Work Text:
Ketika dia keluar dari bar, angin sore yang sejuk menerpa wajahnya. Rambut abu-abunya yang mulai agak panjang berkibar-kibar tertiup angin. Helaan napas berat keluar dari bibirnya. Rasa sesak itu mulai muncul lagi meskipun dia mencoba menghilangkannya dengan menenggak beberapa alkohol.
Untungnya kesadarannya masih ada meskipun selama di dalam bar tadi dia sudah menenggak empat gelas minuman beralkohol. Dia tak sempat menghapal minuman apapun yang dia pesan karena yang ia inginkan hanya satu, yaitu pelampiasan dari hantu di kepalanya. Dengan tubuh yang agak linglung dia berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di depan bar.
Di dalam mobil pun dia kembali merenung. Teringat akan ucapan sang bartender tadi.
“Caelus, janganlah terlalu berlarut dalam patah hati.”
Meskipun sang bartender berusaha menghiburnya, nyatanya dia hanya menganggap itu sebagai ucapan kosong yang biasa diucapkan orang-orang kepadanya untuk terlihat simpatik. Caelus sendiri tak mengerti kenapa dia bisa segila ini dengan patah hatinya.
Akhirnya mesin mobil pun dia nyalakan. Ponselnya yang ada di dashboard dari tadi berdering beberapa kali namun tak ia gubris sama sekali. Paling itu nada dering dari saudara kembarnya yang khawatir akan keberadaannya yang suka menghilang tiba-tiba akhir-akhir ini. Mungkin pula dari teman-temannya yang masih cukup peduli akan keadaannya sekarang.
Dia melajukan mobilnya ke jalan raya yang sepi sore itu. Tatapannya kosong mengarah ke jalan raya. Di saat seperti ini dia tiba-tiba teringat memorinya bersama orang yang pernah dia cintai itu.
“Kita mau kemana?”
Caelus menatap orang di kursi kemudi itu dengan tatapan penasaran. Tadi sore kekasihnya itu tiba-tiba mengajaknya pergi keluar jalan-jalan. Dia juga meminta ijin kepada Caelus untuk mengemudikan mobilnya Caelus sore itu.
“Aku hanya ingin lihat pemandangan denganmu sepertinya.” ucapnya dengan nada yang terkesan datar. Dia melirik sekilas kepada Caelus. “Ada pemandangan bagus yang ingin aku tunjukkan padamu.”
Caelus menatap kekasihnya itu beberapa saat. Tidak seperti biasanya Dan Heng mengatakan hal segamblang ini apalagi sampai mengajaknya pergi ke tujuan yang tak begitu jelas. Biasanya Caelus yang sering menyeret Dan Heng ke tempat-tempat baru untuk kencan mereka.
Keduanya tak bersuara selama di perjalanan. Pengisi keheningan sore itu hanyalah suara mesin mobil-mobil di sekitar mereka dan deru angin yang menerpa di atas kepala mereka akibat atap mobil yang terbuka. Sesekali Caelus akan melirik kepada pria pendiam di sampingnya. Jujur saja dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Dan Heng. Raut wajah Dan Heng tampak tegang sejak dia menunjukkan batang hidungnya di depan pintu rumah Caelus. Lalu ketika dia tiba-tiba mengajaknya keluar, intonasi suaranya terdengar seperti tertekan.
Melihat sifat pacarnya yang dingin seperti es di kutub dan wajah datar sedatar triplek, Caelus sering bertanya-tanya kenapa Dan Heng mau menjadi pacarnya padahal sifat mereka sangat berkebalikan. Dan Heng adalah pria misterius yang hemat kata, namun Caelus adalah seseorang yang sangat terbuka. Hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun dan anehnya selama mereka berpacaran pun tidak pernah ada masalah besar yang berarti.
Caelus tak mau berlagak tidak bersyukur namun tak bisa dipungkiri dia merasa khawatir. Orang-orang selalu bilang mereka itu tidak cocok satu sama lain. Dan Heng itu serius sedangkan dirinya lebih suka bercanda tak tahu tempat. Dan Heng itu jenius sedangkan Caelus lebih suka adu otot ketimbang menggunakan akalnya. Dan Heng itu seorang keturunan konglomerat, sedangkan Caelus hanya rakyat biasa. Banyak sekali ketidakcocokan di antara mereka yang orang anggap itu akan menjadi konflik untuk keduanya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dan Heng tiba-tiba.
Tubuhnya berjengit mendengar suara Dan Heng. Kekasihnya itu sangat observatif. Dia bisa tahu kalau Caelus sedang memendam sesuatu darinya.
“Hm. Bukan apa-apa. Anginnya sejuk banget jadi bikin ngantuk.”
Mereka kembali berkendara dalam diam. Caelus berusaha menyingkirkan semua pikiran buruk dari kepalanya. Dia harus yakin hubungan mereka akan baik-baik saja sampai kapan pun itu.
Pemandangan di depannya mengalihkan perhatian Caelus dari jalan raya. Jauh di sana membentang cakrawala yang sangat cantik. Di waktu senja seperti ini langit akan berubah menjadi warna ungu kebiruan, warna senja yang unik.
Caelus sudah berkendara selama tiga jam tanpa tahu mau kemana. Dia tahu itu perbuatan gila karena hanya menghabiskan bahan bakar mobilnya namun dia tidak peduli. Bahan bakar bisa diisi kembali tapi tidak dengan hatinya yang sudah kosong melompong saat ini. Dia hanya ingin lari dari kenyataan, lari dari semua fakta bahwa kini hubungan mereka sudah berakhir.
Mobilnya dia arahkan ke jalur lambat yang mengarah ke jalur pantai. Dia berkendara menyusuri jalan yang memperlihatkan langsung pemandangan pantai. Pemandangan di sini pun sangat berbeda dengan jalan raya utama. Banyak rumah-rumah dengan halaman luas berjejeran di sini. Pohon-pohon palem pun banyak yang tumbuh menghiasi sisi jalan.
Lagi-lagi dia tak tahu mau kemana. Dia hanya asal mengemudikan mobilnya ke daerah sini dengan mengandalkan memorinya bersama Dan Heng dulu. Dia teringat dulu Dan Heng dan dirinya pernah beberapa kali pergi ke daerah ini entah untuk apa. Kalau kata Dan Heng untuk menyejukkan pikiran dari hiruk pikuk kota.
Tak terasa hari semakin gelap. Sisa-sisa cahaya matahari di ufuk barat mulai memudar, digantikan warna biru gelap dan perlahan menjadi hitam. Cahaya senja hari yang tadi berwarna ungu kebiruan pun perlahan meredup. Dan mobil Caelus masih terus melaju menyusuri jalan perumahan itu.
Pada akhirnya mobilnya sampai di daerah yang lumayan jauh dari daerah perumahan. Tempatnya sepi, tidak ada gedung atau rumah di sekitar sini. Hanya ada jalan raya dan pasir pantai membentang luas. Ketika dia sampai di sini pun hari sudah gelap. Matahari sudah benar-benar tenggelam di cakrawala.
Caelus memarkirkan mobilnya di pinggir jalan raya. Jalan itu sepi, sangat sepi. Hanya ada mobil Caelus di sana. Penerangan pun tidaklah banyak, hanya beberapa tiang lampu jalan yang redup dan sinar dari lampu mobilnya. Namun suasana seketika terasa suram saat Caelus mematikan mesin dan lampu mobilnya pun padam.
Dia terdiam di joknya selama beberapa menit sambil menghela napas berat. Sekitar sepuluh menit setelahnya dia pun keluar dari mobilnya, lalu berjalan menuju pembatas jalan. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar pantai. Gelap dan dingin, itulah yang menggambarkan suasana pantai malam ini. Sejauh mata memandang tak ada sinar apapun di ujung pantai sana. Sumber penerangan hanya ada di pinggir jalan raya ini berkat lampu-lampu jalanan.
Suasana ini membuatnya kembali bernostalgia saat keduanya pertama kali datang kemari. Dan Heng yang sore itu tiba-tiba saja muncul di depan pintu rumahnya dan mengajaknya pergi keluar mengendarai mobil Caelus. Ketika ditanya kenapa dia hanya bilang ingin melihat pemandangan bersama Caelus. Tapi Caelus tahu bahwa Dan Heng pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
Dia menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma udara yang sedikit asin akibat hembusan angin dari laut. Memori tentang di pantai malam itu kembali terputar di kepalanya dan dia masih mengingatnya sangat jelas seakan itu adalah kejadian kemarin sore. Tentang mereka yang menikmati keindahan langit malam dari pantai dan juga sentuhan hangat dari tangan-tangan besar Dan Heng.
Tubuh keduanya bersandar di badan mobil sambil menikmati sekaleng bir. Caelus sempat merengek untuk mampir ke minimarket selama di perjalanan karena baginya menikmati pemandangan malam akan lebih nikmat jika ditemani oleh bir dan camilan. Setelah berangkat dari minimarket Caelus berusaha mencairkan suasana hati Dan Heng dengan berceloteh soal kegiatan kuliahnya. Dan Heng yang sibuk mengemudi itu hanya membalas sekenanya dan terkadang hanya sebatas gumaman saja.
Mereka berhenti di pinggir jalan raya. Dan Heng memarkirkan mobilnya di bawah sebuah lampu jalanan. Pemandangan di sisi jalan raya terlihat menyeramkan. Gelap gulita sepanjang pantai berpasir putih itu. Daerah sekitar pun sangatlah sepi, bahkan hanya mobil mereka berdua yang melewati jalan raya sepi ini. Caelus bertanya-tanya dalam hati kenapa Dan Heng membawanya pergi kemari kalau tidak ada pemandangan yang ingin dinikmati.
“Umm… Dan Heng?”
Dan Heng menolehkan kepalanya mendengar namanya dipanggil. Dia mendapati Caelus menatapnya khawatir.
“Are you okay?”
Dan Heng terkadang lupa meskipun Caelus itu orangnya ceroboh tapi dia sangat peka dengan isi hati Dan Heng.
“Hmm. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Aku hanya heran saja kamu kok tiba-tiba mengajakku pergi keluar tak tahu arah begini.”
Dan Heng terdiam beberapa saat. Terdengar desahan napasnya yang berat. Dia tahu dia tak mungkin bisa menyembunyikan isi hatinya dari kekasihnya ini.
“Aku pun nggak tahu.”
Caelus menatapnya lekat-lekat. Dan Heng itu suka menyimpan masalahnya sendiri. Dia tidak pernah bercerita apapun soal permasalahan hidupnya kepada Caelus kalau tidak dipaksa oleh Caelus. Itu pun kalau berhasil dibujuk. Selebihnya dia hanya akan bungkam dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.
Melihat karakter mereka yang bertolak belakang seperti ini sering menimbulkan pertanyaan di kepala Caelus. Apakah mereka cocok untuk satu sama lain? Apakah takdir memang ingin menyatukan mereka atau justru sedang mempermainkan mereka?
Caelus beringsut mendekati tubuh Dan Heng. Dia menyenggolkan sikunya ke lengan Dan Heng sambil memberikan senyuman cerahnya.
“Kalau ada masalah, kamu bisa cerita padaku lhoh.”
Dan Heng mengangkat pandangannya dan kedua mata mereka bertemu. Manik emas milik Caelus tampak seperti bercahaya di bawah temaram lampu jalanan. Senyum cerahnya itu tak pernah hentinya membuat dada Dan Heng berdesir aneh.
“Aku ini pacarmu. Kamu mungkin nggak berani cerita sama teman-temanmu atau keluargamu. Tapi kamu punya aku. Kamu bisa cerita padaku tentang apapun itu.”
Kecuali… kalau sumber masalahmu itu adalah aku.
Entah kenapa pemikiran itu muncul di benak Caelus. Apa mungkin Dan Heng enggan bercerita padanya karena sumber masalahnya ada pada Caelus itu sendiri?
Mereka saling bertatapan cukup lama. Caelus seakan melihat mata Dan Heng bergetar. Tatapannya terpaku pada wajah Caelus cukup lama.
Tiba-tiba saja tubuhnya ditarik oleh lengan Dan Heng dan wajahnya diarahkan ke wajah kekasihnya itu. Sesuatu yang basah dan dingin menempel di bibirnya. Kedua mata Caelus membelalak akibat ciuman dadakan dari pria di sampingnya ini.
Caelus merasa tubuhnya ditarik semakin merapat dengan tubuh Dan Heng. Satu tangan Dan Heng memegang sisi wajahnya, mencengkeramnya agar kepalanya tidak bergerak selama mereka berciuman. Bibirnya yang terasa dingin dan kenyal itu bergerak-gerak menghisap dan melumat bibir Caelus. Ciuman mereka diawali dengan tempo yang lambat dan intim. Namun tiba-tiba saja Dan Heng memaksa Caelus membuka mulutnya dan lidahnya pun terjulur masuk ke dalam gua hangat itu. Lidah pun beradu dan liur bercampur. Suara decakan dan kecapan menjadi pengiring malam yang dingin dan mendadak intim itu.
Caelus mendengus kasar. Dia ingat betul apa yang terjadi setelah itu.
Mereka berdua pun bercinta di dalam mobil milik Caelus. Dia masih ingat dengan sangat jelas kegiatan panas mereka di malam dingin itu. Bagaimana Dan Heng yang mendadak mengajaknya bersetubuh di ruang publik apalagi di tempat terbuka seperti itu. Mereka meliukkan tubuh di jok belakang mobil, desahan bersahut-sahutan, dan Caelus kala itu seperti melihat bintang. Padahal memang nyatanya ada bintang-bintang bertaburan di atas kepala mereka.
Dan entah kenapa Caelus merasa malam itu Dan Heng menggaulinya dengan penuh emosional. Biasanya Dan Heng selalu menggunakan tempo lamban dan tak terburu-buru. Bahkan foreplay mereka juga bukan yang intens. Dan Heng pun tidak pernah mengajaknya bercinta di ruang publik seperti itu. Mereka pasti akan menghabiskan waktu satu malam penuh entah di kamar Caelus atau Dan Heng. Tidak pernah mereka melakukan hal tak senonoh seperti ini di tempat umum meskipun itu di dalam mobil sekalipun karena Dan Heng memiliki prinsip moral yang tinggi. Namun tiba-tiba saja malam ini dia mengajak mereka berdua pergi ke pantai yang sepi ini di malam hari dan bercinta di bawah sinar bintang di dalam mobil tak beratap.
Caelus ingat kala itu tubuhnya telanjang bulat di bawah tubuh Dan Heng yang masih memakai kemejanya dengan kancing terbuka semua dan celana yang diturunkan sampai selutut. Caelus ingat malam itu Dan Heng menandai tubuhnya dengan ciuman kupu-kupu yang memabukkan di sekujur tubuhnya. Dia ingat Dan Heng menggunakan tempo cepat dan terkesan tergesa-gesa padahal tidak ada yang mengejar mereka. Dia ingat ritme napas Dan Heng yang terengah-engah akibat senggama mereka berkali-kali. Dan dia ingat dia melihat banyak sekali bintang di atas kepala mereka. Langit malam itu cerah tak berawan sehingga bintang-bintang bertabur sangat indah di atas sana. Caelus ingat semua kejadian malam itu seakan itu baru terjadi kemarin sore.
Dia ingat malam itu mereka menghabiskan waktu berdua di sini dan juga malam-malam berikutnya. Namun kini dia sendirian. Duduk di atas aspal bersandarkan badan mobilnya. Tidak ada ciuman kupu-kupu atau sentuhan hangat, tidak ada percintaan yang nikmat. Hanya dirinya sendiri di sini bersama deru angin pantai yang menusuk kulit.
Hening.
Suram.
Dingin.
Rasanya perjalanan tiga jam tadi berakhir sia-sia. Caelus tidak bisa menjernihkan pikirannya sama sekali. Dia pikir dengan kabur dari rumahnya dan meninggalkan saudari kembarnya itu sendiri akan membuat rohaninya tenang. Nyatanya dia hanya mereka ulang perjalanan mereka. Bahkan racun alkohol yang bisa membuatnya mabuk tak mampu mengalihkan pikiran Caelus dari Dan Heng.
“Kenapa… kenapa, Dan Heng, kenapaa…”
Racauannya bak orang sakau. Tidak ada yang bisa mengubah apapun saat ini. Hubungan mereka berakhir mau bagaimana pun itu.
“Padahal… padahal kita bisa bicarakan baik-baik semuanya.” racaunya lagi. Tanpa dia sadari setetes air mata jatuh dari salah satu matanya.
“Padahal kalau kamu jujur padaku dari awal kita bisa cari solusi bersama-sama.”
“Padahal kalau kamu lebih terbuka padaku dari awal, kamu nggak perlu memendam ini semua sendiri.”
Dirinya terus meracau kepada angin malam yang dingin. Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan. Di saat-saat seperti ini dia merindukan Dan Heng. Berakhirnya hubungan mereka pun bukan karena persetujuan kedua pihak. Caelus sendiri tak mengerti apakah selama ini Dan Heng mencintainya atau dia hanya berpura-pura mencintai Caelus. Atau mungkin hubungan mereka selama ini berjalan atas dasar Dan Heng kasihan dengan Caelus?
Hari itu ketika Dan Heng menyatakan hubungan mereka berakhir Caelus melihat ekspresi Dan Heng yang seperti tertekan. Pria itu tak menatap matanya seolah-olah dia takut melihat wajah Caelus. Dia hanya berkata,
“Mungkin cukup sampai di sini kisah kita, Caelus.”
Tidak ada alasan yang terucap. Tidak ada kata-kata makian atau hinaan. Hanya ada satu kata lagi yang terucap oleh Dan Heng kala itu.
“Maaf.”
Setelah itu dia pergi. Caelus kala itu hanya terdiam karena saking terkejutnya. Mulutnya kaku dan matanya bergetar. Bahkan ketika Dan Heng pergi meninggalkannya Caelus masih terpaku di tempatnya. Barulah ketika dia menyadari sosok Dan Heng menghilang dari hadapannya Caelus menangis sesenggukan.
Setelah itu dia mencoba menghubungi Dan Heng. Tidak ada sambungan di teleponnya dan hanya suara operator bahwa nomornya sudah tidak bisa dihubungi. Kemudian dia datangi rumahnya yang setahu Caelus itu rumah pemberian keluarga Dan Heng. Kosong, tak ada orang. Dan Heng seolah-olah lenyap dari muka bumi.
Barulah tiga hari setelahnya dia mendapat kabar bahwa salah satu mahasiswa teladan di kampusnya itu pindah. Gosip hangat beredar di kampus bahwa mahasiswa yang pindah itu adalah Dan Heng. Begitu pula dengan gosip tentang kandasnya hubungan mereka berdua.
Stelle mendapat informasi bahwa Dan Heng diseret pulang kembali ke tempat asalnya oleh keluarganya karena perjodohan. Saudari kembarnya itu tak sanggup langsung memberi tahu Caelus perihal informasi itu sehingga baru dua hari yang lalu dia mengabari Caelus soal berita itu dan efeknya ya seperti ini. Caelus jadi sering keluar rumah untuk meredakan sakit hatinya.
Dia memandang langit malam yang gelap itu. Tidak ada bintang bertabur di langit malam ini. Tak seperti malam-malam sebelumnya ketika mereka berdua menghabiskan waktu di sini.
Caelus menduga ekspresi kaku dan bahasa tubuh Dan Heng malam itu ketika mereka pertama kali kemari adalah karena masalah keluarganya. Setelah mendengar berita itu dari Stelle, Caelus perlahan mencoba memahami bahwa sepertinya Dan Heng sudah diancam keluarganya sendiri sejak lama.
Andai saja Dan Heng mau terbuka padanya sejak awal dan mengatakan hal sejujurnya pada Caelus, dia bisa saja ikut mencari jalan keluar dari masalah ini. Andai saja perkataan orang-orang tentang hubungan mereka tak pernah ada, Caelus tak akan pernah merasa ada keraguan dalam kelanggengan hubungan mereka.
Kini dia hanya bisa meratap sambil memandangi langit malam. Berharap Dan Heng juga sedang menatap langit malam yang sama.
“Dan Heng, menurutmu sampai kapan hubungan kita akan berjalan?”
Dan Heng menatap pacarnya yang sedang tiduran di pangkuannya. Tangannya masih asik membelai surai abu-abu Caelus sedangkan dirinya sedang bersandar di badan mobilnya yang terparkir di pinggir pantai. Tubuh Caelus merebah di atas pasir putih dan kepalanya bersandar di atas paha Dan Heng. Angin pantai yang sejuk kala itu terasa menenangkan.
“Hmm… sampai kapan pun itu.”
“Setahun? Dua tahun? Sepuluh tahun?”
“Kok lompatnya jauh sekali sih.”
Caelus terkekeh. “Kalau begitu… selamanya?”
Dan Heng terdiam. Dia menatap Caelus dalam-dalam lalu tersenyum simpul.
“Selama yang kita mau.”
