Actions

Work Header

Kita, Pelan-Pelan

Summary:

Seonghyeon menjauh karena takut cintanya hanya diterima karena kasihan.
Keonho bertahan karena ia benar-benar memilih.

Tentang jarak yang dibuat diam-diam, satu percakapan yang akhirnya jujur, dan cinta yang tidak pernah dimulai dari rasa terpaksa.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

-

 

Awalnya, Seonghyeon yakin semuanya baik-baik saja.

Keonho masih membalas pesannya.
Masih menanyakan apakah dia sudah makan, masih mengingatkan soal jaket kalau hujan turun tiba-tiba.
Hal-hal kecil yang, beberapa minggu lalu, terasa cukup untuk membuat dadanya hangat.

Lalu entah sejak kapan, rasa hangat itu berubah menjadi sesuatu yang lain—lebih berat, lebih sunyi.

Seonghyeon menatap layar ponselnya lebih lama dari yang seharusnya.
Pesan Keonho masuk sepuluh menit lalu.
Tidak ada yang salah dengan isinya. Tidak dingin. Tidak singkat.

Lagi di mana?

Kalimat yang biasa. Kalimat yang aman.
Tapi jari Seonghyeon tetap diam di atas keyboard, seolah-olah jawabannya bisa mengganggu sesuatu yang rapuh.

Ia akhirnya mengetik pelan.

Masih di rumah. Kamu?

Pesan terkirim. Dua centang muncul. Dibaca.

Tidak ada balasan.

Seonghyeon menghela napas, menaruh ponsel di sampingnya, lalu menatap langit-langit kamar.

Ia tahu, rasanya konyol.
Keonho mungkin sedang sibuk.
Mungkin sedang mengobrol dengan orang lain.
Mungkin ponselnya diletakkan begitu saja.

Tapi pikirannya sudah terlanjur berjalan terlalu jauh.

Dulu, waktu Seonghyeon mengatakannya—mengakui perasaannya dengan suara yang nyaris bergetar—ia sempat takut Keonho akan menolak. Namun yang ia dapatkan justru senyum kecil dan anggukan pelan, seolah-olah keputusan itu sudah lama dipertimbangkan.

Iya.

Satu kata itu terasa seperti hadiah.

Sekarang, ia bertanya-tanya apakah itu memang hadiah, atau hanya bentuk kebaikan yang terlalu sulit untuk ditolak.

Seonghyeon duduk, menarik lutut ke dada.

Ia mulai menghitung hal-hal kecil yang terasa berubah.
Keonho yang tidak lagi langsung mengajaknya bertemu.
Jadwal yang selalu “nanti”. Percakapan yang tetap berjalan, tapi jarang benar-benar sampai ke mana-mana.

Dan yang paling menyakitkan—Seonghyeon menyadari bahwa ia sendiri yang lebih dulu mundur.

Ia berhenti mengirim pesan panjang. Berhenti bercerita tentang hari-harinya. Berhenti bertanya terlalu banyak.

Kalau aku tidak terlalu sering muncul, dia pasti tidak akan merasa terbebani. begitu pikirnya.

Ponselnya bergetar.

Seonghyeon hampir terkejut.

Maaf, tadi ke-skip. Lagi di luar bentar.
Kamu kenapa? Kok jawabnya pendek?

Seonghyeon menatap pesan itu lama. Jari-jarinya gemetar sedikit.

Ia ingin berkata jujur. Ingin bilang kalau dadanya terasa sempit akhir-akhir ini, kalau ia takut menjadi alasan Keonho bertahan dalam sesuatu yang tidak sepenuhnya ia inginkan.

Tapi yang ia ketik hanya:

Gapapa. Aku lagi capek aja.

Ia menekan kirim sebelum bisa berubah pikiran.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Seonghyeon berharap Keonho tidak menanyakan apa pun lagi.

 

Sejujurnya Seonghyeon tidak tahu sejak kapan ia mulai mengukur dirinya sendiri dengan cara seperti ini.

Awalnya hanya rasa canggung kecil—perasaan aneh setiap kali Keonho melakukan sesuatu yang baik tanpa diminta. Membelikan minum. Menunggu tanpa mengeluh. Mengalah dalam hal-hal remeh.

Hal-hal yang seharusnya membuat seseorang merasa dicintai.

Tapi di kepala Seonghyeon, semua itu berubah bentuk.

Mungkin dia cuma baik.
Mungkin kalau aku bukan pacarnya pun, dia akan tetap begitu.

Pikiran itu tidak datang sekaligus.
Ia muncul di sela-sela percakapan ringan, di jeda sebelum tidur, di saat-saat sunyi ketika Seonghyeon menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela.

Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali Keonho mengatakan aku suka kamu tanpa Seonghyeon lebih dulu memancingnya. Kapan terakhir kali Keonho yang memulai—bukan sekadar membalas.

Dan semakin lama ia menghitung, semakin banyak hal yang terasa ganjil.

Seonghyeon mulai bertanya-tanya apakah ia terlalu cepat percaya. Apakah senyum Keonho waktu itu sebenarnya adalah cara paling halus untuk tidak menyakiti perasaannya.

Dia kelihatan mikir lama sebelum jawab.
Dia nggak langsung bilang iya.
Dia nggak pernah bilang kenapa.

Kesimpulan itu terasa logis di kepalanya, meskipun menyakitkan.

Seonghyeon tahu betul bagaimana rasanya berada di posisi seseorang yang tidak bisa berkata tidak. Ia pernah melakukannya juga—menerima sesuatu hanya karena tidak ingin terlihat kejam. Tidak ingin melukai.

Dan Keonho terlalu baik untuk jujur dengan cara yang menyakitkan.

Maka, pelan-pelan, Seonghyeon mulai menyiapkan dirinya sendiri.

Ia mengurangi kehadirannya seperti orang yang sedang belajar pergi tanpa benar-benar meninggalkan.
Menjawab seperlunya. Hadir seperlunya. Menjadi versi dirinya yang paling tidak merepotkan.

Kalau suatu hari Keonho ingin berhenti, setidaknya itu tidak akan terasa seperti kehilangan besar.

Dia nggak akan terlalu kaget.
Dia nggak akan terlalu sedih.

Dan yang paling kejam—Seonghyeon bahkan mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah bentuk perhatian.

Cinta itu harusnya bikin lega, bukan terbebani.

Dan kalau Keonho terlihat lebih ringan tanpa dirinya, bukankah itu berarti ia sudah melakukan hal yang benar?

Pikiran itu seharusnya membuat Seonghyeon tenang.

Tapi setiap malam, saat ponselnya tetap sunyi sedikit lebih lama dari biasanya, ia justru merasakan sesuatu yang lain.

Takut.

Bukan takut kehilangan Keonho.

Tapi takut kalau sejak awal, ia memang tidak pernah benar-benar memilikinya.

 

Lampu kamar sudah dimatikan sejak setengah jam lalu, tapi Seonghyeon belum juga memejamkan mata.
Tirai jendela terbuka sedikit, membiarkan cahaya lampu jalan masuk dan membelah gelap kamar menjadi garis pucat di langit-langit.

Ponselnya tergeletak di samping bantal.

Tidak bergetar.

Ia menarik napas pelan, terlalu pelan, seolah-olah suara napasnya sendiri bisa mengganggu seseorang yang bahkan tidak ada di sana.

Seonghyeon memejamkan mata, mencoba memaksa pikirannya berhenti.
Tapi yang muncul justru suara Keonho—cara dia tertawa kecil waktu Seonghyeon salah ucap, nada suaranya yang selalu stabil, selalu tenang.

Tenang karena nggak benar-benar terikat, bisik pikirannya.

Dadanya mengencang tiba-tiba.

Seonghyeon membalikkan badan, menghadap dinding, dan menarik selimut lebih tinggi.
Jari-jarinya mencengkeram ujung kain, kukunya menekan telapak tangan sendiri sampai nyaris sakit.

Jangan nangis.

Ia tidak ingin menangis karena sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Tidak ingin terlihat lemah oleh perasaannya sendiri.

Tenggorokannya terasa panas.
Napasnya mulai bergetar, meskipun ia berusaha keras menjaganya tetap stabil.
Ada tekanan di balik matanya, seperti air yang menunggu alasan paling kecil untuk tumpah.

Seonghyeon menggigit bibir bawahnya.

Kalau aku nangis sekarang, berarti aku terlalu berharap.

Dan berharap adalah kesalahan yang sama yang membawanya sejauh ini.

Ia menekan wajahnya ke bantal, membiarkan kain menyerap napas yang mulai tidak teratur.
Bahunya bergetar sekali—cepat, tertahan—lalu berhenti.

Ia menghitung detik di kepalanya, satu sampai sepuluh, seperti dulu saat ia belajar menenangkan diri.

Satu. Dua. Tiga.

Air mata akhirnya jatuh juga. Satu saja. Diam-diam. Mengalir ke bantal tanpa suara.

Seonghyeon buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan, kesal pada dirinya sendiri.

Bodoh.

Ia bukan ditinggalkan. Belum.

Keonho masih ada. Masih membalas pesan. Masih menyebut namanya dengan cara yang sama.

Dan justru itulah yang membuat dadanya semakin sakit.

Seonghyeon menelan ludah, menarik napas panjang, lalu memaksa matanya terpejam.

Besok, ia akan baik-baik saja.

Ia selalu begitu.

 

— — 

 

Keesokan harinya mereka bertemu di kafe kecil dekat halte, tempat yang dulu sering mereka datangi tanpa perlu alasan khusus.

Sekarang, Seonghyeon datang lima menit lebih awal—bukan karena tidak sabar, tapi karena ia tidak tahu harus melakukan apa kalau datang bersamaan.

Keonho muncul dengan jaket tipis dan tas selempang.
Senyumnya masih sama, masih hangat, tapi berhenti setengah detik lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya benar-benar sampai ke mata.

“Hai,” sapa Keonho.

“Hai,” jawab Seonghyeon, terlalu cepat.

Mereka duduk berhadapan. Jarak meja terasa lebih lebar dari yang Seonghyeon ingat. Keonho membuka menu, lalu menutupnya lagi.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Keonho.

“Yang biasa aja,” kata Seonghyeon. “Kamu?”

“Sama.”

Tidak ada tawa kecil seperti dulu. Tidak ada lelucon soal siapa yang bakal salah pesen.

Saat minuman datang, Keonho mendorong gelas Seonghyeon sedikit lebih dekat.
Gerakan yang refleks. Gerakan yang familiar.
Seonghyeon mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu buru-buru menarik gelasnya, seolah-olah sentuhan itu terlalu lama.

Keonho memperhatikannya. Seonghyeon bisa merasakannya tanpa harus menoleh.

“Kamu … lagi capek, ya?” Keonho bertanya akhirnya.

Seonghyeon mengangguk. “Sedikit.”

“Kerjaan?”

“Iya.”

Keonho mengangguk juga, tapi alisnya sedikit berkerut.
Ia seperti ingin menambahkan sesuatu, tapi menahannya. Jarinya berputar di sekitar sedotan, pelan.

Dulu, Keonho akan langsung bilang kalau ia khawatir.
Dulu, Seonghyeon akan langsung cerita.

Sekarang, mereka duduk di antara kalimat-kalimat yang tidak jadi diucapkan.

Seonghyeon menyeruput minumannya, terlalu cepat.
Esnya beradu dengan gelas, suaranya terdengar lebih keras dari seharusnya.

“Aku nggak lama,” kata Seonghyeon tiba-tiba. “Habis ini ada urusan.”

Keonho menoleh cepat. “Oh.”

Satu suku kata itu jatuh pelan, tapi berat.

“Oh,” ulangnya lagi, lebih hati-hati. “Nggak apa-apa.”

Seonghyeon mengangguk, meskipun dadanya terasa sesak.
Ia tidak benar-benar punya urusan.
Ia hanya tidak tahu berapa lama ia bisa duduk di sini tanpa mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya ia katakan.

Keonho tersenyum kecil. Senyum yang berusaha, tapi tidak sepenuhnya sampai.

“Kita ketemu lagi kapan?” tanyanya, ragu.

Seonghyeon membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi.

“Nanti,” katanya akhirnya. “Lihat jadwal.”

Keonho mengangguk, kali ini lebih pelan.

“Iya,” jawabnya. “Nanti.”

Dan untuk pertama kalinya, kata itu terdengar seperti jarak, bukan janji.

 

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.

Keonho duduk di kursi dekat jendela, memandangi lampu-lampu yang bergeser perlahan di luar.

Tangannya menggenggam ponsel, tapi layarnya tetap gelap.
Tidak ada pesan yang ingin ia buka.
Tidak ada yang ingin ia kirim—setidaknya, tidak ada yang ia tahu bagaimana caranya mengirim.

Pertemuan barusan berputar-putar di kepalanya.

Bukan kata-kata yang diingatnya, melainkan jeda di antara kata-kata itu.
Cara Seonghyeon menarik gelasnya terlalu cepat.
Cara ia berkata aku nggak lama tanpa menatap mata Keonho.
Cara nanti terdengar seperti sesuatu yang tidak ingin dijelaskan lebih jauh.

Tidak ada yang salah secara jelas.
Dan justru itu yang mengganggu.

Keonho bersandar, menghembuskan napas pelan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Seonghyeon hanya lelah.
Bahwa semua orang berhak punya hari-hari seperti itu.
Tapi instingnya—yang biasanya ia abaikan—terus mengetuk dari dalam.

Dia lagi jaga jarak.

Bukan jarak marah. Bukan jarak kecewa.

Jarak hati-hati.

Keonho teringat pertama kali Seonghyeon mengaku.
Ingat jelas bagaimana Seonghyeon berdiri dengan bahu sedikit tegang, menunggu jawaban seolah-olah apa pun yang keluar dari mulut Keonho akan menentukan banyak hal.

Keonho ingat dirinya sendiri saat itu—diam terlalu lama, bukan karena ragu pada perasaannya, tapi karena takut mengatakannya dengan cara yang salah.

Sekarang, memori itu terasa berubah arti.

Mungkin aku kelihatan ragu, pikirnya.

Lampu merah membuat kendaraan berhenti.
Pantulan wajahnya muncul di kaca jendela.
Keonho menatap dirinya sendiri sebentar, lalu mengalihkan pandangan.

Ia bukan tipe orang yang mudah panik.
Tapi ada rasa tidak nyaman yang menetap, seperti menyadari ada sesuatu yang tertinggal tanpa tahu apa.

Ponselnya akhirnya menyala di tangannya.
Ia membuka chat Seonghyeon. Membaca ulang pesan terakhir mereka—yang biasa saja, terlalu biasa.

Keonho mengetik

Kamu udah sampai rumah?

Ia menatap layar beberapa detik, lalu menghapusnya.

Ia mengetik lagi.

Tadi makasih ya, udah nyempetin.

Dihapus lagi.

Keonho menutup ponselnya, menggesernya ke saku jaket.

Kalau ia bertanya terlalu jauh, ia takut mendorong Seonghyeon semakin menjauh.

Kalau ia diam, ia takut jarak itu akan jadi kebiasaan.

Di depan rumahnya, Keonho berhenti sejenak sebelum membuka pintu. Ia menyadari satu hal dengan jelas—lebih jelas dari apa pun malam itu.

Ia merindukan Seonghyeon.

Bukan Seonghyeon yang duduk di depannya barusan.

Tapi Seonghyeon yang dulu tidak berhati-hati untuk dekat.

Dan perasaan aneh itu—yang sejak tadi ia coba abaikan—akhirnya menemukan namanya.

Takut.

 

Akhirnya pada malam itu Keonho tidak mengirim pesan apa-apa.

Ia menunggu sampai pagi, sampai kepalanya terasa lebih jernih dan rasa aneh semalam tidak sepenuhnya menghilang—karena kalau ia jujur, rasa itu justru semakin jelas.

Pukul delapan lewat sedikit, Keonho akhirnya mengetik.

Kamu hari ini kosong jam berapa?

Pesan itu terkirim tanpa ia hapus ulang. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu berdiri, pura-pura sibuk merapikan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dirapikan.

Balasan datang lima belas menit kemudian.

Nggak pasti. Kenapa?

Bukan penolakan. Tapi juga bukan undangan.

Keonho menarik napas.

Pengen makan bareng. Kalau kamu sempat.

Ia menatap layar, menunggu.

Lihat nanti ya.

Kata-kata itu terasa seperti pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, tapi juga tidak benar-benar terbuka.

Keonho mengangguk kecil pada dirinya sendiri, seolah-olah Seonghyeon bisa melihatnya.

Oke. Kabari aja.

Ia menutup chat sebelum bisa menambahkan apa pun lagi. Namun kali ini, ia tidak berhenti di situ.

 

Siang harinya, Keonho muncul di depan gedung tempat Seonghyeon bekerja dengan dua minuman di tangannya. Ia mengirim pesan singkat.

Aku di depan. Nggak lama kok.

Seonghyeon keluar beberapa menit kemudian. Wajahnya terlihat terkejut, tapi bukan tidak senang.

“Kamu ngapain ke sini?” tanyanya.

“Bawain ini,” jawab Keonho, mengangkat gelas. “Kamu suka yang ini, kan?”

Seonghyeon mengangguk pelan, menerima minumannya. Jari mereka bersentuhan sebentar. Keonho tidak menarik tangannya duluan kali ini.

“Kamu nggak sibuk?” Seonghyeon bertanya.

“Lagi bisa nyempetin,” kata Keonho. “Aku pengen ketemu kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa dibungkus.

Seonghyeon terdiam sesaat.
Senyum kecil muncul, tapi matanya terlihat ragu—seolah-olah ia sedang memutuskan apakah senyum itu aman untuk dipertahankan.

“Makasih,” katanya akhirnya.

Keonho mengangguk. “Aku pulang dulu. Minumnya jangan lupa diminum.”

“Iya.”

Keonho melangkah pergi, tapi sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti dan menoleh.

“Seonghyeon.”

“Iya?”

“Kita … ketemu lagi, ya. Jangan nunggu nanti.”

Seonghyeon terlihat kaget. Lalu mengangguk, pelan tapi jelas.

“Iya.”

Saat Keonho berjalan menjauh, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Tidak banyak—tapi cukup untuk memberinya keyakinan bahwa jarak itu bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Kadang, seseorang hanya perlu diyakinkan bahwa ia boleh didekati.

 

Minuman itu sudah setengah habis ketika Seonghyeon menyadari tangannya masih sedikit gemetar.

Ia duduk di kursinya, menatap gelas plastik dengan logo kafe yang mulai mengelupas, dan mencoba fokus pada rasa manis yang dikenalnya dengan baik. Keonho selalu ingat pesanan ini. Selalu.

Dan itulah masalahnya.

Kalau dia sebegitu perhatiannya, pikir Seonghyeon, kenapa rasanya aku yang harus selalu jaga jarak supaya dia nggak merasa terpaksa?

Ia memejamkan mata sejenak, mengingat cara Keonho bilang, aku pengen ketemu kamu. Kalimat sederhana, tanpa ragu, tanpa nada basa-basi.

Seharusnya itu cukup untuk membuatnya tenang.

Tapi alih-alih lega, dada Seonghyeon justru terasa makin sempit.

Karena kalau Keonho sebaik ini, berarti kesalahannya bukan pada jarak—melainkan pada pikirannya sendiri. Dan pikiran itu tidak mau diam.

Mungkin dia merasa bertanggung jawab.
Mungkin dia mikir harus berusaha, karena aku yang nembak duluan.
Mungkin dia takut kelihatan jahat kalau berhenti sekarang.

Seonghyeon menunduk, menekan jari-jarinya ke lutut. Ia benci betapa mudahnya dirinya memelintir kebaikan menjadi kewajiban.

Ia benci karena sebagian kecil dari dirinya berharap Keonho akan berhenti berusaha—hanya supaya pikirannya bisa benar.

Dan bagian lain dari dirinya ketakutan setengah mati pada kemungkinan itu.

Ponselnya bergetar.

Udah diminum?

Pesan dari Keonho.

Seonghyeon menatapnya lama. Ia membalas dengan cepat, sebelum bisa ragu.

Udah. Makasih ya.

Tidak ada emoji. Tidak ada tambahan.

Ia meletakkan ponsel kembali, menarik napas panjang.
Ada dorongan kuat di dadanya untuk mengetik sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih jujur. Tapi jari-jarinya menolak.

Kalau aku ngasih terlalu banyak respon, pikirnya, dia bakal ngerasa harus terus begini.

Dan Seonghyeon tidak ingin menjadi alasan seseorang bertahan karena rasa kasihan.

Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap bayangan dirinya di kaca.
Wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada tanda bahwa pikirannya sedang berantakan.

Orang-orang di luar berjalan seperti biasa.
Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang sedang ragu terhadap cinta yang sedang ia jalani.

Seonghyeon mengangkat gelasnya lagi, menghabiskannya dalam beberapa tegukan.

Manisnya tertinggal di lidah.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—ia berharap rasa itu juga bisa bertahan lebih lama di dadanya, tanpa perlu ia curigai.

 

— — 

 

Malam itu, hujan turun pelan.

Tidak deras. Tidak dramatis.
Hanya cukup untuk membuat kota terasa lebih sunyi dari biasanya.

Keonho menelepon tanpa peringatan.

Seonghyeon menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo?”

Sorry ganggu,” suara Keonho terdengar agak ragu. “Aku cuma … kepikiran kamu.”

Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk beban yang tiba-tiba muncul di dada Seonghyeon.

“Kenapa?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.

“Aku ngerasa kamu akhir-akhir ini agak menjauh,”kata Keonho pelan. “Kalau aku ada salah, bilang ya.”

Seonghyeon menutup matanya.

Ini dia. Momen yang selama ini ia hindari.

“Nggak,” jawabnya cepat. “Kamu nggak ada bikin salah.”

Keonho terdiam beberapa detik. Hujan terdengar jelas di sela-sela napas mereka.

“Oh,” katanya akhirnya. “Soalnya aku takut kalau aku ada yang bikin kamu nggak nyaman.”

Seonghyeon menggigit bibirnya. Tangannya mencengkeram ujung hoodie.

Kata-kata itu—nggak nyaman—terasa seperti pintu yang terbuka sedikit. Ia bisa masuk. Ia bisa mengatakan semuanya sekarang.

Tentang rasa takutnya. Tentang pikiran-pikirannya. Tentang betapa ia tidak ingin dicintai karena kasihan.

“Seonghyeon?” panggil Keonho pelan.

“Iya?”

“Kamu yakin kamu nggak apa-apa?”

Jantungnya berdegup terlalu cepat. Tenggorokannya terasa sempit.

Ia ingin berkata, nggak. Ingin bilang, aku takut. Ingin mengaku bahwa ia sedang berusaha pergi pelan-pelan dari sesuatu yang terlalu ia inginkan.

Tapi yang keluar justru:

“Iya. Aku cuma lagi capek.”

Hening.

Hening yang tidak kosong—penuh dengan hal-hal yang tidak jadi diucapkan.

“Oke,” kata Keonho akhirnya. “Kalau gitu … istirahat yang bener, ya.”

“Iya.”

“Kalau kamu butuh aku—”

“Keonho,” potong Seonghyeon cepat. Suaranya terdengar lebih tinggi dari yang ia maksud. Ia menelan ludah. “Aku aman. Beneran.”

Keonho terdiam lebih lama kali ini.

“Yaudah,” katanya akhirnya, lebih pelan dari sebelumnya. “Kalau kamu bilang gitu.”

Telepon ditutup tak lama setelah itu. Tidak ada kata selamat malam.

Seonghyeon menurunkan ponselnya perlahan, lalu duduk di tepi ranjang.
Dadanya terasa sakit, seperti baru saja melewati sesuatu yang penting—dan memilih untuk tidak mengambilnya.

Ia menatap jendela yang basah oleh hujan.

Kalau aku jujur tadi, pikirnya, aku mungkin akan lebih dekat.

Tapi kejujuran juga berarti mempertaruhkan satu hal yang belum siap ia kehilangan.

Dan malam itu, Seonghyeon memilih rasa aman yang salah—diam.

 

Sedangkan Keonho masih memegang ponselnya beberapa detik setelah panggilan berakhir.

Layar sudah gelap, pantulannya samar memperlihatkan wajahnya sendiri—diam, sedikit bingung, terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya tidak baik-baik saja.

Ia menghela napas pelan, lalu meletakkan ponsel di meja.

Kalau Seonghyeon bilang dia aman, seharusnya Keonho percaya.

Ia ingin percaya.

Tapi ada sesuatu dalam nada suara itu—
cara Seonghyeon memotong kalimatnya, cara ia berkata aku aman seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri—yang tidak mau lepas dari kepala Keonho.

Keonho duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku ke lutut. Tangannya bertaut, jari-jarinya saling menekan.

Ia mencoba mengulang percakapan itu, mencari bagian yang bisa ia pegang sebagai jawaban.

Tidak ada.

Yang ada hanya jeda. Hening. Dan satu kalimat yang terasa seperti penutup, bukan penjelasan.

Kalau kamu bilang gitu.

Kalimat itu terngiang, kali ini bukan dari mulut Keonho, tapi dari pikirannya sendiri.

Keonho menatap lantai, lalu tertawa kecil—pendek, tanpa suara.
Ada rasa asing di dadanya, sesuatu yang menyerupai kesalahan, meskipun ia tidak tahu kesalahan apa.

Mungkin aku terlalu ngotot.
Mungkin aku nanya di waktu yang salah.

Ia bangkit, berjalan ke dapur, menuang air ke gelas tanpa benar-benar haus. Minumannya terasa hambar.

Keonho teringat bagaimana Seonghyeon dulu—
lebih berisik, lebih berani meminta, lebih mudah berkata aku mau tanpa merasa bersalah.

Sekarang, Seonghyeon terasa seperti seseorang yang sedang belajar menjadi kecil.

Dan Keonho tidak tahu apakah ia seharusnya mengejar, atau memberi ruang.

Ponselnya bergetar.

Nama Seonghyeon muncul di layar.

Jantung Keonho berdegup cepat—terlalu cepat untuk sebuah notifikasi.

Tapi itu hanya pesan singkat.

Maaf ya tadi aku rada sensi.

Keonho menatap pesan itu lama. Kata maaf terasa seperti beban yang tidak seharusnya dipikul satu orang saja.

Ia mengetik balasan.

Nggak apa-apa. Aku cuma pengen kamu baik-baik aja.

Ia hampir menambahkan, aku di sini, tapi menghapusnya.

Keonho mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponselnya kembali.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya menghangat sekaligus takut.

Ia mencintai seseorang yang sedang berusaha menghilang—dan tidak tahu bagaimana caranya membuat seseorang berhenti pergi tanpa membuatnya merasa terperangkap.

Keonho berbaring, menatap langit-langit.

Besok, ia memutuskan, ia akan lebih jujur.

Meski ia belum tahu tentang apa.

 

— — 

 

Seonghyeon bangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena segar, tapi karena pikirannya tidak berhenti bekerja bahkan saat ia tidur.
Ia menatap langit-langit kamar, menghitung retakan kecil yang sudah ia hafal, lalu meraih ponsel di meja samping ranjang.

Tidak ada pesan baru dari Keonho.

Entah kenapa, itu terasa melegakan.

Ia bangkit, bersiap ke kantor tanpa memutar musik seperti biasanya.
Keheningan terasa lebih aman.
Di perjalanan, ia membuka chat Keonho, menatap pesan terakhir mereka semalam—aku cuma pengen kamu baik-baik aja—lalu menutupnya kembali tanpa membalas.

Di kantor, Seonghyeon bekerja dengan fokus yang terlalu rapi.
Ia menolak ajakan makan siang dengan alasan deadline. Padahal deadline itu masih dua hari lagi.

Saat ponselnya bergetar di saku, ia sudah tahu siapa pengirimnya sebelum melihat layar.

Udah makan?

Seonghyeon membaca pesan itu dua kali.

Ia membalas setelah lima menit.

Belum. Nanti aja.

Ia tidak benar-benar ingin berbohong. Ia hanya tidak ingin membuka percakapan yang bisa menjadi terlalu panjang.

Sore hari, hujan turun lagi. Seonghyeon berdiri di dekat jendela kantor, memandangi tetesan air yang menelusuri kaca. Ia teringat Keonho—cara dia biasanya menawarkan payung, cara dia menunggu tanpa diminta.

 

Hari ini, Seonghyeon pulang sendiri.

Di halte, ia berdiri sedikit menjauh dari kerumunan. Ponselnya bergetar lagi.

Mau aku jemput?

Seonghyeon menggeleng pelan, meskipun Keonho tidak bisa melihatnya.

Nggak usah. Aku naik transport.

Ia memasukkan ponsel ke saku sebelum balasan datang.

Di rumah, Seonghyeon makan seadanya.
Tidak lapar, tapi tahu ia harus mengisi perut.
Ia menonton sesuatu tanpa benar-benar melihat, membiarkan waktu lewat begitu saja.

Malam tiba tanpa terasa.

Ponselnya tergeletak di sampingnya, sunyi.

Seonghyeon menatapnya lama, lalu membuka chat Keonho sekali lagi. Jarum jam hampir menunjuk tengah malam.

Ia mengetik.

Aku mungkin bakal agak sibuk beberapa hari ke depan.

Kalimat itu netral. Aman. Tidak menyalahkan siapa pun.

Keonho membalas cepat.

Oke. Jaga diri, ya.

Seonghyeon membaca pesan itu, lalu mengunci layar.

Ia mematikan lampu kamar dan berbaring, memeluk bantal ke dada.

Besok, ia berpikir, jarak itu akan terasa lebih biasa.

Dan kalau ia beruntung, rasa kehilangan itu juga akan ikut mengecil.

Ia memejamkan mata, berharap besok datang tanpa pertanyaan apa pun.

 

— — 

 

Keonho baru menyadarinya beberapa hari kemudian.

Bukan dari satu kejadian besar, tapi dari pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Pesan Seonghyeon selalu dibalas. Tepat waktu. Sopan. Tidak pernah diabaikan.
Tapi juga tidak pernah berkembang. Seperti percakapan yang sengaja dijaga tetap di permukaan.

Keonho duduk di meja makan sambil memandangi layar ponselnya.

Kamu udah makan?

Udah.

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada cerita tambahan.

Dulu, Seonghyeon akan mengirim foto makanan, mengeluh rasanya hambar, atau bercanda soal Keonho yang selalu nanya hal yang sama.

Sekarang, semuanya terasa … selesai.

Keonho menaruh ponselnya, lalu bersandar ke kursi.
Ia menghela napas pelan, mengingat kalimat terakhir Seonghyeon beberapa malam lalu.

Aku mungkin bakal agak sibuk beberapa hari ke depan.

Beberapa hari itu sudah lewat setengahnya. Dan kesibukan itu terasa seperti dinding, bukan jadwal.

Keonho berdiri, berjalan ke jendela.
Hujan lagi. Entah kenapa, kota selalu memilih hujan saat pikirannya tidak tenang.

Ia teringat setiap tawaran yang ditolak dengan halus.
Setiap nggak usah yang terdengar terlalu cepat.
Setiap kali Seonghyeon memastikan Keonho tidak perlu repot.

Dan di situlah kesadarannya berhenti mengelak.

Seonghyeon bukan sibuk.
Seonghyeon sedang menjauh.

Pertanyaan yang lebih sulit datang setelahnya—kenapa?

Keonho memijat tengkuknya, menatap pantulan dirinya di kaca. Ada rasa bersalah yang pelan-pelan naik, meskipun ia tidak tahu pasti salah di mana.

Mungkin aku kurang jelas.
Mungkin aku terlalu tenang.
Mungkin dia pikir aku cuma bertahan.

Pikirannya kembali ke awal—ke hari Seonghyeon mengaku.
Ke jeda kecil sebelum ia menjawab.
Ke anggukan pelan yang ia kira cukup.

Dadanya mengencang.

Kalau aku kelihatan ragu waktu itu …

Keonho meraih ponselnya lagi, jarinya bergerak cepat sebelum ia sempat berubah pikiran.

Kita ketemu bentar, ya. Aku pengen ngobrol.

Ia menatap pesan itu lama sebelum menekan kirim.

Pesan terkirim.

Untuk pertama kalinya, Keonho tidak menunggu balasan dengan perasaan pasrah.
Ada tekad yang tenang di dadanya—bukan untuk memaksa, tapi untuk berhenti pura-pura tidak melihat sesuatu yang jelas.

Kalau ini jarak, ia ingin tahu dari mana asalnya.

Dan kalau ini tentang dirinya—ia ingin mendengarnya, bahkan kalau itu menyakitkan.



Pesan itu muncul saat Seonghyeon sedang berdiri di depan wastafel, air mengalir tanpa ia sadari.
Ponselnya bergetar di meja dapur, sekali—cukup untuk membuat dadanya langsung menegang.

Kita ketemu bentar, ya. Aku pengen ngobrol.

Seonghyeon menatap layar terlalu lama. Jari-jarinya basah. Ia tidak segera mengeringkannya.

Obrolan.

Kata itu terasa besar. Terlalu besar untuk sesuatu yang selama ini ia jaga agar tetap kecil.

Ia mengunci layar, menaruh ponsel terbalik, lalu bersandar ke meja.
Napasnya terasa pendek. Ada dorongan refleks untuk mencari alasan—deadline, capek, hujan, apa saja yang bisa menunda percakapan ini.

Kalau aku nolak sekarang, pikirnya, mungkin dia bakal berhenti nanya.

Dan pikiran itu terasa aman—dan menyakitkan—dalam waktu yang sama.

Seonghyeon mengangkat ponselnya lagi. Membuka chat. Mengetik.

Kayaknya aku lagi capek. Bisa lain kali?

Ia membaca kalimat itu. Netral. Sopan. Aman.

Ia hampir menekan kirim.

Hampir.

Tapi lalu bayangan wajah Keonho muncul di kepalanya—cara dia menatap dengan alis sedikit berkerut, cara dia berhenti bicara untuk memberi ruang, cara dia selalu mendengar sampai selesai.

Seonghyeon menghapus pesan itu.

Ia mengetik lagi.

Sekarang?

Terlalu pendek. Terlalu terbuka.

Dihapus.

Jantungnya berdegup terlalu keras untuk dapur yang sunyi.

Ia mengetik untuk ketiga kalinya.

Aku bisa. Tapi nggak lama.

Kalimat itu adalah kompromi. Setengah datang. Setengah pergi.

Ia menatapnya lama, lalu akhirnya menekan kirim sebelum keberaniannya habis.

Pesan terkirim.

Seonghyeon meletakkan ponselnya, menekan telapak tangannya ke meja dapur.
Dadanya naik turun cepat.
Ada rasa takut yang jelas sekarang—bukan takut bertemu Keonho, tapi takut pada apa yang mungkin terucap kalau ia bertemu Keonho.

Ponselnya bergetar lagi.

Makasih. Aku jemput, ya.

Seonghyeon menelan ludah.

Nggak usah. Aku ke sana.

Ia mengirim balasan itu tanpa berpikir panjang. Ia butuh waktu di jalan.
Waktu untuk menyiapkan diri—atau mungkin untuk menguatkan alasan pergi lebih awal.

Ia meraih jaketnya, berdiri di depan pintu, lalu berhenti.

Tangannya menggenggam gagang pintu lebih lama dari perlu.

Kalau aku jujur nanti, pikirnya, apa dia masih mau tinggal?

Dan dengan pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, Seonghyeon akhirnya melangkah keluar.



Keonho datang lebih dulu.

Ia memilih bangku di sudut taman kecil dekat minimarket—tempat yang netral, tidak punya kenangan apa pun.

Lampu jalan menyala satu per satu, cahayanya kekuningan dan tenang, hampir menipu.

Ia mengecek ponselnya. Tidak ada pesan baru. Jam di layar bergerak lebih lambat dari biasanya.

Keonho duduk dengan kedua tangan di saku jaket, jari-jarinya saling mengait.
Ia tidak gugup seperti orang yang akan bertengkar.
Ia gugup seperti orang yang akan mendengar sesuatu yang sudah lama ia takuti.

Setiap orang yang lewat membuatnya refleks menoleh.

Saat akhirnya Seonghyeon muncul di ujung jalan, Keonho langsung tahu.

Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, bahunya tegang, jaketnya dikancingkan sampai atas meskipun udara tidak terlalu dingin.

Keonho berdiri.

“Hai,” katanya saat jarak mereka tinggal beberapa langkah.

“Hai,” jawab Seonghyeon.

Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan kecil yang biasanya datang tanpa dipikirkan.

Mereka duduk. Ada satu bangku kosong di antara mereka yang tidak sengaja tercipta.

Keonho menatap ke depan, bukan ke Seonghyeon. Ia mengatur napasnya.

“Makasih udah mau datang,” katanya akhirnya.

“Iya,” jawab Seonghyeon. “Sebentar aja.”

Kata itu jatuh di antara mereka, tegas tapi rapuh.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Angin menggerakkan daun-daun kering di sekitar kaki mereka.
Seonghyeon menggeser kakinya sedikit, seperti ingin memastikan jarak itu tetap ada.

Keonho menoleh sekarang.

“Kamu capek?” tanyanya.

“Sedikit.”

Jawaban yang sama. Nada yang sama.

Keonho mengangguk pelan. “Aku nggak mau lama,” katanya. “Aku cuma pengen nanya satu hal.”

Seonghyeon menelan ludah. “Apa?”

Keonho menimbang kata-katanya, lalu memutuskan untuk tidak berputar-putar.

“Kamu lagi ngejauh, ya, dari aku?”

Sunyi.

Seonghyeon menatap ke depan, bukan ke Keonho.
Lampu jalan memantul di matanya, membuatnya terlihat lebih jauh dari jarak satu bangku kosong itu.

“Nggak,” katanya. Terlalu cepat.

Keonho tidak langsung membantah. Ia hanya menghela napas pelan.

“Kalau aku ada salah, aku minta maaf,” katanya. “Tapi rasanya beda.”

Seonghyeon menggerakkan jarinya di pangkuan. Menghitung sesuatu yang tidak terlihat.

“Keonho—”

Suaranya terhenti.

Ia berhenti sendiri.

Keonho menunggu. Tidak menyela. Tidak mengisi jeda.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Seonghyeon menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Bahunya turun sedikit, seolah-olah ia sudah kelelahan sejak awal datang.

“Aku …” katanya pelan.

Dan di situlah semuanya berhenti—tepat sebelum kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali keluar.

 

Keonho melihatnya—cara Seonghyeon berhenti di tengah napas, seolah-olah kata berikutnya terlalu berat untuk dibawa keluar.

Ia tahu, kalau dibiarkan, momen ini akan lewat lagi. Akan kembali jadi nanti. Akan jadi jarak yang lebih rapi.

Keonho menelan ludah.

“Seonghyeon,” katanya pelan, bukan memanggil, tapi menahan. “Aku mau tanya satu hal. Dan kamu nggak harus jawab sekarang, kalau nggak mau.”

Seonghyeon menoleh. Mata mereka akhirnya bertemu.

Keonho mempertahankan tatapannya, meskipun dadanya berdebar keras.

“Kamu … pernah mikir nggak,” lanjutnya, suaranya tetap stabil meski ujungnya sedikit bergetar,
“kalau aku sama kamu cuma karena aku nggak enak nolak?”

Udara di antara mereka langsung berubah.

Seonghyeon membeku.

Wajahnya pucat bukan karena kaget—tapi karena ketahuan.

Keonho tahu itu detik itu juga.
Ia menghembuskan napas pendek. “Aku ngerasa belakangan ini kamu kayak … nyiapin diri buat ditinggal. Kayak kamu mikir aku bakal lebih baik tanpa kamu.”

Keonho menggeleng pelan. “Dan aku takut … kamu lagi berusaha ngelindungin aku dari sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak pernah minta.”

Sunyi jatuh berat.

Seonghyeon membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi.
Tangannya mengepal di atas paha. Rahangnya mengeras, berusaha menahan sesuatu yang jelas sedang mendorong keluar dari dadanya.

Keonho menambahkan satu kalimat lagi—lebih pelan, hampir seperti pengakuan.

“Aku nerima kamu bukan karena kasihan.”

Kalimat itu tidak keras. Tidak meledak.

Tapi cukup untuk membuat napas Seonghyeon tersendat.

Bahu Seonghyeon turun perlahan, seperti bangunan yang akhirnya menyerah pada gravitasi. Ia mengalihkan pandangan, menatap tanah di depan sepatu mereka.

Keonho tidak menyentuhnya. Tidak mendekat.

Ia hanya menunggu—memberi ruang yang tidak lagi bisa disalahartikan sebagai jarak.

 

“Maaf.”

Kata itu keluar begitu saja. Terlalu cepat. Terlalu ringan untuk sesuatu yang menekan dadanya sejak lama.

Keonho menoleh pelan, jelas tidak mengharapkan itu.

Seonghyeon menunduk, menatap jari-jarinya sendiri yang saling mencengkeram. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara angin malam.

“Maaf kalau aku jadi aneh akhir-akhir ini.”

Keonho membuka mulut, tapi Seonghyeon lebih dulu melanjutkan—takut kalau ia berhenti, keberaniannya akan ikut pergi.

“Aku nggak bermaksud bikin kamu bingung,” katanya. “Aku cuma … nggak pengen bikin kamu merasa harus.”

Keonho mengernyit pelan. “Harus apa?”

Seonghyeon menelan ludah. Tenggorokannya terasa sakit.

“Harus bertahan,” jawabnya akhirnya.

Seonghyeon tertawa kecil—pendek, rapuh, tanpa humor.

“Aku tahu aku yang mulai duluan,” katanya. “Aku yang bilang suka. Aku yang narik kamu ke sini.”

Ia mengangkat bahu, mencoba terlihat biasa. Gagal.

“Kalau ternyata kamu nerima aku cuma karena nggak enak, aku nggak mau kamu ngerasa terjebak.”

Keonho berdiri sedikit dari bangkunya, lalu duduk kembali. Seolah-olah tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempat menyusul.

Seonghyeon akhirnya menoleh.

Matanya merah, tapi tidak menangis.

“Jadi aku pikir … kalau aku mundur dikit, kamu bakal lebih lega,” lanjutnya. “Dan kalau suatu hari kamu mau pergi, itu nggak akan terasa kayak ninggalin apa-apa.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, masing-masing terasa seperti permintaan maaf baru.

“Maaf ya,” ulangnya. “Aku nggak jago jadi orang yang dicintai tanpa ngerasa bersalah.”

Keonho menatapnya lama. Terlalu lama untuk orang yang tidak peduli.

Dan di situlah rasa sakitnya berpindah tempat—dari dada Seonghyeon, ke dada Keonho.

Karena semua jarak itu ternyata bukan karena tidak sayang, melainkan karena terlalu takut untuk dipercaya.

 

Keonho tidak langsung bicara.

Ia duduk di sana, menatap Seonghyeon yang menunduk, dan untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar terluka—bukan karena disalahkan, tapi karena Seonghyeon meminta maaf atas sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia tanggung sendirian.

“Hey,” kata Keonho akhirnya, suaranya rendah. “Kamu nggak perlu minta maaf kayak gitu.”

Seonghyeon menggeleng pelan. “Perlu,” katanya. “Aku bikin kamu repot.”

Kalimat itu membuat Keonho tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.

“Itu yang bikin sakit,” katanya jujur. “Kamu mikir aku repot karena kamu.”

Ia menghela napas, lalu menatap lurus ke depan, seolah-olah kata-kata berikutnya perlu ruang sendiri.

“Aku nerima kamu bukan karena kasihan,” katanya lagi, lebih pelan.
“Aku nerima kamu karena waktu kamu bilang suka, aku ngerasa … akhirnya ada orang yang lihat aku, dan aku pengen tinggal di situ.”

Seonghyeon menoleh cepat. Napasnya tersendat.

Keonho melanjutkan, masih tenang, masih hati-hati. “Aku diem waktu itu bukan karena ragu sama kamu. Aku cuma takut ngomong terlalu banyak dan bikin semuanya jadi berat.”

Ia tertawa kecil, pahit. “Ironisnya, kamu malah mikir aku bertahan karena nggak enak.”

Sunyi jatuh di antara mereka—lebih berat dari sebelumnya, tapi juga lebih jujur.

Seonghyeon menatap tangannya sendiri. Bahunya mulai bergetar, sekali, lalu berhenti. Ia menarik napas panjang, gagal.

“Aku capek banget mikir,” katanya, suaranya pecah. “Aku takut setiap kali kamu baik, itu karena kamu ngerasa harus.”

Keonho menggeser duduknya sedikit. Tidak menyentuh. Belum.

“Aku takut suatu hari kamu sadar,” lanjut Seonghyeon, “kalau kamu sebenernya nggak pernah milih aku.”

Kalimat itu menggantung. Telanjang.

 

Keonho akhirnya menoleh penuh padanya. “Aku milih kamu,” katanya. “Setiap hari.”

Seonghyeon menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya keluar tanpa suara, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan. Keonho menunggu satu detik—dua—lalu mendekat.

Pelukannya tidak datang cepat. Ia memberi waktu. Lalu, pelan, tangannya melingkar di bahu Seonghyeon.

Seonghyeon runtuh di sana.

Tidak ada kata maaf lagi. Tidak ada pembelaan. Hanya napas yang tersengal dan bahu yang akhirnya menyerah.

Keonho menahan pelukannya dengan stabil, seperti jangkar.

“Kamu nggak perlu ngurangin diri kamu biar aku tinggal,” katanya lembut, hampir berbisik. “Aku di sini karena aku mau.”

Malam itu tidak menyelesaikan segalanya.

Tapi untuk pertama kalinya, jarak itu berhenti bergerak menjauh.

Dan itu cukup—untuk sekarang.

 

— — 

 

Pagi datang tanpa hujan.

Keonho menyadarinya saat membuka jendela—udara terasa lebih ringan, matahari tidak malu-malu seperti biasanya. Ia berdiri sebentar, membiarkan cahaya menyentuh wajahnya, lalu meraih ponsel.

Ada pesan dari Seonghyeon, terkirim dua puluh menit lalu.

Udah bangun?

Keonho tersenyum kecil sebelum membalas.

Udah. Kamu?

Balasan datang tidak lama.

Lagi bikin teh.

Keonho membayangkan Seonghyeon berdiri di dapurnya, rambut mungkin masih sedikit berantakan, air mendidih terlalu lama karena pikirannya melayang. Gambaran itu tidak menyakitkan seperti sebelumnya.

Mereka belum banyak bicara sejak malam itu.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kalimat kita akan baik-baik saja yang diucapkan terlalu cepat.

Tapi ada hal-hal kecil yang kembali.

Seonghyeon mengirim foto cangkir teh dengan caption singkat—kepanasan.
Keonho menertawakannya sendirian di dapur.

Siang harinya, Keonho mengirim pesan lebih dulu.

Mau jalan sore? Nggak lama.

Beberapa menit berlalu.

Keonho menunggu tanpa gelisah seperti sebelumnya.

Balasan datang.

Mau. Tapi pelan-pelan aja.

Keonho mengetik, lalu berhenti. Menghapus satu kata. Menulis ulang.

Aku gak masalah kalau kamu mau.

Mereka bertemu menjelang senja.
Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman.
Tapi langkah mereka seirama, cukup dekat untuk saling menyenggol lengan sesekali.

Di persimpangan kecil, Seonghyeon berhenti.

“Kalau aku tiba-tiba mundur lagi,” katanya pelan, tanpa menatap Keonho, “kamu boleh ingetin aku, ya.”

Keonho tidak langsung menjawab. Ia menatap Seonghyeon—utuh, apa adanya, masih belajar.

“Iya,” katanya akhirnya. “Dan kalau aku kelihatan terlalu diam … kamu juga bilang.”

Seonghyeon mengangguk. Senyumnya kecil, tapi nyata.

Mereka melanjutkan jalan, matahari turun perlahan di antara gedung-gedung. Tidak ada janji tentang selamanya.

Hanya satu kesepakatan sunyi:

Untuk tinggal.
Untuk bicara.
Untuk mencoba, pelan-pelan.

Dan untuk pertama kalinya, pelan itu tidak terasa seperti mundur.

 

Hujan turun sore itu—pelan, rapi, tidak terburu-buru.

Seonghyeon duduk di lantai ruang tamu Keonho, punggungnya bersandar ke sofa, selimut tipis menutupi kaki mereka berdua.
Televisi menyala tanpa suara. Tidak ada yang benar-benar menonton.

Keonho menyerahkan cangkir ke tangan Seonghyeon. “Panas,” katanya.

Seonghyeon mengangguk. “Iya.”

Ia meniup pelan, lalu tersenyum kecil. “Kamu inget aku suka yang ini.”

Keonho mengangkat bahu. “Susah lupa.”

Sunyi turun di antara mereka, tapi tidak canggung. Hanya suara hujan di jendela dan napas yang tidak lagi ditahan.

Seonghyeon menggeser duduknya sedikit lebih dekat.
Tidak langsung. Tidak ragu. Bahunya menyentuh lengan Keonho.

Keonho tidak bergerak menjauh.

“Aku masih belajar.” kata Seonghyeon tiba-tiba.

Keonho menoleh. “Aku juga.”

Seonghyeon menatap cangkirnya. “Kalau suatu hari aku kelihatan kepikiran lagi …”

Keonho menyela pelan, “Aku bakal tanya.”

Seonghyeon tersenyum. Kali ini, senyum yang tidak meminta maaf.

Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Keonho. Beratnya nyata. Hadir.

Keonho menutup selimut sedikit lebih rapat, seolah-olah itu keputusan paling sederhana di dunia.

Di luar, hujan terus turun.

Dan di dalam, untuk sekali ini, tidak ada yang merasa harus pergi lebih dulu.

 

-

Notes:

hai? akhirnya aku nulis pake bahasa indonesia setelah sekian lama hehe.

sebenernya aku lebih nyaman nulis pake inggris, karena ejaan aku dalam bahasa tuh jelek banget jujur, jadi aku kadang pake web buat ngecek apakah ketikanku udah bener atau belum T_T

tapi karena aku lihat au mereka dalam indonesia tidak banyak disini, jadi aku memutuskan untuk nulis cerita yang ini pake indonesia. awalnya cerita ini ditulis dalam inggris, tapi aku rombak semua :)

aku ada 2 lagi sih short story keonhyeon dalam bahasa (1 tentang tattoo soulmate || 1 nya lagi kayak teenager lover gitu), ini 3 pairing couple, cortis ft han jihoon tapi keonhyeon jadi pemeran utamanya hehe. sejujurnya aku mau bikin jadi au di x (udah aku edit semua soalnya) cuma waktu aku publish prompt-nya, itu gak muncul di seach bar :( jadi aku hapus semua. mungkin akan aku coba publish lagi di tahun depan? atau di lain waktu aja. atau mungkin bakal aku publish di sini juga, tapi kalo di sini belum pasti karena bakal banyak yang harus di ubah lagi.

ehh iya, kalau mungkin kalian ada ide untuk aku tulis, boleh ya, pair siapa aja juga boleh, pakai bahasa boleh, inggris juga boleh hehe
oke deh, gitu aja. sampai jumpa di cerita lainnya <3