Chapter Text
Akashi Seijuurou terdiam di depan laptopnya yang menyala. Tangannya ragu untuk menggeser kursor dan mengklik aplikasi Skype. Dia berpikir menelepon tidak akan membuatnya puas, tapi ketika dia siap untuk memulai video call, satu sisi di hatinya merasa ragu.
Meski di tempatnya sekarang jam sepuluh malam, di Los Angeles sana baru jam delapan pagi. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh orang yang ingin dihubunginya itu. Baru selesai sarapan kah? Atau menonton TV kah? Dia merasa tak enak dan tak etis jika menghubungi mantan kakak kelasnya itu hanya untuk sekadar mengadu kalau di Winter Cup pertamanya ini sekolahnya tak berhasil membawa pulang piala kemenangan.
Jangan seperti anak kecil, sedikit-sedikit menceritakan apa yang baru saja kau alami—sahut hati nuraninya.
Dia ingin segera mematikan laptopnya, meski nyatanya tangannya tak bergerak sesenti pun. Ingatan akan kejadian hari ini sontak memenuhi kepalanya, membuat hatinya kembali sakit dan dirinya dipenuhi penyesalan.
Selain kekalahan Rakuzan, satu hal yang membekas adalah kejadian yang tak sengaja dia lihat saat dirinya baru saja keluar dari gimnasium.
Kagami dan Kuroko yang sedang berpelukan dan berciuman mesra.
Tidak, dia bukannya cemburu atau apa—pun mencintai salah satu dari mereka. Dia hanya iri; dan pantas saja bau Kuroko seperti tercampur dengan bau Kagami, ternyata mereka memang mate.
Dia sendiri ... ada. Dia mempunyai mate. Bahkan bisa dibilang sejak dua tahun yang lalu. Semua orang tahu, beberapa bisa menebak siapa alfanya, tapi dia hanya tutup mulut apalagi ketika sang ayah bertanya mengenai siapa yang sudah menandainya.
Kalau saja waktu itu heat-cycle pertamanya tidak datang di saat-saat yang tidak tepat, kalau saja waktu itu hanya ada dirinya sendiri, kalau saja dia tidak memaksa orang itu untuk ‘membantunya’ saat itu juga, mungkin dia masih seorang omega yang belum menjadi milik siapa-siapa.
Akashi senang bisa menjadi mate-nya meski dia merasa kalau mate-nya itu menyayanginya hanya sebagai bentuk kewajiban.
“Ah, menyebalkan,” gumamnya tanpa sadar. Dia memutuskan untuk mematikan laptopnya kalau saja ponselnya tak berdering.
[Nijimura Shuuzou]
Satu nama yang dia pikirkan dari tadi muncul di layar ponselnya sebagai penelepon.
Pemuda itu merasa kalau dirinya baru saja mengalami serangan jantung mendadak. Orang yang ingin dihubungi via video call tak disangka-sangka malah menghubunginya lebih dulu.
Agak ragu dia menerimanya, meski pada akhirnya ponsel hitamnya itu dia tempelkan di telinga kanannya. “Moshi-moshi.”
“Kau kenapa?” Kedua netranya mengerjap heran. Kenapa? Kenapa apanya?
“M-maksud Nijimura-san?”
“Kau sedang bersedih, kan?” tebak Nijimura tepat sasaran. Semua kata-kata yang sudah Akashi persiapkan kini tertelan kembali. Kenapa Nijimura bisa tahu?
Netra merahnya menatap wallpaper laptopnya, foto mate-nya yang dia ambil diam-diam. “... tahu dari mana?” cicitnya.
“Kau tahu, kan kalau alfa bisa merasakan apa yang mate-nya rasakan jika dia mencintainya? Sejak beberapa jam yang lalu perasaanku tak enak dan aku terus kepikiran dirimu.”
Kalimat yang Nijimura ucapkan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya terpaku. Mulutnya terbuka, ingin mengucapkan sesuatu meski tak ada yang keluar dari sana.
Alih-alih sepotong dua potong kata, yang terdengar oleh Nijimura di sana adalah suara isakan kecil yang tertahan.
“Akashi?”
Akashi tak menjawab, dia sibuk membungkam mulutnya sendiri dengan tangan yang satunya.
“Akashi, kau baik-baik saja?”
Dia masih tak menjawab. Untuk sesaat, keheningan mengisi ruang di antara mereka sebelum Nijimura kembali berbicara.
“Iya, aku juga menyukaimu. Maaf menunggu lama. Dua tahun, kan?”
“Ni-Nijimura-san—”
“Waktu itu sebenarnya aku bisa saja pergi dan membiarkanmu. Tapi aku tidak sejahat itu. Aku tahu risikonya dan aku tetap membuatmu menjadi mate-ku; meski yah ... hormonku yang lebih banyak mengambil alih sih.”
Pemuda merah itu bergeming, tahu kalau Nijimura masih belum selesai berbicara.
“Sekarang, jangan menyalahkan dirimu lagi, ya. Aku ingin membalas perasaan tulusmu. Dan aku ingin sekali berada di sampingmu saat ini—dadaku sesak, aku tidak tahu apa penyebabnya tapi aku yakin kau sangat sedih hari ini.”
“... kalah.”
“Apa?”
“Timku kalah. Lalu aku tak sengaja melihat Kagami dan Kuroko bermesraan. Aku iri. Tapi ...,” tangannya yang bebas menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya, “tapi aku bisa apa? Nijimura-san tidak ada di sini. Aku juga tahu diri untuk tidak membebani Nijimura-san terus. Sampai sebelum Nijimura-san tadi bilang, aku selalu berpikir kalau perasaanku tidak akan mungkin terbalas.”
“Lalu?”
“Aku ingin melihat Nijimura-san. Aku ingin memeluk Nijimura-san.”
Rasa sakit akibat menahan rindu itu benar-benar pecah malam ini. Dua tahun dia menahannya dan baru kali ini dia menumpahkan segalanya pada Nijimura. Meski hanya sekadar usapan di kepala, dia sangat ingin menerima tanda afeksi dari orang yang dia cintai.
“... aku ingin berada di sana. Entah hari ini atau besok, aku akan mengambil penerbangan ke Kyoto. Untuk sementara, kita berbicara lewat video call saja bagaimana?”
Dan Akashi, tidak tahu apa ada hal yang lebih membahagiakan dirinya dari ini.
Malam itu, akhirnya dia bisa berbicara dengan Nijimura seperti pasangan yang sesungguhnya.
Owari
