Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Fall in love again and again
Stats:
Published:
2025-10-21
Words:
1,543
Chapters:
1/1
Kudos:
30
Hits:
443

School Life (Cemburu or Jealous)

Summary:

Kehidupan sekolah Axel dan Geva yang selalu dipenuhi dengan intrik dan kesalahpahaman, namun entah bagaimana selalu berhasil mereka selesaikan dengan cepat. Axel yang tak pernah lelah menghadapi Geva, selalu siap mengalah untuk Geva, dan Geva yang selalu jatuh cinta kepada Axel di setiap kesempatan.
Bagi Geva, selama ia bersama dengan Axel, maka ia yakin bahwa semuanya akan baik baik saja.

Max Verstappen - Axel Emilian
George Russel - Geva William

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Langkah tergesa - gesa memenuhi seluruh lorong sekolah itu, setiap siswa yang sedang sibuk dengan kegiatan masing masing mulai mengalihkan perhatian mereka kepada dua laki - laki yang tampak sedang bermain kejar kejaran, namun pada kenyataannya dua orang laki - laki itu sedang tidak bermain, ada masalah yang lebih serius dibanding itu semua. 

"Ge plis dengerin gue sekali ini saja ya, pliss gue mohon banget ke Lo" kata Axel sembari mengejar Geva ke kelasnya. 

Namun orang yang dipanggil sama sekali tidak ingin menghentikan langkahnya, ataupun menyahut panggilan dari laki-laki dibelakangnya. Ekspresinya memperlihatkan hal lain, antara rasa kecewa, dan kesal. 

Beberapa siswa dan siswi menoleh, lalu saling berbisik. Sebagian adik kelas hanya saling memandang, mengagumi paras tampan dari sosok Axel, sementara teman-teman seangkatan mereka, ada yang menggeleng, dengan raut wajah yang  menyiratkan kebingungan sekaligus heran. Bagaimana tidak, mereka sedang melihat seorang Axel,  yang notabenya selalu tenang dan nyaris tak pernah terlihat tergesa, kini ia terlihat sedang berlari mengejar seorang laki laki, yang tidak mereka sangka itu adalah Geva.  Ya Geva. tidak salah, nama yang akan selamanya teringat pada benak setiap guru BK. 

Begitu sampai kelas, tanpa menghiraukan perkataan Axel, Geva dengan cepat mengambil smartphone beserta earphone dari tasnya dan segera memakainya. 

"Ge plis, jangan gini, gue bisa jelasin kok," ucap Axel kepada Geva yang sedang mendudukkan diri di karpet kecil belakang ruang kelas. Melihat Geva duduk, ia pun ikut turun duduk dan tanpa pikir panjang ia menidurkan kepalanya di paha pacarnya itu. Beruntungnya siang itu keadaan kelas Geva sangat kosong karena jam pelajaran Pendidikan Jasmani. 

"Gevaaa~" panggil Axel pelan dengan nada selembut mungkin. 

"Gevaaa sayangku," untuk kedua kalinya, 

"Geva cintaku, yang paling cantik sedunia," ketiga kalinya

"GEVAAA!" keempat kalinya dan masih saja tidak ada sahutan dari sosok cantik itu. 

Sudah keempat kalinya Axel memanggil, tapi tetap saja Geva tidak respon sama sekali, si cantik hanya sibuk dengan handphone nya, mengotak atik nya seolah banyak hal penting yang dilakukan dengan benda sialan itu dan entah apa yang sekarang si cantik sedang dengarkan lewat earphone nya itu, hingga  tidak membalas panggilannya.

"Ge, gue bener bener minta maaf,  lo juga tau kan kalo hubungan kita backstreet, tapi bisa ga sih dengerin penjelasan dari gue dulu" kata Axel dengan nada rendah, ia benar benar sudah pasrah jika Si Cantik sudah bersikap acuh tak acuh seperti ini terhadap dirinya.

Keheningan sejenak menyelimuti mereka berdua, dan hanya terdengar suara kipas angin serta sayup sayup suara siswa - siswi yang sedang asik berolahraga di lapangan.

“Ge?, please respon gue, kalo gini masalah kita ga bakal selesai,” Axel kemudian menegakkan punggungnya, karena sudah kepalang kesal tidak direspon oleh pacarnya. “Sebenarnya apa sih yang lo dengerin hah, sampe lo ga ngerespon gue?” ucapnya lagi, kemudian dengan kasar ia melepaskan earphone dari telinga Geva. 

Mata Geva seketika melotot, ia tidak menyangka bahwa Axel - pacarnya akan melakukan hal seberani itu, yang membuat amarah yang ia coba redam seketika meledak seperti gunung meletus. Ia pun tak bisa memendam lagi amarahnya dan akhirnya berteriak kasar ke arah Axel

“EL, BANGSAT, MAKSUD LO APA SIH, GA JELAS BANGET JADI ORANG, GUE GA BAKAL PERNAH CEMBURU SAMA LO YA” bentak Geva, karena sebenarnya ia sedari tadi mendengarkan musik untuk mengusir rasa marah dan cemburunya kepada Axel. Dia hanya ingin ruang untuk dirinya sementara, namun Axel malah menghancurkan semuanya. 

Laki - laki yang menjadi sumber kemarahan Geva itu seketika kaget dan kemudian mengerjapkan mata pelan, sungguh ia tidak menyangka Geva akan semarah itu. Ia pun kemudian membalas Geva dengan nada yang sedikit melembut.  

“Oke…oke, maaf ya sayang, aku terpaksa kaya gini karena dari tadi kamu ga ngerespon omongan ku dari tadi, apalagi kamu tadi tiba tiba langsung pergi saat ngeliat aku sama Arina, padahal aku sama Arina cuman mau ngomongin masalah osis. Jadi ya aku putusin kamu cemburu, dan kamu salah paham sama kita.” Jelas Axel kepada Geva, dan anehnya dengan sekejap raut wajah si cantik perlahan berubah, meskipun masih mempertahankan raut wajah marahnya,  namun ia tahu bahwa pacarnya itu sudah sedikit memaafkannya. 

“Bodo amat ihh, gue tekenin, gue ga bakal pernah cemburu sama lo, inget itu, sekarang balikin earphone gue!” balas Geva, masih mempertahankan nada marahnya. Tetapi sejujurnya saat ia mendengarkan penjelasan Axel, ia menyadari bahwa ia juga salah karena ia tidak mendengarkan penjelasan laki laki itu terlebih dahulu, dan sekarang ia cukup malu. 

“Oke, aku bakal balikin,” ucap Axel dengan lembut. Ia menatap mata geva lama, memastikan bahwa Si Cantik benar benar mendengarkan dirinya berbicara. “Tapi inget ya cantik, sebanyak apapun cewe cantik yang deketin aku, aku bakal milih kamu sebagai pacar aku, karena menurut ku, kamu yang paling cantik di dunia ini ge”.  

Axel menarik nafas kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kamu tau ga bahkan di mimpi aku, yang selalu sering muncul itu kamu, Ge. Aku gak tau kenapa, akhir-akhir ini, sejak kita jalin hubungan, mimpi tentang ayah ku udah mulai berkurang dan berganti ke kamu, dan aku sangat bersyukur atas itu ge, makasih ya cantik” ucap Axel sambil mengulurkan tangannya untuk mengembalikan earphone itu ke telinga Geva. 

Selesai mengembalikan earphone milik Geva, Axel kembali mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Geva yang lembut. Tanpa aba-aba, ia menunduk dan mengecup punggung tangan pacarnya itu sebelum kembali berucap “Jadi, jangan gitu lagi ya cantik, lain kali dengerin penjelasan aku dulu” 

Belum sempat Geva menjawab,  Axel mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu memberikan kecupan singkat di kening Geva. 

“Ya…” jawab geva singkat. Jujur saja dirinya sudah sangat tersipu malu, ia rasa sekarang pipinya sudah memerah karena sikap tiba tiba dari Axel. 

“Sip, gitu dong. ini baru pacar aku” ucap Axel seraya mencubit pipi gembil milik Geva. 

“Ihhh, stop ga el, sakitttt tauuuu, lo kira nih pipi squishy apaa” seru Geva, ia langsung menepis tangan Axel dan entah mengapa malah memajukan bibirnya. Yang mana hal itu malah membuat hati Axel berdebar tidak karuan saat melihat tingkah lucu dari pacarnya. 

Axel terkekeh kecil, ia tak bisa menahan senyumannya, “Lah emg squishy kok. Gembul gini, aku suka yang kek gini. Nanti aku beliin bakpao sama cilok lagi yaa.., biar pipi kamu tambah gembul” ucapnya lembut, ia berusaha menahan diri agar tangannya tidak melukai kesayangannya lagi. 

Mendengar ucapan Axel, Geva hanya melirik sekilas, sebelum melihat handphonenya lagi. “Ya ya ya, terserah lo aja deh el” balasnya. Axel tidak tau saja, sebenarnya hati Geva sedang menari kesenangan. 

Melihat Geva kembali sibuk dengan dunianya sendiri, Axel hanya tersenyum. Tatapan Axel perlahan turun ke arah paha Geva yang sangat menggoda, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menidurkan kepalanya di sana lagi, dan tentunya dengan posisi yang lebih nyaman.

“Ge, aku izin tiduran di paha kamu lagi ya, empuk soalnya” ucap Axel masih menyesuaikan posisi tubuhnya, berusaha untuk mencari kenyamanan. 

Beberapa menit kemudian, tidak disangka, Axel benar benar tertidur lelap. Nafasnya teratur, wajahnya tampak damai. 

“Ge,  kamu tau ga” gumam Axel pelan di antara ambang kesadarannya,  “Kamu cantik banget kalau dilihat dari bawah..” lanjutnya,  sebelum akhirnya ia benar benar tenggelam ke alam mimpi.  

Geva terdiam, wajahnya seketika memanas, seperti udang rebus. Untung saja pacarnya itu sudah tertidur, kalau tidak, ia pasti tak tahu harus meletakkan wajahnya di mana. 

Secara perlahan tangannya terangkat untuk mengelus surai hitam milik Axel yang jatuh menutupi dahinya, yang kemudian hal itu memunculkan senyum tipis dari bibir Geva. 

Ia kemudian merutuki pacarnya itu. “Dasar Axel Emilian, gue tuh bingung, sebenernya lo tuh pinter apa bego sih, tapi gue akuin kalo lo paling jago bikin gue salting dan bikin gue jatuh cinta ke lo, lagi dan lagi” gumamnya pelan, ia menatap Axel yang sedang tertidur pulas di pangkuannya dengan lembut. Ia terus membelai rambut Axel perlahan, membiarkan waktu berjalan dengan sendirinya. 

Beberapa jam telah berlalu, anak anak juga sudah mulai kembali ke kelas, untuk mengambil tas mereka agar bisa pulang, namun di antara mereka tidak ada yang peduli dengan interaksi mereka berdua. 

Sementara itu Geva menatap Axel lebih lama, memperhatikan setiap detail wajah lelaki itu. Alis tebal, hidungnya yang mancung, dan bibirnya tebalnya yang kini terbuka sedikit karena tertidur terlalu nyenyak di paha milik Geva yang sayangnya mulai terasa kram, namun melihat wajah Axel yang sangat kelelahan, ia tak tega untuk membangunkannya. 

“Capek banget ya sayang…” bisiknya lembut kepada pacarnya itu. Ia tersenyum lagi, ia rasa Axel begadang semalaman lagi untuk belajar, Ayahnya memang keterlaluan. 

Masih tetap mengelus surai hitam milik pacarnya itu, dengan suara pelan ia mulai berbicara lagi. “El, kamu tau ga, aku tuh beruntung banget bisa punya kamu, jadi pacar kamu, dari yang awalnya nge crush terus jadian beneran, entah kenapa masih berasa mimpi buat aku.”

Ia berhenti sejenak, masih tetap menatap wajah pacarnya yang sangat paripurna itu, sebelum melanjutkan lagi, seolah Axel bisa mendengar semuanya. “Maaf ya kalo aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu sayang”. Selesai mengatakan hal itu, Geva lalu menunduk perlahan, kemudian mengecup singkat pelipis Axel. “Makasih untuk segalanya El, I love you so much, Axel Emilian” bisiknya pelan di telinga Axel. 

Waktu berjalan dan bel sekolah sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu, namun Geva sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk di sana, dalam diam dan tenang,  membiarkan Axel tertidur dalam pangkuannya. Hingga cahaya sore perlahan menyusup melalui kaca jendela kelas. Suara - suara yang sebelumnya ada, ramai perlahan memudar, menghilang, dan lenyap meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian. Namun itulah yang Geva inginkan. Untuk saat ini, baginya hubungan mereka adalah segalanya. Biarkan dunia diluar sana berjalan entah seperti apa, selama ia masih bersama Axel, ia tahu, semuanya akan terasa baik baik saja. 

Notes:

Hi, ketemu lagi, maaf ya yang kemaren banyak typonya T-T. I hope yg kali ini engga. Anw ini masih 1 universe dgn Amourette. So Enjoy >.<

Series this work belongs to: