Work Text:
Bagi Ivan, Luka adalah pusat orbitnya.
Di bawah langit senja yang masih menyisakan sisa-sisa hujan, Ivan melangkah menyusuri trotoar sunyi dengan kaki yang terasa berat, seumpama memikul pemberat. Dingin menusuk tulang, menembus mantelnya yang sudah lembab serta bahunya yang sudah terkulai. Aroma manis petrichor──wangi tanah sehabis diguyur hujan──menyebar ke rongga penciuman, memberi jeda singkat pada lelah yang ia jinjing. Rintik terakhir jatuh kemudian, dari getaran dedaunan, memercik di atas genangan air yang kelak ia pijak.
Bersamaan kepala penat dan sendi-sendi yang linu, pupil merah Ivan bergulir dari layar ponsel──yang ia payungi memakai telapak tangan──ke nama-nama bangunan berderet; Resto Daun Hijau, Kedai Embun Rasa, Chill & Spill, Minum Gula-Gula, dan, yang terakhir, Kafe Aurelia.
Langkahnya terhenti di hadapan dinding kafe yang berwarna putih kusam, tepat di samping pintu kaca. Ia pandangi bangunan mungil di sudut jalan itu sambil menarik napas panjang, menguap sebagian besar dari penatnya, lantas mengusap kening. Ini ialah kali pertama ia singgah, padahal Sua──tolannya──sudah lama bekerja di sana.
Tempatnya jelita, sesuai pemaparan; mudah ditemukan, teduh bahkan hangat walau ada di bawah hujan. Terlalu cantik, sampai-sampai lonjakan keraguan lekas berlabuh di dalam hati tatkala ia menunduk, menatap sepatu kulitnya yang kotor, penuh noda lumpur dan percikan air.
Pantas kah, dengan semua noda serta lelah ini, ia masuk ke dalam?
Rasanya, Ivan ingin berbalik, pulang, mandi, dan tidur. Ia lelah dari lingkungan kerja yang penuh racun, atasan yang memecut, dan rekan-rekan yang hobi menusuk dari belakang. Kata-kata yang ingin sekali ia teriakkan selama ini, selalu saja terkunci di tenggorokan, menjadi serupa benjolan sesak. Ia merasa kurang pantas membawa beban mental dan fisik ke tempat seelok Aurelia.
Sungguh, tak pantas.
Diangkatnya kepala, mengintip melalui pintu kaca. Ia hendak mencari Sua ‘tuk batalkan janji temu. Namun, yang menarik perhatiannya justru nyala lampu gantung berwarna gading temaram, tak ubahnya kunang-kunang raksasa, meja-meja kayu bundar yang berjajar rapi, bak lengan yang siap sedia mendekap, lalu, kursi-kursi dengan bantalan empuk, namun tak luput dari memberi jaminan kenyamanan untuk yang hadir.
Tak heran, mengapa Sua bersikeras meminta Ivan berkunjung. Hanya dengan menatap saja, ia sudah tergoda. Tambahlah tergoda tatkala aroma kopi berpadu kayu manis menyelinap ke hidung setiap kali pintu kaca didorong terbuka──memberinya janji kehangatan dan keakraban, meyakinkannya pula bahwa ini ialah tempat yang tepat untuk mendepak penat.
Segera Ivan menepuk-nepuk mantelnya, menyeka sisa bulir rintik rinai, sebelum ia mendorong pintu sampai terbuka. Bel kecil kafe lantas berdenting nyaring, serentak dengan kakinya yang melangkah masuk.
“Ivan!”
Suara karib Sua lekas menyambut eksistensinya. Puan, dengan apron hitam di balik counter, tersenyum. Ivan membalas senyum itu, walau raut wajahnya masih memberi unjuk sisa lelah.
“Capek banget,” keluhnya, sambil duduk di kursi tinggi, dekat dengan counter, “hari ini sama parahnya, tapi aku males cerita.”
“Parah banget?” Sua lekas bertanya.
Ivan mengangguk, lalu menopang dagu dengan satu tangan, “atasan ngasih deadline lima menit sebelum pulang, padahal baru kasih pagi ini yang seharusnya kemarin. Lupa katanya.”
“Terus, selesai tugasnya?”
“Engga. Engga bisa. Emang harus dua hari pengerjaan. Mau dikebutin pun engga akan bisa, apalagi yang kerja aku doang.”
“Marah dong atasan kamu?”
Ivan kembali mengangguk, melepas dengus yang buat Sua meraih cangkir── “kata aku juga apa, resign aja. Banyak kok tempat kerja di luar sana yang lebih pantes buat kamu,” ──sambil berujar sekaligus menuang espresso, menambahkan susu berbusa lembut, dan dengan telaten membuat pola daun di atasnya, “ini, minum. Gratis, aku traktir.”
Permata Ivan langsung terkunci, menatap cangkir yang diletakkan puan di hadapannya. Uap panas perlahan-lahan naik, mengeluarkan aroma yang mutlak buat lega, mutlak pula menelan riuh nalarnya, “makasih, Kak.” Bertuturlah ia.
“Sama-sama,” segera Sua membalas, “tapi, Van, kamu udah mulai nyari yang baru, kan?” dan melanjutkan dengan tanya.
Ivan menganggukkan kepala, lalu terdiam──teringat sudah puluhan lamaran, tetapi nol hasil. Ia tak yakin bisa bekerja di tempat baru dalam waktu dekat, apalagi tempat yang lebih pantas. Ah, memikirkan itu buat lidah membisu, tenggorokan pun kelu.
Digulirnya pandang ke sekeliling. Hendaklah ia menyesap kopinya yang dirasa sudah dingin. Namun, mendadak desiran asing menjalar, membuat ototnya tegang. Sesuatu telah memancing perhatian, dari ujung mata, seseorang melintas.
Empu langkah tegap dan tenang. Dengan rahang tegas, hidung lurus, permata kuning secerah rumah madu, ranum merah muda, dibingkai oleh surai ikal pirang. Cantik. Belum lagi jari-jemarinya; lentik memeluk papan tulis dengan setumpuk kertas. Potretnya sungguh adiwarna, berseri di bawah pendar lampu.
Sungguh … berseri.
Akan tetapi, pantas kah ia, yang sedang penat ini, mendadak jatuh cinta?
Jantung Ivan berdenyut kencang, padahal belum ada kafein yang masuk ke dalam aliran darah. Ia lantas kunci atensinya pada lelaki yang berbalut kemeja renda putih itu. Dan, seolah sang tuan tahu, dirinya sedang diperhatikan sebegitu lekatnya, ia kemudian meninggikan pandangan, dari kertas-kertas di tangan ke Ivan.
Karenanya, tatapan mereka bersua.
Waktu jadi seakan membeku. Tak ada suara, tak ada aroma, tak ada apa-apa selain dia. Bersamaan dengan ruang yang membatu, tubuh Ivan terpaku, napasnya tertahan. Cara lelaki cantik itu melihatnya kembali, bukan dengan keramahan, melainkan dengan rupa seperti seseorang yang membutuhkan kepastian; melihat sungguh-sungguh ke dalam Ivan.
Namun, tak lama.
Lelaki berhulu pirang itu mengalihkan pandang setelah mendapat jawaban, dan lalu melanjutkan langkah. Ia menghilang di balik pintu kayu, dekat dengan pintu dapur. Pada detik itu, buru-buru Ivan menunduk, pipinya memanas tak karuan.
“Bos aku itu, Van.”
“Bos … ?” Ivan terbata, permata membulat lebar.
“Luka,” jawab Sua ringan, “pemilik kafe ini. Kelihatan galak, ya?”
‘Mungkin. Entah.’ Batin Ivan yang menutur jawaban.
Ia yakin, tak ada kata yang tepat untuk membentangkan tatapan mereka tadi. Tak tahu mana pula yang lebih akurat, pun Ivan enggan memikirkan penilaian sementara atas lelaki itu, sebab──
Luka; nama itu terlanjur melekat. Terlalu lekat hingga ia dapat mendengar namanya lebih jelas dari musik yang mengalun.
“Beruntung kamu bisa lihat dia. Sibuk banget bos tuh, jarang kelihatan.”
‘Beruntung, ya.’
Tentulah Ivan merasa beruntung; beruntung ia tak jadi pulang, beruntung ia masuk ke dalam, beruntung ia duduk di sini, beruntung sekali.
Keberuntungan yang membuat Ivan memutuskan; Luka akan menjadi pusat orbitnya mulai sekarang.
Masa depannya sudah terlihat di depan mata.
Hari merangkak jauh ke dalam larut malam. Kantor tempat Ivan bekerja──sebuah maktab yang ia tahu ialah racun──kian senyap, ditelan kebisuan yang dingin. Angka delapan pada jam dinding bukan lagi sekadar pananda waktu, melainkan denyut tenat yang menyiksa, serta kedut halus di pelupuk akibat kerja melampaui batas.
Ivan tahu betul, atasannya gemar memecut karyawan dengan janji kosong, menuntut dedikasi melewati nalar normal. Imbalannya? Hanya ‘pengalaman’. Muak? Amat sangat. Malam baginya terasa seperti kemarau batin, kering dan tanpa bintang, sementara siang membeku dalam rutinitas. Ivan harus bertahan, menampung semua kesal yang hampir buat rongga dada meledak.
Lelah.
Begitu lelah hingga jiwanya terasa remuk.
Kalau saja ada tempat kerja lain.
Ding.
Seketika, nada dering lembut berbunyi di atas meja. Ivan refleks memejamkan mata, memanjatkan doa hening──berharap bukan atasan yang menghubunginya. Ia lekas buka kunci ponselnya, dan melihat nama dari pengirim pesan;
Kak Sua.
08.05 P.M
‘Ivan, kafe tempat aku kerja buka lowongan! Kamu mau coba apply nggak?’
Membelalaklah mata Ivan, isi pesan itu seolah ia diizinkan bertemu berlian.
Wajah Luka, tanpa ampun, segera menginvasi setiap sudut otak. Begitu besar kekuatan pesan Sua, seakan menuntun ia dari jurang kekecewaan menuju landasan yang stabil, memicu suasana hati ria yang berkebalikan drastis dari jenuh sedetik lalu.
Nada pesan puan, ia baca dengan sukacita, sebuah gambaran mental yang nyata, ibarat rasa syukur tulus karena diizinkan mendapat kabar baik di tengah mumetnya isi kepala. Ini bukan mimpi; ini semua nyata. Keseharian Ivan masih bisa diperbaiki, bahkan mungkin, diperelok.
Dengan pupil berbinar, tanpa mengetik balasan, Ivan langsung menghubungi Sua. Begitu dering tersambung, ia segera memapar tanya dengan menggebu-gebu, suaranya tercekat oleh kegembiraan tak tertahan.
“KAK, SERIUS?”
Terdengar deham renyah di seberang, diikuti Sua menimpali, “sumpah ya, tiba-tiba banget nelpon, untung aja kafe lagi sepi.” Mendesah puan, memberi jeda panjang yang hangat. “Serius, lowongan barista. Kalau kamu mau, nanti aku bisa kasih rekomendasi ke bos. Kamu kan juga suka kopi, suka ngobrol, suka genit! Cocoklah~”
Dada Ivan seolah menjerit saat mendengar penawaran itu. Pacu jantungnya membuat hati meledak dari semangat baru yang asing, namun sudah berani merayap menguasai benak.
“Mau, kak. Mau banget! Aku langsung resign aja apa ya sekarang?”
“Nggak mau nunggu pas nanti udah fix diterima? Biasanya kan kamu mikirnya gitu, nunggu diterima dulu baru resign, takut kalau langsung resign, eh nggak diterima, kamu jobless.”
Lazimnya, iya. Ivan selalu membutuhkan kepastian sebelum berani mengambil risiko. Namun, risiko yang sedang dibicarakan ini adalah kunci menuju tempat ia bisa bertemu dengan pusat orbitnya. Takdir sudah memberi unjuk sasana yang sempurna; jika ia tidak berani borong risiko sekarang, semua akan sia-sia.
“Kalau misal nggak diterima, ya aku perjuangin sampai diterima. Selama lowongan kosong, belum ada yang ngisi. Lagian kan ditambah kamu ngasih rekomendasi kak, pasti bisa lah.” Jawab Ivan, suaranya bergetar karena bahagia tak terkira, tetapi mantap, penuh keyakinan. “Aku kirim CV-nya sekarang, ya?”
“Sebentar. Kamu isi formulir dulu. Aku kirim lewat email, coba check,” timpal Sua.
Ivan lekas memeriksa kotak pesannya di komputer jinjing yang masih terbuka.
“Nanti habis kamu isi, kirim sekaligus sama CV-nya ke aku. Baru deh habis itu aku kirim ke bos.”
“Oke. Makasih ya, kak.”
“Sama-sama. Aku tutup dulu ya, Van. Ada pelanggan soalnya. Kabarin aja nanti.” Tak lagi menunggu paparan, puan lekas memutus sambungan. Ivan meletakkan kembali ponsel, bergegas mengisi formulir, dan serta-merta memperbaiki daftar riwayat hidup.
Jarum jam tak terasa bergerak cepat. Hari menjadi semakin gelap, namun pelupuk mata Ivan tak lagi berkedut, kepalanya tak lagi berdenyut. Ia justru merasa seperti kembali hidup.
Begitu usai, setelah ia kirim formulir beserta CV-nya pada Sua, ia bergegas pulang. Tak ada lagi minat atau niat meneruskan tugas kantornya yang keterlaluan, sebab keputusannya sudah bulat; besok, ia akan berhenti dari tempat laknat itu. Ia wajib berhenti dari sumber segala penatnya.
Tatkala Ivan keluar dari gedung kantor, pupil merahnya lekas bersua dengan wujud bulan yang sudah mengemuka. Cahaya pucatnya menyambut sukma saat ia melangkah, memijak trotoar yang masih berkilau basah dari sisa gerimis senja tadi. Ia susuri pijar cahaya lampu ruko yang memantulkan aneka ragam warna di atas jalanan, sebelum berdiri sebentar di bawah kanopi halte bus.
Di sana, ia mulai mendambakan wajah Luka, membiarkan debaran dalam dadanya berpacu liar.
Ah, Ivan ingin melihatnya.
Ivan ingin dapat memperhatikannya setiap hari.
Ivan ingin semakin dekat.
Begitu ingin, sangat ingin—ingin, ingin, ingin.
Ivan ingin Luka.
Ia tutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangan. Pelupuk mata terpejam guna menenangkan hati──menenangkan detak jantung yang setiap detik berlalu, semakin menjadi-jadi. Tiada keraguan sekarang, tak ada lagi hal yang mesti ditimbang dua tiga kali.
Tidak ada, sebab masa depannya sudah mulai terlihat di depan mata.
Tepat pada jam makan siang di hari berikutnya, Ivan mengambil langkah berani; duduk di ruangan atasan, di hadapan meja yang penuh berkas, menanti surat pengunduran diri──yang ditulis buru-buru semalam──selesai dibaca.
“Dimana-mana, kamu selesaikan dulu semua tanggung jawab kamu. Keluar tanpa menyelesaikan itu nggak sopan. Memang ada tempat kerja lain yang mau nerima sikap kamu ini?” amarah atasan memecah sunyi.
Bagi Ivan, yang hidupnya acap kali disibukkan oleh pekerjaan, sejak bangun hingga kembali tidur, amarah atasan hari ini tak lagi terasa menusuk. “Ada kok,” jawab Ivan tenang, sebuah jawaban yang terasa begitu manis diucap.
Suara kolega di sekitar mulai sayup-sayup terdengar, sibuk membicarakan dan berteori tentang Ivan. Biarlah. Bising mereka kini tak lebih dari dengungan lebah yang jauh.
“Gak akan bertahan lama juga dengan sikap kamu begitu,” sanggah atasan, membuat Ivan mengatup rahang, tahu perdebatan tak akan ada habisnya. “Ya sudah, gih, keluar.”
“Uang saku saya yang bulan kemarin bagaimana? Hari ini kan cair.”
“Nanti dikirim ke rekening kamu.” Dingin ia berucap. Ivan tidak peduli. Garis bibirnya mengulas senyum puas sebelum ia berdiri dan berpamitan. Ah, sungguh lega rasanya memutus tali racun yang membuat hidupnya melarat.
Ivan lantas menutup siang itu dengan kembali ke Kafe Aurelia. Ia ditemani gerimis dan trotoar yang menyisakan jejak basah, disanding pula dengan dedaunan yang gemetar dari hembusan rinai. Kali ini, ia tak sambil menjinjing lelah atau penat. Alih-alih, ia membawa sekepal vitalitas baru.
Desahan napas panjang lolos dari lisan, mengemuka lega. Dengan es jeruk dingin dan gawai yang menunjukkan bukti uang sakunya sudah masuk, ia duduk leluasa di dekat jendela, merasa teramat plong. Ketertarikan yang tenang sekaligus tak sabar mengenai kabar dari Sua, ia nanti-nanti.
Ia menyesap minumannya, menyimbahi tenggorokan dengan asam manis jeruk, lantas perlahan menggulir permata, mengamati isi dalam kafe dengan harapan bisa melihat Luka.
“Ivan!”
Kendati demikian, Sua yang datang. Usai shift-nya, puan menghampiri Ivan dengan gelas es jeruk yang sama. Ia duduk di hadapan Ivan, menyilang satu kaki, dan menunjukkan layar ponselnya pada Ivan.
“Aku udah email bos, nih,” kata Sua, serentak memberikan bukti visual, “terus tadi pagi juga aku udah bilang buat check email soal rekomendasi karyawan.” Lanjutnya, diakhiri meletakkan ponsel dan menyesap minum.
Bersamaan dengan alternasi musik dalam kafe, Ivan kembali menggerakkan netranya. Dari yang awalnya asal taruh perhatian, selayang pandang ia jadi menatap pintu kayu yang pernah Luka masuki beberapa hari lalu.
“Itu gudang, kak?” tanya Ivan seraya menunjuk.
Sua menoleh lekas menggelengkan kepala. “Bukan, itu pintu ke ruko lain. Tapi ngarah ke gudang sih. Di sini gudangnya kepisah sama kafe, Van.”
“Kepisah?”
Sua mengangguk. “Iya, ruangan bos juga ada di sana. Katanya biar gampang kalau mau periksa bahan-bahan. Sama … biar kami yang kerja di sini lebih leluasa juga. Ruang bos yang di sini dijadikan tempat istirahat. Ada kasur, TV, PS, dan lain-lain. Mizi sama Till udah paling seneng ke sana kalau nunggu shift atau libur.”
Sua mengarahkan jari telunjuknya, memberi unjuk pintu bertuliskan ‘Khusus Karyawan Kafe’ tak jauh dari pintu kayu, “di situ tuh ruangannya.”
“Kafe gini aja ada tempat istirahat buat karyawan. Sementara tempat kerja lama aku … boro-boro. Ada mesin kopi aja udah syukur.”
“Mantan atasan kamu tolol soalnya. Terus sisanya ngikutin, kecuali kamu sama orang-orang yang resign— eh!” Sua mendadak membelalak, menatap Ivan dengan roman butuh jawaban, “Kamu jadikah resign langsung?”
“Jadi,” hela napas terhantar seiring memapar jawaban. Ivan lekas topang dagu sebelum menyesap kembali air jeruknya. “Aku resign tadi sebelum ke sini, udah approve juga.”
Mengerjap pelupuk mata Sua, menatap ekspresi Ivan yang terhitung tak biasa; akhirnya tampak lega, senang pula.
“Tapi, uang saku bulan kemarin tetap ada, kan?”
“Ada kok. Ini udah dikirim.”
Sua tersenyum, ikut serta merayakan keberhasilan Ivan. “Syukurlah. Kalau gitu tinggal tunggu aja kabar dari bos Luka. Semoga lancar ya, Van. Gak ada drama-drama.”
“Mhm, makasih ya, kak.” Berucaplah Ivan, lantas menghabiskan minumnya. “Aku pulang dulu deh. Nanti kabarnya bakal masuk ke email aku, kan? Apa lewat kamu dulu?”
“Langsung ke kamu. Sering-sering check aja, kadang suka masuk ke spam juga.”
“Oke,” Ivan berdiri. “Thank you sekali lagi, kak. Salam buat kak Mizi.”
“Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan, Van.”
Bersamaan dengan kepala memanggut, Ivan berjalan ke arah pintu. Ia sempatkan diri menoleh, masih dengan harapan dapat melihat Luka setidaknya sesaat──entah sekadar lewat, atau keluar dari pintu kayu.
Namun sayang, detik berlalu, harapannya tetap tak terpenuhi. Tetapi tak apa──iya, tidak apa-apa, sebab masa depannya sudah ada di depan mata.
Bagi Luka, keras kepala Ivan patut dikagumi.
Saat pendar matahari senja telah lama turun, udara malam yang beraroma rinai datang bak selimut tipis di bawah kabut embun. Di dalam kafe, Luka duduk di kursi meja kasir, menikmati sunyi yang baru saja ditinggalkan riuhnya. Sisa wewangian kopi ia sesap; aroma samar manis karamel serta pahit espresso yang buat tenang.
Sempat ia melirik waktu yang sudah memberi unjuk pukul sepuluh malam. Jarum jam bergerak lambat, seakan ikut menuai lega yang Luka rasa usai bekerja seharian. Pintu depan kafe sudah terkunci rapat, hampir semua lampu telah ia padamkan, menyisakan hanya satu penerangan, di meja kasir; sebuah lampu hias kecil yang cahayanya memantul di atas permukaan kayu dengan warna gading hangat.
Lengang menjadi payung yang menaungi sekitar, sebuah kontras yang mendamaikan dari hiruk pikuk siang hingga ke sore tadi. Di hadapan Luka, layar komputer jinjing menyala, menampilkan tumpukan email yang berisi lamaran kerja; entah itu CV berseri, pengalaman bertahun-tahun, atau janji-janji klise yang belum sempat ia saring tuntas. Kendati demikian, di antara semua formalitas itu, netranya tertambat pada satu pesan yang memang hadir untuk mencuri perhatian.
Email dari Sua.
Subjeknya: Rekomendasi Karyawan.
Luka menarik kursinya lebih dekat. Jari telunjuknya menggantung di atas touchpad. Ia tunda satu klik sederhana, membiarkan jeda singkat singgah seolah ingin mengulur rasa penasaran, atau sekadar memastikan dirinya siap menerima jawaban atas prasangka yang sudah ia pelihara selama berhari-hari──sejak pertama kali melihat lelaki itu, tolanan Sua.
Garis bibir lekas melengkung tatkala teringat dwi ain hitam merah yang juwita hari itu. Luka melukis senyum tipis, sebelum akhirnya ia menekan touchpad.
Klik.
Email terbuka. Baris demi baris kalimat formal menyambutnya; sapaan basa-basi singkat, curaian mengenai kebutuhan kafe yang semakin padat, dan terakhir, alasan Sua memberi temannya sebagai rekomendasi. Luka tahu, puan tak akan bertele-tele. Ia gulirlah layar dengan cepat, hingga pandangan keemasan itu berhenti tepat pada satu bagian.
Sebuah foto berbingkai putih; seorang pemuda dengan wajah tirus, senyum tipis yang tampak lebih gugup ketimbang ramah, dan sorot mata yang jujur, terlampau jujur hingga Luka dapat merasakannya melewati permukaan layar. Dan, tepat di bawah foto itu, nama yang sejak kemarin ingin ia ketahui tertulis; Ivan.
Satu kata. Satu ketegasan. Satu hal yang buat Luka──tanpa sadar──menahan napas.
Ia biarkan nama itu menggunakan kuasanya untuk mengubah keseimbangan malam, memicu detak jantung menjadi lebih berirama, menyulut netra kuning untuk terus menatap, dan akhirnya mengesahkan bahwa perihal ini membuat segala-galanya tampak lebih nyata.
Ah, Luka dapat membayangkan Ivan, di waktu senja, saat gerimis, duduk di salah satu kursi kafe dengan komputer jinjing terbuka, sibuk mengisi formulir. Dapat pula dibayangkan bagaimana Ivan memohon kecil-kecilan, dengan suara pelan namun pasti, agar lamaran kerjanya tak terselip di antara ratusan berkas lain.
Luka nyaris dapat melihatnya, dalam imaji nalar; Ivan menunduk, menyusun kalimat dengan kikuk, lalu mengangkat wajah dengan keberanian setengah matang.
Garis bibir merekah singkat, melukis senyum sebelum kembali menyesap sisa air yang ada pada gelasnya. Ia sandarkan punggung pada kursi, melipat tangan di depan dada tanpa berhenti memandangi nama Ivan. Sadarlah ia, semakin diberi atensi, semakin ada daya tarik tak tersangkal yang dihadirkan pemuda itu. Ivan, dengan segala kepolosan dan ketidaksiapan, menghadirkan sesuatu yang tak dimiliki ratusan pelamar lain; sebuah tantangan.
Luka suka itu.
Ia selalu menyukai sesuatu yang bisa menguji batas sabar, hal yang memaksanya menarik diri dari kebiasaan, entitas yang membuatnya merasa ia tengah membentuk dari awal.
Namun, ia juga tahu, menyukai tantangan bukan berarti membutuhkan. Tantangan hanya memberi rasa, bukan kepastian. Yang ia butuhkan saat ini adalah yakin bahwa Ivan memang orangnya, bahwa kehadirannya bukan sekadar kebetulan, melainkan jawaban yang pantas untuk pertanyaan yang sejak lama ia pendam.
Maka ia putuskanlah menahan diri, mengulur waktu dengan sengaja, demi kepuasan diri sendiri.
Luka ingin melihat sejauh mana Ivan akan melangkah, seberapa besar keberanian itu akan tumbuh, dan seberapa banyak lelaki itu akan berlaku demi membuktikan dirinya. Luka ingin yakin bahwa perhatian yang telah ia taruh takkan berakhir jadi penyesalan.
Dengan gerakan lamban, Luka menutup komputer jinjingnya; bunyi klik halus dari engsel terdengar jelas di tengah lengang. Tangannya sempat terhenti di atas permukaan meja, merasakan hangat terakhir yang dipantulkan lampu hias sebelum perlahan bangkit serentak menekan tombol kecil di sisi lampu.
Seketika, cahaya gading yang semula membungkus dirinya pun padam, menyerahkan ruangan pada gulita yang hanya diterangi sinar pucat bulan menerawang kaca jendela. Dalam keheningan otentik itu, aroma kopi yang tadi melekat di udara terasa lebih pekat, barangkali karena gelap sudah merajai.
Luka menarik napas panjang, membiarkan raksi itu mengisi paru-paru, seolah ingin menguncinya bersama malam. Ia melangkah menuju pintu belakang dengan tenang sesudahnya. Derap sepatu menggema ringan di atas lantai kayu yang kini dingin. Setiap suara──gesekan kursi dan denting kecil kunci yang ia raih dari saku──menggema bersama nama dalam benak.
Ivan; nama yang terus bergaung, lembut namun jelas, bagai resonansi yang berkeberatan hilang, menolak reda, seolah memastikan bahwa malam ini bukan sekadar malam biasa. Selagi Luka menahan diri, Ivan──si pemilik nama──menghabiskan waktu dalam penantian yang menggerus.
Satu hari. Dua hari. Tiga hari.
Keresahan dan gelisah menumpuk dalam nalar, sampai hari keempat ia tak tahan ingin mencari jawaban. Maka pagi hari itu, ia susuri jalan yang masih basah dari sisa gerimis semalam. Ia terjang hawa dingin yang menikam hingga ke tulang, menghembuskan napas yang membentuk kabut halus, tipis, lalu menguap bersama waktu.
Cemas menyergap──
Apakah Luka tak sempat membaca surat lamarannya?
Apakah rekomendasi dari Sua ditolak secara halus?
──dengan membawa banyak pertanyaan saat ia tiba di Kafe Aurelia. Lonceng berdenting pelan menyambut. Ia memilih kursi yang paling pojok, dekat jendela, menanti sosok Luka hadir dari balik pintu belakang atau melintas di depan meja counter. Berpikir, bahwa, mungkin dengan melihat eksistensi Luka, cemasnya bisa luruh … sedikit.
Namun sayang, selama jam terus berputar, dari siang yang riuh hingga senja yang menorehkan warna oranye, ia tak melihatnya──sama sekali. Seharian ia duduk di sana, di kursi yang sama, hanya bergeser sesekali. Akan tetapi, satu-satunya jejak keberadaan Luka hanyalah sekali, sekilas, itu pun hanya suara. Ivan mendengarnya samar-samar dari balik dapur; sebuah perintah, hangat namun cepat sekali lenyap, tertelan oleh riuh mesin espresso.
Yakin sekali dirinya, itu suara Luka.
Sebab hanya Luka yang memiliki otoritas memerintah, kan?
“Kamu masih di sini juga?” tanya Sua, tiba-tiba, disusul dengan menarik kursi di seberang kursi Ivan. “Udah dari pagi, kan?”
Ivan mengangguk, tangan meremas cangkir kosong. “Belum ada kabar, kak. Aku takut jobless beneran.” Ia memapar pelan, berusaha menutupi kekecewaan yang sudah membatu.
Sua bersandar, menatap roman Ivan yang terus menaruh perhatian tepat pada pintu belakang.
“Aku juga belum dapat kabar apa-apa dari bos, sih. Tapi, … Van,” panggil Sua lembut. “Jangan patah semangat, ya? Bos itu orangnya susah ditebak. Bisa aja dia lagi nguji kamu? Mau lihat sejauh apa kamu berusaha. Dulu Till juga begitu soalnya.”
Pelupuk Ivan mengerjap. Kalimat Sua terasa serupa secercah cahaya; tentang dirinya yang, walau gelisah, tak ingin berhenti pada kesempatan ini. Lagipula, dia ingat, sudah bertekad akan memperjuangkan.
“Kalau gitu, aku kirim lagi boleh?”
Sua mengangguk. “Boleh. Tapi jangan lewat aku lagi, coba pakai email kamu sendiri. Kamu kan keras kepala, ya? Pakai aja keras kepala kamu itu buat kasih unjuk, kamu beneran serius mau kerja di sini.” Sua menutup kalimat dengan gelak ringan.
Kata-kata Sua justru menggema lebih lama dari tawa yang melingkupi. Maka, keesokan harinya, Ivan kembali, ke meja kecil di sudut kamarnya. Ia menatap draft surat lamaran lama sebelum menarik napas panjang dan menghapus seluruh baris yang pernah ia tulis.
Perlahan ia mulai mengetik lagi, dengan alamat email-nya sendiri. Setiap kata yang tersampaikan, Ivan tulis dengan hati-hati. Ia sisipkan distingsi baru; nada yang lebih hangat, lebih ramah, dan jujur. Ia menulis tentang kesenangan kecil saat membayangkan pelanggan tersenyum dengan secangkir kopi yang pas.
Tanpa sadar, ia menyelipkan keterusterangan; tentang betapa ia takut gagal, betapa ia ingin merasa dibutuhkan, dan betapa kafe itu──tempat ia pertama kali melihat Luka──telah meninggalkan kesan yang tak mampu diabaikan.
Surat itu ia kirim. Tak sempurna, tetapi terdengar seperti diri sendiri. Yah, walau kala tiga hari berlalu, ia masih belum mendapat balasan jua.
Namun, tak apa. Ia siap mengetik lagi, kali ini menambahkan detail kecil; cerita ringan soal pagi di kafe Aurelia, soal cara sinar matahari menembus kaca depan dan menimpa meja bar, tentang aroma kopi yang berpadu dengan roti panggang seolah berasal dari masa yang tak ingin ia lupakan.
Tiga hari lagi berselang, tanpa satu pun balasan. Perasaan dan pikirannya pun buncah.
Di malam keempat selepas itu, dengan cahaya lampu meja yang remang, ia mengetik lagi. Sekarang isiannya lebih ringkas. Ia menambahkan sebait kalimat pendek, nyaris bagai bisikan yang ditulis dengan percaya diri; “Mungkin, di sini, saya akan merasa seperti pulang.”
Setiap kali ia menekan tombol kirim, ada rahasia, siasat, atau harapan yang terlalu rapuh untuk diucap keras-keras.
Malam berganti pagi, hari berulang kembali, dan minggu melintas. Empat belas kali ia menulis, empat belas kali ia menunggu. Tak ada balasan. Lambat laun, yang tersisa hanyalah gema hampa notifikasinya sendiri, yang justru membuatnya semakin yakin; ia tak ingin berhenti di sini.
Mungkin, tulisan tak lagi cukup. Mungkin.
Pada keesokan hari, pagi datang membawa langit kelabu. Ivan melangkah keluar dengan jaket abu tuanya yang sedikit kebesaran menyembunyikan separuh wajah yang tertunduk. Ia berjalan menyusuri trotoar yang masih lengang. Setiap langkah kakinya menciptakan cipratan kecil di atas genangan air.
Meskipun cuaca murung, keyakinan di dada Ivan justru terasa hangat. Ia hanya peduli dan tahu, ia akan menyesal bila berhenti di tengah jalan, atau tak berjuang semaksimal yang ia mampu. Langkahnya kian konstan lantaran papan nama Kafe Aurelia mulai tampak dari kejauhan. Pintu kacanya lengas, memalangi kehangatan dari dalam, namun sebab itu lah, Ivan tanpa ragu, dengan maksud yang transparan, mendorong hingga terbuka.
“Ivan?” panggil Sua, terkejut melihatnya sepagi ini.
“Bos kakak ada nggak hari ini?”
“Ada. Kenapa, Van?” Sua segera berhenti menyusun cangkir dan melihatnya sembari menoreh tanya.
“Aku mau langsung kirim surat lamaran,” jawabnya jujur. Suaranya nyaris tenggelam antara suara mesin kopi yang mulai berdengung pelan, “kalau boleh sih.”
Sua mengerjap, lalu pandangannya beralih ke arah dapur. Ada jeda singkat, sebelum senyum samar terlukis di bibir, senyum seolah mengerti sesuatu. “Sebentar ya,” balas Sua lembut, “aku tanya dulu, bos lagi sibuk di belakang.”
Ivan mengangguk. Ia menunggu, duduk di kursi meja counter, dengan jari-jemarinya tak lepas dari amplop berisikan surat lamaran yang──kali ini──ia cetak, semalam. Kertasnya sedikit menghangat sebab digenggam kelewat lama.
Setiap kali pintu dapur berayun terbuka, detak jantungnya menumbuk pelan, hanya untuk mereda lagi ketika yang keluar adalah pegawai lain. Permatanya terus lingsir, entah menatap cangkir-cangkir di rak, uap di mesin espresso, ataupun jam di dinding.
Ia menunggu waktu yang terasa semakin … lamban.
Sampai akhirnya, pintu yang ditunggu-tunggu benar-benar terbuka; terdedah, lebar. Dari balik sana, eksistensi Luka mengemuka. Langkahnya santai, melintang keheningan yang aktual. Surai pirangnya tampak sedikit berantakan, sejumput helai luruh di dahi. Lengan kemeja hitamnya tergulung sampai siku, memamerkan kulit mulus dengan noda biji kopi di pergelangan tangan.
Ivan refleks berdiri.
Akibatnya, tatapan mereka bertemu lagi.
Hening pertama cukup panjang, tetapi tak canggung. Luka memandangi Ivan dari ujung kepala hingga ujung sepatu, lantas menatap lurus ke permata hitam-merahnya, tenang, tak terbaca. Ada sesuatu dalam pengamatan itu; campuran heran, serta-merta kagum.
Sementara itu, Ivan menunduk sedikit, mengajukan berkas di tangannya. Terasa jari-jemarinya mendadak dingin, kendati begitu genggamannya pada amplop tersebut tetaplah erat, seolah jika ia berani melonggar, seluruh tekadnya akan ikut runtuh.
“Maaf ganggu waktunya, mas. Saya tau, saya sudah kirim banyak email,” tutur Ivan, suaranya serak, kepalanya pun terangkat lantaran beranikan diri melihat wajah Luka, “tapi saya pikir, lebih baik saya datang langsung. Kalau pun nggak diterima, saya cuma mau bilang, saya siap belajar di sini sampai diterima.”
Kalimat berat itu mengalir dengan kejujuran mentah yang membuat Luka tak langsung menjawab. Ia hanya tetap di tempatnya, tangan bersedekap, lantas menatap roman Ivan lama──cukup lama sampai-sampai Ivan harus menunduk kembali, takut matanya sendiri terlalu terang oleh harap.
Jeda sunyi membuai. Luka telusuri perangai Ivan, menimbang kembali setiap surat yang datang dari nama yang sama──empat belas kali──dengan isi berbeda, namun maksud yang sama; ingin, sungguh-sungguh ingin, berada di sini.
Aroma roti menguar di antara mereka, kali ini berbau keju panggang serta isian daging asap gurih. Tatkala suara mesin espresso mendesis kembali, Luka menghela napas, pandangannya pun melunak. Seri mukanya berubah, tak lagi menguji, melainkan lega.
“Kamu keras kepala, ya,” di antara garis bibir yang melengkung tipis, Luka bersuara. Nadanya mengandung hangat yang buat Ivan melukis senyum syukur.
“Iya, mas.” Jawabnya.
Ivan angkat kepalanya satu kali lagi, serentak dengan Luka menerima amplop dari tangan Ivan dan memegangnya erat-erat, seolah beri tahu betapa cukup Ivan telah membuktikan diri sendiri; bahkan tanpa Luka membaca apa yang tertulis di surat lamarannya sekarang.
“Mulai besok pagi,” lisan Luka kembali terdengar, “datang sebelum jam delapan. Jangan terlambat.”
Waktu seakan berhenti.
Ivan hanya terus menatap sosok di hadapannya, otaknya menolak memproses kalimat sederhana yang baru saja ia dengar.
‘Mulai besok pagi──jangan terlambat.’
Putaran kata-kata itu sudah bak pusaran air, berulang-ulang dalam benak hingga menyerbu sesuatu di dada yang sedari tadi ia tahan. Napas Ivan tersengal pelan, ujung matanya terasa sedikit panas. Kepala segera menunduk, menahan rasa antara sukacita dan tak percaya. Seluruh malam kesulitan tidur, empat belas surat tanpa balasan, dan ratusan kali ia meragu, kini menemukan ujung di satu kalimat sederhana itu.
“Siap, mas.” Katanya, mengembangkan senyum yang tanpa sadar memberi unjuk satu sisi dari gigi taringnya. Senyum manis yang buat Luka … terpukau.
Manis.
Manis sekali.
Dengan air muka tetap teduh, Luka mengangguk sebelum berbalik menuju ke dapur. Sempat langkahnya sedikit melambat di ambang pintu, menahan diri untuk tidak menoleh kembali, dan hanya fokus pada sebuah kebenaran yang baru disadari; betapa kagumnya ia terhadap keras kepala Ivan.
Ivan tak dapat menyembunyikan denyut asing yang tumpah ruah dalam dadanya.
Hari pertama ia bekerja, dunia seakan berputar sedikit lebih cepat dari biasanya. Hawa pagi ini, dalam kafe, telah dipenuhi aroma kacang panggang dan susu yang baru dibuka. Cahaya matahari yang menyelinap masuk, dari jendela besar di sisi kiri, berpendar di atas permukaan meja marmer yang mengilat, memantulkan warna emas pucat.
Suara grinder terdengar berputar nyaring, kasar namun ritmis. Uap susu mengepul, membentuk awan tipis di atas mesin espresso yang berkilau oleh lampu gantung. Gelas-gelas beradu, sendok kecil berdenting di cangkir keramik, dan di antara riuh lembut itu, Ivan berdiri dengan tangan sedikit gemetar depan portafilter.
“Pelan-pelan, Van,” ada Sua yang berdiri di samping, baru selesai menuntun tangannya, “jangan buru-buru. Kalau kamu teken terlalu keras nanti tekanan airnya jadi berantakan,” lanjut puan, sambil membersihkan tetesan air yang merembes dari bagian bawah mesin.
Ivan mengangguk, “iya, kak. Maaf.”
Tangannya sudah sedikit berpeluh. Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam, tetapi malah mencium lebih banyak aroma kopi yang tajam dan hangat, raksi yang semestinya menenangkan, justru membuat jantungnya berpacu semakin cepat.
Barangkali karena hari ini, hari pertamanya. Hari pertama di tempat yang begitu keras ia perjuangkan untuk pertama kalinya. Dan, barangkali karena … Luka berdiri di sana.
Di seberang meja bar, bersandar santai di tepi marmer, dengan tangan terlipat di dada. Lengan kemeja putih Luka tergulung hingga siku, Ivan bisa lihat itu. Ia pun dapat tahu, Luka memperhatikannya, hanya menaruh perhatian, namun entah bagaimana, tatapan itu membuat Ivan merasa seolah semua gerakannya tengah ditakar.
Luka tak tersenyum, tak pula memandang tajam. Ia benar-benar hanya … melihat, dengan cara yang terlalu tenang untuk bisa diabaikan.
“Santai aja,” berbicaralah ia, akhirnya. Suara Luka rendah, dalam, tak ubahnya rintik hujan yang jatuh di atas atap seng──mendadak, menenangkan, mengguncang. “Kamu enggak perlu minta maaf untuk hal kecil kayak gitu. Kamu lagi belajar, bukan lomba.”
Nada itu membelah gugup. Ivan menunduk, merasakan denyut yang mulai berpacu di dalam dadanya, sebelum akhirnya ia mengangkat kepala dan melihat Luka yang sempat tersenyum untuk sepersekian sekon. Senyum yang buat semua terasa terlalu dekat, padahal mereka masih terpisah dua langkah.
Perlahan, jarak itu Luka kikis. Uap susu dari mesin yang masih naik, melewati bahunya, membentuk garis kabur di udara.
“Coba sini,” katanya, sambil membungkuk sedikit tepat di samping Ivan, dan sebelum Ivan sempat memberi jarak, tangan Luka sudah berada di atas punggung tangannya.
“Gini.”
Satu kata itu terdengar biasa, tetapi kala kulit mereka bersentuhan, dada Luka bertemu sapa lengan atasnya, dan perbedaan tinggi yang ketara waktu mendadak berjeda. Tangan Luka hangat──bukan … maksudnya, panas──di atas tangan Ivan. Ia menekan portafilter itu perlahan, menambah tekanan dengan tenang, lalu membiarkan Ivan merasakan setiap geraknya.
“Kopi yang enak enggak lahir dari tenaga atau waktu, tapi dari keseimbangan,” ucapnya lembut, “rasakan beratnya, jangan takut kelamaan, jangan takut rasanya enggak enak.”
Ivan tak menjawab. Napasnya nyaris tak keluar, pikirannya kabur oleh aroma tembakau tipis dari tubuh Luka yang bercampur dengan wangi espresso. Ia coba fokus, sungguh, Ivan sangat mencoba, namun sayang, satu-satunya hal yang ia fokuskan, hanyalah tekanan ringan di tangannya, dan denyut pelan yang naik dari dada ke telinga.
Sua tersenyum, melihat pemandangan itu sambil pura-pura lanjut membersihkan meja. “Kalau gini terus, bisa-bisa bos nggak punya waktu buat ngajarin barista lain, nih.”
“Kalau yang lain punya semangat kayak Ivan, saya enggak keberatan ngajarin.” Nada suaranya masih tenang. Hanya saja, kalimat itu buat ruangan terasa lebih sempit untuk Ivan; rasa dirasa, ia tak mau ada barista lain yang diajari seperti ini.
Luka kemudian menepuk ringan bahu Ivan sebelum mundur. Ia kembali ke posisinya semula, di depan meja bar. “Coba lagi.” Pintanya singkat.
Ivan menarik napas, mencoba mengulangi gerakannya──kali ini, lebih pelan, lebih hati-hati. Ditekannya portafilter itu dengan ritme yang sama seperti sentuhan Luka tadi. Air panas pun mengalir dan espresso menetes pelan ke dalam cangkir. Buih tipis terbentuk di permukaan, berwarna keemasan di bawah lampu gantung.
Bertepuk tanganlah Sua. “Nah, itu baru pas!” Katanya.
Ivan menghela napas lega. Sementara Luka, dari tempatnya, hanya menatap lalu tersenyum samar──pujian yang tak butuh kata-kata. Dan entah mengapa, dengan seulas senyum itu saja, seluruh riuh dalam kepala Ivan terasa seperti disapu bersih.
Hari pertamanya terasa seperti dimulai ulang dari nol──antara gugup, lega, dan sesuatu yang ia takut sebut sebagai rasa senang. Mungkin karena ia berhasil membuat secangkir kopi di bawah bimbingan Luka.
Atau, mungkin karena, mulai hari ini setiap hari akan menjadi serupa dengan ritual.
Minggu pertama berlayar dalam halimun tipis yang manis. Setiap hari terasa bak pengulangan dari hari-hari sebelumnya. Hanya saja, lama kelamaan jadi lebih ringan, lebih akrab. Ivan mulai hafal tempo kerja; kapan pelanggan pertama umumnya datang, berapa lama mesin espresso butuh pemanasan, bahkan seberapa cepat Sua bisa menyiapkan stok susu sebelum kafe benar-benar buka.
Ia mulai hafal ritme suara dalam ruang ini──gemerincing sendok, tutup toples yang berulang kali dibuka Till, bisikan lembut antara Mizi dan Sua, serta canda tawa pelanggan. Kafe Aurelia itu hidup dalam nadanya sendiri, dan Ivan bersyukur, ia dapat menjadi bagian dari orkestra itu.
Pagi-pagi, sebelum cahaya matahari terlihat, Ivan akan datang lebih dulu. Lazimnya ia memulai dengan menyapu lantai, membersihkan meja-meja yang begitu dingin, lalu menyalakan mesin espresso. Lampu-lampu akan ia biarkan padam, sambil menunggu seseorang datang.
Maksudnya, Luka.
Luka selalu datang pagi, setelah Ivan. Selalu. Eksistensinya selalu membawa aroma sabun dan tembakau lembut, serta suara kunci pintu belakang yang beradu dengan rantai besi. Dengan kebiasaan yang nyaris sama, Ivan akan melihat satu tangan Luka mendorong pintu, satu tangan lagi menenteng jaket yang jarang dikenakan.
“Pagi,” sapa Luka hangat.
“Pagi, mas.” Jawab Ivan, menegakkan tubuh dari balik meja.
Luka tak akan meneruskan percakapan, alih-alih ia menyalakan lampu satu per satu, dari arah jendela ke tengah ruangan, dari dapur ke kamar staf, dan terakhir lampu kecil di atas meja counter, sebagai bentuk siapnya membuka hari.
Kadang Luka memulai dengan hanya memberi arahan pendek, tentang bagaimana menuang susu dengan busa yang pas, atau cara menata etalase roti. Kadang ia hanya menatap sekilas, cukup untuk membuat Ivan tahu bahwa ia dilihat.
Kendati demikian, di satu hari itu──satu pagi, saat suasana masih terlalu sunyi, tidak ada pelanggan, tidak ada staf lain──Luka menembakkan satu tanya yang ringan.
“Kamu selalu datang terlalu pagi, ya?” Nadanya jernih, suaranya menyatu dengan dengung mesin kopi yang baru saja hidup.
Ivan yang──sekarang ini──sedang menunggu mesinnya panas langsung menoleh cepat, “iya, mas,” ucapnya, “biar nggak buru-buru.”
Luka menatapnya, tak lama. Lantas melirik jam tangan, melihat waktu yang masih menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas, sebelum kembali melihat Ivan, “atau biar bisa lihat saya nyalain lampu satu-satu?”
Ah, iya. Lampu selalu ia biarkan padam, walau datang lebih dulu.
Alasannya sederhana, sebab ia suka memperhatikan Luka sambil menganggapnya tengah menyalakan bintang di langit yang ia miliki sendiri. Ia suka memerhatikan cahaya hangat yang lekas menelusuri wajah Luka dengan warna oranye lembut. Ia suka … melihat gerak kecil Luka dengan pandangan yang ia sembunyikan dalam kesibukan pura-pura.
Suka.
Ivan suka sekali menatap pusat dari orbitnya itu.
Namun, masih enggan ia terang-terangan mengakui. Terlebih ketika ditanya mendadak seperti itu, buat dunia kecilnya seketika terhenti. Gerak tangan melambat, kain lap di dalam genggamannya jadi terasa terlalu ringan, dan udara yang mula-mula hangat berubah padat. Luka pun berjalan melewatinya, membawa kesejukan pagi dari luar yang tersisa di surainya.
“Emang kelihatannya kayak gitu, mas?” tanya Ivan akhirnya, mencoba menertawakan gugupnya sendiri.
Luka tak langsung menjawab. Ia menatap balik sekilas dari arah pantry, matanya teduh, garis bibirnya naik sedikit, “kadang.”
Dan, seolah kata itu cukup untuk menghidupkan rasa yang lembut, Ivan jadi tak berani menatap Luka lebih lama. Lanjut berpura-puralah ia, sibuk menakar biji kopi guna menyembunyikan pipi yang tiba-tiba terasa panas, sebab takut suka-nya ketahuan.
Kendati demikian, setiap kali Luka lewat di hari itu, mata Ivan terus mencari, entah karena kebiasaan atau keinginan yang belum dipahami. Luka menyadari──tentu saja, ia menyadarinya──tetapi memilih tak menegur, tak pula menghindar; hanya membiarkan pandangan itu bernafas di sela-sela kesibukan hari mereka.
Dan, iya, begitulah setiap harinya.
Hingga menjelang malam di minggu kedua.
Kafe sudah hampir tutup. Di luar, hujan yang sedari tadi sore menetak kaca akhirnya reda, meninggalkan aroma tanah basah yang merayap melalui celah pintu. Wangi itu bercampur halus dengan sisa aroma espresso──manis, pahit, hangat──bak napas terakhir dari hari yang panjang. Lampu jalan memantul di aspal yang masih basah, membentuk gurat keemasan.
Di dalam ruangan hanya tinggal Ivan dan Luka. Sisanya sudah pulang, meninggalkan kafe dalam sunyi yang bersih; satu-satunya keheningan yang hanya muncul kala semua hiruk-pikuk selesai.
Berdirilah Luka, di meja kasir. Ia menunduk pada buku catatan kecilnya, menghitung pengeluaran dengan ketelitian otomatis seorang manajer. Ivan, di sisi lain, sibuk membersihkan mesin kopi. Gerakannya agak tergesa; kain lap digosok terlalu cepat, busa sabun diperas dengan tangan hampir gemetar, denting logam terdengar keras dari biasanya. Suara-suara itu berpadu dengan tetesan sisa air hujan dari talang di luar.
Dari kasir, Luka dapat merasakan tergesa itu, bahkan sebelum ia melihatnya.
“Kenapa enggak pulang bareng Sua tadi?” tanyanya, tanpa menoleh.
Ivan berhenti sejenak. Ia seka pelipis, menghela napas, lantas kembali membilas tangan, “kerjaan saya belum beres soalnya, mas.”
“Ah.” Luka menutup bukunya, pelan.
Dalam diam, langkahnya tercipta. Ia bergerak mendekat ke arah bar dengan derap sepatu yang terdengar jelas; ritmis, santai, sekaligus membawa sekepal perhatian yang tak ingin disebut perhatian.
Berhentilah ia dekat Ivan.
“Kamu tinggal di mana?”
“Sekitar dua blok di arah Timur,” jawab Ivan, tanpa mengangkat kepala, “nggak jauh si, mas.”
“Berarti setiap hari jalan kaki?”
“Iya, tapi sejak pindah kerja ke sini aja. Di tempat kerja sebelumnya, saya naik bus.”
Luka sandarkan diri di ujung meja bar. Dari posisi itu, ia dapat melihat betapa cepatnya Ivan menggosok logam mesin; terlalu cepat untuk pekerjaan sederhana, terlalu cepat untuk orang yang tampak lelah. Lisannya tak segera memberi jawaban, ia terus diam, terus memperhatikan gerakan Ivan.
Gerakan tak ubahnya seseorang yang takut terlihat lamban, takut buat kecewa.
“Taruh aja,” ucap Luka, akhirnya. Nada suara yang terlontar terdengar lebih lembut dari yang ia maksudkan, “biar aku yang lanjutin.”
Ivan menoleh cepat, cepat sekali, serupa seseorang yang ketahuan mencuri napas.
“Eh?”
“Gih.” Luka mengibaskan tangan sedikit, tetap tak menatap Ivan, “pulang sana.”
Aku.
Luka bilang; biar ‘aku’ yang lanjutin.
Kata itu──aku──menggema di kepala Ivan sebelum masuk ke dada. Dan, sebelum ia sempat meresapi apa pun, seluruh tubuhnya lebih dahulu bereaksi; hangat, ngilu, senang, bingung, malu. Semua bercampur jadi satu, meledak begitu tiba-tiba sampai ia tidak sempat mengolah.
Terpakulah ia, bersamaan dengan degup jantung yang melonjak, begitu keras hingga ia takut Luka dengar. Terlebih, jeda itu──jeda antara Luka bicara dan Ivan bergerak──terlalu panjang, terlalu penuh rasa.
“Besok, jangan datang terlalu pagi lagi,” ujar Luka sambil melangkah mendekat untuk mengambil alih mesin. Gerakannya dihias harmoni, nyaris malas, tetapi ada kesadaran penuh di sudut matanya. Ia tahu, Ivan masih memandang, dan ia membiarkan.
“Kenapa?” Tanya Ivan kemudian.
“Karena kamu butuh istirahat,” Luka menyeka permukaan mesin yang tadi dibersihkan oleh Ivan, “jangan pecut diri sendiri. Datang paling awal, pulang paling akhir, emang enggak capek?”
Nada suaranya lembut, lembut sekali. Terlalu lembut untuk disebut sebagai teguran. Sayang saja, Luka tetap tak menatap Ivan. Barangkali karena ia tahu, apabila ia menatap, permatanya akan mengatakan terlalu jujur tentang ke-khawatiran-nya.
Di sisi lain, Ivan tak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana beberapa detik lebih lama. Ia diam. Ia bingung. Hatinya terlalu penuh untuk ditata dalam kata-kata. Padahal, ia bisa saja berasumsi, perhatian Luka hanyalah perhatian sebatas atasan dengan karyawan. Tak lebih. Iya, tak lebih.
Lekas Ivan melepas apron, sebelum mengambil tas. Kepala sempat mengangguk, dan berlalulah ia, pergi ke pintu depan.
Kendati demikian, ia tak langsung pulang.
Begitu keluar, ia berhenti guna bersembunyi di balik bingkai pintu kaca, lantas mengintip ke dalam. Bodoh? Iya. Tetapi hatinya tak punya tenaga untuk peduli. Dari luar, ia melihat Luka bekerja dalam hening. Bahunya bergerak pelan, tangannya mematikan lampu satu per satu setelah usai dengan mesin, wajahnya sesekali terangkat ke arah jendela, seolah memastikan dunia kafe sudah cukup tenang untuk ia tinggalkan.
Luka terlihat dewasa dari jauh. Dan, itu yang buat Ivan ingin menatap lebih lama.
Tatkala Luka akhirnya mengambil jaket dan hendak keluar, Ivan panik. Buru-buru ia mundur dua langkah, bersembunyi di belakang tembok kecil samping pintu. Napasnya tertahan, bagai anak kecil yang takut ketahuan curi-curi pandang orang yang ia suka.
Tak lama kemudian, pintu terdengar berderit pelan. Luka keluar, tanpa menoleh, tak menyadari eksistensi yang menaruh atensi atasnya. Sementara Ivan, dari tempat sembunyinya──yang bahkan tak terlalu bagus──merasa lega, merasa semakin tumbuh perasaannya, lebih cepat dari yang ia sanggup kendalikan.
Ivan bersumpah, ia dapat melihat nyala dari api pusat orbitnya.
Satu bulan kemudian, irama di antara mereka berubah perlahan, bukan sesuatu yang bisa ditunjuk jelas kapan mulainya, tetapi terasa dari hal-hal kecil; dari cara Ivan kini lebih mudah tersenyum ketika Luka melewatinya, dan dari cara Luka tak lagi berusaha menjaga jarak emosional seperti minggu-minggu pertama.
Keduanya sama-sama berhati-hati. Kendati demikian, ada aliran halus yang sudah terbangun, semacam kesepakatan dalam diam, bahwa, mereka menikmati kehadiran satu sama lain.
Ivan pun mulai lebih berani bercanda, walau tetap dalam batas sopan yang ia jaga. Luka menjadi lebih … iseng? Mungkin. Lebih sadar akan Ivan, pastinya.
Kadang kala, Luka sengaja mencari-cari momen hanya untuk menggoyahkan ketenangan Ivan; entah itu menyenggol bahu ketika lewat padahal jalan masih cukup lebar, mengomentari potongan rambut padahal dari awal hingga sekarang tak ada yang berubah, atau menatap lebih lama dari sewajarnya. Semua kesengajaan yang membuat Ivan memaksakan diri untuk terlihat lebih sibuk lagi; cukup sibuk agar salah tingkahnya tertutupi.
Lantas, datang satu senja yang padat. Waktu dimana pelanggan mengisi kursi-kursi, denting cangkir bertemu piring kecil, dan aroma kopi memenuhi ruangan lebih pekat.
Kala itu, di balik bar, Ivan tekun menakar kopi, jarinya bergerak cekatan dari kebiasaan walau suasana sedang ramai. Luka, yang sebelumnya sedang berbicara dengan Sua, tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah Ivan, lengan tersandar di meja bar.
“Van,” panggilnya, dengan nada rendah yang entah kenapa justru terdengar jelas di tengah huru-hara.
Menolehlah Ivan kala mendengar panggilan itu. Gerakannya spontan, “ya, Mas?”
“Saya mau minta tolong buatkan cappuccino,” Luka meminta, tanpa melepas pandangan, “terus tambahi whipped cream, biar lebih lembut. Saya butuh sesuatu yang lembut hari ini.”
Ivan mengerti sekarang; ‘saya’ di depan orang-orang, ‘aku’ di saat berdua saja.
“Bos, modus mulu perasaan. Kasihan, Ivan kerja digodain terus.” Sua, yang berdiri tak jauh dari belakang Luka, refleks bertutur kata.
Luka segera menoleh ke Sua, “saya cuma minta minum. Modus dimananya?”
“Biasanya juga bikin sendiri, habis itu mendem di ruangan.” Sua membalas, sambil mengangkat alis.
Ivan menahan senyum yang ingin terlukis, kepalanya mengangguk, memahami, “nggak papa si kak, saya buatin cappuccino paling lembut deh, biar mas puas hari ini.” Padahal masih ada banyak pesanan yang harus Ivan kerjakan, alih-alih, ia mulai meracik minuman untuk Luka.
Pengerjaan Ivan lebih teliti, gerakan tangannya begitu halus, ia mengukur suhu susu dengan perhatian lebih, lalu menggoyangkan pitcher dengan ritme lembut sesuai dengan apa yang selalu Luka ajarkan. Tampak busanya mengembang halus, padat, bak awan kecil yang ia pola serupa hati.
Setelah Ivan menyajikan cappuccino itu di hadapan Luka, Luka menarik cangkirnya mendekat dengan lamban. Bentuk hatinya tak terlalu jelas, namun cukup terlihat. Maka, disisirnya permukaan busa dengan pandangan, sebelum ia menatap Ivan, “jadi ini versi paling lembutnya?”
Ivan menelan ludah, sambil mengusap-usap apron, “iya, lembut banget si. Aku yakin mas nggak bakal kecewa.”
Luka memutar cangkir, menatap hati samar itu lebih lama, lalu mencicipi sedikit. Hanya sedikit, seperti takut bentuk hatinya rusak.
“Aku suka.” Tuturnya kemudian, dalam bisik agar tak ada siapapun yang bisa dengar selain Ivan seorang.
Ivan palingkan wajah cepat-cepat. Kelewat malu dapat pujian tiba-tiba. “Syukurlah kalau mas suka. Kalau gitu … aku balik bikin pesanan pelanggan dulu.”
“Aku selalu suka hal-hal yang kamu buat.”
Belum sempat kakinya melangkah menjauh, Luka kembali menutur yang buat geraknya terhenti seketika. Tak hanya itu, sendok yang ada dalam genggamannya pun jatuh tak kuasa.
‘Selalu suka’, katanya.
Selagi salah tingkah, Luka tersenyum sambil meninggalkan Ivan; senyum yang jadi segala-galanya, namun hanya sampai Hyuna datang.
Di satu pagi, kafe sedang berada dalam fase paling sepi; lampu-lampu gantung seperti biasa bekerja memancarkan cahaya hangat kekuningan, aroma espresso pertama tercium memenuhi udara, dan embun di kaca jendela masih begitu kentara. Luka duduk di kursi meja kasir, tubuhnya sedikit membungkuk, sebatang pulpen terselip di sela jari, siap menulis laporan di halaman buku yang terbuka lebar.
Kemudian, langkah ringan memasuki ruangan──ritmenya cepat, namun ujungnya melambat, seolah derap sepatu itu tahu persis di mana harus berhenti. Luka tak perlu menolehkan kepala, sebab aroma parfum yang hadir, perpaduan white tea dan musk, menyentuh rongga hidungnya bak sapaan lama yang pernah ia kenal sangat baik.
“Luka! Aku udah bilang jangan lupa makan, kan?” Empu langkah bersuara, puan yang bernama Hyuna.
Luka mendongak. Senyum tersungging begitu saja; otomatis.
“Pagi, Hyuna. Aku udah sarapan, roti panggang sisa trial semalam.” Nada suara Luka meluruh lebih hangat ketimbang biasanya, seperti seseorang yang teringat rumah dari masa yang lebih … tenang.
Hyuna tertawa ringan, jenaka, buat suasana lebih terang daripada cahaya pagi. Di sela tawa itu, Luka berdiri dan mempersilahkan puan untuk duduk di meja yang paling dekat dengan jendela, tempat sinar matahari jatuh lembut di atas permukaan meja, tempat orang-orang suka menulis atau membaca, dan tempat Ivan dulu sering berharap dapat melihat Luka.
Mereka selanjutnya berbincang, percakapan mereka mengalir dengan mudah; entah itu membicarakan stok bahan yang harus diisi ulang, tentang klien yang agak rewel, tentang tanaman kaktus kecil di sudut jendela yang entah mengapa tumbuh terlalu cepat, dan tentang mereka berdua. Percakapan sederhana yang mungkin terdengar remeh bagi orang lain, akan tetapi, bagi mereka yang sudah pernah melalui banyak hal, topik-topik itu justru penuh keakraban.
“Besok masih ada jadwal muse lagi?” Tanya Luka.
“Masih, full buat seminggu. Deket sih sama kafe kamu, jadi aku bakal ke sini tiap selesai potret. Boleh, kan~?” Jawab Hyuna.
Luka mengangguk, “selalu terbuka buat kapanpun kamu mau datang.” Di sela paparan itu, ia mencuri pandang ke arah bar; ke arah Ivan.
Ivan berdiri membelakangi mereka, apron terikat rapi di belakang punggung, langkah kerjanya cekatan namun kaku; kaku dengan cara tak biasa. Seluruh tubuhnya resah, seakan tengah menahan sesuatu yang tak ingin bocor ke permukaan. Tangannya tetap sibuk, mencoba sibuk, berharap pikirannya dapat teralihkan dari ‘dengan siapa Luka berbicara’. Lalu bahunya, Luka melihat jelas bahu Ivan, menegang sedikit di setiap Hyuna tertawa.
Ah, Luka langsung tahu──tahu Ivan mendengar percakapan mereka, tahu Ivan berusaha keras terlihat sibuk, tahu Ivan memperhatikan walau pura-pura tidak.
Ada tarikan kecil di dada Luka; rasa bersalah samar yang menyentuh tepi kesadaran. Luka mengetuk permukaan meja dengan dua jari, pelan tetapi cukup untuk membelah ritme Ivan.
“Ivan,” panggil Luka, nadanya tenang, “tolong buatkan Hyuna kopi.”
Ivan menoleh. Luka sempat melihat kilatan gugup di permata hitam-merah itu, bukan gugup karena pelanggan, bukan semata-mata karena formalitas pula, lebih ke gugup karena ada ketakutan kecil untuk salah, atau mungkin … mungkin, takut terlihat cemburu.
“Tenang aja,” kata Luka. Ia jelas menyadari getar di pupil merah Ivan. Terlalu jelas untuk bisa diabaikan, “enggak ada ujian hari ini.”
Hyuna tersenyum ramah pada Ivan, tanpa menyadari dinamika tipis yang terjadi diantaranya dengan Luka, “buat yang kamu suka aja, Van. Kata Luka, kamu pinter bikin kopi jadi aku yakin bakal suka kopi buatan kamu.”
Ivan mengangguk, “siap.” Lalu menjawab dengan suara yang diusahakan stabil.
Diraciklah kopi untuk Hyuna sepenuh hati, terlalu sepenuh hati sebenarnya. Ketika ia meletakkan cangkir itu di depan Hyuna, suara benturan antara keramik dan meja kayu terdengar lantang, buat Luka melihat tangan Ivan bergetar, halus, nyaris tak terlihat, namun terlalu jelas bagi seseorang yang sudah memperhatikan selama dua bulan.
Lama pula Luka menatap, bibirnya pun tetap diam, seolah tak keberatan dengan denting tersebut. Ia mengunci atensi penuh, hingga tak dengar Hyuna mengatakan apa, hingga tak tahu Ivan menjawab apa pada tolannya, sampai tak sadar lelaki bersurai hitam itu berpaling, masuk ke ruangan khusus staf, dan baru terjaga tatkala punggung yang ia perhatikan menghilang.
Ketika Hyuna akhirnya pamit sore itu, Luka berdiri mengantarnya sampai pintu. Sinar matahari yang hampir tenggelam menembus kaca, jatuh ke tiap helai dari surai Hyuna yang berkilau cokelat. Luka tersenyum kecil sambil menundukkan kepala sedikit; sapaan sopan yang hanya ia lakukan pada orang yang benar-benar ia hormati.
Hyuna lantas melambaikan tangan ringan, langkahnya terdengar perlahan memudar di luar, bercampur dengan gemerisik daun dan suara kendaraan yang lewat dari kejauhan. Dan, Luka──walau tampak tenang──membiarkan pandangannya mengikuti sosok perempuan itu hingga hilang di tikungan. Ada sesuatu yang familiar, lembut nan pahit tentang kepergian itu.
Namun, begitu ia berbalik dan kembali ke dalam kafe, atmosfernya berubah.
Pandangannya langsung jatuh pada Ivan yang berdiri di belakang bar. Tubuh lelaki itu condong ke depan, tangannya sibuk mengelap bagian yang sebenarnya sudah bersih per sepuluh menit lalu. Gerakannya hati-hati, sekaligus terlalu terburu-buru, terlihat sekali yang ia coba singkirkan bukanlah sisa-sisa noda, melainkan sisa-sisa ketidaknyamanan yang melekat di ujung pikiran.
“Van.” Luka memanggil, mendekat hingga dapat menyandarkan pinggulnya di samping meja marmer.
Ivan menahan napas sepersekian detik sebelum menjawab, “iya, mas?”
“Besok tolong bantu saya cari stok biji baru, ya.”
Permata Ivan sempat membulat. Senyumnya kikuk, tetapi tak lama kemudian kepalanya mengangguk, “siap, mas!” Dengan lisan memapar penuh antusias.
Cepat sekali membaik suasana hatinya.
“Dan, satu lagi──” kali ini Luka sengaja memberi jeda, buat Ivan seketika berhenti melakukan tugasnya dan menoleh melihat Luka, menanti-nanti apa yang kelak akan Luka bicarakan, atau pinta.
“──jangan terlalu tegang waktu tamu ngobrol sama … aku,” kata-kata terakhir disampaikan melalui bisik. Begitu pelan, nyaris tak terdengar, tapi untung saja, Luka mencondongkan sedikit tubuhnya hingga bilah ranum itu jadi hampir dekat dengan daun telinga Ivan, “ini kafe, bukan kantor.”
Ada senyum yang terlukis, walau Luka tak benar-benar memberi unjuk. Ada nada yang menggoda pelan, gemulai, tak menghakimi. Barangkali karena ia tak sedang menegur Ivan. Iya, tidak. Dia hanya sedang bermain api, dan ia tahu, Ivan melihat nyalanya.
Kebencian kecil yang Ivan tak sadari ada, perlahan tumbuh di relung hatinya.
Semenjak lima belas menit yang lalu, Ivan berdiri di belakang mesin kopi, mendengarkan dengung gilingan biji yang aktif menelan sunyi dalam sanubari. Suara mekanis tersebut telah ia jadikan serupa dengan pelarian; sebuah ritme yang konsisten, yang tak berhenti berusaha menyembunyikan kegaduhan kecil dari hati yang belum bisa ia pahami.
Kendati demikian, ia yakin, separuh dari hatinya itu mengandung kecemburuan──pada Hyuna yang acap kali datang sedangkan jadwal muse-nya sudah selesai, pada parfum white tea dan musk yang kelewat kontras dengan wangi tembakau, pada sinar matahari yang memantul dari permukaan meja hingga menciptakan siluet puan yang sedang tertawa.
Betapa ingin Ivan memberontak dari atensinya sendiri, sebab tak pernah dapat diatur padahal sudah tahu, memperhatikan Luka hanya akan membuat batin serta nalarnya berselisih. Fokus serta kinerjanya pun jadi tersendat, karena merasa Luka tak lagi menaruh perhatian. Kemampuannya tak meningkat sama sekali jua, karena berpikir Luka selalu sibuk berbincang pada puan yang gelaknya riang, terlampau akrab, dan terlalu lama.
Walau merasa tak pantas cemburu seperti itu, Ivan tetap memilih merespons perasaannya dengan bekerja lebih keras, berharap apapun yang ia lakukan dapat menarik kembali atensi Luka. Sangat, sangat, sangat berharap.
“Van, jangan diteken keras-keras! Kan udah pernah dibilangin, nanti rusak mesinnya!” Sua memberi teguran di suatu siang, kala Ivan terlalu bertenaga menekan portafilter.
Ivan mengangguk kaku, “maaf, kak.”
Luka yang saat itu sedang duduk bersama Hyuna, dekat dengan meja bar, menoleh. Permata keemasan itu menatap Ivan, namun hanya sesaat, sebelum kembali pada Hyuna yang tengah memperlihatkan sesuatu di ponsel puan.
Sesaat, seumpama satu detik.
Hanya satu detik. Tapi cukup buat Ivan merasakan sejenis tusukan kecil di dadanya. Ia benci rasa itu, benci betapa mudahnya Hyuna merebut seluruh fokus Luka. Ia benci, ia tak memiliki hak untuk menuntut apa pun.
Hari-hari berlanjut tanpa ampun. Perasaan campur aduk kian menumpuk tak ubahnya debu yang mengendap di sudut-sudut ruangan. Waktu terus berlalu, namun bukannya meredakan, hal tersebut justru menanam ketegangan yang semakin intens, merayap melalui sela-sela interaksi sehari-hari.
Di satu sore yang tenang, Hyuna datang kembali usai pemotretan. Puan meminta dibuatkan affogato. Luka bangkit, mengambil alih mesin dengan segera. Selama itu, puan berdiri tepat di sampingnya, tertawa sambil menyentuh lengan Luka kala bercerita mengenai fotografernya yang ‘kebangetan perfeksionis’.
“Salah lagi! Kan udah dibilangin berulang kali, pakai kain lap yang ini,” Till, di samping Ivan, berseru seraya mengangkat kain kecil berwarna abu-abu dari atas meja, “buat lap meja, yang kamu pegang sekarang itu buat lap gelas, Ivan!” Tambahnya, sambil merebut kain berwarna putih dari tangan Ivan.
“Iya, maaf.” Ivan membalas singkat, serentak meraih kain abu-abu yang Till maksudkan sebelum ia melanjutkan tugasnya──membersihkan meja.
Terus menerus keliru, bahkan, untuk hal sesederhana itu. Terus menerus kena tegur bahkan untuk hal yang sama. Kehadiran Ivan jadi terasa serupa dengan awan mendung sekarang, menghalangi pijar cahaya hangat yang semestinya menaungi kafe.
Habis, bagaimana?
Ia selalu saja melihat sentuhan Hyuna pada Luka. Sentuhan ringan, nyaris tak ada arti. Tetapi, rasanya tak ubah deklarasi; aku lebih dulu hadir, aku lebih dulu mengenalnya.
“Ivan, ini kamu salah. Meja nomor dua belas mintanya dua roti panggang, satu isi coklat keju, satu coklat strawberry. Bukan keju dua-duanya. Buat ulang, ya? Kasih bonus juga, biar jadi kompensasi.” Mizi bersuara, di satu hari kala ia tengah secara terang-terangan memasukan es batu ke dalam gelas dengan ceroboh. Terlalu ceroboh, sampai-sampai suara gemerincingnya keras bak pecahan kaca.
“Iya. Tapi kompensasinya apa?” Tanya Ivan, lanjut menuangkan kopi pekata lalu menyajikannya di atas meja dengan sembarang, membuat es di dalam gelas berdesir seakan-akan menyeru protes akan perlakuan tersebut.
“Es krim aja. Kasih di cup, dua. Yang vanila,” Mizi menimpali, sambil menaruh piring roti panggang keju yang salah di atas meja bar, “sama, kerjanya pelan-pelan. Jangan keras-keras, takut nanti ada yang pecah.”
Ivan mengangguk, tak memberi paparan. Kendati demikian, ia sadar, sempat melihat Luka dari sudut mata, tengah menatapnya. Lagi, dan lagi, hanya menatap. Tak memberi teguran, tak menggodanya, tak bicara lembut seperti sebelumnya, tak ada … apa-apa.
Terus terang, itu buat Ivan merasa lebih buruk.
Pada hari lain, ia tengah menuliskan pesanan pelanggan ketika geramnya memuncak. Aroma manis affogato buatan Luka, yang sekali lagi Hyuna pesan, mulai tercium hingga ke hidung──campuran vanilla serta espresso yang seharusnya menyenangkan──menusuk bagai racun.
Dalam tekanan begitu sesak, ia tanpa sengaja menabrak pengemudi ojek online yang hendak mengambil pesanan. Buku pesanan Ivan terlepas dari tangan, segelas minuman panas yang baru selesai dibuat oleh Sua jatuh bersamaan. Gelas kaca pecah berantakan, kopi hitam mengalir di lantai marmer selayaknya noda yang memperlihatkan dosanya setelanjang mungkin.
“Astaga, mas! Hati-hati kali!” Seru sang pengemudi.
“Maaf,”ujar Ivan separuh panik. Ia lekas berlutut hendak memungut setiap pecahan kaca sambil mengabaikan Sua yang sudah mengambil sapu.
Luka, yang mendengar keributan itu, segera menghampiri.
“Ivan.” Panggilnya, “minggir. Biar Sua yang beresin.” Lanjut perintahnya.
Ivan patuh. Ia berdiri dan lantas mundur dari tempat kejadian. Dadanya seakan runtuh. Untuk pertama kali, ia melihat Luka tak hanya kecewa, namun benar-benar … marah.
Usai Luka menangani seluruh kekacauan, mengganti minuman, memberi ganti rugi atas ketidaknyamanan, suasana kembali tenang.
Senja hari itu pun tiba, napas hangat mulai memudar seiring kepergian satu per satu pengunjung. Tatkala aroma kopi yang masih menggantung tipis di udara bercampur dengan wangi sabun pembersih tercium, Luka menarik napas dalam, memantapkan hati, dan──
“Ivan.”
──memanggilnya.
Kafe Aurelia seketika menjadi sunyi, hanya tersisa detak jam dinding yang berirama konstan serta suara napas yang terlampau jelas takutnya.
“Ke ruangan saya. Sekarang.”
Begitu tegas Luka memberi titah, membuat Ivan menoleh lantaran melihat Luka menunjuk pintu di belakang bar. Ia tak memberi jawaban, hanya melangkah dan berlalu ke tempat yang diminta.
Ruang kerja Luka tak besar, hanya cukup untuk meja, lemari kayu, dan kursi. Aromanya begitu khas, wangi tembakau halus yang meresap ke dinding serta tumpukan berkas. Lampu temaram membuat suasana semakin menekan. Sinar matahari menyorot separuh wajah Luka, menajamkan garis rahangnya, membuat permata emasnya tampak lebih mencolok; cerah sekali, benar-benar serupa sarang madu.
Duduklah ia. Sementara Ivan berdiri, menunggu.
“Aku enggak masalah kalau kamu tamping terlalu keras,” mulai Luka berbicara. Ada keseriusan di sana, sesuatu yang sering muncul, hanya saja kali ini buat jantung Ivan seakan dihantam oleh angin puting-beliung, barangkali karena nada bicaranya; sangat … serius.
“Atau, jatuhin alat. Atau salah buat pesanan. Karena semua itu masih bisa diperbaiki.” Ia mengangkat wajah seiring terus bertutur kata. Permatanya lurus menatap roman wajah Ivan yang kelewat tegang.
Tentulah tegang. Sekarang ini, degup jantung Ivan tengah begetar di belakang tulang rusuk; berat, tak beraturan. Tangannya berusaha tenang, tetapi sayang, jari-jemarinya berkhianat. Mereka saling meremas, memberi unjuk kegelisahan yang menolak untuk bersembunyi.
Perasaan cemas yang lebih buruk dari sebelum diterima kerja hadir, menjadi selimut.
“Tapi, bikin masalah dengan rekan kerja, pelanggan, driver, itu beda cerita.”
Ivan hanya menunduk, mendengar penuturan selanjutnya, “maaf, mas.” Lalu mencoba sebaik mungkin mengatakan kata-kata itu dengan jelas, dengan hati-hati.
“Aku tau, ini ada hubungannya sama Hyuna. Kamu jadi beda sejak ada Hyuna,” Luka mengatakannya, tanpa ragu, tanpa menuduh. “Kalau kamu penasaran, aku yang minta dia datang. Setiap hari.” Ada penekanan yang buat dada Ivan berdenyut pilu, “jadi kalau kamu mau unjuk rasa, unjuk rasa ke aku, jangan ke semua orang.” Tambahnya, diakhiri helaan napas──sebuah gestur yang menunjukkan kelelahan nyata.
Ivan menunduk, terdiam. Dan Luka, ia tak memberinya ruang untuk mengatur napas kali ini.
“Beberapa pelanggan udah mulai ngeluh soal sikap kamu,” dengan suara yang melunak, Luka berdiri sambil melanjutkan tuturnya. Ia mendekat, tanpa menggeser pandangan dari wajah Ivan, “Till juga udah mulai kesel sama kamu. Aku jadi heran, aku tau ada hubungannya sama Hyuna, tapi aku enggak tau, apa hubungannya? Kenapa bisa? Kamu suka sama Hyuna? Atau, kamu cemburu sama Hyuna?”
Ivan … terdiam.
Kebencian kecil yang perlahan tumbuh di relung hati, akhirnya Ivan sadari. Semua yang selama ini ia bangun, semua pertahanan emosi, semua defensi agar tak secara terang-terangan terlihat sedang jatuh cinta berhenti di akhir kalimat tanya yang begitu gamblang.
Ia belum bisa jujur, belum siap. Perasaannya masih terlalu mentah, terlalu menakutkan untuk diakui; takut perasaannya selama ini tak memiliki kesempatan sejak awal, takut dengan kenyataan ia hanya mampu sejauh ini saja.
Takut.
Ivan takut sekali.
Mendapati Ivan terus diam seribu bahasa, Luka pun kembali menarik napas panjang seraya melangkah mundur, dan duduk di kursinya lagi.
“Kalau kamu enggak mau jawab, enggak papa. Tapi, Ivan. Aku terpaksa harus pecat kamu, karena aku enggak mau pelanggan dan staf yang lain jadi enggak nyaman karena kamu.”
…
Kalimat itu jatuh bagai batu yang menghantam permukaan air. Membuat riak dalam hati Ivan membelendung sampai-sampai berserakan cipratannya. Begitu sederhana dan mudah Luka mengucap, sementara di telinga Ivan, itu terdengar bak hukuman akhir yang berat diterima.
Sungguh, sampai sini saja, kah?
Ia sudah berjuang untuk dapat bekerja dengan Luka, untuk dapat menaruh perhatian pada Luka lebih sering lagi. Di sinilah, ia dapat bernapas.
“Mas,” suara Ivan bergetar, cemas dari bayang-bayang tidak dapat berada dekat dengan Luka lagi, “kasih aku kesempatan.” Pintanya, tak rela bila harapannya menjadi sekadar mimpi di siang hari.
Luka diam, menunggu.
“Aku tau, aku salah. Aku janji, aku bakal perbaiki semua. Kesalahan sama pelanggan, sama staf lain, sama kafe, semuanya,” Ivan mengangkat wajah, memberanikan diri membalas tatapan Luka, “kasih aku satu minggu lagi.”
“Seminggu buat apa?” tanya Luka. Nadanya menantang.
“Satu minggu buat aku kasih tau alasan aku,” jawab Ivan, serentak mempertemukan tatapannya dengan Luka, “setelah satu minggu, kalau alasan aku nggak diterima, mas boleh pecat aku.”
Luka menimbang. Ia melihat kejujuran di mata Ivan, jujur yang sama seperti kali pertama mata mereka bersua. Ia mendengar keras kepala Ivan, watak yang ia kenal sejak Ivan mengajukan empat belas surel.
Sungguh, Luka menyukainya, pertaruhan yang memikat.
Apakah ia akan, akhirnya, mengakui perasaannya? Atau, justru berbohong?
Entah. Namun satu hal yang pasti, antusias lantas datang tergesa-gesa. Jantung Luka berpacu mengisi ruang yang sudah ia rencanakan sejak kemarin; menguji sampai batas yang tak ia ketahui. Tanpa sadar, tatapannya pun melembut.
“Oke,” ucapnya, tanpa mengukir senyum, sebab diusahakan sekeras mungkin untuk tidak terang-terangan memperlihatkan semangatnya, “satu minggu.”
Ivan menghela napas lega, “terima kasih, mas” Katanya.
Begitu Luka mengangguk, Ivan keluar dari ruangan. Tubuhnya terasa ringan, namun pikirannya kalut. Ia tak hanya diberi kesempatan kedua; ia diberi tenggat waktu akhir untuk mengakui perasaannya.
Kendati demikian, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam satu minggu ini, ia harus melakukan segalanya untuk Luka, agar perasaan yang tumbuh semakin besar dalam dadanya, terasa pantas untuk diungkapkan.
Bagi Ivan, Luka sudah mutlak menjadi pusat orbitnya.
Kendati demikian, bukan berarti rasa cemas dan gelisah dari kejadian kemarin menghilang. Ketakutan itu tetap ada, bahkan terasa seolah dapat menelan bulat-bulat. Tetapi, yah, Ivan tahu, ketakutan memang selalu datang lebih dahulu, selalu lebih gesit dari lisannya.
Itu mengapa, Ivan tak berhenti merapal.
Mengulang-ulang mantra yang sama dalam hati. Mantra yang telah ia rajut sejak hari pertama ia menaruh perhatian pada Luka, dan ia genggam erat-erat selama satu minggu penuh setelah insiden itu. Mantra yang setiap suku katanya adalah jangkar yang berusaha menahan diri dari badai keraguan.
Dia memulai pekan itu dengan rutinitas teratur; membuka tirai, menuntun cahaya mentari, menggantung seragam, lalu bersiap. Gerakannya selaras, seolah hafalan panjang yang tak pernah meleset. Hanya saja, kali ini, ada semacam keyakinan yang menyulut langkahnya mirip stimulan yang berapi-api, bahkan, kala kantuk masih memeluk pelupuk.
Di sela-sela detik yang terlalu keras dentingnya, pikiran Ivan sempat berbisik getir sepanjang minggu; bagaimana jika Hyuna ternyata lebih dari teman? Bagaimana bila Luka tak menyukai Ivan dengan cara yang sama, atau bahkan tak akan pernah memandangnya demikian? Bagaimana jika setelah penolakan ini, kesempatan untuk berada dekat dengan Luka benar-benar nihil?
“Tapi kan … takut ditolak wajar. Lagian, rasa takut nggak pernah lebih sakit dari penyesalan,” Sua bertutur pagi di hari ketiga, usai mendengarkan cerita yang Ivan bagi selama membersihkan mesin kopi bersama, “kalau gagal, tinggal coba lagi. Tapi kalau nyesel? Mana bisa tinggal ngulang waktu.”
Timpalannya sudah bagai cambuk, namun Sua benar. Terluka karena kehilangan kesempatan untuk mengaku, membusuk dalam diam karena sesal, digerogoti kata ‘seandainya’, semua itu jauh lebih buruk ketimbang ditolak. Sebagai pengecut yang jatuh cinta dan memilih lama menaruh perhatian, lalu berulah, inilah satu-satunya jalan penebusan yang dapat mengubah segala-galanya.
Ivan menghela napas, menutup mata sejenak setelah selesai membersihkan mesin kopi. Ia nyalakan sekali lagi mantra itu dalam hati, lebih pelan, lebih dalam, bersamaan dengan tutur Sua. Napasnya berat, teratur dengan lembut.
Ia beranjak dari belakang mesin kopi menuju kasir, siap melayani pelanggan pertama di pagi hari keempat.
“Selamat pagi, mau pesan apa? Kami ada promo untuk Coconut Matcha Latte. Kalau beli yang large, dapat hadiah roti panggang coklat keju,” sapa Ivan. Senyumnya ramah, rupawan. Gigi taring runcing khas miliknya membuat garis bibirnya terlukis unik, penuh karisma.
“Boleh, kak. Yang itu aja, aku pesan dua yaa,” balas sang pelanggan.
“Take away atau dine in, kak?”
“Dine in, kak.”
“Oke, atas nama siapa, kak?”
“Atas nama … kakaknya aja, boleh?” tanya sang pelanggan sambil tersipu.
Ivan tergelak ringan, mengangguk seraya mencatat pesanan. “Ivan, nanti namanya ya.”
“Ivan, namanya.”
Tiba-tiba ia terkesiap tatkala mendengar pelanggan tersebut menuturkannya lantang, seolah dunia sengaja menggemakan identitasnya keras-keras di ruang yang penuh aroma kopi. Senyum tipis lekas terukir tanpa mampu Ivan cegah──gabungan antara geli, malu, dan dorongan lain. Tangannya cekatan menekan tombol kasir, mencetak struk, dan menyerahkannya.
Hari itu masih jauh dari kata selesai. Ada jam-jam panjang yang harus dihabiskan dengan rutinitas serupa. Bahkan seperti biasa pula, Ivan memperhatikan Luka, mendengarkan obrolan tuan dengan Hyuna, dan menerima ramah-tamahnya. Kali ini tak ada denting gelas, tak ada salah pesanan, atau air wajah muram. Hanya ada Ivan yang sopan, hangat, dan bisa menerima tegur sapa.
Yah, walau tetap terhitung palsu, tapi tak apa. Hari ini terakhir, kan?
Ia tak boleh kalah hanya karena pacu jantungnya mengetuk lebih cepat dari ritme lampu kedip di dinding.
Luka memperhatikannya jua, jelas. Jelas sekali tatapannya terkunci pada raut muka Ivan, pada cara ia memberikan namanya ke pelanggan, pada lisannya yang menyahut sapaan siapapun termasuk Hyuna, pada tawanya yang menggema kala bercanda dengan Mizi dan Sua.
Ia tahu Ivan sedang menakar keberanian, dan terus terang, ia menikmati setiap usaha Ivan untuk tampil lebih baik dengan performa penuh karisma──walau kadang berlebihan. Ia biarkan detik-detik melandai menuju hari akhir tanpa gangguan.
“Kamu betulan bakal pecat dia?” Hyuna mendadak bertanya ketika Luka menceritakan percakapannya dengan Ivan seminggu lalu.
Luka menyeruput es kelapa dari gelasnya. “Kalau alasannya enggak bikin aku puas, ya mungkin,” katanya pelan. “Lagian, kalau dia mau bertahan, pasti bakal lebih berjuang lagi.”
Hyuna menggeleng, menopang dagu. “Luka, setiap orang punya limit. Kamu nggak bisa selalu nguji orang kayak gini. Dia bakal pergi lama-kelamaan.” Puan menekankan pandangannya. “Perjuangan seseorang bukan mainan atau tontonan. Pilihan kamu itu hargai atau tolak.”
“Aku tau.”
“Kalau emang nggak puas, lepasin. Biar dia cari kerja di tempat lain.” Hyuna berdiri, membenahi pakaiannya. Senyum manis terukir sebagaimana cerahnya ia melawan senja. “Tapi kalau ternyata kamu nggak peduli sama alasannya, dan kamu cuma mau dengar perasaannya… coba confess duluan, oke?”
Luka mengangguk, mengerti.
Malam itu tiba dengan cepat. Jarum jam berdetak nyaring, menari-nari melintasi angka sembilan, dan kafe telah lama diselimuti hening. Lampu gantung yang umumnya terasa hangat, kini menjadi tak ubah lampu sorot panggung, hanya menyoroti Ivan dan Luka yang terpisah oleh meja.
Luka telah duduk di kursi, pulpennya diletakkan dengan rapi di samping buku laporan. Ia menatap Ivan, tatapannya tak lagi tajam seperti minggu lalu. Selagi itu, jantung mereka berdua berdegup dalam ritme yang sama; satu karena mantra yang diulang-ulang, satu karena ketidaktahuan yang diselimuti antisipasi.
“Luka,” panggil Ivan kemudian. Suaranya sedikit serak, namun cukup untuk membuat Luka mengangkat alis.
“Langsung aja. Apa alasannya?”
Ada jeda. Ekspresi wajah Luka yang kelewat cantik membuat Ivan ingin sekali kabur, menelan kembali niat dan mantranya. Akan tetapi, jika ia mundur, semuanya akan runtuh. Mantra satu minggu itu akan jadi sia-sia.
Digenggamnya kuat-kuat kain lap di tangan, yang memang sengaja tak ia letakkan. Ditelannya saliva, mengukuhkan diri, lalu membuka bibir hanya untuk dikatup kembali.
Luka setia memperhatikan. Ia menanti, berangan-angan dapat memberinya ruang serta waktu. Sinar senja terakhir datang menembus kaca jendela, melukis siluet panjang yang membuat detik itu terasa sakral.
“Aku──” kini suara Ivan nyaris patah, bergetar. Ia melonggarkan jemari, mencoba mengembalikan keberanian yang sempat hilang, “aku mau minta maaf dulu, mas”
Pandangan Luka begitu tenang, melucuti Ivan dengan tatapan yang sudah ia kenali. Mendekatlah ia, menarik kursinya agar bisa duduk tepat di samping Ivan, perlahan-lahan seumpama kata setiap jengkalnya ialah pengorbanan yang berat. Jarak antara mereka pun menyempit, buat Ivan dapat mencium parfum Luka yang kelak beradu dengan aroma kopi; wangi yang selalu menjadi bagian dari fantasi.
“Aku tau, aku nggak profesional. Aku minta maaf karena udah nggak bener kerjanya, sempet bikin masalah sana sini. Maaf, aku nggak bisa mengendalikan diri.”
“Dari apa?” Suara Luka rendah, lembut, tidak menuntut.
Jujur saja, banyak; eksistensi Hyuna, tawa Luka saat bersamanya, candaan keduanya, kebersamaan Hyuna dengan Luka. Namun, ada satu yang paling berpengaruh; rasa yang ia miliki untuk Luka.
Pelupuk mata Ivan terpejam seketika. Ia mengulang mantra terakhirnya dari cambuk lisan Sua──“rasa takut nggak pernah lebih sakit dari penyesalan”──sebelum akhirnya membuka mata, menatap Luka tepat di netra.
Begitu berkilau, begitu indah. Ditambah sorotan lampu kafe, mata itu tampak memukau, seolah setiap binarnya siap mendengar apapun yang akan Ivan katakan.
“Aku takut,” bisik Ivan, suaranya dipenuhi kejujuran yang matang, “... karena aku sadar, aku kerja di sini, di kafe ini, gara-gara aku mau ada deket kamu. Terus, aku lihat Hyuna, dia segalanya yang aku mau. Dia bikin kamu ketawa, nyentuh kamu, kenal kamu dengan cara yang aku nggak bisa. Jadi … aku cemburu sama Hyuna.”
Ruangan kembali sunyi. Hanya napas Ivan yang tersengal.
Luka tak segera menjawab. Garis bibirnya yang tegas melunak, dan seutas senyum samar yang Ivan rindukan akhirnya hadir, berbanding terbalik serta jauh lebih jelas dari senyum samar yang ia lihat di hari pertama.
“Jadi, intinya?” Bertanyalah ia. Sengaja dengan nada yang memprovokasi, sebab masih ada satu lagi harapan dari pengakuan Ivan.
“Intinya,” Ivan mengulangi kata itu, sebelum ia menarik napas dalam-dalam, dan melanjutkan, “aku jatuh cinta──”
Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Cinta, secinta-cintanya.
“──sama kamu.”
Sesaat, kafe kembali lengang. Hanya suara napas mereka saja yang terdengar. Detik-detik yang berselang terasa seperti berjam-jam. Ivan menunduk, menunggu kalimat penolakan yang akan mengakhiri segalanya.
Luka yang mendengar, saat ini tengah terperanjat. Netra yang serupa madu itu berpendar takjub. Bilah bibirnya mungkin terbuka, namun tak ada suara yang keluar selain napas hangat yang sudah bagai derak di antara sejuknya suasana. Dia tak menyangka, Ivan akan mengaku sejujur-jujurnya.
Manalah ia tahu, umpan terakhir yang ia lempar akan sungguh-sungguh dikonsumsi.
Sebuah sentuhan dia beri langsung ke dagu Ivan. Luka mengangkat wajahnya, memaksa empunya surai hitam legam kembali menatap permatanya. Netra madu Luka lebih dipenuhi kehangatan sekarang, lembut yang tak terduga singgah di binarnya. Garis bibir mengukir senyum tipis yang tulus.
“Jatuh cinta?” tanya Luka, penuh kelegaan. “Aku kira, aku yang harus lebih dulu ngaku.”
…
Jantung Ivan serasa berhenti berdetak. Dunia di sekeliling lantas memudar. Kalimat itu, kalimat yang lebih-lebih-lebih lagi tak disangka, membuat Ivan tanpa sadar meraih tangan Luka dari dagu. Ia genggam bersamaan dengan kain lap sambil terus memandang; mata antar mata.
“Maksudnya, mas?”
“Emang kurang jelas?”
“Kurang!” Timpal Ivan, buru-buru, “jelasin. Maksudnya?”
“Aku sengaja buka lowongan karena aku nguping obrolan kamu sama Sua,” Luka menopang dagu, menyilang kaki, dan menatap Ivan dalam-dalam.
Permata Ivan mengikuti arah gerak Luka, “terus kenapa surat lamaran aku nggak ada balasan?”
“Sengaja juga,” papar Luka, tawa kecil terselip di suaranya, “aku tau, kamu juga jatuh pas kamu pertama kali lihat aku. Aku cuma mau lihat seberapa besar perjuangan kamu buat kerja di sini, buat deket sama aku. Aku butuh orang yang enggak gampang nyerah.”
Ivan terdiam. Denyut asing dalam dada yang terus tumpah ruah ini lambat laun menjadi denyut akrab. Seluruhnya menjadi … jelas. Pantas saja sempat terasa asing, bukan sepenuhnya karena jatuh cinta, melainkan karena ia terpancing.
Terpancing umpan Luka untuk mendekat, untuk berjuang, untuk kehilangan kendali, untuk … mengaku.
“Hyuna rencana kamu juga?” Tanya Ivan, mendekap keberanian yang berlabuh dari rasa riang.
Luka menggeleng, “enggak sepenuhnya. Hyuna betulan teman dekat aku. Dia orang pertama yang aku ajak bicara soal kamu,” dijedanya kalimat dengan sisipan senyum, “pas tau kamu cemburu berat tiap lihat dia, aku jadi minta dia terus datang.”
“Mas aneh,” kali ini, barulah Ivan mendekat. Dia mengambil tangan Luka satu kali lagi dan menggenggamnya erat, seolah ingin meyakinkan Luka bahwa semua perasaan campur aduk yang selama ini menyerang terasa begitu kecil dibandingkan kebahagiaan, “tapi tau kamu sepeduli itu sama reaksi aku, mancing aku sampai mau pecat aku, bikin aku … mau ciuman.”
Berbinar-binar permata Ivan sekarang, menatap Luka yang telah meluruskan netranya tepat ke merah-hitam Ivan, “yaudah cium.”
“Enggak mau,” bisik Ivan, suaranya penuh cinta hingga buat pipi Luka──secara praktis──memerah, “aku mau kamu ngaku, apapun yang tadi kamu kira bakal ngaku lebih dulu.”
Ketimbang membalas dengan tutur kata, Luka memilih ikut menggenggam tangan Ivan dan menariknya ke dalam pelukan. Ia benamkan wajahnya di bahu, meredam suara saat mengemukakan perasaan yang sudah lama ia pendam.
“Aku jatuh lebih dulu,” bisiknya, kala Ivan membalas pelukannya, “aku yang lebih cinta,” tambahnya, dengan nada kekanak-kanakkan, “aku yang lebih suka … Ivan.”
Ivan tersenyum manis dan membiarkan dirinya rileks dalam dekapan Luka, “jadi, ya … jangan kasih nama kamu buat dicatat di gelas kopi pelanggan lain. Aneh, punya aku.”
‘Punya aku,’ katanya.
“Punya mas Luka.” Balas Ivan. Ia sesap aroma kopi yang melekat di kain baju; satu-satunya wewangian yang menjadi sumber ketenangan, selain dari manis parfum serta elok aroma tubuh Luka.
Malam itu, mereka merubah kosakata dengan taut. Ivan beri jarak antara dirinya dengan Luka, kemudian meraih dagu dengan tangan yang kosong, mendekatkan wajah, dan mencium bibir yang selama ini rasanya jauh dari angan-angan. Sementara itu, Luka memejamkan mata, memiringkan kepala, dan membiarkan ranumnya larut dalam ciuman lembut.
Ada dunia baru yang tercipta, bukan hanya orbit yang Ivan punya, namun jua pusat dari poros alam semesta yang Luka pijak.
Setiap detail mengenai Luka yang Ivan perhatikan, kini resmi menjadi miliknya.
