Work Text:
Akira bingung. Kenapa di saat dia ingin mengakhiri hidupnya, ada saja sesuatu yang datang?
Entah hidupnya memang sial, atau kalau Tuhan memang benar-benar ada, mungkin ia sedang mengutuk Akira dengan keberadaan manusia-manusia di sekitarnya? Karena di pikirannya, kalau kamu dikelilingi banyak orang, kamu pasti ingin hidup lebih lama lagi.
“Hai, Akira. Gue Goro Akechi dari kelas 11-A, gue udah lama merhatiin lo dan bisa dibilang I’m quite fond of you. Mau kenalan lebih dekat?”
Di depan gerbang SMAN 01 Jakarta Selatan, Akira Kurusu yang baru saja keluar disapa oleh anak laki-laki sepantarannya. Tingginya sejajar---paling lebih pendek barang satu-dua senti dengan Akira. Wajah manis dengan netra merah karat mengilat menyipit sebab kedua ujung bibirnya tertarik ke atas---ia menyapa Akira dengan senyum ramah. Rambut coklatnya yang menjuntai hingga leher terlihat lembut dan manis untuk membingkai parasnya. Tangan kanannya terjulur ke depan, menunggu untuk disambut oleh si rambut hitam berkacamata.
“Anak osis, kan? Salam kenal juga, Goro.” Ucap Akira dengan senyum, mencari topik basa-basi, sambil menyambut juluran tangan Goro.
Goro memasang wajah terkejut karena balasan Akira, “Wah, kok bisa tahu? Gue nggak nyangka kalau lo tahu banyak tentang anak osis juga.”
Akira berpikir sebentar sebab dia sebetulnya asal menebak. Karena tidak ingin terlihat bodoh dan mengecewakan lawan bicara, ia menjawab seadanya—sambil mengingat kalau-kalau kakak kelasnya kenalannya ada juga yang ikut kegiatan OSIS, “Sering lihat kalau mau lewat ke ruang musik, biasanya ada lo sama kak Makoto kan di sana. Gue kenal kak Makoto karena kakaknya.”
“Serius? Gue juga kenal kak Makoto dari kak Sae, kami pernah ketemu beberapa kali di pengadilan. Nggak nyangka ternyata dunia sesempit itu, ya…”
Obrolan mereka berlanjut ditemani guguran daun yang terbawa angin, mereka bertukar kontak, saling melempar ucapan ‘sampai besok lagi’, lalu berpisah dan berjalan pergi.
Akira menatap ponselnya, mengecek satu dua aplikasi lalu membuka aplikasi memo.
27 November 20XX, mati menyusul ayah dan ibu. Tertunda lagi.
Bisa jadi Tuhan itu benar adanya, dan Ia ingin Akira hidup lebih lama lagi.
Mungkin menahan diri sebentar lagi tidak seburuk itu. Toh, bisa jadi kenang-kenangan untuk dibawa ke dunia antah-berantah nanti.
2 bulan berlalu dan kini Goro Akechi adalah dunianya.
Akira akan selalu mengingat percakapan mereka saat menunggu di halte transjakarta. Keduanya duduk bersampingan di halte menunggu bus sekolah pagi yang akan mengangkut mereka. Di kursi tunggu, mereka berbagi cerita dan saling mendengarkan. Suara Goro cantik sekali kalau sedang berbicara, ia seperti anak kecil yang bersemangat untuk menceritakan banyak hal yang ia lihat. Saat bus datang, Akira menuntun tangan Goro untuk naik tangga kecil seolah takut ia jatuh dan pecah berkeping-keping, lalu mereka duduk di kursi bersebelahan. Kadang dua-duanya tertidur, kadang pula berbagi earphone kabel untuk mendengarkan musik bersama. Kalau dilihat dari tracker sportify, lagu Our Love is God-lah yang paling sering mereka putar. Akira bersenandung, Goro bertepuk tangan mengikuti tempo dan mereka menciptakan orkestra kecil-kecilan. Akira suka saat Goro tak sengaja terlelap karena wajah tidurnya sangat manis saat dipandang---dia memang selalu manis, tidak ada duanya di dunia ini. Kalau mereka berdua tidak dapat tempat duduk, mereka akan berbagi pegangan yang sama dan Akira akan selalu memastikan agar Goro tidak terantuk apapun saat supir bus melancarkan rem dadakan. Kadang pula salah satu di antara mereka yang tidak dapat tempat duduk. Akira tidak masalah membagi duduknya untuk Goro, namun Goro sering menolak kalau bukan di posisi genting. Yah, dua-duanya tidak masalah, sih. Dari atas maupun dari bawah, ia tetap bisa melihat wajah indah Goro yang menatapnya dengan teduh.
Akira tidak sadar kalau tujuan hidupnya kali ini berubah menjadi Goro Akechi. Ia adalah dunianya, ia adalah segalanya.
Musim penghujan pun akhirnya tiba. Langit mendung datang setiap hari menyapa kota Jakarta. Memaksa para manusia untuk menambah beban tasnya dengan sebuah payung---yang ironisnya, untuk melindungi mereka dari berkah Tuhan yang jatuh dari langit.
Namun Akira dan Goro tidak peduli akan hal itu. Persetan dengan penyakit dan berkah Tuhan. Mereka selalu berlari bersama di bawah hujan. Tas ditinggalkan di kelas kalau langit sudah mulai mendung dan mereka kembali bersama ke rumah Akira. Saling mengeringkan dan menghangatkan diri. Akira sangat suka kalau Goro mengeringkan rambut Akira dengan handuk, sentuhannya lembut dan penuh kasih sayang. Lalu ia dimasakkan sup atau kadang mereka makan mie instan bersama. Semuanya keajaiban dan kebahagiaan ini terjadi karena Goro ada di rumahnya. Tidak salah lagi, Goro memang karunia Tuhan yang diturunkan di hari keputusasaannya.
Ada hari di mana mereka tidak berlari, namun berjalan pelan sambil membiarkan hujan mengguyur tubuh mereka. Suara ditinggikan karena beradu dengan ribuan dentum air yang menyapa bumi. Pada saat itulah Akira menggenggam tangan Goro yang dingin sebab terpapar air. Atau kadang pula mereka mendekatkan wajahnya dan menyapukan jejak di bibir masing-masing. Detilnya itu rahasia. Hanya Tuhan dan hujan yang tau tempat dan waktu di mana mereka melakukannya.
Goro tidak boleh pergi dari hidupnya.
Manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhannya, dan Tuhan Akira adalah Goro Akechi.
Maka ketika Goro dengan sengaja melintasi jalan yang penuh dengan kendaraan berkecepatan tinggi, Akira berlari dan menariknya. Ia tau sejak awal ia dan Goro memiliki satu kesamaan---memanfaatkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Hanya saja mereka diam, mereka tidak mau keegoisan mereka diperlihatkan. Goro ingin mati, Akira ingin Goro tetap hidup. Tuhan mengutuk manusia dan keegoisannya dengan memberikan kutukan berbalut kata anugrah yang disebut dengan ‘cinta’.
“Kenapa kayak begitu, Goro? Kamu mau mati ninggalin aku?” Akira merutuki dirinya yang tidak bisa menyembunyikan parau dari nada suaranya. Sedangkan Goro hanya menatap kosong mata Akira sambil tersenyum pedih.
Mata dapat bertemu dengan mata, akal dan logika dapat mengerti satu sama lain, namun tidak dengan hati.
“Aku mau lihat seberapa besar cinta kamu buat ngebiarin aku mati, Akira.”
Goro tidak pernah cerita soal apapun yang terjadi pada hidupnya, jadi Akira tidak pernah tahu-menahu tentang dirinya kecuali ia adalah piatu dengan ayah yang sibuk bekerja.
Yang Goro lakukan ketika bertemu dirinya adalah tersenyum, tertawa, memastikan Akira baik-baik saja, merawat Akira dengan penuh kasih sayang, kadang mencium pipi dan bibirnya, kadang berperilaku manja seperti putri istana, kadang menjadi pemarah ketika Akira menggodanya, kadang berkomentar super tajam yang berkebalikan seratus persen dari topeng yang ia pasang sehari-hari.
Apapun itu, Akira tetap suka. Karena itu Goro. Akira sangat mencintai Goro, ia rela memberikan seluruh jiwa dan dunia padanya.
Namun Akira tidak tahu apakah cinta Goro juga sebesar itu untuk tetap bertahan dan hidup di dunia bersama Akira untuk waktu yang lebih lama.
Dalam bak mandi kecil dan cahaya remang, Akira dan Goro duduk berhadapan. Masih memakai seragam, masih lengkap dengan dasi walau semuanya kusut berantakan. Akira bingung. Goro terdiam.
“Goro, kenapa tadi cium aku depan ruang guru?"
Kejadian tak terduga hari ini: Goro menciumnya di depan ruang guru dan dilihat oleh seluruh orang di koridor, berakhir dengan hukuman skors karena telah melakukan hal 'tabu' dan 'menyimpang' di mata masyarakat. Goro masih menunduk sambil memeluk kedua kaki yang ia lipat ke depan dadanya.
"Sayang, aku nggak marah, asal kamu masih terus sama aku, aku nggak peduli sama omongan orang yang lihat. Asal kamu kasih tau alasannya, itu juga udah cukup buat aku."
“…”
“Goro, aku nggak tahu harus gimana kalau kamu diam aja. Tolong kasih tahu aku, apa yang sebenarnya kamu pikirin selama ini?”
"Aku mau kamu benci aku sampai mau lihat aku mati."
Goro menjawabnya dengan senyum kecil sambil meraih kedua tangan Akira dan meletakkannya di batang leher Goro. Sepuluh jari milik Goro Akechi mencengkram telapak tangan Akira Kurusu yang menatapnya kebingungan.
"Kenapa kamu masih suka aku setelah tau aku bohong kalau aku merhatiin kamu dari dulu??? Kenapa kamu bikin aku nyaman dan ngasih aku banyak cinta dan pengalaman yang belum pernah aku rasain di hidup ini??? Aku lebih milih kamu benci aku sampai kamu mau muntah lihat aku daripada kamu sayang-sayang aku kayak gini!!!"
Ucapannya diiringi amarah, kepedihan, keputusasaan, kesengsaraan, kontradiksi dan kebohongan—terkhusus di kalimat terakhir yang ia lontarkan.
Mereka berdua sama-sama menikmati, namun mereka berdua pun sama takutnya untuk jatuh lebih dalam lagi.
“Bunuh aku, Akira. Sekarang. Cekik sampai aku mati."
Mata Akira membelalak, tangannya memberontak hebat dan kepalanya dipenuhi dengan kabut. Bagaimana bisa seseorang yang ia cintai begitu besar berkata seperti itu padanya? Apa yang kurang darinya? Apa yang belum ia beri untuknya? Kenapa Goro masih belum bisa bertahan hidup dengan seluruh cinta yang Akira beri padanya?
Tanpa sadar, tangannya dengan ringan menampar pipi Goro hingga ujung bibirnya berdarah. Amarah, sedih, kecewa, semua terkumpul pada telapak tangan kirinya yang kini membekas merah.
“Bangsat, nggak usah datang ke hidup gue kalo ujung-ujungnya lo sepengen itu ninggalin gue.”
Ya, benar. Itulah yang ingin Goro Akechi dengar dari Akira Kurusu.
Mereka masih belia, mereka tidak bisa mengatasinya sebab ini semua sama-sama hal yang baru untuk mereka.
Sebab, baru kali ini Akira merasa sangat menginginkan. Baru kali ini Goro merasa sangat diinginkan.
Baru kali ini keduanya merasakan sakit yang teramat besar.
Akira bangkit dan pergi, meninggalkan Goro yang masih menunduk di bawah remang lampu kamar mandi.
Seolah kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi, Akira kembali ke kamar mandi dengan niat meminta maaf atas ucapan kasar yang ia lontarkan, hanya untuk melihat bak mandi berlumur darah yang mengucur dari leher Goro dan cutter yang terapung di atasnya.
Goro Akechi bunuh diri tanpa meninggalkan pesan terakhir untuk Akira, disusul dengan kematian Akira 2 bulan kemudian yang masih tidak diketahui alasannya.
Namun yang diajarkan turun temurun oleh nenek moyang hingga cucu cicitnya, seorang manusia tidak akan bisa hidup tanpa keberadaan Tuhannya.
