Actions

Work Header

Om Qiu

Summary:

Besok ada bazar di sekolah. Yang lain sibuk mengobrol tentang akan mengajak orang tua. Phrolova bertanya apakah bapak bisa datang, tapi sepertinya Om Qiu akan menggantikan kayak biasa.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari ini di sekolah sedang sibuk membicarakan tentang bazar besok. Pasalnya sekolah terbuka buat umum dan boleh dikunjung keluarga. Akan ada penampilan dari murid juga kabarnya. Kebetulan, Phrolova ikut ekskul musik dan tampil besok. Cristoforo jadi penyusun naskah teater, sedangkan Scar cuma minat menonton. (Aslinya sia dikejar-kejar klub lain yang kekurangan anggota, sih. Tapi dia sibuk mengejar Rover.)

Di kelas Phrolova, yang lain sedang sibuk mengobrol tentang persiapan. Ada juga yang membicarakan siapa dan siapanya yang bakal datang. Phrolova dengar sedikit kasak-kusuk pasal apakah-orang-tua-tiga-orang-aneh-itu-bakal-datang. Tiga orang aneh yang dimaksud itu sudah jelas siapa. Phrolova tidak pura-pura tidak tahu dan mendengkus keras, membuka ponsel.

Scar

Besok bapak bisa datang tidak ya

Foro

Pasang ekspektasi serendah mungkin ya, pemirsa

Scar

Wkwkwk

Pulang ke rumah saja setahun dua kali belum tentu

Phrolova menyungging senyum tipis menyimak percakapan di grup. Sepertinya mereka juga dibicarakan di kelas lain.

Phrolova 

Memang kalau bapak datang kamu mau apa

Scar

Mau pamer bapakku yang katanya kriminal kelas kakap itu

Foro

Bukanya katanya dukun ya?

Scar

Bukan! Yang benar itu penjahat pemanasan global!

Phrolova 

Multiprofesi final boss

Karena bapak jarang pulang, terlalu banyak gosip tentang mereka bertiga. Anak yatim piatu yang tinggal di rumah serba mewah tanpa ditemani orang dewasa. Gosipnya beraneka macam. Mulai dari tukang santet sampai pejabat korup(?) Phrolova juga bingung, kok bisa, sih, seragam itu. Lucu, sih, tapi ya tetap saja bikin sakit kepala.

Awal gosipnya tidak separah itu, padahal. Dulu-dulu waktu masih SD, bisik-bisik sirik itu muncul dari 'kawan' yang tinggal sekomplek dengan mereka. Begitu terus siklusnya sampai SMA. Tentu saja gosip yang digoreng terus itu jadi gosong. Gimana tidak laku? Scar dan Cristoforo kan berwajah cukup lumayan. Ditambah bekas luka di wajah Scar yang bikin mukanya ikonik dan gampang diingat —serta disalahpahami sebagai preman— jadilah mereka terbiasa mendengar rumor nyeleneh begitu. 

Phrolova memilih buat mengirim pesan pada bapak.

Phrolova 

Pak, ingat enggak kemarin Lova bilang besok ada bazar

Bapak 

🙂

Bapak pulang bulan depan. Mau titip apa?

Ditanya apa jawabnya apa. Malah ditanya balik pula. Bilang tidak bisa datang saja susahnya ampun-ampunan. Phrolova ambil kesempatan dalam kesempitan sekalian, deh.

Phrolova

Beli air fryer dong, pak. Lova naksir waktu lihat di fyp insta

Sama ricecooker baru. Yang sekarang sudah reyot. Foro ngomel mulu tiap nasinya kelembekan.

Wallpaper ruang tengah juga sudah mulai terkelupas, tuh.

Bapak

Ada lagi?

Phrolova

Nanti Lova update lagi kalau ada. Buat sekarang sih itu dulu

Bapak

👍 

Lova kangen bapak tidak

Phrolova berkedip. Apa pula, nih, tiba-tiba?

Lova 

Kangen pun, Bapak enggak bisa langsung pulang

Bapak

Hehe iya juga

Lova 

Berarti bazar besok diwakili sama om Qiu saja ya? Kayak biasa

Bapak

Iya

Sudah bapak beri tahu

Lova 

Om Qiu tinggal dipanggil ayah saja ini

Sering betul menggantikan bapak

Bapak

LHO LHO LHO

YA JANGAN

Lova 

Bapak sih🤷

 


 

Scar terbahak keras sekali saat Phrolova menunjukkan pesannya dengan bapak. "Kamu mau punya ayah yang tampangnya kayak gembel, Lova?" Habis bilang begitu dia langsung dijewer Cristoforo atas tuduhan pencemaran nama baik tetangga. Tidak boleh bicara jelek tentang orang yang lebih tua! Apalagi ini Om Qiuyuan. Gimana kalau orangnya tiba-tiba muncul, coba? (Walaupun benar baju-baju beliau selalu kelihatan lusuh, sih.)

"Padahal beliau orang berada. Ketua RT pula. Beliau enggak bosan dikira pengemis apa ya?" Phrolova bergumam mengamini perkataan Scar. Tetap saja tidak buruk punya ayah yang selalu ada bareng anak dibanding ayah yang hilang melulu. Namun, masalah kegembelannya itu mungkin perlu diperhitungkan baik-baik. 

Cristoforo tertawa kecut. "Mungkin beliau begitu biar terlihat bersahaja.." katanya.

"Ribet banget bahasanya. Padahal kan semua orang tahu Om Qiu begitu, yaa, karena beliau buta. Plus gembel."

Dikatakan salah juga tidak benar, tapi bahasanya sugguh sangat tidak sopan. Scar dijitak dua kali oleh Cristoforo. Bocah itu berjengit protes sambil misuh-misuh sendiri.

"Lho, kan, yang kukatakan itu kenyataan!"

"Iya, tapi tidak sopan!"

Enggak terhitung, deh, berapa kali Qiuyuan —nama lengkap om Qiu—mencubit Scar karena bicaranya yang terkesan kurang ajar. Pokoknya tiap papasan, Scar enggak ada kapok-kapoknya bicara tidak sopan dan berakhir dikejar-kejar buat dicubiti. 

Kebetulan, Om Qiuyuan tinggal di sebelah rumah mereka bertiga. Orangnya ramah walaupun rada aneh. Beliau punya kosan putra yang selalu ramai. Kata mahasiswa yang mengontrak di sana, soalnya tempatnya nyaman dan harganya miring. Betul-betul bapak kos baik hati. Berbeda dengan stereotip nyeleneh 'kos putra pasti enggak terurus,' kos ini selalu rapi, bersih dan wangi berkat seorang penghuninya yang nyerempet OCD. Kalau waktunya tiba akan diceritakan semua, deh.

Balik lagi ke Om Qiuyuan. Walaupun kata Scar beliau gembel, —Scar jujur. Baju beliau selalu kelihatan (maaf) lusuh— beliau ini berkharisma dan berwibawa. Buktinya sudah entah berapa tahun beliau jadi ketua RT. Katanya sudah dipilih warga sejak beliau muda. Warga di sini tidak menilai dari penampilan atau kekurangan yang tampak, tetapi dari keputusan yang bijak. Rima yang keren sekali, bukan?

Istri? Beliau bujang lapuk! Sebelas dua belas kayak Bapak, lah. Sebenarnya calon istri beliau sudah mengantri dari gembok pagarnya. Phrolova sempat jadi korban tergilas calon-calon istri itu, omong-omong. Namun entah kenapa beliau pilih jalan selibat. Mungkin beliau lebih cinta amer— ups.

...

Iya. 

Meski tampangnya alim begitu Om Qiuyuan ini sering ... Anu, mabuk (?) Ada tanda tanya di situ soalnya beliau bilangnya itu obat (??) Tanda tanyanya bertambah habisnya obat apa yang ditenteng kemana-mana pakai cangkir bambu hitam legam itu coba???!

Intinya terlalu banyak yang aneh tentang om-om-buta-ganteng-sederhana-nyerempet-gembel ini. Makanya Scar selalu mengundang perkara tiap kali berjumpa. Seru diisengin, sih. Selain itu, ya, karena aneh saja. Terlalu aneh, malah. Pembaca juga pasti merasa begitu, kan?

Pintu rumah diketuk. Tiga orang yang awalnya sibuk di layar ponsel masing-masing serempak menoleh. Kemudian suara berat yang familiar menyapa. "Permisi,"

Panjang umur. Baru juga dibicarakan. 

"Bentar ya, Om!"

Cristoforo jadi korban ditendang oleh Scar disuruh buka pintu karena dia duduk paling ujung. Om Qiuyuan berdiri di baliknya, membawa wadah anyam dilapisi plastik berisi ubi Cilembu yang masih mengepul. Sore-sore begini bikin ngiler.

"Ini, ubi. Tadi Om beli kebanyakan." Kedengaran seperti alasan yang dibuat-buat. Beliau mengangsurkan wadah itu pada Cristoforo yang dengan antusias menerima dan berterima kasih.

Kalau ada kata terima kasih, itu artinya ada sesuatu yang diberi, kan? Dua orang yang masih anteng di sofa langsung beranjak mendekat karena penasaran tak mau ketinggalan. "Apa, tuh?" 

Dasar. Baru mau gerak kalau ada apa-apanya.

"Nih, ubi dari om Qiu."

"Aw, panas!" Scar mengibas tangan yang mencoba memegang ubi. Om Qiuyuan mengulas senyum geli.

"Iya, masih panas. Hati-hati makannya." Katanya berpesan.

"Makasih, Om! Tumben banget, deh. Biasanya pelit." Siapa lagi yang berani bicara begitu selain Scar? Habis bilang itu dia langsung dicubit. "Aw-aw! Sakit! Aduh, Om, jangan dicubit di situ, aku sakit gigi!" Em, berarti boleh dicubit asal di sebelah lagi? 

Tangan om Qiuyuan langsung lepas. "Apa iya?" Beliau bertanya dengan tidak penasaran.

"Iya!" Sahut Scar segera.

Phrolova tertawa kecil. "Iya, Om. Kemarin kita habis menemani Scar ke dokter gigi. Giginya bolong. Malas sikat gigi, sih. Marahi saja Om, marahi." Katanya mengompori. Melihat adegan kekerasan —bukan juga sih— ini selalu membuatnya senang karena yang kena selalu Scar. Hitung-hitung hiburan gratis.

Sekarang Om Qiuyuan menyentil dahi Scar. Tepat di jidat padahal Scar berusaha menghindar. "Kamu jangan malas sikat gigi." Beliau menambahkan.

Yang disentil manyun. "Cerewet!" Pekiknya yang tentu saja langsung dapat hadiah jitakan. Heran, tidak ada kapok-kapoknya.

"Kata bapak kalian, besok Om diminta tolong ke sekolah. Ada apa?" Om Qiuyuan bertanya memastikan. Sepertinya itu tujuan utama beliau datang, tapi beralasan bawa ubi cilembu.

Disamping itu, bapak mereka ini benar-benar, ya. Katanya sudah menghubungi Om Qiuyuan, tapi nyatanya cuma minta tolong tanpa menjelaskan detailnya. Cristoforo menjawab bahwa besok ada bazar dan penampilan dari siswa, dan orang tua murid diundang buat menonton.

"Harus banget datang?"

"Kalau sibuk, sih, enggak usah, Om. Tapi kalau datang jangan lupa bawa duit jajan, ya. Banyak makanan soalnya." Kata Scar, yang langsung disenggol Cristoforo.

"Oh." Om Qiuyuan terlihat berpikir sejenak. "Om datang, deh." Begitu beliau bilang begitu, tiga bocah itu langsung bersorak, hore kita punya ayah. Kemudian tiba-tiba Om Qiuyuan bertanya, "Kalian sudah masak, belum?"

Bocah-bocah itu saling melirik. Bau-baunya bakal diajak makan, nih.

"Kalau belum, nanti jam enam mau ikut Om ke—"

"MAU!"

"Sebentar, Om, ini ubinya mau disimpan ke ricecooker dulu!"

"Lovaa, kunci pintu kamu taruh di manaa?"

"Ini, di sini!"

Langsung kacau. Om Qiuyuan geleng-geleng setengah maklum. "Perginya nanti jam enam, loh..."

 


 

Bonus :

"Om, mau jadi ayah kami saja, enggak?"

"Yang masuk kriteria anak Om sih cuma Foro sama Lova, ya.. soalnya—"

"Hore!"

"—Om sih ogah kalau punya anak kurang ajar."

"Siapa juga yang mau punya bapak gembel?!"

Scar hampir ditendang dari mobil sore itu.[]

 

Notes:

A/N : maaf delay dua bulan... Saya digilas kehidupan dan terpapar banjir, jadi agak kesulitan melanjutkan aktivitas. Syukurlah sekarang sudah baik baik saja.

Siapa kangen Fractrio?

Series this work belongs to: