Work Text:
Selama kuliah, Karmen dan Maura dikenal sebagai dua orang yang tak bisa dipisahkan. Kalau Maura berada di kantin, Karmen biasanya akan muncul tidak lama kemudian. Kalau Karmen tiba-tiba menghilang, orang-orang otomatis bertanya ke Maura dulu. Begitu juga sebaliknya. Mereka selalu muncul dengan formasi berdua.
Walaupun tinggal di gedung kos yang sama, mereka juga tetap sering saling numpang tidur. Biasanya hal itu terjadi setelah seharian ngobrol atau menonton film dan series favorit mereka hingga larut, dan kebanyakan malam itu berakhir di kamar Maura. Kamarnya lebih rapi, sofanya lebih nyaman. Mereka bisa duduk atau rebahan berjam-jam tanpa sadar waktu berjalan.
Kegiatan favorit mereka adalah menonton Euphoria. Serial TV favorit Maura yang berhasil ia tularkan kepada Karmen.
Lampu kamar redup, cahaya dari layar TV memantulkan warna ungu kebiruan ke wajah mereka.
"Maddy tuh mirip banget deh sama lo, Mor. Apalagi nyolotnya," celetuk Karmen sambil menyandarkan punggung ke sofa.
Maura menoleh cepat. Pura-pura tersinggung. Ia mendecak pelan lalu memukul lengan Karmen dengan punggung tangan. Tidak keras. Hanya cukup untuk membuat Karmen terkikik.
"Kenapa yang di-highlight nyolotnya sih? Kenapa gak gayanya… cantiknya. Apa kek, Men," protes Maura.
Karmen menatap layar sejenak, lalu menoleh ke Maura. Pandangannya turun naik sebentar, lalu kembali ke TV. Baru setelah itu ia bicara santai.
"Kalo cantik, cantikan lo sih kayaknya."
Maura langsung mencemooh. "Basi."
Karmen terkekeh lagi, dan Maura akhirnya ikut tertawa. Maura merapatkan tubuhnya sedikit dan menyandarkan kepalanya di bahu Karmen. Karmen tidak protes. Malah menggeser posisi agar Maura lebih enak bersandar. Tak jarang bagi mereka berdua tertidur dalam posisi itu sampai pagi hari.
Terkadang, kalau waktunya pas dan Karmen lagi mood, Maura suka mengajak Karmen ikut jalan dengan kekasihnya. Saat itu Maura sedang dekat dengan Dion, anak IBM satu angkatan di atas Karmen.
Sejak awal mereka dekat, Karmen sudah mengawasi laki-laki itu secara diam-diam. Ia sempat menanyakan reputasi Dion ke teman-teman seangkatannya. Dan sejauh itu, Dion terlihat baik. Tidak ada cerita aneh tentang dia. Dion justru berhasil bikin Karmen nyaman sebagai teman. Obrolan mereka nyambung, candaan masuk, dan Dion tampak tulus menyambut kehadiran Karmen setiap kali Maura mengajaknya nongkrong bertiga.
Tapi seperti kebiasaan buruk yang berulang, laki-laki yang tampak baik itu akhirnya menunjukkan warna aslinya juga.
Suatu siang, di sela pergantian kelas, Karmen berdiri bersama beberapa temannya di koridor gedung. Dari ujung koridor, pandangannya tertangkap pada sosok Dion yang sedang berbincang dengan seorang gadis. Karmen menyipitkan mata, fokus ke arah mereka.
Beberapa detik kemudian, Dion merangkul gadis itu sebentar dan mengecup pipinya. Gadis itu tersenyum, lalu berjalan pergi. Dion tetap berdiri di sana, santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Rahang Karmen langsung mengeras. Mulutnya sempat terbuka, lalu tertutup kembali. Ia berpamitan singkat pada teman-temannya dan langsung melangkah cepat menyusuri koridor.
"Dion!" panggil Karmen ketika Dion hendak berbalik arah.
Dion menoleh. Wajahnya terlihat terkejut, tapi cepat ia tutupi dengan senyum tipis.
"Itu tadi siapa?" tanya Karmen, berhenti tepat di depannya.
Dion terdiam sejenak. Pandangannya beralih ke lantai, ke dinding, ke mana saja, kecuali ke Karmen.
Dahi Karmen berkerut. "Are you cheating on Maura?" Bibirnya melengkung ke bawah.
Dion menarik napas panjang, lalu menatap Karmen. "Jangan bilang ke Maura ya, Men. Please."
Karmen menatapnya datar, rahangnya mengatup kuat. Tangannya mengepal kencang.
"Kita kan temen," lanjut Dion dengan senyum, berusaha terdengar santai. "Lo pasti ngerti, kan? Bisa nyimpen rahasia."
Karmen tertawa pendek, pahit. Dalam satu gerakan cepat, kepalan tangannya melayang dan menghantam wajah Dion.
Dion refleks menutup wajahnya. "Anjing! What the hell, Men?!"
Karmen maju setengah langkah. Telunjuknya menekan dada Dion, mendorongnya sedikit.
"Lo gak usah deketin Maura lagi abis ini."
Ia mundur, masih menatap Dion dengan tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi, Karmen berbalik dan pergi, langkah kakinya menghentak lantai koridor.
Karmen sempat bingung bagaimana harus bicara dengan Maura. Sepanjang jalan pulang ke kos, langkahnya melambat. Pandangannya lebih sering jatuh ke aspal. Di kepalanya, ia mencoba merangkai kalimat pembuka. Diulang. Dihapus. Diganti. Lalu mentok lagi.
Pada akhirnya, ia sadar tidak ada cara yang sempurna untuk menyampaikan hal semacam ini. Jadi ia memutuskan untuk bicara apa adanya.
Saat Karmen menceritakan semuanya, Maura hanya bisa terdiam. Dahinya berkerut keras, rahangnya mengencang. Ia menatap lantai cukup lama, seolah butuh waktu untuk mencerna. Lalu suaranya keluar, pelan tapi jelas.
"Brengsek tuh laki."
Kepalanya menggeleng kecil. Napasnya terdengar berat.
"Tadi gue mukul dia, Mor," kata Karmen pelan. Kepalanya tertunduk. Ia tidak berani langsung menatap Maura.
Maura menoleh cepat. Mereka saling bertatapan.
"Sorry ya," lanjut Karmen. "Gue gak bisa nahan emosi. Udah keburu kesel banget."
Alisnya turun, ekspresinya tampak canggung. Seperti orang yang merasa bersalah, meski yakin alasannya benar.
Bukannya marah, Maura justru tersenyum.
"Ngapain minta maaf?" katanya. "You did something that I could never do."
Maura meraih tangan Karmen yang tergeletak di pangkuannya. Jarinya menutup genggaman itu perlahan.
"Thank you udah ngebela gue, Men," ucapnya dengan senyum tipis. "Cuma lo doang yang bisa gue percaya."
Tatapan Karmen melunak. Bahunya turun sedikit, tegangnya mereda. Ia mengangguk pelan, membalas genggaman tangan Maura tanpa berkata apa-apa.
Dari dulu, Maura bukan tipe orang yang cemburuan. Bahkan jika ada cowok yang menyelingkuhinya, ia tidak ribut. Hanya memutuskan hubungan sepenuhnya, lalu melupakannya dengan mudah.
Sempat ada satu kejadian di semester pertama kuliah. Gebetannya waktu itu sengaja mendekati cewek lain, ingin melihat reaksi Maura. Maura tetap tenang. Saat tahu alasannya, ia hanya menatap wajah cowok itu dengan ekspresi datar.
"Kamu kok gak marah sih?" tanya cowok itu. Maura bahkan sudah lupa namanya sekarang.
Maura menghela napas dan menyilangkan tangan. Rautnya berubah jengkel. "Kenapa gue harus marah. Biar lo ngerasa ganteng? Ngerasa direbutin dua cewek?" Suaranya tegas. Ia sedikit mencondongkan badan ke depan. "Males banget." Ia memutar mata dan kembali bersandar.
Ya, itu lah alasan Maura tidak pernah bereaksi besar kalau ada cewek lain yang mendekat ke gebetan atau pacarnya. Cemburu tetap ada, tapi Maura tak mau menunjukkan perasaan itu. Tak mau laki-laki itu merasa penting, merasa terlalu ganteng.
Tapi semua itu runtuh dalam satu waktu, saat libur panjang pergantian semester lima.
Siang itu, Maura menghampiri Karmen di kamar kos. Ia mengetuk pintu, menunggu beberapa detik, baru terbuka.
Karmen muncul di belakang pintu, sudah berpakaian rapi. Rambutnya diikat sebagian, sisanya jatuh di bahu. Maura menatapnya dari atas sampai bawah, alisnya mengerut.
"Mau kemana lo? Cakep amat," ujar Maura sambil melangkah masuk tanpa menunggu Karmen mempersilakan.
Begitu Maura masuk, aroma kamar itu langsung familiar. Wangi aquatic fresh dari reed diffuser bercampur dengan aroma kopi sisa di cangkir yang tergeletak di meja depan sofa.
Ukuran kamar kos Karmen sama seperti kamar Maura. Tidak besar, tidak kecil. Yang membedakan hanyalah suasananya. Kamar Karmen terlihat lebih maskulin. Poster film action dan superhero menempel di dinding dekat meja belajar. Bola basket dan skateboard tergeletak begitu saja di lantai.
Kamar itu juga lebih berantakan. Tumpukan baju menumpuk di sisi kanan sofa, beberapa masih setengah terlipat. Jaket yang sering dipakai Karmen menggantung asal di ujung rak. Di bawah sofa, sepatu terselip setengah keluar.
Karmen nyengir, menutup pintu. "Ada deh."
Maura langsung menatap Karmen cepat. Alisnya terangkat sedikit. Sudut bibirnya naik.
"Mau ngedate ya? Cewek mana nih yang akhirnya bisa bikin Karmen Adriana dandan begini?" godanya sambil tersenyum.
Maura menjatuhkan dirinya ke sofa depan TV. Ia bersandar lebar, kedua lengan dipanjangkan di sandaran sofa seperti sudah sangat betah di tempat berantakan itu. Karmen sibuk di depan cermin dekat TV. Ia membetulkan kemeja, merapikan celana, lalu menyisir rambutnya lagi dengan jarinya.
"Bukan ngedate, Mor," ucap Karmen tanpa menoleh. Ia mendekat ke cermin dan membenarkan helai rambut di sisi wajah. "Alya mau dateng."
Senyum Maura seketika berubah, tubuhnya langsung duduk tegak, ekspresinya jadi serius.
"Alya?" tanyanya.
Karmen sempat menoleh sebentar, mengangguk sambil tersenyum.
"Lo deket lagi sama dia?" Alis Maura mengernyit, nada suaranya tinggi.
Karmen mengangkat bahu santai. Ia menunduk mengambil jam tangan dari meja.
"I wouldn't say 'deket'. But we're talking again." Karmen memasang jam itu di pergelangan tangannya.
Maura berdiri, berjalan mendekati Karmen, berhenti di belakangnya. Mereka saling menatap dari cermin di hadapan mereka. Maura meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Lo nyari mati apa gimana sih?" katanya.
Karmen mendengus tawa kecil dan memutar mata. Ia menunduk kembali, meraih kalung.
"Apa sih, Mor," ucap Karmen sambil memasang kalungnya.
"I'm serious. Why do you keep going back to her?" ucap Maura.
Karmen berbalik menghadap Maura.
"She's my friend, okay? You don't need to worry about me," ujar Karmen sebelum berjalan mengambil sepatu di bawah sofa.
Maura menghela napas lelah, matanya memutar. Ia membalik badan menghadap Karmen yang duduk di sofa sambil mengikat sepatu.
"She's my friend too. Gue tau dia kayak apa. Gue juga tau waktu lo dulu naksir berat sama dia kayak apa. Lo mau ngulangin semua itu lagi?" Maura melangkah mendekat.
Karmen berhenti mengikat sepatunya, menghela napas pelan. Lalu tatapannya naik ke Maura.
"We're just hanging out."
"Dia ke sini cuma hari ini doang? Or is she staying here?" tanya Maura.
Karmen terdiam. Ia menelan ludah. Jawabannya keluar pelan.
"She's staying for a while," katanya hampir tak terdengar.
Ekspresi Maura jatuh. Bibirnya mengendur. Alisnya kembali mengerut.
"Kan," jawab Maura singkat. "Udah kebaca gerak-gerik lo, Men. Hati-hati deh. Daripada keulang lagi situationship gak jelas lo itu."
Karmen berdiri. Ia merapikan celananya.
"All good, Mor." Ia tersenyum saat menatap Maura. "I know what I'm doing," lanjut Karmen sambil menepuk ringan kepala Maura.
Libur semester kali ini terasa panjang dan membosankan bagi Maura. Hari-harinya kosong. Tidak ada pacar. Tidak ada gebetan. Karmen juga sibuk menghabiskan waktu dengan Alya. Teman-teman lain pulang ke rumah masing-masing. Kos terasa sepi.
Yang membuat semuanya lebih menyebalkan, Dion mulai menghubunginya lagi. Berkali-kali. Lewat telepon, chat, DM. Pesan-pesan basa-basi menanyakan kabar, atau sesekali memuji selfie yang baru ia unggah di story.
Awalnya Maura mengabaikannya. Ia men-swipe notifikasi tanpa membuka. Pesan Dion menumpuk begitu saja. Tapi semakin hari, ada rasa penasaran yang muncul. Lama-lama gatal juga jarinya. Ia akhirnya membuka salah satu pesan.
[09.38]
Don’t Answer (Dion):
You free today?
[11.17]
Maura Kirana:
Why?
[11.19]
Don’t Answer (Dion):
Ketemuan yuk. Aku baru balik.
Maura menatap layar ponsel lama. Ia duduk bersandar di sofa kamarnya, satu kaki terlipat di bawah paha. Jarinya mengetuk-ngetuk casing ponsel. Hatinya ragu. Bibirnya merapat. Ia menggigit ujung telunjuk, kebiasaan yang muncul setiap kali ia bimbang.
Ia menghela napas pendek. Lalu memutuskan untuk menghubungi orang paling masuk akal untuk dimintai pendapat.
[11.25]
Maura Kirana:
Men. Strawberry matcha.
[11.25]
Maura Kirana:
Please.
Maura menunggu sambil menatap di langit-langit. Ia memainkan rambutnya tanpa sadar, memutarnya di jari. Matanya terus melirik layar ponsel, menunggu notifikasi masuk.
[11.30]
Karmen Adriana:
Yah lagi pergi sama Alya, Mor.
[11.30]
Karmen Adriana:
Nanti pas balik deh ya.
Maura menghela napas. Bahunya jatuh lemas. Ia meletakkan ponsel di sampingnya dan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Great," gumamnya pelan. Kos hening. Tidak ada siapa pun untuk diajak bicara.
Ia akhirnya membuka tangan dari wajahnya dan menatap langit-langit lagi. Hening itu membuat pesan Dion terasa lebih nyaring di kepalanya.
Maura akhirnya memutuskan untuk bertemu Dion. Mereka hanya bertemu di kafe dekat area kampus.
Begitu Maura mendekati meja, Dion langsung memandanginya dari atas ke bawah. Senyumnya merekah di wajah. "Wow. You look amazing," puji Dion.
Padahal hari itu Maura sengaja tampil seadanya. Ia tidak mau Dion mengira ini kencan. Maura hanya memakai kaus putih polos dan celana jeans. Makeup tipis. Rambut dijepit jedai. Tidak ada usaha lebih.
Ia menahan diri agar tidak memutar mata. Senyum tipis saja. Lalu duduk di kursi seberang Dion.
Sepanjang pertemuan, Dion terus bicara. Topiknya berpindah tanpa henti. Tugas kuliah. Liburan di rumah. Gignya minggu depan. Semuanya ia ceritakan panjang lebar tanpa jeda, seolah asik sendiri.
Maura mengangguk beberapa kali. Sesekali mengeluarkan, "Oh iya?", "Oh gitu," atau "Oh wow." Tapi hatinya tidak di sana. Pikirannya kosong. Sesekali malah bertanya-tanya dalam hati, Karmen lagi di mana.
Ia sempat membuka ponsel. Melihat story teman-teman. Menggeser timeline Instagram perlahan.
Foto kucing. Foto langit. Foto keluarga. Foto Alya yang diunggah Karmen.
Hmm. Bentar...
Alis Maura langsung mengerut. Matanya melebar. Tubuhnya menegak. Ia mendekatkan layar ponsel ke wajah untuk memastikan ia tidak salah lihat.
Alya sedang minum dari gelas plastik transparan berisi strawberry matcha.
Anjrit. Ucap Maura dalam hati.
Dadanya mengencang. Ratusan pertanyaan berhamburan dalam kepalanya.
Itu postingan hard launch atau bukan?
Apa itu strawberry matcha yang biasanya Karmen beli buat gue?
Kalau iya… berarti minuman itu sekarang bukan hal kecil milik kita berdua lagi?
Pertanyaan saling menabrak di kepalanya sampai akhirnya suara Dion tiba-tiba terdengar lebih dekat. Ia menyentuh tangan Maura pelan untuk menarik perhatian.
Maura tersentak. Menatap Dion dengan alis terangkat. "Sorry, kenapa?"
"Kamu dateng ya ke acaraku. Minggu depan. Undang temen kamu juga boleh. Biar tambah rame." Dion tersenyum lebar.
Maura melirik kanan-kiri, pikirannya masih berantakan. "Acara…?"
Dion tertawa pelan. "Band aku manggung, Mor. Deket kok tempatnya. Nanti aku jemput juga bisa."
"Oh." Maura mengangguk pelan. "Okay, sure… we'll see, ya."
Dion mengangguk sambil tersenyum.
Maura kembali memegang gelas es matchanya. Ia meminumnya sedikit, tapi rasanya tidak ada. Kepala dan hatinya masih tertinggal di foto itu.
Malam harinya, Maura sedang melakukan rutinitas skincare malamnya di depan cermin ruang tengah. Bahunya goyang pelan mengikuti musik dari speaker. Rambutnya dijepit asal. Ia menepuk-nepuk pipinya agar pelembap meresap.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Maura menghentikan gerakan. Ia menghentikan musik dari ponsel lalu berjalan ke pintu sambil mengusap sisa krim di tangan ke celana pendeknya. Saat pintu dibuka, Karmen berdiri dengan ekspresi gembira. Satu tangan mengangkat segelas strawberry matcha. Tangan satunya menjinjing bingkisan plastik.
"Telat. Gue butuhnya tadi siang," ujar Maura dengan nada setengah protes, langsung berbalik tanpa menunggu respon.
Karmen masuk dan menutup pintu dengan kakinya, langkahnya santai. "Ya maaf. Gue baru balik, Mor."
Ia meletakkan minuman dan bingkisan ke meja. Cara ia menaruhnya sangat khas Karmen, sedikit rusuh. "Nih. Alya beliin lo carrot cake juga. Katanya enak. Menurut gue sih agak… questionable."
Maura melirik bingkisan itu sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Ini lo ke sini, Alyanya di mana?"
"Lagi mandi. Gue kabur bentar. Tapi udah ngomong kok," jawab Karmen sambil menjatuhkan diri ke sofa. Kakinya langsung terbuka santai. Satu lengannya disampirkan ke sandaran.
Maura kembali ke cermin. Ia mengaplikasikan lip balm di bibirnya, lalu mengoleskan body lotion di lengan. Gerakannya lambat tapi rapi.
Karmen memperhatikan semuanya dari sofa. Mata Karmen turun dari pundak Maura ke pinggang, lalu ke kaki.
Ia cepat-cepat berpura-pura fokus ke gelas matcha saat Maura menoleh sedikit. "Tadi siang kenapa, Mor? Kenapa minta matcha?"
Maura berhenti sejenak. Ia menatap Karmen dari cermin, kemudian menunduk. "Gapapa."
Karmen mencondongkan tubuh ke depan. Sikutnya bertumpu di lutut. "Yang bener? Gapapa kok pake bilang 'please'. Jarang banget tuh belakangan ini."
Maura menghela napas panjang. Ia berbalik dan berjalan ke sofa. Duduk di sebelah Karmen. Jarak mereka hanya beberapa jengkal.
"Promise me you won't get mad?"
Karmen menaikkan alis sambil menegakkan badan. Ia memiringkan wajah, menunggu.
"Gue ketemu Dion tadi siang," ucap Maura pelan. Jemarinya sibuk memainkan ujung celana pendeknya.
Karmen langsung menegang. Mulutnya terbuka sedikit. Ia bahkan sempat menaruh tangan di dada seperti memastikan ia tidak salah dengar. Baru kemudian ia ngomong.
"Are you crazy? Buat apa lo ketemu dia?"
"Ya… dia ngajak ketemu. Trus gue gabut…" Maura mengangkat bahu. "Kenapa nggak."
Karmen menyandarkan punggung ke sofa dengan keras. Napasnya keluar pendek. "I could think of, like, a million reasons why that was a bad idea, Mor."
Maura mendelik, memutar mata seolah mendengar ceramah panjang.
"I'm serious," kata Karmen lagi. "Did you forget what he did to you? Selingkuh di depan umum, gila."
Ia mencondongkan badan lebih dekat ke Maura, wajahnya serius. "Ngapain ngegali masalah masa lalu, sih?"
Maura menatap balik dengan rahang mengeras. Alisnya terangkat sebelah. "You're one to talk. Isn't that exactly what you're doing with Alya now?"
Karmen terdiam. Tatapannya langsung turun ke lantai. Bahunya mengendur.
Maura bersandar santai di sofa lagi. "Lagian tadi siang gue cuma ngopi. Gak ada apa-apa lagi."
Karmen hanya menatapnya. Hening turun sebentar di antara mereka.
Maura meraih gelas matcha di meja dengan sedikit maju ke depan, tubuhnya hampir menyentuh Karmen.
"Dia ngajakin gue nonton gignya minggu depan." Maura menyesap sedotan minuman. Lalu lanjut bertanya, "Lo mau ikut gak?"
Karmen yang tadinya mulai santai langsung tegak lagi. "Katanya gak ada apa-apa. Kok mau dateng ke gignya?"
"Dateng doang, apa salahnya sih? Gue bosen di kosan, Men. Lo juga jarang ada. Jalan terus sama Alya." Suara Maura melemah sedikit tanpa ia sadari.
Karmen menangkap nada itu. Senyum nakal muncul perlahan. Ia mendekat. Sangat dekat.
"Cemburu ya sama Alya?"
Maura langsung mendorong tubuh Karmen dengan sikutnya pelan. "Apa sih? Ngapain gue cemburu."
Karmen tertawa kecil dan menarik Maura ke dalam rangkulannya, lengannya melingkar di bahu Maura. "Gak usah cemberut gitu. You're still my number one girl, Mor."
Ucapan itu membuat Maura diam sejenak. Ia merasakan getaran kecil dalam dadanya. Perasaan yang aneh, yang belum ia rasakan sebelumnya dengan Karmen. Ia menatap wajah Karmen yang tersenyum terlalu manis untuk dibenci.
Maura memutar mata dan melepaskan rangkulan Karmen. "Sorry ya. Gombalan lo gak mempan di gue."
Karmen hanya terkekeh sambil mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah.
Karmen bersinggah di kamar kos Maura lebih lama dari yang ia rencanakan. Mereka kini duduk di lantai, punggung bersandar pada bagian bawah sofa. Carrot cake yang tadi dibawa Karmen kini setengah habis di antara mereka. Meski Karmen bilang rasanya aneh, sendoknya tetap bergerak cepat, pipinya penuh mengunyah kue itu.
Maura memperhatikannya beberapa detik. Sudut bibirnya terangkat. Ia menunduk sambil tertawa pelan dan menggeleng kecil.
"Lo sama Alya jadian, Men?" tanya Maura tiba-tiba sambil mengunyah.
Karmen menoleh cepat. Alisnya naik, pipinya masih mengembung karena kue. "Kenapa emangnya?" tanyanya setelah menelan kue di mulut.
"Penasaran aja." Maura mengangkat bahu. "Lagian lo berduaan mulu sama dia. Tiba-tiba ngepost fotonya lagi."
Karmen mengambil sendok lagi dan memasukkan potongan kue ke mulut. "Kan bukan berarti gue jadian sama dia," gumamnya sambil mengunyah.
Maura menatapnya tidak percaya. Kepala sedikit dimiringkan. "Aneh banget lo, sumpah. Gebetan bukan. Pacaran nggak. Apa sih kalian? Temen mabar?"
"Ya temen biasa aja, Mor. Kayak gue sama lo."
Mata Maura langsung menyipit, bibirnya mengerucut sinis.
"I don't believe you. Lo naksir lagi kan sama dia?" Ia menunjuk Karmen dengan sendok kecil yang ia pegang.
Karmen menghela napas sampai bahunya turun. Ia mendecak pelan. "Gak tau. I feel like I keep falling for the wrong people."
Maura menoleh cepat. Alisnya mengerut. "People? Siapa lagi selain dia?"
Karmen terdiam. Tatapannya jatuh ke lantai. Ujung sendok ia putar-putar di kue untuk menghindari menatap Maura. "Uh… dia doang. Salah ngomong gue."
Hening turun di antara mereka. Hanya suara lagu dari speaker dan angin dari AC yang terdengar. Sesekali sendok menyentuh piring.
Karmen tiba-tiba bersuara, hampir seperti gumaman, "I think she wanted to kiss me earlier."
Maura menatapnya. Alisnya naik. "Lah… emang selama dia di sini kalian ngapain?"
"Ya… hang out aja. Ngobrol. Nonton." Karmen mengangkat kedua bahu, polos sekali.
Maura memandangi temannya itu lama, lalu terkekeh tak percaya. "Wow. So you really do have no game, huh?"
Karmen mendecak. Ia memutar mata, "Ah, bete gue kalo lo ngeledek gini." ujarnya jengkel sambil bergerak ingin berdiri.
Maura cepat menarik pergelangan tangannya. "Ih jangan gampang ngambek gitu dong." Sentuhan kecil itu membuat Karmen berhenti dan kembali terduduk dengan cemberut.
"Sorry deh," ujar Maura sambil tertawa kecil dan menepuk bahu Karmen.
Karmen masih manyun ketika Maura meliriknya dan bertanya, "Terus, tadi lo cium dia gak?"
Karmen menggeleng. "Gak berani gue."
Maura memiringkan kepala. "Kenapa?"
Karmen menunduk, menarik lutut ke dada lalu memeluknya. Pipi sedikit memerah. "Don't laugh at me, okay?"
Maura menunggu tanpa bicara.
"I haven't kissed anyone in years. Gue takut salah. Takut… awkward." Nada suaranya pelan dan jujur. Tangan Karmen mengusap-usap betisnya sendiri tanpa sadar.
Senyum tipis muncul di wajah Maura. Ia mendekat sedikit. "You? Womanizer-nya IBM, udah bertahun-tahun gak ciuman?"
Karmen mendengus sambil memutar mata. "Ya gimana. Gue kan kuliah buat belajar. Bukan buat pacaran."
Maura menatapnya datar. "Okay. We are not having this argument again."
Karmen menyandarkan punggung ke sofa. Napasnya panjang. Maura memperhatikan, matanya lebih lembut dari sebelumnya. Ia menggigit bagian dalam pipinya lalu ikut bersandar.
"If you think she's actually into you, coba aja, Men," kata Maura pelan.
Karmen menoleh. Ada sedikit gugup di matanya.
"Tapi hati-hati. I don't wanna see you get hurt again. Lo udah capek-capek move on, masa keulang lagi. Harus tau dulu intensi dia sama lo apa."
Karmen menutup matanya sebentar, berpikir. Lalu ia menatap Maura lagi. "I feel like I would know if I could just build the courage to kiss her, you know?"
"Makanya gue bilang, dicoba aja."
Hening tipis kembali hadir. Karmen tampak memikirkan kata-katanya sendiri. Maura sesekali melirik lalu mengalihkan pandangan lagi.
Sampai akhirnya ia membuka mulut.
"You can practice with me if you want."
Kata itu keluar sangat santai, tapi jantung Maura berdebar kencang. Ia menunduk cepat, seolah ingin menyembunyikan wajahnya yang memanas.
Karmen sontak menoleh. Alisnya naik. "Practice what? Kissing?"
Maura mengangguk kecil. "Kan lo bilang, it's been years. Mungkin butuh latihan."
Karmen menatapnya lama, ragu. "Wouldn't that be weird?"
"Friends kiss each other all the time. It's only weird if you make it weird."
Karmen menunduk, mengusap tengkuknya. Ia benar-benar terlihat mempertimbangkan. Mata Maura mengikuti gerakan itu sambil menahan senyum.
Maura menepuk lutut Karmen pelan. "People tell me I'm an excellent kisser. Gue bisa arahin lo kalo ada yang salah."
Karmen mencibir kecil. "Why do you just assume that I'm a bad kisser?"
"Oh my God," Maura menggerutu, memutar mata sambil membuang kepala ke belakang. "Do you want my help or not?" nadanya sedikit kesal.
Karmen menarik napas panjang, lalu duduk lebih tegak. "Fine." Ia memutar tubuh, kini duduk bersila di hadapan Maura. "But we're stopping the second this feels weird."
Maura mengangguk.
Mereka saling menatap. Karmen terlihat gugup. Napasnya sedikit berat. Jari-jarinya meremas celananya sendiri.
Maura mendekat perlahan. Karmen refleks memejamkan mata. Punggungnya tegang seperti papan. Maura meletakkan kedua tangannya di atas tangan Karmen yang berada di pangkuan.
Dari jarak sedekat itu, Maura memperhatikan wajah Karmen. Bulu mata lentiknya. Lekukan hidungnya. Garis bibirnya yang terlihat lebih lembut dari biasanya.
Ia memiringkan kepala sedikit. Mata terpejam. Jarak tinggal beberapa sentimeter. Hidung Maura menyentuh pipi Karmen. Napas hangatnya menyapu kulit Karmen, membuat wajah Karmen merinding.
Tangan Maura naik, menangkup pipi Karmen. Ia menariknya pelan, mendekat…
Ping!
Getaran ponsel di meja memecah suasana. Karmen tersentak dan langsung menoleh. Ia meraih ponselnya. Maura membuka mata pelan, menahan napas sebelum ia akhirnya mundur sedikit.
"Siapa, Men?" tanya Maura.
Karmen menatap layar. Cahaya putih memantul di wajahnya. "Alya. Nanyain, kok gue belum balik."
"Oh." Maura hanya mengangguk kecil, matanya bergerak ke samping, rahangnya mengencang halus.
Karmen berdiri sambil merapikan celana, membersihkan sisa remahan kue. "Gue balik ke kamar ya. Mau bersih-bersih juga."
Maura ikut berdiri. "Oke."
Mereka berjalan ke pintu. Tidak ada percakapan tambahan, hanya suara napas mereka. Karmen membuka pintu. Maura bersandar di kusen.
"Thank you buat matchanya, ya. Sama bilangin Alya juga, makasih buat kuenya," kata Maura.
Karmen mengangguk, tersenyum. "Night, Mor," ujarnya pelan sebelum melangkah pergi.
Maura menahan senyum tipis. "Goodnight."
Pintu tertutup. Suara kuncinya terdengar halus. Maura menyender ke pintu, menutup mata sebentar.
Hari-hari setelahnya terasa aneh bagi Maura. Sejak malam itu, setiap kali ia melamun, wajah Karmen terkadang muncul begitu saja. Jarak beberapa sentimeter itu. Bulu mata Karmen. Garis bibirnya. Semua terulang kembali di pikirannya. Muncul saat ia mau tidur. Saat makan. Bahkan saat keramas.
Sesekali ia bertemu Karmen dan Alya di ruang tamu komunal yang terletak di lantai tiga. Karmen dan Alya duduk berdempetan di sofa tengah. Maura duduk di sofa sebelahnya. Ia menarik kedua kakinya ke dada, memeluk lutut, pura-pura fokus ke layar ponsel. Jempolnya mengetik cepat, walau sebenarnya ia tidak sedang membalas apa pun.
Dari ujung mata, ia melihat gerakan kecil. Karmen mencondong sedikit, membisikkan sesuatu ke Alya. Alya tertawa, memukul pelan lengan Karmen. Siku mereka saling bersandar di sofa. Kepala Alya miring ke arah Karmen. Karmen terkikik, menutupi mulutnya dengan tangan.
Maura mencoba menahan diri. Ia menatap ponsel lebih dalam, seolah layar itu bisa menyelamatkannya dari rasa jengkel yang naik perlahan. Tapi setiap suara tawa Alya, atau setiap gerakan kecil Karmen yang condong ke arah Alya, membuat otot rahangnya menegang sedikit.
Akhirnya Maura mengembuskan napas keras. Ia memutar mata lalu menurunkan kakinya dari sofa. Gerakannya cepat dan penuh rasa malas.
Ia berdiri. Tanpa bicara, ia berjalan keluar dari ruangan itu.
Karmen langsung memandanginya. "Mau ke mana, Mor?"
"Kamar. Ngantuk," jawab Maura tanpa menoleh, tanpa memperlambat langkah. Suaranya datar, pendek, lebih dingin dari biasanya.
Langkahnya hilang di ujung koridor, langkah kaki yang memakai sandal jepit bergema hingga ruang tamu.
Di minggu yang sama, Alya mengajak Maura makan siang bertiga. Karmen menyampaikannya lewat chat.
[05.10]
Karmen Adriana:
Ntar maksi yu.
[05.18]
Maura Kirana:
Apa maksut chat pagi buta gini?
[05.19]
Karmen Adriana:
Otewe lari pagi bro. Ikut?
[05.20]
Maura Kirana:
Gk. Mager.
[05.20]
Maura Kirana:
Mau maksi dmn?
[05.21]
Karmen Adriana:
Gatau, Alya yg ngajak.
[05.22]
Karmen Adriana:
Pokoknya be ready before 12 ya.
Maura menatap chat itu lama. Ia akhirnya menarik napas berat, menyandarkan punggung ke kursi. Tidak ada cara halus untuk menolak tanpa terlihat sengaja menghindar, jadi ia memutuskan untuk ikut.
Menjelang siang, ia mulai bersiap. Tank top baby yellow ia kenakan sambil memeriksa pantulannya beberapa kali. Jeans biru gelap terlihat pas. Headband putih ia geser sedikit ke kanan-kiri, mencari posisi yang paling bagus. Ia menyalakan catokan dan merapikan ujung rambut. Sesekali ia mundur dari cermin hanya untuk melihat tampilannya dari jauh. Lalu menghembuskan napas pelan, mencoba menenangkan detak jantung yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
Tepat jam 12 siang, terdengar ketukan di pintu.
Maura sedang mengoleskan lipgloss. Ia bersandar sedikit ke depan cermin, fokus ke bibirnya. "Masuk! Gak dikunci!" serunya tanpa menoleh.
Gagang pintu bergerak. Krek.
Karmen melangkah masuk duluan. Alya menyusul tepat di belakangnya.
Karmen langsung menyapu Maura dengan pandangan malas-bercanda. "Lah, belom kelar dandannya?"
"Dikit lagi," jawab Maura sambil merapikan lipgloss di bibirnya.
Dari pantulan kaca, ia melirik mereka. Dan pandangannya berhenti ke Alya.
Alya terlihat rapi. Atasan linen putih. Celana coklat muda. Tas kecil digantung santai di bahunya. Jepitan rambut menempel di tali tas. Rambutnya jatuh mulus. Seperti baru keluar dari salon lima menit lalu. Makeup tipis tapi rapi, natural. Cantik yang terlihat effortless.
Wajah Maura sempat diam beberapa detik. Hampir seperti lupa berkedip.
Wajar Karmen tergila-gila, pikirnya pelan.
Ia menarik napas, lalu memutar badan menghadap mereka. Gerakan itu membuat sedikit aroma parfum Alya melintas di hidungnya. Soft, powdery, white floral. Lembut.
Alya tersenyum ramah. "Udah siap?"
Maura mengangguk sambil menyibak rambutnya ke belakang pundak. "Yuk."
Karmen sempat memperhatikannya beberapa detik, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis, seolah menilai penampilan Maura tanpa komentar. Maura pura-pura tidak melihat itu, meski perutnya terasa geli sedikit.
Ia mengambil tas, merapikan headband sekali lagi dengan jari, lalu berjalan mendekat untuk bergabung dengan mereka.
Alya mengajak mereka makan siang di restoran sushi. Karena pas sekali dengan jam makan siang, tempat itu cukup ramai. Suara piring dan obrolan bercampur jadi satu. Meski begitu, untungnya mereka tetap dapat meja tanpa harus menunggu waiting list.
Sesampainya di meja, Karmen duduk di tengah di antara Alya dan Maura. Para waiter baru meletakkan buku menu, tapi Maura dan Alya sudah membolak-balik halaman seperti lomba memilih makanan. Mereka memesan begitu banyak pilihan sushi, Karmen hanya bisa menggeleng melihatnya.
Sambil menunggu makanan dihidangkan, obrolan di meja itu mengalir. Maura memakai sumpitnya untuk mengaduk kecap asin di mangkuk kecil, sesekali mencicipi ujung sumpitnya seperti sedang tes rasa.
"Masih sering ketemu Cinta, Al?" tanya Maura.
Alya mengangguk sambil merapikan helaian rambut yang jatuh ke bahu. "Masih. Gak sering banget sih, soalnya beda fakultas. Tapi sesekali masih main."
Maura mengangguk sambil memainkan sumpitnya. "Kalo Milly gimana, masih ngobrol juga?"
Alya mengangkat alis. "Gak banyak obrolan. Paling bales-balesan story aja."
Karmen terkikik. "Milly sekarang lagi sibuk pacaran sama Nobita. Kalo ditelpon, yang dibahas Mameeet mulu."
Mereka tertawa bersama. Alya bahkan menepuk tangan Karmen pelan karena terlalu lucu.
"Tapi mereka lucu, sih. Pasangan yang unexpected but totally makes sense," komentar Maura sambil tersenyum.
Satu per satu hidangan datang. Piring-piring ditata rapi. Maura langsung mengangkat ponselnya dan mengambil foto dari beberapa angle sebelum akhirnya meletakkannya kembali.
Saat mereka mulai makan, suasana berubah lebih santai. Alya dan Karmen beberapa kali saling mendekat, bercekikikan tentang sesuatu yang Maura tidak tangkap. Alya menyodorkan sepotong nigiri ke mulut Karmen, lalu mengusap kecap asin yang menetes di dagu Karmen dengan ibu jarinya. Karmen tertawa, menunduk malu. Maura hanya melirik sebentar, lalu kembali fokus pada volcano roll di piringnya.
"Kalian berdua kok bisa deket lagi? Bukannya sempet gak ngobrol abis lulus SMA?" Maura membuka percakapan kembali, suaranya tenang tapi matanya memperhatikan.
Karmen dan Alya saling melirik sebelum tertawa kecil.
"Random banget sebenernya," jawab Alya sambil menyelupkan sushi di kecap.
Alya menoleh ke Maura. "Karmen nge-post story lagi nonton Normal People. Gue reply. Abis itu jadi sering bahas-bahas seriesnya deh."
Karmen menunduk sambil menggoyang sumpit di tangan, tatapannya kosong seperti mengingat sesuatu yang jauh. "Series gila sih. Orang gila yang nonton."
"Kita orang gilanya," celetuk Alya sambil menyenggol bahu Karmen.
Mereka berdua tertawa lagi. Lagi-lagi, inside joke yang tak Maura pahami, tapi kali ini ia ikut tersenyum kecil, mengangguk pelan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia menyimpannya sendiri sambil memakan potongan sashimi berikutnya.
Seketika, Maura berdeham pelan, mencoba mengusir rasa canggung yang tiba-tiba muncul. Ia menegakkan punggung dan mengalihkan perhatian ke Alya.
"Lo di Depok gak deket sama siapa-siapa, Al?"
Pertanyaannya membuat Karmen dan Alya sama-sama menoleh. Tapi ekspresi mereka berbeda. Alya mengangkat alis, tampak heran sekaligus terkejut. Sementara Karmen langsung mengernyit, seolah mempertanyakan arah pembicaraan itu.
Alya memainkan sumpitnya sebentar sebelum menjawab. "Sempet ada. Tapi ya… gitu deh. Sama-sama sibuk, jadi putus." Ia mengangkat bahu santai.
Maura mengangguk, memiringkan kepala sedikit. "Is he a psych student as well?"
Alya tersenyum kecil. "She, actually. And no. Dia anak FIB. Temen seangkatannya Cinta."
"Oh." Maura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia bahkan berhenti mengunyah selama satu detik.
Selama ini, ia selalu mengira alasan Karmen dan Alya tidak pernah pacaran hanyalah karena Alya tidak tertarik pada perempuan. Ternyata bukan itu masalahnya.
"Terus ini…" Maura mengangkat sumpitnya, menunjuk mereka berdua bergantian. "…kalian lagi deket?"
Karmen yang tadinya fokus makan langsung menoleh. Ia meletakkan sumpit ke meja sedikit terlalu keras.
"Mor, I swear to God," keluh Karmen, nada jengkelnya jelas.
Maura menaikkan sebelah alis. Bahunya terangkat defensif. "What? I'm just asking."
Alya tertawa kecil. Ia menepuk lengan Karmen dengan lembut, seolah sedang menenangkan anak kecil yang tantrum. "It's okay. Wajar Maura penasaran, Men."
Karmen membuang napas panjang. Bahunya turun perlahan, meski wajahnya masih kesal.
Alya menatap Maura dengan senyum tenang. "We're just hanging out, Mor."
Lalu ia menoleh ke Karmen sambil memiringkan kepala. "Right?"
Karmen terdiam beberapa detik. Ia menelan ludah, mencoba tersenyum walau ujung bibirnya terasa berat. "Right."
Maura menangkap tatapan itu. Tatapan yang ia kenal luar kepala. Senyum yang menutupi kecewa. Sejenis perasaan yang Karmen pernah bawa saat patah hati dulu kala.
Maura tidak menanggapi. Ia hanya melirik mereka, lalu kembali menunduk ke arah sushi di piringnya, menyumpit sepotong nigiri seolah-olah itu bisa mengalihkan pikirannya.
Di sela menikmati makanan penutup, seorang satpam restoran menghampiri meja. Ia membungkuk sopan sambil menjelaskan bahwa mobil Karmen menghalangi mobil lain di area parkir.
Karmen langsung mengangguk. Ia mendorong kursinya perlahan, mengambil kunci mobil dari tas kecilnya, lalu berdiri.
"Bentar ya, guys."
Ia berjalan keluar mengikuti satpam, meninggalkan Maura dan Alya berdua di meja. Begitu Karmen menghilang dari pandangan, suasana langsung berubah. Sunyi dan kaku. Alya mengangkat gelasnya dan menyesap lewat sedotan, matanya tetap ke arah meja, seolah tidak ada yang perlu dibahas.
Maura memainkan dessert di piringnya dengan sendok kecil yang ia genggam. Sesekali melirik ke arah Alya. Lalu ia meletakkan sendok di tepi piring, mengatur napas tipis, menegakkan posisi duduknya, baru menatap Alya.
"Intensi lo sama Karmen tuh apa sih, Al?"
Alya mengangkat wajahnya, mata sedikit membesar. Ia meletakkan gelasnya perlahan, telapak tangannya sempat menahan bagian dasarnya agar tidak berbunyi keras di meja.
"I'm sorry?"
Maura menyilangkan kaki di bawah meja. "Menurut gue aneh aja." Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya datar tapi tegas. "Lo balik lagi ke hidup Karmen, nginep di kosannya, setiap hari bareng, punya inside joke… tapi pas gue tanya kalian apa, jawabannya cuma 'we're just hanging out'?"
Alya mengerutkan alis. Ada senyum kecil yang muncul, tapi bukan senyum ramah. Lebih seperti heran, ditambah dengan tangannya yang menyilang di dada.
"What are you implying here exactly?" Suaranya tenang, tapi nadanya lebih dingin daripada sebelumnya.
Maura menarik napas tipis, jari-jarinya mengetuk meja sekali sebelum ia bicara lagi. "Lo bisa gak sih gak usah mainin hatinya Karmen kayak gini?"
Alya tampak terkejut. Punggungnya bersandar ke kursi, dagunya sedikit naik seperti mempertahankan diri. Tapi sebelum ia sempat berkata apapun, Maura lanjut berbicara.
"Lo dulu sia-siain dia pas SMA." Maura menggerakkan tangannya sedikit, seolah menggambar potongan waktu di udara. "Gue liat sendiri waktu itu. Dia naksir sama lo dua tahun penuh… terus lo tinggalin gitu aja. Gue liat dia nangis, patah hati. Dan lo gak peduli sama sekali."
Alya masih diam. Tatapannya kini fokus pada wajah Maura, namun rahangnya tampak mengencang.
"Sekarang, setelah dia udah baik-baik aja, udah move on… lo malah dateng lagi." Suara Maura lebih pelan dan jauh lebih menusuk. "Flirting. Ketawa-ketawa. Tebar pesona. Bikin dia senyum-senyum sendiri. Tapi gue tau lo gak ada niat serius kan sama dia?"
Maura menundukkan kepalanya sebentar, menatap kedua tangannya yang mengepal di pangkuan, lalu kembali menatap Alya.
"All you're giving her is false hope, Al. Harapan kosong."
Alya mencondongkan tubuh sedikit. Tatapannya tajam tapi tetap terukur. Sudut bibirnya terangkat.
"Emang menurut lo yang lo lakuin ke Karmen bukan harapan kosong juga?"
Maura terpaku. Alisnya mengerut, tenggorokan menegang. Tubuhnya bergerak sedikit ke belakang, seperti butuh waktu memahami serangan balik itu.
"Maksud lo?" Suara Maura terdengar datar, tapi sedikit goyah di ujungnya.
Alya mengangkat gelasnya kembali. Ia memutar sedotannya perlahan tapi matanya tidak lepas dari Maura.
"Mor, come on. Gak mungkin lo gak nyadar kalo Karmen juga naksir sama lo," ucapnya santai sambil mengarahkan sedotan ke mulutnya.
Tubuh Maura menegang sedikit. Ia menunduk, jari-jarinya meremas kain celananya.
Sebenarnya, Maura memang sudah merasakannya. Dari tatapan Karmen yang kadang terlalu lama. Dari nada suaranya yang berubah ketika bicara dengan Maura. Dari seberapa cepat Karmen datang hanya karena Maura chat, "strawberry matcha".
Kadang Maura bertanya dalam hati… apakah ini normal untuk sebatas teman?
Tapi setiap kali pikiran itu muncul, ia buru-buru menepis. Ia tak mau geer. Tidak mau memberi ruang untuk hal-hal yang belum jelas. Jadi ia kubur semua kemungkinan itu dan berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Maura mengangkat wajahnya, menarik napas. "Lo tau dari mana?" Suaranya sedikit melemah. "Karmen cerita?"
Alya tertawa kecil, menggeleng. "Gak perlu diceritain. Udah keliatan dari cara dia ngomongin lo."
Maura menelan napas pelan, mencoba menata ulang ekspresinya.
Alya menaruh kembali gelas di atas meja, lalu menyandarkan punggung di kursi, kedua tangannya terlipat santai tapi matanya tetap menatap Maura tajam.
"Lo sama gue tuh sama aja, Mor. Bedanya… lo mungkin gak sadar apa yang lo lakuin ke dia. Karena lo belum pernah ngalamin ini sama cewek lain sebelumnya."
Maura mengerutkan alis, dagunya sedikit naik. "I just think you should back off. That's all. Gue cuma gak mau liat dia patah hati lagi."
Alya mengangguk kecil. Senyum tipis muncul di bibirnya, sulit dibaca apakah itu ramah atau tajam. "Gini deh. Kalau emang ternyata lo beneran tertarik juga sama Karmen… gue bakal ngalah."
Ia condong tubuhnya lebih dekat, nadanya turun jauh lebih pelan. "Tapi kalau apa yang lo lakuin ke dia sama persis sama apa yang gue lakuin… gue gak ngeliat alasan kenapa gue harus mundur, sih."
Alya mengangkat alis tipis. "Whichever one of us she chooses, she's gonna end up heartbroken anyway, right?"
Rahang Maura mengencang lebih keras kali ini. Napasnya berat menahan emosi. Ia membuka bibir, sudah siap menjawab, tiba-tiba…
"Sorry ya, jadi ninggalin kalian!"
Karmen kembali ke meja dengan senyum cerah, menarik kursi dan duduk di tengah. Maura dan Alya otomatis kembali ke posisi semula, masing-masing berpura-pura sibuk dengan piring dan gelas.
"Pada ngomongin apa tadi?" Karmen menatap mereka bergantian, tidak menyadari ketegangan yang melayang di udara.
Alya lebih cepat menjawab. "Ngomongin kuliah, Men. Gue nanya Maura mau magang di mana."
Karmen tertawa kecil. "Maura mah ambis. Ngincer perusahaan gede pasti."
Maura tersenyum pendek sambil menunduk sedikit, mencoba menghapus bekas emosi dari wajahnya. "Iya lah, biar CV gue bagus, Men."
Mereka kembali menyantap dessert dalam diam. Karmen menikmati es krimnya sambil bercerita ringan, sementara dua orang di sisinya hampir tidak bersuara. Maura dan Alya hanya saling menangkap pandangan singkat, sekilas, cepat, dan langsung menghilang.
Maura mulai menjaga jarak dari Karmen setelah makan siang itu. Ia kira, dengan Karmen yang selalu sibuk bersama Alya, perubahan sikapnya tidak akan terlalu kentara. Ternyata salah.
Beberapa kali ponselnya bergetar di atas meja. Nama Karmen muncul, lalu menghilang, lalu muncul lagi. Pesan singkat menanyakan keberadaannya, menanyakan apakah ia sudah makan.
Maura hanya menatap notifikasi itu. Ia tidak membuka chatnya. Ibu jarinya berhenti di layar, tapi tak bergerak. Ia membiarkan pesan itu menggantung.
Setiap kali pikirannya kosong sedikit saja, kata-kata Alya kembali muncul.
"Whichever one of us she chooses, she's gonna end up heartbroken anyway, right?"
Kalimat itu seperti ditanam di kepalanya. Terulang berkali-kali sampai membuat tubuhnya terasa berat. Nafsu makan hilang. Dada kosong seperti dihisap perlahan.
Maura tak pernah menyangka akan memikirkan tentang seorang perempuan seperti ini. Lebih aneh lagi, perempuan itu adalah sahabatnya sendiri. Orang yang selalu ada ketika Maura berantakan karena laki-laki lain. Orang yang siap maju duluan kalau Maura disakiti. Orang yang kalau tersenyum, entah kenapa, bisa menenangkan hati Maura lebih cepat daripada siapa pun.
Di banyak momen kecil, di kamar kos yang sepi, di sofa ruang tamu komunal, atau ketika mereka duduk di mobil Karmen seusai jalan seharian, ada sesuatu yang terasa bergetar di dada Maura setiap kali tatapan mereka bertemu. Sesuatu yang ia pura-pura tidak lihat. Karmen pun biasanya memalingkan wajah duluan, dan itu justru membuat Maura semakin bingung.
Dan mungkin Karmen tidak mengetahui ini, Maura juga tidak pernah berani jujur pada diri sendiri. Tapi setiap Karmen datang setelah Maura disakiti orang lain dan merawat hati yang retak itu, ada pikiran yang diam-diam muncul.
Kalau Karmen ini laki-laki, mungkin Maura sudah jatuh cinta dari dulu.
Namun akhir-akhir ini, pikiran itu berubah bentuk. Tidak lagi berandai "kalau Karmen laki-laki". Melainkan…
Bagaimana jika Maura benar-benar jatuh hati pada Karmen apa adanya?
Bayangan itu membuat pipinya memerah. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri di sofa kamarnya. Jari telunjuknya naik ke bibir, ia menggigitnya pelan untuk menahan senyum yang tidak bisa ia kontrol.
Perasaan itu datang terlalu intens untuk ia abaikan. Jadi Maura memutuskan untuk bicara langsung pada Karmen.
Sore itu di hari Sabtu, ia mengetuk pintu kamar kos Karmen. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Karmen berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, sudah berpakaian rapi.
Maura mengernyit. "Lo mau kemana?"
Karmen balik mengernyit. "Lah, lo kan ngajak ke gignya Dion malem ini? Kok lo belom siap?"
Mata Maura membesar. "Astaga!" Ia menepuk dahinya cukup keras sampai rambut depannya ikut bergetar.
"Gue lupa," gumamnya. Lalu ia menatap Karmen dengan wajah menyesal. "Sumpah gue lupa banget."
Karmen tertawa kecil sambil menggeleng, bahunya naik turun ringan. "Gimana sih? Lo yang ngajak, lo yang lupa."
"Yaudah, gue siap-siap dulu deh."
Maura hendak berbalik ke kamarnya, tapi langkahnya berhenti ketika Karmen memanggil.
"Eh—lo ke sini ngapain?" tanya Karmen sambil bersandar di kusen pintu.
Maura membuka mulut, namun sebelum ia bicara, dari dalam kamar terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Alya keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mereka sempat saling menatap sepersekian detik. Tatapan Alya tenang, bahkan terlalu tenang.
Maura segera kembali menatap Karmen, seolah tak melihat apa pun.
"Nggak. Mau ngajak makan aja tadinya," katanya pelan. "Udah ya, gue siap-siap dulu. Lama gue dandannya."
Maura berjalan kembali ke kamarnya. Langkahnya cepat, tapi napasnya tidak stabil. Begitu pintu kamarnya tertutup, ia langsung menarik napas panjang.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Dan ia tidak tahu lagi apakah ia siap untuk mendengarnya keluar dari mulut Karmen, atau dari mulutnya sendiri.
Setelah bersiap, mereka bertemu di depan kos. Karmen dan Alya sudah lebih dulu menunggu di dekat mobil. Maura menyusul beberapa menit kemudian.
Malam itu Maura mengenakan dress merah maroon sepanjang paha, dipadukan dengan jaket kulit hitam dan boots yang membingkai kakinya. Tas kecil menggantung di bahu. Rambutnya dicepol rapi dengan jepitan, ditambah hoop earrings dan kalung tipis yang jatuh di tengah dada.
Ia sendiri tak tau berdandan untuk siapa. Dion. Karmen. Atau hanya untuk membuat dirinya merasa lebih baik malam ini.
Suara hentakan boots-nya menggema di teras kos ketika ia turun melewati anak tangga terakhir. Karmen yang sedang bersandar di kap mobil langsung mengangkat wajah. Tangannya terlipat di dada, bahunya tegak, mata mengikuti setiap langkah Maura dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Sudut bibirnya naik sedikit.
Maura menghela napas pendek tanpa sadar. Otot bisep Karmen terlihat jelas ketika ia melipatkan tangan seperti itu. Maura menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama. Kepalanya sedikit menunduk sambil merapikan tas di bahu, seolah sedang sibuk.
"Cantik, Mor," ujar Karmen santai. Senyumnya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat napas Maura tercekat.
Pipi Maura memanas. Ia menunduk sambil tersenyum kecil. Saat ia mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan Alya yang berdiri di dekat pintu penumpang. Alya hanya memandang beberapa detik, sulit ditebak apa maksudnya, lalu menoleh ke arah lain.
Maura kembali ke Karmen dan tersenyum tipis. "Yuk," katanya pelan.
Karmen mendorong tubuhnya dari kap mobil dan membuka pintu depan. Alya masuk terlebih dahulu di kursi penumpang depan. Maura menyusul beberapa langkah di belakang.
Sesampainya di bar tempat band Dion manggung, hembusan AC langsung menerpa kulit mereka. Udara dinginnya tajam, membuat Maura merinding walau tubuhnya sudah dilapisi jaket kulit.
Dari luar sudah terdengar dentuman musik yang kencang. Lampu panggung bergerak cepat, menyapu area bar. Kerumunan di depan panggung menari, melompat, dan bernyanyi mengikuti vokalis.
Karmen mendekat pada Maura dan Alya. Ia sedikit membungkuk agar suaranya terdengar di tengah kebisingan. Napasnya terdorong oleh volume musik.
"Gue mau pesen minum! Kalian mau apa?" teriaknya sambil menunjuk ke arah bar.
Maura mendekatkan wajahnya ke arah Karmen, menutup sedikit sisi mulutnya dengan tangan agar suaranya tidak tenggelam oleh musik.
"Gin and tonic aja, Men!" katanya cukup keras.
Karmen mengangguk cepat, rambutnya ikut bergerak.
Ia beralih ke Alya. Alya sempat melirik Maura sebelum berbisik balik ke Karmen, "Gue ikut pesen sama lo, deh. Mau liat dulu."
"Okay," jawab Karmen.
Ia menatap Maura lagi, "Lo duluan aja, Mor! Nanti kita nyusul!"
Maura mengangguk. Tangannya menggenggam tali tas lebih erat. Ia menatap ke arah panggung sebentar, lalu masuk ke kerumunan. Maura mendorong pelan bahu seseorang untuk membuka jalan. Pikirannya terasa riuh di antara suara musik yang keras.
Musik sudah memenuhi seluruh ruangan. Suara bass mengguncang lantai dan kerumunan bergerak seperti gelombang besar. Di atas panggung, Dion duduk di balik drum, memukul snare dan cymbal dengan tenaga penuh. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, senyumnya muncul setiap kali ia menangkap energi crowd.
Di tengah memainkan drum, Dion sempat melihat Maura di kerumunan. Tatapannya tertahan beberapa detik, alisnya terangkat sambil tersenyum. Maura membalas dengan senyum kecil dan anggukan ringan.
Namun perhatian Maura tidak bertahan lama di panggung. Ia menoleh ke samping. Ke arah Karmen dan Alya.
Keduanya berdiri tidak jauh dari tempatnya, tapi terasa seperti berada di dunia lain. Tubuh mereka saling merapat. Lengan Karmen melingkari pinggang Alya, menariknya mendekat dengan pelukan yang terlihat santai seolah itu sudah terbiasa ia lakukan.
Alya mendekatkan kepala ke bahu Karmen, lalu tertawa kecil saat Karmen membisikkan sesuatu. Beberapa helai rambut Alya berkibar karena gerakan tubuh mereka yang mengikuti irama. Karmen menunduk sedikit, kepalanya bersandar di sisi kepala Alya. Tangan di pinggang itu sesekali bergerak, mengusap pelan sebelum kembali memeluk.
Maura berhenti bernapas sejenak. Dadanya terasa menegang, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Tenggorokannya panas dan kering padahal tangannya menggenggam gelas berisi minuman yang segar.
Ia mencoba mengalihkan pandangan.
Fokus ke panggung, Mor. Fokus ke lagu.
Ia mengangkat tangannya sedikit dan mulai bergerak mengikuti irama, pura-pura larut dalam suasana. Paha dan pinggulnya bergeser pelan, bukan karena menikmati musik, tapi agar tidak terlihat kaku.
Ia berpura-pura menoleh ke panggung lagi. Dion melihat ke arahnya sambil bermain, memberi senyum kecil sebelum memukul cymbal keras.
Maura tersenyum balik. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Tapi setiap detik di sudut penglihatannya, Karmen dan Alya masih berayun bersama.
Dan setiap kali bayangan itu tertangkap, dada Maura terasa semakin berat.
Ketika band selesai manggung dan lampu panggung meredup, Dion turun dari drum set sambil menyeka keringat di dahinya. Ia berjalan melewati beberapa penonton, lalu langsung menghampiri Maura.
"Hey! You made it!" serunya, napasnya masih berat setelah bermain, tapi nada suaranya riang.
Maura tersenyum. "Of course. Wouldn't have missed it."
Dion sempat melirik cepat ke arah Karmen, refleks, tapi Maura menangkapnya.
Maura segera menengok ke Karmen. "Oh, right—you remember Karmen."
Dion tertawa sambil mengangkat kedua alis. "How could I forget cewek yang nonjok muka gue sampe memar berminggu-minggu."
Karmen mengerucutkan bibir dan memberikan senyum yang datar. "Hmm," gumamnya, nada suaranya setipis kertas.
Maura buru-buru mengalihkan arah percakapan. Ia bergerak setengah langkah mendekat ke Alya.
"Oh, and, this is Alya. Temen SMA gue sama Karmen."
Dion mengulurkan tangan. "Nice to meet you. Gue Dion."
Alya menjabat tangannya sambil tersenyum ramah. "Nice to meet you too. Great show by the way."
Dion menyentuh dadanya dengan satu tangan sambil tersenyum. "Wah, thank you. And thank you juga udah dateng, ya." Ia menoleh ke mereka bertiga. "Kalo mau nambah minum atau apa, silakan ya. Drinks on me tonight."
Mereka mengangguk sambil tersenyum kecil.
Lalu Dion kembali menatap Karmen. "Eh, gue pinjem Maura dulu ya. Mau ngenalin ke temen-temen band."
Karmen yang sedang menyesap kaleng bir-nya mendongak. Pandangannya tajam, tidak bisa ia tahan. Ia menurunkan gelas, meneguk sisa minuman yang masih ada di mulutnya sebelum akhirnya berkata,
"Sure. Jangan macem-macem tapi ya." Tak ada canda dibalik suara itu.
Dion terkekeh kecil. "Galaknya masih sama aja, Men."
Karmen hanya menatapnya datar, bahkan senyumnya tak muncul.
Dion kembali fokus ke Maura. Ia meraih tangan Maura, menggenggamnya erat lalu menariknya pelan menuju sisi lain ruangan.
Maura membiarkan dirinya dituntun. Ia sempat menoleh ke belakang, ke arah Karmen dan Alya.
Karmen mengikuti gerakan itu dengan mata. Pandangannya jatuh tepat pada tangan Maura yang masih digenggam Dion. Rahangnya bergerak tipis, lalu ia memutar mata sebelum mengangkat gelasnya kembali.
Dentuman musik dari speaker kembali meriahkan ruangan. Lampu warna-warni berputar cepat, energi semakin meninggi seiring malam berjalan. Karmen dan Maura berada di dua sisi ruangan yang berseberangan.
Karmen duduk bersama Alya di bar. Badannya sedikit dicondongkan ke meja, satu siku bertumpu di permukaan kayu. Tangan satunya memegang gelas bir. Alya ada di sebelahnya, tubuh mereka berdekatan, bahu Alya hampir menyentuh lengan Karmen setiap kali Alya bergerak. Karmen terlihat mendengarkan cerita Alya, tapi matanya beberapa kali berpindah ke arah lorong.
Maura berdiri di sana bersama Dion. Punggungnya menyandar di dinding. Dion berdiri cukup dekat. Satu tangannya menumpu di dinding di samping kepala Maura. Jarak mereka rapat. Dion berbicara sambil mendekati Maura. Maura tertawa kecil. Kepalanya terangkat ke belakang karena dorongan tawa itu, rambutnya ikut bergeser. Setelah tawanya mereda, matanya bergerak ke satu arah. Mengarah ke bar, tepat pada Karmen.
Begitu melihat itu, Karmen langsung memalingkan wajah. Ia berusaha terlihat sibuk. Tangannya meraih tangan Alya, menggenggamnya erat sambil memberikan senyum manis. Ia menggerakan tubuh sedikit ke depan dan berbisik ke telinga Alya.
Alya tertawa, menunduk sebentar, lalu kembali menatap Karmen. Jarak di antara mereka menyempit. Alya bergeser sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman, lalu condong ke arah Karmen. Bibir mereka bertemu singkat. Karmen sempat tersentak kecil, matanya membesar sesaat, sebelum akhirnya terpejam.
Di lorong, Maura yang tadinya masih menanggapi Dion perlahan berhenti tersenyum. Tatapannya melenceng ke arah bar. Dadanya terasa berat. Alisnya turun, rahangnya mengeras. Satu tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia menarik napas panjang, tapi hembusannya terdengar patah.
Dion menyadari perubahan ekspresi itu.
"You okay?" tanyanya, suaranya terdengar ragu.
Di bar, Alya tertawa kecil, masih berdiri dekat dengan Karmen. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Karmen sejenak, Karmen tidak bergerak. Namun pandangannya tidak ke Alya. Matanya menembus kerumunan, melewati lampu-lampu, dan berhenti di Maura.
Dion hampir menoleh, mengikuti arah pandang Maura. Tapi Maura bergerak lebih dulu. Tangannya naik ke sisi wajah Dion, menariknya mendekat.
Tubuh Karmen langsung menegang. Bahunya mengeras. Napasnya terdengar berat, pendek.
Alya mendongak, memperhatikan wajah Karmen. Ia lalu mengikuti arah tatapan Karmen. Saat melihat Maura dan Dion, Alya hanya menghela napas pelan.
"Just forget about her, Men," ucapnya pelan sambil menatap Karmen kembali.
Karmen tidak menjawab. Pandangannya turun ke lantai sesaat, lalu naik lagi, kembali ke arah Maura. Senyum olokan di wajah Maura terangkat sedikit ketika tatapan mereka bertemu. Dion meletakkan tangannya di pinggang Maura, mendekatkan tubuh mereka. Maura membiarkannya. Namun matanya tetap terkunci ke Karmen, tanpa berkedip.
Karmen mengepalkan tangan di pangkuannya. Buku-buku jarinya memutih. Ia tak bisa lagi menahan diri.
Karmen berdiri dari kursinya, kursi itu bergeser keras ke belakang. Alya memanggil namanya, tetapi Karmen sudah berjalan cepat menembus kerumunan. Alya mengikutinya dari belakang.
Begitu sampai di lorong, tanpa ragu Karmen langsung menarik tubuh Dion menjauh dari Maura. Dion melotot, setengah marah, setengah bingung.
"Apa sih, Men?!" teriak Dion, suaranya hampir tenggelam oleh musik.
Karmen mendekat ke Maura, wajahnya tampak kesal. "Lo ngapain sih deket-deket lagi sama cowok gak jelas ini?!"
Maura langsung berdiri tegak. Nadanya tajam. "Terserah gue lah mau deket sama siapa. Kenapa lo yang sewot?"
"Karena kalau lo disakitin lagi sama dia, ujung-ujungnya gue yang bakal nemenin lo!" balas Karmen, teriakannya penuh emosi.
Dion maju, memasang badan. "Eh, lo gak usah ikut campur urusan Maura. Cuma karena lo temen deketnya, bukan berarti lo bisa ngurus hidupnya!"
"Lo gak usah banyak bacot, deh!" Karmen mendorong bahu Dion keras.
Alya menarik lengan Karmen dari belakang. "Men, udah, Men."
Dion membalas dorongan itu. "Jangan pikir karena lo cewek gue jadi gak berani sama lo, ya!"
Maura spontan menarik Dion menjauh. "Yon, apaan sih?!"
Karmen mengepalkan tangannya lagi. Napasnya putus-putus, dada naik turun. Tatapannya ke Dion tajam, tapi ketika menoleh ke Maura, ada sesuatu yang lain, campuran marah, sakit hati, dan kecewa yang tak bisa disembunyikan.
Ia menahan diri sekuat tenaga.
Tanpa bicara lagi, Karmen berbalik badan dan pergi. Langkahnya keras, bahunya tegang. Orang-orang menyingkir ketika ia lewat. Alya langsung mengejarnya sambil memanggil namanya.
Maura masih berdiri di lorong. Napasnya berat. Matanya mengikuti punggung Karmen yang semakin jauh. Ketika ia hendak melangkah, tatapannya bertemu dengan Alya yang sempat menoleh ke belakang. Mereka saling menatap. Keduanya terlihat kesal, tapi untuk alasan yang berbeda. Alya akhirnya berbalik lagi, fokus mengejar Karmen lebih dulu.
Maura bersiap menyusul, namun Dion menahan langkahnya.
"Mor, udah. Gak usah dikejar," ujar Dion. Tangannya menggenggam pergelangan Maura dengan kuat.
Maura menatapnya tajam. Wajahnya keras. Ia melepaskan genggaman itu dengan satu gerakan cepat dan tegas, membuat tangan Dion terlepas seketika.
"Gak usah ikut-ikutan," katanya singkat.
Lalu Maura langsung berjalan cepat keluar dari bar, tanpa memedulikan Dion yang memanggilnya dari belakang.
Mereka bertemu di area parkiran luar. Suara musik dari dalam gedung masih terdengar, tapi jauh lebih redup. Karmen berdiri di dekat mobilnya bersama Alya. Napasnya masih berat. Satu tangannya mengusap wajah, tangan lainnya di pinggang. Ia mondar-mandir tanpa arah. Alya hanya bersandar di kap mobil, memperhatikannya sambil menunggu ia sedikit tenang.
Pintu bar terbuka keras. Maura keluar dengan langkah cepat. Boots-nya menghentak aspal. Begitu mendekat, pandangannya langsung terkunci pada Karmen.
"Apa-apaan lo tadi?" Suara Maura naik.
Karmen menghentikan langkahnya. Wajahnya terangkat, alisnya menurun. "Apaan?"
"Ngajak Dion ribut di depan orang banyak." Maura maju selangkah. "Lo kenapa sih? What the hell is your problem, Men?"
Alya menoleh ke Karmen, menarik napas pelan. Karmen mengusap wajahnya sekali, frustasi.
"Ya gue gak suka aja ngeliat dia pegang-pegang lo gitu, Mor!" ucap Karmen. Suaranya pecah di ujung kalimat.
Maura mendekat lagi. Jarak mereka tinggal sedikit.
"Terus menurut lo dorong-dorongan kayak anak SMA gitu solusi?" katanya tajam. "Lo pikir gue seneng lo berantem buat gue? Lo bikin gue malu!"
Karmen membalas maju satu langkah.
"Gue cuma gak mau lo disakitin lagi!"
"Apa urusannya sama lo?" Maura membentak.
Pertanyaan itu membuat Karmen terdiam sejenak. Bahunya naik turun. Tangannya mengepal lagi. Ia menatap Maura, tatapan yang tidak ia sembunyikan lagi.
"Lo sendiri juga balik lagi ke hubungan lo yang gak jelas itu sama Alya," kata Maura, lalu melirik ke arah Alya.
"Ya tapi ini beda," Karmen mencoba masuk.
"Bedanya apa?" potong Maura. "Coba lo tanya Alya. Ada gak niat dia buat serius sama lo?"
Alya mengangkat alis. Tangannya terlipat di dada. "Kenapa jadi bawa-bawa gue sih?" katanya datar.
Maura berbalik sepenuhnya ke Alya, melangkah mendekat.
"Kan lo sendiri yang bilang," suara Maura lebih dingin sekarang. "Whichever one of us she chooses, she's gonna end up heartbroken. Lo sendiri yang ngaku kalo lo gak pernah niat serius sama dia."
Alya mengangkat alisnya. Tidak tersinggung, justru terlihat tenang. Ia menggeser berat badannya, masih bersandar di kap mobil.
"I was just being honest," jawabnya. "Dan Karmen tau itu." Pandangannya sempat ke Karmen. "Lagian lo juga sama aja. Gak usah sok paling sayang sama Karmen deh."
"Gue emang sayang sama Karmen!" suara Maura meninggi. Langkahnya maju tanpa sadar. "Jangan samain gue sama lo. We are not the same."
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Karmen langsung menoleh. "Lo bilang apa barusan?"
Maura tersadar. Rahangnya mengeras. Ia menelan ludah, lalu memalingkan pandangan ke aspal.
"Maksud gue," katanya cepat, suaranya ditahan. "Gue peduli sama lo. As a friend. Dari dulu."
Alya memperhatikan mereka berdua, hanya menatap, tanpa ikut campur. Pandangannya berpindah dari Maura ke Karmen, lalu berhenti.
Karmen menggeleng pelan. Wajahnya tegang. "That's not what you meant."
Maura menatapnya lagi. Kali ini lebih lama.
"Apa yang lo maksud sayang?" tanya Karmen, suaranya lebih rendah.
Maura menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. Kepalanya menggeleng kecil. Pandangannya jatuh ke jalanan di antara mereka.
"Nothing," katanya. "Just forget it."
Karmen langsung melangkah setengah langkah mendekat. "Gak bisa gitu dong Mor—"
"Udah deh," potong Maura, mengangkat suaranya lagi. Wajahnya mengeras. "Jangan bikin seolah-olah gue yang salah. Dion juga gak ngapa-ngapain. Lo yang bikin keributan malem ini."
Karmen tertawa pendek, tanpa senyum. "Oh, so you're defending him now?"
"Iya," jawab Maura cepat. "Karena dia gak layak diteriakin dan didorong cuma karena lo gak bisa ngatur emosi lo."
"Well, that's because—"
"Karena apa?" potong Maura lagi. "Karena lo cemburu? Terus lo pikir dengan ngajak dia berantem gue bakal tergila-gila sama lo?"
Karmen diam. Napasnya berat. Dadanya naik turun. Ia mengusap wajahnya, menoleh ke Alya, lalu kembali ke Maura. Wajahnya terlihat lelah.
"You know what," katanya akhirnya. "I can't do this tonight."
Ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celana dan menyodorkannya ke Alya.
"Kalian pulang aja duluan," lanjutnya. "Gue butuh waktu sendiri."
Alya menerima kunci itu tanpa sadar.
"Men—"
Karmen menggeleng pelan, melangkah mundur. "Please. Just let me be alone."
Ia berbalik dan berjalan menjauh dari parkiran. Langkahnya cepat, tidak berlari. Punggungnya tetap tegak, tapi bahunya turun.
Maura menatap punggung itu sampai menghilang dalam gelap. Alya berdiri di sampingnya, kunci mobil masih tergenggam longgar.
Mereka saling menatap. Sama-sama diam. Sama-sama bingung.
Perjalanan pulang di dalam mobil terasa jauh lebih lama dari seharusnya. Padahal jarak antara bar dan kos tidak sampai sepuluh menit. Alya menyetir dengan fokus, pandangannya lurus ke depan. Maura duduk di kursi penumpang, wajahnya menghadap jendela. Lampu jalan lewat satu per satu di kaca. Udara di dalam mobil terasa berat. Tidak ada yang berbicara. Tarikan napas mereka terdengar jelas.
Alya akhirnya memecah keheningan.
"So, what exactly did you mean earlier?" Suaranya pelan. "Pas lo bilang lo sayang sama Karmen."
Maura menoleh. Tatapan matanya tidak menetap. Ia membuka mulut, menutupnya lagi.
"Kan gue bilang sama lo, Mor," lanjut Alya tanpa menoleh. "Kalo lo emang ada perasaan buat dia, gue bakal mundur."
Maura menelan ludah. Dadanya naik turun pelan sebelum ia bicara.
"I don't know," katanya lirih. "I've never had this feeling before."
Alya melirik sekilas ke arahnya. Alisnya terangkat sedikit. "With a girl?"
Maura tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh ke pangkuan. Jari-jarinya saling mengait, lalu terlepas lagi.
"With anyone," ucapnya pelan.
Alya memilih pulang keesokan paginya. Karmen mengantarnya sampai depan kos. Mereka berpelukan sebentar sebelum Alya masuk ke dalam taksi online yang menunggu di depan gerbang.
Maura memperhatikan mereka dari balik jendela kamarnya. Ia menarik tirai sedikit, cukup untuk memberi celah pandang. Alya sempat mendongak, matanya berhenti sesaat ke arah jendela itu, tapi tidak berkata apapun. Maura langsung menutup tirai dan menjauh dari jendela.
Setelah Alya pergi, Karmen berjalan masuk kembali ke dalam kos. Langkahnya berat, kepalanya penuh. Ada terlalu banyak hal yang belum ia selesaikan dengan Maura. Percakapan yang ingin ia tunda, tapi ia tau tidak bisa dihindari.
Karmen menaiki tangga satu per satu. Ketika sampai di lantai kamar Maura, langkahnya melambat. Pintu kamar Maura terlihat dari sana, hanya beberapa meter dari tangga. Karmen menatap pintu itu, lalu menoleh ke arah tangga lagi. Ia berdiri diam cukup lama, napasnya tertahan.
Akhirnya kakinya bergerak ke arah pintu kamar Maura. Langkahnya pelan. Jantungnya berdetak kencang. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk.
Pintu terbuka. Maura berdiri di hadapannya, masih mengenakan piyama. Rambut gelombangnya sedikit berantakan.
"Kenapa?" suara Maura datar.
"I need to talk to you."
Maura diam sebentar, lalu mundur setengah langkah. Karmen masuk. Pintu ditutup. Suaranya sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
Karmen langsung berjalan mondar-mandir. Tangannya naik ke rambut, mengusap ke belakang, lalu turun lagi.
"Lo tau gak sih," katanya cepat. "Semalem lo bikin gue keliatan kayak orang gila. Lo bela Dion. Seakan-akan gue yang overreacting."
Maura menyilangkan tangan di dada. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran tangan sofa, satu kakinya sedikit ditekuk.
"Kan emang lo berlebihan," balasnya. "Segala bikin keributan. Gak ada yang nyuruh lo buat pasang badan."
"Oh iya?" Karmen berhenti tepat di depannya. "Jadi gue harusnya ngebiarin lo mesra-mesraan, dipegang, dicium sama cowok brengsek yang udah selingkuhin lo?"
"Eh, gue gak minta lo buat ngurusin hidup gue, ya," Maura membalas cepat, ia berdiri tegak medekati Karmen.
Karmen tertawa pendek. Tidak ada senyum di wajahnya.
"Lucu. Tapi setiap kali lo kenapa-kenapa, yang lo cari tetep gue." Karmen mulai berjalan mengelilingi ruangan lagi.
Maura menghela napas. Kepalanya sedikit mendongak.
"Salah sendiri," katanya. "Ngapain balik terus nemenin gue?"
Karmen berhenti seketika. Ia menatap Maura lama. Rahangnya mengeras.
"Karena gue peduli sama lo, Mor!" katanya, nadanya naik tanpa ia sadari. "More than any of those jerks that you've dated." Tangan Karmen terangkat, menunjuk ke pintu, seolah menunjuk ke laki-laki yang pernah Maura dekati.
Maura membeku. Dadanya terasa sesak. Ia diam sejenak, tak langsung bicara.
"Really?" akhirnya ia bertanya, alisnya terangkat sebelah. "Kalo gitu kenapa lo masih milih Alya?"
Karmen menoleh. Ekspresinya berubah.
Maura menurunkan tangannya dari dada, lalu menaruhnya di pinggang.
"Lo tau dia gak serius. Lo tau dia cuma main-main. Tapi lo tetep di situ."
Karmen mengusap wajahnya kasar. Napasnya berat.
"Because at least I have a chance with her."
Maura mengangkat alis sedikit.
"You don't even like girls," lanjut Karmen, suaranya lebih dingin. "Why would I waste my energy trying anything with you?"
Hening jatuh di kamar itu. Suara detakan jam dinding terdengar nyaring di telinga mereka.
Maura menatapnya cukup lama. Tidak marah. Tidak tersinggung. Hanya heran, alisnya turun, kepalanya miring.
"You really don't get it, do you?"
Karmen mengernyit. "Apa?"
Maura melangkah mendekat satu langkah. Suaranya meninggi.
"I don't even like strawberry matcha that much, Men."
Karmen berkedip. "Terus? Kenapa lo selalu minta itu dari gue?"
Maura menghembuskan napas panjang. Bahunya turun. Suaranya melembut.
"Because it was never about the drink," katanya. "Itu alesan gue doang."
Ia maju satu langkah lagi.
"Biar lo mampir. Biar lo duduk di sini sama gue. Nonton TV berjam-jam. Skincare-an di kamar gue. Ngobrol gak jelas sampe tengah malem."
Tatapan Maura tidak goyah.
"Do you really think I did all that because of some… lame boys?"
Karmen tidak langsung menjawab. Napasnya berat. Matanya terpaku ke Maura, seolah potongan-potongan itu akhirnya menyatu.
Maura bicara lagi, kali ini lebih pelan.
"Gue masih gak ngerti sama perasaan yang gue rasain ke lo." Maura mengangkat tangannya ke dada, telapak jari menekan ringan atasan piyamanya, mencoba menenangkan sesuatu yang berdetak terlalu cepat di dalam.
"Setiap kali lo ngehibur gue, setiap kali lo senyum… my heart just feels full."
Ia berhenti bicara. Menelan ludah. Napasnya terdengar lebih pendek dari sebelumnya, suaranya mereda.
"And I've never felt that before. Not with any of those boys."
Tangannya perlahan turun kembali. Jarinya masih sedikit gemetar. Maura menatap Karmen dengan tatapan lembut.
"Tapi lo sahabat gue, Men. I don't wanna make some stupid decisions and end up hurting you."
Karmen berdiri tegak, kedua tangannya kini di pinggang. Ia mengatur napas sebelum bicara.
"So what do we do now?" tanyanya. "Pura-pura gak tau? Pura-pura gak ada apa-apa di antara kita?" Ia menggeleng pelan.
"Cause I don't think I can do that, Mor," lanjutnya dengan suara yang lebih rendah. "Gue udah coba sama Alya, dan gue gak mau ngulang itu sama lo."
Mata Maura mulai berkaca-kaca. Ia berkedip cepat, berusaha menahan, tapi rahangnya sudah terlanjur mengeras. Jarinya mencengkeram kain celana di dekat pinggulnya.
"If you don't wanna be with me, gapapa." Karmen mengusap wajahnya sekali, telapak tangannya berhenti di rahang sebelum turun kembali. "Tapi gue butuh waktu buat ngilangin lo dari pikiran gue."
Kalimat itu keluar lebih pelan. Suaranya pecah tipis di ujungnya.
"I'll let you think about it." Ia mengangkat dagunya sedikit, berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski matanya memerah.
"Just let me know when you've made up your mind."
Karmen memutar badan, berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu. Tangannya sudah berada di gagang, jemarinya sempat mengencang sejenak.
"Men."
Panggilan pelan dari Maura membuat bahu Karmen kaku. Ia menoleh perlahan. Maura berjalan mendekatinya. Mereka saling menatap beberapa detik. Tidak ada yang bicara.
Maura melangkah lebih dekat lagi. Kini jarak mereka tinggal sejengkal. Tangan Maura terangkat dan menyentuh tengkuk Karmen. Jemarinya menyelip di antara rambut Karmen, menahan.
Tangan satunya mendarat di dada Karmen. Dorongan kecil membuat punggung Karmen menyentuh daun pintu dengan bunyi pelan.
Mata Karmen turun ke wajah Maura. Ia membuka mulut hendak bicara, tapi Maura sudah berjinjit. Wajah mereka begitu dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Maura menutup mata, menarik Karmen perlahan.
Bibir mereka bertemu.
Pelan, lembut, tanpa tergesa. Tangan Karmen bergerak, ragu di pinggang Maura, sebelum akhirnya menggenggam dan menariknya lebih dekat.
Mereka sempat terlepas sesaat, mengatur napas yang masih berantakan. Maura tidak mundur. Tangannya tetap di tengkuk Karmen. Ibu jarinya bergerak pelan di sana.
Bibir mereka bertaut lagi. Lebih lama. Lebih tenang.
Telapak tangan Maura masih menempel di dada Karmen. Detaknya terasa jelas. Sudut bibir Maura terangkat kecil tanpa ia sadari.
Saat mereka berpisah, jarak di antara mereka tak berubah. Dahi mereka bersentuhan. Mata terbuka perlahan. Tatapan mereka bertemu. Ada senyum yang muncul lebih dulu, lalu tawa kecil yang menyusul.
"So you weren't lying about being a good kisser," ucap Karmen pelan.
Maura mendengus, memutar matanya. Tangannya turun dari tengkuk Karmen, lalu menoyor pipinya halus.
"Bacot."
Senyum itu merekah di wajah Maura, tanpa bisa ditahan. Bibir bawahnya digigit sebentar, lalu ia tertawa kecil lagi. Karmen ikut tertawa lepas.
Maura melingkarkan kedua tangannya ke leher Karmen, menariknya masuk ke pelukan. Karmen membalas, lengannya mengitari pinggang Maura, menahan tubuh itu lebih dekat. Pegangannya sempat mengencang, lalu perlahan melonggar.
Maura menyandarkan kepalanya di bahu Karmen. Karmen menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambut Maura. Keduanya saling tersenyum lega.
Di dalam pelukan itu, tidak ada lagi ketegangan yang perlu ditahan, ataupun jarak yang harus dijaga.
Beban yang lama tertahan akhirnya lepas. Ada gemuruh kecil di dada, cepat dan hangat, disusul perasaan geli yang menyebar ke perut. Seperti kembang api yang baru meledak, lalu berubah menjadi kepakan yang tak bisa diam.
