Actions

Work Header

Serupa Takdir, Serupa Kebetulan

Summary:

Terkadang, ketidak beruntungan membawa tuah lain.

Ieri berjalan sepulang kerja untuk mendinginkan kepala dan bertemu pria aneh di jembatan. Ia pikir dia orang edan, awalnya, sebelum Ieri memberikan nomornya dengan sukarela.

Notes:

Attempted humor yang sebenarnya absurd. Tapi aku benar-benar menikmati menulis isi kepala Ieri!

Work Text:

Ini musim panas. Puncak-puncaknya pula. Entah suasana kota yang panas karena orang-orang di kolongnya mulai menggila—atau mungkin sebaliknya; penduduk yang hiruk pikuk dan saling bersitegang ikut andil dalam gejolak mood Ieri sore ini.

Yang jelas, Hanemiya Ieri muntab luar biasa.

Gadis berambut teh susu itu menghentak-hentakkan loafers heels-nya yang baru dibeli mahal bulan lalu, hasil bonusnya melembur dua hari. Ia baru saja pulang dari kliniknya dengan wajah tertekuk siap untuk ribut; kemeja katunnya lumayan lengket di punggung lantaran ia sudah berjalan dengan ritme yang sama selama setengah jam. Tanpa arah, enggan untuk pulang.

Kiranya, apa pasal dokter muda dengan wajah jelita itu memasang raut begitu menyeramkan?

Penyebabnya adalah melon pan.

Melon pan yang luar biasa enak, renyah dan menggiurkan, buah terakhir dari batch yang diperebutkan orang-orang dan ditunggu Ieri selama hampir empat puluh lima menit dalam antrian yang super duper panjang.

Melon pan yang masih panas-panasnya dan siap untuk dimakan, setengah jalan menuju bibir bergincu Ieri, lantas tersenggol bocah dan terlempar mengenaskan di trotoar. Menjadi rezeki nomplok bagi para semut penghuni selokan. Mereka pesta pora. Ieri meratap menyedihkan.

Terisak-isak, Ieri menatap harap pada baker kesayangannya. “Bisakah kamu membuatkan satu lagi untukku? Bukankah toko ini masih beroperasi karena uangku?”

Sayang, pria duda berjambang dengan apron itu tak menghiraukan krisis Ieri dan menerima uang pelanggan lain dengan sumringah. Kontras.  

Ieri terkhianati mentah-mentah.

Peristiwa itu terjadi satu jam yang lalu. Ieri saat ini sampai di bagian lain dari Akatsuka—menenteng kaleng bir setengah kosong di tangan kirinya dan tas cantik di bahunya. Mencari pelarian.

Sungguh, sebenarnya Ieri bukanlah gadis yang suka melancong, kecuali jika diajak teman-teman sepantaran. Ia hampir tidak pernah menjelajahi jalan demi jalan di Akatsuka selain menuju apartemennya. Namun ia pernah membaca sekilas pada majalah di Family Mart, kalau berjalan dan menikmati pemandangan baru dapat menenangkan pikiran yang semrawut. Jadi ia mencobanya.

Ieri sengaja melewatkan jadwal bisnya dan mulai berjalan. Roknya berumbai mengikuti arah angin, sepatunya berkelotak stagnan, rambutnya yang ditata cantik setiap pagi dan dikepang menjauhi mata hazelnya mulai melekat karena keringat.

Berjalan-jalan memang membantu pikirannya untuk tidak saling tumpang tindih. Namun kali ini mereka terbagi-bagi ke dalam emosi-emosi yang masuk akal, yang sayangnya, kesemuanya itu menambah kejengkelan Ieri pada insiden Melon Pan tempo waktu.

Kaleng bir di tangannya teremas pilu ketika Ieri sampai pada salah satu sisi jembatan. Jembatan itu menghubungkan kedua jalan yang dipisahkan oleh sungai jernih dengan koi-koi yang berenang deras. Di ujung sana, Ieri sama sekali tidak mengenali pemukimannya, tetapi kompleksnya terlihat begitu hangat. Dibandingkan dengan lingkungan Ieri—apartemen, perkantoran dan gedung-gedung tinggi—pemukiman di seberang jembatan yang dipenuhi toko kelontong sederhana dengan rumah-rumah kecil terlihat begitu nyaman.

Ieri melangkah lagi, berniat menikmati matahari terbenam di jembatan. Sebelum matanya menangkap seseorang.

Pria itu berjalan dari sisi jembatan yang lain, hidung terangkat tinggi dengan dada membusung. Kacamata hitam gaya bertengger di atasnya, yang ditatap Ieri dengan skeptis lantaran tidak ada alasan bagi seseorang untuk memakai kacamata hitam di sore jingga hari itu—kecuali memang untuk fashion.

Omong-omong soal fashion, padanan pakaiannya juga begitu mencolok; celana jeans, jaket kulit hitam yang biasa dipakai pengendara motor dengan parfum semerbak yang dibenci Ieri, dan model rambut two-block. Tidak spesial. Hampir 80% penduduk Jepang memiliki gaya rambut seperti itu. Begitu juga dengan wajahnya

Yang spesial—atau mungkin aneh darinya—adalah pandangan pria itu yang seakan menatap Ieri.

Ieri terus berjalan, begitu juga dengan pria aneh itu. Jarak diantara mereka menyempit, dan Ieri berusaha sekuat mungkin untuk membuang muka. Tetapi si kacamata gaya terus menatapnya. Ieri jengkel.

Mereka berpapasan. Ieri buru-buru membalikkan badan menghadap railing jembatan, berdoa pada siapa saja yang mau mendengar agar si pria itu terus berjalan saja.

Namun tentu saja, suara langkahnya berhenti. Ieri menahan maki di ujung lidah.

Lady.”

Ieri merinding.

Perlahan, mencoba memasang wajah datar, Ieri menoleh ke asal suara. Si kacamata gaya kali ini tersenyum simpul, menaik turunkan alis tebalnya. Ia berpose pada sisi lain railing jembatan, setengah bersandar, hidungnya kembang kempis.

“Kira-kira, hari apa ini?”

Ieri memicingkan mata padanya. Apakah pria ini bertanya padanya? Ieri begitu berharap ada orang lain, tapi mereka hanya berdua saja. Jadi tidak mungkin kalau dia berbicara sendiri, kecuali kalau dia memang edan.

“... Kamis?” Ieri menjawab ragu-ragu.

Non non,” Si Kacamata gaya menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan hidungnya. “Salah.”

Heh, salah?

“Ini adalah hari di mana aku bertemu seseorang yang sedang cantik-cantiknya.”

Buset!

Ieri tidak asing dengan gombalan. Bukannya menyombong, tapi ia sering mendapatkannya dari banyak pria. Dari yang dia kenal maupun samar-samar kenal; ketika nomikai atau jika ia sedang ingin minum sendirian di bar. Tapi gombalan yang begitu berani, tak tahu malu, dan cringe dari orang yang benar-benar asing baginya ini baru pertama kali ia dapatkan.

“Ah,” sudut bibir Ieri berkedut, bingung ingin menjawab apa.

Reaksi Ieri mungkin membuat pria itu tambah percaya diri, karena kali ini ia berputar dramatis. Dagunya makin terangkat, ia mengibaskan rambutnya yang berponi dan mengangkat kacamata hitamnya ke kepala, mengedipkan matanya genit.

“Ah, Karamatsu Girls, begitu mudah digoda. Apakah ketampananku membuatmu meleleh?”

Ieri menatapnya kosong, mengedip sekali. Dua kali.

“Siapa Karamatsu?”

Ieri bertanya seperti itu karena ia benar-benar bingung. Namun ketika ia melihat raut luar biasa puas pada wajah si pria, Ieri jadi menyesal karena memberinya pertanyaan yang mungkin sangat dia tunggu-tunggu.

Si pria menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. “Aku Karamatsu.”

Mungkin itu tentang bagaimana cara si pria mengenalkan dirinya, tapi Ieri tidak bisa menahan diri lagi.

Ia tertawa terbahak-bahak. Pertama kalinya di hari ini.

Tidak, bukan menertawakan Karamatsu, Ieri tidak sekejam itu. Ia hanya merasa seluruh situasi hari ini sungguh sangat absurd. Siapa yang tahu kalau ia yang bersungut-sungut karena melon pan sialan bisa bertemu orang unik di tempat antah berantah? Kesemua insiden yang terjadi hari ini seolah seperti takdir konyol yang membawa Ieri ke momen ini.

Benar-benar. Mungkin karena cahaya golden hour senja, atau mungkin karena udara yang hangat meniupkan angin pada rambut-rambut mereka. Tapi sungguh, Ieri merasa Karamatsu lumayan imut juga.

Ieri memberikan senyuman manis. Karamatsu yang mendengus-dengus sok tadi tiba-tiba melongo.

“Karamatsu, ya?” Ieri mengangguk, masih berjuang menahan geli. “Salam kenal. Hanemiya Ieri.”

Karamatsu tiba-tiba memucat.

“A-ah. Hanemiya-san.”

“Ieri saja,”

“Ieri.”

“Betul.”

“Ieri-chan.”

Ieri tertawa lagi. “Sudah memakai chan? Kalau begitu, Karamatsu-san boleh kupanggil Karamatsu-kun?”

Terdengar suara tercekat. Wajah Ieri sakit karena kini bibirnya tertarik lebar.

“Boleh, ah, boleh,” jawab Karamatsu terbata-bata. Entah karena cahayanya, namun pipinya saat ini merona.

Gemas sekali.

Entah dorongan dari mana, Ieri mengulurkan tangan. Karamatsu menatap telapaknya lekat-lekat.

“Karamatsu-kun, boleh pinjam ponsel?”

“Ponsel.”

“Betul.”

Karamatsu tertegun sesaat, tapi buru-buru mengail saku jeansnya. Ponsel model lama ditaruh di telapak tangan Ieri yang terbuka. Ieri cukup kaget masih ada orang yang memakai model ini, namun ia tetap mengetikkan nomornya di dalam.

Nomornya. Ieri heran sendiri mengapa ia mau memberi nomornya pada pria aneh nan ajaib ini, tapi pria ini memberinya varian perasaan baru yang tidak pernah ia rasakan.

Ieri mengembalikannya. Mengetuk-ketuk layar ponsel dengan kukunya yang baru saja dihias tempo hari.

“Karamatsu-kun bisa menghubungiku di sini, kalau mau.”

Karamatsu kali ini benar-benar mematung.

“Untuk … apa?”

Ieri menelengkan kepalanya. Rambut teh susunya tergerai cantik pada bahunya ketika ia melakukan itu. “Untuk apa? Yah, kalau-kalau Karamatsu-kun butuh teman mengobrol di suatu tempat, aku akan mengecek jadwalku.”

Tangan Karamatsu gemetar begitu hebat hingga ponsel itu hampir jatuh ke aspal. Ia buru-buru menangkapnya dan melesakkannya lagi ke dalam saku jeansnya. Ieri tertawa lagi.

“Hanemiya Ieri, ingat. Namaku. Atau kalau misalnya Karamatsu-kun mau memberi nama Karamatsu Girls, aku juga tidak keberatan kok!”

Yah, terkadang, satu kemalangan bisa berbuah menjadi keberuntungan atau kemalangan lain. Ieri tidak tahu momen ini ada di posisi yang mana. Ieri toh bukan cenayang.

Yang ia tahu pasti, ia sangat menanti-nantikan pertemuan mereka lagi. []

Series this work belongs to: