Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-14
Completed:
2026-02-16
Words:
29,748
Chapters:
11/11
Comments:
30
Kudos:
49
Bookmarks:
5
Hits:
652

somewhere in northern house

Summary:

Keikala tidak akan pernah tau kalau kalimat, "Dikasih tau berkali-kali juga kamu mana inget, sih. Kamu tuh gak akan inget apa-apa soal aku." sudah berkali-kali diucapkan oleh Kaikala untuknya.

Karena naasnya, Keikala memang tidak akan pernah ingat apa-apa soal Kaikala.

Tetapi untuk Hiro, kalimat itu akan selalu tersimpan di kepalanya. Kalimat Kaikala akan selalu tersimpan dengan baik di dalam benaknya. Meskipun Kaikala sudah tidak lagi mengucapkan kalimat itu, dan Keikala yang juga tidak pernah ingat apa-apa perihal kalimat itu.

Hanya Hiro yang akan terus hidup dengan semua sisa kemarin milik Kaikala.

Chapter 1: nine days before

Notes:

Juhoon as Naohiro Harudinata (Hiro)
Seonghyeon as Keikala Harudinata (Kei)
Keonho as Kaikala Harudinata (Kai)

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Desember mungkin salah satu bulan yang lebih sering disapa oleh hujan setiap harinya. Seperti sore ini, Hiro sedang mengemudikan mobilnya dengan hujan yang turun sangat deras mengguyur kota Jakarta.

Hiro melirik ke kursi penumpang sesekali, memperhatikan adiknya yang masih menatap ke arah jendela tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangan untuk menatapnya. Perjalanan menuju rumah sakit sore ini terasa sangat panjang, seolah Hiro mengambil jarak yang lebih jauh untuk sampai di sana. Padahal Hiro sudah sangat hafal dengan jalan menuju rumah sakit, dan perjalanan menuju rumah sakit tidak pernah terasa selama ini. Sepertinya karena Hiro belum mengucapkan apa-apa kepada adiknya yang sedang dalam fase transient amnesianya. Sehingga tidak ada obrolan apapun yang bisa terjadi di antara mereka saat ini.

Hiro memberhentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Dia kembali melirik adiknya, yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Pandangan mereka beradu, Hiro tersenyum tipis menyadari itu. Selalu ada perasaan tidak enak yang hinggap di diri Hiro setiap kali dia melihat ekspresi adiknya saat sedang dalam fase transient amnesia.

“Nama kamu Keikala.” ucap Hiro membuka pembicaraan. “Aku Naohiro. Kamu sama Kaikala manggil aku Kak Hiro.” lanjutnya.

Laki-laki yang lebih muda darinya itu masih setia mendengarkan. Tidak berniat menjawab ucapan Hiro sama sekali.

“Kita sekarang mau ke rumah sakit. Kita mau jenguk Kaikala dan jemput dia pulang.”

“Kaikala sakit?”

Selalu. Keikala hanya akan selalu menjawab ucapannya setiap kali nama Kaikala disebut dalam obrolan mereka.

Hiro mengangguk, “Kamu manggil dia Kai. Kita semua manggil dia Kai. Sama kayak kita manggil kamu, Kei.” jelasnya.

Kei, yang semula hanya menatap Hiro dengan ekspresi lurusnya, kini mengernyitkan dahinya.

“Nama aku sama Kaikala sama.” ujarnya pelan, hampir tidak dapat didengar oleh Hiro karena suara hujan yang jauh lebih keras.

Namun, percakapan ini sudah sering diulang oleh Hiro dan Kei. Sehingga jawaban Kei akan selalu tersimpan di kepala Hiro meskipun ucapan Kei barusan tidak didengar dengan jelas oleh Hiro.

“Kamu sama Kai kembar.” lanjut Hiro, “Kamu sama Kai banyak miripnya, nanti pasti pas ngeliat Kai kamu langsung kenal, deh. Karena kamu dan Kai banyak samanya.”

Kei memutar tubuhnya untuk sepenuhnya menghadap Hiro, “Apa aja yang sama?” tanyanya penasaran.

Lampu lalu lintas berganti warna hijau, membuat Hiro kembali memfokuskan pandangan ke jalanan. “Banyak samanya. Kamu sama Kai sama-sama bandel, susah dibilangin, suka bikin Kak Hiro dan Bunda pusing.” ledek Hiro, membuat adiknya itu merengut dan mengalihkan pandangannya lurus ke depan.

“Tapi Kai juga punya kesamaan sama Papa.” ucapan Hiro itu sukses menarik kembali atensi Kei. “Papa udah nggak sama kita. Kamu dan Kai nggak inget banyak tentang Papa karena Papa pergi pas kalian umur 2 tahun.” Hiro melirik adiknya yang saat ini masih setia menatap ke arahnya.

“Kayaknya Papa nggak pernah nyangka bakal ninggalin kalian di umur yang masih sekecil itu.” suara Hiro mengecil, seolah tidak berniat memberitahukan hal itu kepada adiknya. “Jadi Papa nurunin sakitnya ke Kai. Kai sakit yang sama kayak Papa dulu.”

Kei tidak mengerti dengan ucapan Hiro barusan dan Hiro juga tidak melanjutkan kalimatnya. Namun Kei masih setia memandangi Hiro yang kini sudah tidak melirik ke arahnya sama sekali. Hiro hanya menatap lurus ke jalanan di depannya. Hiro juga sudah tidak mengucapkan sepatah kalimat lagi sampai mereka sampai di parkiran rumah sakit.


Hiro dan Kei sedang duduk di lorong rumah sakit. Di depan mereka terdapat pintu berwarna putih yang cukup besar. Suasana di lorong ini juga terbilang sangat sibuk. Suara mesin EKG berbunyi dari segala arah, membuat Kei merasa tidak nyaman di kursinya.

Pandangan Kei hanya terfokus pada pintu putih besar di depannya. Hiro memperhatikan adiknya yang sepertinya tidak kedip sama sekali. Seperti sedang mengharapkan sesuatu akan muncul dari balik pintu itu.

Kei berdiri dari kursinya, membuat Hiro ikut mengadahkan kepalanya. “Aku mau lihat Kai.” ucapnya menatap Hiro. “Di mana Kai?”

Hiro menggenggam pergelangan tangan adiknya, membawa adiknya untuk kembali duduk.

“Nanti Kai keluar kok. Tunggu di sini aja sama Kakak.”

Kei masih tidak tenang, detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat karena rasa tidak sabar untuk bertemu Kai, ditambah kesibukan semua orang di lorong rumah sakit ini semakin membuatnya ikutan panik.

Hiro sudah terbiasa dengan apa yang dia lihat saat ini. Meskipun hari ini Kei belum bertemu Kai sebab Kai yang sudah berada di rumah sakit sejak pagi, dan Kei yang sedang dalam fase transient amnesianya membuat Kei juga tidak mengingat siapa itu Kai.

Tetapi perilaku adiknya ini selalu sama. Kei selalu bertingkah seolah dia tidak lupa sama sekali soal Kai setiap kali mereka di rumah sakit. Kei selalu gelisah, Kei selalu khawatir setiap mereka duduk dan menunggu Kai di lorong rumah sakit. Dan ujungnya juga selalu sama, Kei baru bisa tenang saat dia melihat Kai keluar dari pintu putih besar yang berada di depan mereka saat ini.

Di tengah Hiro yang masih memperhatikan Kei yang semakin gelisah, pintu di depan mereka terbuka. Kai keluar dari ruangan itu bersama dengan Bunda dan satu orang laki-laki yang mengenakan jas putih. Melihat itu Kei langsung bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Kai.

Kei belum bertemu Kai. Kei saat ini tidak mengenali Kai. Tapi Hiro selalu tau, kalau Kei akan langsung mengenali dan menghampiri Kai setiap kali Kai ada di sekitarnya.

Kei mungkin tidak mengenali Kai saat ini, tapi tubuhnya selalu bertindak lain, tubuh Kei mengenali Kai dengan baik sehingga saat dalam fase transient amnesia sekalipun, Kei akan selalu menghampiri Kai.

Kai akan selalu menjadi orang pertama yang dihampiri oleh Kei.

“Kamu sakit apa?”

Pertanyaan yang terucap berulang-ulang kali dari Kei setiap kali mereka berada di rumah sakit.

Kai melengos malas, dia berjalan melewati Kei dan mengacuhkan kembarannya itu yang masih menunjukkan ekspresi khawatir yang sangat jelas.

Tatapan itu selalu sama. Kekhawatiran yang Kei punya untuk Kai selalu sama. Hiro sudah sangat hafal dengan segala bentuk kekhawatiran yang Kei punya untuk Kai.

Tidak hanya dengan Kei, Hiro juga sudah sangat hafal dengan tatapan tidak nyaman milik Kai setiap kali dia harus menjelaskan kepada Kei tentang kondisinya.

Kei menyusul Kai dan menarik tangan kembarannya itu. “Kamu sakit apa? Ditanya kok diem aja. Gak jelas.” gerutu Kei.

Kai menepis tangan Kei, lalu melanjutkan jalannya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Hiro dan Bunda masih berdiri di tempatnya, tidak ada yang melangkah maju atau pun menghampiri si kembar. Kejadian ini sudah terjadi berulang-ulang kali. Sehingga Hiro, Bunda, dan Kai sekalipun, tidak bisa mengubah apa-apa selain mengulang kejadian ini. Namun sepertinya hari ini suasana hati Kai jauh lebih buruk dari biasanya.

Kei yang merasa kesal dengan pengabaian dari Kai, menarik baju Kai kasar sehingga membuat kembarannya itu menatap ke arahnya. Mereka berdua menatap satu sama lain dengan tatapan sebal.

“Lagi dipeduliin sama orang lain kok begitu sih.” ucap Kei, masih dengan menahan baju Kai. “Kalo dipeduliin tuh jangan sombong gitu lah. Aku nih khawatir.” Kei semakin menatap Kai dengan sebal karena laki-laki itu tidak memberikan reaksi apa-apa. “Aku tuh khawatir kamu paham gak? Tiba-tiba aku dikasih tau kalo kamu sakit, trus kita ke rumah sakit di ruangan yang sibuk dan semuanya keliatan repot, suara mesin mesinnya juga banyak. Aku khawatir sama kamu.” lanjutnya menggebu-gebu.

Kai mengalihkan pandangannya malas, dia menghela nafasnya mendengar semua penuturan Kei barusan.

Tentu saja. Kei selalu mengatakan itu. Kai sudah sering mendengar kalimat yang sama berkali-kali.

Tidak hanya Kai, Hiro juga sudah mendengar kalimat itu berkali-kali. Dan, jawaban dari Kai juga selalu sama.

Dikasih tau berkali-kali juga kamu mana inget, sih. Kamu tuh gak akan inget apa-apa soal aku.

“Dikasih tau berkali-kali juga kamu mana inget, sih. Kamu tuh gak akan inget apa-apa soal aku.”

Selalu sama. Jawaban Kai pun selalu sama.

Percakapan si kembar setiap kali mereka menemani Kai di rumah sakit.
Percakapan si kembar yang terjadi setiap kali Kei sedang dalam fase transient amnesia.

Percakapan si kembar selalu sama.

Dan Hiro akan selalu menjadi saksi bagaimana sang adik akan terus berada di satu kondisi yang sama, berulang-ulang kali.


Sepulangnya dari rumah sakit setelah Hiro memberikan obat milik Kei dan melihat adiknya yang terlelap dalam tidurnya, tanpa sadar Hiro ikut tertidur juga di kamar Kei.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Hiro terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya yang terasa mengganjal. Saat ingin melangkah keluar dari kamar adiknya, Hiro baru menyadari kalau Kei tidak ada di kasurnya.

Hiro membuka pintu kamar Kei dan berjalan keluar. Di remangnya cahaya malam, Hiro mendapati Kei yang sedang duduk di lantai seorang diri bersandar pada pintu kamar milik Kai.

“Ngapain di situ?”

Kei yang semula tidak menyadari kehadiran Hiro karena sedang menundukkan kepalanya, akhirnya mengarahkan pandangannya dan menatap Hiro.

“Aku belum ketemu Kai hari ini.”

Oh. Adiknya sudah kembali normal dari fase transient amnesianya hari ini.

Sama seperti sebelumnya, perdebatan Kei dan Kai di rumah sakit hari ini, tidak diingat sama sekali oleh Kei.

Mendengar penuturan adiknya, Hiro memutuskan untuk ikut duduk di lantai dan menemani Kei.

“Terus kenapa malah duduk di sini?” tanya Hiro.

Kei menggerakkan tangannya untuk membuka knop pintu kamar Kai yang tidak kunjung terbuka, memberitahukan kalau Kai mengunci pintu kamarnya.

Hiro hanya menganggukkan kepalanya, “Kai lagi capek hari ini. Mungkin dia nggak mau diganggu.” jawabnya.

Keheningan menyelimuti mereka cukup lama. Sebelum akhirnya suara Kei memecah keheningan yang ada di antara mereka.

“Aku inget kok, aku berantem sama Kai.”

Hiro menaikkan sebelah alisnya bingung. Bukannya keributan mereka hari ini terjadi saat Kei sedang dalam fase transient amnesianya?

“Kai marah.” lanjut Kei. “Aku gak inget apa-apa selain ucapan terakhir dia ke aku kemarin. Kai bilang, ‘Bisa lupa kayak kamu tuh enak, aku juga mau lupa sama obrolan kita yang sering berantem. Gak adil semua perdebatan kita cuma bisa diingat aku doang sementara di ingatan kamu tuh aku dan kamu baik-baik aja.’ gitu katanya.”

Oh. Ini adalah perdebatan si kembar saat Kei dalam kondisi normal.

“Kai lagi sering marah-marah belakangan ini. Aku nggak tau kenapa.” Kei kembali membuka suaranya. “Setiap aku tanya kenapa dia marah-marah, dia tuh nggak pernah jawab.”

Sepertinya Hiro tau apa perdebatan yang terjadi antara si kembar belakangan ini. Dan sepertinya, berbeda dengan yang diucapkan Kei, Hiro yakin kalau Kai sebenarnya menjawab pertanyaan tentang apa yang membuatnya marah kepada Kei.

Hanya saja, Kei tidak pernah bisa mengingat itu.

Kai tidak akan pernah bisa marah kepada Kei. Bagaimanapun juga, untuk Kai, Kei adalah satu-satunya orang yang selalu dicari setiap kali Kai membeli barang bagus, atau membeli mainan keren yang bisa dimainkan untuk mereka, atau pun setiap kali Kai membeli makanan enak.

Kai tidak akan pernah bisa marah kepada Kei.

Satu-satunya alasan yang dapat membuat Kai marah kepada Kei hanyalah perihal Kei yang tidak pernah bisa mengingat sakitnya Kai.

Kai selalu ingin ke rumah sakit ditemani oleh Kei.

Kai selalu ingin masuk ke dalam ruangan di rumah sakit yang penuh dengan alat-alat menyeramkan itu ditemani dengan Kei juga.

Namun Kei tidak pernah bisa mengingat apa-apa soal sakitnya Kai. Dan Kei tidak akan pernah bisa memberikan perhatian yang Kai inginkan dari kembarannya.

Hiro sudah sering melihat bagaimana Kai yang selalu berusaha mengajak Kei untuk menemaninya ke rumah sakit.

Hiro sudah sering melihat bagaimana emosi dan sedihnya Kai setiap kali Kei menanyakan pertanyaan yang sama untuknya.

Kamu sakit apa?

Satu-satunya pertanyaan yang dapat membuat Kai emosi karena Hiro tau, tidak pernah terpikirkan oleh Kai kalau kembarannya tidak akan mengingat apa-apa soal dirinya.

Dan belakangan ini juga, Hiro baru menyadari kalau sebenarnya bukan hanya alasan itu saja Kai marah atas pertanyaan milik Kei.

Tetapi karena sekali lagi untuk yang kesekian kalinya, Kai akan terus diingatkan soal kondisinya dari pertanyaan Kei yang sama terus menerus.

Hiro bangkit dan berjalan menuju kamar miliknya, meninggalkan Kei yang masih di posisinya dengan ekspresi bingung. Tidak lama, Hiro kembali dengan membawa kunci di tangannya.

“Kamu minggir dari situ.”

Suara Hiro dipatuhi oleh Kei. Dia bangun dari duduknya dan menunggu Hiro membuka pintu kamar Kai. Keduanya melangkah masuk ke dalam kamar Kai dengan Kei yang mengekor di belakang Hiro.

Kei tersenyum menatap Kai yang sedang tertidur di kasurnya. Dia berniat untuk menghampiri Kai dan membangunkan kembarannya sebelum tangan Kei ditahan oleh Hiro.

“Udah ketemu Kai kan?” Hiro bertanya sambil memandang Kei yang lebih pendek darinya.

Kei mengangguk. Belum sempat dia menghampiri Kai, Hiro justru menggandeng tangannya dan membawa mereka berdua keluar dari kamar Kai.

“Biarin Kai istirahat dulu. Besok pagi baru ngobrol.” ucap Hiro lembut, “Yang penting Kei udah ketemu Kai kan hari ini?”

Mendengar itu, Kei memanyunkan bibirnya. “Tapi aku belum ngobrol sama Kai hari ini.” ucap Kei lesu. “Aku belum ketemu Kai hari ini. Aku belum ngobrol sama Kai hari ini. Aku mau ngobrol dulu sama Kai hari ini, Kakak.” lanjutnya memelas. “Masa aku nggak ngobrol sama sekali sama Kai seharian?”

Hiro menghiraukan penuturan Kei. Dia menggandeng Kei dan membawa adiknya itu kembali ke kamarnya sendiri.

Melihat Hiro yang mendiamkannya, Kei menepis tangan Hiro dan melempar tubuhnya kasar ke atas kasur.

Hiro hanya menghela nafas melihatnya. Di dalam kondisi normal begini, Kei dan Kai sebenarnya sama-sama keras kepala.

“Kai sakit.” ucap Hiro tegas.

Mendengar kalimat itu, Kei memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Hiro menyadarinya.

Selalu begitu setiap kali Hiro memberitahu Kei yang sedang dalam kondisi normal kalau Kai sakit.

Kei tidak pernah bisa menerima fakta kalau Kai sakit.

Dalam fase transient amnesia atau kondisi normal sekalipun, Kei tidak akan pernah bisa menerima kenyataan kalau Kai sakit.

“Biarin Kai istirahat dulu.” lanjut Hiro. “Besok pagi kamu tanya ke Kai gimana kondisi dia, ya?”

Kei mengalihkan pandangannya menatap Hiro, “Besok kita ke dokter aja ajak Kai.” jawabnya. “Nanti aku tanya kondisi dia besok, trus kita periksa ke dokter aja kalo dia masih sakit.”

Jawaban Kei selalu sama. Kei selalu berusaha untuk menjadi kembaran yang baik. Meskipun dia tidak akan pernah mengingat obrolan ini lagi nanti.

Hiro menganggukan kepalanya dan mengusap lembut puncak kepala Kei sebelum dia berjalan keluar dari kamar adiknya.

Besok pagi, Kei akan lupa dengan obrolan mereka barusan.

Besok pagi, Kei hanya akan ingat bahwa hari ini dia belum berbicara sama sekali dengan Kai. Perdebatan mereka hari ini, dan ucapan Hiro kepada Kei yang memberitahukan bahwa Kai sakit juga tidak akan diingat oleh Kei.

Dan sekali lagi untuk hari yang akan datang besok, seperti ucapan Kai, semua perdebatan si kembar hanya akan diingat oleh Kai. Sementara untuk Kei, dia akan selalu mengetahui bahwa mereka berdua baik-baik saja.

Notes:

Transient Amnesia adalah kondisi medis yang memicu kehilangan ingatan sementara.

Segala peristiwa, kejadian, maupun percakapan yang terjadi saat penderita sedang dalam fase transient amnesia tidak bisa diingat lagi oleh mereka setelah kondisi mereka kembali normal.

Di dalam cerita ini, penyakit tersebut aku tambahkan beberapa penjelasan personal untuk keperluan cerita fiksi.

Dalam cerita ini, penderita juga tidak dapat mengingat hal-hal atau peristiwa traumatic yang tidak bisa atau tidak mau diterima oleh otak mereka.

Sekali lagi diingatkan, penjelasan medis di cerita ini tidak dijamin keakuratannya dengan kondisi medis yang asli karena ini hanya untuk keperluan cerita fiksi. Pembaca dapat mencari dan membaca jurnal mengenai Transient Amnesia yang lebih akurat.

Kalau kamu sudah membaca sampai sini, aku mau ucapkan terima kasih karena sudah membaca tulisanku.
Mari bertemu di chapter duaaa.