Work Text:
Taman sekolah sepi di kala senja, hanya terdengar deru angin yang membelai dedaunan. Di bangku kayu yang biasa mereka tempati, Geonwoo duduk tegak dengan seragamnya yang masih rapi sempurna. Sebagai ketua OSIS sekaligus vampir yang telah hidup ratusan tahun, Kim Geonwoo adalah lambang kesempurnaan yang tak tergoyahkan. Tapi semua kedamaian itu hancur ketika Geonwoo melihat sosok yang dinantikannya mendekat dengan langkah gontai.
He Xinlong, si serigala omega yang selalu menjadi pusat perhatian karena reputasinya sebagai berandalan, datang dengan wajah terluka. Di wajah cantiknya kini terdapat luka yang membuat Geonwoo mengeraskan rahang.
"Lagi-lagi." Gumam Geonwoo suaranya rendah berisi ancaman yang tersamar. Matanya yang merah menyala samar, menatap luka di wajah Xinlong bagai seorang hakim yang telah menjatuhkan vonis.
Xinlong mencoba tersenyum, mengangkat bahu dengan sikap masa bodoh yang biasa ditunjukkannya pada dunia. "Lagi iseng aja, Geon. Jangan lebay."
Tapi Geonwoo tak tertipu. Vampir itu mengenal kekasihnya lebih dari siapapun. Di balik sikap kasar dan berandal itu, Xinlong sebenarnya adalah anak yang baik hati yang terlalu sering disalahpahami. Ketakutan orang-orang padanya membuatnya selalu sendiri dan itu membuat Geonwoo sedikit lega.
"Jangan bohong padaku, Long." Geonwoo mengulurkan tangannya, menyentuh lembut luka di sudut dagu Xinlong. "Siapa yang melakukannya?"
Xinlong menunduk, menghindari kontak mata. Omega itu tahu apa yang akan terjadi jika menjawab pertanyaan sang vampir. Setiap kali Xinlong terluka, Geonwoo akan berubah menjadi malaikat pelindung yang kejam. Dan besok, akan ada berita tentang seseorang yang masuk rumah sakit.
"Gak penting. Gue bisa urus sendiri."
Tapi Geonwoo sudah berdiri, tubuh tingginya bagai tembok besar untuk Xinlong. Geonwoo mendekat, menempatkan kedua tangannya di kedua sisi bangku, mengurung Xinlong dalam dekapan bayangannya. "Xinlong, kau akan menjawab pertanyaanku dengan sukarela atau akan kupaksa kau berbicara."
Xinlong menarik napas dalam-dalam. Xinlong sangat mengenal nada itu. Nada yang digunakan Geonwoo saat rapat OSIS ketika vampir itu tak mau mentolerir ketidakdisiplinan. Nada yang membuat seluruh sekolah enggan berurusan dengannya.
"Ada beberapa alpha dari sekolah lain…" Akhirnya Xinlong mengaku dengan suara lirih. "Mereka gangguin omega yang lagi sendirian. Gue coba belain."
Geonwoo mendengus, matanya berkilat dengan emosi yang tertahan. "Jadi kau jadikan dirimu tameng lagi? Kau pikir karena kau manusia serigala, kau tidak akan terluka?"
"Lebih baik gue yang luka dari pada mereka kenapa-kenapa!" balas Xinlong dengan suara meninggi. Matanya yang cokelat berkilat dengan amarah dan kebanggaan yang terluka.
Geonwoo menghela napas, lalu mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka hampir bersentuhan. "Kau tahu apa masalahmu, Xinlong? Kau terlalu baik untuk dunia yang kejam ini."
Geonwoo mencium Xinlong dengan lembut, menghindari bagian yang terluka. Xinlong merespon dengan putus asa, tangannya meraih kerah kemeja Geonwoo yang rapi. Dalam pelukan Geonwoo, Xinlong tak perlu pura-pura kuat. Omega itu bisa menjadi dirinya yang sebenarnya, bukan berandalan yang ditakuti, bukan manusia serigala yang dihindari, tapi hanya Xinlong yang perlu dilindungi.
"Tolong jangan lakuin hal bodoh…" bisik Xinlong di antara ciuman.
Geonwoo tersenyum, senyum tipis yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku tidak pernah melakukan hal bodoh, Sayang."
Keesokan harinya, sekolah gempar dengan berita bahwa tiga siswa dari sekolah tetangga masuk rumah sakit dengan luka-luka yang misterius. Mereka mengaku diserang oleh sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa dilihat, terlalu kuat untuk dilawan.
Sementara itu, di kantin sekolah, Geonwoo duduk di meja khusus OSIS, minum teh darah yang dikemas dalam termos elegan. Vampir itu tersenyum manis pada para guru yang lewat, menjawab pertanyaan dengan sopan dan terlihat seperti siswa teladan umumnya.
Xinlong duduk sendirian di sudut kantin, seperti biasa. Tatapan takut dan enggan dari orang-orang agak mengganggunya, mereka mengira Xinlong yang mengirim para alpha preman ke rumah sakit.
"Xinlong lagi, Xinlong lagi." Bisik seseorang.
"Xinlong pasti bikin masalah tiap hari."
“Pantes sering keluar masuk ruangan ketua osis”
Xinlong mengerutkan kening, menatap mangkuk mie-nya. Xinlong tahu bahwa Geonwoo yang melakukan ini. Tapi Xinlong juga tidak bisa menyangkal perasaan hangat di dadanya, mengetahui bahwa seseorang peduli padanya hingga rela berbuat hal gila.
Ketika mereka bertemu lagi di taman, Xinlong langsung menyerang Geonwoo dengan tuduhan. "Lo pikir gue gak tau itu ulah lo?"
Geonwoo tidak menyangkal. Pemuda tinggi itu hanya membetulkan dasi di leher Xinlong dengan gerakan lembut. "Mereka layak mendapatkannya. Tidak ada yang berhak menyentuhmu."
"Tapi lo gak harus..." Xinlong terhenti ketika melihat sesuatu di mata Geonwoo. Ada kegelapan di sana, sesuatu yang kuno dan berbahaya.
"He Xinlong." Geonwoo memanggil namanya dengan suara yang dalam. "Kau adalah milikku. Sebagai vampir, kita sangat protektif terhadap apa yang kita anggap sebagai milik kita. Dan kau... kau adalah milikku yang paling berharga."
Xinlong menggigit bibirnya. Xinlong seharusnya marah, memberontak terhadap klaim kepemilikan seperti itu. Tapi sebagai omega, bagian terdalam dari jiwanya justru merasa tenang dengan perlindungan seperti ini.
"Gue bukan punya lo…" Protes Xinlong setengah hati.
Geonwoo tersenyum, mengetahui betapa kosongnya penyangkalan itu. "Oh?" Geonwoo mendekat, mencium tanda gigitan yang dia tinggalkan di leher Xinlong selama pertemuan terakhir. "Kau membiarkanku menggigitmu, kau tidur di apartemenku setiap akhir pekan, kau bahkan memakai kalung dengan liontin yang berisi darahku. Katakan padaku, Sayang. Bagaimana mungkin kau bukan milikku."
Xinlong merah padam. Omega itu tak bisa membantah. Hubungan mereka adalah rahasia yang dijaga ketat, karena tidak ada yang akan percaya bahwa siswa teladan seperti Geonwoo akan bersama berandalan seperti dirinya.
"Orang-orang pikir itu gue." Gumam Xinlong.
"Bagus" Geonwoo mendekatkan bibirnya ke telinga Xinlong. "Lebih baik mereka takut padamu daripada mendekatimu dan menyakitimu. Tapi jika kau keberatan dengan caraku, aku akan menggunakan cara lain."
Minggu-minggu berikutnya, Geonwoo mulai menerapkan strategi barunya. Alih-alih menghajar setiap orang yang mengganggu Xinlong, Geonwoo mulai menggunakan pengaruhnya sebagai vampir yang berasal dari kalangan atas.
Ketika sekelompok siswa mulai menyebarkan rumor buruk tentang Xinlong, tiba-tiba saja orang tua mereka mendapat masalah di tempat kerja, atau nilai mereka turun secara misterius. Ketika seorang guru memperlakukan Xinlong tidak adil, tiba-tiba saja guru itu diancam mutasi ke sekolah terpencil.
Xinlong memperhatikan perubahan ini dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, Xinlong senang tidak ada lagi yang masuk rumah sakit. Di sisi lain, Xinlong tahu Geonwoo masih memanipulasi segalanya di belakang layar.
"Lo pikir gue gak sadar?" Tanya Xinlong suatu sore ketika mereka belajar bersama di apartemen Geonwoo.
Geonwoo mengangkat alis, wajahnya yang tampan terlihat polos. "Aku tidak tahu apa yang kau maksud."
"Gue serius. Gue tau lo yang bikin Pak Kooyoung dimutasi."
Geonwoo menutup buku yang sedang dibacanya. "Guru itu tidak adil padamu."
"Tapi lo gak perlu lakuin itu!" Xinlong berteriak, frustrasi. "Gue bisa bela diri sendiri!"
"Bisa?" Geonwoo berdiri, mendekati Xinlong dengan langkah tenang. "Kau bisa, memang. Tapi kau tidak harus. Itulah artinya memiliki pasangan, Xinlong. Kita saling melindungi."
Geonwoo berhenti, memandang Xinlong dengan ekspresi lembut yang jarang ditunjukkannya. "Kau pikir kau yang lemah?" Vampir itu tertawa, suaranya berisi rasa tidak percaya. "Xinlong, kau adalah orang kuat. Kau memiliki keberanian untuk tetap baik di dunia yang kejam. Kau memiliki kekuatan untuk melindungi orang lain bahkan ketika kau sendiri terluka. Aku..." Untuk pertama kalinya, Geonwoo terlihat ragu.
"Aku yang sebenarnya lemah. Karena tanpa kau, aku akan menjadi monster abadi tanpa emosi. Kaulah yang menjagaku dari kegilaan."
"Geon..." Xinlong memanggil nama kekasihnya dengan suara lembut.
"Biarkan aku melindungimu, Xinlong." Ucap Geonwoo putus asa. "Karena dengan melakukannya, kau juga melindungiku dari diriku sendiri."
Xinlong mengerti sekarang. Ini bukan tentang siapa yang lebih kuat atau lebih lemah. Ini tentang dua makhluk tidak sempurna yang saling melengkapi. Geonwoo dengan kecenderungan overprotektifnya, dan Xinlong dengan kebiasaan mengorbankan dirinya.
"Oke." Akhirnya Xinlong mengalah. "Tapi jangan bikin orang masuk rumah sakit lagi, deal?"
Geonwoo tersenyum, senyum asli yang membuat mata merahnya berbinar. "Deal."
Tapi kemudian Geonwoo menambahkan dengan senyum nakal, "Tapi aku tidak berjanji tidak akan membuat mereka menderita dengan cara lain."
Xinlong menggeleng, tapi kali ini omega cantik itu tersenyum. Mungkin inilah cara hubungan mereka bekerja. Dia akan terus melindungi yang lemah, dan Geonwoo akan terus melindunginya. Dan meskipun tidak sempurna, itu cukup untuk mereka berdua.
Ketika malam tiba dan bulan mulai bersinar, Xinlong bersandar di pelukan Geonwoo, merasa aman dan dicintai. Dan untuk pertama kalinya, Xinlong tidak merasa bersalah karena membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya yang berantakan.
"Geon?" panggilnya lembut.
"Hmm?" Geonwoo membenamkan wajahnya di leher Xinlong, menikmati kehangatan dan aroma khas manusia serigalanya.
"Makasih." bisik Xinlong. "Udah peduli."
Geonwoo mencium leher pemuda yang lebih kecil dengan lembut. "Selamanya, Xinlong. Aku akan selalu peduli selamanya."
