Work Text:
Jujur saja, kalian pasti mengira, bahwa Narumi adalah si egois, dan yang selalu mengalah itu Hoshina.
Iya, kan?
Praaang!
Suara hempasan vas bunga ke dinding rumah gagal terelakkan lagi, sedangkan si pelaku terus-menerus mencoba membendung amarah biar tidak semakin menggila. Yaa, displacement akhirnya menjadi pilihan yang dia ambil. Lelaki pemilik iris magenta itu sendiri setengah mati menjaga fokus kesadaran, agar jangan sampai menggoreskan luka fisik pada orang lain yang berada di satu ruangan dengan dirinya sekarang.
“Harus berapa kali kukatakan, aku tidak seperti dugaanmu?! Kau selalu mencari-cari kesalahanku.”
Bosan, siapa yang tak lelah bila selalu dituding berselingkuh; hampir tiap hari dipojokkan dengan kalimat tuduhan bahwa dia berkhianat. Padahal yang laki-laki itu lakukan saat berada di luar rumah cuma berpusat pada pekerjaan, latihan, rapat yang menjenuhkan, atau sibuk memainkan gim, harusnya sang kekasih tahu ini mengingat fakta mereka sesama prajurit anti-kaiju yang reputasinya cukup dikenal masyarakat.
“Begitukah?” bukan bermaksud menenangkan suasana, sebuah kata tanya yang diucapkan lawan bicaranya malah makin memperkeruh keadaan. Hening beberapa detik, pemuda berlogat Kansai yang tampak semakin dipenuhi amarah ini melanjutkan lisan dengan berucap, “Narumi Gen, jelas-jelas tadi dia merengkuh pundakmu.” Dan benar saja, penuturan dari sosok bermahkota ungu gelap tersebut tidak lain berupa pembelaan atas dugaan negatifnya yang menjadi sumber masalah.
“Soushirou, kau tahu Miyake Kurou itu mantan ketua pleton-ku. Tentu hal yang seperti ini biasa saja.”
Hoshina Soushirou enggan mau mengerti, yang dia tahu adalah kenyataan yang berporos pada pikiran liarnya sendiri. Mengalihkan pandangan ke direksi lain, menyandarkan punggung pada tembok bangunan. Bertingkah seakan indra auditoriknya telah terkunci, mengabaikan apa pun yang dikatakan lawan bicaranya, sekarang percakapan mereka terjadi hanya dari satu arah.
Awal mulanya baik-baik saja, malah sebelumnya bisa dikatakan ini sebagai salah satu malam terbaik mereka. Merayakan hari jadi hubungan yang telah terjalin selama dua tahun di sebuah restoran mewah, tak jarang saling melempar senyum tertahan, ketika membicarakan tentang masa lalu keduanya. Iya, semua berjalan sesuai harapan, hingga saat mantan ketua pleton divisi pertama menghampiri tanpa diundang.
Mengabaikan orang yang pernah berjuang bersamanya bukanlah ciri khas Narumi, maka ia langsung menyilakan Miyake untuk turut serta – arogan bukan berarti lupa kawan. Mereka acap berbincang akrab, melupakan eksistensi Soushirou yang mengamati sambil berkawan senyuman palsu khasnya. Sekitar empat-lima kali lelaki yang bersangkutan memberi kode pada kekasihnya untuk mengusir sang tamu, yang ternyata cuma dianggap sebagai angin lalu.
Sampai pada adegan yang membuat kemarahan wakil kapten unit ketiga membabi-buta, waktu tiba-tiba Miyake menjuruskan lengan kirinya untuk merangkul pundak si RT-0001 ini. Tertawa lepas, seolah mereka berdualah yang menjadi tokoh utama dalam perayaan anniversary tersebut. Akan tetapi, dia tidak sebodoh itu untuk melemparkan isi gelas wine pada objek-objek bernyawa di hadapan mata eggplant-nya.
“Besok aku akan pergi dengan Kafka. Hanya berdua, ke pemandian air panas.” Bohong, kalimat tersebut hanya sebatas untuk menarik atensi kekasihnya yang telanjur buyar. Dipikirnya, bisa jadi kapten divisi satu ini akan langsung melarang setelah mendengarnya menyebut-nyebut nama orang yang pernah menarik (sedikit) fokus Hoshina, bahkan sampai terdengar rumor mereka memiliki hubungan serius diam-diam. Well, gosip konyol itu sukses menarik perhatian Narumi dulu, bikin mereka dalam situasi canggung, tapi akhirnya sukses meresmikan status sebagai pacar.
Akan tetapi, prediksinya meleset jauh. Sesaat dia memang menerima seluruh perhatian Narumi Gen, pemuda yang bersangkutan menatapnya tajam, lalu kemudian menganggukkan kepala sebagai isyarat atas rasa tidak keberatan – mengizinkan tanpa banyak tanya. Bebas dari bantahan atau bentakan melarang, hal itu dianggap Hoshina Soushirou sebagai pengabaian.
Semenit setelah Miyake meninggalkan sepasang kekasih itu, mendadak laki-laki beriris tanzanit ini ikut melangkah pergi. Tanpa mengucapkan satu kata apa pun, dia juga enggan menghiraukan sang kekasih yang berusaha mencoba menghentikan laju langkah kakinya. Hingga tiba di kediaman mereka, Hoshina langsung membeberkan seluruh isi dalam benaknya. Dan sukses membuat amarah serta kekesalan Narumi memuncak sampai pada batas kesabaran, membuatnya spontan melemparkan sebuah keramik cantik ke sembarang tempat.
“Kau bahkan tidak peduli saat aku bilang akan pergi dengan Kafka,” Soushirou masih menyudutkan.
“Astaga! Memangnya kau ingin aku bagaimana, hah?!”
Sekali lagi, keadaan hening mendominasi. Memang harus menjadi significant other-nya dulu agar mengetahui sifat (buruk) Soushirou yang gengsi menerangkan perasaan sebenarnya, maupun apa yang dia kehendaki terhadap orang lain – tak peduli mau itu pacarnya sendiri. Narumi tetap menunggu jawaban yang belum juga datang, dua-tiga kali menegaskan, kalau dirinya membutuhkan respons verbal dengan mengulang pertanyaan yang hampir serupa. “Kau mau aku bagaimana menanggapinya?”
Masih gagal menerima perlakuan sebanding, Narumi menggelengkan kepala pelan, lalu beranjak dari tempatnya semula. Menjauhi kemungkinan terburuk yang bakal terjadi – entah ia yang mengambil benda tajam untuk menyakiti dirinya sendiri, atau malah melukai sang kekasih. Mendudukan tubuhnya di depan kulkas seusai mengambil sekaleng soft drink, meneguk minuman berkarbonasi tersebut, sembari berupaya keras meregulasi emosi yang tidak beraturan – berhasil berantakan.
Siapa saja pasti akan menduga, kalau sosok Narumi merupakan tipe pendominasi – egois, childish, self-centered, si sadokis. Jenis manusia yang menginginkan apa pun sesuai dengan kemauan dirinya, serta sangat sulit mentolerir sebuah penolakan. Termasuk dalam hubungan percintaan, secara terang-terangan, komandan unit pertama ini dianggap sebagai insan yang posesif dan obsesif. Semua itu bukanlah penilaian seenaknya, sebab pembawaan diri yang dimiliki seseorang sering kali dianggap sebagai potret kehidupan nyata mereka.
Mudah terbakar cemburu dan akan secara gamblang mengungkapkan perasaan, bahkan mungkin dapat disertai dengan serangan mental maupun fisik. Sementara Soushirou, adalah semua kebalikan dari sisi kelam tersebut – penyabar, penyayang, tipikal masokis. Yaa, banyak yang menganggap mereka serasi karena saling melengkapi. Pertanyaan mengenai apa yang membuat lelaki bermata tanzanit ini mampu bertahan menghadapi semua sikap menyebalkan Narumi, benar-benar telah menjadi lelucon kuno.
Orang lain hanya tahu hal yang terlihat, bukan sesuatu yang tersembunyi rapat-rapat.
Mungkin betul apa yang mereka bilang, bahwa tidak semua yang kamu dengar itu benar.
Kendati realita yang ada, tak terhitung sudah berapa banyak sang Number-01 itu harus berusaha menenangkan diri lantaran badai kekesalan yang berkecamuk akibat kecemburuan irasional Hoshina. Cukup sering dia berpikir untuk mengakhiri hubungan yang memang jauh dari kata kondusif ini, tapi sayang, tatapan mata ungu gelap yang disertai senyum manis wakil kapten divisi ketiga selalu sukses memutarbalikkan manifestasi lisan dalam otak.
Sunyi senyap di detik itu juga, seketika dia akan diam tanpa kata. Semacam ada entitas yang mampu menaklukan apa saja, lagi dan lagi si RT-0001 yang dikenal kalangan luas atas kekuatan luar biasa nan menakjubkan sebagai prajurit terkuat JAKDF, menjadi tidak berdaya. Seperti saat ini, Narumi rupanya masih belum mampu menetralisir rasa keki. Laki-laki yang bersangkutan pun memasuki kamar tidurnya dengan Soushirou, lalu mengambil koper beserta beberapa lembar pakaian dari dalam lemari baju.
Cukup sudah, membiarkan masalah reda sendiri dengan menghindar mungkin pilihan yang benar. Belum sempat ia mengambil langkah pertama, Soushirou mendekat dan memeluknya erat. Tanpa ucapan maaf, tidak ada kata-kata yang memintanya untuk tetap tinggal. Sebuah kecupan yang mendarat di bibirnya disertai kalimat, “apa kau tahu, aku hanya terlalu takut kehilanganmu?” berhasil meruntuhkan segala keinginan Narumi untuk pergi ke markas utama.
Dia kalah, lagi, untuk ke sekian kali. Barangkali, ini akan terus terulang hingga Narumi Gen mati.
Narumi bergerak, membuat sosok yang tadi merengkuhnya terjatuh ke kasur. Spontan memposisikan tubuhnya di atas badan lelaki yang sedikit lebih pendek darinya itu, meletakkan tangan kanan menangkup sisi kepala Hoshina, dan yang kiri bermain manja mengelus pipi kekasihnya. Tersenyum singkat sesaat, lalu menyembunyikan seluruh bagian wajahnya pada perbelahan leher wakil kapten divisi ketiga. Hanya begitu, sampai ia terlelap dan melupakan peristiwa (bodoh) yang telah terjadi tadi.
Hal yang harus dicatat. Narumi tidak selamanya egois; Hoshina bukan orang yang selalu mengalah.
Sekarang, setelah mengetahui fakta sebenarnya, masihkah kalian berpikiran demikian?
Finish
