Actions

Work Header

Stray Cat and The Guardian

Summary:

Perfect vampire Geonwoo becomes drawn to rebellious yet kind-hearted omega Xinlong. After rescuing him from bullies, Geonwoo vows to protect him, and the two slowly become each other’s safe haven.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Matahari musim semi menyinari halaman Planet Camp, sekolah elit bagi berbagai makhluk supernatural. Di koridor utama, Geonwoo berjalan dengan anggun, seragamnya yang sempurna dan mata merah seperti wine tua membuat semua siswa lain memberi jalan. Sebagai vampir berusia 230 tahun dan ketua OSIS, Kim Geonwoo adalah lambang kesempurnaan yang tak terbantahkan.

 

"Laporan kehadiran sudah siap, Ketua." Ucap seorang siswa penyihir dengan suara hormat.

Geonwoo mengangguk singkat. "Taruh di mejaku. Aku akan memeriksanya nanti." Suaranya dingin tapi berwibawa, sesuai dengan image-nya yang tak bercela.

 

Sementara itu, di belakang sekolah yang sunyi dan lembab. Xinlong, werewolf omega dari klan kecil yang tak terlalu dikenal, sedang menghadapi tiga siswa berandalan, dua werewolf alpha dan satu centaurus.

 

"Omega aneh, dasar gak tau posisi!" Salah satu alpha mendorong bahu Xinlong.

Tapi Xinlong tak mau kalah. "Gue cuma lewat. Kalian yang nutupin jalan!" Balasnya, mata yang mirip dengan kucing itu menatap tiga orang di hadapannya dengan tajam.

 

Geonwoo yang kebetulan mengambil jalan pintas menuju perpustakaan menyaksikan adegan ini dari kejauhan. Vampir itu berhenti, tertarik dengan keberanian omega muda itu. Sebagai vampir tua, Geonwoo bisa membedakan kepalsuan dari ketulusan, dan ada sesuatu yang jujur tentang omega kecil ini.

 

Tapi sebelum Geonwoo bisa turun tangan, Xinlong yang pasif tiba-tiba mulai menantang. "Kalian cuma berani bacot ya? Cupu banget!" Ejek Xinlong dengan senyum. "Buktiin kalo emang kalian berani! Gue tunggu di gudang belakang!"

 

Ketiga pemuda yang menghalangi Xinlong itu termakan provokasi dan mengikuti Xinlong yang berlari menjauh. Geonwoo, dengan instingnya yang tajam, diam-diam mengikuti mereka. Dari balik pepohonan, vampir itu menyaksikan Xinlong dikeroyok tiga lawan satu. Meskipun terluka, Xinlong tidak menyerah, Xinlong terus melawan dengan gigih.

 

"Cukup." Geonwoo melangkah keluar, aura vampirnya yang kuat membuat ketiga pemuda bertubuh besar itu membeku. "Pergi. Sekarang." Perintah Geonwoo dengan suara rendah yang penuh ancaman. Mereka yang mengenal siapa Geonwoo, langsung kabur dalam ketakutan.

 

Geonwoo mendekati Xinlong yang tergeletak. "Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Geonwoo dengan suara lembut, mengulurkan saputangan untuk membersihkan darah di bibir Xinlong.

Xinlong menepis tangan Geonwoo. "Gue gak butuh ditolong, pergi sana!"

Tapi Geonwoo tak beranjak sedikit pun. Justru pemuda tinggi itu tersenyum kecil. "Kau sengaja mengalihkan mereka dari aku, bukan? Kau tahu aku ada di sana."

Wajah Xinlong memerah, yang lebih kecil segera memalingkan muka. "Lo pede banget, gue cuma gak mau ribut di tempat sempit."

 

Tapi Geonwoo tahu Xinlong berbohong. Detak jantung dan aroma ketulusannya tidak bisa berbohong pada indra vampir yang tajam.

 

 

 

 

 


Keesokan harinya, Geonwoo mulai 'kebetulan' bertemu Xinlong di berbagai tempat. Di kantin, Geonwoo menawarkan makanan. Di perpustakaan, Geonwoo menawarkan bantuan. Setiap kali itu terjadi, Xinlong berusaha mengusirnya dengan kasar.

 

"Pergi, vampir! Gue gak butuh temen!"
"Lo kan anak baik, jangan deket-deket sama berandalan kayak gue!"
"Minggir atau gue cakar!"

 

Tapi semakin keras Xinlong berusaha mengusir, semakin tertarik Geonwoo. Geonwoo mulai mengamati Xinlong dari kejauhan, dan yang Geonwoo temukan membuatnya terkesima. Di balik image berandal, Xinlong adalah sosok yang baik hati, membela siswa lemah, memberi makan makhluk jalanan, bahkan menyelamatkan bayi phoenix yang jatuh dari sarangnya.

 

Sampai akhirnya, satu bulan setelah pertemuan pertama mereka, Geonwoo menemukan Xinlong sendirian di atap sekolah, menatap matahari terbenam dengan ekspresi sedih yang tak pernah ditunjukkannya di depan umum.

 

"Kenapa selalu sendiri di sini?" Tanya Geonwoo, membuat Xinlong terkejut.

Xinlong berusaha kembali ke sikap kasarnya. "Lo lagi? Emang gak ada tempat lain?"

"Tidak." Jawab Geonwoo sambil berdiri di sebelahnya. "Aku lebih suka di sini. Bersamamu."

Geonwoo mendekat, matanya yang merah menatap dalam. "Aku tau siapa dirimu sebenarnya, Xinlong. Aku tau kau membela siswa lemah, memberi makan yang kelaparan, menyelamatkan yang terjatuh. Dan aku tau kau menyembunyikan semua kebaikan itu karena kau takut dianggap lemah."

Xinlong gemetar. "Lo... gimana bisa—"

"Karena aku mengamatimu." Bisik Geonwoo. "Dan yang kulihat adalah seseorang yang terlalu baik untuk dunia yang kejam ini."

Air mata akhirnya menetes di pipi Xinlong. "Gue... gue cuma gak mau orang lain ngerasain apa yang gue rasain."

Geonwoo mengulurkan tangan, menyentuh pipi Xinlong dengan lembut. "Kau tidak lemah. Kau lebih kuat dari siapa pun yang aku kenal." Pemuda tinggi itu berhenti sejenak. "Biarkan aku melindungimu, Xinlong. Biarkan aku menjadi tempatmu berlindung."

Xinlong menatap mata Geonwoo, mencari-cari kepalsuan tapi hanya bisa menemukan ketulusan. "Gue takut... takut lo bakal keseret masalah gue."

"Mereka yang harusnya takut." Balas Geonwoo dengan senyum percaya diri. "Karena mulai sekarang, tidak ada yang akan berani menyakitimu lagi."

 

Geonwoo memeluk Xinlong erat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Xinlong merasa aman. Xinlong menyerah, membiarkan air matanya mengalir bebas di bahu Geonwoo.

 

"Janji... jangan ninggalin gue." Bisik Xinlong lemah.

"Tidak akan." Jawab Geonwoo, mencium ujung rambut coklat halus itu. "Selamanya."


Sejak hari itu, hubungan rahasia mereka mulai berkembang. Di depan umum mereka masih memainkan peran masing-masing, Geonwoo yang sempurna dan Xinlong yang kasar. Tapi di balik layar, mereka adalah dua jiwa yang saling melengkapi.

 

Suatu malam, ketika Xinlong datang dengan memar baru setelah membela omega muda lain, Geonwoo menghela napas. "Kau tidak bisa terus seperti ini, Sayang. Biarkan aku yang menanganinya."

"Tapi mereka-"

"Kau terlalu baik." Potong Geonwoo, membersihkan luka di wajah Xinlong dengan gerakan lembut. "Dengarkan aku, Xinlong. Dunia ini kejam, dan kebaikanmu adalah hal yang berharga. Biarkan aku yang menjadi tameng untuk melindunginya."

 

Xinlong akhirnya mengangguk, menyerah pada perlindungan Geonwoo. Dan keesokan harinya, para pengganggu itu menghilang dari sekolah, dipindahkan ke institusi lain dengan alasan yang tidak jelas.

Orang-orang mengira Xinlong yang membuat mereka pergi, tapi hanya Xinlong yang tahu kebenarannya. Dan malamnya, ketika dia bertanya pada Geonwoo, vampir itu hanya tersenyum misterius.

 

"Mereka mendapat apa yang pantas mereka dapat." Ucap Geonwoo sambil memeluk Xinlong. "Yang penting kau aman."

 

Bulan-bulan berlalu, dan hubungan mereka semakin dalam. Suatu malam, di bawah sinar bulan purnama, mereka duduk di atap sekolah, tempat pertama kali mereka jujur satu sama lain.

 

"Lo tau." Kata Xinlong memecah keheningan, tubuh kecilnya bersandar pada Geonwoo, "Dulu gue kira gak akan ada yang mau sama omega onar kayak gue."

Geonwoo mencium pelipisnya. "Dan aku berpikir tidak akan ada lagi yang bisa membuatku merasa hidup setelah 200 tahun. Ternyata kita berdua salah."

Xinlong mendongak, mata kucingnya berbinar. "I love you, Geon."

Geonwoo tersenyum, senyum lembut yang hanya ditunjukkannya pada Xinlong. "Sebagai vampir, ketika kita mencintai, kita mencintai untuk selamanya. Kau terjebak denganku."

"Gak buruk juga." Balas Xinlong, mendekatkan bibirnya. "Gue juga gak bakal pergi, rumah gue disini."

 

Di bawah sinar bulan, dua makhluk dari ras yang berbeda menemukan bahwa dalam cinta, perbedaan mereka justru menyempurnakan satu sama lain. Kucing liar telah menemukan rumahnya dan sang malaikat pelindung telah menemukan alasan keabadiannya.

Meskipun dunia mungkin tidak memahami hubungan mereka, bagi Geonwoo dan Xinlong, yang terpenting adalah mereka saling mengerti. Dalam pelukan masing-masing, mereka telah menemukan tempat yang mereka sebut rumah.

Notes:

Haloo lagiii, karena ini slice of life aku bakal seneng kalo kalian punya ide buat cerita mereka, setiap cerita dari series ini ga belanjut lebih ke oneshoot tapi dengan universe yang sama. Maaf atas typonya dan makasih, have fun! (Untuk yang bingung kenapa mereka vamp x ww, ini ide dari salah satu komen dan menurutku memang cocok sama mereka, kalau kalian ga terlalu suka sekali lagi aku mohon maaf, mungkin bakal aku ganti jadi ww x ww atau vamp x vamp aja atau kalian lebih suka yang sekarang? Tolong masukannya ya, dadahhh!!!)

Series this work belongs to: