Actions

Work Header

The Guardian of Seasons

Summary:

Kau tahu mengapa salju tak pernah turun di khatulistiwa?

Karena di sanalah, seorang pangeran pernah memanah matahari demi menyelamatkan kekasihnya.

Work Text:

Sepasang kereta luncur anjing melesat di bawah pendar cahaya aurora.

Kereta pertama ditarik oleh enam ekor Alaskan malamute berbulu hitam.

Kereta kedua berlari di belakang.

Ditarik oleh sekelompok husky putih yang bergerak serentak di bawah langit hijau keemasan.

Pangeran Heeseung berdiri di belakang sebagai pengendali kereta yang pertama.

Jubah bulunya terkibas-kibas oleh angin kutub yang bercampur dengan embun es.

Heeseung adalah putra sulung Ratu Chloe—penguasa Kerajaan Kutub Utara—dan saat ini, mereka tengah menerima tamu istimewa.

Duduk di depan Heeseung dalam kereta yang sama, Sunghoon dari Kerajaan Kutub Selatan terlihat gugup melihat suasana di sekelilingnya.

Ia belum pernah sekali pun pergi berburu.

Saat Ratu Chloe meminta Sunghoon pergi bersama ketiga anaknya, ia tak bisa membantah.

Takut dianggap tak menghargai tuan rumah.

"Sunghoon, jangan takut. Semua aman di sini."

Seolah bisa membaca benak Sunghoon, Heeseung berkata untuk menenangkannya.

Sebagai seseorang yang hanya terbiasa melihat anjing laut dan penguin di Selatan, Sunghoon beberapa kali terkejut saat melintasi rusa kutub yang tengah mencari makanan.

Habitat binatang liar di Utara sungguh berbeda.

Sunghoon tak yakin bagaimana menghadapi mereka tanpa ada Heeseung di sisinya.

"Lihat itu."

Sunghoon menoleh. "Apa?"

"Di sana."

Heeseung tersenyum saat tamunya yang berkulit sepucat salju, dengan bibir semerah darah, dan rambut sehitam arang itu jadi makin gugup saat seekor beruang kutub melintas di kejauhan.

"A-apa dia melihat kita?" tanya Sunghoon panik.

Heeseung mengangguk, tapi ia berkata jika saat ini tak ada yang bisa menandingi kecepatan kereta mereka.

Buktinya, kedua adik Heeseung—Jungwon dan Ni-Ki di kereta belakang—masih bisa melewati lembah-lembah salju sambil tertawa-tawa.

Mereka beberapa kali mengatakan agar Heeseung melambat, tapi kakaknya yang lebih fokus pada sang tamu tak mendengar adiknya bicara apa.

"Kami akan memperlihatkan cara kami berburu," Heeseung kembali berkata dengan suaranya yang lembut dan sopan. "Ratu Selen berkata jika kau suka makan daging."

"Aku tidak begitu pemilih soal makanan," seolah tak mau merepotkan, Sunghoon menyangkal.

"Apa berburu tanpa pasukan tidak berbahaya, Heeseung? Kudengar, jarang ada yang selamat kalau lawannya adalah beruang."

"Kau benar." Heeseung menanggapi tanpa merendahkan. "Pengetahuanmu sangat luas."

Sunghoon tak berbalik badan meski dipuji.

Masih terlalu tegang mengawasi punggung anjing yang berlari-lari.

Heeseung mengucapkan kata 'haw', membuat anjing-anjing itu berbelok ke kiri, menembus kabut salju yang lebih tebal.

"Sunghoon, jika kau belum lelah, kami ingin memperlihatkan sesuatu yang lain," ucap Heeseung. "Kau masih ingin lanjut atau kembali ke istana?"

Dari caranya bicara dan memilih kata, jelas Heeseung adalah seseorang yang sangat hati-hati dalam bersikap.

Mungkin, sejak dulu, ia memang dididik oleh Ratu Chloe sebagai calon raja.

Tak hanya gerak-geriknya yang sangat terukur, cara Heeseung memperlakukan orang lain adalah cerminan dari pendidikan moral yang tak bisa dipandang sebelah mata.

"Adik-adikku sangat senang berburu," kalimat Heeseung yang hangat kembali mengusik lamunannya. "Beri mereka kesempatan untuk membawakanmu rusa kutub yang lezat. Mereka menyukaimu sejak kau datang ke istana kami."

Seumur hidup, seingat Sunghoon, rasanya belum pernah ia dipuji setulus ini.

"Ah! Aku... juga menyukai mereka."

Sunghoon rikuh, tidak terbiasa menghadapi seseorang yang begitu pandai menjaga tutur kata.

Di istananya sendiri, Kerajaan Kutub Selatan, Sunghoon lebih banyak mendengar sindiran dan cacian dari ibu tirinya—Ratu Selen—terlebih setelah ayahnya, yang katanya sangat menyayanginya, meninggal dunia.

Karena itu, diperlakukan seperti perhiasan berharga oleh tiga kakak beradik dari negeri Utara yang jauh dan asing... rasanya seperti mimpi.

"Heeseung, apa beruang kutub bisa dimakan?"

Sifat Sunghoon yang sangat pemalu membuat Heeseung sedikit harus membungkuk karena suara Sunghoon begitu pelan.

"Oh. Bisa."

"Bagaimana rasanya? Aku penasaran."

Heeseung terdiam.

Sunghoon langsung melarikan mata saat pandangan mereka bertumbukan.

"Ayo berhenti. Kita akan memanah buruan di sini. Kau jangan jauh-jauh dariku, ya."

Heeseung mengucapkan kata "whoa" yang membuat rombongan malamute-nya mengerem langkah mereka di tengah hamparan salju.

Jungwon dan si bungsu Ni-Ki ikut turun, langsung menghampiri Heeseung yang jelas sekali tak mau jauh-jauh dari Sunghoon.

"Aku menjaganya karena dia tamu kehormatan Ibu." Cuma itu pembelaan Heeseung saat Ni-Ki menggodanya. "Ini pertama kali Sunghoon berkunjung ke Utara."

Si bungsu Ni-Ki adalah pangeran yang paling ceria.

Ia tertawa-tawa, menyerahkan sebilah pedang pada Sunghoon, berkata penuh canda, "Untuk menjaga dirimu dari rayuan kakakku."

Bingung, tangan Sunghoon gemetar karena ini pertama kali ia menggenggam senjata.

Ia tak pernah diajari bertarung.

Jangankan bertarung, membantah sedikit saja, Sunghoon bisa dikurung oleh ibu tirinya.

"Ayo, kita sembunyi di balik tebing salju."

Jungwon dan Ni-Ki langsung berpencar.

Sunghoon tetap berada di belakang tubuh Heeseung seolah pria itu mengandung magnet yang tak bisa ia jelaskan.

"Apa kau takut?" Heeseung menatapnya. "Rusa kutub cukup aman untuk didekati."

"Aku... tidak takut," Sunghoon berbohong.

Tapi tangannya mencengkeram kuat bagian belakang jubah Heeseung.

"Sungguh, aku tidak takut."

Heeseung mengulum senyum. Maklum.

Ia menjaga Sunghoon agar tetap berada di belakang tubuhnya.

Sementara ia sendiri telah berjongkok di balik tebing, mengawasi kedua adiknya yang terlihat serius menunggu rusa.

Ketika buruan yang dinanti telah melintas, anak panah Ni-Ki langsung melesat—menikam perut si rusa betina.

"Hore! Kena!" Pangeran bungsu bersorak senang.

Ia menghampiri buruannya yang telah tergeletak di hamparan salju.

"Wohooo! Hari ini kita pesta daging!"

Jungwon mengacungkan jempolnya.

Heeseung sendiri masih diam dan tak mau mengganggu mereka.

"Kau sengaja mengalah ya, Heeseung?"

Heeseung menggeleng, "Rusa itu bukan milikku."

Sunghoon ikut diam.

Lalu Jungwon berteriak, "Aku juga dapat!!!"

Ia berlari senang.

Anak panahnya menancap di perut tengah seekor rusa berbobot lebih dari dua ratus kilogram.

"Punya Kakak lebih gemuk!" Ni-Ki berseru kesal. "Kenapa rusaku lebih kecil!? Ah! Tidak adil!"

"Tenang. Kita bagi dagingnya untuk makan bersama," Jungwon merangkul pundak adiknya. "Atau bilang saja pada semua orang kalau rusaku itu milikmu. Ya?"

Lagi-lagi, percakapan mereka membuat Sunghoon terperangah.

Sesayang apa Jungwon pada adiknya hingga rela jika Ni-Ki mengakui buruannya?

"Kami diajari untuk mengalah dan mundur jika harus," Heeseung menjelaskan seolah bisa membaca benaknya. "Kebahagiaan orang lain adalah kehormatan besar untuk kami."

Tak sampai semenit, Jungwon dan Ni-Ki sudah kembali bersembunyi.

Tiga ekor rusa kutub melintas lagi.

Mereka memberi isyarat pada Heeseung untuk membidik sekarang.

Namun, Sunghoon mengerutkan kening karena Heeseung malah membiarkan rusa itu pergi.

Heeseung hanya terus mengamati ujung tebing es di depan sana tanpa berkedip, seperti menunggu sesuatu yang tak muncul-muncul juga.

"Ada apa?" Sunghoon memicingkan mata untuk melihat ke arah yang sama.

"Heeseung, ada rusa lagi," ia memberitahu pada sang pangeran yang masih diam.

"Kakak! Tunggu apa lagi?!" Ni-Ki berteriak. "Bidik rusanya sekarang!"

Heeseung tetap bergeming.

Ia terlalu tenang untuk ukuran seorang pemburu.

Sifatnya yang tak tergoyahkan itu benar-benar jadi pertanyaan besar untuk Sunghoon yang masih merunduk di belakang tubuhnya.

Satu rusa lewat lagi—dan sia-sia.

Heeseung tak menggubrisnya sama sekali.

"Heeseung, kau sudah melewatkan kesempatan untuk dapat buruan."

"Aku tidak memburu semuanya," kata Heeseung. "Aku hanya membidik apa yang aku inginkan."

Tanpa aba-aba, dengan busurnya yang berwarna emas, Heeseung tiba-tiba melesatkan anak panah ke atas tebing.

Senjata itu menembus udara penuh kabut, terbang dalam posisi sedikit melengkung di bawah langit penuh cahaya aurora.

"Aku mau naik ke tebing. Kau tunggu di sini."

"Aku ikut!"

"Jangan, Sunghoon. Bahaya."

Heeseung menggenggam busurnya dan berlari.

Tak butuh waktu lama, ia telah menyeret seekor beruang kutub dengan bobot setengah ton, turun dari tebing salju.

"Katamu kau penasaran."

Heeseung meletakkan buruannya di depan Sunghoon dengan begitu bangga.

"Ini hadiah selamat datang untukmu," ia berujar dengan mata berbinar-binar. "Tidak seberapa, tapi semoga kau mau menerimanya."


"Kalian bersenang-senang semalam?"

Ratu Chloe bertanya pada ketiga putranya dan Sunghoon, saat mereka duduk di meja sarapan.

"Kata Ratu Selen, Sunghoon kembali sangat larut sampai beliau khawatir."

Sunghoon mengunyah apel dalam diam.

Ia duduk di sisi Ni-Ki yang terus-terusan menambah makanan untuknya, sementara Heeseung yang berhadapan dengannya, tak henti-hentinya mencuri pandang.

Sunghoon tak ingin terlalu percaya diri.

Namun rasanya, mustahil kalau dibilang Heeseung tak menaruh hati padanya.

Hatinya terbaca sangat jelas sampai Sunghoon merasa ada yang salah dengan selera pria itu.

Heeseung sempurna.

Dia calon raja.

Tidakkah aneh jika dia suka pada seseorang yang tak punya keahlian apa pun sepertinya?

"Kak Heeseung memanah seekor beruang demi dia, Ibu," Ni-Ki menunjuk Sunghoon yang terlihat salah tingkah. "Bagaimana kalau Ibu segera resmikan saja mereka berdua?"

Sunghoon terbatuk pelan.

Mata Ratu Selen langsung memicing di bawah alis hitam yang melengkung keberatan.

"Kalian baru kenal tiga hari," suaranya ditekan.

Sunghoon tak pernah mendengar ibu tirinya bicara selembut itu sebelumnya.

"Jangan buru-buru. Bersenang-senang saja dulu."

"Ratu Selen benar," ucap Ratu Chloe. "Heeseung, kau harus cukup bijak untuk memilih kapan akan menikah. Menjaga dan membahagiakan seseorang tidak semudah itu."

"Aku tidak mengatakan apa pun tentang pernikahan, Ibu," Heeseung berkata. "Tapi... jika Sunghoon mau mencoba dekat denganku, aku tidak akan keberatan."

Sunghoon berhenti memotong apelnya.

Tertegun, menatap Heeseung yang sekarang tak berani meliriknya.

"Ah... Kerajaan kita adalah sahabat, Ratu Chloe. Tentu aku senang kalau Heeseung menawarkan diri untuk dekat dengan Sunghoon-ku...," Ratu Selen menegakkan duduk. "Tapi menikah tidak sesederhana itu. Ini bukan cuma urusan dua orang. Ini ikatan besar antara dua kerajaan."

"Aku yakin Heeseung paham soal itu," Ratu Chloe tersenyum bijak. "Mari lanjut makan."

Pembicaraan berat itu disudahi.

Heeseung menyadari jika Sunghoon mulai menggigit bibir bawah berkali-kali.

Sejak tadi hanya dia yang tak pernah ditanya.

Padahal, jika ini tentang masa depannya, seharusnya Sunghoon jadi yang pertama berhak memutuskan untuk mau atau tidak.

"Ni-Ki. Cukup. Jangan memberinya buah-buahan lagi kalau dia tidak minta."

Heeseung menegur adiknya yang masih semangat menumpuk makanan di piring Sunghoon.

"Yah... tapi kan ini enak! Dia harus coba!"

"Ni-Ki. Cukup."

Menurut pada perintah sang kakak, Ni-Ki berhenti menaruh anggur di piring Sunghoon.

Saat makan malam itu selesai, Heeseung sengaja berdiri paling akhir karena melihat Sunghoon mengumpulkan piring dan gelas-gelas itu.

"Biar kubantu," ia mengambil alih setumpuk alat makan kotor dari tangan Sunghoon—seolah ia memang selalu melakukannya setiap hari.

"Aku... biasa melakukan ini. Tidak usah."

Ternyata benar tebakan Heeseung. Meski istana Selatan punya pelayan, Sunghoon diperlakukan berbeda oleh Ratu Selen, hingga harus terbiasa membersihkan piring kotor setelah makan.

"Pasti kau menganggapku aneh...," Sunghoon tersenyum kikuk. "Maaf..."

"Tidak perlu minta maaf," Heeseung membalas senyumnya. "Calon pasanganmu di masa depan pasti beruntung karena kau sangat rajin."

Sunghoon memandangnya, sedikit terkejut.

"Heeseung, apa tidak bertanya kenapa aku yang... yang seorang anak raja ini, melakukan pekerjaan pelayan?"

"Itu bukan masalah. Tapi kalau kau mau cerita kenapa, aku pasti dengarkan," balas Heeseung.

Tangan kanan sang pangeran yang bebas, mempersilakan Sunghoon jalan duluan.

Namun, seakan belum selesai dengan pikirannya sendiri, Sunghoon justru memanggilnya lagi.

"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Heeseung."

Heeseung berhenti, memberi perhatian penuh untuk Sunghoon yang sekarang tengah meremas-remas jemarinya sendiri.

"Heeseung... kalau ternyata umurku ini diramal tidak panjang, apa menurutmu... aku masih layak punya pasangan?"


"Heeseung, Ibu memanggilmu karena ada yang harus kita bicarakan."

Heeseung menutup pintu di belakangnya dan tak duduk karena ibunya belum menyuruh.

"Sebenarnya, Ratu Selen bilang pada Ibu jika Sunghoon mengidap penyakit yang berat."

Heeseung mengunci mulut.

Seberapa pun ia ingin menyela, akan lebih baik menunggu ibunya selesai bicara.

"Ibu harus mengatakan ini padamu karena Ibu tahu sifatmu."

Ratu Chloe menatap anak sulungnya yang sedikit tertunduk itu.

Sejak dulu, Heeseung telah diajari untuk segan menatap orang tua langsung ke mata saat bicara.

Namun kali ini, caranya membuang tatap ke lantai lebih seperti seseorang yang bersedih, bukan bagian dari tata krama yang ia pegang sebagai calon raja Utara.

"Ibu diberitahu oleh Ratu Selen kalau dia membawa Sunghoon ke mari karena kunjungan kali ini adalah perjalanan terakhirnya."

Heeseung masih sempat diam, sampai akhirnya  ia memberanikan diri bertanya.

"Dia sakit apa, Ibu?"

"Keadaan tubuhnya diramal akan memburuk saat musim salju di ulang tahunnya yang ke-19. Itu berarti dia hanya punya waktu setahun lagi."

Heeseung menatap tangan sang ibu yang mengelus pundaknya.

"Ratu Selen mengajaknya berpesiar di musim dingin ini, karena mungkin Sunghoon sudah tidak akan bisa bangun dari tempat tidur saat musim dingin selanjutnya. Ibu mengizinkan mereka datang ke mari karena Ibu tidak menyangka kau akan menyukainya."

"Ibu," kali ini, Heeseung tak bisa mengontrol diri. "Kerajaan Kutub Utara dan Kutub Selatan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Matahari di langit. Apa kita tidak bisa minta Raja Matahari untuk menyembuhkan penyakit Sunghoon?"

Ratu Chloe menggeleng, "Sayangnya, umur bukan sesuatu yang bisa kita tawar, Heeseung."

"Tapi pasti ada cara lain kan—"

"Heeseung, mencintai seseorang yang kita tahu pasti pergi itu sangat berat," sang ibu kembali mengelus pundaknya.

"Lepaskan Sunghoon sebelum kau jatuh terlalu dalam. Masa depan kerajaan kita ada di pundakmu. Apa kau paham?"

Heeseung tidak menjawab lagi sampai sang ibu mempersilakannya pergi.

Di lorong istana yang berpenerangan redup karena hari telah larut, Heeseung melihat Jungwon keluar dari perpustakaan, mengunci pintu sambil membawa buku-buku tebal.

"Jungwon."

Adiknya menoleh, sedikit terkejut karena langkah kaki Heeseung sama sekali tak bersuara.

"Jungwon, di mana aku bisa membaca buku tentang Raja Matahari?"

"Raja Matahari...?" Jungwon mengulangi.

"Iya. Apa kau pernah membaca tentang seseorang yang dikutuk akan mati saat musim dingin tiba?"

Adiknya makin bingung, tapi sifatnya yang perasa membuat Jungwon paham dengan mudah maksud pertanyaan Heeseung.

"Aku tidak tahu apa yang seperti itu ada, Kak," ia mengingat-ingat, "tapi, biasanya sesuatu yang sudah ditandai akan terjadi di waktu tertentu itu... ada hubungannya dengan kutukan."

"Kutukan apa?" Heeseung terkejut, "Bukan takdir?"

"Kak, aku tahu siapa yang Kakak bicarakan," Jungwon melangkah mendekati Heeseung agar bisa memelankan suara, "Apa kau tahu legenda kuno tentang Gazet Mirror?" bisiknya.

Heeseung menggeleng. "Gazet Mirror?"

"Itu cermin yang akan mengatakan padamu siapa manusia tercantik di dunia."

"Lalu... apa hubungannya?"

"Dengan kecantikannya yang seperti itu, bukan mustahil jika Gazet Mirror selalu mengatakan bahwa Sunghoon adalah yang tercantik di dunia."

"Jungwon, aku tidak paham," Heeseung memandang adiknya dalam remang. "Maksudmu Sunghoon dikutuk oleh Gazet Mirror?"

"Kak Heeseung," Jungwon menghela napas berat. "Gazet Mirror itu benda sakral yang sakti tapi sangat merepotkan. Hanya seseorang yang punya obsesi berlebihan pada kecantikan dan awet muda lah yang mau menyimpan dan mau memberi tumbal darah setiap bulan untuknya."

Heeseung mulai merasakan berat di dadanya.

"Jungwon, tunggu. Jangan bilang kalau pemilik Gazet Mirror itu adalah—"

Kalimatnya terputus, tapi Jungwon tetap mengangguk.

"Kakak benar. Pemilik Gazet Mirror saat ini adalah Ratu Selen."


"Cermin ajaibku, siapa yang paling cantik di dunia ini?"

Ratu Selen memegang cermin bertahtakan berlian merah berbentuk mahkota, dengan hiasan taring naga laut yang menikam di sekelilingnya.

Setiap kali melihat pantulannya yang begitu cantik dari permukaan bening itu, Ratu Selen akan tersenyum dan mencela waktu yang tak bisa memudarkan kecantikan masa mudanya.

"Cermin ajaibku, kuulangi, siapa yang paling cantik di dunia ini?"

"Ratuku."

Sepasang mata dengan iris hitam muncul di tengah cermin, memandang lurus pada Ratu Selen yang sangat siap menerima pujian.

"Yang tercantik di dunia adalah Sunghoon."

Terkejut. Ratu Selen berdiri.

"Bagaimana mungkin bocah sekarat itu kau bilang yang paling cantik!?" sang ratu berteriak tak terima. "Dia akan mati di musim dingin selanjutnya! Kecantikannya tidak mungkin bisa melampaui aku!"

"Maafkan aku, Ratu. Tapi saat ini Sunghoon memang yang tercantik di dunia."

"Omong kosong!" Sang Ratu memaki-maki cerminnya. "Bukankah kau selalu bilang jika tidak mungkin memuji cantik pada seseorang yang terus-terusan murung dan menangis seperti Sunghoon!? Aku selalu menyiksanya hingga senyumnya hilang dan hidupnya menderita!"

"Maafkan aku, Ratu," cermin menjawab sebelum sepasang mata hitam itu menghilang ditelan permukaan kaca yang meredup. "Tapi saat ini Sunghoon sedang tersenyum karena sesesorang. Itu membuat kecantikannya tak terkalahkan."

"Kurang ajar!!!"

Ratu Selen membanting cerminnya di ranjang.

"Cari Sunghoon!" Ia berjalan keluar, memerintah para pengawal. "Sungguh tak tahu malu! Dia berani menginjak-injak harga diri Kerajaan Selatan dengan menggoda Pangeran Heeseung!"


"Apa kau sering berburu sendirian? Tidak bersama Jungwon dan Ni-Ki?"

"Adik-adikku punya banyak kesibukan," jawab Heeseung. "Apalagi Jungwon. Dia sangat suka belajar dan sering mengurung diri di perpustakaan."

"Pasti sulit menjadi calon raja," ucap Sunghoon. "Kau pasti dididik dengan keras dan disiplin."

"Tapi aku menyukainya," senyum Heeseung. "Aku selalu merasa jika manusia harus mencintai waktu yang mereka miliki dan aku menggunakannya untuk belajar atau latihan."

"Aku setuju," mata Sunghoon berpindah dari Heeseung ke setapak sungai beku yang mereka lewati. "Waktu sangat berharga. Terutama kalau kau tahu waktumu akan segera habis."

Heeseung menghentikan langkah.

Tak ada niat dalam dirinya untuk membuat Sunghoon bersedih.

Seharusnya dia tidak membicarakan hal seperti ini jika Sunghoon tak memulainya duluan.

"Sunghoon, aku minta maaf...," Heeseung berucap tanpa sadar. "Bukan maksudku untuk—"

"Apa Ratu Chloe sudah mengatakan padamu kalau aku akan mati? Kudengar, ibuku bercerita pada ibumu di hari pertama kami tiba di sini."

Heeseung tak segera menjawab.

Ia tak mau menyakiti Sunghoon lebih jauh lagi.

Lagipula, jika memang Sunghoon diramalkan tak berumur panjang, tidak ada yang bisa melarang Heeseung untuk tetap mendekatinya kan?

Bahkan, sebelum mengajak Sunghoon pergi ke luar hari ini, Heeseung telah meminta kunci perpustakaan bagian arsip rahasia pada Jungwon untuk mencari mantra pematah kutukan.

"Heeseung, kau tahu kalau aku menyukai—"

"Aku juga."

Karena panik, gugup, sekaligus merasa bersalah, pengakuan itu muncul begitu saja dari mulut Heeseung.

"Aku juga menyukaimu, Sunghoon. Kurasa ini cinta pada pandangan pertama. Aku tahu kau pasti akan berpikir seribu kali untuk menerimaku karena kita baru berkenalan, tapi aku juga suka padamu... Sangat suka."

Mata Sunghoon yang beriris abu-abu, terkesima.

Ia mengerjap, tak menduga Heeseung akan sebegitu tiba-tiba membuat pengakuan padanya.

"Heeseung, maksudku... aku menyukai...," Sunghoon menelan ludah, canggung. "Ikan."

"Oh...," Heeseung melarikan mata karena bingung dan malu.

"Kalau begitu aku akan menangkapkan ikan untukmu," tapi ia berusaha menguasai keadaan. "Di sini banyak ikan yang bisa memancarkan cahaya dari tubuhnya. Akan kupanahkan satu."

Heeseung segera sibuk mencari retakan di lapisan es beku yang ia lewati bersama Sunghoon.

"Apa aku boleh ikut mencarinya?"

Sunghoon menyusulnya karena merasa tak enak.

"Jangan. Biar aku saja," tapi Heeseung segera menahan. "Bagian sana esnya tipis dan rawan retak saat terinjak. Kau harus berhati-hati."

"Lalu bagaimana denganmu?" Sunghoon sedikit mendongak untuk menyejajarkan mata mereka. "Kenapa kau sendiri tidak berhati-hati?"

Kenapa?

Karena aku tidak akan berpikir dua kali jika itu demi kau.

Heeseung melepaskan tangannya perlahan.

"Karena aku cukup ahli dan hapal tempat ini. Kau tunggu di sini. Jangan pergi ke mana-mana."

Heeseung berjalan menjauh.

Ia menunduk mencari garis-garis retakan, serta mencoba menemukan gelembung udara di bawah sungai es yang membeku.

"Di sini cukup tipis..."

Heeseung mundur dua langkah, menyiapkan busur dan anak panah yang sejak tadi tergantung di punggungnya.

Dengan satu tarikan mantap, anak panahnya meluncur menembus lapisan es, menghunjam persis di punggung seekor ikan dengan cahaya biru kehijauan yang berkilat di sisik-sisiknya.

"Dapat!"

Heeseung tersenyum senang, segera menarik anak panah dan ikan itu untuk membawanya pada Sunghoon.

Namun...

"Sunghoon, kau di sini bersama Pangeran Heeseung? Bukankah kau ada jadwal untuk belajar alat musik Qilaut dengan seniman istana?"

Heeseung menyembunyikan ikan dan anak panah di belakang tubuhnya.

Ia berjalan mendekati Sunghoon yang sangat ketakutan, memutuskan berdiri di sisinya.

"Ratu Selen, maaf aku lancang," Heeseung membungkuk sopan. "Aku yang salah. Aku ingin mengesankan Sunghoon hingga membuatnya harus mengikutiku sampai ke mari. Mohon terima permintaan maafku."

"Pangeran," Ratu Selen tersenyum cantik. Wajahnya yang awet muda sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia tengah marah. "Kau tahu anakku ini memang sedikit nakal. Semoga kau memaafkan Sunghoon karena permainan kalian harus selesai sekarang."

"Tentu, Ratu Selen," Heeseung tidak membantah.

Namun posisi tubuhnya yang sedikit maju ke depan, seolah ingin melindungi Sunghoon yang sudah memucat di belakang.

"Kalau Sunghoon ingin belajar Qilaut, tidak perlu dengan seniman. Aku sering memainkannya. Mungkin, dia bisa belajar bersamaku."

"Ah...," Ratu Selen mulai sadar. Putra Mahkota Kutub Utara ini ternyata adalah seorang pemuda yang keras kepala. "Tapi tidakkah kau akan kerepotan mengajarinya?"

"Justru aku akan sangat senang," Heeseung meyakinkan. "Akan kupastikan dia bisa bermain Qilaut lebih hebat daripada aku."

Dalam hati, Ratu Selen sungguh ingin mengutuk pemuda ini, tapi akhirnya ia diam saja dan berbalik pergi bersama para pengikutnya.

"Heeseung...," Sunghoon baru berani memanggil saat ibu tirinya telah pergi, itu pun dalam bisikan. "Apa aku harus benar-benar belajar alat musik itu?"

Tanpa sadar, tangan Heeseung erat menggenggam tangannya.

"Apa pun yang ingin kau lakukan, bilang saja padaku," ucap Heeseung. "Kalau kau mau lanjut berburu, aku akan menemanimu."


Sunghoon merasa aneh karena ini adalah pertama kali ia membantah perkataan sang ibu.

Alih-alih jadi anak baik dan kembali ke istana, ia justru mengajak Heeseung menyusuri padang salju lebih jauh lagi, dan mulai terbiasa dengan pemandangan rusa atau beruang kutub yang melintas di kejauhan.

Heeseung, seperti perkataannya, selalu berjalan setengah langkah di belakangnya.

Saat Sunghoon menariknya agar sejajar, Heeseung mengatakan jika ia sedikit mundur demi menjaga Sunghoon—dan jujur saja, Sunghoon yang asing dengan konsep itu, dijaga, mulai bisa menerima jika seseorang menganggapnya penting.

"Heeseung."

Sunghoon menghentikan langkah untuk memanggil.

"Tadi aku sempat membahas tentang waktuku yang terbatas."

"Jangan bicarakan itu kalau hanya akan membuatmu bersedih," Heeseung lekas menggeleng. "Aku ingin membuatmu tersenyum saat bersamaku. Tolong jangan buat usahaku sia-sia."

"Aku hanya ingin bercerita," Sunghoon menggigit bibirnya. "Tapi kalau kau tidak mau mendengarkan—"

"Akan kudengarkan," Heeseung menggenggam tangan Sunghoon di tengah angin bersalju yang mendera di sekeliling mereka. "Bicaralah."

"Heeseung, aku ingin menikah...," Sunghoon mengatakan itu seolah hanya Heeseung saja yang bisa mendengarkan mimpinya tanpa tertawa. "Apa menurutmu, seseorang yang dikutuk seperti aku bisa menikah?"

"Bisa," Heeseung tidak tahu caranya, tapi ia menjawab Sunghoon tanpa ragu. "Pasti bisa."

"Tapi kalau sebelum orang yang kucintai datang, aku sudah mati?"

Sedikit sakit untuk Heeseung mendengarkan itu, tapi sambil menatap mata Sunghoon, ia tetap berkata.

"Aku akan membantumu mengulur waktu," janjinya. "Jika kau ingin menikah dan bertemu dengan seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta, akan coba kucari caranya."

"Apa kau serius?" Sunghoon tak percaya. "Yang seperti itu... bisa?"

"Bisa. Akan kucari caranya."

Sunghoon menatap mata Heeseung yang sedikit menyipit karena tersenyum.

"Heeseung, sebenarnya aku—"

"Sunghoon, awas!!!"

Suasana mendadak berubah.

Butir-butir salju yang semula jatuh lembut, sekarang melesat ke arah mereka seperti kerikil kecil yang begitu banyak dan menyakitkan.

Mantel bulu Sunghoon mulai berat saat dipakai melangkah.

Heeseung melindungi kepalanya dari hantaman salju yang beringas, secepat mungkin mencari tempat berlindung.

"Di sana ada tebing. Kita ke sana, Sunghoon!"

Langkah-langkah berat Sunghoon terseret di tengah badai padang es.

Mereka melawan arus angin.

Meminjak timbunan salju yang menggunduk seperti ingin merantai kaki.

Berjalan tanpa lelah demi menemukan tebing untuk sembunyi.

"Kita di mana, Heeseung?" Napas Sunghoon yang beruap mulai terengah-engah. "Apa kita sudah jauh dari istanamu?"

"Berjalanlah terus," rahang Heeseung mengeras. "Aku tahu tempat berlindung."

"Tapi aku lelah...," suara Sunghoon mulai serak. "Bisakah kita berhenti sebentar?"

"Jangan!" Heeseung mencegah Sunghoon duduk di tengah hamparan es. "Tolong kuatlah. Sedikit lagi."

Mata abu-abu Sunghoon mulai basah.

Saat air matanya menetes, aliran hangat itu langsung membeku menjadi es.

"Maaf, Heeseung...," Sunghoon jatuh berlutut, tangannya menumpu lelah pada batu runcing yang begitu dingin. "Kau pergi saja duluan. Aku tidak kuat..."

Heeseung sempat terdiam.

Tangannya masih merenggut lengan Sunghoon sekuat tenaga agar tak direnggut oleh badai, tapi otaknya mulai berpikir keras.

Jika kutukan itu benar, bukan tidak mungkin jika Sunghoon benar-benar bisa jatuh sakit karena salju—dan Heeseung, tentu saja tidak akan membiarkan itu.

"Peluk batu ini," kata Heeseung. "Akan kubuat badai ini berhenti."

Heeseung berlari sedikit menjauh, menapaki permukaan sungai beku yang licin mengkilat.

Ia mengambil panah dan busur yang tak pernah lepas dari punggungnya.

Berusaha mengumpulkan tenaga sebanyak mungkin sebelum mengacungkan senjata ke udara.

Anak panahnya melesat lurus, langsung menembus pusaran mata badai yang seketika bergejolak seperti monster tua yang kesakitan.

Busur Heeseung sempat terjatuh dan ia memuntahkan percikan darah di atas es.

Melawan alam berarti harus membayar dengan kekuatan—tapi Heeseung tahu hanya ini satu-satunya yang bisa membuat badai berhenti.

Dari jauh, Sunghoon terpaku karena angin ganas dengan lemparan salju yang menyakitkan itu perlahan mulai berhenti.

Saat ia berlari mendekati Heeseung, pangeran dari Utara itu telah terhuyung ke depan, menahan tubuhnya dengan kedua telapak tangan agar tak terjatuh di tanah.

Percikan darah Heeseung membuatnya terlihat seperti serigala yang terluka.

"Heeseung," Sunghoon meraih pundaknya. "Kau tidak apa-apa?"

"Jangan khawatirkan aku."

Namun, dalam keadaan apa pun, Heeseung tetap berusaha menenangkannya.

"Yang penting, kau baik-baik saja."


"Woah, keren! Kau dan Kak Heeseung menyeberangi badai!?"

Ni-Ki berseru saat Sunghoon bercerita tentang keberanian Heeseung dalam menyelamatkannya.

"Tapi... soal memanah mata badai itu. Tidakkah Raja Matahari akan marah?"

Ni-Ki menoleh pada Jungwon yang tengah menulis di buku kecilnya.

"Kakak, kudengar, Raja Matahari tidak suka jika ada manusia yang melawan tatanan semesta..."

"Tentu saja," jawab Jungwon tanpa berpaling dari tulisannya. Ia sedang membuat sebuah syair. "Siapa manusia yang layak menentang aturan alam? Memangnya dia penguasa bumi?"

"Tapi Kak Heeseung nekat memanah mata badai," Ni-Ki menggaruk rambutnya, pandangannya jatuh ke lantai beberapa detik, sebelum terbeliak. "ASTAGA, DI MANA KAK HEESEUNG!? AKU TIDAK MELIHATNYA SEJAK TADI!"

"Dipanggil menghadap Raja Matahari," jawab Jungwon. "Dia sudah pergi sejak dini hari."

"Astaga!? Dipanggil!? Ke langit sana!?"

"Iya," sahut kakaknya. "Ke Kerajaan Matahari."

"Apa Heeseung akan dihukum, Jungwon?" Sunghoon bertanya dengan suaranya yang lembut dan gemetar. "Apa Raja Matahari marah?"

"Aku tidak tahu," Jungwon menggeleng. "Kuharap Raja Matahari masih punya hati untuk mengampuni Kakak."

"Ck. Tapi dia terlihat seperti bedebah yang tidak berguna," Ni-Ki tiba-tiba berucap, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jungwon. "Muncul saja tidak pernah!"

"Tak ada seorang manusia pun yang diizinkan melihat wujud Raja Matahari," ucap Jungwon. "Dia hanya menampakkan diri pada orang-orang pilihannya."

"Dasar sombong. Kuharap Kak Heeseung menang melawan makhluk semena-mena sepertinya."

"Jangan mengatakan dia semena-mena jika kau belum pernah bertemu dengannya, Ni-Ki."

Ratu Chloe tiba-tiba masuk, membawa tujuh belas tangkai bunga mawar merah dan memberikannya pada Sunghoon.

"Untukmu. Dari Heeseung."

Tangan Sunghoon terulur.

Namun, di saat yang sama, darah pekat tiba-tiba terlontarkan dari mulutnya.

"Astaga!" Ratu Chloe menangkap tubuh Sunghoon yang hampir ambruk ke lantai. "Apa matahari musim panas sudah muncul?!"


Pusat Kerajaan Matahari tidak pernah menerima sembarang tamu.

Terletak jauh di dari bumi, dipisahkan oleh ribuan anak tangga yang hanya akan muncul saat seseorang dipanggil oleh penguasanya untuk dihukum karena melakukan kejahatan berat.

Heeseung mengabaikan peluh yang menetes di keningnya.

Ia yang tidak terbiasa dengan udara panas atmosfer, sekarang harus berhadapan dengan cahaya tengah hari yang sangat menyilaukan.

Namun, alih-alih gemetar, Heeseung tetap melangkah mantap tanpa menengok ke belakang.

Tak masalah jika Raja Matahari menghajar atau menghinanya, Heeseung merasa jika satu-satunya cara untuk membatalkan kutukan Sunghoon, justru dengan meminta Raja Matahari untuk memperlama datangnya musim dingin.

Dan ia benar-benar akan memohon itu terjadi; apa pun risikonya.

"Masuklah, Heeseung."

Suara Raja Matahari hanya seperti bisikan.

Entah mengapa Heeseung seperti mendengar suaranya sendiri—atau mungkin, saking rahasianya wujud itu, sesuatu yang akan ia hadapi hanyalah cerminan atau bayangan dari dirinya sendiri.

Apa aku berjalan ke arah yang benar?

Kerajaan Matahari adalah istana raksasa dengan dinding yang terus berubah warna.

Di detik pertama, ia berwarna emas.

Di detik kedua, warnanya berubah jadi biru.

Di detik ketiga, warnanya berubah jadi perak.

Heeseung membatin dalam hati.

Raja Matahari jelas suka bermain ilusi.

"Heeseung."

Bisikan itu terdengar lagi.

Kali ini, Heeseung berhenti karena dinding di sekelilingnya tiba-tiba berubah jadi kaca.

Bayangannya terpantul di mana-mana.

Heeseung melihat sosoknya yang terbalut doublet ksatria berwarna putih gading, tampak terlalu dingin untuk istana matahari yang terlihat selalu dialiri cahaya musim panas.

Kaki Heeseung berselimut boots tinggi melangkah makin dekat ke dinding reflektif di sebelah kiri.

Saat ia hampir menyentuh bayangannya sendiri, sosoknya lenyap dan berganti dengan lambang kerajaan matahari—sebuah bola panas raksasa dengan lidah api menjulur di sekelilingnya.

Heeseung tahu Raja Matahari tak mungkin menampakkan diri pada manusia bumi sepertinya.

Tapi... tidak masalah.

Ia juga datang bukan untuk berkenalan.

"Kudengar, kau memanah mata badai."

Dagu Heeseung terangkat.

"Apa kau sudah gila hingga melawan aturan alam?"

"Seseorang harus kulindungi."

"Tapi bukan berarti kau bisa menusuk mata badai dengan anak panahmu."

"Aku minta maaf," Heeseung tidak benar-benar menyesal, ia hanya mengulur waktu agar bisa terus bicara. "Kurasa aku hanya panik."

"Tidak ada orang panik yang bisa memanah mata badai sepresisi itu!"

Raja Matahari menaikkan suara hingga menggema di seluruh sisi dinding.

"Kau jelas lancang membangkang aturan alam!"

"Aku mengakui kelancanganku," ujar Heeseung. "Dan aku datang kemari bukan untuk menantangmu. Kudengar, Raja Matahari sungguh baik dan murah hati"—mata sang pangeran menatap tajam pada lambang bola api—"karena itu, aku ingin memohon padamu agar kau mengampuniku."

Gejolak lidah matahari di permukaan kaca terhenti, lalu berganti jadi bayangannya sendiri.

"Raja Matahari, ada yang ingin kukatakan. Maaf jika aku tidak tahu malu."

"Apa itu?"

"Seseorang yang kucintai dikutuk sakit keras pada musim panas dan akan mati pada musim dingin selanjutnya," tutur Heeseung, "dengan kemurahan hatimu, bisakah kau membantuku untuk memperpanjang umurnya?"

Sunyi sejenak.

"Kau pikir kau siapa...!?"

"Aku bisa memberimu persembahan yang kau minta," janji Heeseung. "Apa pun. Aku bersedia jadi pengabdimu, Raja—asal kau panjangkan umurnya dan sembuhkan penyakitnya. Atau jika bisa, aku mohon untuk batalkan kutukannya."

Sunyi lagi.

Heeseung tak mendengar apa pun sampai bermenit-menit kemudian.

Selanjutnya, yang datang hanya sebatas bisikan, "Pergilah dari istanaku sekarang."

Dan Heeseung—tentu saja—menolak pergi.

Dengan sentakan tak kasat mata, tubuhnya dilempar dari bagian tengah istana ke halaman yang langsung dinaungi cahaya terik membara.

Mata Heeseung hampir buta oleh cahaya itu, tapi ia bersikeras tetap berlutut di sana sampai permintaannya dikabulkan.

Aku tidak akan pulang.

Demi Sunghoon, aku tidak akan pulang.

Heeseung terus berlutut seperti pesakitan.

Keinginannya dijawab belasan jam kemudian.

Sebuah bisikan datang ke telinganya yang bahkan sudah tak kuat menegakkan punggung saking panasnya udara dan cuaca.

"Pulanglah sekarang, Heeseung. Akan kutunda musim panas agar Sunghoon bisa lebih lama bersamamu. Pulanglah sekarang."


Sunghoon perlahan membuka mata saat seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemerahan hinggap di tengah keningnya.

"Heeseung?"

Sunghoon kira, seseorang membangunkannya.

Atau lebih tepatnya, Sunghoon kira, seseorang yang diam-diam begitu ia khawatirkan, datang untuk membangunkannya.

Sunghoon menoleh pelan.

Kamarnya di istana Kutub Utara tidak ada siapa-siapa.

Wadah keramik dengan air dingin yang sudah memerah karena darahnya pun masih ada.

Tunggu, benar juga.

Seharusnya aku tidak bisa bangun.

Tapi kenapa tubuhku jadi begitu ringan?

Sunghoon menyibakkan selimut, berjalan dengan kaki telanjang untuk menatap langit redup di balkon istana.

Ia tertegun melihat semak-semak yang seingatnya telah meranggas, tiba-tiba menumbuhkan kuncup-kuncup baru yang muda dan segar.

Air sungai di bawah sana yang semula membeku, mulai bergerak lagi.

Alam menggeliat, bukan karena matahari yang menyengat, tapi karena angin lembut dan udara yang menghangat.

Sunghoon mengulurkan tangan saat kupu-kupu lain berdatangan untuk hinggap di jarinya seperti menyapa teman lama.

Mereka bersayap putih—warna yang sama seperti seragam ksatria yang selalu dipakai Heeseung.

Sunghoon mengangkat mata, langit terlihat seperti kanvas biru yang ditebari kapas putih.

Sekarang, kuncup-kuncup baru itu mulai bermekaran.

Bunga lonceng biru dan plum merah muda muncul menebari halaman istana, seolah ingin menyapa Sunghoon yang terlihat begitu cantik dengan senyum merekah di bibirnya.

"Kupikir aku sudah mati...," Sunghoon membiarkan satu kupu-kupu terbang dari jarinya untuk hinggap di pucuk ranting pohon yang menghijau. "Tolong jangan bilang padaku kalau aku sudah di surga..."

"Sunghoon, bahkan surga takkan terlihat seindah ini... karena di sini ada dirimu."

Sunghoon hampir berbalik saat Heeseung menyentuh pinggangnya untuk terus menghadap ke hamparan bunga-bunga yang tengah bersemi di bawah sana.

"Di Selatan tidak ada musim seperti ini," bisik Sunghoon. "Semuanya seperti dilahirkan kembali."

"Karena musim seperti ini hanya akan terjadi saat kita bersama-sama," Heeseung membalas bisikannya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tak mendekap Sunghoon dari belakang.

Sekadar ingin mencium aroma tubuh dan napas dari seseorang yang membuatnya mau berlutut belasan jam di depan istana matahari.

Namun Sunghoon menoleh hingga mata mereka bertatapan.

"Padahal, tadi kupikir aku akan segera mati karena musim panas akan datang..."

"Kau tidak akan mati," Heeseung menggeleng, sorotnya penuh janji. "Tidak selama masih ada aku yang menjagamu."

Bibir mereka bersentuhan.

Berlatar belakang hamparan langit biru, tumbuhan hijau, dan bunga-bunga penuh warna yang indah, ini pertama kalinya mereka berciuman.

Heeseung meminta Sunghoon memberi nama pada musim baru yang terhampar di depan mereka.

Sunghoon mengatakan, "Namanya musim semi, Heeseung. Aku menamainya musim semi."

"Kau sangat pandai memilih nama," Heeseung menariknya semakin dekat.

Berdua mereka dikepung kupu-kupu yang berterbangan bagai dua kuncup bunga yang mekar seindah-indahnya.

"Ini musim semi. Dan akan kupastikan, di musim apa pun, kau akan tetap tersenyum sebahagia ini."


"Cermin ajaib. Siapa yang tercantik di dunia ini?"

Ratu Selen memegang cerminnya dengan gestur yang sangat tegang dan penuh harap.

"Cermin ajaib. Cermin ajaib. Siapa yang paling cantik di dunia ini? Katakan padaku sekarang."

"Yang paling cantik di dunia adalah Sunghoon, Ratuku."

"APA!? SUNGHOON LAGI!? OMONG KOSONG!!! INI SUDAH MASUK MUSIM PANAS DAN DIA SUDAH SEKARAT! TIDAK BISAKAH KAU MEMBEDAKAN BOCAH SAKIT-SAKITAN DENGAN MANUSIA TERCANTIK DI MUKA BUMI!?"

"Sunghoon tidak sakit, Ratuku," jawab cermin. "Musim panas tak jadi datang. Seseorang menunda musim panas dan Sunghoon telah kembali pulih, serta cantik seperti sebelumnya."

"MENUNDA MUSIM!? MAKSUDMU... SESEORANG BERANI MENGACAUKAN IKLIM!? BAGAIMANA MUNGKIN!?"

"Lihatlah ke luar, Ratuku. Di sana, bunga-bunga telah bermekaran dan Sunghoon sedang berciuman dengan seseorang."

"KURANG AJAR!"

Ratu Selen berteriak, melangkah penuh amarah ke luar kamar untuk membuat perhitungan pada anak tirinya yang ia anggap melawan aturan.

"Aku harus beri dia pelajaran—"

"Ratu Selen."

Namun, di selasar istana, ia berpapasan dengan Ratu Chloe yang diapit oleh dua pengawal.

"Ada yang ingin kubicarakan."

"Ratu Chloe, bisakah kita tunda pembicaraan ini? Sesuatu telah terjadi dan aku benar-benar harus mendisiplinkan Sunghoon!"

"Ini tentang Sunghoon," tegas Ratu Chloe, "dan tentang anakku. Heeseung."

Mendengar itu, Ratu Selen terpaksa menahan amarahnya.

Ia mengikuti Ratu Chloe yang berjalan lebih dulu menuju kebun musim panas di dalam istana.

"Silakan masuk."

Pintu di belakang mereka tertutup.

Ratu Selen dan Ratu Chloe berhadapan di tengah hamparan mawar merah yang sengaja dipelihara di ruang tertutup bersuhu hangat.

"Heeseung menanam bibit mawar ini sejak dia berusia dua belas tahun. Artinya, sudah sangat lama dia menunggu seseorang yang ia rasa layak diberinya bunga... dan kemarin, dia memintaku untuk memberikannya pada Sunghoon."

Ratu Selen sedikit menggeram, "Sunghoon itu sedang sakit. Heeseung akan membuatnya semakin sakit jika memaksanya menjalin hubungan. Bisakah kau jelaskan pada putramu untuk menjauhi anakku?"

"Aku mengerti. Karena itulah aku mengajakmu bicara." Ratu Chloe sengaja menahan suaranya agar tak meninggi. "Di luar, bunga-bunga bermekaran dan musim panas jadi tertunda... aku tahu itu semua ulah Heeseung."

"Astaga! Ini pelanggaran! Manusia mana yang bisa membuat iklim bergejolak dan matahari batal bersinar terik hanya karena tergila-gila pada Sunghoon!? Tidakkah kau harus menghukum Heeseung!? Dia telah mengacak-acak bumi!"

"Heeseung bisa melakukan apa yang dia inginkan," Ratu Chloe tak ingin terdengar seperti membela.

Namun, sebagai Ibu, ia tetap akan bersikap adil jika ini tentang putranya.

"Ratu Selen, bukan maksudku mengusir... tapi kurasa kunjungan kalian harus disudahi."

"Ide bagus!" Ratu Selen mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras menatap Ratu Chloe yang tak seemosional dirinya. "Akan kubawa Sunghoon pulang dan kupastikan mereka akan berpisah selamanya!"

Ratu Selen berbalik pergi, keluar tanpa pamit, meninggalkan Ratu Chloe yang mematung menatap bunga-bunga segar yang ditanam Heeseung di sekelilingnya.

"Seharusnya kalian tak melakukan ini...," bisiknya sendirian. "Ini sudah keterlaluan."


"HAHHH?? KENAPA TIBA-TIBA MAU PULANG KE SELATAN!!?"

Ni-Ki berteriak protes.

Ia menggamit lengan Sunghoon, melarangnya melangkah ke luar.

"Kak, bukankah kau datang untuk menikah? Apa kau tidak kasihan pada kakakku? Dia calon raja tapi hidupnya seolah cuma berputar padamu setelah kau datang!"

"Ni-Ki, cukup," tegur Heeseung pelan.

Matanya hanya sesekali melirik Sunghoon yang jelas tak berani membantah perintah ibunya.

"Mereka harus pulang."

Setelah berkata, Heeseung mendekat.

Jantung Sunghoon berdegup kencang.

Namun ternyata, Heeseung hanya meraih tangan adik bungsunya untuk melepaskan Sunghoon.

"Hati-hati di jalan, Sunghoon," ucap Heeseung. "Aku akan mengunjungimu kapan-kapan..."

"Maaf, tapi kami tidak pernah menerima tamu dari luar," potong Ratu Selen.

Sekarang, ia sudah berani bicara ketus dengan blak-blakan di depan Ratu Chloe yang terus diam.

"Kerajaan kami dalam bahaya karena musim tiba-tiba berganti. Musim macam apa ini!? Semi!? Huh! Semua bunga yang harusnya hanya tumbuh di musim panas jadi datang lebih cepat! Apa kau pikir ini indah? Merepotkan!"

Heeseung memandang ibu tiri Sunghoon dan berkata tenang, "Musim ini layak ada. Sunghoon menyukainya."

Ratu Selen memalingkan muka.

Pemuda gila mana yang berani mengundang musim baru hanya demi manusia sakit-sakitan?

Ia sungguh benci.

Hari ini pun, Gazet Mirror masih mengatakan jika Sunghoon adalah yang tercantik.

Sekarang, saingannya jadi makin berat karena Heeseung terlihat bisa menghabisi siapa pun yang membuat Sunghoon menderita.

Sungguh salah ia mengajak Sunghoon jalan-jalan ke Kutub Utara. Ternyata, dipandang orang sebagai ibu tiri berhati malaikat tak lebih penting dari mengurung Sunghoon dan membuatnya menangis hingga kecantikannya luntur!

"Aku berterimakasih atas kebaikan Ratu Chloe, Pangeran Heeseung, Pangeran Jungwon, dan Pangeran Ni-Ki."

Dengan sopan, Sunghoon menyela lembut agar tak terjadi pertengkaran.

"Ibuku tidak bermaksud menolak Pangeran Heeseung datang ke Selatan," ia tak ingin orang yang ia cintai salah paham. "Hanya saja, mungkin kabar buruk tentang aku akan datang sebentar lagi dan Pangeran tidak akan menemukan apa pun selain pelayat dan batu nisan."

"Apa yang kau katakan itu, Kak?" Ni-Ki melepaskan tangannya dari cengkeraman Heeseung, tiba-tiba emosional karena perkataan Sunghoon.

"Aku dan kakak-kakakku sangat menyukaimu! Kalau kau melarang Kak Heeseung datang—baiklah, aku saja yang datang! Aku tidak peduli aturan selama kau masih menganggap kami teman!"

"Ni-Ki, cukup." Heeseung kembali menarik adiknya mundur. "Kita harus menghormati permintaan Sunghoon."

"TAPI, KAK—"

"Ni-Ki."

"Mungkin tidak ada yang sadar, tapi udara semakin panas setiap hari. Keindahan musim semi ini takkan bertahan lama," tiba-tiba Jungwon—yang sejak tadi berdiri di belakang—berbicara dengan suara parau, "Kak Sunghoon, jaga dirimu baik-baik."

Heeseung tertegun menatap adik tengahnya.

Jungwon... apa kau punya firasat buruk?

"Kalau begitu kami izin pulang," Sunghoon membungkuk sopan.

Matanya lekat bertatapan dengan Heeseung sebelum berbalik pergi bersama ibu dan pengawalnya.

"Selamat tinggal."


"Sebenarnya aku mau Kak Sunghoon tetap di sini. Tapi Ibu memperlakukan dia seperti musuh! Oh, dan... itu, Ratu Selen. Oh Tuhan, dia benar-benar penyihir jahat yang merepotkan. Apa kalian tahu isunya dia sebenarnya sudah nenek-nenek!? Aku sempat membakar daging dengan para pengawal dan mereka menceritakan itu padaku! Aku jadi curiga sakitnya Kak Sunghoon karena dikutuk oleh ibunya! Tidakkah kita harus melenyapkan nenek sihir itu, Kak!?"

"..."

"..."

"Kak?"

"..."

"..."

"Kak Heeseung? Kak Jungwon?"

"Ibu."

"SIAL!"

Ni-Ki terhenyak.

Tiga pangeran yang tengah berada di taman samping istana—Jungwon membaca buku, Heeseung mengasah anak panah, dan Ni-Ki sibuk mengomel—langsung menghentikan kegiatan untuk berdiri dan menyapa ibu mereka.

"Ibu tahu kalian kecewa Sunghoon pergi," Ratu Chloe berkata, memandang mereka satu-persatu. "Terlebih kau, Heeseung."

Ni-Ki langsung melirik kakak sulungnya.

Meskipun dia yang paling banyak protes dan ribut, jelas sekali Heeseung adalah yang paling patah hati karena perpisahan hari ini.

"Kalian bertiga harus paham. Sunghoon bukan dilahirkan untuk jadi teman... apalagi pasangan."

Ni-Ki sempat mengawasi dua kakaknya yang masih bungkam, lalu memutuskan untuk menimpali, "Apa karena dia sakit? Memangnya kenapa kalau dia sakit? Penyakitnya tidak menular. Tapi Ratu Selen selalu bersikap seolah Kak Sunghoon membawa wabah jahat..."

"Ni-Ki, Ibu tidak mau kehilangan salah satu dari kalian," suara Ratu Chloe sangat lirih, seperti desir angin. "Ibu sudah pernah kehilangan anak... dan sekarang, cuma kalian bertiga yang Ibu punya."

Kali ini, Heeseung mengepalkan tangan.

Ia sangat terkejut, tapi dididik untuk tak boleh memandang langsung ke mata ibunya saat bicara.

"Apa kami anak pungut?" Ni-Ki bertanya spontan. Jungwon langsung menyikut lengannya. "Apa aku, Kak Heeseung, dan Kak Jungwon bukan saudara kandung? Apa di luar sana Ibu punya anak lain yang terpisah dari kami?"

Ratu Chloe menghela napas.

Ia tahu Ni-Ki pasti akan menanyakan itu.

"Ibu...?" Ni-Ki menuntut. "Jangan bilang kalau... kalau Kak Sunghoon adalah anak ibu!?"

"Sekarang, hanya kalian bertigalah anakku. Tidak ada yang lain. Itu kenyataan yang akan Ibu jaga mati-matian dengan semua yang Ibu miliki."

"Jadi," Ni-Ki menutup mulutnya. "Kalau Kak Heeseung menikah dengan Kak Sunghoon... bisa jadi itu perkawinan sedarah?!"

Ratu Chloe tetap diam.

"Ibu..." Heeseung memberanikan diri bicara. "Aku minta maaf kalau membuat Ibu kecewa... tapi entah mengapa, aku selalu merasa Ibu banyak tahu tentang Raja Matahari."

"Tanyakan saja," mata Ratu Chloe sudah berkaca-kaca. "Apalagi yang ingin kau minta?"

"Bagaimana caranya memperpanjang musim panas dan menunda musim dingin? Aku tidak mau salju datang dan merenggut nyawa Sunghoon."

"Tembak matahari ke tengah langit supaya menancap dan tak pergi-pergi," Jungwon berucap, entah bercanda atau serius—tapi Heeseung benar-benar mendengarkannya.

"Tapi... kita hanya manusia biasa yang tak mungkin melakukannya. Entah tumbal apa yang Kakak butuh korbankan untuk Raja Matahari jika ingin melakukan itu."

"Nyawa," sahut Ni-Ki, seperti memperingatkan Heeseung. "Aku yakin, tumbalnya nyawa."


Setelah dua minggu perjalanan panjang, Sunghoon berusaha untuk kembali pada rutinitasnya yang sama sekali tak membahagiakan.

Ia melihat musim semi di Selatan—bahkan saat melintasi garis tengah bumi, di sana pun bunga-bunga sedang bermekaran.

Bumi serentak menumbuhkan harapan baru, tapi ia tak tahu akan selama apa semua ini bertahan.

Yang Sunghoon tahu, keindahan yang terlalu indah, biasanya tak berumur panjang.

Tanpa sengaja, saat Sunghoon tengah melintas di depan kamar ibunya, ia mendengar sang Ibu tengah meradang pada Gazet Mirror yang bersikeras mengatakan bahwa Sunghoon adalah yang paling cantik di dunia.

Bukan Ratu Selen.

Bukan siapa pun.

Bahkan bukan mendiang ibunya yang memang sangat mirip dengan dirinya.

"Anak itu harus diberi pelajaran. Pangeran Utara itu sungguh tidak tahu malu! Bisakah kau biarkan aku bicara lagi pada Raja Matahari!? Dia sudah berjanji padaku dan harusnya seorang Raja pantang ingkar janji!"

Sunghoon meremas mawar kering dari Heeseung yang berhari-hari dijaganya seperti satu-satunya harapan.

Ia tahu ibunya dan Gazet Mirror selalu ingin menyingkirkannya—bahkan di balik ribuan pujian bahwa ia adalah manusia tercantik, tetap saja cermin itu ingin membawa petaka baginya.

Diam-diam, Sunghoon teringat keberanian Heeseung dalam memanah seekor beruang.

Jika saja orang yang ia cintai bisa seberani itu, tidakkah harusnya ia punya sedikit nyali untuk memecahkan Gazet Mirror agar ibunya berhenti berteriak dan murka saat ia dipuji?

Sunghoon menunggu hingga malam tiba.

Hari ini, tak ada yang terjadi kecuali hidungnya yang mimisan tanpa sebab, dan Sunghoon hanya menganggapnya kelelahan biasa.

Lewat tengah malam, ia mengendap-endap.

Telapak kakinya yang telanjang tak menimbulkan suara saat mengiris kesunyian lorong kosong.

Aku bisa mati kalau ketahuan.

Ia menguatkan hati dan tekad dalam dadanya.

Tapi tidak masalah. Nyatanya, aku pasti mati.

Setidaknya, jika cermin itu hancur, Ibu akan berhenti berkata aku anak yang tidak berguna.

Sunghoon masuk ke kamar rias tempat sang ibu meletakkan Gazet Mirror dalam peti kaca emas.

Selama ini, tak ada yang berani menyentuh benda itu karena kekuatan gaibnya yang menakutkan.

Namun, Sunghoon meyakinkan diri jika satu atau dua sayatan di tangan takkan jadi masalah besar.

Ia akan tetap mencoba.

Apa pun risikonya.

Pelan dan menahan napas, Sunghoon menyelinap ke ruangan gelap sambil memegang lilin tanpa tatakan yang baru ia nyalakan.

Batangnya yang luluh dan panas menetes-netes melepuhkan kulit tangannya, tapi Sunghoon sedang terlalu gelisah untuk merasa sakit.

Ia membuka peti kaca.

Menatap Gazet Mirror yang berlambang matahari di bagian belakangnya.

Dan menjatuhkan peti tanpa menyentuh isinya.

Aku melakukannya!

Ternyata aku bisa melakukannya!

Di bawah temaram cahaya api kecil, Sunghoon melihat kaca cermin telah pecah berantakan.

Ia hampir menjatuhkan lilinnya agar benda itu sekalian terbakar, saat tiba-tiba kaca yang berserakan itu menyatu lagi, mengutuhkan dirinya.

"K-kenapa bisa...?"

Sunghoon terkejut setengah mati.

Tiba-tiba merasa harus lari.

"Sunghoon."

Lilin yang ia pegang akhirnya benar-benar jatuh.

Sunghoon terjerembab saat mencoba berlari.

Kepalanya terasa sangat berat dan hidungnya mulai mengalirkan darah segar lagi.

"Sunghoon, maaf jika kau harus menderita."

Suara itu...

Sunghoon menoleh ke belakang.

Mendapati sepasang kelopak mata yang begitu ia kenal, muncul dari permukaan kaca Gazet Mirror dalam keadaan terpejam.

"H-Heeseung...?"


"Aku benci musim panaaaaaas!!!"

Ni-Ki berteriak sambil menebaskan pedang peraknya ke segala arah, padahal hari ini ia punya jadwal latihan duel dengan Jungwon.

"Kenapa matahari sudah membara padahal kemarin masih musim semi! Aku benci musim panaaaaaas! Di musim panas tidak ada aurora!"

Jungwon datang setelah Ni-Ki merusak gundukan semak tanpa bunga yang menjadi sasaran kekesalannya.

"Kakak pergi tanpa pamit, Ni-Ki."

Pedang Ni-Ki berhenti menebas.

"Ke Selatan?" tanyanya. "Kakak mudah ditebak."

"Kita harus menyusulnya," Jungwon berkata dengan raut khawatir. "Ibu mengatakan padaku jika kita harus bisa menjaga Kak Heeseung. Cintanya sangat berbahaya kalau dibiarkan berlanjut. Kak Sunghoon takkan mungkin bisa bersama-sama dengannya, Ni-Ki."

"Kak... aduh, Kakak! Tolong! Cukup ya, cukup!"

Ni-Ki menutup telinga dengan kedua tangan.

Sengaja terlihat frustrasi agar orang-orang di sekelilingnya berhenti mengkhawatirkan hal konyol seperti anak kecil.

"Ada dua jenis makhluk yang paling kuat dan tanpa ampun di dunia ini," Ni-Ki mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.

"Satu, binatang buas yang kelaparan. Dua, orang yang jatuh cinta. Bisakah kau biarkan saja Kak Heeseung menemui calon istrinya? Kak Sunghoon itu calon permaisuri Kerajaan Utara!"

"Ini tidak sesederhana itu, Ni-Ki. Mereka bukan jodoh—Ibu... Ibu tidak mau mereka berjodoh!"

"Karena Kak Sunghoon punya penyakit?" Ni-Ki ingin menenggelamkan diri ke sungai detik itu juga karena makin tak paham dengan jalan pikiran keluarganya. "Dia masih bisa sembuh!"

"Penyakitnya berasal dari langit," Jungwon berkata tajam, setengah menggeram. "Dia sakit karena sedang disucikan sebelum naik ke langit!"

"Omong kosong!" Tapi Ni-Ki tak mau dengar. "Bilang saja kalian semua mendoakan dia mati! Kalian sama saja dengan nenek penyihir itu! Kalian pasti bersekongkol dengan Ratu Selen!"

Jungwon ingin menahan adiknya, tapi Ni-Ki segera berlari menemui penjaga lonceng di menara istana.

"Bunyikan semua lonceng yang kau miliki di seluruh penjuru negeri!" Ia memerintah tanpa pikir panjang.

"Bilang pada semua rakyat jika ada berita penting! Calon raja kita di masa depan akan segera meminang permaisurinya! Sebagai adik dan teman yang sangat menyayangi mereka, aku mau semua rakyatku berdoa agar mereka bisa bersama! AKU MAU RAKYAT MENAIKKAN DOA DAN PERSEMBAHAN SEBANYAK-BANYAKNYA DEMI MEREKA BERDUA."

"Baik, Pangeran," sang penjaga lonceng mengangguk paham. "Akan kubunyikan."


Suara lonceng dari seluruh penjuru negeri Utara, menggema naik ke langit hingga menggetarkan tiang-tiang istana matahari.

Seperti yang selalu terjadi, gema lonceng adalah tanda dari sebuah berita penting.

"Pangeran dari Kerajaan Utara akan menikah."

Seorang utusan melapor pada salah satu bangsawan langit, Sunoo, yang sedang menulis dengan pena bulu angsanya yang bersinar-sinar.

"Ahhh... yang tampan itu, ya?"

Sunoo membenarkan bunga biru yang terselip di atas telinganya.

Jubah satinnya yang juga berwarna biru laut, berleher rendah, dan tanpa lengan, terkibas-kibas karena angin dari badai matahari.

"Siapa mempelainya?"

"Sunghoon dari Selatan."

Pena bulu Sunoo langsung terjatuh.

"Ulangi lagi, siapa?"

"Sunghoon dari Kerajaan Kutub Selatan."

Sunoo mendadak terdiam.

Memaksa otaknya untuk berpikir keras.

Ia bisa mencium bahaya dan ancaman.

"Tidakkah dia seharusnya naik ke langit pada awal musim dingin? Bukankah dia seharusnya sedang sakit keras saat musim panas dimulai?"

"Ya, itu benar."

"Tapi Pangeran Heeseung mengambilnya jadi ratu...? Apa dia sudah gila?"

Mata Sunoo yang beriris biru, menajam.

Anak rambut pirangnya terkibas saat ia berbalik dengan sangat cepat menuju istana bagian dalam.

"Gawat. Ah! Raja Matahari bisa marah besar..."

Sunoo hampir mencapai ruang inti istana matahari saat ia mendengar batin Raja Matahari berbisik di dalam kepalanya.

"Cegah Heeseung menemuinya. Gagalkan dia."

Sunoo memejamkan mata, menjawab melalui batinnya, "Baik, Yang Mulia."


Heeseung menunggangi kuda putih, terus membelah padang rumput yang seluruh warna hijaunya telah meranggas karena panas yang membara.

Ia sesekali melihat ke atas, menyadari jika bola matahari yang silaunya nyaris membutakan, terus-terusan ikut ke mana pun ia bergerak.

Air terakhir dari botol perbekalan yang ia miliki sudah tandas tak bersisa.

Sejak tadi, kudanya berontak kepanasan dan menolak untuk berlari lebih cepat dari itu.

Heeseung mengalah turun agar binatang itu tak semakin kepayahan membawa bobot tubuhnya.

Dengan sepatu boots-nya yang hampir menyentuh lutut, ia terseok-seok menyeberangi padang yang semakin jauh ia berjalan, makin terlihat seperti gurun.

Fatamorgana yang terlihat seperti air, mengecohnya di mana-mana.

Mata Heeseung memerah, rambut hitamnya basah kuyup karena peluh bercucuran.

Tangannya gemetar saat menuntun kudanya dengan tali kekang.

Heeseung tak menyangka cuaca di awal musim panas jadi begitu mengerikan.

Matahari seperti ingin balas dendam untuk menyiksanya setelah ditindih oleh musim semi.

Heeseung sampai berhenti berkali-kali karena rasa haus dan panas menyakiti tubuhnya hingga tersiksa setengah mati.

"Apa kau masih bisa lanjut?" Ia menepuk leher kudanya dengan lembut. "Maaf ya, aku tidak tahu kalau akan sesulit ini. Sepertinya ada yang tidak menyukai perjalanan kita. Kau akan tetap bersama denganku, kan?" tanyanya pelan.

Kudanya meringkik sekali.

Heeseung menaikkan busur dan anak panah ke atas pelana.

Ia masih mencoba untuk berjalan dengan kakinya sendiri, saat tiba-tiba sosok dengan jubah biru dan tubuh penuh cahaya, muncul untuk mengusik perjalanannya.

"Raja Matahari bilang, kau harus kembali lagi ke Utara," makhluk cantik itu teramat ramah, sesekali ia menggigit lidah seperti menahan agar tak tersenyum saat memandang wajah Heeseung. "Kau sangat tampan. Aku kasihan padamu, Pangeran Heeseung. Kenalkan. Aku Sunoo."

Heeseung hanya memandangnya sekilas dan memutuskan terus berjalan.

"Pangeran!"

"Apa Raja Matahari bisa menunda datangnya salju? Apa Raja Matahari bisa menaruh musim di antara musim panas dan musim dingin?"

Heeseung bertanya tanpa sedikit pun menoleh.

Ia terus berjalan.

Dan Sunoo, yang mengikutnya sambil menunggangi cahaya putih yang berbentuk bungai teratai, merasa Heeseung harus segera disadarkan sebelum terjadi kekacauan.

"Pangeran, dia akan mati. Itu sudah takdirnya."

"Kalau begitu takdirnya akan kutawar," Heeseung seketika lupa pada lelah dan panas tubuhnya. "Aku tidak akan membiarkannya pergi."

"Pangeran!"

Sunoo gagal mencegah, hingga ia terpaksa mengambil salah satu anak panah Heeseung dan melemparnya hingga menghalangi langkah sang pangeran yang keras kepala itu.

"Tolong...," Sunoo hampir menyerah. "Ratu Chloe takkan menyukai ini! Percayalah! Beliau bisa murka kalau kau mengacak-acak tatanan bumi cuma gara-gara... jatuh cinta."

"Ibuku pasti paham," balas Heeseung. "Ibuku sangat menyayangi ketiga anaknya."

"Tapi anaknya empat...," Sunoo memutar mata.

"Kau juga merasa kalau Sunghoon adalah anak ibuku? Menurutmu aku sudah gila karena bersikeras ingin menikahi adikku sendiri?"

Sunoo lama-lama keki, "Ya kau kan tidak punya bukti kalau kalian tidak sedarah... ish."

"Aku hanya ingin melihatnya," Heeseung berjalan makin cepat bersama kuda di sisinya. "Bilang pada Raja Matahari untuk berhenti mengganggu kisah cinta kami."

"Raja Matahari menyayangimu, Pangeran."

Kali ini, kata-kata Sunoo membuat Heeseung menoleh.

"Maaf?"


Sejak wangi udara telah berganti dari serbuk benang sari jadi aroma getir matahari, Sunghoon sudah tak sanggup bangkit dari tempat tidurnya.

Kutukan itu benar-benar terjadi; bahwa Snow White, sang manusia tercantik di muka bumi, akan jatuh sakit saat musim panas tiba.

Namun, ia bukan sekadar sakit.

Sunghoon nyaris tak bisa lagi merasakan apa pun, kecuali nyeri dan panas di sekujur tubuhnya.

Dadanya sesak, seakan-akan jalur napasnya dihalangi untuk mendapat udara bersih.

Kulitnya yang semula sudah pucat, kini jadi redup dan kusam.

Ia demam berhari-hari tanpa ada satu cara pun yang bisa meredakan panas tubuhnya.

Mata abu-abunya tak lagi berbinar-binar.

Sunghoon menangis sepanjang hari, memanggil Heeseung tanpa suara dengan bibir merahnya yang kini tak lagi merah.

Ratu Selen tak menjenguknya sama sekali.

Para pelayan hanya memberinya makan seadanya.

Itu pun lantaran mereka nekat karena kamar Sunghoon dilarang disentuh, apalagi dijaga.

Berita bahwa Snow White dari Selatan membawa wabah penyakit menular, berkembang dengan sangat cepat hingga jadi bahan gunjingan dan hinaan di mana-mana.

Beberapa orang bahkan mengirim surat terbuka untuk Ratu Selen agar Sunghoon diasingkan.

Namun, atas bantuan seorang akademisi kerajaan bernama Jake yang juga berteman dengan Sunghoon, surat-surat itu berhasil dilenyapkan ke tungku pembakaran dan tak pernah sampai ke tangan Ratu Selen.

Jake jugalah yang memastikan Ratu Selen tak akan memergoki para pelayan yang masih nekat mengirim air, makanan, dan ramuan obat ke kamar Sunghoon.

Mereka bersekongkol untuk saling menutupi perbuatan masing-masing, sementara Ratu Selen terus-terusan sibuk bertanya pada Gazet Mirror tentang siapa yang paling cantik di dunia saat ini.

"Kau yang tercantik, Ratuku. Tak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang bisa menandingimu."

Ratu Selen begitu bahagia.

Hatinya mekar berbunga-bunga.

Ia sengaja lupa untuk menjenguk Sunghoon yang kondisinya memburuk dengan sangat cepat.

Saat siang hari, ketika matahari masih ada, Sunghoon masih bisa menelan air dan sedikit makanan tanpa memuntahkannya.

Ia juga masih bisa memanggil nama Heeseung, memandangi bunga mawar layu yang ia simpan dalam guci air di samping tempat tidur—meski tak ada seorang pun yang bisa membantunya untuk membawa sang pangeran datang ke sisinya.

Namun, akan keadaan berbalik saat malam tiba.

Ketika malam tiba, Sunghoon bahkan tak sanggup untuk sekadar membuka mata.

"Tubuh Sunghoon semakin lemah. Apa kita harus membuat sayembara diam-diam? Kita undang seluruh tabib di negeri ini agar mereka mau meracik obat untuk Sunghoon."

"Tapi jika ketahuan, kita semua bisa dihukum mati oleh Ratu Selen."

Pembicaraan Jake di luar gerbang istana bersama seorang pelayan tua terhenti, lantaran suara kaki yang diseret dan tapak kuda tiba-tiba muncul di tengah malam.

"Apa dia tamu Ratu Selen dari jauh?" Pelayannya bertanya, "Dia terlihat seperti bangsawan."

Jake menunggu hingga orang itu cukup dekat untuk berbicara padanya.

"Ada sesuatu yang kau cari, Tuan?"

"Aku datang dari Utara untuk mencari Sunghoon."

Heeseung, dengan sedikit kekuatannya yang tersisa, akhirnya sampai di negeri Selatan dengan harapan bisa menemui cintanya.

"Apa Tuan tahu di mana Sunghoon?"

Jake dan pelayan terdiam.

Mereka mengamati pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan jelas sekali ia telah melalui perjalanan yang berat untuk sampai ke tempat ini.

"Sunghoon sedang sakit," ujar Jake kemudian. "Ikutlah denganku. Mungkin kau adalah seseorang yang selalu dia tunggu."


"Sunghoon..."

Heeseung berlutut perlahan di sisi ranjang Sunghoon yang tak sanggup lagi membuka mata.

"Sayang... ini aku."

Tangan Heeseung terulur, menyentuh jari-jari Sunghoon yang masih demam tinggi, seakan tubuh itu perlu menyimpan sebanyak mungkin panas matahari agar tak sekarat dan mati.

Jake menutup pintu dari luar, membiarkan Heeseung menangisi kekasihnya yang bahkan sudah tak bisa menyadari jika ia telah datang.

"Kenapa kau masih menyimpan mawar layu ini?"

Heeseung mengusap wajah Sunghoon yang dalam kondisi apa pun, masih akan tetap jadi yang tercantik di matanya.

"Pulanglah bersamaku ke Utara. Akan kubuatkan taman bunga seluas apa pun yang kau minta."

Air mata Heeseung jatuh di atas selimut putih yang membungkus tubuh Sunghoon hingga sebatas dada.

Matanya tak lepas dari Snow White yang telah ia inginkan dengan segenap jiwa bahkan sejak pertama kali Heeseung melihatnya.

"Katakan bagaimana cara memindahkan penyakitmu padaku?" Heeseung mengecup bibirnya penuh kesedihan. Apa aku perlu berlutut lagi pada Raja Matahari agar kau bisa sembuh? Katakan, Sunghoon. Aku harus apa?"

Heeseung memindahkan dirinya untuk duduk di ranjang Sunghoon dan memeluk tubuh kekasihnya.

"Kau demam tinggi, Sayang...," bisik Heeseung dengan hati remuk. "Katakan mana yang sakit...?"

Heeseung mendekap Sunghoon lekat ke dadanya, mencoba membangunkan orang yang ia cinta melalui rasa aman yang bisa ia berikan.

Namun, Sunghoon tak juga mau membuka mata.

"Izinkan aku berlutut lagi pada Raja Matahari... Akan kuminta satu musim lagi untuk menunda musim dingin... Akan kuulur waktu sebisaku agar kau bangun lagi... Aku mau kau sembuh. Aku ingin menjagamu sampai kau sembuh."

Perlahan, Heeseung membaringkan Sunghoon, sebelum mengecup keningnya dan berlari ke luar.

Di bawah langit malam tanpa bulan, Heeseung mengangkat busur dan anak panahnya untuk mengusik Raja Matahari yang ia tahu pasti melihat semuanya dari atas sana.

"Kau tahu apa yang akan kuminta!" Heeseung berteriak di tengah taman sunyi. "Bangunkan kekasihku dan ambil nyawaku sebagai gantinya!"

Pada detik ketika anak panah Heeseung melesat ke langit, horizon malam tiba-tiba berguncang.

Langit seketika meretak, menjulurkan tangga panjang yang menghubungkan antara bumi dengan matahari.

Heeseung nyaris melangkah untuk menaikinya, sebelum matanya menangkap keberadaan seseorang yang begitu mirip dirinya, turun dari tangga dengan tatapan murka.

"Aku sudah membantumu mengulur waktu, Heeseung! Apalagi yang kau minta!? Tidakkah kau sadar jika kau sudah mengacaukan tatanan alam demi keegoisanmu sendiri!? Apa kau gila!"

Heeseung yakin ia bermimpi.

Selama ini ia tak pernah bertemu Raja Matahari.

Namun, bagaimana mungkin wajah mereka sama?

"Kau... siapa?"

Dari sosok yang berdiri penuh amarah di depannya, Heeseung bisa melihat jika yang berbeda di antara mereka berdua hanya warna rambut dan iris mata.

Sosok itu memiliki rambut merah dengan bola mata sewarna darah yang langsung menusuk tajam saat menatapnya.

"Seharusnya aku membunuhmu sejak dulu, Heeseung! Sejak dulu aku sangat membencimu karena Ibu selalu membelamu dibanding aku!"

Ibu...?

Ibu...?!

Ibunya adalah ibuku!?

Heeseung menggenggam busurnya sekuat tenaga. Merasa harus siap berduel kapan saja jika sosok ini nekat menyerangnya tiba-tiba.

"Terserah apa katamu."

Dan tiba-tiba jatidiri orang itu jadi tak penting lagi saat Heeseung teringat pada Sunghoon.

"Aku hanya minta Sunghoon sembuh. Aku tidak peduli kalau harus berduel sampai mati—aku cuma mau Sunghoon sembuh."

"Kau keparat, Heeseung!" sosok berambut merah itu kembali berteriak. "Sunghoon itu calon permaisuriku! Dia sakit karena tubuhnya sedang disucikan untuk naik ke langit! Dia ditakdirkan untuk hidup di matahari bersamaku!!!"

"AKU TIDAK KEBERATAN JIKA MEMANG DIA MAU HIDUP DENGANMU!" Heeseung membalasnya dengan teriakan yang sama.

Bahkan, tidak hanya wujudnya yang nyaris serupa, suara mereka juga benar-benar sama.

"Aku tidak peduli kau siapa dan apa yang kau bisa! Aku hanya minta Sunghoon SEMBUH!"

"Dia tidak akan sembuh! Dia akan mati, naik ke langit, dan menikahiku! Berhentilah menggugat takdir! Dari awal, Sunghoon sudah jadi milikku!"

Pria itu menebaskan pecut api panjang yang tiba-tiba muncul di tangannya, menyerang Heeseung yang langsung terpukul jauh dengan darah mengucur deras dari lengannya.

"Selama ini Ibu memilih tinggal di bumi bersamamu dan memintaku mengurus langit sendirian. Kau pikir cuma kepentinganmu yang layak diperjuangkan, Heeseung? Aku juga bisa berbuat kejam seperti apa yang kau lakukan!"

Heeseung susah payah berdiri.

Pecutan itu tak hanya membuatnya berdarah, sekujur tubuhnya langsung memar-memar.

Untuk menapak tanah pun, ia benar-benar butuh pegangan.

Heeseung menggunakan satu dari anak panahnya untuk ditancapkan ke tanah agar ia punya penahan saat menjejak.

"Aku tidak tahu apa yang kau katakan...," Heeseung berkata, dengan berani menatap mata lawannya. "Tapi kepentinganmu cuma membuat Sunghoon sembuh..."

"SUDAH KUBILANG DIA MILIKKU! DIA CALON RATUKU! DIA DILAHIRKAN HANYA UNTUK NAIK BERSAMAKU! SUNGHOON HANYA AKAN ABADI JIKA ADA MATAHARI! APA KAU TIDAK PAHAM JUGA!?"

Mata Heeseung terangkat ke langit.

Tak ada bulan yang memantulkan cahaya matahari di sana.

Hanya malam gerhana.

Kegelapan yang terlihat jadi satu-satunya tanda bahwa bumi masih berpihak padanya.

"Jadi begitu..." Heeseung menggumam, "Jadi kau mencintai orang yang sama denganku, Yang Mulia Raja Matahari?"

"Kau! Kau yang mencintai orang yang sama denganku! Kau selalu merebut apa yang kucintai! Ibu... Sunghoon... MEREKA SEMUA KAU REBUT DARIKU!!!"

Pecut sepanas lidah matahari itu kembali memukul bumi.

Heeseung kali ini berhasil menghindar, tapi Raja Matahari terus menyerangnya bertubi-tubi.

"Aku benar-benar membencimu, Heeseung! Aku tidak akan memberikan Sunghoon untukmu!!!"

"HELIOS! HENTIKAN!!!"

Dari tangga yang masih menjulur ke tanah, Ratu Chloe lari turun dengan napas tersengal-sengal, berusaha menghentikan pertarungan yang tak ia sangka akan benar-benar terjadi.

"Heli! Ibu mohon berhenti! Heeseung itu adik kembarmu!!!"

"Aku sudah menurutinya satu kali! Tapi dia tidak juga paham jika Sunghoon milikku, Ibu!"

"Heli, hentikan! Kau adalah Raja Matahari! Kau tahu jika amarahmu tidak mungkin bisa dilawan oleh manusia!"

"Dia bukan manusia! Dia adalah gerhana yang lahir bersamaku! Heeseung adalah dewa gerhana yang bisa membunuh Sunghoon, sementara aku adalah Raja Matahari yang ditakdirkan untuk memilikinya!"

Air mata Ratu Chloe jatuh tapi ia buru-buru menepisnya.

"Heeseung..."

Sang ratu menghampiri putranya yang sudah bersimbah darah karena senjata dari langit sungguh tak sepadan untuk dilawan dengan busur dan anak panah.

"Heeseung... Helios berkata benar. Relakan saja Sunghoon untuk kakakmu."

"Aku tidak akan memberikan Sunghoon untuk siapa pun yang bisa menyakitinya, Ibu."

"Heeseung, dengar... Sejak kalian lahir di langit, Ibu sengaja memisahkanmu dan Heli karena kalian diramal suatu saat akan saling membunuh karena mencintai orang yang sama..."

Heeseung menoleh. Menatap Raja Matahari yang masih menggeram marah seakan tak sabar untuk menghabisinya.

"Tapi Ibu, kalau dia juga mencintai Sunghoon, kenapa dia tega membuatnya menderita?"

Tak lekas mendapat jawaban, Heeseung melepaskan tangan Ratu Chloe yang masih bersikeras menahannya untuk tidak bertindak.

"Sejujurnya, aku tidak peduli dia siapa."

Tangan Heeseung menghantam tanah di bawah gerhana.

"Aku tetap tak terima Sunghoon-ku disiksa."

Dalam sekejap mata, kuda putihnya terpanggil datang dan Heeseung segera melompat ke punggungnya.

"Kejar aku, Raja Matahari. Kalau kau memang kakakku, ayo kita bertarung sampai mati."


Setiap tapak kuda yang ditungganggi Heeseung meninggalkan jejak asap di atas tanah.

Ia tak peduli lagi pada apa pun yang diterjangnya.

Heeseung terus berlari agar diburu—supaya saat dirinya harus menumpahkan darah seseorang, ia telah berada cukup jauh dari Sunghoon yang menurutnya tak layak melihat kekejaman.

Heeseung memacu kudanya hingga malam berganti pagi, hingga pagi berganti siang, hingga siang berganti malam, dan malam-malam bertemu dengan belasan malam yang lain.

Matahari terik di atas kepala tak henti mengikutinya, baik siang atau malam, bola pijar itu terus bersinar sebagai tanda bahwa Raja Matahari terus mengejar.

Heeseung baru menarik tali kekang kuda saat ia tiba di garis tengah bumi.

Di perbatasan antara dunia Utara dan Selatan, Heeseung mengangkat busur panah, mengarahkannya ke arah matahari bersinar.

"Akan kutancapkan matahari agar terus bersinar sepanjang tahun di garis tengah bumi. Di tempat inilah, Sunghoon tak akan pernah bertemu salju yang bisa merenggut nyawanya. Di tempat inilah, aku bersumpah tidak ada satu hal pun yang kuizinkan untuk menyakitinya."

Panah Heeseung melesat lurus ke langit.

Tali busurnya berpijar kuning keemasan saat senjatanya melenting, didorong oleh kekuatan gerhana yang tanpa sadar ia kumpulkan pada malam-malam ketika ia masih terseok-seok berjalan menuju Selatan.

Matahari sempat padam sejenak saat panah Heeseung menancap persis di tengah-tengah, menusuk jantung apinya yang langsung meredup karena panah Heeseung diberkati oleh kekuatan kegelapan yang begitu pekat.

Di balik layar, di atas singgasana yang selalu ia tempat dalam kesepian, Heli menatap adiknya yang begitu keras kepala mencintai seseorang yang juga ia inginkan.

"Percuma kuberikan Gazet Mirror pada Ratu Selen hanya demi terus bisa menatap Sunghoon setiap hari dari pantulannya...," Heli menggeram, tangannya mengepal, "adikku memang bajingan."

Heli memejamkan matanya yang beriris merah.

Mengumpulkan kekuatan untuk kembali membuat matahari berpijar, tapi sadar jika Heeseung telah menancapkannya hingga tak bisa bergeser lagi dari garis tengah bumi.

Mulai hari ini, hanya akan ada siang dan malam.

Salju takkan berani datang ke khatulistiwa, begitu pula musim semi yang silih berganti menunda waktu agar takdir yang menyakitkan tak punya kesempatan untuk menyakiti cintanya.

"Kuberikan satu musim penjeda sebelum musim dingin tiba untuk adikku dan kekasihnya...," Heli bertitah.

Dari tangannya muncul secarik cahaya jingga yang menggetarkan istana tempat Sunghoon masih berbaring, menurunkan satu musim yang nantinya disebut 'musim gugur' oleh manusia.

"Jemputlah dia, Heeseung. Tapi ingat, aku tidak akan membiarkanmu hidup jika kau berani berpaling darinya."

Ketika matahari mulai mendapatkan cahayanya lagi, Heeseung sadar jika ia tak lagi diikuti saat memacu kudanya kembali ke Selatan.

Ia kira, kakaknya, Heli, akan menurunkan hujan api dari langit untuk membakarnya di tengah jalan—tapi yang ia dapatkan hanya titik-titik gerimis yang berjatuhan untuk menolongnya lepas dari panas dan kehausan.

"Apa kau sudah menyerah?" mata Heeseung menerawang ke langit, "Apa kau kasihan padaku, Kakak?"

Heeseung memacu kuda makin kencang.

Saat ini, tak ada apa pun yang ia inginkan selain menjemput Sunghoon dan mendekapnya dalam pelukan.


"The Guardian of Seasons"
Part of Fairy Tales of Desire
A shard from the Vault.


EPILOGUE

Mata Sunghoon terbuka perlahan.

Ia kira, dirinya akan terbangun di ranjang dengan Ratu Selen yang menatap marah padanya.

Namun nyatanya, ia telah berada dalam pelukan seseorang, mengembara berdua di atas punggung kuda.

"Kau sudah bangun? Maaf aku membawamu tanpa izin. Ratu Selen mengatakan padaku untuk membawamu. Dia sedang murka karena Gazet Mirror hilang tanpa jejak tiba-tiba..."

"Di mana kita?"

Sunghoon menegakkan tubuh yang sebelumnya bersandar di dada Heeseung.

"Kau membawaku ke mana?"

Matanya menyapu padang senja yang membentang di hadapan mereka.

"Heeseung, di mana kita?"

"Aku akan membawamu ke suatu tempat di mana takkan ada salju yang bisa mengambilmu dari aku," tangan Heeseung menyentuh dagunya, perlahan mencuri ciuman dari bibirnya. "Kau bisa menyebutnya... khatulistiwa."

Di atas punggung kuda putih yang terus berjalan melawan matahari senja, Heeseung dan Sunghoon berpelukan seakan seisi bumi hanyalah milik mereka berdua.

END

Series this work belongs to: