mungkin semua laki-laki yang ia kenal akan menjawab Neva. Mau bagaimana? Neva itu tipikal "Kembang Desa", Jawa. Lemah lembut, ramah, pintar, tanpa cela. Karena jujur saja sampai saat ini pun Bagaskara tidak menemukan kekurangan Neva.
Jadi jangan tanya seberapa lebar mulut Bagaskara menganga ketika mendengar pernyataan Neva barusan. Bukan maksudnya itu jadi kekurangan Neva, sama sekali bukan! Hanya saja itu bukan sesuatu yang ada diekspektasi Bagaskara yang selalu berpikir Neva akan menjadi ibu rumah tangga (sama sekali tidak akan terjadi).
"Wow, aku, wow."
"Intinya aku suka sama Katia. Naksir, naksir berat, dan menjawab pertanyaanmu tadi, iya aku habis nangisin Katia." Bagaskara meringis baru merasa bersalah. "Oke sekarang balik ke kamu. Apa perasaanmu?"
Bagaskara menunduk, mengelus pelan Husky di pangkuannya, kembali berpikir, apa yang membuatnya cukup gila untuk membeli makhluk di pangkuannya untuk Stephen. Alasan sederhananya, ini adalah hadiah seleberasi kemenangan, untuk Stephen. Kalau alasan rumit… Stephen itu sudah menjadi bagian berharga di dalam hidup Bagaskara. Stephen yang mendengarkan ceritanya, Stephen yang bberbagi Pop Ice mangga dengannya, Stephen yang setia menemaninya di tepi kolam ketika ia latihan lebih lambat dari biasanya.
Stephen itu penting.
Stephen penting bagi Bagaskara. Makanya, Bagaskara ingin menjadi egois tentang Stephen. Kalau bisa, hanya ia yang ada di cerita Stephen, yang diingat Stephen walaupun mereka tidak sedang berpandang mata.
Demi Tuhan, Bagaskara jadi mau menangis. Neva mendengus pendek, mengambil Husky dari pangkuan Bagaskara. "Lihat tuh, papa-papamu denial semua, kamu yang sabar, ya!"
"Jadi, kamu at random Tuesday dateng ke rumah Stephen buat izin ke mama dia buat pelihara anjing?"
"Ya, aku bahkan nunjukin foto anjingnya, beliau langsung naksir!" tambah Bagaskara ketika Neva bertanya soal perizinan orang tua Stephen perihal memelihara anjing. “Mungkin juga karena aku dikatain mirip anjingnya sama Mama…”
Neva meringis, kembali membayangkan muka si Husky. Sama sekali gak salah, alias, memang mirip!
Keduanya sudah berpindah tempat duduk, kali ini di restoran cepat saji yang berada setengah perjalanan dari rumah Neva ke shelter. Makan siang dihabiskan dengan tenang, masing-masing merenung apa yang baru saja terjadi. Pengakuan, penyesalan, entahlah, yang pasti sepotong burger belum mampu mengobati semuanya.
"By the way, kamu kepikiran gak, gimana mereka bisa ended up pacaran?" tanya Neva di tengah mengunyah buat imejnya sebagai Kembang desa semakun berganti jadi mbak-mbak sangar di benak Bagaskara.
"Nggak, sama sekali gak masuk akal! Seminggu juga gak ada dari terakhir aku tahu Stephen suka adek kelas. Kenapa tiba-tiba jadian sama Katia?" Neva mengangguk, membenarkan. "Katia itu, lagi suka sama orang kah? Aku gak pernah denger rumor soal Katia naksir sama orang."
Gadis di hadapannya tertegun, terburu-buru menelan sisa burger di mulutnya sebelum menjawab, "Bilang aku kepedean, tapi selama ini I feel like we-, kami itu mutual pinning.”
"Kamu kegeeran." Wajah Neva mendadak memerah, marah. Bagaskara meringis, mendorong lemon tea milik Neva hingga menyenggol lengan yang punya.
"Minum dulu."
Bisa apa Neva selain menurut, opsi lebih baik daripada melempar burgernya yang masih tersisa setengah.
"Aku penasaran, mamamu tahu kamu suka cewek?"
"Tahu, by the way. Bukannya gak suportif sih, cuma ya sama aja masih diceng-cengin sama cowok, maaf ya soal tadi."
"Santai," balas Bagaskara. "Kenapa semua orang mikir kita pacaran?"
Ting!
Detik itu juga rasanya seperti ada petir yang menyambar di punggung Neva. Masuk akal. "TUNGGU! Mereka, Katia sama Stephen, pacaran dari kapan? OH, dari waktu kamu mulai bolos, mungkin gak sih.."
Bagaskara jadi linglung sendiri, kenapa tiba-tiba Neva bermonolog seperti itu? "Apa?"
"Mereka ngira kita pacaran? MEREKA NGIRA KITA PACARAN!"
"H-hah?"
"Kamu inget waktu Selasa minggu lalu? Waktu kamu masuk setengah hari? Itu Stephen sempat bilang biar kita pacaran aja,"
"Ho'oh?"
"Berarti dia berpikiran kalau kita berdua pacaran kan? Bisa jadi Katia juga mikir gitu jadi kesannya kaya… mereka cemburu sama kita," jelas Neva yang langsung dibalas oleh serangan Bagaskara. Bagaimana tidak? Itu sesuatu yang dia harapkan, bisa apa Bagaskara selain senang?
"Jadi sekarang kita labrak mereka?"
Neva tersenyum horor, "Repot, aku punya cara yang lebih manjur."
Damar itu orang yang cinta damai. Kalau bisa ya… tidak membuat masalah DAN tidak terseret masalah orang lain. Namun sepertinya teman-teman berengseknya tidak setuju dengan hal itu dan dengan seenaknya menyeret ia ke tengah masalah.
"Cuma minta Stephen ke ruang musik bentar, ambil apa gitu, tapi kalau ada yang tanya, pura-pura gak tahu aja!" Damar cuma bisa menatap Neva tidak percaya.
"Kamu tahu, setengah jam lalu Stephen baru ngaku kalau dia NUMBALIN namaku buat jail free card."
"Gimana?"
"Dia bilang aku yang menyadarkan dia kalau dia suka sama Katia. Tatap mataku, siapa coba yang percaya dia suka sama Katia?" jelas Damar frustasi. Neva meringis, masuk akal. "Jadi no, thank you, aku gak mau lagi ikut-ikut masalah kalian."
"Aku konsul buat DBL," tawar Neva lagi dengan ekspresi datar, serius dengan kata-katanya.
"Aku bilang Stephen sekarang?" Minta maaf, tapi Damar serius lemah dan paling malas menghadap BK untuk masalah konsultasinya.
Oke! Masalah Stephen beres, terima kasih pada bokong murahan Damar, tinggal eksekusi dari Bagaskara, kini yang perlu Neva lakukan adalah membereskan miliknya dengan Katia yang saat ini entah ada dimana. Neva mendadak panik, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk di depan pintu kelas, berharap tiba-tiba yang dicari muncul di hadapannya.
Kelas XI MIPA 3 saat ini kosong. Setiap Senin begitu, isinya selalu saja sibuk dengan urusan masing-masing termasuk Neva sebenarnya, sebagai bawahan(?) Damar tentu saja ia seharusnya ia membantu mempersiapkan ekstrakurikuler fotografi saat ini. Tapi, izinkanlah Neva menjadi egois dengan tanggung jawabnya, berkorban sedikit, untuk Katia. Toh, yang ia sepelekan hanya Damar. No offense.
Sepertinya keberuntungan memang selalu jatuh pada Neva, lihat saja, belum ada 5 menit dan Katia sudah muncul dari balik pintu, dengan jersey basket nya. Tunggu, apa?
"Kamu hari ini basket?" Mana mungkin! Jelas-jelas tadi Khai dan Aksa koar-koar tentang ekskul basket hari ini, kenapa Katia ikut lengkap dengan sepatu dan jerseynya?
"Sparring, diundang sama SMANTI," jawab Katia singkat, sama sekali tidak menoleh ke arah Neva. Tangan gadis itu sibuk membereskan barang-barangnya yang masih bertengger di atas meja.
"Oh, ya? Anak fotografi ada yang ikut?"
Katia mendengus pendek, tanpa bertatap pun, Neva tahu benar kawannya itu kesal. "Harus banget kah, ada anak fotografi yang ikut?"
"Iya. Program kerja utama fotografi itu sebagai dokumentasi dan publikasi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan sekolah. Sudah jadi kewajiban kalau ada anak fotografi yang ngintil kegiatan. Karena belum seratus persen terlaksana, makanya sekarang Damar lagi berusaha buat jalanin proses itu-"
"Kalau kamu emang sayang banget sama ekskulmu itu, kenapa kamu di sini?" Katia akhirnya balas menatap Neva dengan sinar mata yang sama sekali bukan harapan Neva. "Aku udah bilang Stephen, nanti habis ekskul dia mau nyusul."
Tatapan penuh rindu itu, Neva membencinya. Rasanya seperti tertusuk, seperti keduanya adalah orang asing. Keduanya bertatap cukup lama, hingga akhirnya Katia memutus tatapnya. "Duluan," pamitnya, berusaha melewati Neva yang bergeming di antara meja.
Bukan begini seharusnya, bukan begini niat Neva. Mulutnya kelu, sementara netra jingga gadis itu terasa kebas, tidak sanggup lagi mengeluarkan air mata. Suatu perasaan kalut yang membuat Neva mendadak memutuskan, persetanan dengan dunia.
Tanpa berpikir dua kali, yang lebih muda berlari mengejar Katia, memojokan yang lebih muda dengan pintu dan menguncinya dengan kedua tangan. Katia terkejut bukan main sontak membalik badannya dan langsung dibungkam oleh ranum tembam Neva.
Gila.
Neva sudah gila.
Dan Katia lebih gila karena ia justru menarik pinggang Neva, memakan habis jarak di antara keduanya. Gerak payah Neva dibalas gerak asal-asalan Katia. Bukannya Katia mahir, ia pun sama amatir. Namun, Katia mendamba, benar mendamba saat ini tiba, saat ketika ranum keduanya bertemu, mengejar rindu yang tak jumpa bertamu. Memang bangsat dunia.
Katia membalik posisi mereka, didorongnya, membuat gadis yang lebih kecil terbentur, bahkan jatuh tersungkur. Buru-buru Katia mengejar, kembali melahap sisa rasa stroberi yang tersisa di ujung bibir. Sampai puas, sampai mampus berdua.
Jelas sekali maksud Katia yang itu, beneran maunya mampus berdua. Neva sudah sesak napas, sudah tidak bisa lagi mengejar tempo sang atlet yang masih gencar melahap bibirnya.
Untung seribu untung bahwa Dewi Fortuna adalah dermawan. Derap kaki dari luar kelas berhasil menghentikan ganas Katia melahap bibirnya Neva. Napas Neva terengah, berusaha setengah mati mengganti oksigen yang hampir tidak masuk ke paru-parunya.
Gagang pintu dipegang dari sisi lain, buat Katia sontak menahan agar tidak dapat dibuka. Dan sekali lagi, mujur serius berpihak pada keduanya.
“Kat, di dalem kah?” Suara Khai.
Katia melirik Neva yang masih terengah di bawahnya, buru-buru menutup mulutnya gadis itu dengan tangan. “Sabar masih ganti.”
“Oke, cuma mau bilang kamu nanti ke SMANTI sama Neva, ya. Damar suruh anak fotografi yang ikut dia soalnya.”
Neva balas melotot, informasi apaan! Neva bahkan baru tahu ada latih tanding 10 menit yang lalu! Reaksi Neva ikut buat Katia balas mendelik, siapa lagi yang buat keputusan seenak jidat begitu.
“Kenapa Neva? Stephen gimana?” tanya Katia seakan pacarnya orang paling penting di seluruh dunia.
Dalam hati, Neva memaki sepenuh hati. Halo? Girl? Kamu barusan cium TEMANMU SAMPAI SESAK NAPAS??
“Itu dia! Dari tadi tuh anak itu dicariin gak nemu. Makanya kata Damar suruh bawa Neva, kamu.”
Kalau itu Neva tahu.
TAPI DAMAR SIALAN BANYAK! Sudah ditawar konsul masih melunjak??
“Oke! Duluan aja, Khai! Aku masih cari Neva sebentar,” balas Katia kelewat santai.
“Ya, 10 menit lagi kita jalan pokoknya,” jawab Khai lagi, setelah hening yang cukup untuk membuat Neva gundah.
Langkah kaki Khai menjauh terasa begitu panjang untuk hilang dan napas Neva terdengar kelewat lega ketika benar hilang langkah kaki Khai. Justru Katia yang semakin tercekat, pandangan anak itu masih terlampau fokus menusuk gagang pintu. Neva meneguk ludah, menurunkan tangan Katia dari wajahnya. “Kat?”
“Ah, sorry!” Katia tersentak, buru-buru bangun dari posisinya, sembari mengulurkan tangan guna bantu Neva mencari tumpunya. “Kita harus siap-siap ke SMANTI.”
Penekanan penuh Neva rasakan dalam kalimat Katia, bertambah buruk dengan fakta bahwa gadis itu tidak menatapnya. Mau bertanya maksudnya pun Neva merasa berat, terlalu ngilu menatap raut kecewa yang lebih tua.
Tapi kenapa?
Ayolah, apa ciuman superriskan barusan belum cukup sebagai tanda bahwa keduanya saling cinta.
“Sebentar, aku ambil kameraku dulu. Dibawa Damar tadi ke mulmed.”
Katia menggangguk. “Aku tunggu di parkiran depan, nanti helm aku ambil sekalian.”
Punggung Katia yang yang menjauh terasa begitu asing dan menyakitkan. Neva memaku di tempat, pikirannya begitu kacau memproses apa yang terjadi.
Ah… Mana boleh begini! Neva punya tanggung jawab sekarang, tanggung jawab yang harus penuhi, seperti biasa. Membonceng di jok Vario Katia, seperti biasa. Memotret kegiatan anak basket, seperti biasa. Dan tiba-tiba saja pipi Neva basah oleh air mata.
Duh, kelewat lebay! Buru-buru Neva usap pipinya, menyeka air mata yang datang tiba-tiba. Sekarang serius bukan waktunya, sesak yang menyulut dada, Neva abaikan sepenuhnya. Ruangan kelas yang tadi terasa begitu sesak kini menjadi hampa, tidak ada rasa apa-apa di dalamnya.
Neva menyibak perasaannya, beranjak pergi meninggalkan kelas jadi benar-benar sepi. Seribu untung Neva bersyukur, suasana di luar kelas begitu bising buat hatinya ikut melesak, melepas diri dari sesak. Ricuh-riuh para siswa dengan urusannya masing-masing. Klise remaja, selalu pasang muka bahagia mau apapun keadaannya. Dan Neva pun sama tingkahnya, pasang senyum lebarnya ketika ada yang menyapa. Tapi, bagus juga sebenarnya, senyum yang lainnya buat naik mood juga.
Dari ujung mata, Neva melirik ruang musik di lantai dua. Bukan kelihatan apa-apa juga… cuma, Neva berdoa agar yang di dalam baik-baik saja, sebelum melangkahkan kakinya ke parkiran depan.
Damar hari ini… aneh. Sedikit pembelaan dari Stephen, tapi tadi waktu ia mengaku dosa pada Damar anak itu cuma tersenyum kecut, bilang kalau Stephen sekarang utang nyawa. Lebay sih, kalau boleh jujur, Stephen ready kok kalau dijadikan tumbal apapun…
Hari ini juga, ekskul seperti biasa. Yah… ada beberapa anak yang dikirim ikut ke SMANTI sih, tapi bukan Stephen. Paling malas kalau begitu, lebih pilih temani Damar membimbing adik-adik kelas 10 yang imut, lucu, dan menggemaskan. Huek.
Tapi sepertinya takdir berkata lain, karena daripada ruang multimedia, Stephen justru melangkahkan kakinya ke ruang musik. Kenapa? Karena disuruh Damar lah! Apalagi?
Bercanda, tapi barusan Damar serius menatapnya horor. Stephen bisa lihat dendam 5 tahun ke belakang menumpuk di tatapan Damar.
Ruang musik SMANSA tipenya studio. Kedap suara dan paling mentok di isi paling 20 orang supermaksa. Ini khusus untuk rekaman, atau latihan band sekolah yang tiap tahun muncul terus yang baru. Stephen rasa ia masuk ke sini bisa dihitung jari, cuma waktu diajak teman-temannya bolos fisika.
Setahu Stephen juga Damar bukan tipe yang nongkrong di ruang musik. Betul juga… Stephen membatu di depan pintu, matanya memindai lorong sekitar yang hampir gak ada orangnya. Biasanya ruang musik di kunci dan yang pegang kuncinya juga pengawas ekskul band. Kalau Damar suruh dia ke sini seharusnya pintunya gak dikunci, tapi di rak sepatu pun kosong melompong.
Oke lah, coba dulu. Stephen mengetuk pintu dua kali sebelum akhirnya memutar gagang pintu dipegang hadapannya. Bisa dibuka! Baru pada akhirnya melepas sepatu yang membalut kakinya.
Ruang musik gelap gulita, pun Stephen bisa mendengar alunan keyboard. Beethoven. Dimainkan oleh figur yang kelewat familiar, Stephen menghela napas panjang, Damar kurang ajar! Bisa-bisanya dia dijebak begini.
“Askar?” Gak dijawab, masih fokus dengan tuts di hadapan. Gak lucu! Ngapain main keyboard gelap-gelap? Lampu ruangan Stephen nyalakan, bedanya lumayan, meskipun sebenarnya nyala itu cuma remang-remang.
Bagaskara masih mengabaikan, kelewat sibuk dengan permainannya yang jauh dari amatir. Stephen menggerutu, ikut abaikan yang lebih muda dengan fokus cari lensa yang kini Stephen ragukan eksistensinya.
“Gak ada yang kamu cari,” kata Bagaskara pada akhirnya. Itu juga Stephen sudah tahu!
“Apa sih akal-akalan kalian itu?” Stephen menyalak, berdecak pada Bagaskara yang akhirnya berhenti bermain.
Si atlet bangun dari duduknya, mengunci pintu dari dalam yang buat Stephen membatu di tempatnya. “Apa ya kita-, aku ini? Umpan? Pengalihan?”
“Ngomong apa sih?”
“Ya… Soalnya temen, TEMENKU, TEMEN, garis bawahi, TEMENKU butuh kamu out of the picture, so here we are.” Bagaskara sudah berada di hadapan Stephen, menemboki yang lebih tua dengan drum jebol yang ogah diganti sekolah.
Stephen mengernyit, secara sadar ambil kunci dari tangan Bagaskara. “Aku gak paham, apa sih temen apa sih? Pengalihan isu apa sih?”
“Pen, aku sama Neva gak pacaran,” tegas Bagaskara, tatapan matanya begitu dalam memaksa Stephen untuk terhipnotis balas tatapnya. Tapi Stephen masih terhenyak, bergeming karena pernyataan kelewat tiba-tiba.
“Ya… terus?” Raut Bagaskara kelihatan frustasi, mukanya sedih banget, seakan solusi masalah di hidupnya cuma punya Stephen sebagai solusi. “Neva bilang kamu pacaran sama Katya karena kalian pacaran sama Neva. But I hope it wasn't the case. Aku kamu pacaran sama Katya beneran karena… you genuinely like her, so I can wish you nothing but happiness.”
Berat banget rasanya Bagaskara ngomong begitu. Toh yang dia mau kebahagiaan Stephen itu karena dia, karena Bagaskara seorang. Egois memang, Bagaskara juga baru sadar, tapi sekarang dia sudah gak mau lagi denial perkara perasaannya pada Stephen yang sudah kelewat jatuh itu.
“Maaf banget, tapi kalau menurutmu kaya gitu; aku bajingannya.” Stephen tersenyum lirih, matanya menunduk, menghindari Bagaskara.
Ah payah. Bukannya Bagaskara gak menyangka… cuma Stephen yang bilang itu sendiri buatnya lebih sakit hati. “I thought we're supposed to support each other. Tapi di waktu aku lagi sibuk urusin olim kamu malah pilih cemburu perkara Neva yang bantuin aku?”
“YOU FORGET ME, KAR!” Stephen menyalak, mendorong Bagaskara hingga terpental. “Kamu gak inget gimana kamu selama awal-awal itu? ‘oh sorry ada yang harus aku urusin sama Neva’ ‘oh sorry aku makannya mau sama neva’ ‘oh sorry Neva this, Neva that’ What am I supposed to think, Kar?” Mata remaja itu sudah basah, tatapannya pada Bagaskara tampak begitu menyayat hati.
“That's not justified what you did!” hardik Bagaskara, alisnya menyatu gelisah, pun kakinya membatu tanpa berani melangkah. “Be there for me. Isn't that what best friend supposed to do?”
Stephen mendengus, “Bestfriend? Sweetheart, I sucked your dick.”
“Yeah and how possibly you can't see how much I longed for you!”
Bercanda.
Rasa-rasanya seluruh elemen tata surya kompak tertawakan Stephen karena bodohnya. Bukan… apa ya… Jadi gundah sendiri. Dari awal Stephen pun tahu perasaannya, namun lagi dan lagi harus ingatkan diri sendiri kalau mereka cuma sebatas teman belaka. Sama sekali di luar bayangan Stephen kalau hari ini akan terjadi, hari dimana pertemanan mereka dipertaruhkan atas nama perasaan. Bodoh banyak.
Stephen terkekeh, menjatuhkan dirinya ke karpet merah yang jauh dari kata beludru di bawahnya. “Kamu tahu ini bodoh banget, kan?”
“Hm.” Bagaskara ikut mendudukan diri, menggenggam erat kedua tangan Stephen. “I'm ready to risk everything for this conversation.”
“Sekarang? Kamu punya a whole year dan kamu pilih sekarang waktu aku punya pacar?”
Si atlet angkat bahu, kebalik. “Aku mau ngomong ini karena kamu udah punya pacar.”
Genggam tangan Bagaskara di tangannya jadi terasa lebih hangat dari biasanya-, bukan berarti mereka gandengan at daily basis, tapi tetep aja. Stephen udah jauh dari paham situasi sekarang yang berarti Neva dan Katya lagi menyelesaikan urusan sendiri sekarang. “Never thought Neva is gay, let alone to Katya.”
“Iya itu… plot twist sih.”
“Never thought Askar would be gay either.” Stephen balas menggenggam erat Bagaskara, merasakan bagaimana lembutnya telapak tangan anak itu karena kebanyakan main air.
Bagaskara meringis, pemandangan kedua tangan mereka yang bertaut sama sekali gak baik buat jantungnya yang berdetak gak karuhan. Pun, gak menghalangi Bagaskara untuk elus pelan punggung tangan yang lebih muda dengan ibu jarinya. “Itu… I don't think I am, just happen to fall in love with you.”
“Nonsense.”
“You know the concept of witing tresna jalaran saka kulina?”
Siapa yang gak tau? Cinta ada karena terbiasa, Stephen rasanya pun sama, 100% hilang arah waktu Bagaskara sibuk dengan Neva. Sudah terlalu terbiasa dengan hidupnya yang berputar pada Bagaskara. Tapi kalau dibilang Stephen jatuh sama Bagaskara karena terbiasa, rasa-rasanya ia jatuh cinta pada bocah baru lulus SMA yang gak sengaja senggol bekalnya.
Hari itu rabu biasa, hari ketiga menginjak bangku SMA lebih tepatnya. Stephen yang notabennya ekstrovert garis keras sibuk muterin kelas buat cari temen ngobrol. Sama Bagaskara cuma pernah basa-basi, lebih sibuk sama anak-anak berisik lain yang lumayan numpuk di kelas. Rabu pun sama, Stephen lagi fokus ngobrol sama Aksa perkara kipas angin kelas yang mati satu, sampai tiba-tiba tanpa sengaja tangan kebanyakan gerak Stephen senggol kotak bekal Bagaskara yang tertata rapi di atas meja.
Yah… Salah siapa tangannya kelewat panjang. Tapi waktu itu ekspresi Bagaskara lucu banget. Mukanya bengong merenungi nasi gorengnya yang bercecer di lantai sementara Stephen dan Aksa kelimpungan mencari solusi. Pokoknya waktu itu solusi Stephen belikan Bagaskara ayam geprek kantin, terima kasih ayam geprek yang menyatukan mereka berdua.
“Kita… terlalu terbiasa satu sama lain ya?” Stephen tanpa sadar tersenyum, ingat bagaimana setahun yang mereka habiskan bersama. Bagaskara angkat bahu, yang ia tahu kalau ia suka Stephen, perkara yang lain sekarang sudah gak penting lagi. “Jadi… sekarang apa?”
“Putusin Katia.”
“Orang gila,” gumam Stephen, niatnya dalam hati tapi realita barusan terlalu aneh untuknya menahan kata-kata itu. Bagaskara mengernyit, 100% yakin kalau pembicaraan barusan cukup untuk meyakinkan Stephen buat mengakhiri apapun drama yang terjadi sekarang ini, pun Stephen justru menatapnya macam orang paling aneh di dunia. “Ah-, maksudku… ya gila sih. I still found all this thing is a nonsense.”
Stephen itu (biasanya) bukan tipikal yang akan denial. Ia mengerti perasaan sendiri lebih baik dari siapapun. Gak kaya Bagaskara yang kadang harus didikte apa yang dia rasakan. Ini beneran, kadang Stephen heran gimana anak itu bertahan hidup tanpa bisa paham apa yang dia rasain. Dasar T garis keras! Pokoknya Stephen bukan orang yang denial, termasuk perihal perasaannya pada Bagaskara.
Bagaskara itu prioritas dan Stephen sayang kawannya sebagaimana hubungan mereka apa adanya. Kalau mau diomongin gamblang, selama ini ia rasa Bagaskara ada dalam genggam Stephen. Hidup mereka berotasi akan satu sama lain, gak pernah ada waktu bagi keduanya untuk memikirkan hal lain di dunia kalau sedang bersama.
“Aku beneran lho?” Bagaskara memiringkan kepala heran. “Aku di sini beneran lho, aku pegang tanganmu ini beneran, lho, aku bilang aku suka kamu tuh beneran lho-”
Stephen yakin mukanya sekarang merah. Jempol Bqgaskara bergerak gelisah membelai punggung tangannya, buat Stephen semakin tertampar kalau Bagaskara benar ada di hadapannya. “OKE, STOP! STOPP! Iya, itu. Huft. Kalian ini beneran sengaja jadiin aku cowok gak bener atau gimana sih?”
“Ya, bukan aku yang decided to date Katya out of spite so I don't know what to tell you.” Stephen merengut, harus banget ya menabur garam di lukanya yang dalam. “Tapi kita bisa backstreet dulu? As long as you need. Aku cuma butuh kepastian kalau kamu indeed mine.”
Dan datang Bagaskara dengan bokong sok pekanya. Habis kalau omong yang penting bunyi dulu baru dipikir, makanya baru bisa tangkap apa yang terjadi setelah mingkem.
“Posesif.” Kalau boleh jujur pernyataan bodoh sih, karena dalam hati juga Stephen kelewat paham seberapa posesif anjing gede di hadapannya. Huft… hari yang superaneh.
Neva sekarang ingin banyak mengeluh, pasalnya sekarang ia dibuntuti Katia. Sepuluh menit lalu, Neva menolak naik lagi ke Vario Katia, lebih pilih naik TS di ramainya Surabaya dan sekarang Katia yang sudah parkir motor di warmindo depan SMANTI dan pilih ikuti langkah Neva ke halte.
Neva mendengus, menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Kamu ngapain sih?!” hentak Neva sambil berbalik menghadap Katia yang menatapnya macam anak anjing hilang.
“Kita masih butuh ngobrol…” kata Katia lirih. Hari ini Katia payah banget kalau boleh jujur mainnya. Gini-gini, to be clear Katia itu jago banget perkara basket, disuruh by one sama Khai juga dia jalanin saking jagonya. Tapi ternyata ada yang lebih jago lagi; Neva yang sukses buat porak-poranda otak Katia sampai buatnya duduk di bangku cadangan hampir seluruh kegiatan.
Bocah aneh! Neva sepanjang permainan terlalu sibuk menghindari Katia (yang memang gak main) untuk lupakan kejadian tadi siang. Tapi tadi siang itu terlalu di luar nalar untuk dilupakan, Neva mana sanggup. “Kamu tadi yang potong pembicaraan kita!”
“Kan… harus ke… SMANTI…” gumam Katia yang hampir gak kedengeran karena jarak canggung mereka.
Banyak alasan! Cuih! Neva menggerutu dalam hati, memaksa kakinya berbalik arah kembali ke warmindo depan SMANTI dengan Katia yang masih setia memengikuti.
“Duduk!” suruh Neva galak, menunjuk kursi di depannya dengan dagu. Katia meneguk ludah, kalau boleh jujur Neva tuh galak abis, cuma muka dia LUCU BANGET! gak cocok sama sekali! “Mas, mau pesen. Indomie rendang pake kornet sama telur satu, minumnya es teh tawar. Kamu apa?”
“Eh, aku gak makan-,”
“Pesen.” GEMES BANGET!
“Nasi goreng telurnya satu mas, sama air putih aja.
Keduanya lantas diam, suasana warmindo yang riuh dengan anak-anak SMANTI yang kelihatan superasing membantu sekali Katia merasakan canggung yang melilitnya. Seorang diri, karena Neva dengan muka ditekuk masih tetap tenang menunggu Katia memulai pembicaraan.
Sayang kalau masalah begini Katia jadi yang paling cemen satu dunia, selalu Neva yang ambil inisiatif untuk memulai. Heran banyak! Cinta itu buta ternyata betul ada di dunia nyata. “Kamu ajak Stephen pacaran karena paham ‘kan kalau dia sama Bagaskara experience the exact same thing kaya kita?”
Katia mengangguk ragu, tiba-tiba saja taplak plastik yang melapisi meja jadi jauh lebih menarik dibandingkan seorang Neva. “Salah satunya.”
“SALAH SATUNYA?” Tanpa sadar Neva memekik, buat atensi seluruh warung beralih ke keduanya. “Emh… Kamu punya alasan lain buat pacarin Stephen?”
“Gak gitu!” Katia berteriak dalam diam. “Dia… mirip banget sama kamu.” Hampir gak kedengeran saking kecilnya suara yang Katia keluarkan. Tapi bahkan cuma dari “mirip” yang ikut samar, Neva bisa paham maksud pembicaraan.
Neva mengeluh, dulu memang banyak yang kira kalau dia dan Stephen saudara, bahkan kembar. Kebetulan banyak sih, minta maaf tapi Neva gak pernah tuh yang namanya ketemu Stephen kalau kumpul trah. Ya… Mutusi banget, tapi kemungkinan dia sama Stephen sedarah itu kecil…
Kalau Katia sendiri, jarang menanggapi pernyataan itu dengan baik, lebih banyak mengabaikan pernyataan dan pertanyaan yang muncul. Itu membantu Neva banyak kalau boleh jujur, karena awal-awal kelas 10 hampir semua orang mention itu, padahal dia dan Stephen beda kelas dulu. Mungkin Katia sadar kalau Neva banyak gak nyaman makanya gak pernah bilang apa-apa dan pernyataan barusan jelas buat Neva berasa ditampar di pipi.
“Itu alasan yang makin bodoh,” desis Neva tajam, tatapnya masih terlalu kejam memelintir setiap ucap Katia.
“I know. It's just… Aku takut. Aku takut kehilangan kamu dan Stephen was there in front of me-, I just-, I'm sorry. I hurt you a lot.” Katia mencicit, terdengar frustasi pada kata-katanya yang bahkan Neva pun tak bisa membayangkan bisa ia dengar dari Katia.
“Kamu tahu kamu jahat sama aku dan masih kamu lakuin?”
Katia makin menunduk, dia rasa tiga detik lagi aka digampar pun masih berusaha keluarkan klarifikasi. “I'm not really the smartest about that…”
“Masih gak membenarkan. Aku paham kamu bodoh tapi, bisa gak pikirin aku sekali aja, yang kamu pikirin tuh cuma apa ya? Gimana caranya biar aku selalu ada di genggamanmu-”
“No!” Katia menyalak, tanpa sadar mengebrak meja di hadapannya. Lagi-lagi beberapa pasang mata menatap sinis, buatnya menyesal gak pesen hotel buat pembicaraan ini-sama sekali gak mengasihani meja berbalut spanduk indomie itu. Buru-buru Katia kembali mendudukan bokongnya, masih dengan ragu menatap gadis di hadapannya. “Kamu gak pernah ada di genggammu, Nev. If anything, I'm the one wrapped around your fingers.”
Katia gak bohong, Neva did have her around her fingers. Semua orang pikir karena Katia yang lebih banyak omongnya, banyak geraknya, jadi dia yang pegang kendali dari hubungan keduanya. Padahal nol besar, Katia bukan apa-apa kalau gak ada Neva, macam anak anjing yang ditinggal pemiliknya karena pada dasarnya satu-satunya yang ada di hidup Katia adalah Neva yang bukan siapa-siapa.
Neva mendengus, senyum sebal terukir di bibirnya. “Bercanda ya?”
I wish. Katia menjawab dalam hati. “I adore you, Nev. Kamu hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku dan aku gak mau tuker itu sama 1000 Stephen or Bagaskara, atau siapa lah, karena… you're the one I yearn for.”
“Jadi kamu cinta sama aku?”
Cinta ya… Menurut Katia itu konsep paling bodoh satu dunia. Sebagai seorang beriman, Katia selalu diajari kalau cinta itu tanpa syarat, harus sabar, penuh kasih dan mesra. Tapi perasaan Katia untuk Neva sebaliknya, Katia mau mengorupsi Neva terus, mau semua perhatian dan kasih Neva jatuh padanya. Sekarang Katia sudah ogah peduli apa perasaannya, karena dalam hati terdalam yang ia inginkan adalah menjadi milik Neva.
“Make me yours.”
Neva tertawa, menyuap mie ke dalam mulutnya biar ketawanya yang menurut Katia kalem-kalem aja itu gak dinotis sama sekitar. “Ngomong apa sih?” Katia terus balas merengut, padahal dia sudah berusaha keras bersuara biar gak kedengeran cringe banget (masih cringe, tapi yah.) “Habisin dulu makanmu!"
Ada banyak hal yang Bagaskara syukuri di umur yang sudah menginjak 17 ini; pertama, ulhar kimianya baru keluar dan dia gak remedial (terima kasih Stephen). Kedua, dia berhasil kalungkan medali emas (terima kasih Stephen, yang kata Bagaskara lebih berjasa dari Neva). Terakhir, untuk Stephen. Just Stephen for existing in this world.
“Jadi kalian nih, udahlah nyulik aku, nyuruh aku nyetir, gak bilang mau kemana, jemput kalian satu-satu, what's next? Bayarin makan siang?” Stephen melirik ketiga penumpangnya bergantian. Bagaskara di samping tiba-tiba lebih tertarik dengan jalanan macet Surabaya, sementara dua gadis di bangku belakang tampak makin tak peduli dan lebih asik bermesraan. “Halo, girlss? Your chauffeur also needs attention?!”
Stephen tuh ya, di hari Sabtu yang panas menggelegar ini jujur maunya push rank Valo dia yang udah kritis karena kebanyakan ngurus fotografi (alasan) lalu datanglah kekasih hatinya dengan Brio merah kebanggan Bagaskara nomor dua setelah CBR-nya. Jujur sayang Stephen pada Bagaskara rasanya sudah terlalu dalam baginya buat melawan waktu ditarik buat masuk (ke bangku kemudi) si brio.
“Tapi aku yang jemput kamu, pakai mobilku?” Bagaskara merengut, halo juga?? Tapi dia juga sudah effort kasih keluar Brio merahnya sayang itu dan jemput Stephen di RT sebelah. Oke, effort. Stephen melirik sinis, kembali fokus pada jalanan yang dibilang lancar juga gak sudi.
“BTW, Gas, kamu tuh emang secinta itu sama merah atau gimana deh?” tanya Katia out of nowhere. Gak juga sih, ini pertama kali dia lihat mobil Bagaskara yang sewarna dengan motornya.
“Ini mobil bapakku, sih. Depan itu, yang Fortuner keluar itu belok. Lagian juga… lebih seksi aja kalau merah,” jawab Bagaskara apa adanya disela-sela kegiatan jadi navigator Stephen.
Neva melongo, mukanya gak terima dengan pernyataan Bagaskara barusan. “Lebih seksi kalau hitam? Punya Revan tuh yang Matte Black seksi banget! Tapi CB150 sih”
Sekarang ganti Katia yang membelak, akhirnya bangun dari bahu Neva untuk menatap yang lebih muda heran. “Kenapa kamu tahu motornya Revan?”
“Kebetulan lewat. Apa sih? Aku juga tahu Vario 160 GRANDE MATTE BLUE 156cc-mu itu.” Oke… Dua adam di depan mendadak ngeri sendiri.
“Kamu kenapa… hafal produk Honda gitu?” tanya Stephen hati-hati.
“Aku kan FTMD ITB ‘25, harus paham, dong? Kamu kira aku cuma ngerti mereknya? Warnanya? Paham juga aku soal mesin!” Sekarang dua adam itu serius takut dengan Neva.
“... Lebih seksi merah.” Katia ikut menanggapi, merasakan aura tegang dari bangku depan. “Kalian jangan merasa kurang ya maskulinitasnya…”
“Parkir depan ruko itu.”
Si Brio pada akhirnya terparkir rapi di jejeran mobil lainnya. Terlalu rapi sih kalau Bagaskara boleh komentar, Stephen nih… kelewat jago kalau soal reverse parking, or parking in general lah.
“Kemana nih? Jelita?” Stephen melihat sekelilingnya, daerah ini lumayan jauh dari tempatnya biasa bergaul.
Neva, dari belakang, tersenyum simpul, menunjuk ruko di samping Jelita. “Surprise!”
Duo aries kompak melongo, menatap pacar masing-masing dengan ekspresi yang ketebak apa.
“Anjing?” Kening Katia mengerut, buat Neva dengan semangat anggukan kepala.
“Yap! Kita akan lihat anjing! Like, a lot of anjing!”
“Kenapa?” Ganti Stephen yang bertanya. Agak lucu karena dia pasang kening berkerut padahal matanya berbinar mau cepat dobrak masuk ruangan.
“Birthday boy want, birthday boy get king of things sih.” Bagaskara angkat bahu, mendahului gerak remaja lainnya untuk masuk ke dalam.
Katia dalam hati mengomel, masalahnya ulang tahun anak itu sudah lewat hampir dua minggu, ditambah lagi anak itu waktu pergi ke Mojokerto untuk seleksi PON. Perkara itu juga Katia sebal banyak, karena selama ditinggal Stephen menempel padanya dan Neva. Katanya mereka sudah terhubung lewat miskomunikasi. Tapi… kalau disuruh berhadapan sama anjing juga, Katia luluh begitu saja (mohon maaf karena pacarnya sayang juga seringnya macam anak anjing).
“Mas Bagas! Congratulations! Mantap poll tahun depan road to Aceh !” Masih bersama Ryan yang dengan semangat menyelipkan peluk pada Bagaskara.
“Thank you! And this is my special support system.” Tangan Stephen ditarik, paksa yang lebih tua masuk dalam rangkulan Bagaskara.
Stephen tersenyum kikuk, ini hal yang kelewat baru untuknya. Dalam artian, ayolah selama jni Stephen mengira dia tahu segalanya tentang Bagaskara, tapi orang asing di hadapannya tiba-tiba mengubah segalanya.
“Oh?” Ryan tertegun, memandang Bagaskara dengan tatap yang God know what. Si leo tersenyum kecil buat Stephen makin bingung dengan komunikasi tanpa kata yang terjadi di hadapannya. “Oke deh, boleh masuk duluan, ini saya ambilin lagi anaknya.”
Sekarang Neva yang memimpin jalan, buka pintu pagar halaman belakang yang jauh dari ekspektasi Katia. Gimana ya? Siapa juga yang sangka shelter di ruko begini punya halaman belakang yang superluas.
“Selamat datang di surga duniawi! Kamu jadi makin mirip anjing.” Neva menyenggol bahu Stephen yang merenung, menatap pemandangan di hadapannya dengan ekspresi kagum.
Stephen berbalik pada Bagaskara, menepuk bahu yang lebih muda pelan. “Kamu sayang aku, ya?”
Bagaskars mengernyit. “Gak juga…?” Bingung… selama ini kurang apa sih Bagaskara sampai belahan jiwanya baru yakin cinta Bagaskara ada waktu dibawa ketemu anjing. Stephen tersenyum, gak terlalu peduli dengan jawaban Bagaskara dan lebih pilih susul Katia yang sudah menaruh Poodle di pangkunya.
Sekarang ganti Neva yang tepuk bahu Bagaskara, bedanya kuat-kuat hingga yang punya memekik kaget. “Selamat, ya!” Neva tersenyum tulus.
“Karena?”
“Karena kita balik ke sini dengan kondisi yang… lebih baik.”
Bagaskara merengut kecut. Sepertinya hari itu dosanya pada Neva menumpuk 100 lembar. “Makasih ya, Nev. For everything.”
