Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Wishful Thoughts Fest
Stats:
Published:
2025-10-24
Words:
3,359
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
27
Bookmarks:
1
Hits:
290

I, Sea, Tell

Summary:

Di bawah bulan perak dan bisikan laut, seseorang memilih tenggelam—bukan karena lupa jalan pulang, tapi karena akhirnya menemukan tempatnya.

Antara aroma kopi, mitos duyung, dan cahaya bulan yang dingin, Yushi perlahan kehilangan logikanya—dan mungkin juga dirinya.

Notes:

Prompt:

Yushi adalah seorang mahasiswa, dan Riku adalah seorang putra duyung. Suatu hari mereka tidak sengaja bertemu di sebuah cafe dekat pantai Yushi menginap saat liburan. Yushi yang baru bertemu pertama kali langsung tertarik sampai membuat dia yang sudah kembali ke kotanya ingin kembali ke tempat liburan itu lagi. Terjadi sesuatu saat perjalanan pergi ke tempat itu, membuat teman-teman Yushi kehilangan kontak dengannya.

 

Notes from prompterr

 

Do everything what you want and thank you for choosed my promt ^_^
Jangan tolak promt ku, jebal 🥺

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mahasiswa magang dari jurusan Manajemen Bisnis itu hampir menyerah. Dia masih ada di posisi yang sama, di sebuah meja di pojokan satu-satunya café yang ada di pinggir pantai. Es kopi yang dia pesan sepertinya mulai hambar karena es batunya sudah seluruhnya mencair. Di depannya, laptop terbuka lebar berisi web-template-seadanya tentang tempat yang menjadi tantangan magangnya.

Seharusnya Yushi tidak terpengaruh ucapan dosennya. Ketika dosen mata kuliah marketing itu bilang kalau tantangan ini bisa setara dengan tugas akhir—yang artinya Yushi tidak perlu ikut ujian akhir semester lagi—harusnya Yushi sudah tahu, tugas ini tidak akan mudah.

Tapi karena kelompok lain di kelasnya sudah memilih topik yang "aman" dan meninggalkan wilayah ini untuk Yushi sendirian, jadilah dia sekarang terjebak. Bukan tanpa alasan—Yushi sekelompok dengan Sion dan Jaehee, dua orang yang dianggap paling capable di kelas.
Sion, si jenius ahli web, dan Jaehee, si ahli copywriting yang juga jago fotografi.
Kombinasi maut untuk proyek marketing… kalau saja mereka tidak menugaskan Yushi jadi lapangan riset di daerah yang penuh mitos putri duyung ini.

“Bagaimana bisa aku menarik pengunjung dengan cerita kuno seperti ini?” gerutunya sembari melihat ilustrasi legenda di layar laptop.

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di wilayah ini, Yushi selalu mendengar satu hal. Sebuah legenda—atau lebih tepatnya, mitos—yang sudah menjadi akar budaya di tempat ini sejak dulu. Yushi sempat berpikir untuk menjadikan budaya unik tempat ini sebagai bahan marketing. Tapi rencana-rencananya runtuh sesaat setelah mendengar kisahnya.

Legenda tentang Duyung-makhluk mitologi setengah manusia dan setengah ikan.

Di tempat itu, putri duyung sangat dipuja dan dihormati. Katanya, tetua yang ada di tempat itu berumur lebih dari 100 tahun karena pernah berciuman dengan duyung—ini sangat aneh karena sangat berbeda dengan ekspektasi Yushi. Ada satu hari dalam setahun yang dirayakan sebagai hari perayaan duyung. entahlah, Yushi tidak terlalu tau detailnya karena dia belum sempat research yang terlalu mendalam terhadap tempat itu.

Sejauh ini, semua informasi yang dia dapatkan sangat tidak berguna untuk menarik market.

Memangnya siapa yang mau datang ke tempat seperti ini hanya untuk kepercayaan lama? mengenai manusia setengah ikan yang bisa hidup abadi? tentang makhluk mistis yang katanya bisa menghipnotis pelaut dengan suaranya agar mau terjun ke dalam laut? siapa yang mau?

Bagaimana Yushi bisa menarik pengunjung dan dapat nilai A untuk ujian magangnya, kalau bahan risetnya saja begini?

Yushi melirik kopinya yang sudah mencair. Kemudian dia melirik seisi café dimana hanya ada dia sendiri sebagai pelanggan.

Menjual kopi saja susah, apalagi menjual legenda.

Di sepanjang garis pantai, hanya ada satu kafe yang berdiri, itu adalah café tempat Yushi berada saat ini. Kemudian, ada beberapa kios oleh-oleh yang sepi. Orang-orang di sekitar pantai pun sepertinya penduduk lokal.
Padahal di seberang sana, lautnya indah sekali.

Sayangnya, tempat ini berada di wilayah yang terpencil dan belum terkenal. Hotelnya pun cuma satu. Di satu sisi, lingkungannya masih asri, tapi di sisi lain, sarana dan prasarananya minim.

Lalu… apa yang harus Yushi lakukan sekarang? Bagaimana Yushi harus mengiklankan tempat itu?

Di tengah rasa frustrasi yang mulai naik ke ubun-ubun, Yushi memutuskan untuk berjalan menyusuri pantai. Angin laut berhembus lembut, tapi pikirannya tetap sesak. Di ujung lautan sana, garis horizon membentang antara laut dan langit tanpa penghalang. Air laut di kejauhan memantulkan cahaya matahari seperti dihujani permata. Yushi merasa sayang dan frustasi jika pemandangan seindah ini tidak terkenal oleh khalayak. Minimal, kementrian pariwisata harus melirik tempat ini dan memberikan dana pengembangan. Pikiran Yushi mulai melantur menyalahkan pemerintah yang tidak mempermudah akses ke tempat ini.

Sampai akhirnya langkah Yushi tiba-tiba terhenti—ia melihat seseorang.

Seorang laki-laki dengan kulit tan dan hidung mancung, berdiri di tepi air seolah laut itu tempatnya pulang. Cahaya matahari yang terik memantul di rambutnya, memberikan efek kilau pada helai yang bergoyang tertiup angin laut. Untuk sesaat, Yushi merasa lupa caranya bernafas.

Tampan.

Sangat tampan.

Tampan sampai Yushi sempat lupa kalau dia lagi stres karena tugas magang.

Selama beberapa saat, Yushi cuma memperhatikan orang itu yang diam melihat ke arah laut. Pandangannya penuh akan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, seolah dia sedang mengemban misi penting—menghitung berapa banyak ombak di lautan. Tampak tidak penting, tapi ada sesuatu yang berbeda dari aura orang itu. Bukan sekadar tampilan luar—lebih seperti kehadiran yang membuat dunia di sekitarnya melambat sepersekian detik.

Kalau ada malaikat yang pernah tersesat atau salah jalan, mungkin beginilah wujudnya.

Yushi menatapnya cukup lama sampai sadar kalau tatapan itu mungkin sudah masuk kategori “aneh.”
Lalu, dengan spontan, otaknya yang sedang bekerja setengah sadar mulai mencari alasan logis.

“Kalau orang ini jadi model promo tempat ini… dijamin bakal laku,” gumamnya cepat—lebih ke arah sugesti untuk diri sendiri.
Ya. Benar. Ini murni ide profesional.

Bukan karena dia pengen ngobrol sama cowok ganteng itu.

Sama sekali bukan.

Atau… mungkin sedikit.

Dengan langkah tegap, Yushi berjalan mendekat. Berkali-kali dia meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah keputusan professional, dimana dia akan menggunakan pemuda itu untuk tugas akhirnya dan pemuda itu—yang sepertinya adalah penduduk lokal—bisa mengiklankan tempat tinggalnya agar lebih terkenal dan didatangi pengunjung. Lalu roda ekonomi bisa kembali hidup. Voala!

"a-anu"

Yushi merutuk dirinya sendiri karena sapaan 'jelek' yang dia keluarkan.

Ketika pemuda itu menoleh dan memperlihatkan senyuman, jantung Yushi rasanya seperti merosot.

"hai" katanya dengan suara semanis madu. Netra hitamnya menatap Yushi dalam, posisinya yang lebih tinggi membuat Yushi harus sedikit mendongak untuk bisa tenggelam dalam tatapan itu.

"um… itu…" Yushi sempat kehilangan akal, tapi dia kembali mengingatnya "aku Yushi dari jurusan Bisnis di Neo of Technology University. Um… aku dapat tugas untuk membuat desain web untuk promosi… kamu mau jadi model?"

Satu alis pemuda itu terangkat.

Brengsek. Gantengnya di luar nalar.

Bukan. Itu bukan suara hati Yushi.

Selagi Yushi merutuki diri sendiri, cowok itu agak memiringnya kepalanya dengan ekspresi bertanya "model?" tanyanya.

"iya! Model!" jawab Yushi cepat "mau nggak?"

"model itu apa?" tanyanya

Pertanyaan itu sukses membuat Yushi bengong sesaat. Tapi, yah, tempat ini memang jauh dari mana-mana—bisa jadi istilah 'model' memang terdengar asing di sini.

"seperti ini" Yushi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan salah satu project lamanya "kamu akan difoto buat jadi model. Biar banyak orang yang datang kesini"

"banyak orang akan datang?"  ulang pemuda itu, menatap Yushi penuh rasa ingin tahu "apa itu seperti undangan?"

"mungkin? Bisa dibilang begitu?"

"banyak orang akan datang?" ia ulang lagi

Semoga "iya…" jawab Yushi sedikit ragu. Bagaimanapun, Yushi tidak bisa menjamin takdir.

Pemuda itu mengangguk pelan "kalau begitu, aku mau"

"bagus!" Yushi hampir bersorak "kalau begitu, bagaimana jika kita bertemu besok?" Yushi akan meminjam kamera punya Jaehee—salah satu teman sekelompoknya yang jago fotografi.

"aku tidak bisa jika besok. Bagaimana jika malam ini?"

"malam ini?" ulang Yushi. Sebenarnya kelompok Yushi akan rapat dengan kepala desa untuk membahas rencana proyek mereka, tapi dihadapkan oleh senyum itu—senyum dengan lesung pipi—akal sehatnya langsung menyerah.

"boleh" jawab Yushi tanpa pikir panjang. Dia akan izin pada Sion dan Jaehee, mereka pasti setuju. Dua orang itu tidak pernah mengatakan tidak pada Yushi. Keduanya bisa menemui kepala desa, sementara Yushi akan menyelinap—menemui pemuda tampan ini untuk kebutuhan konten. Yap! Kebutuhan konten.

"di dermaga" kata pemuda itu.

Yushi mengangguk lagi "malam ini, di dermaga"

 

********

 

Model?” Sion mengulang kata itu untuk ketiga kalinya, nada suaranya naik setengah oktaf.

Yushi bersandar di ranjang hotel tempat mereka menginap bersama-sama, hotel inilah yang menjadi satu-satunya penginapan untuk tamu di wilayah itu. Yushi tampak sengaja menyibukkan diri menyiapkan sesuatu di layar poneselnya entah apa. Bisa jadi itu cuma peralihan agar dia tidak perlu melihat dua orang yang tampak tidak senang dengan idenya.

“Siapa dia?” tanya Jaehee curiga.

“Calon model.”

"namanya siapa?"

Yushi terdiam. Dia baru sadar kalau dia tidak bertanya. 

“Random guy?” tanya Jaehee dengan nada tidak percaya.

“…iya.” Dengan ragu, Yushi mengangguk.

Sion menutup laptopnya dengan bunyi klik yang terdengar seperti akhir kesabarannya. “Astaga. Kamu sadar nggak sih, ini tugas kelompok. bukan audisi drama picisan?”

“Tenang aja, aku udah punya konsepnya di kepala.”

“Konsep?”

“Model lokal, wajah desa. Real, authentic, powerful storytelling.” Yushi bicara cepat, seperti sedang pitching ide ke klien yang nggak eksis.

Jaehee menghela napas. “Oke, kita bisa anggap itu jadi opsi ide kita. Jadi, dimana kita ketemu orang itu? kapan mau ketemu? besok pagi? siang? malam?”

Yushi berusaha tampak sibuk dengan ponselnya saat dia menjawab. “Enggak bisa besok.” ujarnya dengan suara kecil

Sion memutar badannya cepat, menatap Yushi tajam. “Terus kapan?”

Yushi meringis, merasakan bahwa dia tidak boleh sembarangan memainkan kesabaran Sion yang tersisa “dia maunya malam ini”.

Sion mendesah panjang, nadanya mulai menyerupai dosen yang kehabisan cara menasihati mahasiswa keras kepala. “Yushi, kita bahkan belum wawancara kepala desa! malam ini kita sudah janjian. Wawancara kepala desa itu penting, Yushi” suara Sion terdengar sabar, tapi nadanya mulai menipis seperti benang yang siap putus.

“Data primer, ingat? Validasi?” tambah Jaehee sambil melirik catatan di tangannya.

“Validasi, iya. Tapi visual juga penting, Jae.” Yushi yang duduk di tepi ranjang hotel menatap layar ponselnya sambil mengetik sesuatu. “Aku tahu, makanya aku mau ketemu dia dulu.”

Jaehee menatap Yushi dengan ekspresi yang campuran antara bingung dan pasrah. “Kamu mau bilang ke dosen, ‘kami memilih random guy dari pinggir dermaga sebagai wajah kampanye desa wisata’? Gitu?”

“Kalimatmu bikin terdengar bodoh, padahal idenya jenius,” kata Yushi agak tersinggung.

Sion menepuk dahinya. “Yushi, ini bukan proyek iseng. Kita harus punya data yang bisa dipertanggungjawabkan.”

“Tapi kalian nggak ngerti. Kadang, inspirasi datang bukan dari data, tapi dari—”

“—dari orang ganteng random yang kamu temuin di jalan?” potong Jaehee, alisnya naik setengah senti.

Yushi diam sejenak, menatap ke luar jendela, lalu mengangkat bahu santai. “Mungkin.”

Sion meletakkan laptopnya agak keras. “Aku nyerah”

“Fine!” Yushi berdiri, meraih jaketnya yang tergantung di kursi. “Gini aja: aku bakal ketemu dia malam ini, cuma buat bujuk supaya besok mau ketemu kalian juga. Gimana?”

Jaehee saling pandang dengan Sion. Sion menggosok pelipisnya. “Dan kamu yakin itu aman?”

“Aman. Aku bukan anak kecil, Sion.”

“Justru itu yang bikin aku khawatir.”

Suasana kamar hotel mendadak sunyi, cuma suara kipas AC yang terdengar. Yushi menatap dua temannya, mencoba memasang ekspresi meyakinkan.

Dengan wajah memelas, Yushi memohon “please… Percaya aja dulu. Kalau ini berhasil, kita nggak cuma dapet nilai A, tapi juga bikin desa ini terkenal.”

Sion akhirnya mengangkat tangan menyerah. “Oke. Tapi kamu kabarin terus, paham?”

Yushi langsung berdiri dengan semangat “Siap!” katanya kemudian langsung melesat ke kamar mandi buat bersiap.

Pintu tertutup klik.

Sion menatap Jaehee, menghela napas berat. “Kita beneran bakal menyesal.”

 

*****

 

Yushi menarik resleting jaketnya sampai ke leher. Udara malam terasa menggigit, tapi bukan cuma karena angin laut. Ada sesuatu di dadanya yang berdebar aneh—campuran antara gugup dan ekspektasi bodoh yang coba ia tekan dengan berpura-pura fokus pada ponsel di tangannya.

Di ujung dermaga, sosok itu sudah menunggunya.
Berdiri tenang, membelakangi daratan, seolah bagian dari laut itu sendiri.

Angin malam membawa aroma asin dan lembab yang menusuk hidung. Di langit, bulan purnama menggantung bulat sempurna—perak, dingin, dan terlalu indah untuk malam sepi seperti ini. Cahaya bulan memantul di permukaan air, membuat riak-riak kecil berkilau seperti serpihan kaca.

Yushi berhenti beberapa langkah di belakangnya. “Anu…” suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksud.

Sosok itu menoleh. Dalam cahaya bulan, bayangan wajahnya dan pantulan cahaya laut berpadu dengan cara yang… berbahaya. Terlalu indah untuk sesuatu yang nyata. ditambah lagi angin laut malam yang menari seperti membelai halus rambutnya. Yushi merasa semakin tersesat dalam pesona magis yang tidak bisa dia jelaskan.

“Ah, kamu datang,” katanya dengan nada lembut, senyumnya menenangkan seperti ombak yang baru reda. “Yushi… kan?”

“Uh, iya. Tapi…” Yushi menggaruk tengkuknya. “Aku nggak tahu namamu.”

Mata almond itu menatap Yushi dalam penuh arti.

“Riku,” katanya, sedikit menunduk. “Panggil saja Riku.”

 

****

 

Di sisi lain desa, Sion dan Jaehee memenuhi janji mereka. Mereka duduk berhadapan dengan kepala desa di ruang tamu yang temaram. Lelaki tua itu tampak rapuh, seolah angin laut saja bisa meruntuhkannya. Namun, dari caranya duduk tegak dan menatap lurus, jelas bahwa tubuhnya masih menyimpan kekuatan yang menolak lapuk oleh usia. Tongkat di tangannya lebih seperti simbol kebijaksanaan daripada penopang.

Lampu minyak di atas meja memantulkan cahaya kuning lembut ke dinding bambu, menciptakan bayangan yang bergerak tiap kali angin laut menyusup dari jendela. Suasana hening hanya dipecah oleh suara cangkir jahe hangat yang diletakkan istri kepala desa di atas meja. Perempuan itu pun sudah sama tuanya—rambutnya seputih kapas, kulitnya keriput namun matanya masih jernih.

“Istriku tahun ini berumur sembilan puluh tiga,” ujar kepala desa dengan nada ringan, “sementara aku sendiri sudah sembilan puluh enam.”
Kalimat itu meluncur seperti selingan, membuat suasana wawancara jadi lebih hangat.

Jaehee dan Sion saling berpandangan, takjub.

“Rata-rata orang tua di desa ini bisa hidup di atas seratus tahun,” lanjut sang kepala desa. “Itu karena desa ini… diberkahi oleh duyung.”

Nada suaranya lembut, tapi mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan—campuran antara keyakinan dan rahasia lama yang tak ingin disentuh.
Ia pun mulai bercerita mengenai sejarah desa dan kepercayaannya pada putri duyung, dengan nada lembut seperti seorang kakek yang meninabobokan cucunya dengan legenda.

Setelah beberapa lama, kepala desa itu menatap kedua mahasiswa di hadapannya dengan mata yang jernih tapi tajam.
“Bukannya kalian bertiga?” tanyanya tiba-tiba sambil memicingkan mata.

Sion tersenyum kikuk. “Iya, Yushi. Dia… sedang ada janji.”

“Janji?” Kepala desa mengulang pelan, nada suaranya menurun—seolah sedang menimbang sesuatu.

“Dengan pemuda lokal,” jawab Jaehee cepat, sedikit gugup tanpa tahu sebabnya.

Kepala desa terdiam. Alisnya berkerut perlahan. “Pemuda?” gumamnya, seperti sedang mencicipi kata itu. “Di desa ini, kebanyakan pemuda sudah lama pergi merantau ke kota besar. Yang tersisa…”

Tatapannya melayang ke luar jendela, ke arah laut yang samar terdengar di kejauhan.

“…ya, kami-kami ini. Orang-orang muda dan kuat banyak yang memilih pergi karena tidak percaya dengan berkah duyung.”

Kata duyung itu menggantung di udara, menebarkan hawa dingin yang tak datang dari angin laut.

Sion dan Jaehee spontan saling berpandangan—bukan karena percaya, tapi karena perasaan aneh yang tiba-tiba merayap di antara mereka.

“Berkah duyung?” Jaehee mengulang pelan, hampir seperti bisikan.

Kepala desa hanya tersenyum samar, senyum yang tidak sepenuhnya menjelaskan apa-apa.

“Katanya, setiap tahun, akan ada hari dimana duyung naik ke darat” ucapnya perlahan, “ Kata kakekku itu untuk mencari pengantin”

Ia berhenti sejenak, menatap mereka bergantian.

“…tidak ada yang tahu kapan hari tepatnya" lanjut cerita sang kepala desa "yang kami tau, seseorang selalu menghilang tanpa kami sadari di malam bulan purnama setiap tahun. Karena itulah kami mematikan listrik di area dekat pantai dan dermaga, agar duyung tidak sampai ke perkampungan”

Hening.

Bahkan detak jam di dinding terdengar terlalu keras.

Sion merasakan bulu kuduknya berdiri.

Jaehee menunduk, mencatat sesuatu di bukunya dengan tangan yang sedikit gemetar.

 

*******

 

Riku…
Riku…
Riku…

Nama itu menggema di kepala Yushi seperti mantra. Setiap kali ia mengulangnya dalam hati, dadanya bergetar, dan denyut jantungnya seolah berdetak seirama dengan debur laut.

Bulan perak tergantung di langit, bulat sempurna, dingin, dan diam. Ombak kecil memecah di bawah dermaga, memantulkan cahaya lembut di antara papan-papan kayu lembab. Di sanalah Riku berdiri—punggungnya membelakangi daratan, seakan laut sendiri yang memanggilnya.

“Indah, kan?” suara Riku terdengar nyaris seperti bisikan, nyatu dengan angin.

Yushi lupa kenapa ia datang. Semua niat, semua kalimat yang disiapkannya untuk membujuk Riku jadi model… menguap.

“Iya,” gumamnya tanpa sadar.

Riku tertawa pelan. Matanya menyipit, lesung pipinya dalam—dan sekejap kemudian, dia melompat ke arah laut yang gelap. Air memercik tinggi, dan sekilas bayangan bulan bergoyang. Yushi sontak tersentak. Tapi kepala Riku muncul lagi beberapa detik setelahnya, rambutnya menempel di dahi, senyumnya terbit.

“Tidak apa-apa,” katanya dengan pandangan yang mengundang “aku ahlinya berenang.”

Ia berenang mendekat ke arah dermaga tempat Yushi berdiri, tubuhnya seperti menyatu dengan laut. Cahaya bulan memantul di kulitnya yang basah. Yushi seperti melihat keindahan yang tidak berasal dari dunia ini.

“Ayo sini,” ujarnya lembut, memanggil Yushi. Suaranya seperti datang dari jauh—tapi juga sangat dekat.

Yushi menatap mata itu, sepasang mata almond yang memantulkan bulan dan laut jadi satu. Ada kilau aneh di dalamnya, seolah ada sesuatu yang hidup di balik pandangan itu.

“Yushi,” bisiknya lagi dengan nada yang lebih halus, seperti bisikan angin laut “airnya tidak berbahaya.”

Entah kenapa, kaki Yushi bergerak sendiri. Ia melangkah ke tepi, lalu melompat ke arah Riku yang sudah membuka tangannya, bersiap menangkap.

Dinginnya air laut langsung menggigit kulitnya, tapi sebelum ia sempat panik, lengan Riku sudah menahan tubuhnya. Hangat. Teguh melingkari pinggang agar air laut cuma sampai sebatas dada.

“Tenang,” katanya, “aku di sini.”

Malam terasa begitu hening.

Laut tenang—terlalu tenang.

Yushi menatap wajahnya yang begitu dekat, lalu Riku menunduk sedikit, hampir menyentuh dahinya.

“Bulannya cantik,” ucap Riku lirih.

Yushi menelan ludah. Ia tahu ada arti lain di balik kalimat itu, tapi tak berani menebak. Kilat samar yang muncul di mata almond itu membuat sesuatu dalam perut Yushi berantakan. Sesuatu itu membuang segala pikiran rasional Yushi yang tersisa.

Bulan di atas mereka bergeser di permukaan air, menciptakan bayangan samar di antara riak. Laut dan langit seolah menyatu tanpa batas.
“Ini malam yang sempurna,” bisik Riku pada telinga Yushi.

Yushi tidak menjawab, pandangan matanya jatuh pada sepasang mata Almond yang sejajar dengannya. Kemudian, pandangannya turun, ke arah hidung mancung yang indah. Dan kembali jatuh lebih kebawah, ke arah bibir yang entah sejak kapan seperti mengundangnya.

Belum sempat mencerna apapun, bibir itu mendekat dan langsung menempel pada bibirnya. Yushi lantas membalasnya dengan kehangatan yang sama. Tangannya dia kalungkan di leher Riku—berusaha agar bisa lebih dekat lagi sebisa mungkin.

Rasanya seperti terkena sihir magis. Luar biasa. Detak jantung Yushi bergemuruh hebat, lebih kencang dari suara deburan ombak. Bibirnya sibuk memangut, mencari kehangatan sebanyak mungkin yang bisa dia dapatkan. Di sisi lain, Riku membalas semuanya, seperti memberikan air pada Yushi yang kehausan. Dia sama sekali tidak keberatan. Malah, Riku dengan senang hati memberikan yang Yushi inginkan.

Setelah beberapa saat, pagutan itu terlepas. Yushi berusaha keras bernafas, mengisi kembali paru-parunya yang seperti disedot habis. Riku yang melihat itu tertawa. Kemudian, dia lantas menempelkan dahinya yang basah ke dahi Yushi.

Rengkuhan di pinggang Yushi mengerat, Yushi bisa merasakan Riku yang merapatkan tubuh mereka seolah melarang untuk berjauhan. Tubuh Riku sama sekali tidak goyah oleh ombak, air laut seakan patuh. Sesaat, Yushi merasa ada suatu kejanggalan, tapi pikiran itu menghilang. Riku kembali mencium bibirnya lembut dan dalam. Kali ini lebih hangat, membuat seluruh tubuh Yushi gemetar. Tapi anak itu sama sekali tidak menolak dan justru menerima semuanya.

Riku menatapnya lurus. Tatapannya dalam, memerangkap.
Laut di sekitar mereka bergetar halus—entah karena arus, entah karena sesuatu yang lain. Dan di antara detik yang menggantung itu, Yushi tidak tahu lagi apa yang nyata dan apa yang tidak.

Kembali, Yushi merasakan Riku pada bibirnya dan matanya terpejam. Kali ini, lebih dalam. Ditambah dengan kedua tangan Riku yang merengkuh tubuhnya seolah jarak mereka harus lebih dekat dari itu. Yushi melingkarkan tangannya di leher Riku dan membalas dengan afeksi yang sama, seperti orang kehausan.

Pelan, Yushi merasakan dinginnya air laut mulai naik hingga menyentuh bahu, kemudian dagu, dan semakin naik ke atas selagi Riku masih memberikan hangatnya.

 

****

 

Koper sudah setengah tertutup. Suara ritsleting terdengar lirih di kamar hotel yang kini terasa terlalu besar untuk dua orang.

Sion duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Di meja, ada surat dari kampus yang sudah beberapa kali dilipat. Kalimat singkat, formal, tapi terasa seperti palu penghakiman :

“Program magang dihentikan sementara hingga situasi dinyatakan aman.”

Jaehee diam saja. Tangannya sibuk melipat pakaian ke dalam koper, tidak ada satupun dari mereka yang mau memecah keheningan saat itu. Tapi keduanya sama-sama penuh akan penyesalan.

Andaikan saja waktu mereka menghentikan Yushi…

atau

Andaikan saja waktu itu salah satu dari mereka mengikuti Yushi...

Sejak malam itu, Yushi dinyatakan menghilang. Seluruh warga desa sudah membantu mencari dan hasilnya nihil. Saat pihak kampus mendengar berita ini, situasi menjadi tidak terkendali. Sekarang, Jaehee dan Sion dipaksa untuk mundur.

"sepertinya teman kalian yang terpilih" perkataan kepala desa malam itu membuat situasi makin runyam.

Lalu, ketika Jaehee mengangkat tumpukan terakhir dari baju Yushi yang tertinggal… sesuatu terjatuh ke lantai.

Sebuah benda kecil, berkilau aneh di bawah lampu kamar.

Mendengar suaranya, Sion menoleh.

“Apa itu?”

Jaehee diam dan meraih benda yang terjatuh itu, menunjukkannya pada Sion. “Entah… kayak… sisik?”

Sisik itu tipis seperti kaca, memantulkan cahaya perak yang lembut. Dan di sela lipatan baju, Jaehee menemukan satu benda lagi-Mutiara, bulat sempurna, tapi dingin sekali saat disentuh.

Ia menatapnya lama.

Hening menelan kamar itu.

Hanya bunyi ombak samar dari luar jendela yang memecah keheningan. Ombak yang datang dari laut yang sama, yang tidak pernah mengembalikan apapun yang sudah diambilnya.

 

 

******

 

 

Laut tidak pernah benar-benar menyimpan rahasia.
Ia hanya menunggu seseorang cukup berani untuk mendengarkannya.

Mungkin Yushi mendengarnya... terlalu dalam, hingga ia tidak pernah kembali.

Notes:

Thank You for Anon who bless us such a prompt!

Sebenarnya, aku berniat cuma jadi pembaca di wishfest kali ini. haha... tapi waktu liat prompt ini, kayaknya aku terbuai sama nyanyian duyung dan langsung regist buat claim prompt. maaf ya kalau aku mengubah beberapa alur, tapi aku beneran pengen nulis ini...

Waktu pertama liat soal "Duyung", cerita ini langsung terbayang di benakku. Entah kenapa, jiwa penulis yang kukira udah tidur lama tiba-tiba bangun. aku berniat membangun nuansa mistis dimana pembaca yang menentukan endingnya.

is it happy? is it sad? idk, but i write it with happy heart!

Thank you buat yang mau membaca cerita ini, terimakasih juga buat Wishfest yang sudah mengadakan acara, terimakasih buat Wishies member terutama Yutti dan Riku yang jadi perfect cast buat cerita ini, terimakasih untuk semuanya pihak yang memberikan kudos dan komen.