Actions

Work Header

sakit gigi

Summary:

Scar bertingkah aneh sore ini.

Fractrio lokal au!

Notes:

Engg iyah mreka jdi anak-anak angkat GA. Sekira enam belas—tujuh belas tahunan.

Warning! OOC, typo(s), gajebo. Pokoknya isinya Scar sakit gigi. Udah.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Menurut Cristoforo, sore ini Scar bertingkah agak aneh.

Beliau memang aneh sejak cara berpikir, sih. Jadi dia sebenarnya tidak terlalu memusingkan diri. Akan tetapi, Cristoforo yang baik hati dan rajin menambah-nambah OC baru ini akan menjelaskan bagian mana yang aneh kepada pembaca yang budiman dan budiwoman, agar Anda-Anda sekalian paham.

Begini, sejak pulang sekolah tadi, Scar terus mengerutkan wajah. Padahal, kan, biasanya selalu senyum-senyum sendiri! Normalnya dia akan mengganggu Phrolova minimal sampai gadis itu melempar satu (atau dua, tiga, sampai lima) barang, tapi anehnya sore ini berlalu dengan damai (yang aneh, dalam hati Cristoforo tambahkan dengan serius.) Melihat dia cemberut itu rasanya seperti mood swing Phrolova waktu PMS.

Masalahnya, kan, Scar itu laki-laki. Kecuali kalau dia trans— eh.

Jangan-jangan....?

Wow, sepertinya Cristoforo jenius— coret, delete yang barusan! Ehem. Enggak mungkin. Scar tidak (atau belum) pernah operasi ganti kelamin. Waktu terakhir kali mereka mandi bareng bulan kemarin, sih, belalainya masih ada. Cristoforo yakin seratus persen.

Terus kenapa Scar jadi diam begitu, ya? PMS bukan. Apa jangan-jangan habis patah hati? Cristoforo mulai berpikir kenapa author bikin dia memikirkan macam-macam kemungkinan konyol. Padahal kan yang beginian harusnya jatahnya Scar? OOC nih jadinya! Ketahuan authornya kurang riset pendalaman karakter! Habis ini harus bikin charstud sepertinya.

Lamunan Cristoforo buyar begitu saja waktu Scar tiba-tiba bersandar di bahunya. Kalau kata pepatah, bahkan harimau pun akan datang jika dipikirkan. Walaupun Scar bukan harimau dan memang tidak aneh dua datang karena mereka satu rumah, sih. Yang aneh itu adalah Scar tidak menyapanya dengan panggilan konyol macam 'blonde kesayanganku lagi apa?' tapi langsung bersandar saja. Aneh. Aneh banget.

Sepertinya suasana hatinya sedang jelek.

"Kamu kenapa?" Sebagai saudara yang baik, tentu Cristoforo bersedia bermurah hati menanyakan kenapa Scar cemberut.

"Enggak ada."

Jawaban singkat mirip dry text begitu lebih biasa Cristoforo dengarkan dari Phrolova. Bukan dari Scar yang merengut kayak kucing basah yang tidak mau mandi.

"Bertengkar sama Lova, kah?" Terka Cristoforo. "Manyun begitu entar bibirmu berubah jadi paruh bebek, lho."

"Enggak, kok."

"Tapi mukamu jelek banget kayak menua seratus tahun?"

"Diam, Foro." Sungut Scar sebal.

"Itu kata-katanya Phrolova. Jangan OOC, coba."

Meski mereka berdebat begitu, Scar tidak bergeser barang satu centi. Namun alisnya mengernyit mendengar kata asing. OOC itu apa? Istilah kepenulisan kah? Benar-benar menambah-nambahi sakit kepalanya saja. Tanpa minta izin, Scar menjadikan paha Cristoforo sebagai bantal.

Tanda tanya warna-warni muncul di sekeliling kepala Cristoforo. Tingkah aneh Scar makin bikin dia heran. "Kamu kenapa, sih?" Dia mengejar tatapan Scar, tapi yang bersangkutan mengalihkan pandang. Kurang ajar sekali, padahal dia bersandar di paha Cristoforo.

"Enggak tahu. Kepalaku pusing." Scar mendesis pelan, memijit batang hidung. Cristoforo juga malah banyak bertanya membuat kepalanya makin nyut-nyutan. Salah dia sendiri, sih, malah datang ke sini.

Oh. "Bilang dong, dari tadi. Sudah pakai minyak angin?" Cristoforo menyentil pelan dahi Scar di pangkuannya. Dia meletakkan ponsel di bahu sofa.

"Belum. Aku tidak punya."

"Pinjam punya Lova, kalau begitu."

"Hmm."

'Hmm' saja? Habis itu Scar malah memejamkan mata. Cristoforo geleng-geleng dibuatnya. Anak ini maunya apa, sih.

"Foro,"

"Ya?"

"Puk-puk aku, dong."

Cristoforo mendengkus geli. "Dasar manja."

______

Phrolova yang lewat hendak mengambil minum ke dapur berhenti di ruang tengah. Melihat Scar tiduran di pangkuan Cristoforo, dia menyeringai dan berkomentar.

"Wah, romantisnya. Kalian quality time sekarang tidak ajak-ajak aku, nih, ceritanya?"

Itu bikin dahi Cristoforo berkerut lagi. Kenapa pula Phrolova ikut-ikutan OOC? Jangan bilang ada tag body swap di fanfic ini?

______

Berhubung malam tadi Scar sudah mendingan sehabis diberi minyak angin, Cristoforo tidak berpikir Scar akan lanjut uring-uringan. Namun esok paginya Scar tidak kunjung keluar dari kamar. Bahkan setelah Phrolova selesai memasak, Cristoforo selesai mandi dan mesin air dimatikan. Batang hidung Scar belum juga kelihatan.

Phrolova mulai mengomel tentang mereka bisa telat berangkat sekolah. Cristoforo memberi usul untuk mengetuk pintu kamar yang bersangkutan. Gadis satu-satunya di rumah ini menghela napas, menyusun kata-kata untuk dijajarkan di mesin tembak pertanyaan.

Bagaimanapun, waktu Phrolova membuka pintu kamar Scar, dia batal misuh-misuh. Kalimat yang sudah dia kumpulkan terurai jadi helaan napas. Kasur Scar terlihat sangat berantakan. Bantalnya bahkan jatuh, dan bocah itu terlihat meringkuk dalam selimut.

Apa, coba? Sakitkah?

Mendengar suara pintu kamarnya terbuka, Scar mengintip dari balik selimut. Phrolova mengutip bantal Scar yang jatuh dan meletakkannya di kasur.

"Kamu kenapa? Sakit?" Dia menyingkap selimut Scar dengan cara yang agak memaksa. Scar menggerung.

Phrolova tetap bisa melihat dengan jelas meski pencahayaannya redup karena lampu mati dan jendela masih tertutup. Mata Scar bengkak, dan bibir keringnya terlihat pucat. Demam?

"... Sakit gigi." Aku Scar dengan suara sengau. Namun sepertinya bukan hanya itu, menilik dari tampangnya yang kusut masai. Phrolova duduk di sebelahnya dan memeriksa suhu tubuhnya dengan punggung tangan.

Terlalu hangat.

Melihat mata Scar yang bengkak, kemungkinannya ada dua. Dia tidak bisa tidur semalaman, atau habis menangis karena sakit gigi. Atau malah dua-duanya.

Phrolova menarik senyum geli. "Memangnya kamu bayi, ya? Baru sakit gigi langsung disusul demam begini." Tawanya ringan, tapi sambil meledek begitu dia mencari tisu dan hati-hati mengusap sudut mata Scar yang lembap.

Scar menarik ingus. "Jangan meledek aku..." Katanya setengah terisak.

Mana mungkin Phrolova bisa menahan kikik saat Scar yang biasanya bikin kesal itu terlihat begitu ... Menggemaskan? Menyedihkan atau lucu juga merupakan kata yang cocok. Akan tetapi ia tetap berusaha menahan gelak agar Scar tidak lanjut menangis.

"Bisa duduk?" Dia bertanya. Melihat baju tidur Scar menggunakan lengan pendek, Phrolova berpikir buat menggantinya nanti dengan yang berbahan hangat. Spreinya juga mungkin harus diganti agar tidurnya nanti lebih nyaman.

Scar duduk dengan usaha yang terlihat sulit, bersandar pada dinding dengan masih memeluk selimut. Phrolova mencari-cari obat penurun panas di nakas. Tidak ada.

"Foro," Phrolova meninggikan suara agar terdengar oleh Cristoforo di dapur. "Di kotak P3K ada asam mefenamat atau paracetamol, tidak?"

Telinga Scar berdenging. "Jangan teriak-teriak. Telingaku sakit." Protesnya pelan yang lebih terdengar seperti anak kecil merengek.

"Bawel, ih." Phrolova tersenyum meledek pada Scar yang cemberut.

Kemudian suara Cristoforo jauh kedengaran menyahut. "Tidak ada!" Phrolova berdecak, memikirkan jalan keluar. Apa boleh buat. Berarti nanti harus beli ke apotek, ya. Dia menyuruh Scar berdiri dan ganti baju sementara dia mengganti sprei dan sarung bantal.

Tidak lama kemudian, Cristoforo muncul di daun pintu. Langkahnya tergesa-gesa. "Scar sakit kah?" Pertanyaan itu terjawab langsung oleh Scar yang berdiri di depan lemari sambil menangkup pipi kanan dengan wajah memelas. Padahal Phrolova menyuruhnya ganti baju, tapi dia mematung gara-gara sakit yang menyengat.

"Scar sakit gigi. Demam juga." Phrolova menyahut memberi penjelasan. Dia mendekat ke lemari dan membukanya, memilihkan baju dan segera diangsurkan pada Scar yang bengong. "Ganti bajunya. Habis itu duduk di kasur." Katanya sambil mengangkut sprei kotor. Sibuk sekali. Sudah seperti emak-emak.

Kepada Cristoforo, dia menyerahkan sprei dan selimut yang baru dilepas. Dia suruh buat meletakkan itu di mesin cuci. Pesannya buat dicuci nanti kalau jemuran sudah kosong. Phrolova sendiri pergi ke dapur untuk membuat bubur. Tidak lama dia kembali membawa nampan beruap berisi bubur dan jamu.

"Ini coba dimakan dulu. Kalau enggak sanggup, tunggu aku belikan obat." Katanya sambil meletakkan nampan di nakas.

"Bukannya lebih baik bawa ke dokter? Minum obat tanpa dosis kan bahaya." Cristoforo mencegah Phrolova beranjak.

Gadis itu mengangkat alis, menunjuk Scar yang menangkup pipi dan menatap tidak minat pada bubur yang baru dibuat. "Memang bocah itu bakal bisa makan kalau kesakitan begitu?"

Cristoforo merapatkan bibir. Benar juga. Akan tetapi Scar sepertinya tersinggung. Dia manyun. "Aku bukan bocah." Sungutnya.

Phrolova tidak menaruh perhatian sama sekali. "Hubungi guru dan bilang kita izin karena Scar sakit. Habis ini kita ke dokter gigi kalau klinik sudah buka."

Begitu saja, punggung Phrolova menghilang di balik pintu kamar. Disusul suara langkah kaki menuruni tangga dan kunci pintu pagar depan dibuka. Cristoforo duduk di sebelah Scar yang (masih) menangkup pipi kanan.

"Lova jadi bawel." Cristoforo bergumam, bersandar di bantal guling Scar.

"Mirip emak-emak." Scar mengamini. "Padahal kita kan enggak punya, ya."

Cristoforo tertawa pelan pada candaan gelap itu. Scar ikut tertawa tapi mengaduh waktu sakitnya menggigit. Punggungnya ditepuk-tepuk pelan oleh Cristoforo.

"Tapi dia begitu karena sayang."

"Aku tahu, kok. Aku kesayangan kalian, kan."

Sudah sakitpun dia masih narsis. Melihat tingkah Scar yang begini bikin Cristoforo dapat inspirasi soal desain karakter dalam cerita yang tengah dia susun. Dia menggeleng-geleng setengah maklum.

"Walaupun sakit kamu masih menyebalkan, ya."

"Puk-puk lagi, dong."

"Ogah, ah."

"Jahat banget..."

Mentang-mentang sakit, dia jadi 3000 kali lebih manja!

 

______

"Lova, Foro tidak mau puk-puk aku..."

"Foro."

"??? Iya, iya. Dasar manja."

______

 

Mereka pergi ke klinik pagi itu juga. Untunglah bayi bongsor itu tidak menangis atau bertingkah macam-macam waktu diperiksa. Rupanya gigi gerahamnya bolong parah sekali. Dokter sudah merancang jadwal periksa sepekan sekali sebelum nanti menambal gigi yang sakit. Mumpung sedang di sana, Phrolova dan Cristoforo periksa gigi juga. Daripada besok-besok sakit, kan. Hemat waktu dan biaya.

Seperti kata orang-orang, sedia hujan kalau mau payungan. Eh. Benar tidak, sih?

Intinya dokter menyarankan Scar untuk mengurangi makanan manis. Katanya harus rajin sikat gigi juga agar tidak berkarang. Phrolova mengomel panjang pendek dan akhirnya mereka sepakat membatasi jajan Scar mulai hari itu juga. Scar manyun dan protes, tapi enggak guna soalnya sedang di depan dokter gigi.

Walaupun Phrolova sendiri yang bilang akan membatasi jajanan Scar, dia berinisiatif membeli buah di jalan pulang. Buah lebih sehat, katanya, dan manis. Scar tidak menolak. Dari pada tidak ada cemilan sama sekali, kan.

Jadilah mereka mampir di toko buah sekarang ini.

"Mau durian." Pinta yang kedengaran tolol itu dari siapa lagi datangnya kalau bukan si sumber sakit kepala.

"Jangan asal bunyi. Sekarang belum musim."

"Beli pir saja. Dia lagi demam juga kan." Cristoforo memberi usul. "Kata dokter herbal, kalau sedang demam lebih baik makan buah yang bersifat dingin. Durian, kan, sifatnya panas." Scar tutup telinga saat Cristoforo mulai membual tentang teori obat herbal yang cuma dia dengar di for you page Instagram. Bikin kepalanya sakit!

"Lova, Foro bicara apa, sih." Scar memeluk lengan Phrolova, menjauh dua langkah dari Cristoforo. Si pirang tersinggung dan mengoceh panjang lebar entah tentang apa. Padahal mereka ini sedang di toko buah, dan supir ojol menunggu mereka di mobil. Benar-benar buang-buang waktu, dan agak bodoh.

Mengabaikan debat nirfaedah itu, Phrolova melirik buah yang disusun. "Mau melon?" Tanya dia pada Scar sambil menunjuk buah bulat yang sudah dibelah. Ada juga yang masih utuh. Di sebelahnya berjejer semangka, pepaya, nanas dan lain-lain. "Atau mau semangka? Cepat pilih, bapak ojolnya menunggu." Dia menarik Scar buat memilih-milih buah.

"Enggak tahu. Apa saja boleh." Scar menjawab pelan. Giginya nyut-nyutan lagi habis mendengar Cristoforo ceramah. Phrolova mendelik demi mendengarnya.

"Apa saja, kan? Pokoknya nanti jangan protes."

Cristoforo mendekat ke sisi kiri Phrolova. "Aku mau mangga, dong." Pintanya.

... Mereka pikir Phrolova ini semacam pengasuh mereka kah? Scar bisa ditoleransi karena sedang sakit, tapi kenapa Cristoforo ikut-ikutan begini?

"Jangan ketularan manja. Pilih sendiri, sana!"

Scar meleletkan lidah pada Cristoforo yang diusir Phrolova. Sedang si gadis mengambil dan memilih-milih buah yang kelihatan segar. Pada akhirnya Scar bergumam bilang dia ingin jeruk. Phrolova mencomot beberapa bersama potongan semangka dan melon.

Cristoforo kembali dengan keranjang berisi mangga dan nanas. Barulah setelahnya penjualnya bisa menimbang total dan memperkirakan harga. Beliau berbasa-basi tentang banyak sekali belinya, sambil menimbang dua kilo mangga serta tiga buah nanas yang dipilih Cristoforo. Entah anak itu mau merujak sekampung atau bagaimana. Padahal untuk Scar saja Phrolova cuma beli setengah semangka, melon yang sudah dipotong dan setengah kilo jeruk!

"Entar harus dihabiskan lho, ya. Kalau enggak habis, kujejalkan ke mulutmu." Phrolova mengancam.

"Lova mau menyuapi aku?" Si pirang cuma tersenyum tanpa dosa sambil menenteng kantong buah ke mobil ojol di parkiran. "Mau, dong."

Scar sedang sakit, tapi Cristoforo malah mengambil peran membuat kepalanya pusing. Phrolova berdecak sebal.

"Aku duduk di depan."

"Jangannnnn... Foro saja yang di depan. Lova di tengah bersamaku!" Scar memeluk lengan Phrolova —yang rasanya gatal sekali ingin melempar barang. Apa saja biar lega— sambil merengut.

Tolong doakan semoga Phrolova kuat.

Semangat, Lova!

______

"Pokoknya Lova harus di tengah!"

"Kalau aku mau di tengah, bagaimana?"

"Tidak boleh. Kamu di depan saja."

"Kursi tengah kan muat buat tiga orang."

"Tapi Lova sedang marah padamu!"

"Apa iya, Lova?"

"Pikir coba, pakai kepala."

Phrolova pusing. Bapak ojol cuma tersenyum setengah bingung melihat mereka bising.

______

 

Habis makan siang, Scar dipaksa meminum obat. Lidah demamnya yang merasai permen sebagai kelat jadi makin pahit setelah dimasuki obat. Sudah begitu, Phrolova menunggui dia menghabiskan secangkir kecil jahe. Katanya agar demamnya cepat turun. Kemudian, Cristoforo membawa piring kotor ke dapur dan berjibaku dengan cucian.

Sambil lanjut membereskan kamar Scar yang berantakan, Phrolova menyuruh si sakit tidur. Sesungguhnya pula Scar sudah mengantuk, tapi samar rasa sakit di giginya sungguh mengganggu. Dia masih asyik melihat-lihat ponsel. Ini informasi rahasia, tapi sebenarnya Scar takut mimpi buruk saat demam.

Kamar jadi remang saat Phrolova menutup gorden. "Tidur, gih. Semalam kamu tidak bisa tidur kan?" Dia melirik bekas bengkak di mata Scar. Sapu diletakkan di balik pintu dan Phrolova berniat beranjak. Akan tetapi Scar menahannya.

"Temani aku. Aku enggak bisa tidur." Pinta Scar dengan wajah memelas. Pintar sekali karena dia tahu Phrolova takkan bisa menolak.

Phrolova mencari-cari alasan menghindar, tapi tidak ketemu. Piring kotor sedang dicuci oleh Cristoforo, setrikaan juga katanya dia yang bakal mengurus. Pekerjaan rumah juga tidak ada dan sebenarnya hari ini cukup santai. Harusnya sekolah, tapi mereka di rumah karena Scar sakit. Tugasnya pun sudah selesai semua. Sekarang Phrolova cuma ingin melamun di depan ponsel saja.

Menemani bocah itu tidur juga tidak bakal merepotkan, sih.

"Baiklah." Katanya. "Tapi jangan berisik."

Scar tersenyum senang sekali. Tangan kanannya menepuk-nepuk kasur bersyarat agar gadis itu duduk. Berbaring juga tak masalah, Scar suka memeluk! Akan tetapi karena Phrolova sudah repot sejak pagi, Scar sudah merasa cukup hanya dengan ditemani.

"Jangan main hape lagi. Tidur." Phrolova menegur. Ponsel Scar disita dan diletakkan di nakas. Scar manyun sesaat, tapi wajahnya langsung jadi cerah lagi waktu Phrolova duduk di kasur. Gampang sekali terdistraksi. Betul-betul seperti anak kecil.

Agak lucu, sih. Walaupun Phrolova tidak akan mengakuinya tanpa disertai ledekan.

Scar menarik selimut sampai perut dan berbaring. Tangannya menyentuh kompres tempel di pipi kiri, memastikan posisinya. Adem, masih menempel dengan baik. Demamnya juga sudah mendingan dari yang tadi pagi.

"Lova, puk-puk."

Phrolova mengalihkan atensi dari layar ponsel, melirik bocah yang memejam mata di sebelahnya. Dia menarik senyum geli, lalu bersandar pada bantal di bahu kasur. "Manja banget," dengkusnya, tapi tetap mengabulkan permintaan Scar dan menepuk-nepuk bahunya.

"Maaf.." gumaman Scar membuat Phrolova mengerutkan dahi.

"Kenapa minta maaf? Kan kamu memang manja. Kayak bayi besar. Bayi. Dasar bayi." Phrolova mencubit gemas hidung Scar.

"Eugh— aku merepotkan, soalnya."

Katanya orang sakit mungkin bertingkah aneh. Namun Scar yang minta maaf karena bersikap manja itu bukan aneh lagi, tapi mengkhawatirkan. Scar tidak cocok dan tak boleh bersikap begitu. Lebih baik dia jadi manja dan sengak seumur hidup dari pada jadi rendah diri.

"Bicara apa, sih? Tidak ada yang begituan. Mending kamu tidur." Phrolova menepuk-nepuk lengan Scar yang terasa hangat. Bicaranya mulai melantur dan Phrolova tidak suka mendengarnya.

"Memangnya Phrolova enggak merasa repot?"

Kerutan di dahi Phrolova bertambah satu. Kenapa sekarang namanya dipanggil lengkap begitu? "Lova. Dan pertanyaan apa itu? Aku justru berterima kasih karena jadi tidak perlu ikut kelas olahraga. Foro juga pasti bilang begitu juga."

Scar berkedip-kedip. Pandangannya berlari-lari di motif bunga pada sprei, tidak berani menatap Phrolova. Sebenarnya dia sendiri bingung kenapa tiba-tiba jadi lewah pikir begini, ya? Masalahnya pikiran tentang itu tidak mau hilang meski dia berusaha tak menghiraukan. Itu bikin dia cemas sendiri. Jadi sakit sungguh tidak enak.

"Lova," dia berdeham serak.

"Hmm?"

"Sayang aku, enggak?"

Phrolova meletakkan ponsel di pangkuannya. Menghela napas setengah sebal, "Coba pikir baik-baik. Memangnya—"

"Kamu kan pernah bilang membenci aku."

Mendengar itu bikin Phrolova terhenyak. Iya juga. Mungkin dia sangat sering bilang begitu saat kesal sampai dia tak ingat persisnya berapa kali. Sedikit banyak kata-kata Scar menyentil dia dan membuatmya ketularan lewah pikir. Phrolova memang terlalu sering bersikap ketus. Omongannya kasar dan dingin, walaupun, ya, itu kan karena Scar sendiri yang mengganggu. Apa gara-gara itu anak ini kepikiran yang aneh-aneh?

"Pada dasarnya aku benci orang berisik."

"Aku berisik. Banget."

"Tapi kan kamu Scar."

Scar terdiam, merapatkan bibir.

"Benar, sih, kamu berisik dan menyebalkan. Foro juga begitu, menurutku. Kalian berdua sama-sama profesional bikin aku sebal." Phrolova menyampaikan uneg-uneg yang sebenarnya sudah sering dia katakan. Tangannya mengelus rambut Scar. "Tapi bagaimanapun, kita ini keluarga. Dan siapa bilang benci enggak bisa dibarengi sayang? Kalau aku murni membencimu, enggak mungkin aku berada di sini sekarang."

"Kalau begitu katakan kamu sayang aku."

Bocah ini malah melunjak. Phrolova jadi tak bisa marah, kan, karena Scar sedang sakit.

"Kamu lebih pilih aku puk-puk, atau aku mengatakan hal cringe kayak begitu?"

Scar cemberut. Phrolova gemas ingin mencubit pipinya, tapi tidak jadi karena melihat kompres. "Tidak bisa dua-duanya, ya.." gumamnya. Kenapa pula nadanya kecewa begitu?

"Cepat tidur. Jangan memikirkan yang aneh-aneh lagi." Dahi Scar ditoyor pelan oleh Phrolova, tapi alis si sakit malah berkerut. Manyunnya tidak berhenti dan Phrolova jadi sedikit merasa sebal (dan rasa bersalah, tapi dia tidak akan mau mengaku.)

Akhirnya Phrolova menyerah.

"Aku menyayangimu. Makanya tidurla—"

"Ehem. Apa aku ketinggalan sesi deep talk?"

Cristoforo memotong, dia muncul di depan pintu. Tangannya membawa ponsel yang sepertinya sedang merekam. Senyumnya watados sekali yang membuat Phrolova kesal kuadrat. Pertama, dia sedang mengatakan hal memalukan. Kedua, direkam pula! Sebelum Phrolova memikirkan respon marah bagaimanakah yang bagus, Scar sudah melempar guling ke arah Cristoforo. Tepat kena di kepala.

"Kalau mau menganggu, baca suasana dulu, dong!" Bentaknya mencak-mencak.

Cristoforo tertawa. Justru karena dia bisa baca suasana makanya dia mengganggu. "Curang, ah. Yang begitu harusnya dibicarakan bertiga, bukan cuma berdua!" Ledeknya sambil mengguratkan kekecewaan main-main.

"Dasar setan!"

Phrolova cuma menonton. Tawanya pecah waktu Scar mengaduh habis teriak-teriak. Sudah tahu sedang sakit gigi malah meladeni Cristoforo berdebat. Lucu sekali, dia tidak bisa tidak tergelak.

"Foro, temani Scar tidur, ya." Goda Phrolova sambil mengambil ponsel.

Scar kelihatan panik. "Tidak mau! Aku maunya sama Lova!"

"Boleh, boleh." Cristoforo menyeringai.

"Kamu harus tanya juga apa Foto menyayangimu, kan." Ganggu Phrolova. Sengaja sekali sambil berlagak hendak beranjak.

"Enggak sudi! Aduh— pokoknya, pokoknya tidak mau! Lovaaaaaaa...." Scar merengek, menggenggam ujung kardigan Phrolova.

"Oh, begitu. Scar membenciku segitunya, ya? Aku bukan blonde kesayanganmu lagi?" Cristoforo menambah-nambah kekacauan.

"Diam kau, kuning!!!!"

Phrolova tertawa sampai otot wajahnya pegal.

______

"Dih, sudah jam empat saja."

"Aku baru 'ngantuk."

"Enggak boleh tidur. Sudah Asar! Nanti tidurnya malam saja."

"Scar mau makan apa?"

"Apa saja boleh."

______

 

Epilog (?)

Malam itu, mereka bertiga tidur di kamar Scar karena dia merengek terus. Dia belum deep talk dengan Cristoforo hari ini, tapi mari simpan itu buat cerita di lain hari. []

 

 

Notes:

A/N : Niatku cuma bikin drabble tapi malah jadi 3K tuh hukumnya gimana paustad...

Btw keliatan bener ya biasku siapa /digeplak/ Scar lucu :( 👉👈

Sampai berjumpa di tulisan selanjutnya!

Series this work belongs to: