Work Text:
Tidak ada yang benar-benar mengetahui bagaimana perasaan seseorang bekerja. Entah untuk selamanya dalam hidup, manusia bisa menaruh rasa pada orang lain. Seiring waktu berjalan, rasa juga akan ikut berubah mengikuti alur cerita yang sudah Tuhan siapkan.
Cinta terkadang berakhir bahagia dan terkadang sebaliknya. Semua bergantung pada bagaimana kita dapat menyikapinya. Jika ingin berakhir dengan baik, maka hubungan antara dua orang itu pun harus baik. Namun, di zaman sekarang, banyak remaja yang memilih untuk mencintai dalam diam, hanya bisa melihat orang yang dicintainya dari jauh, dan tetap bertahan meski orang yang dicintainya menyakiti dengan cara apapun.
Salah satu remaja yang sedang mengalami fase itu adalah Geva atau biasa dipanggil Ge. Nama yang cukup indah untuk orang yang indah, setidaknya indah secara fisik. Tapi siapa yang tahu isi hatinya?.
Geva sedang tergila-gila kepada seseorang yang bernama Axel. Notabe keduanya di sekolah sudah seperti langit dengan bumi, Axel diibaratkan langit, sedangkan Geva ibarat bumi. Bisa ditebak lah seperti apa mereka di sekolah, Axel dengan berbagai macam prestasinya, semua orang memanggilnya anak kesayangan guru, sedangkan Ge, apa yang bisa diharapkan dari pemuda itu selain berbuat onar, semua orang menyebutnya penghuni abadi ruang BK.
Perbedaan yang signifikan itulah yang seperti pemisahan kasta mereka dalam mata sekolah. Tetapi hal itu tidak akan bisa menjadi penghalang bagi remaja itu. Geva akan terus mencintai lelaki yang bernama Axel itu. Geva tahu bagaimana risikonya jika menonton sedang mengagumi Axel diam-diam, karena hal ini masih dianggap tabu.
Ge terus menyembunyikan hal itu, hingga pada suatu malam, saat dimana ia sedang menghilangkan kepenatan di dalam dirinya dengan pergi ke sebuah BAR - sebuah tempat untuk orang - orang untuk melarikan diri dari rasa stres, dan melupakan hiruk pikuk dunia sejenak.
Ia berjalan menuju bartender langganannya, namun melalui ekor matanya, ia menangkap sebuah siluet orang yang begitu familiar. Itu adalah Axel. 'Sial itu beneran Axel'. Tanpa berpikir panjang, Geva berbalik dan mengejar Axel yang tengah dibawa oleh seorang pramuria menuju suatu tempat. Ia segera menarik bahu Axel dari pelukan perempuan itu, lalu berkata dengan cepat, “Kau bisa pergi, dia pacarku” pada pramuria itu. Perempuan itu hanya tersenyum tipis dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Geva kemudian mengeluarkan nafas lega, tapi kemudian rasa bingung menyergap otaknya dengan cepat.
'Axel mabuk, seorang axel?'
'Ga mungkin, ini pasti karena temennya, dicekokin terus ditinggal'
'Eh goblok, dipikir pikir, dia kaga mungkin dia punya teman kaya gitu njing'
'Terus, kenapa nih anak ada disini?'.
'Sialan, kenapa gue harus mikirin sih, kan manusia ya pasti ada rahasianya sendiri dong, emang udah gila lo ge'.
monolog Geva, dengan semua pemikiran anehnya tentang kejadian yang baru saja terjadi.
Axel mulai terhuyung, dan tubuhnya terasa semakin berat. Dengan penuh kehati-hatian, Geva memapahnya keluar dari bar menuju mobil yang terparkir rapi di depan BAR. Ia lalu membuka pintu penumpang dan membantu Axel duduk di kursi sebelah pengemudi dan membawanya pergi ke hotel terdekat.
Sesampainya di tempat tujuan, Geva kembali memapah Axel yang hampir tak sadarkan diri untuk masuk ke dalam kamar hotel. Dengan penuh kehati-hatian, pemuda yang lebih ramping itu merebahkan tubuh besar Axel ke kasur dan merebahkan tubuh tepat di sebelahnya. Bernafas sebentar menenangkan diri, perlahan ia mengubah posisi tidurnya hingga menjadi lebih dekat lagi dengan laki - laki yang ia cintai.
Geva membekukan pelan pipi Axel yang bisa diibaratkan seperti terbuat dari porselen. Dari pipi, akhir ke hidung, bibir dan kemudian badan hingga turun ke bagian lengan tangan yang berisi otot.
Tanpa disadari, Axel yang sedang mabuk perlahan membuka matanya, melihat sekelilingnya, netra matanya menangkap sosok manusia yang sedang membekukan tubuhnya, seperti orang yang diam-diam mengaguminya. Tangannya perlahan menangkap pergelangan tangan sosok itu, dan memegangnya dengan keras, seolah-olah dirinya tidak boleh pergi darinya.
Geva kesusahan akan situasi yang tidak diharapkan ini, dia ingin pergi, tetapi mengapa lelaki ini malah seperti sedang ditahan. Berpikir jernih namun cepat, ia kemudian mencoba merilekskan diri dan pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali berbaring dengan tenang di sebelah Axel.
Disisi lain, seperti yang Axel bayangkan, sosok itu perlahan tergeletak di sebelahnya. Dengan keadaan setengah sadar, ia berusaha mengganti posisinya, menjadi mengukung sosok itu di antara kedua lengannya. Ia menggumamkan sesuatu untuk dirinya sendiri pun tidak mengerti apa itu.
Selesai meracau dan tidak jelas, Axel memagut bibir ranum namun kenyal milik orang itu, dirinya sendiri tidak tahu apa yang dipikirkannya, ia tenggelam akan rasa mabuk yang tidak terganggu.
Setelah mendengarkan dengan seksama racauan tidak jelas dari Axel, Geva sangat tidak menyangka, ia bahkan tercengang atas apa yang telah laki laki itu katakan. Seumur hidupnya, ia tidak pernah bisa membayangkan bahwa naksirnya juga menyukai dirinya sendiri. Otaknya merespons hal itu dengan lama, dan pikiran terus berkecamuk hingga melupakan Axel yang sedang bermain dengan rekomendasi.
Axel yang merasa tidak ada respon dari sosok itu, tanpa pikir panjang ia menanggalkan pakaian di depannya ini, ia hanya berpikir, mungkin saja sosok yang di depannya adalah perempuan atau laki-laki acak yang bernafsu dengannya. Sungguh dia tidak pernah peduli.
Setelah menanggalkan pakaiannya, dia terus menanggalkan pakaiannya sendiri. Selesai dengan acara menanggalkan pakaian, ia terus memagut bibir orang asing tersebut, dari bibir turun ke leher, meninggalkan beberapa jejak keunguan, semakin ke bawah ia terus meninggalkan jejak. Tangan nakal nya tidak hanya diam, semua bekerja sesuai bagiannya masing-masing, tangan enkripsi dengan handal memaju mundur kan alat kejantanan, dan tangan kirinya menumpu. Setelah melakukan hal itu Axel sekarang menyadari bahwa ia sedang bercinta dengan seorang laki-laki juga.
Geva yang diam saja dan senang dimanjakan oleh tangan handal milik Axel, hanya bisa menggelinjang merasakan kenikmatan duniawi. 'Sial', dia baru tahu bahwa Axel sangat pandai dalam hal seperti ini. Ia jadi semakin mencintai Axel lagi dan lagi.
Desahan yang keluar dari mulut Geva membuat Axel semakin gencar melakukan aksinya, setelah puas pada bagian itu. Axel dengan kelihaiannya dengan mudah memasukkan jari tengah dan manisnya ke dalam lubang hangat milik pemuda yang ada di bawahnya.
Memaju mundur kan, dan menggerakkan kedua jari seperti postur menggunting. Setelah dirasa cukup, perlahan Axel memasukkan kejantanannya ke dalamnya. Ia tidak peduli akan keadaan laki-laki tersebut, entah merasa sakit atau sebaliknya.
Memaju mundurkan kejantanannya, dengan tempo yang awalnya lambat menjadi semakin cepat. Dari awal bermain, sebenarnya Axel hanya membayangkan paras cantik milik Geva, ia dengan pikiran kotornya berfantasi seolah olah ia sekarang sedang melakukan sex dengan Geva.
Waktu terus berlalu, tetapi kedua manusia itu tetap bercumbu satu sama lain, memadukan tali asmara di atas kasur, seolah tidak ada yang mau terpisah satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka, baik Axel maupun Geva, tidak ada yang mau mengakhirinya.
Klimaks yang Axel keluarkan adalah tanda berakhirnya hubungan ranjang itu, setelah beberapa jam berlalu Axel dan Geva hanya melangsungkan beberapa ronde, yang dapat dihitung dengan jari.
Axel merebahkan dirinya di samping laki-laki tersebut, mengucapkan terima kasih karena telah membantu dirinya untuk memuaskan hasratnya pada Geva yang selama ini terpendam.
Disisi lain, ucapan terima kasih yang diterima Geva, dibuat dengan reflek membalas, dengan suara yang hampir habis, ia tetap berusaha membalas.
"El, gue ga nyangka kalo lo suka gue, semalem gue mimpi apaan ya ditembak sama crush gue sendiri"
Kata kata yang keluar dari mulut Geva membuat Axel terkejut dan segera ia sadar bahwa yang ia setubuhi tadi bukan lelaki asing tetapi seseorang yang selama ini dia mencintai diam diam.
Axel dengan cepat bangkit dari kasur, miring ke hadapan Geva. Di titik itu Axel merasa dirinya bodoh sekali karena tidak berpikir lembut terhadap orang yang dia cintai sepanjang hubungan berlangsung. Pertama kali bersetubuh dengan orang yang dia sayangi, namun dia malah memperlakukan orang itu dengan kasar.
"Maaf Ge" Ucap Axel meminta maaf, nadanya seperti orang yang sangat menyesali perbuatannya. Melihat tingkah Axel yang berubah drastis itu, Geva hanya terkekeh. Ia tidak tahu bahwa orang yang dia anggap nerd akan bisa sebrutal itu jika diranjang.
"Sans aja kali, gue juga udah biasa menyetubuhi orang lain, tapi ini pertama kalinya gue disetubuhi, gue ga nyangka Lo bisa kek gitu kalo di kasur. Hebat juga" Balas Geva dengan nada yang santai, ia berusaha mencairkan suasana.
Axel hanya mengangguk melihat reaksi Geva, sejujurnya hatinya sedikit sakit saat laki-laki itu menyebutkan bahwa ia pernah bersetubuh dengan orang lain, namun siapa dirinya yang bisa melarang Geva. Axel dengan sedikit patah hati menjawab "Oh, iya" untuk sekadar merespons.
Geva yang diberi respon tidak menyenangkan sama sekali oleh Axel, hanya bisa berpikir apakah ada kalimat yang salah saat ia berbicara. Namun ia tidak memikirkan hal itu lebih jauh lagi, dia tertidur. Tetapi matanya masih ingin terbuka untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu.
Ekor matanya melirik Axel yang sedang memakai celana, membuka jendela balkon, mengambil rokok di saku, dan memantiknya.
Setiap manusia pasti mempunyai rahasia, dan itu benar adanya. Di sekolah Geva tidak pernah membahas Axel seperti ini. Merokok, seks, alkohol. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya.
Namun disisi lain, tidak ada yang mengetahui bahwa, di posisi Axel, rokok, sex, alkohol dan Geva adalah dunianya. Hidupnya hancur namun ia harus tetap terlihat baik di sekolah. Ia harus tetap menorehkan banyak prestasi jika tidak ia akan habis di tangan ayahnya yang sangat kasar, maka dari itu dia mencari pepelampiasan dari alkohol, seks untuk sekedar melupakan semua masalah, dan merokok apapun hanya untuk pemanis mulut semata.
Merokok memang tidak baik, dan menghirup rokok juga tidak dianjurkan. Tetapi Axel mengabaikan hal itu. Dirinya hanya sibuk memperhatikan hiruk pikuk kota dari balkon mencoba mengalihkan pikiran.
Secara tiba - tiba rasa hangat ia dapatkan dari belakang punggungnya yang telanjang. Pada awalnya Axel berpikir bahwa Geva sudah tertidur karena kelelahan, namun sepertinya ia salah, lelaki itu ternyata memiliki energi yang berlebih.
“el” kata Geva, sambil menyenderkan kepalanya di bahu lebar milik Axel.
Axel membayangkan, ia lebih memilih untuk menunggu rentetan kalimat yang akan dikeluarkan oleh Geva selanjutnya.
"Gue baru tau kalo lo suka gue njir, kenapa ga lo bilang dari dulu aja sih njing. Lo tuh bego banget sihhhh, masa nyatain cinta waktu mau sex sama gue, teler lagi lo, kaga romantis bangsat" Oceh Geva sambil termenung
Axel yang mendengar ocehan Geva, akhirnya memilih untuk memutar badan dan memperhatikan laki-laki di depannya. Dengan cepat merespons, meskipun di dalam jantung ia berdebar cukup keras. Sungguh Geva sangat cantik jika dilihat lebih dekat.
Balas Axel yang malah bertanya kembali, hatinya merutuki dirinya sendiri yang sangat bodoh jika sedang tersipu malu. Bagaimana nanti jika Geva malah pergi meninggalkan dirinya karena balasannya yang sangat cuek.
Geva kesal kesal, ia kemudian membalas pertanyaan cuek Axel, "bangsat, ga peka banget lo anjir, gue suka lo dari dulu"
Axel kaget dengan pernyataan langsung dari Geva, dirinya baru mengetahui fakta dimana lelaki cantik dengan mata bersinar itu menyukainya.
“Suka sama gue?” bola axel dengan tenang.
Geva membalas pertanyaan Axel dengan ceria "iya, sejak awal lo jadi ketua Osis"
Mendengar hal itu, Axel semakin terkejut lagi, dirinya sudah menjadi ketua Osis sejak 1 tahun yang lalu, itu sudah lama sekali. Sedangkan ia baru saja menyukai Geva saat mereka tidak sengaja papasan di ruang BK. Tanpa melewatkan kesempatan emas itu untuk menyatakan cinta kepada Geva, dengan spontan Axel berceletuk dengan nada dingin “Ge, mau jadi pacar gue?".
'Sial' batin Axel merutuki dirinya sendiri, mengapa ia harus mengatakan hal romantis itu dengan nada datar, ini adalah kesempatan yang ia tunggu tunggu selama ini, mengapa kegugupannya harus menghancurkan semuanya. Ia melihat Geva sedikit takut, raut wajah lelaki itu tidak bisa ia tebak sedikit pun. Ia sungguh takut Si Cantik akan menolaknya karena caranya berbicara.
"Ih bangsat ulangi lagi, kaga romantis njing" balas Geva merasa kesal akan perilaku Axel yang menurutnya itu tidak romantis sekali, mana ada orang yang menyatakan cinta seperti itu? iya kata kata nya benar, namun nadanya sangat datar.
Axel mengeluarkan napas sebentar, ia tidak menyangka bahwa Geva akan meresponsnya dengan sesantai itu, sialan memang rasa gugupnya datang, dan membuat semua menjadi berantakan. Ia kemudian mengulangi kata kata yang telah diucapkannya tadi, sambil memegang kedua tangan Geva, dengan perlahan ia berkata "Geva, gue suka lo, dan gue mau jaga lo dengan segenap jiwa dan raga gue, jadi will you be mine?"
"nah gitu dong bagus, yes, yes i will" Geva menjawab dengan nada girang, ia sangat senang cintanya terbalas, pada akhirnya dia tidak akan bernasib sama dengan orang yang cintanya tidak terbalaskan dan hanya berakhir dengan sakit hati. Ia sangat lega sekarang hingga hanya bisa menempatkan sebuah senyuman di paras cantiknya.
Entah kenapa sejak pertemuan singkat dengan Geva di ruang BK bisa membuat Axel sangat menyukai laki - laki itu. Ia merasa bahwa senyum Geva dapat membuat hari harinya berwarna lagi, maka dari itu ia sangat menyukai senyuman dari laki - laki itu. Mulai saat ini, ia berjanji akan memastikan senyuman itu tidak akan hilang dari para cantik milik Geva, ia sungguh tidak peduli, dengan cara apapun dia pasti akan selalu membuat Geva mengeluarkan senyuman itu. Tidak ada yang boleh membuat senyuman itu hilang, ia akan melawan siapapun entah itu Dunia ataupun ayahnya sendiri.
Pada dasarnya tumbuhnya rasa cinta juga tidak bisa dicegah oleh diri kita sendiri, tidak ada yang bisa disalahkan, dan pilihan terakhir hanyalah mengabaikan atau menjalaninya.
- Saturday, 18 Okt 25
