Actions

Work Header

lebak bulus grab

Summary:

andai ini merupakan adegan dari sebuah ftv produksi sctv, mungkin judul yang dipilih adalah 'cintaku bersemi di lebak bulus.’ kalau rumah produksinya lebih bergengsi, jadi seri ott misalnya, mungkin judulnya akan menggunakan bahasa inggris seperti 'love train.'

beda lagi kalau adegan ini ada di sebuah fanfiksi, mungkin judulnya akan berupa kutipan sebuah lagu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan alur cerita seperti, ‘you say i'm perfect (but i've got thorns with my petals too).’

Notes:

Prompt:

For self-prompting authors, please claim this slot (no limit).

beta read by the loveliest, cinta.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

butuh beberapa minggu untuk sadar kalau mereka memulai perjalanan pulang dari stasiun yang sama. menurut yushi, bisa saling menatap mata di gerbong nomer tiga hari kamis malam itu termasuk peristiwa langka.

yushi ingat betul malam penuh kesialan itu. nggak cukup disalahkan atas pekerjaan yang seharusnya bukan jadi tanggung jawabnya, yushi ditinggal untuk memperbaiki ulah teman satu divisinya sendirian. nggak cukup harus jadi bagian dari empat karyawan yang lembur, yushi juga harus menerima teguran dari atasannya. lagi-lagi, perihal pekerjaan yang seharusnya nggak dia kerjakan. demi tuhan, yushi bersumpah nggak mau lagi sok-sokan jadi teman kerja yang kelewat baik

layaknya gen-z pada umumnya, semua kesialan ini langsung yushi jadikan sebagai alasan untuk self-reward, kali ini dalam bentuk chocolate cromboloni dari kafe di lobi kantornya. sayangnya, semesta sama sekali nggak berpihak pada pihak yushi saat itu. hasrat meningkatkan dopamin—yang menurut pembelaannya hanya bisa dibantu oleh asupan pastry manis—harus ia kubur dalam-dalam karena rintik hujan mulai membasahi bangku taman tempat ia biasa menghabiskan waktu istirahatnya.

mami nggak pernah lupa mengingatkan yushi untuk sedia payung sebelum hujan, to which yushi would always scoff and respond with a half-hearted nod. bukan, bukan karena dia anak nggak tau diri yang nggak pernah dengerin kata orang tua, tapi karena versi lengkap wejangannya bukan “jangan lupa bawa payung, nanti kamu sakit.” tapi “jangan lupa bawa payung, kamu mirip kucing kecebur got kalau kehujanan.” 

making the mental note to apologize to his mom later, yushi mulai berjalan cepat menuju stasiun, khawatir hujan deras akan turun lebih cepat dari perkiraan. but just his luck—or lack thereof—perjalanan sejauh lima ratus meter yang biasanya ditempuh dalam tujuh menit tiga puluh empat detik kini berubah menjadi sepuluh menit… sebelas menit… and counting?

bagaimana bisa malam ini bertepatan dengan festival film prancis di samping kantornya? bagaimana bisa dia harus mengulang kata-kata “sorry..,” dan “permisi..,” sambil berusaha melewati kerumunan para sinefil dan, entah kenapa, sekelompok pekerja konstruksi yang lebih memilih untuk berkumpul di trotoar gedung asuransi dan menutupi area pejalan kaki? mungkin kamis ini sudah ditandai dalam kalender sakti milik perusahaan asuransi tersebut sebagai hari yang terkutuk.

intinya, yushi kini basah kuyup, hampir tergelincir di tangga, dan nyaris nggak berhasil naik kereta pukul delapan lewat dua puluh lima. berpegangan pada handrail saat kereta mulai melaju hingga delapan puluh kilometre per hour, saat itulah yushi melihatnya. lagi, untuk kesekian kalinya bulan ini. sama seperti dirinya, mas ganteng—panggilan yushi untuknya selama ini—juga nggak kebagian tempat duduk. tapi harus diakui kalau laki-laki itu punya posisi yang jauh lebih baik daripada yushi. masih ada ruang baginya untuk bersandar, dan tas solomon hitam dengan gantungan kunci crybaby-nya (yes, yushi has unironically memorized the details of his belongings) nggak mengganggu penumpang lain.

yushi agak menyesal harus mempertaruhkan tulang keringnya untuk mengejar kereta ini. lagi-lagi dia harus mengakui kalau perkataan maminya itu hampir selalu benar, kayak wejangannya yang satu ini, “nggak usah buru-buru, yang penting nyampe.” seharusnya dia dengerin mami dan berjalan layaknya orang normal lainnya. tapi dia malah memilih untuk bermain dengan keberuntungan (yang hampir selalu nggak berpihak dengannya) dengan memaksakan diri untuk masuk ke gerbong nomer tiga. and here he is now, terpaksa menunduk dan menyembunyikan rona merah di wajahnya ketika mas ganteng tersenyum dan tertawa kecil setelah melirik kondisi yushi yang kurang… ideal.

kenapa kucing kecebur got ini harus ketemu sama mas ganteng (dan wangi!!) sekarang?

 


 

pertemuan pertama mereka terjadi di dukuh atas. 

‘stasiun transit antar-transum’ ini memang nggak pernah sepi. tapi anehnya, hal ini yang membuat yushi nggak pernah gagal untuk dapat tempat duduk. ternyata, situasi ini juga berlaku bagi laki-laki yang menggantikan ibu dosen yang sebelum ini duduk di sampingnya. yushi telah duduk dan berdiri di samping ratusan orang tanpa wajah di moda raya terpadu ini, dan tersenggol atau nggak sengaja terdorong bukanlah hal baru. biasanya, siapa pun yang nggak sengaja menyenggolnya akan langsung meminta maaf, namun rupanya kebiasaan seperti itu nggak berlaku untuk laki-laki ini. gantungan kunci crybaby yang terlepas dari tas solomon berukuran besar dan berat (dapat dipastikan beneran berat, kaki yushi masih nyeri dua menit setelahnya) jadi perhatian utama pemiliknya.

 

blossom!”

anjing, a grown ass man, loh. 

sayangnya, blossom dengan pipi bengkak ini jatuh tepat di depannya, dan yushi nggak sekejam itu untuk nggak mengembalikan pada pemiliknya. apalagi yushi tau berapa harga boneka bodoh ini. 

“makasih, mas… eh, sorry, ya, sekalian. itu, yang barusan.” 

 

yushi rasa laki-laki ini perlu memperbaiki prioritasnya. tetapi saat dia mendongak untuk menyerahkan gantungan kunci itu, yushi harus mengingatkan diri untuk nggak memperlihatkan ekspresi terkesima, because this grown ass man looks ethereal dengan kaos katun berwarna broken white (he guesses it’s uniqlo), jaket bomber dengan hoodie dari marks and spencer (he knows this ‘cause he owns the exact same one), dan kacamata baca merek benetton. bukan, yushi bukan tipe yang terlalu fashion-aware, dia hanya hampir membeli merek yang sama sebelum teringat bahwa kantornya cuma bisa reimburse kacamata merek illustro.

 

butuh beberapa detik lebih lama bagi yushi untuk memindahkan blossom dengan aman ke tangan mas ganteng, and he realized a dangerous fact—tangan masnya lembut banget.

yushi menghabiskan sisa perjalanan kereta pulang dengan memikirkan jenis handcream yang digunakan laki-laki itu alih-alih memikirkan menu malam apa yang harus dia pesan.

mungkin yushi juga perlu meluruskan prioritasnya.

 


 

bohong kalau yushi nggak kepikiran sama mas ganteng lagi setelahnya. tapi bukan berarti dia jadi berharap atau bahkan sengaja mencari keberadaan laki-laki tersebut selama perjalanan pergi maupun pulang bekerja. yushi paham betul betapa banyaknya pekerja ibukota yang naik turun kereta cepat ini setiap harinya. mustahil untuk bisa bertemu orang itu lagi, hence why he felt like he got over the silly fascination pretty quickly. 

atau begitulah yang dia kira.

 

beberapa minggu setelah ‘perkenalan’ yang di’mediasi’ oleh blossom, yushi kembali berpapasan dengan laki-laki yang sama di stasiun setiabudi astra. berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka nggak duduk bersebelahan. penglihatan yushi dari seberang terhalang oleh penumpang yang berdiri, makanya adu pandang mereka baru terjadi saat yushi hendak turun. ini bukan pemberhentian biasanya, tapi klien yushi baru saja mengabarkan kedatangannya di 'setiabudi one'. itulah sebabnya (dengan berat hati), yushi harus mengakhiri sesi cuci matanya lebih cepat. laki-laki itu mengangguk dan yushi membalasnya dengan senyuman sebelum pintu terbuka dan dia teringat pada meeting yang harus dihadapi sebentar lagi. and while he was only four and a half minutes late, he still managed to embarrass himself in front of a potential client.

“mas yushi mau pesan apa?”

“saya ice blended blossom latte aja, mba.”

 

jauh banget butter scotch sama blossom, by the way.

 


 

in retrospect, dia seharusnya bersyukur atas kehadiran tiga balita yang sedang bertengkar di bangku seberangnya. dua dari mereka sepertinya kembar, dengan topi dan seragam sekolah yang sama. anak paling kecil dan satu-satunya perempuan kelihatan sedang menahan tangisnya karena kejailan kedua saudaranya. sebenarnya pemandangan ini cukup menggemaskan bagi yushi, tapi bakal lebih lucu lagi kalau volume yang mereka keluarkan nggak sebesar ini. batas kesabarannya di pukul delapan pagi nggak setangguh itu, apalagi sebelum asupan kopi susu dan sereal gratis di pantry kantor.

suasana sempat hening sesaat sebelum si adik perempuan menjerit karena scrunchie merahnya direbut oleh salah satu kakak kembarnya. walaupun ada rasa iba untuk sang ibu yang mencoba menenangkan anak bontotnya (dan nggak begitu berhasil), kegaduhan ini membuat yushi bangkit dari kursi dan berjalan menuju gerbong lain. yushi memilih ketenangan dan sepenuhnya rela kalau dia harus berdiri sampai stasiun tujuannya. 

but if it wasn’t for this, he wouldn’t have caught a glimpse of the handsome stranger’s familiar backpack. laki-laki itu membelakangi yushi, berdiri hampir di ujung gerbong berikutnya, namun mata yushi masih dapat menangkap wajahnya saat ia mundur untuk memberi jalan bagi penumpang yang hendak turun. hari ini, mas ganteng mengenakan kacamata dengan model yang berbeda dan pakaian yang sedikit lebih kasual, penampilan yang menurut yushi sangat menguji konsentrasi manusia pada umumnya. 

perjalanan dari bendungan hilir ke bundaran hi nyaris nggak terasa ketika pandangan yushi dimanjakan oleh sosok yang menjadi highlight commuting-nya akhir-akhir ini.

 


 

their encounter at istora mandiri was interesting to say the least.

secara teknis, mereka nggak bertemu di stasiun ataupun di dalam kereta. yushi baru saja menyelesaikan lari sore yang kadang dia lakukan dua minggu sekali, kadang satu bulan sekali, atau bahkan beberapa kali dalam tiga bulan. aplikasi strava-nya sudah menunjukkan angka lima kilometer, yang artinya dia sudah berhasil mengelilingi area gelora bung karno sebanyak lima putaran. yushi duduk di salah satu bangku untuk mengatur napasnya sambil menikmati lagu-lagu dengan bpm tinggi yang diputar kelompok pound fit di dekatnya.

gelora bung karno di hari jumat malam itu nggak jauh beda sama 'pondok indah mall' saat akhir pekan–kemungkinan bertemu dengan orang yang dia kenal sama-sama tinggi. sebagai contoh kecil, setidaknya ada lima belas teman seangkatannya di sma yang menjadi member klub lari dan rutin berkumpul di sini. belum lagi teman kuliah, teman kantor, atau bahkan bapak-bapak komplek yang nggak pernah absen untuk posting di whatsapp story. dengan kata lain, yushi tau pertemuan seperti ini nggak bisa dia hindari.

yushi sama sekali nggak menganggap dirinya anti-sosial, dia cuma nggak terbiasa dengan percakapan basa-basi. he draws the line at hesitant waves, and a minute or two of “what are you up to these days?” before continuing on his run (preferably on the opposite direction of said acquaintance). 

makanya yushi merasa nggak ada umpatan yang sepadan, karena dari sekian banyak orang yang mungkin dia temui sore itu, semesta memilih untuk mempertemukannya dengan mas ganteng. it wasn’t even a romcom-worthy encounter, mereka hanya menggunakan jasa loker yang sama, dan kebetulan sedang mengambil barang di waktu yang sama. 

nggak banyak kalimat yang mas ganteng utarakan selain, “mau ke mrt kan, mas?” yang yushi balas dengan anggukan. tapi suasananya terasa menyenangkan—dengan angin malam yang sejuk dan cahaya lampu dari restoran hutan kayu di sisi kanan mereka. rasanya perjalanan yang nggak seberapa ini terasa lebih hangat dari biasanya, seakan-akan ada ketenangan yang membuat malam ini punya makna tersendiri. 

sayangnya, mereka harus berpisah karena tempat duduk yang masih kosong letaknya jauh dari satu sama lain. tapi bahkan dari kejauhan, mereka masih sempat tersenyum dan memberi anggukan kecil sebelum kereta kembali melaju. 

as if agreeing, as if hoping, that this wouldn’t be their last coincidence.

 


 

yushi sudah nggak terkejut lagi ketika kereta memasuki jalur bawah tanah mulai dari stasiun senayan mastercard. ayolah, dia sudah jadi pengguna mrt jakarta sejak masa uji coba di tahun dua ribu sembilan belas. not my house but i know my way around, kalau kata meme twitter akhir-akhir ini. tapi ada satu hal yang nggak berubah sejak saat itu—atau bahkan sejak dia lahir–dan itu adalah kenyataan bahwa yushi adalah orang yang sangat, amat ceroboh. we’re talking ‘shoelaces always undone’ kind of clumsy, or even ‘spilling his water bottle on the office carpet’ kind of clumsy.

singkatnya, panggil dia tokuno ceroboh yushi. 

makanya nggak terlalu mengejutkan saat airpods sebelah kanannya jatuh tepat saat kereta mulai bergerak menuju bawah tanah. sekarang, yushi mendapati dirinya merangkak di lantai mrt (yang nggak sebersih itu, asli deh) sambil menerima tatapan aneh dari penumpang lain, meraba di sela-sela kaki sambil berbisik “maaf, ya… maaf…” demi mencari benda kecil yang seolah menentukan kestabilan hidupnya.

 

unfortunately, someone beats him to it.

fortunately, that someone happens to be the handsome stranger.

 

“sini, duduk sini, mas…” ucap mas ganteng sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. yushi mengangguk sebelum kembali mengucapkan terima kasih. “saya nggak bisa pake airpods. ilang melulu soalnya, makanya saya bawa ini terus,” ujar laki-laki itu sambil memperlihatkan headphone sennheiser yang tergantung pada tasnya. oke, sedikit tmi, tapi yushi tetap menghargai usahanya untuk memulai percakapan. returning the favor, yushi pun bercerita kalau ini adalah airpods ketiganya tahun ini, menekankan pada julukannya sebagai si ceroboh dan pelupa. dia juga cerita tentang keluarga dan teman dekatnya yang sudah lama menyarankannya untuk pindah haluan ke perangkat audio yang ukurannya lebih besar. tapi menurutnya membawa barang sebesar itu cukup merepotkan, apalagi jika hanya digunakan saat naik transportasi umum. 

apparently, the handsome stranger is some kind of an audiophile (atau mungkin brand ambassador sennheiser terselubung) karena sepanjang perjalanan dari senayan mastercard ke bundaran hi, dia berhasil menjelaskan bahwa kualitas sennheiser momentum four jauh lebih unggul dari airpods max. “trus otomatis nyambung ke semua perangkat gitu, mas. nggak usah connect-disconnect kalau ganti device,” jelas mas ganteng dengan semangat. yushi cuma bisa mengangguk, karena kalau boleh jujur, dia nggak begitu peduli dengan diskursus kualitas audio. tapi dia harus mengakui kalau suara laki-laki itu terdengar indah di telinganya, and that this conversation counts as progress—for whatever is developing between them. 

yushi mengurungkan niat untuk membeli headphone serupa setelah melihat harganya. dia usap pelan airpods sebelah kanan yang indikator baterainya sudah nggak sinkron dengan pasangannya, sambil berusaha mengulang semua penjelasan mas ganteng soal audio dalam kepalanya. 

 


 

yushi benci asean (the station, not the association, although the latter has proven to be usele—). dia nggak suka berdesakan dengan banyak pelajar yang naik turun di stasiun ini dalam keadaan tergesa-gesa. bukannya yushi mau terdengar seperti orang tua yang rajin mengeluh tentang generasi setelahnya, hanya saja datangnya segerombolan pelajar ini selalu diiringi dengan keributan. lebih parahnya lagi, keributan yang mereka pelopori ini tetap saja nggak mengalihkan pandangan mereka dari layar ponsel, membuat para pejalar ini nggak fokus dan abai terhadap sekelilingnya. one of these days, these kids are going to bump into someone and ruin their day. dan pada hari itu, pelajar dengan seragam putih abu-abu telah memilih korbannya—yushi. 

tutup tumbler anak itu nggak terkunci dengan sempurna, membuat air di dalamnya terciprat ke arah yushi. walaupun hoodie hitam yang dia kenakan sedikit bisa menutupi bekas tumpahan yang ada di sebelah kanan kemejanya, hal yang sama nggak bisa dia katakan untuk rasa lembab pada tubuhnya. mungkin peribahasa ‘ada pelangi setelah hujan’ ada benarnya, karena saat ia mendongak, ada sosok familiar yang sedang menyodorkan handuk kecil berbahan microfiber ke arah yushi.

"eh, ini buat lari kan, mas?” tanya yushi yang baru sadar kalau dia belum pernah menanyakan nama laki-laki yang dia panggil dengan sebutan mas ganteng itu. not that it matters, or mandatory. mereka hanya dua orang asing yang berusaha bertahan in the shithole that is jakarta. it’s just… he'd like to think they've crossed paths enough times to deserve his name. 

 

"iya, tapi nggak apa-apa. pake aja dulu."

"nggak usah mas.. lagian gimana balikinnya?"

"i mean, kita bakal ketemu lagi, kan?"

 

secara logis, laki-laki itu mungkin cuma merujuk pada rutinitas mereka yang sama-sama menggunakan mrt setiap hari. namun hati yushi menafsirkan kalimat itu sebagai harapan, seolah ada makna lain yang sengaja disisipkan.

 

"amin. eh", mas ganteng terkekeh karena jawaban spontan yushi. 

"aman! maksudnya aman! tapi emang beneran aman, mas? nggak apa-apa saya bawa dulu?” beberapa menit setelahnya, laki-laki di sebelahnya sudah berhasil meyakinkan yushi untuk menerima tawarannya—a black decathlon-branded mini towel.

antara asean dan bundaran hi, yushi terlalu terdistraksi untuk membuka percakapan dengan laki-laki di sebelahnya. harusnya ini jadi momen yang tepat untuk bertukar username instagram, atau bahkan langsung ke nomor handphone. tapi jangankan cari topik, bernapas dengan normal aja sulit karena kepalanya terlalu fokus pada satu hal—he’s currently using the handsome stranger's towel!

 


 

yushi tau memilih blok m sebagai tempat nongkrong di hari minggu merupakan kesalahan besar. tapi teman-teman sma-nya sudah kelewat antusias soal restoran meksiko yang baru buka bulan lalu. jadi, walaupun dia sudah pitching untuk pindah tempat, apapun yang satu porsinya nggak setara dengan tujuh gelas ‘kopi susu oatside’-nya ‘jago’ (kayak ‘sate apjay panglima polim’ misalnya), he ultimately lost out to a fucking overpriced taco place.

lagian kenapa sih semua manusia di dunia ini harus ada di blok m sekarang? voluntarily going to blok m during the weekends should be a crime—one that his friends and him are guilty of doing. iya, dia paham blok m adalah kawasan ramah pejalan kaki yang punya segala hal, tapi please deh, bukan berarti harus ramai setiap minggu, kan? selain menyalahkan muda-mudi yang membuat perjalanan hari ini terasa sempit, gerah dan berisik, dia juga nggak lupa untuk menyalahkan pemerintah yang gagal untuk membangun area walkable dan accessible di tempat lain.

thankfully, his friends start to get equally as disgusted when they couldn't get a table at the taco place, or the ramen place, the thai place, restoran chinese di basement ‘blok m square’, sampai kehabisan batagor langganan di depan taman literasi.

"ngadem dulu lah nyet, keringetan banget gua," has always been code for ‘muter-muter supermarket to bask in the cold and functioning AC’ since high school. agendanya masih sama, pura-pura berpikir keras layaknya orang sedang belanja, only to show up at the cashier with the cheapest cold mineral water they could find, mana bayarnya sendiri-sendiri pula. yushi baru saja akan meneguk sisa air dalam botol plastiknya ketika pintu kereta terbuka, membuatnya berhadapan dengan sion dan dua temannya yang hendak turun. 

 

"eh, mas. ketemu disini. jam segini udah balik aja?"

tai, kenapa mereka harus pindah tempat sih?

(spoiler alert: karena yushi nggak berhenti merengek kalau dia kepanasan dan kelaparan).

 

"iya nih, mas, rame banget soalnya,” yushi memaksa otaknya untuk menemukan pertanyaan baru demi memperpanjang percakapan. batinnya mengumpat, sadar kalau dia harus menjaga ekspresi, meski perutnya sedang meronta minta diisi.

bunyi pengumuman bahwa pintu akan segera ditutup menggema di lantai satu ‘blok m plaza’, menutup kesempatan yushi untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan laki-laki di depannya. 

 

"ya ampun, mas, saya lupa nggak bawa handuknya."

"besok aja, mas."

tapi... "kalau nggak ketemu gimana, mas—"

"sion."

"gimana?"

"sion. nama saya sion."

"oh. oke, saya usahain besok, ya, mas si—"

 

pintu kereta tertutup rapat setelah itu. yushi mencoba mengabaikan tatapan penasaran teman-temannya sambil berharap dengan sungguh-sungguh agar semesta kembali mempertemukan mereka secepatnya. 

elah, kenapa semua manusia di dunia ini harus ada di blok m, kecuali yushi?

 


 

mereka nggak pernah bertemu di blok a ataupun haji nawi. pernah sih, sekali. itu pun nggak bisa dikatakan sebagai pertemuan karena yushi cuma melihat si blossom dari jauh. sudah hampir satu minggu sejak percakapan mereka di blok m bca, dan yushi nggak pernah lupa untuk membawa handuk milik sion. payung lipat mini berwarna merah muda pemberian mami masih tersimpan rapi di laci kamarnya, tapi barang milik sion ini selalu ada di dalam tas fossil miliknya.

 

sion.

he can’t seem to stop saying the newfound name on his head.

 

pertemuan mereka berikutnya terjadi di stasiun cipete raya. kali ini, yushi mengakui kalau dia sudah berjalan dari gerbong pertama hingga gerbong nomer lima, karena dia memang, secara sadar, sedang mencari keberadaan sion. menurutnya, lebih mudah bertemu di pagi hari dibandingkan malam. dan dugaannya benar, karena dia menemukan sion yang sedang duduk di gerbong ketujuh. 

mata yushi sempat berbinar sejenak, namun cahaya itu redup setelah melihat sosok laki-laki yang dengan lanyard yang identik dengan sion merangkulnya dari samping. kedua orang yang yushi asumsikan sebagai rekan kerja itu sedang tertawa sebelum sion sadar akan keberadaan yushi di depannya. mata sion membesar, tangannya terangkat setengah, seolah hendak melambaikan tangan. namun sebelum sapaan itu terjadi, yushi meletakkan handuk sion—yang terbungkus seadanya dalam tas belanja indomaret—tepat di pangkuannya. 

sion kaget, tapi begitu juga dengan yushi. kenapa harus kayak gitu cara ngasihnya? kenapa harus terburu-buru, dan kenapa harus se-nggak sopan itu?

 

"mas sion, makasih ya handuknya. untung ketemu sekarang, saya turun di sini soalnya. makasih sekali lagi ya, mas. saya duluan."

 

bohong, yushi bohong. 

yushi tetap harus turun di bundaran hi seperti biasanya. tapi tatapan tidak nyaman yang datang dari rekan kerja sion lumayan membuat dadanya terasa sesak. dia bahkan nggak memberikan sion kesempatan untuk menjawab ucapan terima kasih darinya, langsung lari mencari eskalator saat pintu kereta terbuka. like, why the hell was yushi mad?

 

the next train wouldn’t arrive for another eleven minutes. 

yushi was late to the monday meeting by twenty-two minutes. 

 


 

yushi was genuinely relieved they didn’t run into each other for almost two weeks. frankly, he was embarrassed. kelegaan itu nggak semata-mata muncul karena dia ingin melupakan sion, melainkan karena waktu tersebut memberinya ruang untuk menenangkan diri dari kemungkinan munculnya j-word terlarang (bukan jakarta, jawa, apalagi jambi), tapi kata berkonotasi perasaan iri yang enggan yushi akui. lagipula, sama sekali nggak ada alasan baginya untuk merasa j-word. yushi juga pernah naik mrt sama jiwoo staf divisi hr atau sama teman-teman kuliahnya. and honestly, it’s really not that deep. kalau yushi boleh, kenapa sion nggak? 

wait, wait, back up. yushi is asking the wrong questions here. siapa yang memberi hak kepada yushi untuk menentukan boleh atau nggaknya seseorang commute dengan orang lain? like who the fuck do you think you are, tokuno yushi? jangankan teman, acquaintance aja bukan. menganggap mereka sebagai kenalan saja nggak bisa, karena untuk saling mengenal, minimal harus mengetahui nama satu sama lain. faktanya, sion bahkan nggak tau kalau dia adalah tokuno yushi. 

jadi, nggak ada sedikit pun hak bagi yushi untuk... aduh, yushi nggak mau memperjelas that j-word because he isn't j-word! maybe he woke up on the wrong side of the bed that day and got annoyed at the world. who wouldn't when you live in indonesia, anyway

either way, the universe separating them for two weeks felt like an act of mercy. mungkin dari sekarang dia bisa melupakan… crush? fascination? apapun arti sion baginya, dan kembali pada rutinitas commuting sebelum semua shenanigan ini dimulai. like scrolling on twitter, listening to the new arlo pa—

 

"suka arlo parks juga?"  

suka, sama kamu juga—

 

"eh? iya, mas. lumayan,” adalah respon menyedihkan yushi terhadap pertanyaan dadakan dari sion. setelah itu ada hening di antara mereka—a suffocating silence that swallows your soul and makes you consider evaporating on the spot. beneran deh, yushi literally froze so hard it was a miracle he didn’t shatter. dia cuma bisa bersyukur karena sion selalu bisa memutus rantai dry talk-nya selama ini. 

 

"you know, i never got your name,” pipi yushi memanas karena pertanyaan sion, buru-buru menjawab dengan pelan, "yushi, mas."

"—si? sorry? yusri?" yushi has heard yupi, yudhi, and even yusril. so, yusri isn't exactly new for him. he lets sion slide, not only because he's pretty and smells like a mix of eucalyptus, cardamom, and musk, tapi juga karena mereka sudah melewati stasiun fatmawati indomaret. 

"bukan yusri, tapi yushi,” ulang yushi dengan suara yang sedikit lebih besar, mencoba mengalahkan riuh langkah penumpang lain yang sama-sama bergerak ke luar kereta. yushi nggak bisa menyalahkan orang-orang yang tergesa-gesa, dia pun juga nggak sabar untuk bertemu lagi dengan kasur kesayangannya. tubuh dan kaki yushi bergerak otomatis mengikuti alur pulang yang sudah dia lewati ribuan kali. 

dia berhasil sampai di lantai dasar stasiun terakhir waktu dia sadar, he's lost sion since a few minutes ago. mencoba mengamati sekitar untuk tanda-tanda adanya sion, yushi berhenti karena dia mulai menghalangi ramainya penumpang yang ingin segera keluar dari stasiun. 

 

that night, he quietly hoped that sion had caught his name.

 


 

yushi misses sion.

or at least, he misses seeing sion during his daily commute.

 

dia nggak ngerti bagaimana bisa mereka sama sekali nggak bertemu selama hampir tiga minggu. apa sion sudah berhenti naik mrt? dimutasi ke cabang lain? resign dari pekerjaannya? atau yang lebih buruk… ditebengin gebetannya?

apa pun itu, perjalanan belakangan ini berubah dari buruk menjadi borderline menyiksa. sebelumnya, masih ada sesuatu yang membuatnya bersemangat. the excitement and hope of meeting your crush (yes, yushi has finally admitted that this is a crush) at a public space is thrilling, enough to add some spice to an otherwise average salaryman life.

hari ini hari jumat, dan bukannya ada di tempat tongkrongan bersama teman-temannya, yushi masih berdiri di stasiun lebak bulus grab pukul sembilan lewat empat puluh lima malam. kata kalender sakti asuransi, hari ini punya energi feng-shui yang kurang baik. hal ini terbukti dengan dia yang terpaksa lembur untuk menyelesaikan proposal, dan kini masih terjebak karena mesin pemindai kartu di stasiun yang rusak.

yang tadinya empat baris antrean kini menyatu menjadi dua. bayangkan betapa panjang antrean di malam jumat biasanya, now triple that and add in the fact that jakarta was at thirty nine degrees just an hour ago. bahkan dalam perhitungannya, butuh sekitar tiga menit untuk maju dua sampai tiga langkah. 

 

"akhirnya ketemu lagi."

holy fucking shit, it's sion on his left. clad in a dark green blazer, smiling at him, as if he didn’t just appear out of thin air and completely ruin yushi’s ability to think.

and holy fucking shit, he still smells so good.

 

yushi diam-diam berharap salah satu dari dua mesin yang masih bekerja ikut bermasalah agar dia bisa antre lebih lama bersama sion. “apa kabar, yushi?” tanya sion, masih dengan senyumnya. 

ah, so he did catch his name. and goodness gracious, it sounds beautiful coming from sion's lips.

 

"baik, mas. mas sendiri gimana? ke mana aja?"

in hindsight, asking ‘ke mana aja?’ to someone who is practically a stranger might be borderline creepy, but sion doesn’t seem to mind. in fact, he seems really pleased by the question, smiling wide and showing his pearly whites. 

holy fucking shit, sion is beautiful.

 

"saya biz trip ke australi dua minggu kemarin. seminggu terakhir ini…, maybe nggak pas aja timing-nya."

yushi nodded as both of them got closer to the machine. quick, tokuno yushi, find something else to talk about!

 

"blossom kemana, mas?"

stasiun ini lagi ramai-ramainya—diisi dengan suara tapping kartu elektronik, keluhan penumpang yang mulai jengkel akan lamanya waktu antre, dan suara blower yang bercampur jadi satu. 

but despite all that, sion’s laughter cuts through all the noise, clear and warm in yushi’s ears. 

yushi has decided he wants to make sion laugh like this more often.

 

"abis ketumpahan kopi, jadi lagi dicuci dulu si blossom." again, yushi cuma bisa mengangguk sambil menutupi telinganya yang mulai memanas. ada rasa malu karena sion sedang memperhatikannya secara intens, dan rasa malu karena hal yang bisa otak yushi keluarkan melalui mulutnya cuma si blossom. whatever happened to his game?

kali ini giliran barisan sion yang maju, making sion tap his card before before yushi gets to move forward. yushi bahkan sudah nggak berusaha menutupi kekecewaannya lagi, bibirnya melengkung ke bawah karena harus menunggu dua orang yang kartu elektroniknya gagal terbaca.

untungnya, sion masih ada di situ, berdiri nggak jauh dari yushi, menunggunya tepat di samping stan d’crepes yang aromanya cukup menggoda (albeit not as enticing as sion's cologne).

 

"mas yushi keluar di exit mana?"

"exit a, mas. saya parkir di park and ride."

"loh, sama dong! yuk, jalan bareng, mas."

 

lebih dari tiga bulan yushi habiskan untuk memanifestasi pertemuan di antara stasiun-stasiun, dan semesta punya kejutan yang lebih spektakuler untuknya. ternyata mereka jauh lebih dekat dibandingkan dugaannya. iya, dia juga ngerti kenapa pekerja kantoran seumurnya lebih memilih untuk parkir di tempat yang dikelola stasiun lebak bulus itu sendiri. gini deh, siapa yang nggak bakal milih tarif flat dengan harga maksimal sebesar dua puluh ribu rupiah dibandingkan tempat parkir mal yang tarifnya enam ribu per-jam? come on, in this economy? 

on the walk to park and ride, yushi has learned that sion is twenty six, is on his third year as head of marketing for a hotel booking app. yushi returned the favor by introducing his name properly, that he’s twenty four and is a junior designer for a digital agency. akhirnya mereka juga tau kalau kantor yushi ada di jl. mh thamrin, sedangkan kantor sion berada nggak jauh darinya—di jl. sultan syahrir.

nggak berhenti disitu, ternyata rumah mereka cuma berjarak lima belas menit kalau ditempuh dengan kendaraan roda empat. andai ini merupakan adegan dari sebuah ftv produksi sctv, mungkin judul yang dipilih adalah ‘cintaku bersemi di lebak bulus.’ kalau rumah produksinya lebih bergengsi, jadi seri ott misalnya, mungkin judulnya akan menggunakan bahasa inggris seperti ‘love train.’ 

beda lagi kalau adegan ini ada di sebuah fanfiksi, mungkin judulnya akan berupa kutipan sebuah lagu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan alur cerita seperti, ‘you say i'm perfect (but i've got thorns with my petals too).’

 

"what are the odds, ternyata mobil kita parkir sebelahan."

what are the odds, kita selalu dipertemukan kayak gini?

 

"mas yushi,  i know it's forward of me but i can't stop thinking about how we—"

"yes,” jawaban yushi membuat sion kelihatan bingung. fuck, has yushi jumped the gun? 

"...yes apa, mas? yes beneran boleh saya minta instagram-nya mas yushi?"

oh, yushi didn't jump the gun after all. well he did, but it doesn't matter if it leads to the same thing, right?

 

"banget. eh, boleh maksudnya. boleh banget."

kalender asuransi sakti rupanya bisa salah juga. katanya energi hari ini buruk, tapi bagaimana mungkin ini jadi hari yang buruk kalau ada notifikasi ‘ohsion mulai mengikuti anda’ tiga puluh menit yang lalu? bagaimana bisa ini jadi hari yang buruk kalau ada pesan ‘sudah sampai rumah, mas yushi?’ sembilan menit yang lalu?

dan jelas ini bukan hari yang buruk karena ada ajakan bertemu di luar hari kerja lima menit yang lalu. 

biasanya yushi nggak tahan untuk nggak langsung mandi, tapi malam ini, dia masih duduk di sofa kecil kamarnya—mata dan tangannya terpaku menatap layar, menunggu gelembung pesan dari sisi sion muncul.

Messages with ohsion

INCOMING: since we take the same route everyday

INCOMING: boleh nggak kalau saya jemput kapan-kapan?

REPLY: amin banget

INCOMING: ...gimana?

REPLY: aman maksudnya mas...

REPLY: aman banget...

INCOMING: hahaha that was a yes right?

REPLY: iyaa 😭

REPLY: tapi maksud mas naik mobil sampe ke kantor atau cuma sampe parkiran lebak bulus mas?

INCOMING: dua-duanya boleh kan?

REPLY: maksudnya?

INCOMING: jadi satu hari naik mobil sampe kantor

INCOMING: next day naik mrt bareng gituu

REPLY: berarti lebih dari sekali ya mas?

INCOMING: kalau mas nggak keberatan

REPLY: nggak kok mas

REPLY: sama sekali nggak

INCOMING: oke deh kalau gitu

REPLY: semoga jadwalnya pas yaa

INCOMING: amin banget

REPLY: mas 🥲

INCOMING: :)

Notes:

did this in a few days in what is a pretty sad entry for the first ever wish fic fest, but i hope you enjoyed this nonetheless.
special shoutout to the loveliest mods of wish fic fest, and everyone that has participated to make the first round so enjoyable.
make sure to read and show all the works some love!

and finally, long live public transportation and walkable city <3