Actions

Work Header

Strawberry Matcha

Summary:

The one time Karmen brings strawberry matcha to Maura, the countless times Maura asks Karmen to stay and talk.

Notes:

mari kita yurifikasi perfilman indonesia kembali. this one is for the karmenmaura enjoyers <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Karmen bertekad mengubah citranya saat masuk kuliah. Saat SMA, ia dikenal galak dan blak-blakan. Dan ketika lulus, ia ingin merubah penampilannya, menjadi diri yang lebih tenang dan santai.

Awalnya, rencana itu berjalan lancar. Di kampus, tak ada yang tahu soal reputasi lamanya. Bagi teman-teman barunya, Karmen Adriana hanyalah mahasiswi IBM Binus University yang terkesan kalem dan mudah diajak ngobrol.

Sampai suatu sore di minimarket dekat kos. Karmen yang sedang memilih bahan makanan di rak belakang mendengar suara yang sangat ia kenal. Suara itu tinggi dan terdengar menyebalkan.

"Ya kalo barangnya gak bisa dibeli, ngapain ditaro di rak, Mas? Kan buang-buang waktu saya aja!"

Karmen spontan mengangkat kepala. Ia tahu betul suara itu. Tatapannya langsung mencari sumber suara dan berhenti pada seorang gadis berjaket abu-abu gelap, memakai celana piyama, dengan rol rambut menempel di poni.

Maura.

Begitu gadis itu hendak keluar, Karmen buru-buru mengembalikan barang yang ia pegang lalu menyusulnya.

"Mor— Maura!" panggilnya sambil berlari kecil.

Maura menoleh. Wajahnya yang semula kesal langsung berubah cerah. Alisnya terangkat, matanya membulat.

"Eh, Men! Hai!" serunya sambil tersenyum lebar. Ia menarik Karmen ke dalam pelukan singkat, tangan kirinya masih menenteng belanjaan.

"Gue kira lo jadinya di UGM, Mor?" tanya Karmen setelah melepas pelukan.

"Gak lolos, Men. Gak ada opsi lain. Gue iseng coba aja daftar komunikasi di sini. Eh, masuk." ujar Maura sambil tertawa kecil. "Emang lo gak liat postingan gue?"

"Ya elah, lo tau gue jarang buka sosmed." jawab Karmen.

"Oh iya, bener juga." Maura mengangguk. "Lo ngekos di mana? Deket sini?"

"Deket banget. Tuh, nyebrang juga sampe." Karmen menunjuk ke arah gedung kecil di seberang jalan.

Mata Maura langsung melebar, mulutnya terbuka. "No way. Demi apa?! Gue juga di situ!"

"Bohong! Masa sih?! Kok kita gak pernah ketemu?"

Maura mengangkat bahu. "Gue jarang di kosan juga sih. Lebih sering nongkrong di tempat gebetan."

Karmen menatapnya dengan ekspresi geli. "Udah punya gebetan aja lo di sini?"

Maura terkekeh. "Obviously. It's part of the college experience, girl. Kalo gak ada gebetan mah gak seru."

Karmen tertawa kecil. "Okay, fair. Tapi hati-hati, Mor. Kata temen gue, cowok di sini banyak yang red flag." Ia menyelipkan tangan ke saku jaket. "Gue gak tau sih, denger-denger aja."

 

Sejak malam itu, sosok Karmen yang dulu dikenal galak mulai muncul lagi. Setiap kali Maura nelpon dan curhat tentang cowok-cowok red flag barunya, Karmen selalu siap pasang mode labrak.

Berbagai nama udah pernah Karmen dengar dari mulut Maura, lengkap dengan daftar kekurangannya.

Michael yang terlalu posesif, Aksa yang avoidant, Darren yang anak mama, Nico yang suka love bombing. Semua udah lewat di telinga Karmen.

 

Pertama kali Maura curhat soal gebetannya, Karmen sempat bingung harus bagaimana. Akhirnya ia memilih cara paling sederhana: membelikan minuman kesukaan Maura.

Sore itu, Karmen berdiri di depan kamar kos Maura. Ia mengetuk pintu dengan ujung kakinya. Tangan kanan membawa segelas strawberry matcha, tangan kiri menggenggam cold brew miliknya sendiri. Dua sedotan terselip di antara bibirnya.

Tak lama, pintu terbuka. Maura muncul dengan ekspresi heran, matanya menelusuri Karmen dari atas sampai bawah.

"Apa nih?" tanyanya.

Karmen hanya bergumam, tak bisa menjawab karena bibirnya masih menjepit sedotan.

Maura mendengus kecil, lalu mengambil dua sedotan itu.

"Kata temen gue, strawberry matcha di coffee shop deket sini enak banget," ujar Karmen setelah bisa bicara. "Gue tau lo lagi kesel gara-gara cowok gak berguna itu, jadi gue beliin deh."

Maura menahan senyum. "Tumben, manis amat."

Karmen mengangkat bahu. "Sekalian minta maaf juga, udah bikin heboh pas gue ngelabrak dia.”

Maura tertawa lepas. "Ngapain minta maaf? Emang dia yang nyebelin. He had it coming. Baru tau aja dia temen gue galaknya kayak apa."

Karmen ikut tertawa. "Gue boleh masuk gak? Atau kita ngobrol di depan pintu aja?"

Maura memutar mata, tapi senyum masih tersisa di wajahnya. Ia menarik lengan Karmen. "Yaudah, ayo masuk."

 

Membelikan strawberry matcha untuk Maura sudah jadi kebiasaan baru bagi Karmen. Kalimat strawberry matcha seakan menjadi kode untuk mereka berdua. Setiap kali nama Maura muncul di layar ponselnya, Karmen tahu persis apa yang dimaksud.

Rutinitas itu berlangsung sepanjang semester pertama. Bahkan berlanjut sampai mereka masuk semester baru.


[19.05]

Maura Kirana:

Men

[19.05]

Maura Kirana:

Strawberry matcha dong.

[19.07]

Karmen Adriana:

Meluncur, bro.


Malam itu mereka duduk santai di sofa kamar Maura. Di meja ada gelas minuman favorit Maura, di pangkuan Karmen ada toples kacang.

"Mor, tipe lo emang yang gak jelas gini apa gimana sih?" tanya Karmen sambil mengunyah. "Dompet gue seret loh gara-gara beliin lo strawberry matcha terus."

Maura menghela napas panjang. Ia melipat kaki, bersandar di sandaran sofa, lalu menopang kepala dengan tangan. "Kalo dari awal gue tau mereka gak jelas, ya gak bakal gue lanjutin, Men. Lo tau sendiri, cowok kayak gimana."

Karmen mengernyit. "Kebetulan gak tau sih, Mor."

Maura menatapnya sejenak, lalu tertawa sampai matanya mengecil. "Oh iya! Lupa gue!" katanya sambil menepuk lengan Karmen ringan.

"Lagian sama aja gak sih? Mau cowok, mau cewek," lanjut Maura setelah reda. Ia meraih gelasnya, menyeruput dari sedotan. "Kalo brengsek, ya brengsek aja."

Karmen mengangkat bahu, masih mengunyah kacang. "Pengalaman gue dengan para wanita sejauh ini sih fine-fine aja, ya."

Maura meliriknya dengan senyum miring. "Naksir Alya dua tahun tapi gak jadi apa-apa, itu fine-fine aja, Men?"

Karmen mendecak pelan, bibirnya mengerucut. "Masalah lama gak usah diungkit, Mor."

Maura terkekeh, tangannya ikut mengambil kacang dari toples di pangkuan Karmen. "Sorry, deh. Tapi beneran, mumpung semester baru, cari cewek lain kek."

"Ah, udahlah. Nanti juga dateng sendiri." Karmen bersandar ke sofa, suaranya tenang, senyumnya tulus.

 

Beberapa bulan kemudian, Karmen sedang nongkrong bersama teman-teman kuliahnya di sebuah restoran dekat kampus. Obrolan di meja ramai, tawa bersahutan, suasananya riuh tapi akrab.

Di tengah percakapan, ponsel Karmen bergetar. Ia mengambilnya dari saku celana dan melirik layar.


[15.43]

Maura Kirana:

Strawberry matcha plissss

[15.43]

Karmen Adriana:

Ditunggu, cantik.

[15.44]

Maura Kirana:

Love you girl ;)


Senyum kecil muncul di wajah Karmen. Ia menatap layar sebentar sebelum mengunci ponselnya kembali.

Temannya yang duduk di sebelah langsung memperhatikan. "Chat sama siapa sih, Men? Senyum-senyum sendiri."

Karmen cepat mengangkat kepala. "Hah? Oh, enggak. Temen gue." Ia tertawa kecil, berusaha santai.

Beberapa detik kemudian, ia menepuk meja pelan. "Kayaknya gue cabut duluan, deh. Mau mampir ke coffee shop dulu." Ia berdiri sambil menggantungkan tas di bahu.

Teman-temannya saling pandang, senyum mereka menahan tawa.

"Ohh, mau beli strawberry matcha buat Maura, ya?" goda salah satu temannya.

"Lo kalo Maura yang chat, langsung gercep ya, Men," tambah yang lain sambil terkikik.

Karmen menatap mereka bingung, lalu tersenyum canggung. "Enggak, woi. Gue takut kemaleman aja, ngantri."

Tawa teman-temannya pecah lagi. Karmen hanya geleng-geleng sambil berjalan keluar, tapi sudut bibirnya masih terangkat kecil.

 

Karmen sampai di kos membawa dua gelas minuman dan satu kantong belanja. Begitu Maura membuka pintu, Karmen langsung melangkah masuk tanpa menunggu disuruh. Ia menaruh strawberry matcha pesanan Maura dan beberapa snack di meja kecil di samping sofa.

"Cowok mana lagi nih, Mor, yang perlu gue labrak?" tanyanya sambil menjatuhkan diri ke sofa.

Maura mengangkat alis, ekspresinya bingung. "Emang gue bilang ada cowok?"

Karmen ikut heran. "Lah, kan biasanya kalo lo minta strawberry matcha, artinya lagi ribut atau baru putus."

Maura mengambil gelasnya, menusuk sedotan ke tutupnya, lalu duduk di sebelah Karmen. "Ya gak selalu, kali. Emang gue gak boleh minta lo beliin strawberry matcha tanpa ngomongin soal laki?"

Karmen mengangkat satu alis. "Ya boleh aja. Cuma tumben." Ia mencondongkan tubuh ke depan, siku bertumpu di lutut. "Jadi gak ada siapa-siapa nih?"

Maura meneguk minumannya, kemudian terkekeh kecil. "Ya, ada. Tapi gak perlu dilabrak. Gue cuma pengen nongkrong aja, ngobrol sama lo."

Karmen menyandarkan punggung ke sofa, bahunya turun santai. "Tau gitu tadi gak usah buru-buru."

"Salah sendiri, gue gak nyuruh lo buru-buru," balas Maura cepat, nada suaranya setengah menggoda.

Karmen tertawa kecil, mengangkat kedua tangannya. "Iya, iya. Emang salah gue."

Matahari pelan tenggelam di luar jendela. Maura menyalakan TV, memutar film random, walau perhatian mereka lebih banyak ke obrolan. Di antara mereka tergeletak bungkus kripik party pack yang sudah setengah habis.

"Lo masih sering ngobrol sama anak-anak gak sih, Men?" tanya Maura, tangannya mengambil kripik.

Karmen duduk bersila, di tengah pangkuannya menjepit segelas kopi dalam gelas plastik yang mulai berembun. Ia menatap layar ponselnya sebentar sebelum menjawab, ibu jarinya mengetik sesuatu di atas layar. "Ngobrol sih, cuma gak sering. Paling sama Alya aja."

Maura diam sejenak, melirik sekilas ke arah Karmen yang matanya tak lepas dari layar ponsel. "Oh. Alya."

Karmen mengangguk tanpa menoleh.

"Lo masih suka sama dia, Men?" pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Maura.

Karmen mendongak, lalu tertawa kecil. "Kenapa emangnya?"

"Enggak. Penasaran aja. Kalo iya, kuat juga lo," jawab Maura dengan tawa kecil, nadanya ringan tapi tatapannya serius.

Karmen menaruh ponselnya di atas sofa, persis di sampingnya. "Dulu sih kuat. Sekarang udah nyerah gue."

Maura ikut tersenyum, jari-jarinya memainkan sedotan di gelas.

"Awal lo tau lo suka cewek tuh kapan sih, Men?" Maura bertanya lagi.

Karmen mengangkat alis, sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Ia berpikir sejenak, menatap ke atas sambil merapatkan bibir.

"Hmm… kapan ya? Dari kecil mungkin." jawabnya santai.

"Tapi perasaan gue, lo gak pernah beneran punya pacar, kan ya?" tanya Maura, kali ini dengan nada lembut.

Karmen menoleh, wajahnya pura-pura tersinggung. "Are you saying that I have no game, bro?"

Maura tertawa, menepuk ringan lengannya. "Tapi emang bener, kan? Sama Alya gak pacaran. Cewek-cewek yang lo deketin selama kuliah juga sekedar deket doang, bukan?"

Karmen ikut tertawa, melempar satu keripik ke arah Maura. "Lo juga sama aja. Cowok-cowok gebetan lo di kampus cuma sekedar deket aja kan? Gak ada yang sampe pacaran."

Maura menangkap kripik itu, tertawa kecil. "Ada, sekali. Nico. Yang suka love bombing itu. Baru kenal beberapa minggu udah nembak."

Karmen bersandar. "Kenapa lo terima waktu itu?"

Maura mengangkat bahu. "Kepincut sama kata-katanya kali, ya." Ia menatap layar TV, meski matanya terlihat kosong.

Karmen menoleh pelan, memperhatikan Maura dari samping. Lampu kamar yang temaram membuat bayangan halus di wajah temannya. Rambut Maura yang terurai menutupi sebagian pipinya. Ia tampak lelah, tapi tetap berusaha terlihat santai.

Tangannya Karmen menggenggam gelas di pangkuan, jari-jarinya bergerak pelan di sisi plastik. Napasnya panjang dan tertahan, seolah menimbang sesuatu.

Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat pandangannya lagi ke arah Maura. "Gue tuh suka gak tega tau, Mor," ucapnya akhirnya, suaranya pelan dan berat. "Ngeliat lo terus dirugiin sama cowok-cowok yang lo deketin."

Maura tak langsung menjawab. Pandangannya tetap ke layar. Ia memainkan sedotan di gelas, menggulung ujungnya pelan seolah ada yang ingin dikatakan tapi tertahan.

"Kalo bisa sih gue juga gak mau dirugiin terus, Men," katanya akhirnya, suara rendahnya hampir tenggelam oleh suara film di TV.

Karmen menatapnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit, lengannya memanjang di bahu sofa, suaranya turun lembut. "Lo tuh bisa dapet yang jauh lebih baik dari mereka semua. Lo cantik, lucu, pinter. Why waste your time on useless, childish boys? Apalagi yang ujungnya nyakitin."

Maura menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyandarkan tubuh, menatap langit-langit sebentar sebelum kembali ke Karmen. "Gak tau, Men. Awalnya mereka baik. Tapi ya gitu, lama-lama berubah."

Karmen masih menatapnya dalam diam. Ruangan terasa hening, hanya ada suara TV samar dan dengung AC di langit-langit.

Maura lalu bersuara, setengah bercanda. "Lagian juga, gue harus gimana? Masa gue nyerah sama cowok-cowok dan beralih deketin cewek? Kan gak mungkin."

"Kenapa gak mungkin?" Karmen langsung menjawab. Suaranya terdengar terlalu cepat, terlalu refleks.

Maura menoleh, ekspresinya campuran antara heran dan penasaran. Tatapan mereka bertemu beberapa detik, hening kembali menimpa ruangan.

"Maksud gue—" Karmen buru-buru menunduk, tangannya mengusap bagian bawah gelas yang basah. "Ya break aja dulu dari cowok-cowok itu. Kayak detox gitu. Siapa tau malah nemu yang lebih cocok." suaranya sedikit gemetar, seperti mencoba menutupi sesuatu.

Maura menghela napas, kepalanya bersandar di atas lengan Karmen di bahu sofa. "Tapi yang sekarang gue lagi deket kayaknya baik, Men. Gue gak mau terlalu cepat nge-judge."

Karmen mengangguk pelan, meski jelas bukan jawaban yang ingin ia dengar. Wajahnya sulit dibaca. Ia mengangkat gelas kopi dari pangkuannya, lalu meletakkannya di meja.

Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum getaran ponsel memecah keheningan. Maura meraihnya tanpa ragu. "Panjang umur, orangnya ngechat," katanya sambil tersenyum kecil.

Maura membuka pesan itu dan mulai mengetik balasan cepat. Jemarinya menari di atas layar ponsel, senyumnya semakin lebar, dan pipinya perlahan memerah.

Karmen memaksakan senyum kecil sambil berpura-pura menatap TV, tangannya terlipat di dada. Ia menggerakkan kakinya pelan, mencoba mengalihkan perhatian, tapi matanya tetap kosong.

Ia tahu persis pola ini. Semanis apa pun awalnya, ujungnya selalu sama. Maura akan jatuh hati. Lalu kecewa. Lalu datang padanya lagi.

Karmen menatap sekilas ke arah Maura yang masih sibuk mengetik, wajahnya diterangi cahaya dari layar ponsel. Ada tawa kecil di bibir Maura, tawa yang Karmen hapal di luar kepala.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan sesuatu di dadanya yang terasa menyesak. Ia tahu posisinya. Selalu tahu.

Ia akan ada di sana setiap kali Maura terluka, seperti yang sudah ia lakukan sejak SMA. Menjadi orang yang memungut serpihan hati Maura, menyusunnya kembali sedikit demi sedikit.

Dan meskipun rasanya berat, Karmen akan selalu di situ, menjaganya. Ia hanya ingin Maura bahagia.

Meskipun bukan bersamanya.

Notes:

this was sooo much fun to make. hope you guys enjoyed reading this as much as i enjoyed writing it!

Series this work belongs to: