Chapter Text
Langit di atas Hanyang berwarna kelabu pucat, seolah abu dari tungku-tungku dapur rakyat jelata telah naik ke angkasa dan menutupi sinar matahari musim gugur. Angin membawa aroma arang, debu, dan bubur beras yang mendidih di tungku besar di ujung jalan. Di kejauhan, lonceng kuil berdentang pelan, gema logamnya terpantul di antara rumah-rumah reyot yang berdiri miring di tepi gang becek. Hari baru dimulai, tapi bagi banyak orang di kota itu, pagi hanyalah perpanjangan dari malam yang panjang.
Song Eunseok duduk bersila di atas lantai tanah liat, di dalam bangunan kecil yang dulunya kandang kuda. Di hadapannya, sebaris anak-anak menulis di papan kayu dengan arang murahan. Dinding yang lapuk dipenuhi kertas berisi huruf-huruf hanja yang ia tulis semalam, sebagian terlepas tertiup angin yang menyelinap dari celah atap.
Pakaian yang ia kenakan, hanbok lusuh berwarna krem, mungkin dahulu terbuat dari sutra halus, tetapi kini warnanya kusam, ujungnya sobek, dan lengannya ternoda abu. Meski lusuh, cara ia menegakkan punggung dan mengikat goreum-nya masih menunjukkan asal-usulnya. Rambutnya diikat seadanya dengan tali kain, tanpa hiasan, tanpa topi gat.
Tangannya cekatan membagikan kertas bekas. “Tulis seperti ini,” ujarnya lembut, menggoreskan huruf 仁, in, kebajikan. “Artinya, memperlakukan manusia dengan hati manusia.”
“Bukan im, tapi in,” katanya lagi pada bocah lelaki yang baru belajar membaca. Anak itu menggigit bibir, lalu menulis ulang dengan tangan kecil yang kotor oleh debu. Senyum tipis terbit di bibir Eunseok, meski matanya menyimpan lelah yang dalam. Ia belum tidur semalaman, terlalu banyak surat permohonan bantuan yang harus ia tulis untuk disampaikan kepada kepala distrik.
Menjelang tengah hari, suara panci besar dari dapur sukarelawan mulai terdengar di luar. Beberapa ibu yang terlalu muda berbaris membawa mangkuk kayu, menunggu giliran mendapatkan semangkuk juk hangat. Uapnya melayang ke udara, bercampur dengan aroma hujan pertama yang turun tipis, seperti tirai halus yang menyelimuti gang.
Eunseok menatap ke luar jendela kecil. Di jalan becek itu, genangan air memantulkan langit abu-abu yang tua. Dalam diam, ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah semua yang ia lakukan ini cukup untuk menebus dosa kelasnya yang dulu hidup dari kerja keras orang-orang seperti mereka.
Ia tengah membungkuk memeriksa tulisan seorang murid ketika pintu kayu berderit terbuka. Sebuah bayangan panjang jatuh ke lantai. Awalnya ia mengira itu ibu yang datang menjemput anaknya, tapi langkah itu terlalu tenang, terlalu terkendali. Ia menoleh, dan tangannya berhenti di udara.
Di ambang pintu berdiri seorang pria berbalut durumagi biru tua berkilap. Wajahnya sebagian tertutup tudung kasar, seperti cendekiawan keliling yang datang untuk memberi sumbangan. Tapi Eunseok mengenali cara berdirinya—tegak, tetapi tidak kaku; tenang, namun penuh kendali.
Hanya satu orang yang memiliki tatapan seperti itu.
Ia berdiri perlahan. Jantungnya berdetak tak beraturan. Tangannya menggenggam ujung bajunya agar tidak gemetar.
Mereka saling menatap beberapa detik. Sunyi menggantung di antara mereka, lalu dari bibir Eunseok keluar bisikan pelan, nyaris tak terdengar.
“Apakah ini saatnya?”
Kalimat itu meluncur begitu saja—bukan pertanyaan tentang waktu, melainkan tentang takdir. Ia tahu mengapa lelaki itu datang. Ia tahu hari ini akan tiba, cepat atau lambat.
Pria itu menurunkan tudungnya. Cahaya sore yang menembus awan jatuh ke wajahnya: pucat, tenang, dengan sorot mata yang tampak lebih dalam dari yang diingat Eunseok.
“Sudah terlalu lama, Eunseok-ah,” kata Putra Mahkota Jung Sungchan.
Menjelang petang, anak-anak telah pulang. Di luar, suara kehidupan rakyat perlahan mereda. Di dalam ruangan sempit itu, hanya ada pelita minyak yang berkelip, menyoroti dua sosok yang duduk berhadapan di atas lantai tanah.
Eunseok menuangkan teh ke dua cangkir tanah liat. Teh itu murah, rasanya hambar, jauh dari teh hijau istana yang dulu mereka minum di taman musim semi. Tapi Sungchan menerimanya seperti menerima sesuatu yang sakral.
“Aku tak menyangka Seja akan datang ke tempat seperti ini,” kata Eunseok, suaranya datar tapi bergetar halus. “Apakah tak takut pengawalmu kehilangan pewaris tahta di jalan-jalan lumpur?”
Sungchan tersenyum tipis. “Aku lebih takut kehilangan seseorang yang berarti bagiku.”
Eunseok menatapnya lama. “Kau masih pandai bicara.”
“Tidak secerdas dirimu,” balas Sungchan perlahan. “Tapi aku belajar. Dari kesalahan, dari diam, dari setiap jeritan rakyat yang tak sampai ke istana.”
Ia menarik napas dalam. “Eunseok, aku datang bukan sebagai putra raja. Aku datang sebagai Jung Sungchan, lelaki yang dulu berjanji akan melindungimu.”
Eunseok memalingkan wajah. “Melindungiku? Kau tahu berapa banyak yang mati di bawah nama keluargamu? Petani yang tak mampu bayar pajak, budak yang mencoba melarikan diri—semuanya digantung di pasar sana, di bawah lambang naga kerajaanmu.”
Sungchan menunduk. “Aku tahu.”
“Tidak,” potong Eunseok, nada suaranya naik. “Kau tidak tahu seperti apa rasanya menatap anak kelaparan yang ibunya dihukum cambuk karena mencuri gandum. Kau tidak tahu bagaimana rakyat memandang istana—bukan sebagai tempat keadilan, tapi sebagai tempat kutukan.”
Sungchan diam cukup lama. Ketika akhirnya ia menatap kembali, matanya redup, tapi teguh. “Karena itu aku datang. Untuk meminta sesuatu darimu.”
“Apa lagi yang bisa diminta seorang pangeran dari rakyatnya?”
“Aku datang bukan untuk rakyatku, tapi untuk diriku sendiri.” Ia berhenti sejenak, lalu berkata pelan, “Aku datang untuk meminta agar kau menikah denganku.”
Keheningan turun. Udara di dalam ruangan seakan menahan napas.
“Kau masih mengingat itu?” tanya Eunseok, hampir berbisik.
“Bagaimana mungkin aku lupa? Pertunangan kita disetujui ketika kita berumur lima belas tahun. Kau menolaknya.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku memintanya dengan caraku sendiri. Bukan sebagai perintah, tapi sebagai permohonan.”
Eunseok tersenyum miring. “Permohonan dari putra mahkota?”
“Dari Jung Sungchan,” katanya tegas. “Bukan gelar, bukan istana. Hanya aku.”
Eunseok menatap keluar jendela. Hujan telah reda, dan matahari condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan di atap-atap reyot. “Kau tahu apa yang keluargamu lakukan pada mereka? Mereka kelaparan karena pajak para menteri yang kau panggil guru. Mereka kehilangan anak karena kerja paksa atas nama tahta yang akan kau warisi.”
Sungchan tak membantah. “Aku tahu.”
“Kau tahu, tapi tetap ingin mempertahankan sistem itu.”
“Aku ingin memperbaikinya.”
Eunseok tertawa pendek. “Kau tak bisa memperbaiki sesuatu yang sudah busuk sampai akar.”
“Kalau aku meninggalkannya, siapa yang akan mencoba?” tanya Sungchan. “Seseorang harus masuk ke dalam untuk mengubahnya. Dari luar, semua orang hanya bisa geram. Tapi dari dalam, aku mungkin bisa membuka celah.”
“Celah?” Eunseok berbalik. “Setiap orang yang mencoba membukanya berakhir mati. Bahkan ayahmu membunuh pamannya sendiri karena hal yang sama!”
Sungchan menatapnya dengan kesedihan yang dalam. “Aku tahu dosa keluarga ini. Tapi justru karena itu, aku tak ingin menjadi bayang-bayang mereka.”
Hening kembali menyelimuti. Di wajah Sungchan, Eunseok tak lagi melihat kesombongan, melainkan kelelahan. Lelaki itu bukan lagi pangeran muda yang ia kenal, melainkan seseorang yang telah berdamai dengan penderitaan.
Suara langkah kuda terdengar di kejauhan. Mungkin prajurit yang berpatroli untuk mencari sesuatu yang bisa dipajaki. Sungchan menoleh sekilas, lalu menatap kembali ke arah Eunseok. “Aku tidak datang hanya untuk meminta tanganmu,” katanya lembut. “Aku datang untuk memintamu berdiri di sisiku. Aku ingin kau menjadi orang yang mengingatkanku mengapa aku berjuang.”
Eunseok memejamkan mata. “Dan jika kau gagal? Jika istana menelan kita bulat-bulat seperti semua yang datang sebelummu?”
“Kalau aku jatuh,” jawab Sungchan, “setidaknya aku jatuh dengan seseorang yang kupercaya di sisiku.”
Eunseok menatapnya lama. “Kau meminta terlalu banyak.”
Sungchan menunduk sedikit. “Aku tahu. Tapi aku tidak tahu cara lain untuk menebus nama keluargaku selain menjadikannya alat untuk memperbaiki yang rusak.”
Eunseok menatap wajahnya lama. Ia melihat kejujuran yang telanjang, getir, dan tanpa perisai. Ia melihat anak laki-laki yang dulu memandangnya dari balik pohon aprikot, bukan pewaris tahta dengan beban kerajaan di pundak.
Langit mulai jingga. Di luar, anak-anak yang tersisa duduk di tanah, menyuapkan bubur ke mulut mereka, tertawa dalam cahaya matahari terakhir. Eunseok menatap mereka melalui jendela. “Mereka tidak butuh janji besar,” katanya pelan. “Hanya butuh makan hari ini. Tidur tanpa takut, dan tahu bahwa besok masih ada.”
Sungchan berdiri di sampingnya. “Kau pikir aku tidak tahu itu?”
“Kau tahu,” jawab Eunseok, “tapi belum tentu kau merasakannya.”
“Mungkin tidak,” ujar Sungchan, “tapi setiap kali kulihat mereka dari jendela istana, aku semakin muak dengan dinding-dinding itu.”
“Dinding itu melindungimu.”
“Dan itu sebabnya aku ingin meruntuhkannya.”
Nada suaranya begitu pelan hingga hampir seperti doa. Eunseok menatapnya. Di mata Sungchan, ia melihat cahaya yang bukan berasal dari pelita.
“Selama ini orang bilang perubahan datang dari luar,” lanjut Sungchan. “Tapi suara rakyat di luar hanya gema bagi penghuni istana. Aku ingin suara itu melukai telinga semua orang di aula raja.”
Eunseok menarik napas panjang. “Dan kau pikir kau bisa melakukannya sendirian?”
“Tidak,” jawab Sungchan. “Karena itu aku datang padamu.”
“Kau memintaku untuk masuk ke istana. Hidup di antara mereka yang kuanggap musuh dan menganggapku musuh.”
“Aku memintamu menjadi jembatan antara mereka dan aku,” kata Sungchan. “Aku tak butuh uibin yang pandai menyelenggarakan pesta-pesta meriah. Aku butuh seseorang yang tahu kapan aku mulai tersesat.”
Eunseok menunduk. Hatinya berdenyut keras. “Bagaimana kalau aku gagal menjagamu tetap jujur? Bagaimana kalau aku hanyut bersamamu?”
“Maka ingatlah siapa dirimu hari ini,” jawab Sungchan. “Orang yang berdiri di sini, di antara arang dan bubur jelai, mengajar anak-anak tanpa nama. Jangan ubah itu, bahkan setelah kau menjadi milikku.”
Kata-kata itu membangunkan sesuatu yang lama tertidur dalam dirinya. Sesuatu yang dulu percaya bahwa dunia masih bisa diperbaiki.
Suara burung cabak terdengar dari kejauhan, pertanda malam mendekat. Langit berubah jingga tua. Bau kayu terbakar memenuhi udara.
Eunseok menambahkan kayu ke tungku. “Aku pikir jika menolak istana, aku bisa menebus dosa keluargaku sendiri.”
Sungchan mendekat. “Dan apakah kau merasa tertebus?”
“Tidak. Aku masih melihat anak-anak mati kelaparan setiap musim dingin. Seolah apa pun yang kulakukan tak pernah cukup.”
“Mungkin karena kita berjuang sendirian. Kau di luar, aku di dalam. Dua arah yang saling menjauh.”
“Dan sekarang kau ingin menyatukannya?”
“Ya.”
Sunyi. Hanya suara api berderak di tungku. Eunseok menatap wajah Sungchan yang diterangi cahaya oranye. Lelaki itu bukan lagi anak istana yang ia kenal, tapi juga bukan penguasa yang haus kuasa. Ia berdiri di antara dua dunia, dan entah mengapa, dunia itu tampak mulai bergeser.
“Aku tidak akan menjadi boneka politikmu,” kata Eunseok akhirnya.
Sungchan mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan aku tidak akan diam ketika kau salah.”
“Itu sebabnya aku membutuhkanmu di sisiku,” balas Sungchan cepat. “Aku tidak butuh pengikut, Eunseok. Aku butuh penantang.”
Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata lagi, hanya udara yang tebal dan panas tungku yang bergoyang bersama cahaya.
Sungchan mengulurkan tangan. “Ini akan sulit. Tapi aku ingin kau di sana. Sebagai orang yang menjaga agar aku tetap melihat rakyat, bukan mahkota.”
Ia menarik napas, lalu menatap mata Eunseok dengan tenang.
“Sebagai pria yang akan menjagaku tetap jujur. Sebagai orang kedua paling berkuasa di Joseon.”
Kalimat itu menghantam dada Eunseok seperti kenangan masa muda yang hidup kembali. Ia mengingat Sungchan kecil di bawah pohon aprikot, berkata ingin menjadi raja yang bisa menulis sendiri nama-nama rakyat miskin yang dibantunya. Dan kini, lelaki itu berdiri di hadapannya, menawar masa depan bukan dengan janji, tapi dengan kebenaran.
Eunseok menghela napas panjang. “Kalau aku setuju,” katanya pelan, “aku akan memikul kebencian rakyat, kebencian bangsawan, bahkan mungkin kebencian diriku sendiri.”
Sungchan menatapnya lembut. “Maka biar aku menanggung sisanya.”
Hening. Cahaya senja terakhir menembus celah dinding, memantulkan siluet mereka di lantai tanah. Eunseok menatap tangan Sungchan yang masih terulur. Ia tahu hidupnya tak akan sama jika meraihnya. Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa takut.
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh telapak tangan Sungchan. Hangat. Nyata.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “mari kita mulai.”
Sungchan menatap wajah Eunseok lama-lama. Lalu, perlahan, ia menangkup pipi yang masih bersemu merah dan menunduk. Bibirnya mendarat di kening Eunseok dengan lembut, seperti janji yang disegel oleh malam yang baru turun.
Perasaan itu tidak pernah padam. Ia tumbuh, mengakar, dan kini memenuhi seluruh dirinya. Ia tahu, apa pun yang menanti, ia akan melindungi orang ini dengan segala kekuatan yang ia miliki, bahkan jika harus mempertaruhkan segalanya.
Eunseok yang lebih dulu menariknya dalam pelukan. Tubuh mereka saling menemukan dalam hangat yang lama dirindukan, seperti rumah yang tak pernah benar-benar ditinggalkan. Mereka bertahan dalam posisi itu dalam kurun yang cukup lama dengan latar belakang musik dari pengamen yang menyanyikan balada tentang kepala seorang petani gandum yang dipenggal karena menolak memberikan hasil panen terakhirnya kepada istana.
Di luar, tawa anak-anak pecah lagi, bercampur dengan langkah kaki para ibu yang membereskan panci bubur. Hari berganti malam. Langit Hanyang berwarna merah tembaga sebelum tenggelam ke ungu tua.
Keduanya berdiri di ambang pintu, menatap kota yang tenggelam dalam cahaya terakhir. Sungchan memandang anak-anak yang bermain di lumpur, lalu berkata pelan, hampir seperti doa, “Suatu hari nanti, mereka akan hidup di negeri yang tak lagi takut pada lapar.”
Eunseok menatapnya, kemudian pada tangan yang masih menggenggamnya. “Suatu hari nanti,” ujarnya, “kalau kita cukup kuat untuk tidak menyerah.”
Senja menelan suara mereka. Di tengah perkampungan miskin dan berdebu itu, dua pria berdiri berdampingan, menatap arah yang sama. Dunia masih gelap, tetapi di antara mereka, cahaya kecil mulai menyala. Cahaya yang mungkin tak akan lama, namun cukup untuk menandai permulaan.
