Work Text:
Aku tidak percaya cinta. Aku juga tidak percaya Cinta menyatakan cinta lebih dulu dari bel sekolah. Hembusan angin pagi masih sejuk belum terpapar matahari. Namun mendengar ini, buliran keringat tak sabar muncul dari dahi. Wajah kupalingkan agar tak jadi urusan; Cinta gemar mengobservasi ekspresi seperti ia bak ahli.
Sambil pegang bangku besi yang perlahan hilang dingin, aku cuman bisa celingak-celinguk menghindari tatapan Cinta.
Ada apa dengan Cinta?
Ada apa dengan cinta?
Karena sesungguhnya, memang tidak pernah ada di sana.
“Cinta, maaf, saya tidak bisa,” jawabku.
Dahi Cinta seketika menghasilkan banyak gelombang. “Kenapa?”
Jawabannya ada pada aroma lemon campur garam laut yang lewat dipeluk tawa sebesar toa penjual buah. Diiringi sirkus nada-nada memaksa, gila, dan segala hal yang kuharap binasa. Segala kesialan tetimbun akibat wajah sederhana, potongan rambut nyaris plontos yang tak pernah berubah sejak pertama kali kuinjak kaki di sini.
“Bor, jadi lu ke sini bawa mobil yang mana?” Seorang teman bertanya saat Borne memainkan kunci mobil sebelum masuk ke dalam sakunya. Obrolan itu jadi meluas tapi tak terdengar karena suaranya perlahan lenyap dimakan panjangnya koridor.
Borne. Pesonanya makin hadir saat jauh beberapa langkah. Saat ia menenteng tas dan menoleh ke belakang usai menjajaki setidaknya lima anak tangga. Akan kujual seisi dunia untuk menghentikan jarum jam demi melihatnya lebih dekat.
Ada apa dengan saya?
“Hey!” Cinta melambai-lambaikan tangan ke arahku.
Aku menunduk. “Hey...”
“Kenapa? Saya kira kita dekat. Buku-buku puisi itu, saya mau baca lebih banyak dengan kamu. Saya menghargai cara kamu menggandeng tangan saya saat menyebrang. Kamu juga suka makanan-makanan yang saya rekomendasikan ke kamu kan?” Saya suka, saya hargai semuanya, Cinta. Kepalaku tak henti mengangguk seraya Cinta terus membahas kenangan seperti aku habis kena amnesia. Jelas, kuingat semuanya. Namun jelas bahwa aku tengah memberikan sinyal yang tak jelas.
“Saya takut kamu mati, maka itu saya gandeng, nanti saya yang disalahkan bapak ibumu,” jawabku.
Cinta masih butuh jawaban.
“Cinta,” panggilku untuk halau gundahnya, “maaf, saya rasa kamu salah kira. Itu semua tidak pernah mengarah pada cinta.”
“Ya, kenapa? Kasih alasannya dong!”
Suara laki-laki menggema dari sayap kanan lantai dua, tempat para anak IPS biasa berkerumun. “WOYYY! GUE MAU NITIP ES KEBO, DUAAAA!”
Dibalas laki-laki rambut gondrong yang belum kena razia. “YA, BORRR!”
Lalu tatap Borne mencari tempat bertengger. Dari segala tempat, ia memilih aku dan Cinta, yah, salah kami juga sudah duduk di sudut paling janggal. Tatapnya dari bingung berubah sinis, berujung bengis.
Ia mengeyit. Inikah alasanku?
Ada apa dengan Borne?
“Maaf. Saya harus pergi,” ujarku ketika merasa tatapan itu sudah merayap dan mencengkram. Aku menunduk dan buru-buru bergegas.
Rasanya berat meninggalkan Cinta dengan kecewanya. Namun, seketika kuingat dia punya empat sahabat. Walau mereka sama butanya soal cinta (dan Cinta?) setidaknya punya wadah untuk mengumpat namaku sampai hilang gila.
Saya sudah kelewat sinting, Cinta. Bahkan tak tahu badai apa yang tengah menghantam saya. Kaki gonta-ganti merangkak naik ke atas menuju kelas. Ada apa dengan saya? Selangkah sebelum mendarat di lantai dua, ternyata Borne sudah menanti di ujung tangga. Tatapan itu masih sama, hanya berhias heran.
Ada apa dengan kita?
Aku tidak percaya cinta. Selain sulit, aku selalu merasa tak punya ruang. Itu mulanya. Sampai aku menemukannya pada masa lalu Cinta. Perlahan aku jadi paham kenapa Cinta pernah cinta. Borne lihai mengajakku berkeliling, mengenalkan rasa hati tak terjamah.
“Rangga.”
Dan aku masih menolak menatap.
“Kenapa tadi sama Cinta?” tanya Borne.
Aku menggeleng dan berusaha menghindar. “Bukan apa-apa.”
Tamak Borne tak biarkan aku lewat sebelum penasarannya dapat jawaban. Ia mengulang pertanyaannya lagi, jawabannya tetap sama. Baru berani buka mulut ketika ia pasang tatap itu.
Sorot yang tak terelakan. Ruang remang-remang. Hangat.
Ada apa dengan cinta? Kenapa hangatnya berani merasuki saya?
“Cinta bilang suka ke saya. Lalu saya jawab 'tidak'.” Aku meluruh. Terpaksa aku mengaku,
“Kenapa?”
Lama-lama kata 'kenapa' ini membosankan juga, ya?
Padahal jelas sekali Borne tahu. Obrolan pesan singkat tiap malam itu jelas membawa kita sampai pada jawaban. Bermula cari teman kala senggang, saling balas story Instagram soal buku yang dibaca, perlahan mengubah kebiasaan, bertumbuh jadi heran jika rumpang eksistensi satu sama lain. Mana obrolan tentang obsesi yang kamu bawa sejak masuk asrama saat SMP, Bor? Mau bicara tentang buku yang sebenarnya refleksi dari traumamu, Ngga?
Percaya tidak judul buku favorit bisa membaca seseorang?
Aku mendongak. “Lagi baca buku apa sekarang?”
“Jangan ganti pembicaraan,” balas Borne. Namun tak lama ia menghela nafas. “More Happy Than Not. Adam Silvera.”
Oh, tipikal tukang lari dari kenyataan.
Aku tertawa pelan. “Kalau buku yang itu pasti dibaca malam-malam dan ditaruh di bawah bantal seperti biasa, ya?”
Borne ikut tertawa sambil mengangguk.
“Saya rasa kamu tahu kenapa saya bilang 'tidak'. Udah ya, saya mau masuk kelas. Takut keburu bel.” Aku tersenyum,
Saat langkah sudah memisahkan kami, Borne menyusul, tanda obrolan kami tak bisa diutarakan pakai suara lantang. “Come to my place after school? I can lend you more books, we can read it together in silence.“
Terakhir kali aku mampir, hubungan kami jadi naik satu tingkat. Jangan sampai jadi makin setinggi langit dan tersisa bungee jumping-nya saja.
“Saya sedang baca 'Gadis Kretek'. Sedang tidak ingin membaca yang lain dulu, maaf,” tolakku.
“I can start 'Gadis Kretek' now.”
“Tidak perlu. Selesaikan yang sekarang dul—”
“Perlu,” bisik Borne sambil menunduk, “so we won't lose touch.“
Aku menggenggam lengan Borne, beruntung belum lengket kena keringan. Tunggu, sebenarnya kalau sudah pun aku juga enggan peduli. “Sepulang sekolah, kan?”
Wajahnya kembali berbinar.
Senang kami punya ruang rahasia karena kami bak dua kutub yang kelewat canggung jika disatukan. Jika kelas tak bisa terima, ada ruang dengan sofa goyang dan rak-rak tinggi di perpustakaan rumah milik keluarga Borne yang kekayaannya tak berujung sampa sepuluh cucu. Entah keluarga siapa yang mereka eksploitasi.
Beruntung Borne menurunkan hobi kakeknya sehingga ruangan ini tak jadi disulap jadi ruang kantor membosankan. Di tengah kemewahannya, aku sendiri lebih pilih duduk di karpet, bersandar tembok dengan wallpaper bertekstur kasar. Di bawah sana, aku sering terpikir, mati tertimpa salah satu raknya, aku takkan lebih dari bersyukur.
Borne suka duduk di rak sebelah kanan, rak yang padat oleh novel young adult dan buku biografi. Dia bilang, personalitinya membosankan, jadi sejak dulu hobinya adalah mencuri sekian persennya dari orang lain. Walau tak sedikitpun aku melihat ada Barack Obama atau Malala di sana. Aku hanya melihat wajah bocah bingung pada diri sendiri hasil bergelut di tengah cerita romansa dua laki-laki.
Ada banyak hal yang baru pertama kali masuk pandangan saat di sana. Orang-orang kelewat kaya, buku-buku lawas berbahasa Belanda, wajah Borne serius membaca, sudut pandang Borne terhadap karakter perempuan, apa Borne suka perempuan? Kurasa iya, tidak, harusnya iya.
Dan harusnya 'kita' tidak pernah ada.
Harusnya temu bibir itu tidak pernah ada.
Syukurlah, aku beranjak dari percakapan di waktu paling tepat. Borne disambut pakai es kebo yang ternyata adalah es teh manis beku. Kenapa tidak diucap gamblang saja? Kenapa harus kerbau? Apa kita semua benci keterusterangan?
Oh, benar, begitu juga aku.
Aku menilik ke lantai bawah. Menemukan semua orang tengah bertanya: 'Ada apa dengan Cinta?' Karena kini ia menutup wajahnya di ujung koridor, kemungkinan besar tumpah ruah air matanya. Masih beruntung masih didekap empat dayang-dayangnya. Ketidakterusterangan ini bertanggung jawab atas sakit hati Cinta. Namun ironisnya juga jadi penyelamat cinta—cintaku.
Apa semua ini sepadan?
Sebelum masuk kelas, aku lihat Borne tersenyum ke arahku, menggigit ujung plastik dengan asal. Seperti penyakit yang menular, aku ikut tergelitik, sulit untuk tak membalasnya.
“Pulang nanti ya?”” Dia bicara tanpa suara.
Aku mengangguk.
Ada apa dengan Rangga?
