Work Text:
Tak pernah terbersit dalam pikiran Gallagher bahwa dia dapat merasakan rupa-rupa air; tapi di sinilah dia.
Kamar mandi pada Ryokan yang mereka sewa cukup luas; dengan lantai kayu, bathub kotak yang besar (muat untuk dua orang, hati Gallagher berhenti berdetak sesaat), pancuran air yang terlihat mahal namun tetap mempertahankan tradisi lokal, serta wastafel dengan cermin besar.
Cermin yang memantulkan potretnya sendiri—memiliki cerkas mata mengantuk yang sama, hidung tinggi yang sama, bibir yang terkatup rapat, serta rahang yang mulus tanpa anak-anak janggut. Sengaja dicukur pagi buta tadi, untuk berpantas-pantas.
Terlihat sama, tidak ada yang berubah. Sampai Gallagher membasuh wajahnya sekali lagi. Tangan menguncup, menangkup air yang beriak-riak dalam genggamannya. Diraupkannya air itu ke dalam rupanya, mengaliri dahi, pelipis, turun ke pipi dan menetes pada ujung dagu. Beberapa butir lolos—menetes pada jejari yang kesembilannya telanjang, kecuali jari manisnya.
Cahaya lampu memantul pada jari manis Gallagher. Potretnya di dalam cermin menatap balik padanya—sebuah cincin yang sebelumnya tidak ada hinggap di sana. Silver, dengan mata kecil berwarna rubi.
Warna yang sama seperti mata pasangannya. Cincin pernikahannya.
Gallagher merasakan hatinya berdetak lebih cepat. Dia terbatuk sedikit.
Sebuah ketukan pelan.
“Gallagher-san?”
Suara dari luar kamar mandi merangsek masuk ke rungunya. Berlekuk, penuh kekhawatiran. Gallagher membatu sesaat.
“Kamu tidak apa-apa di dalam sana? Sudah sejam …”
Karena sungguh—walaupun baru pagi tadi dia mengucap sumpah dan mengikrarkan pernikahan mereka, Gallagher tidak–belum, demi tuhan–siap bertemuka dengan Yon di luar sana.
Yon, kekasihnya.
Istrinya, sekarang, mungkin berkerut memikirkan mengapa Gallagher begitu lama di kamar mandi. Tak penting.
Istrinya.
Gallagher mengeluarkan suara yang dalam dan menutup wajahnya. Yon memberikan lebih banyak gelombang emosi padanya hari ini dibandingkan apa yang dunia telah berikan padanya.
“Tidak apa-apa,” vokal itu akhirnya keluar setelah Gallagher menarik napas panjang. “Cuma butuh waktu sebentar.”
Gallagher bisa merasakan Yon menelengkan wajahnya di luar sana. Kebiasaan kecilnya ketika tidak yakin. “Kamu tidak…, Gallagher-san tidak sakit perut kan?”
Dibilang seperti itu, perut Gallagher jadi bereaksi. Tapi tidak, ini bukan tentang salah makan atau reaksi asam. Ini masalah romansa. Perutnya penuh kupu-kupu dan Gallagher tidak tahu dia harus minum obat apa.
“Tidak, tidak sakit perut,” Gallagher mencoba menepuk-nepuk dadanya yang berdebar. “Tunggu sebentar Yon, aku perlu–eh, merapikan wastafel sebentar.”
Suara langkah kaki yang terseret, dan kikikan geli yang semakin menjauh. Gallagher berdeham, menghela napas.
Ia mengambil yukata-nya yang digantungkan di belakang pintu, memasukkan kedua tangannya dan mengeratkan koshishimo pada pinggangnya. Berwarna abu-abu muda, netral. Membuatnya merasa telanjang—bukan dalam konteks seksual—karena itu berarti Yon dapat melihat semua mimik wajah dan gestur tubuhnya tanpa penutup apa-apa. Gallagher berharap yukata-nya memiliki motif yang dapat mendistraksi gadis itu. ‘Lihat kelinci ini? Dia mencoba merebut wortel dalam cat celup di atas bokongku’ dan Yon akan tertawa. Jadi sang putri tidak harus melihat wajah Gallagher yang gugup setengah mati dan dipenuhi keringat pada malam pernikahan mereka.
Angan hanyalah angan.
Gallagher memutar gerendel pintu, dan menariknya terbuka.
Cahaya lampu yang hangat menerangi ruangan. Ryokan yang mereka pilih sepaket dengan acara pernikahan mereka. Futon telah digelar, dipenuhi kelopak mawar yang dibentuk seperti hati. Tatami di bawah kakinya terasa empuk dan enak dipijak. Terdengar suara percikan air lagi—shoji yang mengarah ke taman di beranda dibuka setengah, memberikan angin sejuk yang menggerakkan rambutnya dan berhembus di wajah. Aroma pertrikor menggantung di udara, bersamaan dengan wangi samar parfum Yon yang berbau manis kembang gula.
Di sana, di tengah ruangan, pada meja zataku yang rendah dan lebar, sang putri tengah menata makan malam.
Shiromuku yang sebelumnya membungkus Yon di acara pernikahan mereka telah tanggal, digantikan Yukata berwarna biru malam, dengan bunga-bunga dan serbuk bintang. Rambutnya yang pirang jatuh seperti air terjun di punggungnya. Bibirnya dipulas dengan pewarna yang lembut, tertarik di kedua sisi ketika ia cekatan menata ikan dan sup miso. Riasannya ringan, jauh lebih ringan dari yang biasa dipakainya. Namun bagi Gallagher, Yon yang berada beberapa meter darinya merupakan versi tercantik yang pernah ia lihat. Seolah Dewi Bulan sendiri menghadiahi anak gadisnya yang paling jelita untuk Gallagher seorang.
Yon mengangkat wajahnya, tersenyum pada Gallagher yang membeku di tempat.
“Kemarilah, Gallagher-san,” jemarinya melambai, mengundang Gallagher untuk mendekat. “Makanannya masih hangat, mereka menyiapkannya dengan baik.”
Yon duduk pada Zaisu, menunggu Gallagher untuk duduk di hadapannya. Gallagher melangkah lamat-lamat, menarik kursi rendah tersebut; duduk berhadapan dengan sang gadis dengan mata tertunduk dan senyum rikuh.
Makanan yang terhidang di meja sangat mewah. Ikan panggang dan sashimi, shoyu dalam cawan dan wasabi, teh hijau dengan nasi yang masih mengepul, semangkuk kecil soba, serta sup miso dan dua-tiga botol arak. Hidangan penutupnya berupa macam-macam varian wagashi yang cantik; menandakan empat musim yang akan mereka lewati sebagai pasangan resmi.
Yon menghidangkan semangkuk nasi di hadapannya; tangannya cekatan menyendok sup dan mempreteli daging ikan dengan sumpit. Cincin pada jari manisnya yang lentik mengilap memantulkan lampu—saudara kembarnya ada pada jemari Gallagher sendiri.
“... begitu cantik.”
Yon berhenti sesaat.
“Hm?”
“Kau…,” Gallagher mengangkat wajahnya “.. begitu cantik, Yon. Maafkan aku, tapi aku hampir lupa caranya bernapas.”
Sang gadis terkekeh, menuangkan teh hijau pada cangkir Gallagher yang kosong. “Apakah itu alasan kamu berlama-lama di kamar mandi?”
“Ya. Aku takut keluar.”
“Takut melihatku?”
“Jangan meledekku, aku mempersiapkan hati!”
Kali ini, Yon tergelak. Gallagher tersenyum melihat Yon tertawa lepas dengan mulut terbuka, memaksa kedua netra untuk menyipit seperti bulan sabit. Namun, Gallagher melihat semburat merah pada pipi dan telinganya. Yon tengah menutupi malu.
Mereka menepukkan tangan, berterimakasih pada Dewa, dan mengucap ‘selamat makan’.
Gallagher mengambil sushi dan menelannya seperti minum air.
“Enak?” Yon tersenyum.
“Mmn, enak,” Gallagher mengangguk. “Makan malam pertama kita sebagai suami-istri. Tentu saja enak.”
Yon membelah ikan dengan sumpit. Gerakannya kikuk, lantaran daging yang lembut itu terus-terusan terjatuh dari ujungnya.
“Jangan berkata seperti itu…,” ucapnya.
“Kenapa?”
“Kamu membuatku malu.”
Gallagher mengangguk, menyeringai simpul. “Aku bisa melihatnya.”
“Gallagher-san!”
Gallagher mengangkat tangan, tertawa. “Maksudku, itu hal yang normal, oke? Kau punya semua hak untuk merasa malu, Yon. Apalagi ketika aku berada di hadapanmu seperti ini.”
Dengusan. Yon mengunyah segumpal nasi seperti tupai dengan pipi menggembung. Gallagher menahan diri untuk tidakmencubit pipinya. “Kamu terlalu percaya diri. Bukan aku yang salah memakaikan cincin ketika upacara pernikahan tadi.”
“Aku gugup, itu wajar!”
“Tentu, lalu memakaikan cincin pada jari tengahku alih-alih pada jari manis.”
“Jari-jarimu sangat cantik. Aku ingin memakaikan sesuatu di setiap lentiknya.”
Yon memberikannya tatapan kesal. Namun wajahnya sudah amat memerah. Gallagher, yang melihatnya tersipu dengan begitu indahnya, ikut merasakan panas merangkak naik pada daun telinganya sendiri.
Upacara pernikahan mereka baru saja lewat beberapa jam, namun keduanya masih merasakan gelenyar yang sama. Sejak semalam hingga pagi buta, hujan deras tumpah di seluruh kota. Mengguyur setiap bangunan, setiap dahan dan ranting serta kuil tempat upacara pernikahan mereka dilangsungkan.
Sejak semalam pula Yon gelisah, mondar-mandir dengan tangan terkepal dan mata yang memancang tajam pada langit. Mengutuk setiap tetes air yang jatuh untuk kembali ke asalnya. Lantaran sungguh, ada begitu banyak dari dirinya yang telah direnggut oleh hari hujan.
Tidak kali ini, tidak pernikahannya.
‘Kembalilah, demi Tuhan. Hari ini aku akan menikah, jangan merusak segalanya’.
Gallagher, yang melihat sang gadis gemetar dan hampir-hampir tersentak tiap detiknya—menggenggam tangannya dan menenangkannya. Berkata lamat-lamat bahwa ‘aku akan menikahimu bahkan ketika tanah terbelah, Yon. Tidak ada yang akan menghentikan kita’. Jika bukan karena pantangan, Gallagher akan menciumnya saat itu juga. Merengkuhnya erat, membuatnya lupa akan trauma yang dimilikinya.
Gallagher ingin melindunginya dari apapun, lantaran Yon selalu memiliki cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik dalam pandangannya.
Itulah mengapa, mungkin dewa-dewi luluh akan bujukan sang putri. Pukul delapan tepat, hujan mereda. Embun pagi dan sisa air hujan pada daun pepohonan membiaskan sinar matahari. Kubangan memercik ketika dilangkahi, bayangan yang terpantul di atasnya menampilkan Yon dalam shiromuku putih bersih dan penutup kepala berjalan menuju kuil dengan arak-arakan. Dengan anggun menjemput takdir yang ditawarkan Gallagher, kikuk dalam balutan montsuki hitam, menunggu di altar. Pasangan kekasih, siap mengucap ikrar di hadapan langit.
Terlepas dari Gallagher yang sering berdeham untuk mengusir kemelut, serta Yon yang sering tersandung-sandung pakaiannya sendiri; pernikahan mereka berlangsung dengan begitu lancar. Mereka mengucapkan sumpah yang telah dihapalkan. Suara Gallagher sedikit bergetar, namun ia berhasil melewati itu. Sake yang dituang dalam cangkir pada San-San Kudo terasa sedikit pahit pada lidahnya, namun memiliki ujung yang manis lantaran setiap teguk memperkuat hubungan mereka.
Pertukaran cincin, membukuk hormat pada pendeta dan para miiko, pada dewa, dan kepada satu sama lain.
Pada hari ke-dua belas di bulan Juni, Gallagher dan Yon adalah sepasang suami istri.
Ketika Yon ingin menuang teh pada cangkirnya yang sudah habis, Gallagher buru-buru menghentikannya.
“Biar aku saja,” katanya. Yon tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam dalam diam.
“Kupikir ini semua hanyalah mimpi, kamu tahu?” Yon menyingkirkan piring-piring yang kosong, mengambil wagashi dengan bentuk bunga sakura. “Aku tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang mau bersamaku seumur hidupku. Aku.”
Hati Gallagher mencelos. “Mengapa begitu?”
Yon menatapnya. “Seumur hidup adalah waktu yang lama,” katanya lirih. “Aku tidak tahu apakah aku cukup menarik untuk hal itu.”
Gallagher menghentikan kunyahannya. Gadis ini, sang putri ini, yang membiarkannya bersandar pada bahunya ketika hari sedang sulit. Yang membelai wajahnya ketika Gallagher gemetar dan marah pada takdir; meragukan dirinya sendiri.
“Kamu tidak hanya menarik. Aku pikir, kamu adalah cahaya itu sendiri,” ungkap Gallagher.
Manik rubi milik Yon menatapnya lekat-lekat. Mencari sesuatu. “Jangan berbohong.”
“Aku tidak berbohong. Aku bersungguh-sungguh. Aku merasa aku hilang selama ini, sampai akhirnya kamu melewati pintu bar dan menyapaku seperti kawan lama bertahun-tahun lalu. Aku, yang sampai saat itu tidak percaya cinta, serasa tertubruk perasaan merah muda dan kelopak-kelopak yang kamu tawarkan padaku, Yon. Kamulah yang membuatku merasa ingin hidup lebih lama.”
Gallagher menggenggam tangan sang putri, membelai punggung tangan yang berkali-kali menenangkannya. “Kalau kau merasa seumur hidup adalah waktu yang lama, dengarkan ini. Menurutku itu adalah waktu yang singkat, hampir-hampir kejam; karena aku ingin mencintaimu tanpa batas-batas fana, Yon. Aku ingin mencintaimu dalam kehidupan ini dan setiap kehidupan selanjutnya. Aku tidak peduli apapun yang kau katakan, karena aku akan mencarimu dan tetap memintamu untuk menikahimu, seperti sekarang.”
Pada mata rubi di hadannya, Gallagher mendapati genangan-genangan air yang siap tertumpah. Gallagher menyekanya dengan usapan ibu jari, dan Yon terkekeh.
“Padahal aku sudah bersumpah untuk tidak menangis pada hari pernikahanku,” Yon berucap geli, air matanya masih mengalir tetes demi tetes di wajahnya. “Setidaknya, kalau aku mau menangis, aku mengira aku akan menangis ketika mengucap sumpah. Ketika aku masih memakai wataboshi di kepalaku seperti pengantin pada umumnya. Bukan menangis jelek sambil mengunyah wagashi di hadapan suamiku yang sok romantis.”
Gallagher tertawa dalam. Jarinya menautkan selembar pirang Yon ke belakang telinganya. Menangkup wajahnya dan memasukkan keindahan visualnya ke dalam memori—mengingatnya seperti ini.
“Aku lebih memilih dirimu yang seperti ini. Begitu nyata, hanya untukku.”
Yon mengangguk. “Hanya untukmu.”
Gallagher menariknya mendekat. Yon membiarkan Gallagher merengkuhnya. Satu tangan di pinggang, yang lain masih menangkup wajahnya. Kedua mata dengan warna yang sama saling berpandang, penuh hidup, penuh cinta.
“Terimakasih sudah mau menikahiku, Yon,” napas Gallagher terasa hangat di wajah Yon. Yon menutup matanya. Kedua dahi mereka saling bersentuhan.
“Terimakasih sudah memilihku, Anata.”
Anata. Sayang.
Gallagher menciumnya lama. Begitu natural, seperti bernapas. Bibirnya terasa manis, entah dari wagashi—atau memang begitulah rasa Yon yang akan dia nikmati seterusnya.
Seumur hidup.
Selamanya.
